Pages

PERSIAPAN KOLAM DAN TAMBAK BUDIDAYA

Pengeringan Dasar Tambak
Semua tingkat teknologi budidaya tambak menghendaki pengeringan tanah dasar yang sempurna, yang dapat dilakukan pada periode musim kemarau. Pengeringan ini dimaksudkan untuk mengurangi senyawa – senyawa asam sulfide dan senyawa beracun yang terjadi selama tambak terendam air, memungkinkan terjadinya pertukaran udara dalam tambak sehingga proses mineralisasi bahan organic yang diperlukan untuk pertumbuhan kelekap dapat berlangsung, serta unutk membasmi hama penyakit dan benih- benih ikan liar yang bersifat predator ataupun kompetitor.
Agar lebih mempermudah pelaksanaan pengeringan tambak dapat dilakukan pada saat air laut surut. Pengeringan tambak berlangsung selama 1-2 minggu, sampai keadaan tanah retak- retak, namun tidak terlalu kering atau berdebu.(gambar 1). Tambak yang terlalu kering kurang baik untuk pertumbuhan klekap. Jadi yang dimaksud dengan tidak terlalu kering adalah bila tanah dasar tambak diinjak, kaki masih melesak sedalam 10-20 cm. sebaliknya bila pengeringan tambak kurrang sempurna, kelekap yang tumbuh didasar tambak kurang kuat melekat dan mudah lepas dari substratnya. Hal ini akan menyebabkan kelekap mengapung kepermukaan air tambak dan membusuk, keadaan ini mencemari tambak. Untuk mengetahui tingkat pengeringan tersebut yaitu dengan cara mengukur ketinggian lekukan yang terjadi dalam tanah dasar yang retak- retak tersebut, apabila lapisan telah mencapai 1-2 cm, maka pengeringan sudah dianggap cukup.
Kedok teplok
Pengangkatan Lumpur dasar sebaiknya dilakukan pada saat Lumpur dasar dapat diangkat (gambar 2). Kebanyakan petambak melakukan kedok teplok pada saat tergenang sehingga partikel- partikel Lumpur yang halus bercampur dengan air, sehingga kadar NH3 –N dan H2S tetap tinggi.
Pengolahan tanah dasar tambak
Pengolahan tanah dasar dilakukan menggunakan hand tractor atau dicangkul, dengan kedalaman tidak lebih dari 30 cm. hal ini dilakukan sehubungan dengan pengaruh unsur hara terhadap pertumbuhan plankton pada kedalaman tertentu, dan kemampuan unsur toksis berpengaruh terhadap kehidupan udang didasar tambak. Pengolahan tanah dasar dilakukn hanya pada tambak masam dan tambak yang sudah lama beroperasi, dan dilakukan pada musim tertentu, dimana unsur- unsur toksis dalam bongkahan tanah dapat teroksidasi dengan sempurna (musim kemarau). Setelah tanah dasar tambak ditraktor, kemudian dibalik dan Lumpur yang ada didalam caren harus diangkat sambil memperbaiki pematang. Selanjutnya direndam air (10 – 20) selama ± 7 hari, lalu dikeringkan kembali.
2. Pengapuran
Pengapuran adalah upaya peningkatan produktivitas tambak, utamanya tambak masam yang bertujuan :
Pengeringan tanah
Memperbaiki struktur tanah yaitu meningkatkan daya sanggah (buffer) tanah dan air sehingga tidak terjadi perubahan kemasaman (pH) yang ekstrim.
Menetralisasi unsur toksis yang disebabkan oleh aluminium dan zat besi dengan ketersediaan kalsium dalam jumlah yang cukup, sehingga ketersediaan unsur hara seperti posfat akan bertambah.
Menstimulir aktivitas organisme tanah sehingga dapat menghambat organisme yang membahayakan kehidupan udang (desinfectan)
Dapat merangsang kegiatan jasad renik dalam tanah sehingga dapat meningkatkan penguraian bahan organic dan nitrogen dalam tanah.
Pada tanah masam dengan pH < 5, pengapuran dilakukan sesudah diadakan reklamasi sehingga pH tanah tidak terjadi perubahan yang drastis. Sedangkan pada tanah dasar tambak yang pH>7 tidak dilakukan pengapuran atau pengapuran dalam jumlah yang sedikit sebgai desinfectan saja (poernomo 1992). Pengapuran dilakukan pada saat tanah dasar tambak dalam keadaan lembab dan juga dilakukan pada saat pengolahan atau pembalikan tanah dasar tambak. Setelah tanah dasar tambak dikapur dengan kaptan selanjutnya dibiarkan kering dan terjemur.
3. Pemberantasan Hama
Pemberantasan hama (terutama trisipan, kepiting dan udang / ikan liar) yang paling efektif adalah melalui pengeringan tambak secara sempurna. Sedangkan pengapuran dengan menggunakan kapur hidrat dan kapur oksida pada suhu tinggi juga dapat berfungsi untuk memberantas hama udang liar (Mustafa 1991). Pemberantasan hama ikan dapat dilakukan dengan menggunakan saponin, dimana keampuhannya sangat dipengaruhi oleh kondisi suhu dan salinitas air tambak. Pada salinitas rendah yaitu salinitas <20 20-30kg="" apabila="" dan="" diaplikasi="" dilakukan="" dosis="" ha="" hari="" pada="" ppm="" salinitas="" sebaiknya="" siang="">30 ppm, saponin diaplikasikan dengan dosis 10-15 kg/ha.
4. Pemupukan
Pemupukan dilakukan sesudah pemberantasan hama, dan pada kondisi sekarang ini pemupukan dilakukan pada semua tingkat teknologi. Jenis dan dosis pupuk ditentukan oleh tingkat kesuburan dari masing- masing tanah dasar tambak. Kesuburan suatu perairan tergantung pada produktivitas tanaman berklorofil, dan ini merupakan interaksi dari berbagai faktor diantaranya tersedianya zat hara dalam perairan (andarias 1991). Kesuburan perairan juga ditandai dengan kelimpahan dan jenis nabati air baik berupa fitoplankton maupun yang berupa fitobentos, dimana kedua kelompok ini merupakan primer utama dalam budidaya udang dan ikan ditambak.
Pemupukan tambak dimaksudkan unutk merangsang pertumbuhan makanan alami yang diperlukan oleh udang dan ikan selama pemeliharaan.
Didalam pemupukan tambak sebaiknya dalam satu kali masa panen dilakukan dua kali pemupukan, yaitu :
Pemupukan Dasar
Pada pemupukan dasar yang ditumbuhkan terutama adalah klekap (lumut dasar). Jenis dan dosis pupuk yang diperlukan dalam setiap hektar adalah : pupuk kandang dicampur dengan dedak halus dengan dosis 1-2 ton/ha, kemudian disebar merata ke dasar tambak. Selanjutnya campuran pupuk urea 100-150 kg/ha dan SP36 sebanyak 50-75 kg/ha, juga disebar merata keseluruh permukaan tambak. Masukkan air kedalam tambak sampai mencapai ketinggian 10-20 cm dengan menggunakan saringan dan biarkan menguap selama 2 minggu. Bila keadaan air dipermukaan telah menjadi jernih sedang dasar tambak telah tampak hijau ditumbuhi klekap, maka air didalam tambak ditambah secara bertahap sampai mencapai kedalaman 60-100 cm. Jika keadaan air sudah cukup stabil, maka petakan siap untuk ditebari.
Pemupukan Susulan
Jika diperkirakan makanan alami ditambak hamper habis (masa pemeliharaan + 1 bulan), maka perlu dilakukan pemupukan susulan dengan menggunakan pupuk urea dan SP36 dengan dosis urea 10-15 kg/ha dan SP36 5-10 kg/ha.
Pada pemupukan susulan ini yang ditumbuhkan adalah plankton, dan dilakukan setiap 10-14 hari sekali. Pupuk susulan ditebarkan pada pelataran tambak. Pemupukan tidak dianjurkan pada tambak-tambak yang mempunyai tanah dasar bersifat masam )pH < 6). Dapat juga dilakukan pemupukan apabila sudah dilakukan proses pengapuran (penebaran kapur tohor) atau menggantungkan batu kapur dimuka pintu-pintu air.
5. Persiapan Air untuk Penebaran
Air dimasukkan kedalam petakan tendon yang telah diendapkan selama + 4 hari. Persiapan tendon dilakukan sama dengan persiapan petak pembesaran, hanya tidak dilakukan pemupukan. Apabila tambak tidak memakai petakan tendon, maka tambak sebaiknya diberi kaporit 5 ppm sebelum ditebari udang dan tidak boleh ganti air sampai 1,5 bulan. Air yang telh ditampung dikapuri secara rutin dn dialirkn ke petak pembesaran dengan pergantian air dipetak pembesaran sebnyak 20-30 % pertiga hari.
6. Penebaran Tokolan
Tokolan PL 57-60 ditebar dipetak pembesaran dengan kepadatan disesuaikan dengan luas lahan. Dibandingkan dengan Pl 11-17 , tokolan udang lebih toleran terhadap fluktuasi salinitas yang lebar sehingga membutuhkan wktu yang singkat dalam proses aklimatisasi (gambar 3). Penebaran sebiknya dilakukan pada waktu suhu udara dingin, yaitu pada jam 06.00 – 08.00 pagi atau jam 17.00 sore-22.00 malam. Hindari penebaran benur yang terkumpul disatu tempat. Benur ditebar setelah air tidak berbau kaporit dan air sudah berwarna coklat muda. Padat tebar 5 ekor/m2 atau 50.000 ekor/ha. Berikan gilingan ikan segar/cumi-cumi 5 kg/ha dipinggirtambak atau disekitar benur ditebar. Jangan diberikan daging, udang/rebon atau rajungan, dan juda berikan 1 kg pellet halus/ha/hari selama 3 hari berturut-turut, dengan cara ini kehidupan udang biasa mencapai > 70 %.
Dalam penebaran benih pada budidaya campuran (udang dan banding) tidak boleh dilakukan secara bersamaa, tetapi tebarkanlah terlebih dahulu. Hal ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan udng beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Penebaran banding dilakukan setelah udang berada dalam tambak lebih kurang dua atau tiga minggu.
7. Pemeliharaan
Keberhasilan usaha budidaya tambak tidak hanya ditentukan oleh konstruksi tambak, desai dan tata letak tambak, pengolahan tanah dan pengadan benih saja, tetapi juga ditentukan oleh proses pemeliharaan sejk penebaran smpi pemungutan hasil (panen). Kegiatan –kegiatan yang diperlu dilaksanakan selm periode pemelihran berlangsung adalah :
Pemberian Makanan Tambahan
Meskipun makanan alami yang berupa plankton, klekap dan lumut tersedia cukup, namun dalam usaha budidaya ini masih membutuhkan makanan tambahan berupa pellet atau dedak halus terutama pada petak pembesaran. Pemberian makanan tambahan ini diberikan setelah satu bulan sesudah penebaran sampai menjelang panen. Makanan tambahan yang diberikan mengandung protein 30 % dengan dosis pemberian, yaitu pada teknologi intensif (15-20 ekor/m2) dan semi intensif (6-14 ekor/m2) diberikan pakan dengan dosis 3-5 %/BB/hari. Budidaya udang tradisional dengan kepadatan 1-2 ekor/m2 memerlukan pertumbuhan pakan alami yang baik, tanpa pemberian pakan komersil, namun pada budidaya udang tradisional plus (3-5 ekor/m2) disamping pakan alami juga memerlukn pakan komersil pada pemelihraan 2 bulan terakhir. Pemberian makanan tamabahan ini menggunakan anco (gambar 4), caranya meletakkan makanan sesuai dosis dalam beberapa anco, kemudian tempatkan anco tersebut pada beberpa tempat secara merata sehingga makanan dapat dimanfatkan oleh udang dan banding. Pemberian dengan cara ini selalu menghemat makanan tambahan juga sebagai wadah pengamatan.
Pengelolaan Air Tambak
Pemberian makanan tambahan dalam jumlah yang cukup banyak, kemungkinan akan meninggalkan sisa-sisa yang apabila membusuk akan berpengaruh terhadap kualitas air. Oleh karena itu pergantian air dengan frekuensi yang lebih banyak mutlak diperlukan (gambar 5). Pergantian air ditambak dilakukan secara rutin, yaitu setiap 2 minggu sekali sebanyak 25 %. Setelah pergantian air maka langsung diberi kapurkaptan sebanyak 50-100 kg/ha, dan  pupuk kalau perlu yaitu maksimum urea 35 kg/ha dan SP36 10 kg/ha, dengan kecerahan air tetap terjaga  yaitu 25-40 cm.
Apabila kondisi air tambak banyak kotoran/buih atau air jernih tidak ada plankton, maka air tambak wajib diganti. Dan apabila udang lumutan/air tambak menyala, maka segera diganti air tambak atau taburi kaporit 1,2 ppm (12 kg/ha/1m atau 7,2 kg/ha/60 cm kedalaman  air tambak. Serta pada sat hujan lebat, sebaiknya pematang tambak ditaburi kapur 100 kg/ha, pada malam hari diberi kincir/mesin perahu (2 buah/ha) agar air tidak berlapis dan udang tidak mengambang.
LANGKAH-LANGKAH PERSIAPAN DASAR TAMBAK
Oleh masrozak Leave a Komentar
Kategori: LAIN-LAIN dan Langkah-langkah Persiapan Dasar Tambak
Tags: air, dosis, keasaman, kualitas, langkah, pengapuran, pengeringan, persiapan, pH, pupuk, tambak, tanah, udang
http://masrozak.files.wordpress.com/2011/05/2254351_fototambakok4.jpg?w=212&h=300
Faktor penentu panen udang adalah keadaan tanah dasar tambak dan kualitas air tambak. Tanah dan air akan baik bila dasar tambak dipersiapkan dengan baik pula.
Masalah yang timbul dalam budidaya udang memang tidak sedikit. Kerugian yang cukup besar di antaranya karena munculnya penyakit udang. Menurut hasil penelitian puslitbang perikanan, timbulnya penyakit udang disebabkan menurunnya kondisi lingkungan, akibat pengelolaan yang kurang baik. Kunci keberhasilan budidaya udang secara intesif adalah melakukan persiapan dasar tambak dengan baik.
Menurut Ir. Youke F Mumu, seorang ahli perikanan yang banyak memberikan konsultasi kepada petambak udang tentang manajemen budidaya udang berwawasan lingkungan, hal-hal yang sebaiknya dilakukan dalam mempersiapkan dasar tambak adalah sebagai berikut.
1. Pengeringan
Setelah udang dipanen semua air dalam tambak dikeluarkan, lalu dikeringkan/dijemur selama satu minggu. Bila sudah kelihatan tanda-tanda tanah dasar tambak mulai retak-retak, maka endapan lumpur hitam (black mud) dikupas dan dibuang. Sekaligus dikerjakan reklamasi tambak, seperti perbaikan konstruksi tambak, pematang, pintu air, dan sebagainya.
Dasar tambak kembali dijemur 2 atau 3 hari. Lalu dibajak untuk membongkar tanah dasar tambak agar udara masuk ke tanah dan terjadi proses oksidasi. Sisa-sisa akar yang ada dibuang untuk menghindari terjadinya pembusukan yang mengeluarkan gas-gas beracun dan berbahaya bagi udang. Setelah dibajak tanah dibiarkan beberapa hari agar bakteri anaerob yang sifatnya pathogen dan bibit penyakit mati, serta gas-gas beracun menguap.
2. Pengapuran
Tujuan pengapuran adalah menaikkan pH tanah dasar tambak, menjadi 6,5 – 7 (pH normal). Sebab, bila pH-nya di bawah normal, kurang baik untuk kehidupan dan pertumbuhan udang. Kapur ditabur ke permukaan tanah dasar tambak, lalu dibajak agar tercampur dengan tanah. Pengapuran ini lebih baik dilakukan dua kali. Dosis kaplur yang digunakan sesuai tingat keasaman tanah. Pertama, dengan menggunakan setengah dosis kapur yang direncanakan. Setelah dicampur dan dibiarkan beberapa hari, barulah setengah dosis sisanya ditabur. Lalu dibajak lagi dan dibiarkan beberapa hari lagi. Selanjutnya, dilakukan tes pH. Kalau pH sudah sesuai, masukkan air kira-kira sedalam 30 cm dan biarkan semalam. Tujuan perendaman ini adalah agar sisa-sisa reaksi pada dasar tambak larut dalam air. Kemudian air dibuang, dan dasar tambak diratakan.
3. Diberi pupuk OST
Dalam keadaan basah atau ada air sedikit (maksimum 1 cm) pupuk OST ditabur secara merata. Pupuk OST langsung menyatu dengan tanah sehingga tidak kelihatan lagi perbedaannya. Biarkan selama satu minggu, dan dasar tambak dijaga tetap lembab.
Tujuan penggunaan pupuk OST ini adalah untuk memperbaiki struktur tanah di permukaan dasar tambak, sehingga tanah menjadi suatu koloid yang lebih stabil. Di dalam aktivitasnya, pupuk OST akan menciptakan keseimbangan unsur hara (mineral balance). Bakteri-bakteri yang terkandung di dalam OST akan menguraikan sisa-sisa bahan organic mentah yang masih tertinggal di dasar tambak, dan sementara itu fuaga akan berlangsung proses mineralisasi. Selama satu minggu diharapkan tanah dasar tambak menjadi mantap sehingga makanan alami berupa plankton yang disukai udang mulai tumbuh.
4. Air dimasukkan
Setelah satu minggu diberi pupuk OST, air dimasukkan, langsung dengan kedalaman minimal 60 cm. setelah pemberian OST ini air jangan dibuang dan dilakukan pembasmian ikan-ikan liar dengan saponin. Beberapa hari kemudian plankton akan muncul. Bila cuaca baik, dalam waktu 5 hari plankton akan naik, air sudah stabil untuk beberapa minggu.
Salah satu factor yang perlu diperhatikan, setelah air masuk dan plankton sudah jadi adalah kecerahan air yang diukur dengan seicchi disk. Maka pada kecerahan 30 – 40 benur boleh dimasukkan. Kecerahan air lebih atau kurang dari 30 – 40 kurang baik untuk pertumbuhan benur.
Pemupukan
Pemupukan bertujuan untuk mendorong pertumbuhan makanan alami, yaitu: kelekap, lumut, plankton, dan bentos. Cara pemupukan:
Untuk pertumbuhan kelekap
Tanah yang sudah rata dan dikeringkan ditaburi dengan dedak kasar sebanyak 500 kg/ha.
Kemudian ditaburi pupuk kandang (kotoran ayam, kerbau, kuda, dll), atau pupuk kompos sebanyak 1000 kg/ha.
Tambak diairi sampai 5-10 cm, dibiarkan tergenang dan menguap sampai kering.
Setelah itu tambak diairi lagi sampai 5-10 cm, dan ditaburi pupuk kandang atau pupuk kompos sebanyak 1000 kg/ha.
Pada saat itu ditambahkan pula pupuk anorganik, yaitu urea 75 kg/ha dan TSP (Triple Super Phosphate) 75 kg/ha.
Sesudah 5 hari kemudian, kelekap mulai tumbuh. Air dapat ditinggikan lagi secara berangsur-angsur, hingga dalamnya 40 cm di atas pelataran. Dan benih udang dapat dilepaskan.
Selama pemeliharaan, diadakan pemupukan susulan sebanyak 1-2 kali sebulan dengan menggunakan urea 10-25 kg/ha dan TSP 5-15 kg/ha.
Untuk pertumbuhan lumut
Tanah yang telah dikeringkan, diisi air untuk melembabkannya, kemudian ditanami bibit lumut yang ditancapkan ke dalam lumpur.
Air dimasukkan hingga setinggi 20 cm, kemudian dipupuk dengan urea 14 kg/ha dan TSP 8 kg/ha.
Air ditinggikan sampai 40 cm setelah satu minggu.
Mulai minggu kedua, setiap seminggu dipupuk lagi dengan urea dan TSP, masing-masing 10 takaran sebelumnya.
Lumut yang kurang pupuk akan berwarna kekuningan, sedangkan yang dipupuk akan berwarna hijau rumput yang segar. Lumut yang terlalu lebat akan berbahaya bagi udang, oleh karena itu lumut hanya digunakan untuk pemeliharaan udang yang dicampur dengan ikan yang lain.
Untuk pertumbuhan Diatomae
Jumlah pupuk nitrogen (N) dan pupuk fosfor (P) menghendaki perbandingan sekitar 30:1. Apabila perbandingannya mendekati 1:1, yang tumbuh adalah Dinoflagellata.
Sebagai sumber N, pupuk yang mengandung nitrat lebih baik daripada pupuk yang mengandung amonium, karena dapat terlarut lebih lama dalam air.
Contoh pupuk:
Urea-CO(NH2)2: prosentase N=46,6.
Amonium sulfat-ZA-(NH4)2SO4: prosentase N=21.
Amonium chlorida-NH4Cl: prosentase N=25
Amonium nitrat-NH4NO3: prosentase N=37
Kalsium nitrat-Ca(NO3)2: prosentase N=17
Double superphosphate-Ca(H2PO4): prosentase P=26
Triple superphosphate-P2O5: prosentase P=39
Pemupukan diulangi sebanyak beberapa kali, sedikit demi sedikit setiap 7-10 hari sekali.
Pemupukan pertama, digunakan 0,95 ppm N dan 0,11 ppm P. Apabila luas tambak 1 ha dan tinggi air rata-rata 60 cm, membutuhkan 75-150 kg pupuk urea dan 25-50 kg TSP.
Pertumbuhan plankton diamati dengan secci disc. Pertumbuhan cukup bila pada kedalaman 30 cm, secci disc sudah kelihatan.
Takaran pupuk dikurangi bila secci disc tidak terlihat pada kedalaman 25 cm. Sedangkan apabila secci disc tidak kelihatan pada kedalaman 35 cm, maka takaran pupuk perlu ditambah.
Konstruksi tambak udang windu diupayakan mampu menahan air, mampu membuang air limbah, mampu memelihara kualitas air, dan tambak dapat dikeringkan dengan mudah dan sempurna. Tanah dasar tambak harus dalam kondisi yang sesuai untuk kehidupan
dan pertumbuhan udang. Hal ini karena sebagian besar waktu hidup dan mencari makan udang berada di tanah dasar tambak. Untuk mengupayakan hal tersebut persiapan lahan untuk menebar udang windu meliputi kegiatan:
- Pengeringan Lahan, bertujuan agar gas-gas sisa metabolit dapat menguap.
- Pembalikan tanah pada Tambak, ini dilakukan untuk menyempurnakan proses oksidasi pada tanah.
- Pengapuran dilakukan bila PH tanah kurang dari 6.0
- Pemupukan dengan pupuk organik, untuk menjamin ketersediaan pakan alami bagi udang windu.
Baca SelengkapnyaPERSIAPAN KOLAM DAN TAMBAK BUDIDAYA

MEMBINA NELAYAN MENJADI SALAH SATU KEKUATAN EKONOMI KERAKYATAN YANG MANDIRI

Apa yang dimaksud dengan nelayan antara lain :
NELAYAN (UU No.45/2009 - Perikanan) adalah orang yang mata pencahariannya melakukan penangkapan ikan.
NELAYAN (Standar Statistik Perikanan) adalah orang yang secara aktif melakukan pekerjaan dalam operasi penangkapan ikan/binatang air lainnya/tanaman air.
NELAYAN (FAO-TGRF) adalah orang yang turut mengambil bagian dalam penangkapan ikan dari suatu kapal penangkap ikan, dari anjungan (alat menetap atau alat apung lainnya) atau dari pantai.
Orang yang melakukan pekerjaan seperti membuat jaring, mengangkut alat-alat penangkapan ikan ke dalam perahu atau kapal motor, mengangkut ikan dari perahu atau kapal motor, tidak dikategorikan sebagai nelayan (Departemen Kelautan dan Perikanan,2002)KKPNews, Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyatakan, kebijakannya terkait pengelolaan perikanan tangkap di perairan 0-4 mil yang dikhususkan untuk nelayan dengan kapal di bawah 10 GT, bertujuan untuk mewujudkan keberlanjutan sumberdaya ikan di perairan laut Indonesia.
Hal ini sesuai dengan salah satu pilar pembangunan KKP untuk mendukung Indonesia sebagai poros maritim dunia. Demikian disampaikan Direktur Jenderal Perikanan Tangkap, Narmoko Prasmadji, saat konferensi pers di Kantor KKP, Jakarta (21/12).
A. KALSIFIKASI NELAYAN MENURUT STATISTIK PERIKANAN KKP:
1. Nelayan Penuh
Nelayan tipe ini hanya memiliki satu mata pencaharian, yaitu sebagai nelayan. Hanya menggantungkan hidupnya dengan profesi kerjanya sebagai nelayan dan tidak memiliki pekerjaan dan keaahllian selain menjadi seorang nelayan.
2. Nelayan Sambilan Utama
Nelayan tipe ini mereka menjadikan nelayan sebagai profesi utama tetapi memiliki pekerjaan lainnya untuk tambahan penghasilan.
Apabila sebagian besar pendapatan seseorang berasal dari kegiatan penangkapan ikan ia disebut sebagai nelayan. (Mubyarto, 2002:18).
3. Nelayan Sambilan Tambahan
Nelayan tipe ini biasanya memiliki pekerjaan lain sebagai sumber penghasilan, sedangkan pekerjaan sebagai nelayan hanya untuk tambahan penghasilan.
B. KLASIFIKASl KELOMPOK NELAYAN BERDASAR KEPEMILIKAN SARANA PENANGKAPAN IKAN (UU Bagi Hasil Perikanan):
1. Nelayan Penggarap
Nelayan penggarap adalah orang yang sebagai kesatuan menyediakan tenaganya turut serta dalam usaha penangkapan ikan laut, bekerja dengan sarana penangkapan ikan milik orang lain.
2. Juragan/Pemilik
orang atau badan hukum yang dengan hak apapun berkuasa/memiliki atas sesuatu kapal/perahu dan alat-alat penangkapan ikan yang dipergunakan dalam usaha penangkapan ikan, yang dioperasikan oleh orang lain. Jika pemilik tidak melaut maka disebut juragan/pengusaha. Jika pemilik sekaligus bekerja melaut menangkap ikan maka dapat disebut sebagai nelayan yang sekaligus pemilik kapal.
C. KLASIFIKASI NELAYAN BERDASAR KELOMPOK KERJA
1. Nelayan Perorangan
Nelayan yang memiliki peralatan tangkap ikan sendiri, dalam pengoprasiannya tidak melibatkan orang lain.
2. Nelayan Kelompok Usaha Bersama (KUB)
Adalah gabungan dari minimal 10 (sepuluh) orang nelayan yang kegiatan usahanya terorganisir tergabung dalam Kelompok Usaha Bersama non-badan hukum.
3. Nelayan Perusahaan
Adalah nelayan pekerja atau Pelaut Perikanan yang terikat dengan Perjanjian Kerja Laut (PKL) dengan badan usaha perikanan.
D. KLASIFIKASI NELAYAN BERDASAR JENIS PERAIRAN
1. Nelayan Laut
Adalah nelayan yang menangkap ikan pada perairan laut.
a. Nelayan Pantai (Teritory Fishers)
Adalah nelayan yang menangkap ikan pada perairan laut teritorial.
b. Nelayan Lepas Pantai (ZEE Fishers)
Adalah nelayan yang menangkap ikan pada perairan laut Lepas Pantai (ZEE)
c. Nelayan Laut Lepas (High Seas Fishers)
Adalah nelayan yang menangkap ikan pada perairan laut Lepas(High Seas)
2. Nelayan Perairan umum pedalaman (PUD)
Adalah nelayan yang menangkap ikan pada perairan umum pedalaman (PUD)

E. KLASIFIKASI NELAYAN BERDASAR UU PERIKANAN
1. Nelayan
Nelayan adalah orang yang mata pencahariannya melakukan penangkapan ikan. (Sumber: Pasal 1 Angka 10 UU Nomor 45 Tahun 2009 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan).
2. Nelayan Kecil
Nelayan kecil adalah orang yang mata pencahariannya melakukan penangkapan ikan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari yang menggunakan kapal perikanan berukuran paling besar 5 (lima) gross ton (GT).
(Sumber: Pasal 1 Angka 11 UU Nomor 45 Tahun 2009 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan).

F. KLASIFIKASI NELAYAN BERDASAR MATA PENCAHARIAN
1. Nelayan subsisten (subsistence fishers)
Adalah nelayan yang menangkap ikan hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri.
2. Nelayan asli (native/indigenous/aboriginal fishers)
Adalah nelayan yang sedikit banyak memiliki karakter yang sama dengan kelompok pertama, namun memiliki juga hak untuk melakukan aktivitas secara komersial walaupun dalam skala yang sangat kecil.
3. Nelayan komersial (commercial fishers)
Adalah nelayan yang menangkap ikan untuk tujuan komersial atau dipasarkan baik untuk pasar domestik maupun pasar ekspor.
4. Nelayan rekreasi (recreational/sport fishers)
adalah orang-orang yang secara prinsip melakukan kegiatan penangkapan ikan hanya sekedar untuk kesenangan atau berolahraga.
(Sumber: Charles 2001 dalam Widodo 2006)

G. KALSIFIKASI NELAYAN BERDASAR ASPEK KETERAMPILAN PROFESI
1. Nelayan non-formal
Keterampilan profesi menangkap ikan yang diturunkan/dilatih dari orang tua atau generasi pendahulu secara non-formal.
2. Nelayan formal akademis
Keterampilan profesi menangkap ikan yang didapat dari belajar dan berlatih secara sistematis akademis dan bersertifikasi/berijasah.

H. KLASIFIKASI NELAYAN BERDASAR TEKNOLOGI
1. Nelayan Tradisional
Nelayan Tradisional mengunakan teknologi penangkapan yang sederhana, umumnya peralatan penangkapan ikan dioperasikan secara manual dengan tenaga manusia. Kemampuan jelajah operasional terbatas pada perairan pantai.
2. Nelayan Modern
Nelayan modern mengunakan teknologi penangkapan yang lebih canggih dibandingkan dengan nelayan tradisional. Ukuran modernitas bukan semata-mata karena pengunaan motor untuk mengerakkan perahu, melainkan juga besar kecilnya motor yang digunakan serta tingkat eksploitasi dari alat tangkap yang digunakan. Perbedaan modernitas teknologi alat tangkap juga akan berpengaruh pada kemampuan jelajah operasional mereka (Imron, 2003:68).

I. KLASIFIKASI NELAYAN BERDASAR MOBILITAS
1. Nelayan Lokal
Nelayan yang beroperasi menangkap ikan sesuai perairan WPP dalam ijin yang dikeluarkan oleh otoritas Pemerintah Daerah setempat.
2. Nelayan Andon
Nelayan dengan kapal berukuran maksimal 30 (tiga puluh) Gross Tonage yang beroperasi menangkap ikan mengikuti ruaya kembara ikan di perairan otoritas teritorial dengan legalitas ijin antar Pemerintah Daerah.

J. KLASIFIKASI NELAYAN BERDASAR STATUS KEWARGANEGARAAN
1. Nelayan Indonesia
Nelayan yang berasal dari kewarganegaraan Indonesia yang terdaftar dalam database nasional dan memiliki identitas Kartu Nelayan Indonesia (KNI).
2. Nelayan Asing
Nelayan yang berasal dari kewarganegaraan Negara lain yang terdaftar dalam database nasional Indonesia dan memiliki identitas Kartu Nelayan Asing (KNA) di Indonesia.

K. KLASIFIKASI NELAYAN BERDASAR DAFTAR IDENTITAS
1. Nelayan Beridentitas
Nelayan yang terdaftar dalam database nasional Indonesia dan memiliki identitas Kartu Nelayan Indonesia.
2. Nelayan Tanpa Identitas
Nelayan yang tidak terdaftar dalam database nasional Indonesia dan tidak memiliki identitas Kartu Nelayan Indonesia.
L. KLASIFIKASI NELAYAN BERDASAR GENDER
1. Wanita Nelayan
adalah istri dari nelayan yang tergabung dalam Kelompok Usaha Bersama (KUB), pihak yang secara langsung terlibat dalam kondisi dari aktivitas penunjang kegiatan produksi ikan nelayan. Wanita nelayan umumnya berperan membantu mendistribusikan hasil laut dari suami atau keluarganya dengan cara mengolah ikan atau menjualnya kepasar.
2. Taruna (Putra-Putri) Nelayan
Adalah Putra-Putri dari nelayan yang tergabung dalam Kelompok Usaha Bersama (KUB), pihak yang secara tidak langsung menunjang kegiatan produksi penangkapan nelayan. Kegiatan berupa pelestarian lingkungan sumberdaya ikan berupa mangrove, padang lamun, terumbu karang, bersih pantai dan sungai.

M. KLASIFIKASI NELAYAN BERDASAR BESARAN KAPAL/PERAHU
1. Nelayan Mikro
Adalah nelayan yang menangkap ikan dengan kapal/perahu berukuran 0 (nol) GT sampai dengan 10 (sepuluh) GT.
2. Nelayan Kecil
Adalah nelayan yang menangkap ikan dengan kapal/perahu berukuran mulai 11 (sebelas) GT sampai dengan 60 (enam puluh) GT
3. Nelayan Menengah
Adalah nelayan yang menangkap ikan dengan dengan kapal/perahu berukuran mulai 61 (enam puluh satu) GT sampai dengan 134 (seratus tiga puluh empat) GT
4. Nelayan Besar
Adalah nelayan yang menangkap ikan dengan dengan kapal/perahu berukuran mulai 135 (seratus tiga puluh lima) GT keatas.

N. KLASIFIKASI NELAYAN BERDASAR SARANA APUNG
1. Nelayan Berkapal/perahu
Adalah nelayan yang operasi penangkapannya menggunakan sarana apung berupa kapal/perahu
2. Nelayan Rakit
Adalah nelayan yang operasi penangkapannya menggunakan sarana apung berupa rakit.
3. Nelayan Tanpa Sarana Apung
Adalah nelayan yang operasi penangkapannya tidak menggunakan sarana apung.
Narmoko menuturkan perairan di bawah 4 mil merupakan penyangga dari pengelolaan sumberdaya ikan secara utuh. Wilayah ini merupakan daerah pemijahan, daerah asuh dan daerah sumber makanan bagi ikan kecil dan biota laut yang secara rantai makanan akan menopang ikan-ikan di atas perairan 4 mil.
Selain itu, tambah Narmoko, ikan yang berada di wilayah tepi dan diangkat dengan cara sangat sederhana ini biasanya memiliki harga jual yang mahal. Oleh karena itu, konsesi yang sangat besar tidak diberikan kepada nelayan skala besar untuk menangkap Ikan di wilayah-wilayah tersebut agar tetap terpelihara kelestariannya.
“Nelayan kecil, modalnya sedikit dan menggunakan teknologi yang sederhana sehingga tidak mampu menangkap ikan ke arah yang lebih jauh. Sedangkan nelayan industri mempunyai modal besar dan teknologi yang tinggi pula, jadi silakan untuk memanfaatkan sumber daya ikan ke arah jelajah yang lebih jauh. Bahan baku untuk industri perikanan sudah pasti tersedia, jadi untuk kapal besar tidak perlu lagi mengambil ikan di wilayah 4 mil, biarkanlah wilayah tersebut untuk para nelayan dengan kapal dibawah 10 GT,” pungkasnya.
Lebih lanjut Narmoko menjelaskan, sebagian pemerintah daerah juga telah menetapkan wilayah sejauh 4 mil sebagai wilayah konservasi. Oleh karena itu KKP sangat konsentrasi dengan penangkapan yang ada di wilayah konservasi ini.
“Di bawah 4 mil dan 12 mil ada yang dikuasai pemerintah, atau manajemen pemerintah daerah adalah wilayah konservasi. Jadi, kita harus selalu hindarkan wilayah konservasi dari penangkapan untuk kepentingan industri. Nelayan skala industri (10 GT ke atas) dapat memanfaatkan sumber daya ikan di jalur penangkapan di atas 4 mil “, imbuhnya.
Meskipun demikian, menurut Narmoko kawasan-kawasan konservasi tersebut tidak 100% tertutup sama sekali. Untuk penangkapan ikan masih bisa dilakukan dengan grade yang sangat terbatas dan manajemen yang sangat ketat.
Baca SelengkapnyaMEMBINA NELAYAN MENJADI SALAH SATU KEKUATAN EKONOMI KERAKYATAN YANG MANDIRI

CARA MENGEMBANGKAN NELAYAN KECIL

Latar belakang

Pendekatan pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan mengandung arti bahwa manusia ditempatkan pada posisi pelaku dan penerima manfaat dari proses mencari solusi dan meraih hasil pembangunan. Dengan demikian maka masyarakat harus mampu meningkatkan kualitas kemandirian mengatasi masalah yang dihadapi.
Upaya-upaya pemberdayaan masyarakat seharusnya mampu berperan meningkatkan kualitas sumberdaya manusia (SDM) terutama dalam membentuk dan merubah perilaku masyarakat untuk mencapai taraf hidup yang lebih berkualitas.
Pembentukan dan perubahan perilaku tersebut, baik dalam dimensi sektoral yakni dalam seluruh aspek/sektor-sektor kehidupan manusia, dimensi kemasyarakatan yang meliputi jangkauan kesejahteraan dari materiil hingga non materiil, dimensi waktu dan kualitas yakni jangka pendek hingga jangka panjang dan peningkatan kemampuan dan kualitas untuk pelayanannya, serta dimensi sasaran yakni dapat menjangkau dari seluruh strata masyarakat. Pemberdayaan masyarakat tidak lain adalah memberikan motivasi dan dorongan kepada masyarakat agar mampu menggali potensi dirinya dan berani bertindak memperbaiki kualitas hidupnya, melalui cara antara lain dengan pendidikan untuk penyadaran dan pemampuan diri mereka.
Di Indonesia, perkembangan pemberdayaan petani dan nelayan kecil dikenal dengan program penyuluhan, dimulai bersamaan dengan berdirinya Departemen Pertanian (Van Landbouw) pada tahun 1905. Pada masa itu, salah satu tugas departemen tersebut adalah menyalurkan hasil penyelidikan pertanian kepada petani.Lalu, menjelang dan awal Pelita I, melalui program Bimbingan Massal-Intensifikasi Massal (Bimas-Inmas), penyuluhan dilakukan besar-besaran. Walaupun
demikian, praktis sejak perang kemerdekaan orientasi kegiatan penyuluhan ditujukan untuk meningkatkan produksi bahan makanan pokok rakyat Indonesia yaitu beras.
Namun, landasan penyuluhan yang selama ini diketahui hanya sekedar meningkatkan produksi perlu dikaji kembali. Selain itu, kelembagaan/institusi (pendidikan/ pemerintahan/birokrasi) yang juga lebih berorientasi pada peningkatan produksi sektor pertanian (termasuk subsektor tanaman pangan, perkebunan, perikanan, dan peternakan) juga perlu ditinjau kembali. Tulisan singkat ini bermaksud menguraikan tentang arah tantangan bidang pertanian dan perikanan/nelayan, pentingnya peranserta dan pemberdayaan masyarakat, serta pemberdayaan masyarakat petani dan nelayan kecil.
Rumusan Masalah
Bagaimana Penguatan peran serta dan pemberdayaan masyarakat?
Bagaimana pemberdayaan menuju petani dan nelayan kecil  yang mandiri?
Bagaimana Strategi Pendekatan dalam pemberdayaan masyarakat menuju kemandirian petani dan nelayan kecil?
Apa Aspek- aspek  penting dalam pemberdayaan petani dan nelayan?
Tujuan
1. Untuk mengetahui sejauhmana  Penguatan peran serta dan pemberdayaan masyarakat
Untuk mengetahui  pemberdayaan menuju petani dan nelayan kecil  yang mandiri
Untuk mengetahui seperti apa Strategi Pendekatan dalam pemberdayaan masyarakat menuju kemandirian petani dan nelayan kecil
Untuk mengetahui  upaya-upaya  penting dalam pemberdayaan petani dan nelayan

KAJIAN PUSTAKA

Menurut Saragih (1998), makna terdalam era globalisasi dalam struktur perekonomian adalah perdagangan bebas. Dalam perdagangan bebas berarti ada persaingan. Dalam globalisasi tersebut yang akan bersaing adalah barang sekunder, yaitu produk agroindustri. Di Indonesia bahan baku untuk industri tersedia, tetapi yang menjadi kendala adalah penggunaan dan penguasaan teknologi modern yang memperkuat agribisnis, atau penekanan masalah yang dihadapi dalam era globalisasi adalah pada peningkatan SDM ( termasuk bagi para petani dan nelayan kecil).
Masih menurut Saragih (1998) pengembangan agribisnis di Indonesia merupakan tuntutan perkembangan yang logis dan harus dilanjutkan sebagai wujud kesinambungan, penganekaragaman dan pendalaman pembangunan pertanian selama ini. Pengembangan agribisnis akan tetap relevan walau telah tercapai setinggi apapun kemajuan suatu negara. Bahkan agribisnis akan menjadi andalan utama bagi suatu negara yang masih sulit melepaskan ketergantungan pembangunan nasionalnya dari sektor pertanian dan pedesaan seperti Indonesia ini. Beberapa alasan lain untuk memperkuat pilihan pada agribisnis, adalah: (1) tersedianya bahan baku yang tersedia, (2) akan memperluas daya tampung tenaga kerja di sektor pertanian dan pedesaan, dan (3) pengembangan agrobisnis dalam skala kecil lebih mudah diarahkan untuk lebih bersahabat dengan lingkungan (daripada industri besar), sehingga dapat menekan kerusakan lingkungan.
Menurut Sikhondze (1999), orientasi pemberdayaan masyarakat haruslah membantu petani dan nelayan (sasaran) agar mampu mengembangkan diri atas dasar inovasi-inovasi yang ada, ditetapkan secara partisipatoris, yang pendekatan metodenya berorientasi pada kebutuhan masyarakat sasaran dan hal-hal yang bersifat praktis, baik dalam bentuk layanan individu maupun kelompok.
Sedangkan berdaya saing tinggi yaitu mampu berpikir dan bertindak serta menggunakan sarana produksi atas dasar memperhatikan mutu hasil kerjanya dan kepuasan konsumen yang dilayaninya (Sumardjo, 1999).
Gagasan pemberdayaan ekonomi rakyat menurut Mahmudi (1999) adalah merupakan upaya mendorong dan melindungi tumbuh dan berkembangnya kekuatan ekonomi lokal dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) oleh masyarakat yang berbasiskan pada kekuatan rakyat.

PEMBAHASAN
A.   PENGUATAN PERAN SERTA DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
Titik pusat perhatian adalah pada pendekatan ke arah pembangunan yang lebih berpihak kepada rakyat. Ada alasan untuk yakin bahwa paradigma seperti itu dewasa ini sedang muncul dari proses penemuan sosial kolektif sedunia. Logika paradigma ini yang menonjol adalah logika lingkungan hidup manusia yang berimbang, sumber dayanya yang dominan adalah sumber daya informasi dan prakarsa yang kreatif yang tak kunjung habis, dan sasarannya yang dominan adalah pertumbuhan umat manusia yang dirumuskan dalam rangka lebih terealisasinya potensi umat manusia. Individu bukanlah sebagai obyek, melainkan berperan sebagai pelaku, yang menentukan tujuan, mengontrol sumber daya, dan mengarahkan proses yang mempengaruhi hidupnya sendiri. Pembangunan yang memihak rakyat menekankan nilai pentingnya prakarsa dan perbedaan lokal. Karenanya pembangunan seperti itu mementingkan sistem swa-organisasi yang dikembangkan di sekitar satuan-satuan organisasi berskala manusia dan masyarakat yang berswadaya.
Kesejahteraan dan realisasi diri manusia merupakan jantung konsep pembangunan yang memihak rakyat. Perasaan berharga diri yang diturunkan dari keikutsertaan dalam kegiatan produksi adalah sama pentingnya bagi pencapaian mutu hidup yang tinggi dengan keikutsertaan dalam konsumsi produk-produknya. Keefisienan sistem produksi, karenanya haruslah tidak semata-mata dinilai berdasar produk-produknya, melainkan juga berdasar mutu kerja sebagai sumber penghidupan yang disediakan bagi para pesertanya, dan berdasar kemampuannya menyertakan segenap anggota masyarakat.
Perbedaan paradigma pembangunan yang mementingkan produksi yang dewasa ini unggul dan pembangunan yang lebih berpihak kepada rakyat sebagai tandingannya, mengandung arti penting bagi penciptaan masa depan yang lebih manusiawi. Khususnya pemahaman akan perbedaan itu penting artinya bagi pemilihan teknik sosial termasuk bagaimana pemberdayaan masyarakat dilakukan secara tepat untuk mencapai tujuan-tujuan yang mementingkan rakyat.
Penyadaran diri (conscienzacione), satu di antara argumen-argumen yang paling telak dan tajam diajukan oleh Paulo Freire (1984), adalah merupakan inti dari usaha bagaimana bisa mengangkat rakyat dari kelemahannya selama ini. Kesempitan pandangan dan cakrawala rakyat yang tersekap dalam kemiskinan dan sering menghayati kehidupan mereka dalam keterpencilan (isolasi) dan kekumuhan, harus diubah kearah suatu keinsyafan, perasaan, pemikiran, gagasan, bahwa hal-ihwal dapat menjadi lain, dan tersedia alternatif-alternatif. Sedangkan peran petugas pemberdayaan masyarakat sebagai outsider people dapat dibedakan menjadi 3 bagian yaitu peran konsultan, peran pembimbingan dan peran penyampai informasi. Dengan demikian peranserta kelompok sasaran ( masyarakat itu sendiri ) menjadi sangat dominan. Belajar dari pengalaman menunjukkan bahwa ketika peran penguasa sangat dominan dan peranserta masyarakat di pandang sebagai kewajiban, maka masyarakat justru terpinggirkan dari proses pembangunan. Penguatan peranserta masyarakat haruslah menjadi bagian dari agenda demokratisasi lebih-lebih dalam era globalisasi. Peranserta masyarakat harus lebih dimaknai sebagai hak katibang kewajiban. Kontrol rakyat terhadap isi dan prioritas agenda pengambilan keputusan atas program-program pembangunan yang ditujuan kepadanya adalah hak masyarakat sebagai pemegang kata akhir dan mengontrol apa saja yang masuk dalam agenda dan urutan prioritas. Apabila peranserta masyarakat meningkat efektivitasnya, maka sebenarnya upaya pemberdayaan masyarakat telah dijalankan.
Upaya pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan dengan meningkatkan efisiensi dan produktifitas melalui pengembangan sumberdaya manusia, penguasaan teknologi dan penguatan kelembagaan serta perbaikan sarana dan prasarana ekonomi dan sosial. Upaya ini memerlukan adanya kerjasama yang sinergis dari berbagai kekuatan pembangunan yang ada.
Untuk melakukan pemberdayaan masyarakat secara umum dapat diwujudkan dengan menerapkan prinsip-prinsip dasar pendampingan masyarakat, sebagai berikut :
Belajar Dari Masyarakat.
Prinsip yang paling mendasar adalah prinsip bahwa untuk melakukan pemberdayaan masyarakat adalah dari, oleh, dan untuk masyarakat. Ini berarti, dibangun pada pengakuan serta kepercayaan akan nilai dan relevansi pengetahuan tradisional masyarakat serta kemampuan masyarakat untuk memecahkan masalah-masalahnya sendiri.
Pendamping sebagai Fasilitator.
Masyarakat sebagai Pelaku Konsekuensi dari prinsip pertama adalah perlunya pendamping menyadari perannya sebagai fasilitator dan bukannya sebagai pelaku atau guru. Untuk itu perlu sikap rendah hati serta ketersediaan untuk belajar dari masyarakat dan menempatkan warga masyarakat sebagai narasumber utama dalam memahami keadaan masyarakat itu. Bahkan dalam penerapannya masyarakat dibiarkan mendominasi kegiatan. Kalaupun pada awalnya peran pendamping lebih besar, harus diusahakan agar secara bertahap peran itu bisa berkurang dengan mengalihkan prakarsa kegiatan-kegiatan pada warga masyarakat itu sendiri.
Saling Belajar.
Saling Berbagi Pengalaman Salah satu prinsip dasar pendampingan untuk pemberdayaan masyarakat adalah pengakuan akan pengalaman dan pengetahuan tradisional masyarakat. Hal ini bukanlah berarti bahwa masyarakat selamanya benar dan harus dibiarkan tidak berubah. Kenyataan objektif telah membuktikan bahwa dalam banyak hal perkembangan pengalaman dan pengetahuan tradisional masyarakat tidak sempat mengejar perubahan-perubahan yang terjadi dan tidak lagi dapat memecahkan masalah-masalah yang berkembang. Namun sebaliknya, telah terbukti pula bahwa pengetahuan modern dan inovasi dari luar yang diperkenalkan oleh orang luar tidak juga memecahkan masalah mereka. Bahkan dalam banyak hal, malah menciptakan masalah yang lebih besar lagi. Karenanya pengetahuan masyarakat dan pengetahuan dari luar atau inovasi, harus dipilih secara arif dan atau saling melengkapi satu sama lainnya.
PEMBERDAYAAN MENUJU PETANI DAN NELAYAN KECIL MANDIRI
Konsep pemberdayaan masyarakat secara mendasar berarti menempatkan masyarakat beserta institusi-institusinya sebagai kekuatan dasar bagi pengembangan ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Menghidupkan kembali berbagai pranata ekonomi masyarakat untuk dihimpun dan diperkuat sehingga dapat berperan sebagai lokomotif bagi kemajuan ekonomi merupakan keharusan untuk dilakukan. Ekonomi rakyat akan terbangun bila hubungan sinergis dari berbagai pranata sosial dan ekonomi yang ada didalam masyarakat dikembangkan kearah terbentuknya jaringan ekonomi rakyat.  Petani saat ini berpikir seolah-olah jalan yang harus dilewati memang seperti ini. Petani berpikir seolah-olah inilah garis takdir yang harus dijalani.  Wajar jika petani pada umumnya berpikir seperti itu. Sebab petani sejak awal dikondisikan secara sistematis untuk tidak memiliki pilihan lain kecuali menerapkan pertanian berbasiskan bahan kimia. Ketika ketergantungan petani terhadap sistem pertanian berbasiskan bahan kimia sudah menjadi mutlak seperti sekarang ini, petani kita bagaikan orang yang lumpuh dan tidak berdaya.
Maka untuk bisa bangkit dan berdaya, petani harus berani menyadari bahwa dirinya selama ini dikondisikan untuk menjadi obyek yang bergantung dan dihisap oleh pihak dan kekuatan lain, yakni pemodal yang menguasai industri perbenihan, pupuk dan obat-obatan pertanian. Kesadaran ini diharapkan akan mendorong kaum tani untuk menyadri pentingnya membangun kemandirian kaum tani. Dan salah satu pilar yang menopang kemandirian petani adalah penguasaan dalam teknologi pertanian. Petani harus menguasai teknologi bagi pertanian yang dikerjakannya.
Petani harus bisa membuat benih sendiri. Petani harus bisa membuat pupuk dan obat-obatan sendiri yang cocok dengan kebutuhan pertanian yang berkelanjutan. Oleh karena itu sistem pertanian organik yang berbasis pada sumber daya (lokal) petani adalah jawaban yang relevan. Maka, untuk mengatasi ketergantungan dan kerusakan alam pertanian, tidak ada jalan lain, selain mengembangkan dan menerapkan sistem pertanian organik yang berbasis pada sumber daya (lokal) petani.
Pelajaran sebagai nelayan serta uasaha lain yang berkaitan dengan perikanan di sekitar daerah Jawa Tengah, selain di dukung oleh lingkungan alam juga oleh tradisi yang diwariskan oleh nenek moyangnya. Pola kerja dan kebbiasaan yang di lakukan sehubungan dengan kehidupan nelayan, masih dipengaruhi oleh cara yang dilakukan oleh orang-orang tua yang sebelumnya dan di terapkan pada kehidupan sekarang.kehidupan nelayan yang memanfaatkan laut sebagai sumber mata pencahariaan , sebagaian besar masih menggunakan teknologi tradisional dan asangat tergantung pada cuaca,arus laut dan gelombang. Dengan segala kemampuan dan kesulitannya yang di milikinya, agar  mereka selalu dapat mempertahanksn kelangsungan hidupnya.alam lingkungan yang dianggap memberikan kehidupan di manfaatkan dengan sebaik-baiknya, dengan membuat tambak dipinggir pantai. Kekayaan laut yang menghasilkan ikan hamper setiap hari merangsang penduduk sekitar untuk mengolah hasil laut sebaik-baiknya, sehingga timbul usaha di kalangan masyarakat dengan membuat ikan asin, pindang ikan, dan ikan panggang. Usaha ini memang sangat tepat dan sesuai dengan kondisi alamnya.
Dikalangan nelayan, Nampak adanya ketrgantungan satu sama lain yang terlihat dalam kegiatan gotong royong atau kebersamaan ini terwujud dalam kegiatan dilautan maupun di darat.pada waktu melaut dan menangkap ikan diperlukan kerja sama antaramjuru kemudi, jufru mesin dan seluruh anggota kapal lainnya. Di darat gotong royong dapat tetlihat bila ada warga terkena musibah.
Kemajuan suatu kelompok di tentukan oleh nilai budaya yang dapat membentuk etos kerja, tetapi  karena oleh kondisi lingkungan yang sangat berbahasa yang membuat kelompok itu mampu mengatasi segala hal.  Etos kerja yang di bentuk demikian dapat meningkatkan produksipara nelayan yang memberikan kesejahteraan.
Dalam rangka mencari solusi masalah ekonomi dan politik serta budaya yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini, semua pihak telah memberikan rambu-rambu untuk tidak terjebak membuat ‘bungkus baru namun isi lama’. Dari berbagai tawaran alternatif model pemberdayaan masyarakat, ‘model ekonomi kerakyatan’ secara teoritik telah berkembang menjadi wacana baru saat ini.
Paradigma pemberdayaan ekonomi rakyat sebenarnya bukan saja berupa tuntutan atas pembagian secara adil aset ekonomi, tetapi juga merupakan keniscayaan ideologis dengan semangat meruntuhkan dominasi-dominasi birokrasi dalam mengatur dan menentukan berbagai bidang kehidupan rakyat. (Sasono, 1999). Untuk itu, maka pemberdayaan ekonomi rakyat ( dalam penerapan untuk petani dan nelayan kecil) berarti menuju kepada terbentuknya kemandirian petani dan nelayan itu, yaitu berperilaku efisien, modern dan berdaya saing tinggi. Perilaku efisien artinya berpikir dan bertindak serta menggunakan sarana produksi secara tepat guna atau berdaya guna. Berperilaku modern artinya mengikuti dan terbuka terhadap perkembangan dan inovasi serta perubahan yang ada. Sedangkan berdaya saing tinggi yaitu mampu berpikir dan bertindak serta menggunakan sarana produksi atas dasar memperhatikan mutu hasil kerjanya dan kepuasan konsumen yang dilayaninya (Sumardjo, 1999).
Gagasan pemberdayaan ekonomi rakyat menurut Mahmudi (1999) adalah merupakan upaya mendorong dan melindungi tumbuh dan berkembangnya kekuatan ekonomi lokal dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) oleh masyarakat yang berbasiskan pada kekuatan rakyat. Muatan gagasan ini tidak saja dituntut untuk dapat mendayagunakan dan menghasilgunakan potensi sumber daya lokal untuk kepentingan kesejahteraan rakyat, tetapi juga terlindunginya hak-hak rakyat dalam pengelolaan sumberdaya lokal sesuai dengan kepentingan ekonomi dan sosialnya.
Strategi Pendekatan dalam pemberdayaan masyarakat menuju kemandirian petani dan nelayan kecil.
Beberapa pendekatan dan strategi dalam pemberdayaan masyarakat (Karsidi, 2001) menuju kemandirian petani dan nelayan kecil, dapat ditempuh dengan berbagai upaya sebagai berikut :
Memulai dengan tindakan mikro dan lokal. Proses pembelajaran rakyat harus dimulai dengan tindakan mikro dan lokal, namun memiliki konteks makro dan global. Dialog mikro–makro harus terus menerus menjadi bagian pembelajaran masyarakat agar berbagai pengalaman mikro dapat menjadi policy input dan policy reform sehingga memiliki dampak yang lebih luas. Petugas pemberdayaan/pendamping masyarakat tani dan nelayan kecil seyogyanya diberikan kebebasan untuk mengembangkan pendekatan dan cara yang sesuai dengan rumusan tuntutan kebutuhan setempat/lokal di wilayah tugasnya masing-masing.
Pengembangan sektor ekonomi strategis sesuai dengan kondisi lokal (daerah). Karena masing-masing daerah potensinya berbeda, maka kebijakan yang akan diberlakukan juga berbeda antar daerah. Pemberlakuan kebijakan secara seragam untuk semua daerah harus ditinggalkan.
Mengganti pendekatan kewilayahan administratif dengan pendekatan kawasan. Pemberdayaan masyarakat tidak mungkin didasarkan atas kewilayahan administratif. Pendekatan kewilayahan administratif adalah pendekatan birokrasi/kekuasaan. Pendekatan kawasan berarti lebih menekankan pada kesamaan dan perbedaan potensi yang dimiliki oleh suatu kawasan tertentu. Dengan pendekatan ini akan memungkinkan terjadinya pemberdayaan masyarakat dalam skala besar dan lebih lanjut akan memungkinkan terjadinya kerjasama antar kawasan yang lebih produktif.
Membangun kembali kelembagaan masyarakat. Peranserta masyarakat menjadi keniscayaan bagi semua upaya pemberdayaan masyarakat, jika tidak dibarengi munculnya kelembagaan sosial, ekonomi dan budaya yang benar-benar diciptakan oleh masyarakat sendiri. Misalnya lumbung desa dan organisasi lokal lainnya dipersilahkan tetap hidup.
Mengembangkan penguasaan pengetahuan teknis. Perlu dipahami bersama bahwa desakan modernisasi telah menggusur ilmu pengetahuan dan teknologi lokal dan menciptakan ketergantungan masyarakat lokal pada input luar serta hilangnya kepercayaan diri yang sangat serius. Temuan-temuan lokal oleh petani dan nelayan setempat harus mendapatkan pengakuan sejajar dan dipersilahkan bebas berkompetisi dengan inovasi baru dari luar. Pola penyuluhan yang bersifat sentralistik, topdown dan linier (Sumardjo, 1998) perlu diubah menjadi pendekatan yang lebih dialogis dan hadap masalah.
Pengembangan kesadaran pelaku ekonomi. Karena peristiwa ekonomi juga merupakan peristiwa politik atau lebih dikenal dengan politik ekonomi, maka tindakan yang hanya ber-orientasi memberikan bantuan teknis jelas tidak memadai. Pemberdayaan yang diperlukan adalah tindakan berbasis pada kesadaran masyarakat untuk membebaskan diri dari belenggu kekuatan ekonomi dan politik yang menghambat proses demokratisasi ekonomi. Komitmen para petugas pemberdayaan masyarakat dan lembaga-lembaga terkait pada pengembangan kemandirian petani dan nelayan kecil merupakan sesuatu yang sangat diperlukan.
Membangun jaringan ekonomi strategis. Jaringan strategis akan berfungsi untuk mengembangkan kerjasama dalam mengatasi keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki kelompok ekonomi satu dengan lainnya baik dalam bidang produksi, pemasaran, teknologi dan permodalan. Salah satu yang sudah waktunya dibangun adalah jaringan infrastruktur telekomunikasi dan sistim informasi pendukungnya yang memanfaatkan seperti internet untuk membuka pintu gerbang seluas-luasnya bagi petani dan nelayan atas informasi yang diperlukan bagi pengembangan usahanya ( setidanya memalui mediasi para petugas penyuluh/pendamping pemberdayaan masyarakat).
Kontrol kebijakan. Agar kebijakan pemerintah benar-benar mendukung upaya pemberdayaan masyarakat, maka kekuasaan pemerintah harus dikontrol. Sebagai contoh adalah keikutsertaan organisasi petani dan nelayan dalam proses pengambilan keputusan tentang kebijakan pertanian dan perikanan.
Dengan memperhatikan arah tantangan pertanian dan perikanan yaitu seharusnya dikembangkan ke arah agribisnis, maka perlu mendapat penekanan bahwa sasaran strategis pemberdayaan masyarakat bukanlah sekedar peningkatan pendapatan semata, melainkan juga sebagai upaya membangun basis-basis ekonomi yang bertumpu pada kebutuhan masyarakat dan sumberdaya lokal yang handal. Dalam kerangka tersebut, keberhasilan upaya pemberdayaan masyarakat tidak hanya dapat dilihat dari meningkatnya pendapatan masayarakat melainkan juga aspek-aspek penting dan mendasar lainnya.
Aspek- aspek  penting dalam pemberdayaan petani dan nelayan.
Beberapa aspek penting yang perlu mendapatkan perhatian dalam pemberdayaan masyarakat petani dan nelayan, antara lain :
Pengembangan organisasi/kelompok masyarakat yang dikembangkan dan berfungsi dalam mendinamisir kegiatan produktif masyarakat, misalnya berfungsinya HKTI, HNSI , dan organisasi lokal lainya .
Pengembangan jaringan strategis antar kelompok/organisasi masyarakat yang terbentuk dan berperan dalam pengembangan masyarakat tani dan nelayan, misalnya asosiasi dari organisasi petani dan nelayan, baik dalam skala nasional, wilayah, maupun lokal.
Kemampuan kelompok petani dan nelayan kecil dalam mengakses sumber-sumber luar yang dapat mendukung pengembangan mereka, baik dalam bidang informasi pasar, permodalan, serta teknologi dan manajemen, termasuk didalamnya kemampuan lobi ekonomi. Di sinilah maka perlunya ekonomi jaringan dipembangkan. Ekonomi jaringan adalah suatu perekonomian yang menghimpun para pelaku ekomomi, baik dari produsen, konsumen, service provider, equipment provider, cargo, dan sebagainya di dalam jaringan yang terhubung baik secara elektronik maupun melalui berbagai forum usaha yang aktif dan dinamis. Ekonomi jaringan ini harus didukung oleh jaringan telekomunikasi, jaringan pembiayaan, jaringan usaha dan perdagangan, jaringan advokasi usaha, jaringan saling belajar, serta jaringan lainnya seperti hasil temuan riset dan teknologi/inovasi baru, jaringan pasar, infomasi kebijakan dan pendukung lainnya yang dapat diakses oleh semua dan tidak dimonopoli oleh kelompok tertentu ( Sasono, 2000).
Pengembangan kemampuan-kemampuan teknis dan manajerial kelompok-kelompok masyarakat, sehingga berbagai masalah teknis dan organisasi dapat dipecahkan dengan baik. Di sini, selain masyarakat sasaran (petani dan nelayan), juga para petugas penyuluh/pendamping pemberdayaan masyarakat harus meningkatkan kompetensi diri sebagai petugas yang mampu memberdayakan , karena banyak diantara mereka justru ketinggalan kemampuannya dengan kelompok sasarannya.

DAFTAR PUSTAKA
Karsidi, Ravik. 2001.Paradigma Baru Penyuluhan Pembangunan dalam Pemberdayaan Masyarakat.
Dalam Pambudy dan A.K.Adhy (ed.): Pemberdayaan Sumberdaya Manusia Menuju Terwujudnya Masyarakat Madani, Bogor: Penerbit Pustaka Wirausaha Muda.
Korten, David C. 1984. Pembangunan yang Memihak Rakyat. Jakarta : Lembaga Studi Pembangunan.
Mahmudi, Ahmad. 1999. Prinsip-Prinsip Pemberdayaan Masyarakat. TOT P2KP oleh LPPSLH, Ambarawa, 27 Nopember 1999.
Baca SelengkapnyaCARA MENGEMBANGKAN NELAYAN KECIL

MENGEMBANGKAN BAWAL BINTANG UNTUK MENINGKATKAN PENDAOATAN

Bawal bintang adalah salah satu komoditas unggulan perikanan budidaya, yang berasal dari budidaya air laut. Selain Kakap Putih dan Kerapu, Bawal Bintang mampu memenuhi kebutuhan pasar yang masih terbuka luas. Terlebih kelebihan dari Bawal Bintang ini adalah masa budidaya yang lebih pendek, 6 bulan, dan juga dijual dalam kondisi mati, sehingga mempermudah penanganan pada saat panen.Bawal bintang (Trachinotus blochii, Lacepede) merupakan spesies buidaya perikanan laut yang terbilang masih baru di Indonesia. Meskipun demikian, permintaan terhadap ikan ini terus meningkat terutama dari pasar internasional. Selama ini budidaya ikan bawal  bintang di Indonesia, terutama tahap pembesarannya masih dilakukan di laut yaitu dengan sistem keramba jaring apung (KJA).
Pemenuhan kebutuhan pasar terhadap hasil perikanan di Indonesia sampai saat ini ternyata belum mencukupi permintaan konsumen, terutama permintaan ikan hasil budidaya laut.  Sejauh ini budidaya yang dikembangkan masih terbatas pada jenis kakap dan kerapu. Diversifikasi budidaya perikanan memberikan peluang untuk mengembangkan budidaya ikan jenis lain.  Salah satunya dengan mengembangkan  budidaya ikan bawal bintang (Trachinotus blochii, Lacepede).Ikan bawal bintang merupakan salah satu ikan konsumsi yang bernilai ekonomis. Ikan ini memiliki prospek pemasaran yang bagus di Indonesia dan kawasan Asia Pasifik.  Keunggulan ikan bawal bintang ini adalah mudah dibudidayakan, tidak memerlukan waktu yang lama dalam membesarkan hingga mencapai ukuran konsumsi, dan mempunyai harga yang relatif tinggi baik di pasar dalam negeri maupun luar negeri.
Kegiatan pembesaran pada keramba jaring apung persiapan perlu dilakukan secara maksimal guna memberikan hasil yang optimal. Untuk mengembangkan usaha bawal bintang perlu memperhatikan beberapa aspek salah satunya adalah aspek manajemen pakan, dengan memperhatikan aspek ini maka akan didapat suatu pakan yang baik sehingga tidak mengalami kerugian dalam segi pakan.
B.Tujuan
1. Untuk dapat mengenal cara budidaya di keramba jaring apung (KJA)
2. Agar dapat mengetahui cara budidaya terutama pada pembesaran ikan  bawal bintang di keramba jaring apung (KJA)
3. Sebagai metode pembelajaran taruna/i dalam bidang perikanan terutama  pada pembesaran ikan bawal bintang.

PEMBAHASAN
I. Tinjauan pustaka
Ø  Taksonomi dan morfologi ikan bawal bintang (Trachinotus blochii, Lacepede) :

Kingdom        : Animalia
Phylum        : Chordata
Subphylum    : Vertebrata
Class        : Acinoptergii
Ordo        : Perciformes
Family        : Carangidae
Genus        : Trachinotus
Spesies        : Trachinotus blochii (Lacepede, 1801)
Bawal bintang memiliki nama latin Trachinotus blochii, Lacepede. Pada saat dewasa ikan ini memiliki bentuk tubuh gepeng dan ramping (much compressed) dengan ekor bercagak (forked). Tubuh berwarna putih keperakan dibagian lateral, ventral dan abu-abu kehijauan pada bagian dorsal. Ikan ini dapat tumbuh dengan panjang mencapai 65 cm.
Bawal bintang memiliki posisi mulut sub terminal dan nisa dikatupsembulkan (protacted retacted), dengan dilengkapi gigi-gigi beludru halus (viliform teeth). Sirip punggung (dorsal fin) diawali jari-jari keras yang sedikit terbenam ke dalam tubuh sebanyak 7-9 dan di puncak punggung bermula jari-jari lemah yang memanjang hampir menyentuh ekor sebanyak 19-21. Sirip dubur (anal fin) dimulai dengan 2-3 jari-jari keras, tepat dibelakang urogenitalia dan disambung dengan 16-18 jari-jari lemah yang memanjang hingga pangkal ekor. Sirip perut (ventral fin) ada sepasang dan tepat dibawah sirip dada (pectoral fin) yang menyerupai bendera dan tumbuh tepat dibelakang keping tutup insang utama (operculum).  Permukaan tubuh ditutupi sisik-sisik kecil bertipe sisir (ctenoid), dilengkapi dengan gurat sisi (lateral fin) yang melengkung mengikuti profil punggung dan tersusun dari 130 – 140 keping sisik. Ikan bawal bintang tergolong ikan perenang aktif dan mampu hidup dengan tingkat kepadatan cukup tinggi. Pada saat berumur dibawah 10 hari, bentuknya lonjong, berwarna hitam dengan titik kuning (spot) pada bagian badan tertentu. Namun selanjutnya bentuk dan warna akan berubah secara berangsur-angsur menjadi putih menyerupai induknya.
Ø    Habitat asli
Ikan bawal bintang adalah ikan pelagis yang memiliki habitat di daerah terumbu karang, dekat pantai dan bebatuan di perairan tropis dari indo pasifik barat sampai pasifik tengah. Di Australia ikan bawal bintang ditemukan di barat daya Australia bagian barat dan sekitar bagian utara.  Populasi bawal bintang juga terdapat di Laut Merah, Afrika Barat sampai ke pulau Marshall dan samoa, Utara Jepang bagian selatan dan selatan Australia. Bawal bintang menghabiskan seluruh hidupnya di air laut murni. Bawal bintang memijah sepanjang tahun dan biasanya mengikuti fase bulan terutama bulan purnama. Pemijahan berlangsung malam hari bersamaan dengan datangnya air pasang. Telur bersifat planktonis, dapat terbawa arus dan menetas di padang lamun atau celah-celah akar bakau sebelum akhirnya kembali ke laut lepas atau dewasa di rerimbunan bungan karang.
Pada budidaya ikan bawal bintang, ikan ini tergolong ikan pelagis yang sangat aktif karena selalu bergerak (berputar) dipermukaan, sehingga dalam budidaya memerlukan lokasi/tempat yang memadai. Selain itu ikan bawal bintang mempunyai daya adaptasi yang cukup tinggi dan mudah dibudidayakan. Ikan bawal bintang banyak terdapat di daerah tropis maupun subtropis.  Parameter ekologis yang cocok untuk pertumbuhan ikan bawal bintang adalah :
Suhu  : 28 – 320C
Salinitas : 29 -32 ppt
DO  : 6,8-8,4 ppm
pH  : 7,8 – 8,0.
Ø    Pakan dan kebiasaan makan
Bawal bintang termasuk ikan pemakan segala (omnivora) mulai dar plankton terutama diatome dan alga hingga cacing merah, jentik nyamuk, maupun jenis udang-udangan kecil. Pada ikan dewasa dapat diberikan pakan rucah segar yang telah dicincang serta dapat juga diberikan pellet ikan. Dalam budidaya bawal bintang perlu dilakukan pemilahan ukuran karena tergolong ikan yang sangat aktif menerima pakan sehingga menyebabkan ikan yang ukurannya lebih kecil akan kalah saing dalam memperoleh pakan.  Namun ikan bawal bintang bukan termasuk ikan yang bersifat kanibal seperti ikan kakap putih dan kerapu.

II. Pelaksanaan
Untuk memudahkan kegiatan pembesaran ikan di karamba jaring apung perlu adanya suatu petunjuk baku tentang pengoperasian proses kerja yang akan dilakukan. Adapun tujuan dari petunjuk baku ini adalah untuk memastikan suatu proses kegiatan berjalan secara terkendali dan sistem pengendaliannya berjalan secara konsisten. Dengan adanya petunjuk baku atau dikenal sekarang dengan istilah Standar Prosedur Operasional (SPO), contoh SOP untuk pembesaran ikan bawal di KJA adalah sebagai berikut :
1. Persiapan
a. Persiapan wadah
Dalam mempersiapkan wadah (jaring atau waring), ada hal-hal yang perlu dilakukan yaitu pencucian jaring, pemasangan jaring dan pemasangan pemberat. Pencucian jaring dilakukan dengan menggunakan mesin semprot jaring. Adapun tujuan dari pencucian jaring yaitu untuk membersihkan jaring dari kotoran lumut atau lumpur yang menempel di jaring sehingga sirkulasi air maupun oksigen terhambat. Pemasangan jaring dilakukan di bingkai karamba kemudian ke empat sudutnya diikatkan pada tiang keramba dengan tali kencang agar tidak mudah lepas dan terbawa arus. Sesudah jaring terpasang, pada setiap sudut jaring juga dipasang pemberat dari batu pemberat. Tujuan dari pemasangan pemberat yaitu untuk menghindari jaring mudah terbawa arus air dan posisi jaring lebih kencang. Wadah yang digunakan pada proses pembesaran bawal bintang berupa karamba jaring apung dengan persyaratan sebagai berikut :
dan juga perlu memperhatikan lokasi peletakan karamba jaring apung tersebut :
1. Kedalaman perairan ideal untuk usaha pembenihan dan pembesaran ikan bawal bintang adalah 5 – 15 meter.
2. Tinggi gelombang yang disarankan untuk budidaya ikan bawal bintang tidak lebih dari 0.5 – 1.0 meter.
3. Lokasi lahan juga terlindung serta bebas dari erosi dan banjir akibat pasang naik maupun luapan sungai pada musim penghujan.
4. Lokasi yang jauh dari limbah buangan seperti limbah industri, pertanian dan rumah tangga.
b. Parameter kuliatas air
Persyaratan kualitas air yang ideal untuk budidaya pembesaran ikan bawal bintang adalah :
1. Kecepatan arus 20 - 40 cm/detik
2. Kecerahan perairan 2 - 10 mg/l (untuk partikel > 1 mikron) dan 2 - 3 mg/l (untuk partikel < 1 mikron)
3. Suhu optimal untuk pertumbuhan ikan bawal bintang adalah 28 - 32o C
4. Salinitas 29 - 32o C
5. Ikan bawal bintang akan sangat baik bila dipelihara pada air laut dengan PH 6.8 – 8.4
6. Konsentrasi oksigen terlarut 5.0 - 7.0 ppm.
2. Penebaran benih
Penebaran benih sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari. Aklimatisasi perlu dilakukan karena adanya perbedaan suhu  dan salinitas antara daerah asal benih atau media transportasi dengan kondisi air tempat pemeliharaan. Padat tebar yang dianjurkan adalah benih dengan ukuran 50 - 100 gram dengan kepadatan 100 - 150 ekor per m3. Namun demikian, Pemeliharaan dimulai dari benih berukuran 1 inchi (2,5 cm). atau dapat dilakukan peneberan benih dengan ukuran lain.
Proses aklimatisasi yang dilakukan dengan cara meletakan plastik ke dalam air dan dibiarkan selama 10 – 15 menit, kemudian plastik packing dibuka dan perlahan-lahan air dari laut dimasukan kedalam plastik, dan dibiarkan benih keluar dengan sendirinya.
3. Pemberian pakan
Jenis pakan yang diberikan adalah pakan buatan yaitu pellet pabrikan yang khusus untuk pakan ikan pompano (ikan bawal bintang), dengan ukuran pellet no. 3, 5, 7, dan 10. Kandungan nutrisi yang ada pada pellet yang diberikan dapat dilihat.
Untuk kebutuhan pakan harian ditentukan berdasarkan persentasi dari bobot ikan. Jumlah pakan harian ikan disesuaikan dengan pertambahan bobot ikan dan populasi ikan di dalam jaring. Semakin besar ukuran ikan, Feeding Rate (FR) semakin kecil, tetapi jumlah pakannya semakin besar.
4. pengendalian penyakit dan lingkungan
Penyakit sangat mempengaruhi laju pertumbuhan ikan bawal bintang, karena dapat menimbulkan gangguan suatu fungsi atau struktur dari organ tubuh baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga dapat mengakibatkan kerugian ekonomis atau hilangnya produksi. Penyakit terjadi antara adanya hubungan tiga faktor yaitu ikan, lingkungan dan biota. Penyakit ikan bisa disebabkan oleh bakteri, parasit dan virus. Oleh karena itu tindakan preventif sebaiknya dilakukan lebih awal, sedangkan tindakan pengobatan dilakukan ketika ikan sakit. Pengobatan dilakukan dengan cara perendaman, melalui makanan, penyuntikan. Adapun tindakan pencegahan yang dilakukan yaitu :
§  Menjaga dan mengontrol kualitas air dengan cara pergantian jaring dan pencucian jaring.
§  Pemberian makanan yang cukup baik jumlah maupun nutrisinya
§  Perendaman dengan air tawar. Tindakan pengobatan adalah langkah terakhir jika tindakan pencegahan tidak berhasil dan tidak efektif dilakukan.
5. Pemantauan Populasi dan Pertumbuhan Pemantauan populasi
Pemantauan Populasi dan Pertumbuhan Pemantauan populasi menghasilkan informasi kelangsungan hidup ikan sedangkan pemantauan bobot rata-rata akan menghasilkan informasi laju pertumbuhan dan kondisi kesehatan ikan. Pemantauan ikan dilakukan dengan cara sampling. Sampling adalah pengambilan sejumlah contoh ikan kemudian diukur panjang dan bobotnya. Berdasarkan sampling akan diketahui bobot biomassa ikan, laju pertumbuhan ikan dan FCR. Grading dilakukan setiap 2 minggu atau 3 minggu sekali pada ukuran ikan dibawah 50 gram, satu bulan sekali untuk ukuran ikan 50 gram dan 2 bulan sekali ukuran ikan diatas 200 gram.
6. Panen
Pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari karena pada saat tersebut suhu relatif rendah untuk mengurangi stress selama pemanenan. Panen merupakan tahapan akhir dari semua kegiatan yang telah dilakukan dalam budidaya ikan di KJA. Ukuran panen untuk ikan Bawal Bintang di KJA adalah 400 – 500 gram. Sebelum dilakukan pemanenan ikan bawal bintang tidak diberi pakan atau dipuasakan terlebih dahulu selama 12 - 48 jam. Adapun langkah langkah dalam pemanenan yaitu :
§   Melepaskan (membuka) pemberat disetiap sudut jaring
§   Tarik jaring perlahan-lahan dengan mengunakan kayu sebagai pembatas sehingga ikan terkumpul pada sudut/bagian
§   Perlahan-lahan ikan diserok dengan mengunakan serokan dan kemudian ditimbang bobotnya.

KESIMPULAN DAN SARAN
A.         Kesimpulan
Dari pembahasan materi tentang pembesaran ikan bawal bintang di karamba jaring apung (KJA) ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan dipersiapkan untuk memulai budidaya tersebut agar pada tahap atau proses pemeliharaan nantinya tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan. dan hasil budidaya dapat diterima seperti apa yang di harapkan. seperti untuk kualitas dan kuantitas ikan di inginkan agar tetap dapat memiliki nilai jual yang tinggi/besar terkhusus pada ikan bawal bintang pada proses pemasaran nantinya.
B.         Saran
pada proses pemeliharaan  sebagai orang akuakultur/budidaya tidak terlepas dari monitoring wadah budidaya, untuk memastikan pertumbuhan ikan tetap terkontrol.

LAMPIRAN
Adapun perlatann yang harus disiapkan pada proses pembesaran ikan di karamba jaring apung (KJA) adalah sebagai berikut :
ü    genset
ü    blower
ü    timbangan
ü    ember
ü    drum
ü    hapa
ü    scoop net/lambit,
ü    jaring
Baca SelengkapnyaMENGEMBANGKAN BAWAL BINTANG UNTUK MENINGKATKAN PENDAOATAN

JENIS IKAN KARANG BERMANFAAT

Latar Belakang
Ikan adalah anggota vertebrata poikilotermik (berdarah dingin) yang hidup di air dan bernafas dengan insang. Ikan merupakan kelompok vertebrata yang paling beraneka ragam dengan jumlahspesies lebih dari 27000 di seluruh dunia. Secara taksonomi,ikan tergolong kelompok paraphyletic yang hubungan kekerabatannya masih diperdebatkan,  biasanya ikan dibagi menjadi ikan tanpa rahang (kelas Agnatha, 75 spesies termasuk  lamprey dan ikanhag), serta ikan bertulang rawan (kelas Chondrichthyes, 800 spesies termasuk  hiu dan pari), dan sisanya tergolong ikan bertulang keras (kelas Osteichthyes). Ikan dapat ditemukan di
hampir semua “genangan” air yang berukuran besar baik air tawar, air payau maupun air asin pada kedalaman bervariasi, dari dekat permukaan hingga  beberapa ribu meter di bawah permukaan. Ikan merupakan salah satu fauna khas dari lahan basah. Perairan tawar, payau atau asin merupakan habitat bagi berbagai spesies ikan. Ikan karang merupakan ikan yang hidup, berkembang biak dan mencari makan di sekitar karang. Ikan karang pada umumnya berukuran kecil dan relatif tidak  berpindah-pindah dan sebagian besar merupakan ikan hias. Potensi ikan karang yang melimpah dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi serta merupakan komoditi ekspor mendorong eksploitasinya secara besar-besaran, yang dapat mengancam kelestariannya. Meskipun sumberdaya perikanan merupakan sumberdaya yang dapat pulih kembali namun sifatnya yang terbatas sehingga perlu pengelolaan secara bijaksana, terkendali dan terencana. Ikan merupakan vertebrata tertua dan pertama dan termasuk kelompok Chordata. Ikan merupakan hewan bertulang belakang yang tumbuh dan hidup di dalam air, berdarah dingin, mempunyai insang dan menggunakan sirip untuk berenang. Dari 13.500 jenis ikan yang menghuni laut terdapat sekitar 4.000 jenis ikan yang menempati perairan di sekitar terumbu karang. ikan tidak hanya terbatas pada pengertian ikan yang selama
II Ikan dan Terumbu Karang
Terumbu karang merupakan suatu ekosistem unik perairan tropis dengan tingkat produktifitas dan keanekaragaman biota yang sangat tinggi. Peranan biofisik ekosistem terumbu karang sangat beragam, diantaranya sebagai tempat tinggal, tempat berlindung, tempat mencari makan dan  berkembang biak bagi beragam biota laut, disamping berperan sebagai  penahan gelombang dan ombak serta sebagai penghasil sumberdaya hayati yang bernilai ekonomis tinggi. Ikan karang adalah salah satunya (Nontji, A. 1993). Terumbu karang mendukung keanekaragaman yang tinggi pada komunitas (gabungan dari beberapa populasi) ikan karang. Struktur komunitas dapat ditujukan pada struktur biologi dari suatu komunitas, yang meliputi komposisi jenis, kelimpahan, perubahan temporal dan hubungan antar spesies dalam suatu komunitas. Terminologi/definisi ikan karang dimaksudkan pada jenis-jenis ikan yang ditemukan pada terumbu karang sampai pada kedalaman 100 meter, walaupun mungkin juga terdapat di dalam habitat yang lainnya disebutkan oleh Lieske dan Myers dalam  publikasinya tahun 1994. Secara umum, ikan karang akan menyesuaikan pada lingkungannya. Setiap spesies memperlihatkan preferensii/kecocokan habitat yang tepat yang diatur oleh kombinasi faktor ketersediaan makanan , tempat  berlindung dan variasi parameter fisik. Sejumlah besar spesies ditemukan  pada terumbu karang adalah refleksi langsung dari besarnya kesempatan yang diberikan habitat (Allen dan Steene, 1996). Ikan akan memberikan respons terhadap struktur habitat, yang akan mempengaruhi distribusi dan kelimpahannya. Oman dan Rajasurya (1998) yang meneliti hal tersebut menyebutkan bahwa kompleksitas struktur, komposisi serta proporsi penutupan karang hidup memberikan korelasi  positif terhadap komunitas ikan karang (Nontji, A. 1993).
Secara umum, interaksi antara ikan karang dengan habitatnya meliputi tiga bentuk utama. Pertama, adanya hubungan langsung antara struktur terumbu dan tempat perlindungan. Hal ini akan terlihat jelas pada ikan-ikan yang kecil. Kedua, adanya interaksi pola makan yang melibatkan  beberapa ikan karang dan biota sesil, termasuk alga. Lebih jauh interaksi ini  penting bagi eksistensi karang yaitu penyedian substrat dasar. Ketiga, adanya suatu interaksi peran yang melibatkan struktur terumbu dan pola makan dari planktivora dan karnivora yan berasosiasi dengan terumbu (Nontji, A. 1993). Para ahli ikan karang , membagi laut tropis menjadi empat wilayah  persebaran ikan karang, wilayah tersebut adalah : 1) Indo-Pasific, 2) Pasifik  bagian timur, 3) Atlantik bagian barat dan 4) Atlantik bagian timur (Nontji, A. 1993).
III. Pengertian Ikan dan Ikan Karang
wilayah yang paling luas, terbentang dari pantai timur Afrika sampai Pulau Easter. Wilayah ini kaya akan terumbu karang dan memiliki keanekaragaman ikan karang yang tinggi. Diperkirakan terdapat sekitar 3000 spesies ikan karang di wilayah Indo-pasifik (Nybakken, J.W. 1988). Allen dan Adrim menjelaskan dalam penelitiannya bahwa kepulauan Indonesia sebagai bagian dari wilayah Indo-Pasifik memiliki 2057 spesies dalam 113 famili ikan karang atau 39% dari jumlah ikan karang dunia (Nybakken, J.W. 1988). Ikan merupakan vertebrata tertua dan pertama dan termasuk kelompok Chordata (Anonimous, 1988 dalam Institut Pertanian Bogor, 1997). Ikan merupakan hewan bertulang belakang yang tumbuh dan hidup di dalam air, berdarah dingin, mempunyai insang dan menggunakan sirip untuk  berenang. Dari 13.500 jenis ikan yang menghuni laut terdapat sekitar 4.000  jenis ikan yang menempati perairan di sekitar terumbu karang (Lieske and Myers, 1994 dalam Institut Pertanian Bogor, 1997).
Menurut definisi Food and Agriculture Organization (FAO), ikan tidak hanya terbatas pada pengertian ikan yang selama ini dipahami orang awam, yaitu ikan (finfish) yang bersirip dan bersisik serta dapat berenang dengan bebas di air. Definisi FAO mengenai ikan adalah organisme laut yag terdiri dari ikan (finfish), binatang berkulit keras (krustasea) seperti udang dan kepiting, moluska seperti cumi dan gurita, binatang air lainnya seperti  penyu dan paus, rumput laut, serta lamun laut. Definisi ini telah diadopsi sebagai definisi ikan dalam konteks perikanan di Indonesia (Nikijuluw, 2002 dalam Tiwow, 2003). Ikan karang merupakan sekumpulan ikan yang berada di daerah tropis dan kehidupannya berkaitan erat dengan terumbu karang (Sale, 1991 dalam Sadewo, 2006). Ikan-ikan tersebut memanfaatkan terumbu karang secara langsung maupun tidak langsung untuk kepentingan hidupnya. Menurut  Nybakken (1988), ikan karang merupakan organisme yang sering dijumpai di ekosistem terumbu karang. Keberadaan mereka telah menjadikan ekosistem terumbu karang sebagai ekosistem paling banyak dihuni biota air (Nybakken, J.W. 1988).
a. Klasifikasi Ikan Karang
Philum        : Chordata
Klas        : Osteichthyes
Ordo        : Perciformes
Famili        : contoh (Lutjanidae)
Genus        : Contoh (Lutjanus)
Spesies        : Contoh (Lujanus kasmira)

Pengelompokan Ikan Karang Berdasarkan Periode Aktif Mencari Makan
1 Ikan Nokturnal Ikan Nokturnal adalah jenis ikan yang aktif ketika malam hari, contohnya  pada ikan-ikan dariSuku Holocentridae (Swanggi), Suku Apogoninade (Beseng), Suku Hamulidae.Priacanthidae (Bigeyes), Muraenidae (Eels), Seranidae (Jewfish) danbeberapa dari suku dari Mullidae (goatfishes) dll
ikan karang akan memberi pengaruh terhadap keseluruhan ekosistem terumbu karang dan juga sebaliknya (Purwanti, D.R. 2004). Memahami tentang taraf trofik (terkait dengan tipe makanan) ikan karang adalah hal yang penting dalam mempelajari ikan karang. Perilaku makan pada ikan karang dapat dibagi dalam tiga bagian yaitu : herbivora,  planktivora, dan karnivora. Ketiga bagian ini mewakili kelompok utama dalam ikan karang (Purwanti, D.R. 2004). Ikan herbivora adalah kelompok yang paling tinggi penyebaran dan kelimpahannya di daerah terumbu karang. Ikan herbivora terdiri dari sekitar 76 spesies Siganidae, 25 spesies Scaridae, 79 spesies Pomacentridae dan sekitar 159 spesies yang bersifat omnivora-herbivora (Purwanti, D.R. 2004). Choat menyatakan bahwa ikan
ikan herbivora mempunyai tiga  peranan penting pada ekosistem terumbu karang. Pertama, sebagai konsumer dari produsen, herbivora merupakan penghubung antara aliran energi yang  berasal dari produsen ke konsumen tingkat 2 (karnivora). Kedua, mereka mempengaruhi penyebaran, ukuran, komposisi dan bahkan pertumbuhan dari tumbuhan di terumbu karang. Komposisi dan struktur dari tumbuhan yang berasosiasi dengan terumbu karang digambarkan melalui konteks aktivitas herbivori. Pemangsaan oleh ikan herbivora (
grazing
secara substansi mengubah alga yang ada di terumbu, dimana hal ini memberika  pengaruh positif maupun negatif pada karang. Ketiga, interaksi antara ikan
ikan herbivora merupakan alat dalam model demografi dan perilaku ikan karang secara keseluruhan (Purwanti, D.R. 2004). Hampir semua ikan karang merupakan planktivora pada masa larva dan juvenilnya, meskipun ada yang berganti tipe makanan pada masa dewasanya tergantung adaptasinya . Terumbu karang mempunyai ikan  planktivora yang aktif pada siang (diurnal) dan malam hari (nokturnal). Ikan yang aktif pada siang hari yaitu Serranidae, Chaetodontidae, Pomacentridae dan Balistidae, sedangkan yang aktif pada malam hari yaitu Holocentridae, Priacanthidae dan Apogonidae (Purwanti, D.R. 2004). Makanan utama ikan planktivora adalah krustasea kecil kelompok copepoda seperti calanoid dan cylopoid. Zooplankton ini berukuran terbesar
3 mm dan paling banyak pada ukuran <1 2004="" ada="" antara="" bahwa="" berasal="" besar.="" besar="" br="" d.r.="" dalam="" dan="" dari="" didapat="" dilalui="" dugaan="" energi="" hal="" ikan="" ini="" jalur="" jumlah="" karang="" ke="" kembali="" laut="" lepas.="" lepas="" memunculkan="" mengkonsumsi="" merupakan="" mm.="" nbsp="" oleh="" paling="" penghubung="" planktivor="" planktivora="" plankton="" proporsi="" sedikit="" tersebut="" terumbu="" tiga="" unsur="" untuk="" urwanti="" utama="" yang="" zooplankton="">unsur lain yang terdapat di terumbu karang. Pertama, planktivora kemungkinan dimangsa oleh  piscivora(pemakan ikan). Kedua, planktivora menghasilkan feses dalam  jumlah besar yang jatuh pada karang dan dikonsumsi oleh ikan lain juga herbivora dan detritivora. Dan cara yang ketiga adalah apabila ikan  planktivora mengalami kematian (Purwanti, D.R. 2004). Jenis karnivora di daerah terumbu karang lebih umum banyak ditemukan dibandingkan dengan jenis ikan herbivora dan planktivora. Ikan  jenis ini biasanya mengkonsumsi invertebrate bentik karang, seperti halnya crustacea (kepiting, udang, amphipod dan stomatopod), polychaeta maupun echinodermata (Purwanti, D.R. 2004). Ikan karnivora digolongkan menjadi 3 tipe karnivora, yaitu karnivora  pemakan ikan lainnya (piscivora), pemakan invertebrata dan pemakan zoobentos. Diantara tiga tipe karnivora tersebut, spesies yang spesialis memakan invertebrata dan zoo bentos terlihat lebih umum di banding  piscivora (Purwanti, D.R. 2004). Ikan karnivora mempunyai morfologi untuk makan yang bervariasi, mulai dari mulut kecil yang khusus seperti pada spesies Forceps Butterflyfish (Forcipiger spp) sampai struktur mulut yang besar seperti pada spesies Scorpionfish (Scorpaenidae), Kakap (Lutjanidae) dan Kerapu (Seranidae). Karnivora mempunyai peranan penting dalam siklus energi dimana hal tersebut terkait dengan struktur fisik terumbu, pola makan ikan dan siklus nutrient (Purwanti, D.R. 2004). Ikan karang dan berbagai biota lainnya bersama-sama menciptakan suatu keseimbangan dalam ekosistem terumbu karang. Menjamin keindahan di laut ini tetap terjaga untuk masa yang akan datang. Terutama dengan
semakin meningkatnya ancaman terhadap kelestarian ekosistem ini (Purwanti, D.R. 2004). Jenis ikan pada terumbu karang menyesuaikan diri dengan jaring makanan dalam beberapa cara sehingga ada suatu keseimbangan yang rumit dari banyak hubungan mangsa memangsa. Beberapa kelompok ikan tentu saja penting untuk ekosisten terumbu karang. Contohnya pada ikan family Chaetodontidae, memiliki makanan kegemarannya sendiri yaitu polyp karang, yaitu dengan jalan memperhatikan jumlah induvidu dan keragaman  jenisnya. Kelompok ini pada umumnya mencari makan dan tinggal di  permukaan karang dengan memakan plankton, alga, atau hewan yang lebih kecil yang terdapat baik di kolom air maupun di permukaan terumbu . Ikan-ikan diurnal ini merupakan sebagian besar darifamili ikan yang terdapat di ekosistem terumbu karang seperti Pomacentridae, Chaetodotidae, Pomachantidae, Acanthuridae, Labridae, Lutjanidae, Balistidae, Serranidae, Cirrithidae, Tetraodontidae, Bleiidae dan Gobiidae. Tipe kedua adalah
ikan nokturnal
(ikan yang aktif pada malam hari). Pada siang hari ikan-ikan ini jarang terlihat, karena umumnya berlindung dalam gua-gua atau celah-celah karang, famili yang termasuk kelompok ikan nokturnal adalah Holocentridae, Apogonidae, Haemulidae, Muraenidae, dan Scorpaenidae. Diantara ikan-ikan yang ditemukan di ekosistem terumbu karang, terdapat sebagian kecil kelompok ikan yang merupakan ikan-ikan yang sering melintasi ekosistem terumbu karang pada saat tertentu untuk mencari makan namun tidak menghabiskan seluruh daur hidupnya di ekosistem ini, ikan ini merupakan ikan dari Famili Scombridae, Sphyraenidae, dan Caesionidae. Sedangkan tipe terakhir adalah tipe abu-abu,
ikan Crespuscular (ikan yang aktif diantara pergantian siang ke malam atau malam ke siang). Beberapa famili yang masuk dalam kelompok ini adalah Carangidae, Barracuda, dan Scorpaenidae.
komunitas ikan karang kedalam dua kelompok yaitu :
1. Kelompok ikan yang terkadang terdapat pada terumbu karang seperti ikan dari famili
Scombridae dan Myctophidae
2. Kelompok ikan yang tergantung pada terumbu karang sebagai tempat mencari makan, tempat hidup atau kedua-duanya.Berdasarkan penyebaran hariannya, ikan-ikan karang dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu ikan yang aktif pada siang hari (diurnal) dan ikan yang aktif pada malam hari (nokturnal). Menurut Lowe dan McConel (1987) sebagian besar ikan karang bersifat diurnal serta ikan yang bersifat nokturnal biasanya merupakan ikan karnivora. Menurut Randall
et all. (1990), ikan-ikan diurnal umumnya ikan herbivora yang berwarna cerah yang pada malam hari  bersembunyi di celah-celah batu atau gua-gua kecil dekat permukaan karang serta ada yang membenamkan diri dalam pasir. Beberapa deskripsi famili ikan karang menurut Randall
et all. (1990)
yaitu:
1. Acanthuridae : dikenal sebagai surgeonfish, memakan alga dasar dan memiliki saluran pencernaan yang panjang; makanan utamanya adalah zooplankton
atau detritus.
Surgeonfishes mampu memotong ikan-ikan lain dengan duri tajam yang berada pada sirip ekornya.
2. Balistidae : golongan triggerfish, karnivora yang hidup soliter pada siang hari, memakan berbagai jenis invertebrata termasuk moluska yang bercangkang keras dan
echinodermata ; beberapa jenis juga memakan alga atau zooplankton
3. Blennidae : biasanya hidup pada lubang-lubang kecil di terumbu, sebagian besar spesies penggali dasar yang memakan campuran alga dan invertebrata; sebagian pemakan plankton, dan sebagian spesialis makan pada kulit atau sirip dari ikan-ikan besar, dengan meniru sebagai pembersih. 4.
Caesonidae : dikenal sebagai ekor kuning, pada siang hari sering ditemukan  pada gerombolan yang sedang makan zooplankton
pada pertengahan perairan diatas terumbu, sepanjang hamparan tubir dan puncak dalam gobah. Meskipun merupakan perenang aktif, mereka sering diam untuk menangkap
zooplankton dan biasanya berlindung di terumbu pada malam hari. 5.
Centriscidae: berenang dalam posisi tegak lurus dengan moncong kebawah; memakan zooplankton
yang kecil.
6.Chaetodontidae : disebut juga ikan butterfly, umumnya memiliki warna yang cemerlang, memakan tentakel atau polip karang, invertebrata kecil, telur-telur ikan lainnya, dan alga berfilamen, beberapa spesies juga pemakan plankton. 7.
Ephippidae : bentuk tubuh yang pipih, gepeng, mulutnya kecil, umumnya omnivora, memakan alga dan invertebrata kecil. 8.
Gobiidae : umumnya terdapat di perairan dangkal dan disekitar terumbu karang. Kebanyakan karnivora penggali dasar yang memakan invertebrate dasar yang kecil, sebagian juga merupakan pemakan plankton. Beberapa spesies memiliki hubungan simbiosis dengan invertebrata lain (misalnya :udang) dan sebagian dikenal memindahkan
ectoparasit
dari ikan-ikan lain.
9.Labridae : dikenal dengan wrasses, merupakan ikan ekonomis penting, memiliki bentuk, ukuran dan warna yang sangat berbeda. Kebanyakan spesies  penggali pasir, karnivora bagi invertebrata dasar; sebagian juga merupakan  pemakan plankton dan beberapa spesies kecil memindahkan
ectoparasit
dari ikan-ikan lain yang lebih besar.
10. Mullidae : dikenal dengan goatfish , memiliki sepasang sungut di dagunya, yang mengandung organ sensor kimia dan digunakan untuk memeriksa
 DAFTAR PUSTAKA
Kuiter, R. H. 1992 . Tropical reef-fishes of the Western Pasicific-Indonesia and adjacent Water. P.T. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Randall , J.E.,Steene R. J and R. Allen 1997 The complete divers and fishermens guide to Fishes of the Great Barrier Reef and Coral Sea, A CHP Production, Bathurst NSW 2795
Gerry Allen 1997, Marine Fishes of South East Asia, Periplus Edition Western
Australian Museum 6000
Lieske E. R. Myers 1997 Reef Fishes of the World, C.V Java book Jakarta 14240
Baca SelengkapnyaJENIS IKAN KARANG BERMANFAAT

MENGENAL ALAT TANGKAP PERIKANAN GILLNET

1. PENDAHULUAN
Gillnet disebut juga jaring insang karena alat tangkap ini dibuat dan dirancang secara khusus agar Ikan yang kita tangkap terkena melalui insang ikan makanya alat tangkap gilnet ini sama dengan alat tangkap yang sifatnya menjerat ikan melalui insang. Alat tangkap Gillnet ini banyak digunakan oleh para nelayan Tradisional maupun nelayan modern dikarenakan alat ini sangat praktis untuk menangkap ikan juga ramah terhadap lingkungan.
Alat tangkap Gillnet ini tersebar di seluruh indonesia bahkan diseluruh dunia menggunakannya. Yang membedakan dalam operasi alat tangkap ini hanyalah besarnya mata jaring yang dapat disesuaikan dengan jenis ikan yang akan kita tangkap.
Istilah “gill net” didasarkan pada pemikiran bahwa ikan-ikan yang tertangkap “gilled-terjerat” pada sekitar operculum nya pada mata jaring. Sedangkan “gill net dasar” atau “bottom gill net” adalah jaring insang, jaring rahang yang cara operasinya ataupun kedudukan jaring pada fishing ground direntangkan pada dasar laut, yang demikian berarti jenis-jenis ikan yang menjadi tujuan penangkapan ialah ikan-ikan dasar (bottom fish) ataupun ikan-ikan damersal, dengan bahan jaring terbuat dari multi fibre.
1. Sejarah Alat Tangkap
Dalam bahasa Jepang gill net disebut dengan istilah “sasi ami”, yang berdasarkan pemikiran bahwa tertangkapnya ikan-ikan pada gill net ialah dengan proses bahwa ikan-ikan tersebut “menusukkan diri-sasu” pada “jaring-ami”. Di Indonesia penamaan gill net ini beraneka ragam, ada yang menyebutkan nya berdasarkan jenis ikan yang tertangkap (jaring kuro, jaring udang dsb nya), ada pula yang disertai dengan nama tempat (jaring udang Bayeman), dan lain sebagainya. Tertangkapnya ikan ikan-ikan dengan gill net ialah dengan cara bahwa ikan-ikan tersebut terjerat (gilled) pada mata jaring atupun terbelit-belit (entangled) pada tubuh jaring.
1. Prospektif Alat Tangkap
Prospektif gill net dasar atau bottom gill net di Indonesia sangat baik, hal ini dikarenakan secara kuantitatif, jumlahnya cukup besar di Indonesia. Hal-hal yang mempengaruhi besarnya bottom gill net secara kuantitatif di Indonesia :
1. Bahan dasar (material) pembuatan bottom gill net mudah diperoleh
2. Proses pembuatan bottom gill net mudah
3. Harganya relatif murah
4. Fishing method dari bottom gill net mudah
5. Biaya relatif murah sehingga dapat dimilliki oleh siapa saja
A. KONSTRUKSI ALAT TANGKAP ( BOTTOM GILL NET )
1. KONSTRUKSI UMUM
Pada umumnya yang disebutkan dengan gill net dasar ialah jaring dengan bentuk empat persegi panjang, mempunyai mata jaring yang sama ukurannya pada seluruh jaring, lebar jaring lebih pendek jika dibandingkan dengan panjangnya, dengan perkataan lain, jumlah mesh depth lebih sedikit jika dibandingkan dengan jumlah mesh size pada arah panjang jaring.
Pada lembaran-lembaran jaring, pada bagian atas dilekatkan pelampung (float) dan pada bagian bawah dilekatkan peemberat (sinker). Dengan menggunakan dua gaya yang berlawanan arah, yaitu bouyancy dari float yang bergerak menuju keatas dan sinking force dari sinker ditambah dengan berat jaring didalam air yang bergerak menuju kebawah, maka jaring akan terentang.
2. DETAIL KONSTRUKSI
Pada kedua ujung jaring diikatkan jangkar, yang dengan demikian letak jaring akan telah tertentu. Karena jaring ini direntang pada dasar laut, maka dinamakan bottom gill net, yang demikian berarti jenis-jenis ikan yang menjadi tujuan penangkapan ialah ikan-ikan dasar (bottom fish) ataupun ikan-ikan damersal. Posisi jaring dapat diperkirakan pada float berbendera atau bertanda yang dilekatkan pada kedua belah pihak ujung jaring, tetapi tidaklah dapat diketahui keadaan baik buruknya rentangan jaring itu sendiri.
3. KARAKTERISTIK
Set bottom gill net direntang pada dasar laut, sehingga yang menjadi tujuan penangkapan adalah ikan-ikan damersal.
Bottom gill net berbentuk empat persegi panjang yang dilengkapi dengan pelampung, pemberat, ris atas dan ris bawah serta dilengkapi dengan jangkar.
Besarnya mata jaring bervariasi tergantung sasaran yang akan ditangkap baik udang maupun ikan.
Jaring gill net direntangkan pada float berbendera yang diletakkan pada kedua belah pihak ujung jaring tetapi tidak dapat diketahui keadaan baik buruknya rentangan itu sendiri.
5. BAHAN DAN SPESIFIKASINYA
Pengenalan bahan jaring sintetis dengan mutu yang tinggi telah merangsang perkembangan pemakaian alat ini. Hal ini disebabkan efisiensi penangkapan yang jauh lebih baik yakni 2-13 kali lebih tinggi pada PA monofillament yang transparant (jernih) dibanding dengan bahan serat alami (kapas, rami, rami halus).
1. Persyaratan
Persyaratan efisiensi penangkapan yang baik memerlukan rendahnya daya rangsang alat untuk organ penglihatan atau organ lateral line sebelum ikan terkait atau terjerat dalam jaring gill net harus disesuaikan dengan kebiasaan hidup ikan melebihi trawl dan purse seine.
Bahan dari gill net harus mempunyai daya tampak sekecil mungkin dalam air, terutama sekali untuk penangkapan di siang hari pada air jernih. Serat jaring juga harus sehalus dan selunak mungkin untuk mengurangi daya penginderaan dengan organ side line. Serat jaring yang lebih tipis juga kurang terlihat. Sebaliknya bahan harus cukup kuat untuk menahan rontaan ikan yaang tertangkap dan dalam upayanya untuk membebaskan diri. Lebih lanjut diperlukan kemuluran dan elastisitas yang tepat untuk menahan ikan yang terjerat atau terpuntal sewaktu alat dalam air atau sewaktu penarikan keatas kapal tetapi tidak menyulitkan sewaktu ikan itu diambil dari jaring. Bahan yang daya mulurnya tinggi untuk beban kecil tidak sesuai untuk gull net karena ukuran ikan yang terjerat pada insang tergantung pada ukuran mata jaring. Jaring perlu memiliki kekuatan simpul yang stabil dan ukuran mata jaring tidak boleh dipengaruhi air.
2. Macam dan Ukuran benang
PA continous filament adalah bahan yang paling lunak dari semua bahan sintetis dalam kondisi basah, warna putih mengkilat yang alami adalah jauh lebih terlihat dalam air jernih. Warna hijau, biru, abu-abu dan kecoklatan merupakan warna-warna yang nampak digunakan paling umum pada perikanan komersial.
Sebab banyaknya macam dari gill net sesuai dengan ukuran, ukuran mata jaring, jenis ikan, pola operasi, kondisi penangkapan, dll tidak mungkin memberi rekomendasi yang menyeluruh untuk seleksi bahan jaring. Semua nilai R tex adalah nominal dan berkenaan dengan netting yarn yang belum diselup dan belum diolah.
3. Warna Jaring
Warna jaring yang dimaksudkan disini adalah terutama dari webbing. Warna float, ropes, sinkers dan lain-lain diabaikan, mengingat bahwa bagian terbesar dari gill net adalah webbing. Pada synthetic fibres, net preservation dalam bentuk pencelupan telah tidak diperlukan, kemudian pula warna dari twine dapat dibuat sekehendak hati, yang dengan demikian kemungkinan mengusahakan warna jaring untuk memperbesar fishing ability ataupun catch akan dapat lebih diusahakan. Dengan perkataan lain, warna jaring yang sesuai untuk tujuan menangkap jenis-jenis ikan yang menjadi tujuan dapat diusahakan. Warna jaring dalam air akan dipengaruhi oleh faktor-faktor depth dari perairan, transparancy, sinar matahari, sinar bulan dan lain-lain faktor, dan pula sesuatu warna akan mempunyai perbedaan derajat “terlihat” oleh ikan –ikan yang berbeda-beda. Karena tertangkapnya ikan-ikan pada gill net ini ialah dengan cara gilled dan entangled, yang kedua-duanya ini barulah akan terjadi jika ikan tersebut menubruk atau menerobos jaring, maka hendaklah diusahakan bahwa efek jaring sebagai penghadang, sekecil mungkin.
A. HASIL TANGKAPAN
Karena jaring ini direntang pada dasar laut, yang demikian berarti jenis-jenis ikan yang menjadi tujuan penangkapan ialah ikan-ikan dasar (bottom fish) ataupun ikan-ikan damersal. Jenis-jenis ikan seperti cucut, tuna, yang mempunyai tubuh sangat besar sehingga tak mungkin terjerat pada mata jaring ataupun ikan-ikan seperti flat fish yang mempunyai tubuh gepeng lebar, yang bentuk tubuhnya sukar terjerat pada mata jaring, ikan-ikan seperti ini akan tertangkap dengan cara terbelit-belit (entangled). Jenis ikan yang tertangkap berbagai jenis, misalnya herring, cod, halibut, mackerel, yellow tail, sea bream, tongkol, cakalang, kwe, layar, selar, dan lain sebagainya. Jenis-jenis udang, lobster juga menjadi tujuan penangkapan jaring ini.
B. DAERAH PENANGKAPAN
Pada umumnya yang menjadi fishing ground atau daerah penangkapan adalah daerah pantai, teluk, dan muara-muara yang mengakibatkan pula jenis ikan yang tertangkap berbagai jenis.
C. ALAT BANTU PENANGKAPAN
Alat bantu penangkapan merupakan faktor penting untuk mengumpulkan ikan pada suatu tempat yang kemudian dilakukan operasi penangkapan. Alat bantu yang digunakan dalam operasi penangkapan ikan dengan menggunakan bottom gill net adalah :
* LAMPU / LIGHT FISHING
Kegunaan lampu untuk alat penangkapan adalah untuk mengumpulkan kawanan ikan kemudian melakukan operasi penangkapan dengan menggunakan gill net. Jenis-jenis lampu yang digunakan bermacam-macam antara lain :
Ancor / obor
Lampu petromak / starmking
Lampu listrk ( penggunaannya masih terbetas )
Faktor yang paling berpengaruh dalam penggunaan lampu adalah kekuatan cahaya lampu yang digunakan, selain itu juga ada beberapa faktor lain :
Kecerahan : Jika kecerahan kecil, berarti banyak partikel-partikel dalam air maka pembiasan cahaya terserap dan akhirnya tidak menarik perhatian dari ikan yang ada disekitarnya. Jadi kecerahan menentukan kekuatan lampu.
Gelombang, angin, arus : Akan mempengaruhi kedudukan lampu. Adanya faktor-fakttor itu menyebabkan kondisi sinar yang semula lurus menjadi bengkok.
Sinar bulan : Pada waktu bulan purnama sukar sekali mengadakan penangkapan menggunakan lampu karena cahaya terbagi rata, sadangkan penangkapan menggunakan lampu diperlukan keadaan gelap agar cahaya lampu terbias sempurna dalam air.
* PAYAOS
Payaos merupakan rumpon laut dalam yang berperan dalam pengumpulan ikan pada tempat tertentu dan dilakukan operasi penangkapan. Payaos pelampungnya terdiri dari 60-100 batang bambu yang disusun dan diikat menjadi satu sehingga membentuk rakit (raft), selain dari bambu pelampung juga terbuat dari alumunium. Tali pemberat (tali yang menghubungkan antara pelampung dan pemberat) mencapai 1000-1500 m, terbuat dari puntalan rotan, bahan syntetik seperti polyethylene, nylon, polyester, polypropylene. Sedangkan pemberat berkisar 1000-3500 kg yang terbuat dari batu dimasukkan dalam keranjang rotan dan cor-coran semen. Dan untuk rumbai-rumbainya digunakan daun nyiur dan bekas tali polyethylene dan ban bekas.
D. TEKNIK OPERASI
Setting
Pada saat melakukan setting, kapal diarahkan ke tengah kemudian dilakukan pemasangan jaring bottom gill net oleh Anak Buah Kapal (ABK). Jaring bottom gill net dipasang tegak lurus terhadap arus sehingga nantinya
akan dapat menghadang gerombolan ikan yang sebelumnya telah dipasangi rumpon, dan gerombolan ikan tertarik lalu mengumpul di sekitar rumpon maupun light fishing dan akhirnya tertangkap karena terjerat pada bagian operculum (penutup insang) atau dengan cara terpuntal.
Holling
Setelah dilakukan setting dan ikan yang telah terkumpul dirasa sudah cukup banyak, maka dilakukan holling dengan menarik jaring bottom gill net dari dasar perairan ke permukaan ( jaring ditarik keatas kapal ). Setelah semua hasil tangkap dan jaring ditarik ke atas kemudian baru dilakukan kegiatan penyortiran.
E. HAL – YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN PENANGKAPAN
FAKTOR LUAR :~
1. Keadaan Musim ( cuaca )
Karena fishing ground atau daerah penangkapan merupakan daerah teluk, sehingga baik buruknya musim atau cuaca akan mempengaruhi keberhasilan suatu penangkapan.
2. Keberadaan Resources (sumberdaya ikan)
Makin banyak jumlah unit dari suatu alat tangkap, maka akan tejadi over fishing sehingga keberadaan resources akan terancam. Hal ini akan mengurangi jumlah penagkapan di suatu daerah penangkapan. Untuk mengatasinya maka dilakukan pembatasan ukuran mesh size gill net itu sendiri.
3. Teknik Penangkapan
Apabila salah dalam pengoperasian alat tangkap maka akan didapatkan hasil tangkapan (catch) yang minimum.
4. Market (Pemasaran)
Pemasaran atau market ke daerah konsumsi atau tujuan juga mempengaruhi keberhasilan suatu penangkapan.
FAKTOR DALAM :
1. Bahan Jaring
Supaya ikan mudah dapat terjerat pada mata jaring, maka bahan jaring harus dibuat sebaik mungkin. Bahan atau twine yang paling banyak digunakan adalah yang terbuat dari syntetis. Twine yang dipergunakan hendaklah “lembut tidak kaku, pliancy, suppleness”. Dengan demikian maka twine yang digunakan adalah cotton, hennep, linen, amylan, nylon, kremona, dan lain-lain sebagainya, dimana twine ini mempunyai fibres
yang lembut. Bahan-bahan dari manila hennep, sisal, jerami dan lain-lain yang fibres-nya keras tidak digunakan. Untuk mendapatkan twine yang lembut, ditempuh cara yang antara lain dengan memperkecil diameter twine ataupun jumlah pilin per-satuan panjang dikurangi, ataupun bahan-bahan celup pemberi warna ditiadakan.
2. Ketegangan rentangan tubuh jaring
Yang dimaksud rentangan disini ialah baik rentangan ke arah lebar demikian pula rentangan ke arah panjang. Ketegangan rentangan ini, akan mengakibatkan terjadinya tension baik pada float line ataupun pada tubuh jaring. Dengan perkataan lain, jika jaring direntang terlalu tegang maka ikan akan sukar terjerat, dan ikan yang telah terjeratpun akan mudah lepas. Ketegangan rentangan tubuh jaring akan ditentukan terutama oleh bouyancy dari float, berat tubuh jaring, tali temali, sinking force dari sinker dan juga shortening yang digunakan.
3. Shortening atau shrinkage
Supaya ikan-ikan mudah terjerat (gilled) pada mata jaring dan juga supaya ikan-ikan tersebut setelah sekali terjerat pada jaring tidak akan mudah terlepas, maka pada jaring perlulah diberikan shortening yang cukup.
4. Tinggi Jaring
Yang dimaksud dengan istilah tinggi jaring disini ialah jarak antara float line ke sinker line pada saat jaring tersebut terpasang di perairan. Jenis jaring yang tertangkapnya ikan secara gilled, lebih lebar jika dibandingkan dengan jaring yang tertangkapnya ikan secara entangled. Hal ini tergantung pada swimming layer dari pada jenis-jenis ikan yang menjadi tujuan penangkapan.
5. Mesh size
Dari percobaan-percobaan terdapat kecenderungan bahwa sesuatu mesh size mempunyai sifat untuk menjerat ikan hanya pada ikan-ikan yang besarnya tertentu batas-batasnya. Dengan perkataan lain, gill net akan bersikap selektif terhadap besar ukuran dari catch yang diperoleh. Oleh sebab itu untuk mendapatkan catch yang besar jumlahnya pada pada suatu fishing ground, hendaklah mesh size disesuaikan besarnya dengan besar badan ikan yang jumlahnya terbanyak pada fishing ground tersebut.
SUMBER BACAAN / DAFTAR PUSTAKA
Ayodhyoa,A.U. Fishing Methods. Bagian Penangkapan Ikan , Fakultas Perikanan IPB. Bogor. 1975.
Ayodhyoa,A.U. Metode Penangkapan Ikan. Fakiltas Perikanan IPB. Bogor. 1974.
FAO Catalogue of Small Scale Fishing Gear. Published by arrangement with the Food and Agriculture Organization of the United Nations by Fishing New .
Fisherman’s Manual. Published by World Fishing. London. 1976.
Klust,Gerhard. Bahan Jaring Untuk Alat Penangkap Ikan. Team Penerjemah BPPI Semarang. Balai Pengembangan Penangkapan Ikan. Semarang. 1987.
Nomura,Masatsune dan Tomeyoshi Yamazaki. Fishing Techniques (1). Japan International Cooperation Agency. Tokyo. 1977
Baca SelengkapnyaMENGENAL ALAT TANGKAP PERIKANAN GILLNET