Pages

Persemaian dan Pembibitan Mangrove



Pembenihan Mangrove
Salah satu faktor keberhasilan penanaman dalam bibit atau benih yang baik dengan mengikuti aturan sebagai berikut:
a. Bibit dari biji yang sudah tua di pohon
b. Tidak terserang hama dan penyakit
c. Ditangani secara benar dari pemanenan, pengangkutan dan penyimpanan
d. Dipilih bibit yang sehat dari pohon dengan daun yang mengkilap dan hijau
e. Media pembenihan sebaiknya menggunakan tanah lumpur supaya akar tidak goyang
 Pengumpulan Buah
Sebelum melakukan persemaian, lakukanlah pengumpulan buah mangrove terlebih dahulu untuk dijadikan bibit tanaman mangrove.
2.    Penyiapan bibit
  • bibit mangrove diusahakan berasal dari lokasi setempat atau lokasi terdekat
  • bibit mangrove disesuaikan dengan kondisi tanahnya
  • persemaian dilakukan di lokasi tanam untuk penyesuaian dengan lingkungan setempat
3.    Pemilihan bibit mangrove
Penanaman mangrove dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu: menanam langsung buahnya, cara ini memiliki tingkat keberhasilan antara 20-30%. Cara lain adalah melalui persemaian bibit, dengan tingkat keberhasilan antara 60-80%.
Untuk memperoleh bibit mangrove yang baik, pengumpulan buah (propagule) dapat dilakukan antara bulan September hingga bulan Maret, dengan karakteristik sebagai berikut berdasarkan jenis tanaman mangrove:
  1. Bakau (Rhizophora spp.), buah sebaiknya dipilih dari pohon yang telah berusia di atas 10 tahun, buah yang baik dicirikan oleh hampir lepasnya bonggol buah dan batang buah, ciri buah yang sudah matang untuk jenis :
  2. bakau besar (Rhizophora mucronata): warna buah hijau tua atau kecoklatan dengan kotiledon (cincin) berwarna kuning
    • bakau kecil (Rhizophora apiculata): warna buah hijau kecoklatan dan warna kotiledon merah.
    • Tancang (Bruguiera spp.), buah dipilih dari pohon yang berumur antara 5-10 tahun, ciri buah yang matang: batang buah hampir lepas dari bonggolnya
  3. Api-api (Avicennia spp.), bogem (Sonneratia spp.) dan bolicella (Xylocarpus granatum)
    • ciri buah yang matang: warna kecoklatan, agak ketas dan bebas dari hama penggerek
    • lebih baik buah yang sudah jatuh dari pohon
4. Persemaian bibit mangrove
  1. Pemilihan tempat:
    • lahan yang lapang dan datar,
    • dekat dengan lokasi tanam,
    • terendam air saat pasang, dengan frekuensi lebih kurang 20-40 kali/bulan, sehingga tidak memerlukan penyiraman.
  2. Pembuatan bedeng persemaian
    • ukuran bedeng disesuaikan dengan kebutuhan, umumnya berukuran 1 x 5 meter atau 1×10 meter dengan tinggi 1 meter,
    • Bedeng diberi naungan ringan dari daun nipah atau sejenisnya,
    • Media bedengan berasal dari tanah lumpur di sekitarnya,
    • Bedeng berukuran 1 x 5 meter dapat menampung bibit dalam kantong plastik (10 x 50 cm) atau dalam botol air mineral bekas (500 ml) sebanyak 1200 unit, atau 2.250 unit untuk bedeng berukuran 1 x 10 meter.
5. Pembibitan Mangrove
  • Buah disemaikan langsung ke kantong- kantong plastik atau ke dalam botol air mineral bekas yang sudah berisi media tanah.
  • Sebelum diisi tanah, bagian bawah kantong plastik atau botol air mineral bekas diberi lubang agar air yang berlebihan dapat keluar.
  • Khusus untuk buah bakau (Rhizopora spp.) dan tancang (Bruguiera spp.), sebelum disemaikan sebaiknya disimpan dulu di tempat yang teduh dan ditutupi dengan karung basah selama 5-7 hari. Hal ini bermanfaat untuk menghindari batang bibit
Pengangkutan Anakan Mangrove
Pengangkutan anakan mangrove dan penanganan sebelum ditanam dari lokasi pembibitan sampai ke tempat penampungan sementara harus memperhatikan beberapa hal, yaitu:
a. Sependek mungkin waktu perjalanan
b. Jangan sampai merusak daun, batang maupun akar
c. Sebaiknya di atas kendaraan dilindungi dengan terpal
d. Dilakukan secara manual dengan tenaga manusia
e. Jumlah bibit yang diangkut ke lokasi penanaman harus diperhitunkan dengan kemampuan menanam dalam satu hari

Persiapan Penanaman Mangrove
Sebelum melakukan penanaman, beberapa hal perlu dipersiapkan yaitu:
Benih: benih yang siap tanam, dipilih yang daunnya berwarna hijau segar dan mengkilat.
* Ajir: adalah sepotong kayu atau belahan bambu yang disiapkan untuk menopang tanaman mangrove. Bila dibuat dari bambu belah, dibuat dengan panjang 70 cm dan dibelah setebal 1 cm yang nantinya akan dipakai sebagai penguat batang mangrove saat ditanam
* Tali Rafia: tali rafia digunakan untuk menarik garis lurus sebagai jalur mangrove ditanam dan mengikat batang mangrove pada ajir agar kuat dan tidak mudah terseret air pasang.
* Sarana penunjang berupa alat kerja yang dipakai waktu menanam mangrove.

Teknik Penanaman Mangrove
  1. Tarik tali rafia sepanjang jumlah peserta bila jumlah orang yang akan menanam mangrove banyak, sehingga lurus dan teratur. Bila yang menanam mangrove hanya terdiri satu atau dua orang, tali raffia juga tetap dipasang secara bebas.
  2. Tanam menggunakan alat bantu seperti linggis, kayu atau bambu yang diruncingkan sehingga lebih mudah dan aman.
  3. Pada setiap tanaman mangrove baru, tanamkan ajir dan ikat tanaman mangrove dengan tali raffia agar tidak dihanyutkan air pasang.
  4. Adakan pengontrolan secara rutin untuk segera memperbaiki tanaman baru bila jatuh atau bila hanyut segera diganti dengan yang baru.
  5. Tanaman mangrove dianggap aman, bila sudah berakar kuat sehingga tidak gampang tercabut.
Demikian persiapan dan teknik sederhana yang dapat dipraktekan oleh setiap orang yang hendak melestarikan tanaman mangrove demi menunjang kehidupan dan keselamatan pulau dari bahaya abrasi.
Dari beberapa sumber.

Pohon bakau tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia, karena dapat ditemukan di mana-mana. Tetapi mungkin kurang pemahaman atau terdesak kebutuhan lain, membuat banyak wilayah hutan bakau atau mangrove ditebang. Pak Dosen di atas KM. Sirimau menceritakan dengan antusias manfaat pohon bakau. Berikut adalah sajian manfaat hutan bakau, sebelum membahas upaya pelestariannya. 
Manfaat Hutan Bakau / Mangrove
Drs. Bambang Suwignyo  mengelompokkan fungsi mangrove menjadi 5 golongan, yaitu :
1. Fungsi Fisik
a. Menjaga garis pantai agar tetap stabil dan kokoh dari abrasi air laut
b. Melindungi pantai dan tebing sungai dari proses erosi atau abrasi serta menahan atau menyerap tiupan angin kencang dari laut ke darat pada malam hari
c. Menahan sedimen secara periodik sampai terbentuk lahan baru
d. Sebagai kawasan penyangga proses intrusi atau rembesan air laut ke danau, atau sebagai filter air asin menjadi air tawar.
2. Fungsi Kimia
a. Sebagai tempat terjadinya proses daur ulang yang menghasilkan oksigen
b. Sebagai penyerap karbondioksida
c. Sebagai pengolah bahan-bahan limbah hasil pencemaran industri dan kapal di laut
3. Fungsi Biologi
a. Sebagai kawasan untuk berlindung, bersarang serta berkembangbiak bagi burung dan satwa lain
b. Sebagai sumber plasma nutfah dan sumber genetika
c. Sebagai habitat alami bagi berbagai jenis biota darat dan laut
d. Sebagai penghasil bahan pelapukan yang merupakan sumber makanan penting bagi invertebrata kecil pemakan bahan pelapukan (detritus) yang kemudian berperan sebagai sumber makanan bagi hewan yang lebih besar
e. Sebagai kawasan pemijahan (spawning ground) dan daerah asuhan (nursery ground) bagi udang
f. Sebagai daerah mencari makanan (feeding ground) bagi plankton
4. Fungsi Ekonomi
a. Penghasil bahan baku industri, misalnya pulp, tekstil, makanan ringan
b. Penghasil bibit ikan, udang, kerang dan kepiting, telur burung serta madu (nektar)
c. Penghasil kayu bakar, arang serta kayu untuk bangunan dan perabot rumah tangga
5. Fungsi Wisata
a. Sebagai kawasan wisata alam pantai untuk membuat trail mangrove
b. Sebagai sumber belajar bagi pelajar
c. Sebagai lahan konservasi dan lahan penelitian.

Kelima golongan fungsi dan manfaat di atas, pak Dosen di atas KM. Sirimau menambahkan bahwa oleh proses instrusi sangat memungkinkan munculnya sumber air tanah di daerah yang sebelumnya sangat gersang, contohnya Jeneponto. Proses intrusi itu akan lebih cepat bila ditunjang oleh penghijuauan di darat berupa reboisasi bukit-bukit gundul dengan tanaman pohon yang berumur panjang dan daunnya tidak mudah gugur pada musim kemarau.
Sedangkan proses penyerapan karbon dioksida dikemukakan contoh hasil oleh para petani di Jepang, yaitu bahwa hasil padi di sekitar hutan mangrove 3 sampai 4 kali lebih banyak dari pada daerah lain. Hutan mangrove juga menghasilkan hawa yang sejuk dan mudah terjadi turunnya hujan. Hawa itu ternyata bukan dinikmati manusia saja, tetapi juga oleh semua margasatwa.
Hutan mangrove sangat bermanfaat. Mari berpacu memeliharanya agar menahan meningkatnya panas global dan menyelamatkan pulau-pulau dari abrasi dan erosi. Karena sayang, jumlah penduduk semakin bertambah, lahan di darat semakin sempit, sementara itu secara diam-diam tetapi pasti air laut mengikis senti demi senti setiap hari.
Baca SelengkapnyaPersemaian dan Pembibitan Mangrove

IKAN MANYUNG (Arius Thalassinus)



Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan sumber daya alamnya. Garis pantai Indonesia merupakan garis pantai terpanjang keempat di dunia, yaitu mencapai lebih dari 95.181 km mengakibatkan Indonesia pun kaya akan kekayaan lautnya. Lautan luas yang memeluk seluruh kepulauan mengandung ikan-ikan sehat dan kaya akan protein dalam jumlah yang luar biasa melimpah. Jenis ikan di Indonesia pun mencapai 48.1 % dari jenis ikan yang ada di dunia. Perikanan merupakan salah satu harapan, sumber pangan dan sumber devisa negara non migas.
Berbagai jenis ikan dan udang sebagai komponen perikanan Indonesia salah satunya adalah ikan Manyung. Ikan ini hidup di dua habitat yang mula-mula di air tawar lalu beruaya ke perairan estauri untuk memijah, dan ruayanya ikan Manyung sampai ke laut lepas. Jenis ikan laut sejati hanya diwakilkan oleh ikan Manyung. Jenis ini sangat baik untuk jambal roti setelah mengalami proses pengasinan tertentu. 1.2 Rumusan Masalah 1. Bagaimana taksonomi, morfologi, penyebaran, dan habitat ikan Manyung (Arius thalassinus)? 2. Bagaimana biologi dan ekologi ikan Manyung (Arius thalassinus)? 3. Bagaimana potensi dan pemanfaatakn ikan Manyung (Arius thalassinus)? 1.3 Tujuan 1. Menjelaskan taksonomi, morfologi, penyebaran, dan habitat ikan Manyung (Arius thalassinus).. 2. Menjelaskan biologi dan ekologi ikan Manyung (Arius thalassinus). 3. Menjelaskan potensi dan pemanfaatakn ikan Manyung (Arius thalassinus.
TAKSONOMI, MORFOLOGI, PENYEBARAN DAN HABITAT
Taksonomi Menurut Saanin (1968), ikan Manyung (Arius thalassinus) dapat diklasifikasikan sebagai berikut: Kingdom : Animalia Phylum : Chordata Class : Pisces Subclass : Teleostei Ordo : Ostariophysis Famili : Ariidae Genus : Arius Spesies : Arius thalassinus 1. Ikan Manyung (Arius Thalassinus) 2.2 Morfologi Ikan Manyung hidup di perairan estuari dan laut. Kebanyakan ikan ini hidup di dua habitat, yaitu mula-mula di air tawar lalu beruaya ke perairan estuari untuk memijah. Ruaya ikan Manyung ini sampai ke laut lepas. Ikan Manyung dapat dikelompokan sebagai ikan demersal besar. Bentuk badan memanjang, kepala picak (gepeng), bersungut tiga pasang (dua pasang pada rahang bawah dan satu pasang pada rahang atas). Perisai kepala beralur dan berbintik. Ciri khusus dari ikan ini adalah adanya adipose fin, yaitu sirip tambahan berupa lemak yang terletak dibelakang sirip dorsal dan tidak berhubungan. Sirip punggung, dada, dan dubur masing-masing berjari keras satu dan mengandung bisa. Sirip lengkap yaitu sirip dorsal, ventral, pektoral, anal, dan caudal. Mulut tidak dapat disembulkan dengan posisi mulut terminal. Linea literalis lengkap berada di permukaan kulit, karena tidak mempunyai sisik dan berada di atas sirip pektoral. Warna merah sawo atau merah sawo keabuan bagian atas, putih merah maya-maya bagian bawah. Sisip-siripnya (punggung, dubur) ujungnya gelap. Jenis ikan ini dapat berukuran besar. Umumnya tertangkap pada ukuran 250-700 mm dan dapat mencapai panjang 1500 mm. Berat ikan Manyung berkisar antara 190-4500 gram pada panjang 195-580 mm, dan 553-5000 gram pada panjang 280-600 mm. 2.3 Penyebaran dan Habitat Menurut Kailola (1980) dalam Moosa (1987), suku Ariidae hidup di ketiga wilayah tropis dunia, yaitu Atlantik tengah, Laut Merah, dan Samudera Hindia hingga ke Indonesia, Filipina, Taiwan, Papua Nugini dan Australia Utara. Pusat penyebaran utama suku Ariidae ini berada di bagian Utara Amerika, Selatan India, Indonesia, dan Papua Nugini. Gambar 2. Persebaran Ikan Manyung di Dunia Penyebaran ikan Manyung di Indonesia meliputi perairan laut barat Sumatera Selatan, Jawa, Selat Malaka, Timur Sumatera, Utara Jawa, Bali-Nusa Tenggara Timur, Selatan dan Barat Kalimantan, Selatan Sulawesi, Utara sulawesi, Maluku dan Irian. Menurut Suhendra (1991), ikan Manyung di Indonesia ini banyak ditemukan hampir di seluruh perairan pantai Indonesia terutama pada pantai yang ada muara sungainya (estuari), yaitu pada dasar perairan muara sungai menuju laut pada kedalaman 20-100 m. (Burhanuddin et.al, 1987).
BIOLOGI DAN EKOLOGI
Biologi Rumus sirip ikan Manyung yaitu: B : 5; D : I,7; A :15-18; P : I,11; V : 6. Tinggi tubuh ikan Manyung sama dengan 5,4 kali dan panjang kepala sama dengan 3,4 – lebih dari 4 kali panjang baku tubuhnya. Bentuk kelompok gigi pada rahang atas dan langit-langit ada tiga baris yaitu baris pertama terdiri dari satu kelompok menyerupai kacang tanah yang belum dikupas (tiga gelombang), baris kedua ada dua kelompok seperti jamur merang dan kelompok pada baris ketiga ada ada dua menyerupai telapak kaki. Bentuk gigi ikan ini jelas sekali berbeda dengan jenis-jenis lainnya. Jenis ikan ini dapat berukuran besar. Umumnya tertangkap pada ukuran 25 -70 cm, dan bisa mencapai panjang 150 cm. (Pusat Penelitian Dan Pengembangan Osanologi- LIPI. 1987) Ikan Manyung (Arius thalassiunus) tergolong pada famili Ariidae, mempunyai duri pada sirip dada dan sirip punggung depan. Sirip punggung belakang bentuknya kecil dan tidak berjari sirip yang dinamakan sirip lemak. Sungut ada tiga pasang yaitu dua pasang pada rahang bawah dan satu pasang pada rahang atas serta langit-langit bergigi, dan pemakan udang, moluska serta ikan kecil lainnya (Djuhanda, 1981). 3.2 Ekologi Ikan Manyung (Arius Thalassinus) merupakan jenis ikan dari suku Ariidae yang mempunyai rentang salinitas yang panjang karena dapat hidup di perairan tawar, estuari, dan laut.
POTENSI DAN PEMANFAATAN
Potensi Ikan manyung (Arius thalassinus) mempunyai beragam potensi dan manfaat dalam kehidupan sehari-hari. Ikan tersebut tersebar di seluruh perairan pantai, lepas pantai Indonesia terutama di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi Selatan, dan Arafura. Bagian utara meliputi sepanjang pantai India, Thailand, dan sepanjang pantai Laut Cina Selatan serta bagian selatan pantai Australia, kecuali bagian selatan benua tersebut. Berbagai olahan berbahan dasar ikan manyung di antaranya adalah ikan asin yang disebut jambal roti, juga bagian kepala ikan ini dapat digulai, dimangut, maupun diasap yang merupakan makanan khas pantai utara Jawa (Pantura). Selain diolah, kantung udara ikan ini juga diperdagangkan untuk dikonsumsi serta telurnya pun dapat dijadikan pepes. Kajian pengolahan ikan manyung ini pun telah dikembangkan hingga pada pembuatan surimi (Anonim,2012). Pengolahan ikan manyung biasanya dilakukan secara tradisional, karena pengolahan secara tradisional memiliki peranan sangat penting dalam mempertahankan nilai gizi dan zat berguna lainnya yang terkandung dalam ikan ini. Sebagian besar ikan yang diperoleh dari hasil tangkapan maupun budidaya, diolah secara tradisional. Dalam kebutuhan 9 (sembilan) bahan pokok, posisi olahan ikan tradisional memiliki peranan yang sangat besar untuk mengatasi masalah kekurangan gizi dan kesehatan masyarakat,disamping sumbangannya bagi devisa negara(Dirjen Perikanan,1986). Salah satu sifat dari produk olahan tradisional ikan manyung yang beredar di pasaran sangat beragam berdasarkan tingkatan mutunya, namun pada umumnya masih relatif rendah. Hal ini disebabkan karena beragamnya mutu bahan baku yang digunakan dan kurangnya pengendalian terhadap faktor- faktor yang menyebabkan kemunduran mutu selama penanganan bahan baku, pengolahan bahan baku menjadi produk, pengemasan, penyimpanan dan distribusi produk. Ikan manyung yang salah satu hasil olahannya yang dikenal dengan istilah “jambal roti” merupakan contoh produk olahan ikan manyung secara tradisional. Istilah “jambal roti” timbul karena ikan manyung asin yang telah digoreng teksturnya rapuh seperti rapuhnya roti panggang (Burhanuddin et. al, 1987). Potensi lain yang terdapat dalam ikan ini adalah dapat dijadikan sebagai abon dan makanan konsumsi yang berprotein tinggi untuk mencegah stroke dan penyakit jantung. Minyak dalam ikan ini memiliki kandungan Omega-3 yang sangat berguna bagi tubuh manusia. Komposisi kimia pada ikan manyung ini sangat bervariasi tergantung dari jenis ikan, jenis kelamin, kematangan seksual, umur, musim penangkapan, dan habitat. Ikan manyung juga termasuk ikan berlemak rendah dan berprotein tinggi. (Burhanuddin et.al, 1987). 4.2 Pemanfaatan Pemanfaatan ikan manyung ini cukup luas yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari- hari. Manfaat yang paling besar dari ikan manyung ini adalah sebagai ikan konsumsi, bahan pangan serta bahan campuran untuk produk makanan lainnya. Kandungan protein yang tinggi dalam ikan manyung ini, memberikan manfaat yang paling besar bagi manusia untuk kesehatan dan mencegah dari penyakit seperti: jantung, stroke, dan kolesterol. Minyak dalam ikan ini merupakan lemak yang berkolesterol rendah, sehingga jika mengkonsumsi ikan ini dalam jumlah banyak tidak akan menyebabkan kelebihan kolesterol. Dalam bidang olahraga maupun rekreasi, ikan ini dapat dijadikan sebagai sport fishing, rekreasi bagi orang yang memiliki hobi memancing. Ikan manyung ini hidup didasar perairan (ikan demersal) yang dapat dimanfaatkan sebagai ikan tangkapan dengan menggunakan alat tangkap seperti: jaring, pancing, rawe, pukat, gillnet, bagan, dan serok (Burhanuddin et.al, 1987). Dalam bidang ekonomi maupun bisnis, ikan ini merupakan ikan ekonomis penting sebagai ikan konsumsi yang dapat dijadikan sebagai bahan penghasil uang dengan memperdagangkannya dalam bentuk segar (dibekukan) maupun dalam bentuk ikan asin disebut dengan ”jambal roti” yang harganya sangat mahal.
Kesimpulan Ikan Manyung termasuk suku Ariidae dan merupakan salah satu ikan dasar (demersal) yang hidup di perairan tawar, estuari, dan laut. Ikan Manyung dapat dikelempokan sebagai ikan demersal besar. Ikan Manyung hidup di ketiga wilayah tropis dunia, yaitu Atlantik tengah, Laut Merah, dan Samudera Hindia. Ikan ini memiliki tekstur yang emput dan dapat dimanfaatkan dan diolah sebagai ikan asin atau dikenal sebagai ikan jambal roti. Selain itu, ikan Manyung pun dapat dimanfaatkan sebagai sport fishing.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2012. Manyung [terhubung berkala]. http://id.wikipedia.org/wiki. (diakses tanggal 1 Mei 2012, pukul 09.23 WIB). Burhanudin, A.D., S. Martosewojo dan M. Hoetomo. 1987.Sumber Daya Ikan Manyung di Indonesia. LON-LIPI: Jakarta. Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Ciamis. 2005. Larangan Penggunaan Bahan Kimia pada Produk Perikanan. Brosur. Dinas Kelautan dan Perikanan: Kab. Ciamis. Djuhanda, T. 1981. Dunia Ikan. Armiko: Bandung. Vivacious. 2009. Ikan Manyung (Arius thalassinus) [terhubung berkala]. http:// vivacious86.blogspot.com/2009/10/ikan-manyung-arius-thalassinus.html.

Baca SelengkapnyaIKAN MANYUNG (Arius Thalassinus)

TEKNIK PENANGKAPAN IKAN TONGKOL DENGAN MEMAKAI ALAT TANGKAP TRADISIONAL


Latar belakang
Pemanfaatan sumberdaya ikan pelagis mempunyai pengaruh terhadap perekonomian masyarakat perikanan. Diperlukan metode penangkapan maupun metode penentuan fishing ground dalam melakukan pemanfaatan sumberdaya ikan pelagis secara optimal. Ikan tongkol (Euthynnus sp.) sebagai salah satu ikan pelagis kecil memiliki pola gerakan dan sebaran yang dapat diprediksikan dari berbagai indikator penduga, salah satunya adalah klorofil-a.
Ikan tongkol (Euthynnus sp.) adalah jenis ikan pelagis yang merupakan salah satu komoditas utama ekspor Indonesia. Akibat pengelolaan yang kurang baik di beberapa perairan Indonesia, terutama disebabkan minimnya informasi waktu musim tangkap, daerah penangkapan ikan, disamping kendala teknologi tangkapnya itu sendiri, tingkat pemanfaat sumberdaya ikan menjadi sangat rendah. 
Permasalahan yang timbul adalah dari lima tahun terakhir produksi ikan tongkol (Euthynnus sp.), 1 tahun terakhir mengalami penurunan (tahun 20110. Persebaran ikan tongkol (Euthynnus sp.) di perairan
Aspek Biologi ikan Tongkol
Ikan tongkol terklasifikasi dalam ordo Goboioida, family Scombridae, genus Auxis, spesies Auxis thazard. Ikan tongkol masih tergolong pada ikan Scombridae, bentuk tubuh seperti betuto, dengan kulit yang licin . Sirip dada melengkung, ujungnya lurus dan pangkalnya sangat kecil. Ikan tongkol merupakan perenang yang tercepat diantara ikan-ikan laut yang berangka tulang. Sirip-sirip punggung, dubur, perut, dan dada pada pangkalnya mempunyai lekukan pada tubuh, sehingga sirip-sirip ini dapat dilipat masuk kedalam lekukan tersebut, sehingga dapat memperkecil daya gesekan dari air pada waktu ikan tersebut berenang cepat. Dan dibelakang sirip punggung dan sirip dubur terdapat sirip-sirip tambahan yang kecil-kecil yang disebut finlet (Nainggolan E, 2009).
Ikan tongkol dapat mencapai ukuran panjang 60 65 cm dengan berat 1.720 gr pada umur 5 tahun. Panjang pertama kali matang gonad ialah 29 30 cm. Ikan tongkol temasuk ikan pelagis yang hidup pada kedalaman hingga 50 m di daerah tropis dengan kisaran suhu 27 28oC. Ikan tongkol merupakan jenis ikan migratory yang tersebar disekitar perairan samudera atlantik, hindia dan pasifik..
Ikan tongkol memiliki 10 12 jari-jari sirip punggung, 10 13 jari-jari halus sirip punggung, 10 14 jari-jari halus sirip dubur, dengan warna punggung kebiru-biruan, ungu tua bahkan berwarna hitam pada bagian kepala. Sebuah pola 15 garis-garis halus, miring hampir horisontal, garis bergelombang gelap di daerah scaleless diatas gurat sisi (linea lateralis). Bagian bawah agak putih (cerah). Dada dan sirip perut ungu, sisi bagian dalam mereka hitam. Badan kuat, memanjang dan bulat. Gigi kecil dan berbentuk kerucut, dalam rangkaian tunggal. Sirip dada pendek, tapi mencapai garis vertikal melewati batas anterior dari daerah scaleless atas corselet. Sebuah flap tunggal besar (proses interpelvic) antara sirip perut. Tubuh telanjang kecuali untuk corselet, yang dikembangkan dengan baik dan sempit di bagian posterior (tidak lebih dari 5 skala yang luas di bawah asal-sirip punggung kedua). Sebuah keel pusat yang kuat pada setiap sisi dasar sirip ekor-kecil antara 2 keel.
Klasifikasi Ikan Tongkol.
Phylum            : Chordata
Sub phylum     : Vertebrata
Class                : Pisces
Sub class         : Teleostei
Ordo                : Percomorphi
Sub ordo         : Scromboidea
Family             : Scromboidae
Genus              : Auxis
Species            : Auxis thazard
Bersifat epipelagic di perairan neretik dan samudra. Makanannya berupa ikan kecil, cumi-cumi, krustasea planktonik (megalops), dan larva stomatopod. Karena kelimpahan mereka, mereka dianggap sebagai elemen penting dari rantai makanan, khususnya sebagai hijauan untuk spesies lain bagi kepentingan komersial. Diincar oleh ikan yang lebih besar, termasuk tuna lainnya. Dipasarkan segar dan beku juga digunakan kering atau asin, asap, dan kaleng. (Bussines Center 2010).
Adapun jenis alat tangkap tersebut antara lain :
1. Payang
Menurut Monintja (1991), jaring pada payang terdiri atas kantong, dua buah sayap, dua tali ris, tali selembar, serta pelampung dan pemberat. Kantong merupakan satu kesatuan yang berbentuk kerucut terpancung, semakin ke arah ujung kantong jumlah mata jaring semakin berkurang dan ukuran mata jaringnya semakin kecil. Ikan hasil tangkapan akan berkumpul di bagian kantong ini, semakin kecil ukuran mata jaaringmaka semakin kecil kemungkinan ikan meloloskan diri..
Keterangan:
1. Tali selembar kanan
2. Tali selembar kiri
3. Pelampung bulat
4. Sayap kanan
5. Sayap kiri
6. Pemberat
7. pelampung
8. Buntut
9. Tal iris atas
10.Tal iris bawah
Sayap merupakan lembaran jaring yang disatukan dan berfungsi sebagai penggiring dan pengejut bagi ikan sehingga ikan mengarah ke mulut jaring. Sayap terdiri atas sayap kiri dan sayap kanan, memiliki ukuran mata jaring yang lebih besar dari bagian lainnya (Monintja, 1991).
Tali ris ada dua bagian, yaitu tali ris atas dan tali ris bawah. Tali ris atas lebih panjang dan tali ris bawah yang menyebabkan bibir jaring bagian atas lebih menjorok ke dalam. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari ikan meloloskan diri ke bagian bawah perairan. Tali ris berfungsi untuk merentangkan jaring dan merupakan tempat tali pelampung (floats) dan pemberat (sinker). Tali selembar adalah tali yang mengikat ujung sayap kiri dan kanan jaring, berfungsi menghubungkan antara jaring dan kapal/perahu (Subani dan Barus, 1989).
Pelampung dan pemberat berfungsi untuk membantu bukaan mulut jaring. Pelampung juga berfungsi untuk mempertahankan bentuk jaring sesuai dengan yang diinginkan dan menjaga bukaan mulut jaring dari pengaruh angin dan arus saat dioperasikan. Pemberat berfungsi agar bagian bawah jaring terendam sempurna sehingga membentuk bukaan mulut jaring yang maksimal (Monintja, 1991).
2. Pukat Cincin (Purse Seine)
Pukat cincin atau jaring lingkar (purse seine) merupakan jenis jaring penangkap ikan berbentuk empat persegi panjang atau trapesium, dilengkapi dengan tali kolor yang dilewatkan melalui cincin yang diikatkan pada bagian bawah jaring (tali ris bawah), sehingga dengan menarik tali kolor bagian bawah jaring dapat dikuncupkan sehingga gerombolan ikan
Pukat cincin atau purse seine adalah sejenis jaring yang di bagian bawahnya dipasang sejumlah cincin atau gelang besi. Dewasa ini tidak terlalu banyak dilakukan penangkapan tuna menggunakan pukat cincin, kalau pun ada hanya berskala kecil. Pukat cincin dioperasikan dengan cara melingkarkan jaring terhadap gerombolan ikan. Pelingkaran dilakukan dengan cepat, kemudian secepatnya menarik purse line di antara cincin-cincin yang ada, sehingga jaring akan membentuk seperti mangkuk. Kecepatan tinggi diperlukan agar ikan tidak dapat meloloskan diri.
Setelah ikan berada di dalam mangkuk jaring, lalu dilakukan pengambilan hasil tangkapan menggunakan serok atau penciduk. Pukat cincin dapat dioperasikan siang atau malam hari. Pengoperasian pada siang hari sering menggunakan rumpon atau payaos sebagai alat bantu pengumpul ikan. Sedangkan alat bantu pengumpul yang sering digunakan di malam hari adalah lampu, umumnya menggunakan lampu petromaks. Rumpon selain berfungsi sebagai alat pengumpul ikan juga berfungsi sebagai penghambat pergerakan atau ruaya ikan, sehingga ikan akan berada lebih lama di sekitar payaos. Rumpon dapat menjaga atau membantu cakalang tetap berada d lokasi pemasangannya selama 340 hari.
3. Jaring Insang
Jaring insang adalah alat penangkapan ikan berbentuk lembaran jaring empat persegi panjang, yang mempunyai ukuran mata jaring merata. Lembaran jaring dilengkapi dengan sejumlah pelampung pada tali ris atas dan sejumlah pemberat pada tali ris bawah. Ada beberapa gill net yang mempunyai penguat bawah (srampat/selvedge) terbuat dari saran sebagai pengganti pemberat.
Tinggi jaring insang permukaan 5 - 15 meter dan bentuk gill net empat persegi panjang atau trapesium terbalik, tinggi jaring insang pertengahan 5 - 10 meter dan bentuk gill net empat persegi panjang serta tinggi jaring insang dasar 1 - 3 meter dan bentuk gill net empat persegi panjang atau trapesium. Bentuk gill net tergantung dari panjang tali ris atas dan bawah..
Pengoperasiannya dipasang tegak lurus di dalam perairan dan menghadang arah gerakan ikan. Ikan tertangkap dengan cara terjerat insangnya pada mata jaring atau dengan cara terpuntal pada tubuh jaring. Satuan jaring insang menggunakan satuan pis jaring (piece). Satu unit gill net terdiri dari beberapa pis jaring (SISKA, 2010).
Dilihat dari cara pengoperasiannya, alat tangkap ini biasa dihanyutkan (drift gill-net), dilabuh (set gill-net), dilingkarkan (encircling gill-net). Jaring insang termasuk alat tangkap potensial terlebih setelah adanya Keppres 29/80 khususnya jaring insang dasar (bottom set gill-net) atau yang lebih dikenal dengan nama Jaring klitik (Genisa. A. S, 1998).
a. Jaring insang hanyut
Jaring insang hanyut adalah jenis gill net yang berbentuk empat persegi panjang. Jaring insang hanyut termasuk dalam klasifikasi jaring insang hanyut di permukaan air (surface drift gill net) atau jaring insang hanyut di pertengahan air (midwater drift gill net) dengan panjang tali ris bawah sama dengan atau lebih kecil daripada panjang tali ris atas. Pengoperasiannya dipasang tegak lurus dan dihanyutkan di dalam perairan mengikuti gerakan arus selama jangka waktu tertentu, salah satu ujung unit gill net diikatkan pada perahu/kapal atau kedua ujung gill net dihanyutkan di perairan. Pada perairan umum, jaring insang hanyut digunakan
Hasil tangkapan antara lain baung, kepiting, sepat siam, gabus, koan, lukas, mas, mujair, botia, berukung, benteur, bilih, tawes, depik, hampal, jelawat, kendia, lalawak, sili, nilem, parang, repang, salab, semah, seren, betutu, patin jambal, tempe dan lempuk (SISKA, 2010).
b. Jaring insang tetap
Jaring insang tetap adalah jaring insang berbentuk empat persegi panjang. Jaring insang tetap dapat dikategorikan dalam klasifikasi jaring insang tetap di dasar air (bottom set gill net), jaring insang tetap di pertengahan air (midwater set gill net) tergantung pada pemasangan gill net di dalam perairan. Tali ris bawah sama dengan atau lebih panjang daripada tali ris atas. Pengoperasiannya dipasang menetap di perairan dengan menggunakan pemberat selama jangka waktu tertentu. Pada perairan umum, jaring insang hanyut digunakan di danau atau waduk (SISKA, 2010).
Dalam pengoperasiannya jaring ini bisa dilabuh (diset), lapisan tengah maupun dibawah lapisan atas, tergantung dari panjang tali yang menghubungkan pelampung dengan pemberat (jangkar). Jaring insang labuh ini sama dengan jaring klitik yaitu jaring insang dasar menetap yang sasaran utama penangkapannya adalah udang dan ikan-ikan dasar. Cara pengoperasian jaring insang labuh ini disamping didirikan secara tegak lurus, dapat juga diatur sedemikian rupa yang seakan-akan menutup permukaan dasar atsau dihamparan tepat di atas karang-karang (Genisa. A. S, 1998).
c. Jaring Lingkar
Jaring insang lingkar adalah jaring insang yang dalam pengoperasiannya dengan cara melingkarkan ke sasaran tertentu yaitu kawanan ikan yang sebelumnya dikumpulkan melalui alat bantu sinar lampu. Setelah kawanan ikan terkurung kemudian dikejutkan dengan suara dengan cara memukul-mukul bagian perahu, karena terkejut ikan-ikan tersebut akan bercerai-berai dan akhirnya tersangkut karena melanggar mata jaring (Genisa. A. S, 1998).

Baca SelengkapnyaTEKNIK PENANGKAPAN IKAN TONGKOL DENGAN MEMAKAI ALAT TANGKAP TRADISIONAL