Saturday, August 3, 2013

INOVASI DIFUSI TEKNOLOGI PANGAN DENGAN RUMPUT LAUT

August 03, 2013 Posted by Media Penyuluhan Perikanan Pati No comments


Pemanfaatan Bahan Pangan Berbasis Rumput Laut (Euchemma cottonii) untuk meminimalisir problem defisiensi Fe sebagai upaya peningkatan pola hidup sehat masyarakat Indonesia
         Anemia gizi →  masalah kesehatan → penyebab tingginya angka kematian ibu, angka kematian bayi serta rendahnya produktivitas kerja, prestasi olahraga dan kemampuan belajar.
         Anemia terjadi karena Hb → minimnya oksigen ke seluruh tubuh. 
         ADB → remaja putri, ibu hamil, balita, anak usia sekolah, WUS, usia produktif, dan usia lanjut.
         Angka prevalensi defisiensi zat besi di Indonesia sendiri cukup tinggi.
         Di Asia Tenggara sendiri prevelensi defisiensi zat besi lebih dari 79% dengan total penderita sebanyak 616 juta orang
Berbagai cara ditempuh oleh semua aspek masyarakat guna meminimalisir problema defisiensi zat besi tersebut, di mana mulai dicarinya alternative  melalui pemanfaatan bahan pangan lokal antara lain  rumput laut
Aspek Sosio Cultural Teknologi Pangan
         Rumput laut adalah salah satu sumberdaya hayati yang terdapat di wilayah pesisir dan laut.
         Selain hidup bebas di alam, beberapa jenis rumput laut juga banyak dibudidayakan oleh sebagian masyarakat pesisir Indonesia.
         Secara kimia rumput laut terdiri dari air (27,8%), protein (5,4%), karbohidrat (33,3%), lemak (8,6%) serat kasar (3%) dan abu (22,25%). Selain karbohidrat, protein, lemak dan serat, rumput laut juga mengandung enzim, asam nukleat, asam amino, vitamin (A,B,C,D, E dan K), serta mineral seperti nitrogen, oksigen, kalsium dan selenium serta mikro mineral seperti zat besi, magnesium dan natrium.
         Kandungan asam amino, vitamin dan mineral rumput laut mencapai 10-20 kali lipat dibandingkan dengan tanaman darat
         Adanya mineral esensial berupa zat besi ini diharapkan dapat meminimali-sir angka defisiensi zat besi di Indonesia.
         Bahan pangan ber-basis rumput laut ini dapat diolah menjadi berbagai jenis hidangan baik berupa : kudapan, minuman, lauk pauk, sayur, maupun olahan lainnya melalui penerapan teknologi pengolahan pangan.
         Mengingat dewasa ini masyarakat mulai kembali peduli akan kesehatan dan kebutuhaan faali tubuh.
         Peranan keluarga sebagai elemen masyarakat terkecil dalam masalah ini diharapkan menunjang tercapainya status kesehatan masyarakat secara maksimal serta terpenuhinya kebutuhan mineral esesial berupa zat besi (Fe) melalui pemanfaatan bahan pangan berbasis rumput laut.dalam konsumsi kesehariannya.
Pemecahan Masalah
         Keberhasilan program difusi iptek akan ditentukan oleh kesesuaian teknologi yang dikembangkan dengan kebutuhan masyarakat, kemampuan masyarakat untuk mengakses dan mengimplementasikan teknologi, serta mekanisme/proses transfer teknologi
Diversivikasi olahan rumput laut
         Rumput laut merupakan ganggang yang hidup di laut dan tergolong dalam divisio thallophyta.
         Rumput laut potensial yang dimaksud disini adalah jenis rumput laut yang sudah diketahui dapat digunakan diberbagai industri sebagai sumber karagin, agar-agar, dan alginat.
Wilayah potensial untuk pengembangan budidaya rumput laut Eucheuma
         perairan pantai Sabang
         Sumatera Barat (Pesisir Selatan, Mentawai)
         Riau (Kepulauan Riau, Batam)
         Sumatera Selatan & Bangka Belitung
         Banten (dekat Ujung Kulon, Teluk Banten/P. Panjang)
         DKI Jakarta (Kepulauan Seribu)
         Jawa Tengah (Karimun Jawa)
         Jawa Timur (Situbondo dan Banyuwangi Selatan, Madura)
         Bali (Nusa Dua/Kutuh Gunung Payung, Nusa Penida, Nusa Lembongan) dan Buleleng;
Ada luga wilayah potensial untuk pengembangan budidaya rumput laut Eucheuma
         Nusa Tenggara Barat (Lombok Barat dan Lombok Selatan, pantai Utara Sumbawa Besar, Bima, dan Sumba)
         Nusa Tenggara Timur (Maumere, Larantuka, Kupang, P. Roti selatan)
         Sulawesi Utara & Gorontalo
         Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, & Sulawesi Selatan
         Kalimantan Barat & Kalimantan Timur
         Kalimantan Selatan (Pulau Laut)
         Maluku (P. Seram, P. Osi, Halmahera, Kep. Aru dan Kei)
          Papua (Biak, Sorong).
Melimpahnya rumut laut saat ini  belum bisa memanfaatkan dengan baik  oleh masyarakat awam hal ini juga disebabkan lambannya difusi teknologi pangan dimasyarakat tradisional.Diversifikasi Olahan Rumput Laut merupakan inovasi produk pangan yang dapat diupayakan sebagai penerapan intervensi teknologi pangan pada skala rumah tangga. Antara lain :
Kemasan
         Wadah yang dipakai sebaiknya yang terbuat dari plastik, karena para konsumen dapat melihat langsung isi di dalamnya.
         Perlu ingat, bahwa daya tarik olahan ini terletak pada bentuk rumput laut yang seperti aslinya.
         Ukuran wadah dapat bermacam-macam sesuai dengan harga yang diberikan.
Sosialisasi yang perlu dilakukan antara lain :
         Pertama, memberikan dasar atau fondasi kepada individu bagi terciptanya partisipasi yang efektif dalam masyarakat
         Pembuatan permen jelly rumput lut ini dimaksudkan untuk meningkatkan nilai tambah rumput laut dan diversifikasi olahan rumput laut. Pembuatan jelly dilakukan dengan mencampur gula atau glukosa dengan rumput laut yang dapat membentuk gel dan menyerap air sehingga dapat mempengaruhi tekstur permen jelly yang dibuat. Bahan utama yang digunakan dalam pembuatan permen jelly rumput laut adalah rumput laut Eucheuma spinosum. Kelebihan dari Eucheuma spinosum adalah kandungan iota karagenan. Iota karagenan memiliki daya gel tinggi dan daya higroskopisnya rendah, sehingga sangat sesuai untuk bahan permen jelly rumput laut.Bahan lainnya yang digunakan adalah glukosa atau fruktosa cair, sukrosa, asam sitrat, pewarna, essens, dan natrium benzoate.
         Kedua meningkatkan nilai jual dan memungkinkan lestarinya suatu masyarakat  sosial.
         Dalam upaya menanggulangi permasalahan di atas (ADB) maka hal utama yang bisa dilakukan adalah mensosilisasikan hasil diversifikasi olahan rumput laut tersebut  dengan pemberdayaan wanita dan keluarga.
Sayangnya keberhasilan besarnya produksi rumput laut, tidak di barengi kapasitas produksi rumput laut kering. Hingga saat ini, kapasitas produksi rumput laut kering hanya 180 ribu ton dari kemampuan panen 5,2 juta ton di tahun 2012.
Masalah yang dihadapi dengan adanya di toko-toko retail waralaba telah dibanjiri produk rumput laut sejenis makanan ringan yang sangat disukai oleh anak-anak, namun makanan ini berasal dari luar seperti Thailand dan Korea. Kita semua berharap agar rumput laut Indonesia mampu menjadi tuan pasar sendiri di dalam negeri. Jangan sampai produksi melimpah, namun hasil olahannya dikuasai oleh negara luar.


0 comments:

Post a Comment