Pages

CARA PENGOLAHAN IKAN TUNA MENJADI TAHU TUNA YANG NIKMAT

Ikan tuna yang digunakan sebagai bahan baku pengolahan tuna kaleng harusmemenuhi persyaratan dalam SNI 01-2712.1-1992, yaitu (Eko, H.R dan TeukuMuamar, 2007):1.
Ikan yang digunakan segar atau beku, utuh atau tanpa isi perut. 2.
Bahan baku berasal dari perairan yang tidak tercemar 3.
Bahan baku harus bersih, bebas dari setiap bau yang menandakanpembusukan, bebas dari tanda dekomposisi dan pemalsuan, bebas dari sifatalami lain yang dapat menurunkan mutu serta tidak membahayakankesehatan.
Berdasarkan medium jenis medium yang digunakan, produk tuna kaleng dibedakanatas produk tuna in oil dan tunain water/brine (Eko, H.R dan Teuku Muamar, 2007).
Berikut ini adalah proses pengalengan ikan tuna (Eko, H.R dan Teuku Muamar,2007):
1.. Penerimaan bahan baku
Pada tahap pemeriksaan bahan baku diambil 5% untuk dilakukan pengujianterhadap suhu, kadar histamin, kadar garam dan organoleptik. Selain itu,dilakukan pengujian honeycomb, brosis dan parasit dengan menggunakantest pack pada 2 ekor ikan tuna.Bahan baku yang dipindahkan dari mobil pengangkut ke cold storage tidakboleh lebih dari 3 jam. Penyimapanan bahan baku dalam cold storage padasuhu -18 C dan lama penyimpanan maksimal 3 bulan. Sebelum diolah ikantunah harus melalui proses pelelehan terlebih dahulu.
2. Penyiangan Proses ini diawali dengan pemotongan tuna menjadi 7-8 bagian yang terbagimenjadi 4 atau 5 bagian tengah, 1 bagian leher, 1 bagian kepala, dan 1bagian ekor. Kemudian proses dilanjutkan dengan pengambilan isi perut daninsang. Limbah dari proses penyiangan ini biasanya dimanfaatkan menjaditepung ikan. 
3. Penyusunan dalam rak Penyusunan bagian-bagian tuna dalam rak dipisahkan berdasarkan bagianbadan, ekor, dan kepala. Pemisahan ini dilakukan karena setiap bagian ikanmemiliki waktu pemasakan pendahuluan ( precooking) yang berbeda.
4. Pemasakan pendahuluan (precooking)
Tujuan dari pemasakan pendahuluan ini adalah untuk memudahkan prosespembersihan daging ikan, mengurangi kandungan air, lemak dan membuatdaging ikan menjadi lebih kompak. Proses pemasakan dilakukan di dalam cooker dengan mengalirkan uap panas. Pengaliran uap panas dihentikanapabila telah mencapai suhu 100 C. Setelah diberi uap panas dilakukanpenyemprotan dengan air agar tekstur menjadi kompak
Bahan-bahan Tahu Tuna
• 1000 potong tahu                           
• 7 kg ikan tuna segar
• 4 kg tepung kanji
Bumbu-bumbu
•  0,5 kg bawang putih
•  2 ons Merica
•  2 Bungkus garam
•  3 plastik es
Cara pengolahan :
1. Penyiangan
Penyiangan dilakukan segera mungkin yaitu dengan cara membuang kepala dan isi perut sebelum daging dipisahkan. Penyiangan dilakukan secara cepat, cermat dan saniter sehingga tidak menyebabkan pencemaran pada tahap berikutnya. Ikan harus disiangi segera mungkin setelah ikan mati karena apabila darahnya mulai beku, maka daging akan mengalami diskolorisasi (perubahan warna) sehingga akan mempengaruhi warna produk akhir. Perubahan warna banyak disebabkan karena perubahan zat warna darah dan zat warna lain. Hemoglobin dan myoglobin yang mula-mula berwarna cerah akan berubah menjadi merah kecoklatan atau coklat karena terbentuknya methemoglobin.
2. Pencucian
Ikan dicuci dengan secara hati-hati, cepat, cermat dan saniter dengan menggunakan air dingin bersih yang mengalir.
3. Pemfilletan dan Pengambilan daging
Ikan yang telah disiangi dan dicuci kemudian di fillet yaitu mengambil dan memisahkan  daging dari kulit dan tulang ikan. Pemfilletan ini dilakukan dengan cara ikan diletakkan di atas talenam, kemudian disayat memanjang dengan pisau pada ekor hingga ke arah kepala.
Selama proses, bahan baku ditangani secara hati-hati, cepat, cermat dan saniter dan tetap mempertahankan suhu ikan maksimal 5˚C. Daging ikan yang masih menempel di tulang  diambil (dikerok) menggunakan sendok. Proses ini dapat dilakukan menggunakan mesin  maupun secara manual. Daging fillet harus tetap dipertahankan suhunya dengan selalu  menambahkan es. Cara yang paling mudah untuk mendinginkan  ikan adalah dengan menggunakan es. Es mendinginkan dengan cepat tanpa banyak  mempengaruhi keadaan ikan, serta biayanya murah. Pada prinsipnya, es harus dicampurkan   dengan ikan sedemikian rupa sehingga permukaan ikan bersinggungan dengan es, maka pendinginan ikan akan berlangsung lebih cepat sehingga pembusukan dapat segera dihambat.
4. Penghancuran daging/Penggilingan
Daging ikan dihancurkan dengan menggunakan alat penghancur. Proses dilakukan secara cepat, cermat dan saniter serta tetap mempertahankan suhu 00C- 50C. Penggilingan daging ikan dilakukan dengan menggunakan mesin penggiling yang umummya disebut alat penghancur (grinder) selama kurang lebih 5 menit hingga daging ikan hancur dan halus. Penggilingan yang terlalu lama akan menyebabkan tekstur daging ikan lembek sehingga produk yang dihasilkan tidak dapat dibentuk atau dicetak.
5. Pencucian daging
Proses pencucian meliputi pencucian daging ikan yang dilumatkan dengan air es (air dingin). Dan diberi garam ( ± 0,3 %). Perbandingan ikan dengan air dingin 1: 3 dan perendaman dilakukan selama 15 menit sambil diaduk-aduk. Tujuan dari pencucian ini adalah untuk memperbaiki warna daging. Hasil pencucian daging menjadi membentuk gel (kenyal), proses pencucian ini akan dapat memperbaiki gel dan juga memperbaiki warna daging. Pencucian akan menghilangkan kandungan protein sakroplasma yang dapat larut dalam air yang tidak bisa membentuk gel, enzim protease, darah atau warna yang dapat merusak penangkapan lemak komponen utama yang menyebabkan oksidasi lemak dan denaturasi protein.
Selama pencucian daging ikan dibersihkan dari darah, lemak, lendir dan protein yang larut dalam air, dengan cara ini warna dan bau daging menjadi lebih baik disamping kandungannya aktomiosinnya meningkat yang dibuat dengan proses pencucian sehingga secara nyata dapat memperbaiki sifat elastisitas produk. Pencucian dengan air es merupakan tahap yang paling penting dalam pembuatan surimi, karena dalam proses pencucian ini komponen nitrogen terlarut, darah dan juga lemak yang ada pada daging lumat akan terbuang, sedangkan protein myofibliar menjadi pekat, sehingga kemampuan membentuk gel meningkat.
Air yang digunakan untuk pencucian haruslah air dingin. Pencucian dengan air kran dapat merusak tekstur dan mempercepat degradasi lemak, sedangkan pencucian dengan air laut dapat meningkatkan kehilangan protein. Pencucian berulang dilakukan dengan penambahan hancuran es pada saat pencucian agar suhu tetap stabil sekitar 10 oC
Gel berbentuk rekat hasil pencucian mengubah daging bewarna putih, tidak berbau, tidak berlemak dan kenyal, adanya asam amino actin dan myosin yang banyak terkandung dalam protein daging ikan. Apabila protein daging ikan yang sedang dilumatkan ditambah dengan garam (NaCl), maka actin dan myosin ini akan terekstrak dalam bentuk actomyosin yang teksturnya seperti jala. Masa ini disebutsol, yang sifatnya lengket dan adesing, apabila masa sol ini dipanaskan maka akan terbentuk gel, yang memberikan elastisitas.
6. Pencampuran/Pengadonan
Hancuran daging dimasukkan kedalam alat pencampur, ditambahkan garam .dan dicampur hingga didapatkan adonan yang lengket. Selanjutnya dilakukan penambahan bumbu lainnya, dicampur sampai homogen. Adapun bumbu yang dicampurkan ke dalam daging ikan sebagai berikut : garam, tepung tapioka, air es, minyak sayur, gula, bawang putih. Proses ini harus dilakukan dengan cepat dan bersih dan suhu adonan dipertahankan sampai 50C. Cara pencampuran adonan.
7. Pengisian adonan
Tahu yang sudah digoreng dilubangi tengahnya kemudian diisi dengan adonan daging tuna.
8. Perebusan atau pemasakan
Tahu tuna direbus menggunakan panci stainless steel pada suhu 100˚C selama 10 menit.
9. Penirisan
Setelah perebusan, tahu tuna diletakkan di meja untuk penirisan. Penirisan juga sekaligus untuk menurunkan suhu yang biasanya dilakukan dengan alat bantu kipas angin. Proses ini dilakukan hingga  menjadi agak kering dan tidak menyebabkan penguapan setelah   dikemas. Penirisan dilakukan selama 10 – 15 menit.
10. Pengemasan
Tahu tuna dikemas dengan menggunakan plastik HDPE (High Density Poly Etilen) dengan kapasitas sesuai keinginan, kemudian direkatkan dengan electric heatseller. Dipilihnya plastik HDPE karena mempunyai ketebalan yang dapat melindungi produk yang telah dikemas agar tidak rusak selama masih di dalam kemasan.
11. Penyimpanan
Tahu tuna disimpan di dalam freezer dengan suhu -25oC. Penyimpanan produk sebaiknya dilakukan terpisah dari bahan baku (ikan beku).
Baca SelengkapnyaCARA PENGOLAHAN IKAN TUNA MENJADI TAHU TUNA YANG NIKMAT

MENGENAL SISTEM PEMBESARAN BELUT YANG CEPAT PANEN

Ikan belut sudah sangat dikenal di seluruh Indonesia, dengan habitat hidup di sawah berlumpur, tepi sungai. Licin bagaikan belut merupakan pepatah lama yang ditujukan kepada orang yang sangat licik, tetapi selalu terbebas dari segala tuntutan. Ungkapan itu merupakan sebuah pengakuan bahwa belut itu sangat licin dan sulit ditangkap. Belut (Monopterus albus) merupakan ikan darat dari keluarga Synbranchidae dan tergolong ordo Synbranchiodae, yaitu ikan yang tidak mempunyai sirip atau anggota lain untuk bergerak.
Saat ini belut untuk keperluan industri kecil di Indonesia masih sangat kekurangan bahan baku belut. Bahkan untuk keperluan eksporpun masih jauh kekurangan. Bayangkan salah satu pemasok belut di Jakarta Selatan hanya mampu memenuhi 3,5 ton dari permintaan Hongkong yang mencapai 60 ton/hari. Peluang pasar ekspor masih sangat terbuka dan terus meningkat terutama untuk tujuan negara Jepang.
Jenis ikan darat ini merupakan komoditas perikanan darat yang bergerak dengan jalan melenggak-lenggokkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Habitatnya di tempat berlumpur, genangan air tawar, atau aliran air yang kurang deras.Bentuknya yang seperti ular membuat sebagian orang enggan untuk melihatnya. Padahal, dagingnya sangat lezat dan dapat diolah menjadi berbagai makanan yang bergizi tinggi. Selain itu, belut juga memiliki berbagai khasiat untuk kesehatan.
Membesarkan belut hingga siap panen dari bibit umur 1-3 bulan butuh waktu 7 bulan. Namun, menurut para peternak yang sudah mengembangkan bisa dipercepat menjadi 4 bulan dengan  kunci suksesnya antara lain terletak pada media dan pengaturan pakan. Selain menekan biaya produksi, panen dalam waktu singkat itu mampu mendongkrak ketersediaan pasokan.
Selain pakan alami, ada resep suplemen rahasia yang mampu mempercepat pertumbuhan belut hingga 10 kali lebih berat dari suplemen belut biasa. Resep ini telah dibuktikan oleh peternak belut yang sukses. Selain mempercepat pertumbuhan, suplemen ini  berfungsi meningkatkan ketahanan terhadap serangan penyakit dan menambah nafsu makan. Jika biasanya belut dipanen dalam waktu 6 bulan, dengan memberikan suplemen ini, belut dapat dipanen lebih cepat 3 bulan dengan bobot yang sama memuaskan.
Dengan mengeluarkan biaya Rp8.000 untuk setiap kolam berisi 200 ekor sudah bisa menghasilkan panenan belut. pada umumnya rata-rata peternak paling tidak mengeluarkan biaya Rp14.000 untuk pembesaran jumlah yang sama. Semua itu karena metode pengaturan dengan menggunakan media campuran untuk pembesarannya.
Media campuran
belut akan cepat besar jika medianya cocok. Media yang digunakan terdiri dari lumpur kering, kompos, jerami padi, pupuk TSP, dan mikroorganisme stater. Peletakkannya diatur: bagian dasar kolam dilapisi jerami setebal 50 cm. Di atas jerami disiramkan 1 liter mikroorganisma stater. Berikutnya kompos setinggi 5 cm. Media teratas adalah lumpur kering setinggi 25 cm yang sudah dicampur pupuk TSP sebanyak 5 kg.
Karena belut tetap memerlukan air sebagai habitat hidupnya, kolam diberi air sampai ketinggian 15 cm dari media teratas. Jangan lupa tanami eceng gondok sebagai tempat bersembunyi belut. Eceng gondok harus menutupi  besar kolam.
Bibit belut tidak serta-merta dimasukkan. Media dalam kolam perlu didiamkan selama 2 minggu agar terjadi fermentasi. Media yang sudah terfermentasi akan menyediakan sumber pakan alami seperti jentik nyamuk, zooplankton, cacing, dan jasad-jasad renik. Setelah itu baru bibit dimasukkan.
Pakan hidup
Berdasarkan pengalaman, sifat kanibalisme yang dimiliki belut (Monopterus albus) itu tidak terjadi selama pembesaran. Asal, pakan tersedia dalam jumlah cukup. Saat masih anakan belut tidak akan saling mengganggu. Sifat kanibal muncul saat belut berumur 10 bulan, ujarnya. Sebab itu tidak perlu khawatir memasukkan bibit dalam jumlah besar hingga ribuan ekor. Dalam 1 kolam berukuran 5 m x 5 m x 1 m, saya dapat memasukkan hingga 9.400 bibit, katanya.
Pakan yang diberikan harus segar dan hidup, seperti ikan cetol, ikan impun, bibit ikan mas, cacing tanah, belatung, dan bekicot. Pakan diberikan minimal sehari sekali di atas pukul 17.00. Untuk menambah nafsu makan dapat diberi temulawak (Curcuma xanthorhiza.) Sekitar 200 g temulawak ditumbuk lalu direbus dengan 1 liter air. Setelah dingin, air rebusan dituang ke kolam pembesaran. Pilih tempat yang biasanya belut bersembunyi, ujar Ruslan.
Di dalam media budi daya juga bisa diletakkan beberapa pakan hidup seperti kecebong, cacing, larva ikan, dan belatung. Selain itu, untuk kegiatan pembesaran, belut juga dapat diberi pakan mati berupa cincangan bangkai ayam atau cincangan bekicot. Namun, pakan bangkai tersebut sebaiknya telah direbus dahulu sebelum diberikan ke belut agar belut terhindar dari penularan penyakit atau mikroorganisme yang menjangkiti hewan tersebut.
Budi daya pakan alami sebaiknya sudah dimulai 1—2 bulan sebelum budi daya belut dilakukan, kecuali kecebong. Tujuannya, agar terhindar dari kekurangan pakan. Banyaknya pakan yang dibudidayakan harus disetarakan dengan besarnya skala budi daya belut agar stok pakan alami dapat terus terjaga selama pemeliharaan belut.
Pelet ikan dapat diberikan sebagai pakan selingan untuk memacu pertumbuhan. Pemberiannya ditaburkan ke seluruh area kolam. Tak sampai beberapa menit biasanya anakan belut segera menyantapnya. Pelet diberikan maksimal 3 kali seminggu. Dosisnya 5% dari bobot bibit yang ditebar. Jika bibit yang ditebar 40 kg, pelet yang diberikan sekitar 2 kg.
Hujan buatan
Selain pakan, yang perlu diperhatikan kualitas air. Bibit belut menyukai pH 5-7. Selama pembesaran, perubahan air menjadi basa sering terjadi di kolam. Air basa akan tampak merah kecokelatan. Penyebabnya antara lain tingginya kadar amonia seiring bertumpuknya sisa-sisa pakan dan dekomposisi hasil metabolisme. Belut yang hidup dalam kondisi itu akan cepat matii. Untuk mengatasinya, pH air perlu rutin diukur. Jika terjadi perubahan, segera beri penetralisir.
Kehadiran hama seperti, bebek, dan garangan perlu diwaspadai. Mereka biasanya spontan masuk jika kondisi kolam dibiarkan tak terawat. Kehadiran mereka sedikit-banyak turut mendongkrak naiknya pH karena kotoran yang dibuangnya. Hama bisa dihilangkan dengan membuat kondisi kolam rapi dan pengontrolSuhu air pun perlu dijaga agar tetap pada kisaran 26-28 derajaat C. Peternak di daerah panas bersuhu 29-32 derajad C perlu hujan buatan untuk mendapatkan suhu yang ideal.  bisa menggunakan shading net dan hujan buatan untuk bisa mendapat suhu 26 C. Bila terpenuhi pertumbuhan belut dapat maksimal.
Shading net dipasang di atas kolam agar intensitas cahaya matahari yang masuk berkurang. Selanjutnya 3 saluran selang dipasang di tepi kolam untuk menciptakan hujan buatan. Perlakuan itu dapat menyeimbangkan suhu kolam sekaligus menambah ketersediaan oksigen terlarut. Ketidakseimbangan suhu menyebabkan bibit cepat mati.,
Jika tidak bisa membuat hujan buatan, dapat diganti dengan menanam eceng gondok di seluruh permukaan kolam. Dengan cara itu bibit belut tumbuh cepat, hanya dalam tempo 4 bulan sudah siap panen.
Selamat Mencoba !
sumber: dkpm.m/u
Baca SelengkapnyaMENGENAL SISTEM PEMBESARAN BELUT YANG CEPAT PANEN

BUDIDAYA UDANG VANNAMEIYANG Aman (Back to Basic Aquaculture)

Mencermati keadaan bisnis tambak udang yang semakin menuntut pemikiran secara  sungguh-sungguh, sehubungan dengan semakin ketatnya persaingan mau pun profit margin yang  semakin menipis, keberadaan produsen pakan udang sebagai salah satu stake holder pendukung keberhasilan budidaya udang di tambak pun harus berbenah agar dapat seiring sejalan dengan dinamika bisnis tambak udang.
Pilihan sulit yang harus diambil pabrik pakan udang adalah mempertahankan pangsa pasar dengan tetap profitable, sementara pihak pelaku bisnis tambak udang selalu mengharapkan kualitas pakan yang mampu menekan FCR dan memberikan ADG yang tinggi.
Namun, membandingkan kualitas pakan udang tidak semudah menilai produk industri yang lain, banyak factor yang mempengaruhi produktifitas tambak udang selain factor kualitas pakan udang sehingga meski pun dalam suatu kawasan (area) tambak yang sama antara satu petak tambak dengan yang lain performanya berbeda.
Faktor tehnis dan system yang digunakan sangatlah menentukan hasil akhir proses budidaya udang di tambak, di samping factor manajemen sumberdaya manusia dan kualitas benur yang digunakan.
Di sinilah pentingnya peranan seorang tehnisi tambak dan pihak manajemen yang mendukungnya, sedangkan dari sisi produsen pakan udang peran technical support dapat menjembatani antara kepentingan divisi marketing pabrik pakan udang dengan pihak manajemen tambak udang sebagai pengambil keputusan penentuan brand pakan udang yang akan digunakan.
Technical support harus mampu mendeskripsikan kondisi proses budidaya udang di tambak secara obyektif, tentu saja lengkap dengan kekurangan dan kelebihan yang ada, tanpa adanya tendensi tertentu, sehingga pihak manajemen tambak akan dapat mengevaluasi keadaan tersebut dan merasa sangat terbantu.
Di sisi yang lain, technical support dapat memberi masukan kepada pabrik pakan udang kondisi tehnis tambak udang yang menjadi target pangsa pasar., di samping kualitas pakan udang yang digunakan.
Demikian sekilas peranan Technical Support pakan udang yang sering kali dianggap remeh dan tidak penting, bahkan di beberapa pabrik pakan udang hanya sebagai pelengkap penderita atau bahkan dianggap memboroskan anggaran perusahaan.
Budidaya udang vannamei yang aman
(back to basic aquaculture)
Oleh Bambang Setyo Raharjo, Technical Support PT Gold Coin Indonesia (Specialities)
Tingkat kesulitan budidaya udang Vannamei yang semakin tinggi, sementara komponen sarana produksi budidaya semakin mahal mengharuskan pelaku budidaya udang Vannamei mengernyitkan dahi, memutar otak dan berpikir keras.
Bagaimana agar keberadaan (eksistensi) bisnis budidaya udang Vannamei mampu bertahan..?  Sementara keuntungan bisnis ini pun menurun sampai maksimal hanya 30%, dari yang dulunya dapat mencapai 70%.
Salah satu  solusi untuk mengatasi masalah tersebut adalah ‘budidaya udang vannamei yang aman’, yang maksudnya adalah  :    Merencanakan lebih cermat, teliti dan terperinci proses budidaya sebelum penebaran udang dimulai.
Mereduksi dan mengeliminir seminimal mungkin faktor-faktor penyebab kegagalan dalam proses budidaya.
Mencanangkan target budidaya yang paling realistis.
A. Merencanakan lebih cermat, teliti dan terperinci proses budidaya sebelum   
   penebaran udang dimulai.
Dalam hal perencanaan budidaya, sebaiknya menganalisis diagram alir sebagai berikut  :
Persiapan Lahan
Penebaran Benur
Proses Budidaya
Panen
1.Persiapan Lahan
Metoda persiapan lahan untuk budidaya harus mempertimbangkan hasil panen perioda sebelumnya.  Apakah panen dalam kondisi udang normal atau terserang penyakit.
Apabila kondisi udang hasil panen perioda sebelumnya terserang penyakit, persiapan  lahan harus lebih berhati-hati, termasuk perlunya sterilisasi dengan desinfektan yang efektif.
Selanjutnya mempersiapkan air masuk ke petakan tambak, sebaiknya benar-benar mempertimbangkan kondisi air laut, yaitu antara lain : apakah pada saat  air laut diambil dalam kondisi pasang besar, sehingga kemungkinan terkontaminasi polutan lebih kecil.
2.Penebaran Benur
Tahap penebaran benur dimulai dari perencanaan jumlah kolam yang akan ditebar serta kepadatan per m2 yang akan dibudidayakan.
Kemudian mencari benur dari hatchery  yang mempunyai ‘track record’ bagus, serta mengikuti tahapan benur yang akan diambil, sejak naupli hingga PL siap panen.
Sebaiknya melakukan stress test, meliputi  : suhu, salinitas dan formalin, untuk mengetahui stamina dan daya tahan benur.
Pemilhan benur yang selektif setidaknya telah memperkecil risiko kegagalan karena faktor benur atau genetik, sehingga dalam proses budidaya tinggal mengoptimalkan manajemen air (lingkungan) dan manajemen sumberdaya manusia.
Sementara ini faktor benur menjadi kendala utama dalam budidaya udang Vannamei karena tidak konsisten dalam hal kualitas.
Benur F1 yang dihasilkan oleh hatchery jumlahnya terbatas dengan kualitas yang fluktuatif.  Padahal faktor benur minimal memberikan kontribusi 30% dari keberhasilan, selain lingkungan dan sumberdaya manusia.
3. Proses Pemeliharaan
Setelah tahap penebaran benur dilakukan, maka konsentrasi berikutnya adalah : bagimana mengantarkan benur hingga mencapai umur panen, dengan target size, FCR dan SR sesuai yang direncanakan.
Dalam proses pemeliharaan setiap kemungkinan dapat terjadi, baik yang telah diprediksi, mau pun yang di luar prediksi.
Prioritas proses pemeliharaan meliputi  :
 Menjaga kesehatan dan pertumbuhan udang yang baik,
 Manajemen kualitas air, yaitu : kualitas air budidaya yang terjaga dengan stabil,
 Mempertahankan tingkat kehidupan (survival rate) yang tinggi dari penebaran sampai dengan saat panen,
 Manajemen pakan yang tepat sasaran, yaitu tercapainya stamina dan pertumbuhan udang dengan tetap memperhitungkan efisiensi pemberian pakan, sehingga dicapai FCR bagus.
 Manajemen sumberdaya manusia di tambak.
 Menjaga kesehatan dan pertumbuhan udang yang baik
 Monitoring kesehatan dan pertumbuhan udang dilakukan dengan pengamatan secara langsung di tambak dari saat ke saat, memasukkan juga pengamatan  cuaca dan fenomena yang lain, seperti pergiliran rotasi bulan terhadap bumi yang mempengaruhi siklus pasang surut laut.
 Fokus pengamatan udang diperoleh dari hasil cek anco setiap jam pemberian pakan dan sampling jala secara periodik. Hasil cek anco merepresentasikan kondisi kesehatan udang setiap saat, sedangkan sampling jala menggambarkan pertumbuhan bobot udang secara berkala.
 Pada dasarnya pertumbuhan udang sebanding dengan konsumsi nutrisi, lingkungan dan kesehatan udang, di samping peran genetik dari benur. Komposisi nutrisi yang berimbang dan jumlahnya mencukupi, didukung lingkungan yang kondusif dan kondisi udang sehat, serta benur yang ‘fast grow’ akan diperoleh pertumbuhan udang optimal.
b. Manajemen kualitas air, yaitu : kualitas air budidaya yang  terjaga dengan stabil
Keseimbangan siklus-siklus kimia, biologi dan fisika di lingkungan air budidaya merupakan kunci utama untuk mendapatkan kualitas air budidaya yang terjaga dengan stabil. Tentu saja kualitas air yang diharapkan sesuai dengan parameter ideal yang dibutuhkan oleh udang Vannamei yang dibudidayakan.
Setiap penggunaan perlakuan (treatment) harus selalu diperhitungkan terhadap pengaruh (dampak) berantai setelah perlakuan diberikan, terutama pengaruh secara langsung terhadap udang.
Karena kompleksitas faktor yang mempengaruhi mau pun variabel yang ikut berperan dalam membentuk kualitas air, suatu bahan yang dimasukkan ke perairan tambak akan mengubah keseimbangan kualitas air yang ada, sehingga kemampuan memprediksi mau pun mengantisipasi setiap perubahan harus tepat guna dan tepat waktu. Di sinilah dibutuhkan ketelitian yang tinggi dan pengalaman yang cukup memadai seorang tehnisi tambak.
Berbagai produk dan cara banyak ditawarkan untuk mendapatkan kualitas air tambak yang bagus, namun yang perlu dijadikan pertimbangan utama adalah kesesuaian dengan kondisi di mana tambak berada, karena setiap tempat dan lokasi tambak spesifik.
c.  Mempertahankan tingkat kehidupan (survival rate) yang tinggi dari
penebaran benur  sampai dengan saat panen.
Beberapa indikator keberhasilan budidaya udang Vannamei secara tehnis adalah, tercapainya hasil panen dengan  :
Tingkat kehidupan (survival rate) dari penebaran benur di atas 80%
Ukuran udang (size) seperti yang diharapkan
Rasio konversi pakan (feed convertion ratio) yang bagus
Kondisi udang yang sehat.
Terjaganya tingkat kehidupan (survival rate) selama budidaya tidak terlepas dari stamina udang, sehingga pada saat kondisi kualitas air berubah secara tiba-tiba masih mampu bertahan dengan tingkat stress minimal. Demikian pula ketika proses pemulihan kondisi kualitas air melalui perlakuan (treatment), udang tidak terpengaruh kondisi kesehatannya.
Namun stamina udang, sebaliknya juga sangat bergantung pada kualitas air yang stabil dan keberadaan penyakit udang di lingkungan, yang secara sederhana dapat diillustrasikan sebagai berikut  :
Stamina
udang
Penyakit udang di tambak
Kualitas air tambak
Udang terinfeksi penyakit karena stamina yang dimiliki buruk, kondisi kualitas air buruk dan adanya penyakit udang di tambak.
Pencapaian tingkat kehidupan (survival rate) udang Vannamei sebaiknya di atas 80% dari jumlah penebaran.  Apabila diperoleh tingkat kehidupan yang rendah, perlu segera dianalisis penyebab utama hilangnya populasi selama proses budidaya.  Semakin cepat mendeteksi berkurangnya populasi selama budidaya, segera dapat mengantisipasi program pakan yang diberikan tanpa mengganggu pertumbuhan dan stamina udang.
d. Manajemen pakan yang tepat sasaran, yaitu tercapainya stamina dan       pertumbuhan udang dengan tetap memperhitungkan efisiensi pemberian pakan, sehingga dicapai FCR bagus.
Manajemen pakan budidaya udang Vannamei telah bergeser mendekati manajemen pakan budidaya udang Windu (Penaeus Monodon).
Berbeda pada saat awal kemunculan budidaya udang Vannamei, yang mana manajemen pakan begitu sederhana, tapi hasilnya FCR yang diperoleh sekitar 1,3 sampai dengan 1,5.  Kondisi rasio konversi pakan budidaya udang Vannamei terkini cenderung tinggi, bahkan di atas 2,0.  Padahal beragam upaya telah dilakukan untuk menekan FCR.
Beberapa faktor penyebab tingginya FCR antara lain adalah  :
    Hilangnya populasi selama proses budidaya udang yang tidak terdeteksi, sementara asumsi tingkat kehidupan tinggi,
    Pertumbuhan udang lambat, sehingga tidak berimbang dengan jumlah pakan yang sudah diberikan,
    Kematian udang selama proses budidaya, padahal udang yang mati telah ikut mengkonsumsi pakan,
Dengan mempertimbangkan faktor-faktor di atas, sebaiknya program pakan dibuat atas dasar kondisi riil di lapangan.
Di sinilah ketepatan memprediksi kondisi udang dan tingkat kehidupan udang di tambak akan sangat mempengaruhi ketepatan pemberian pakan dari hari ke hari yang pada akhirnya merupakan jumlah kumulatif pemberian pakan selama proses budidaya berlangsung.
Apabila program pakan sesuai yang diharapkan, akan diperoleh konversi pakan di bawah 1,5 dengan size minimal 50 pada umur pemeliharaan 120 hari.
e. Manajemen sumberdaya manusia di tambak
Ada sementara pendapat, bahwa keberhasilan budidaya udang Vannamei secara intensif di tambak lebih dari 60% ditentukan oleh faktor manajemen sumberdaya manusia, sedangkan sisanya menyangkut faktor tehnis.
Hal tersebut dapat dimengerti, mengingat ritme kerja di tambak yang memerlukan sikap kerja (attitude) dari para karyawan yang baik, disamping keterampilan (skill) dan pengetahuan (knowledge).
Beberapa karakter sikap kerja (attitude) berikut ini sebaiknya dimiliki oleh karyawan tambak  :
    Jujur
    Disiplin
    Rajin
    Teliti
    Ulet (kerja keras)
    Sabar & Rasa memiliki (sense of belonging) yang tinggi.
Sebagus apa pun program kerja yang dibuat, apabila dalam pelaksanaan di lapangan tidak sesuai dengan ‘standard operation procedure’ akan menimbulkan sumir (bias) terhadap hasilnya, atau bahkan akan muncul masalah yang baru.
Pelaksanaan program kerja akan optimal apabila didukung oleh sumberdaya manusia yang memiliki karakter sikap kerja (attitude) yang baik pula.
Program kerja di tambak dapat dibedakan atas program kerja rutin dan program kerja insidentil (mendadak atau darurat).
Program kerja rutin seperti  :
    Pemberian pakan
    Cek anco
    Sampling pertumbuhan udang
    Pengukuran parameter kualitas air
    Perawatan peralatan tambak
    Perawatan kualitas air
Program kerja insidentil antara lain  :
    Perlakuan (treatment) air tambak
    Penggantian kincir yang ‘trouble’
    Perbaikan peralatan tambak yang rusak
    Pergantian air tambak
Menjadi dirigen orkestra (pengatur harmoni) kerja di tambak memerlukan tehnis manajemen khusus, yaitu antara irama lambat (slow) dan cepat (fast) sehingga mampu membuat suasana kerja yang kondusif selama 24 jam, selama masa pemeliharaan udang.
4.  Panen
Mengakhiri sebuah perioda budidaya udang Vannamei adalah aktifitas panen, yang hasilnya merupakan tumpuan harapan dari seluruh proses budidaya yang sudah dilalui.
Membuat prediksi hasil panen memerlukan tingkat ketelitian dalam menganalisis data pakan harian dan kondisi udang selama pemeliharaan, supaya diperoleh hasil yang akurat.
Produk akhir dari budidaya udang Vannamei diharapkan  :
    Kondisi udang sehat, terlihat dari ciri organoleptik secara visual.
    Ukuran udang seragam.
    Penanganan (handling) udang sejak dipanen dari tambak hingga selesai ditimbang dilakukan secara cepat, teliti dan dalam kondisi suhu dingin, sehingga kemunduran kualitas udang dapat dihambat.
Selain pertimbangan secara tehnis, panen sebaiknya juga berdasarkan kecenderungan harga di pasaran.  Kemudian menggabungkan kedua perhitungan tersebut untuk menentukan waktu yang tepat dilakukan panen.  Dengan demikian akan diperoleh margin keuntungan yang optimal.
B.       Mereduksi dan mengeliminir seminimal mungkin faktor-faktor penyebab
           kegagalan dalam proses budidaya
Dari seluruh uraian yang sudah dipaparkan pada tahap perencanaan sebelum budidaya, dapat disimpulkan dalam sebuah tabel untuk mereduksi dan mengeliminir seminimal mungkin faktor-faktor penyebab kegagalan dalam proses budidaya udang Vannamei, yaitu  :
Topik
    Masalah dan Antisipasi
1. Persiapan lahan
    Pengukuran Redoks Potensial (untuk tambak tanah), lalu pengapuran.
    Pengisian air.
    Sterilisasi
    Pengukuran parameter kualitas air, perlakuan.
    Siap tebar benur.
    Biosecurity
    Air lebih dulu siap, baru dicarikan benur, meski pun dengan waktu tebar yag sudah direncanakan

2. Penebaran benur
Pemesanan benur di hatchery yang kredibel dan telah mempunyai ‘standard operation procedure’.
Monitor benur sejak Nauplii hingga PL siap panen benur.
Scoring penilaian benur
Test PCR, SPF  : WSSV, IHHNV, TSV
Stress test  :  salinitas, suhu, formalin.
3. Proses pemeliharaan
    Penentuan sistem budidaya udang Vannamei
    Monitoring kondisi kesehatan udang dan pertumbuhan
    Monitoring kualitas air tambak
    Program pakan
    Manajemen sumberdaya manusia
4. Panen
    Prediksi hasil panen.
    Penentuan waktu panen berdasarkan perhitungan tehnis dan kecenderungan harga di pasaran
    Penanganan (handling saat panen  :  cepat, teliti dan dalam kondisi suhu dingin.).
C. Mencanangkan target budidaya udang Vannamei yang paling realistis.
Maksud mencanangkan target budidaya udang Vannamei yang paling realistis adalah membuat perhitungan secara teliti dan terperinci seluruh komponen yang dimiliki tambak dalam budidaya udang Vannamei, kemudian menetapkan kapasitas kemampuan produksi tambak sesuai dengan potensi yang ada.
Beberapa komponen penting tambak yang menjadi pembatas kapasitas kemampuan produksi tambak antara lain  :
Sumberdaya perairan
Sumberdya perairan merupakan modal utama dalam budidaya udang Vannamei, seperti pendapat beberapa pelaku budidaya udang  :  “Pada dasarnya budidaya udang adalah budidaya air”.
Menilai potensi sumberdaya perairan untuk tambak mencakup kualitas sumberdaya air dan kuantitas (ketercukupan) sumberdaya air.
Selanjutnya penilaian atas potensi sumberdaya perairan ini akan menentukan tingkat kesulitan manajemen kualitas air tambak, yang ikut menentukan besarnya biaya operasional demi mendapatkan kualitas air yang sesuai untuk budidaya udang Vannamei.
Konstruksi tambak
Konstruksi tambak didesain menyesuaikan kondisi lahan tempat tambak dibangun, ide dasarnya adalah menonjolkan  (mengakomodir) unsur-unsur positif yang berkaitan dengan kepentingan budidaya udang Vannamei.
Setiap lokasi tambak selalu ada nilai lebih dibandingkan lokasi tambak yang lain, meski pun kekurangannya juga selalu ada.  Dalam operasionalnya kelebihan konstruksi tambak dapat dioptimalkan, sedangkan kekurangannya dapat direduksi.
Sumberdaya listrik dan mekanik
Faktor pembatas kapasitas produksi tambak udang Vannamei pola intensif salah satunya adalah sumberdaya listrik dan mekanik, yaitu sumberdaya penggerak kincir dan pompa air di tambak. Target budidaya udang Vannamei harus disesuaikan dengan sumberdaya listrik dan mekanik yang ada.
    Kelengkapan peralatan tambak
Selama proses budidaya udang Vannamei berlangsung harus diperhitungkan adanya peralatan cadangan bila sewaktu-waktu peralatan utama mengalami gangguan atau trouble. Hal tersebut untuk menjaga kestabilan kualitas air tambak, sehingga udang tidak mengalami stress yang berkepanjangan.
    Kemampuan pembiayaan operasional tambak
Dalam satu perioda pemeliharaan udang, seluruh biaya operasional sebaiknya telah dianggarkan sesuai dengan target budidaya yang ingin dicapai.  Kemudian ditambah 20% sebagai persediaan  jika terjadi masalah di tambak yang perlu penanganan dengan segera.
Baca SelengkapnyaBUDIDAYA UDANG VANNAMEIYANG Aman (Back to Basic Aquaculture)

HARMONISASI KELEMBAGAAN DAN KETENAGAAN PENYULUHAN PERIKANAN DALAM MENDUKUNG PROGRAM PEMBANGUNAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

Keberhasilan program prioritas Kementerian Kelautan dan Perikanan yang terdiri dari PNPM Mandiri Kelautan dan Perikanan, Industrialisasi Perikanan, Minapolitan, Blue Economy, PKN, dan MP3E, tidak bisa terlepas dari peranan penyuluhan perikanan. Peranan Penyuluh Perikanan dirasakan akan semakin penting dan cukup memegang peranan yang strategis. Mengingat kegiatan penyuluhan perikanan  selama ini selalu menjadi garda terdepan dan ujung tombak dalam mendukung keberhasilan pembangunan kelautan dan perikanan, mensosialisasi program-program pemerintah, termasuk teknologi terbaru kepada masyarakat pelaku utama perikanan. Selain sebagai agent of change for farmer behavior, posisi Penyuluh Perikanan yang berhadapan langsung dengan pelaku utama/usaha perikanan akan sangat menentukan untuk membawa perubahan yang kondusif pada masa yang akan datang.
Ironisnya tenaga Penyuluh Perikanan saat ini jumlahnya masih sangat sedikit apabila dibandingkan dengan jumlah dan keragaan wilayah serta jumlah pelaku utama dan/atau pelaku usaha yang disuluhnya. Saat ini keberadaan Penyuluh Perikanan PNS di Indonesia yaitu 3.242 orang atau baru 21,12 persen dari kebutuhan ideal (15.350 orang), sehingga masih perlu menggalang dan berkolaborasi dengan Penyuluh Perikanan Swadaya, dan Penyuluh Perikanan Swasta. Untuk itu, perlu dilakukan terobosan salah satunya yaitu dengan memaksimalkan jumlah Penyuluh Perikanan yang ada, mendekatkan fungsi pelayanan dan koordinasi dari para Penyuluh Perikanan Pusat dengan Penyuluh Perikanan daerah dan para pemangku kepentingan di Pusat dan daerah, serta melibatkan secara aktif para pelaku utama perikanan.
Hal inilah yang melatarbelakangi diselenggarakannya kegiatan Temu Koordinasi dan Sinergi Tugas Penyuluhan Perikanan di Kabupaten Bantul, pada hari Kamis, 28 Agustus 2014 yang bertempat di Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BKPPP) Bantul. Tujuan kegiatan ini yaitu sebagai langkah percepatan pengembangan penyuluhan perikanan dan dalam rangka lebih meningkatkan sinkronisasi pelaksanaan tugas pembinaan dan penyelenggaraan penyuluhan perikanan di tingkat pusat dan daerah untuk mendukung terlaksana dan tercapainya program Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Kegiatan Temu Koordinasi dan Sinergi Tugas Penyuluhan Perikanan di Kabupaten Bantul ini di hadiri oleh 30 (tiga puluh) orang Penyuluh Perikanan, yang terdiri dari Penyuluh Perikanan PNS, Penyuluh Perikanan Tenaga Kontrak (PPTK), Penyuluh Perikanan Swadaya Kabupaten Bantul. Hadir sebagai narasumber dalam acara ini yaitu Kepala BKPPP Kabupaten Bantul Ir.Pulung Haryadi, M.Sc. dan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Bantul Ir. Edy Machmud Hidayat, serta Koordinator Penyuluh Perikanan Wilayah Regional II Dr. Sumarno, MM.
Ucapan selamat datang sekaligus penyampaian materi yang pertama dalam Temu Koordinasi dan Sinergi Tugas Penyuluhan Perikanan di Kabupaten Bantul ini disampaikan oleh Ir.Pulung Haryadi, M.Sc. Materi yang disampaikan oleh Kepala BKPPP Bantul ini yaitu mengenai “Kebijakan BKPPP dalam Mendukung Penyuluhan Perikanan di Kabupaten Bantul”. Dalam pemaparannya Kepala BKPPP menyampaikan bahwa, misi utama BKPPP adalah meningkatkan kapasitas Penyuluh Perikanan dan masyarakat perikanan melalui sebuah proses pembelajaran. Dinas Kelautan dan Perikanan dengan BKPPP di Kabupaten Bantul tidak bisa dipisahkan, karena program kelautan dan perikanan terdapat di Dinas Kelautan dan Perikanan sedangkan Penyuluh Perikanan sebagai pendamping programnya atau ujung tombak dilapangan berada di bawah binaan BKPPP, sehingga kelembagaan ini perlu melakukan sinkronisasi dalam pelaksanaan kegiatannya. Penyuluh Perikanan di Kabupaten Bantul itu memiliki dua kantor yaitu selain di BKPPP tapi juga di Dinas KP, sehingga para Penyuluh Perikanan harus melakukan koordinasi kegiatan dengan kedua kelembagaan tersebut.
Dukungan Dinas Kelautan dan Perikanan dalam Penyuluhan Perikanan juga disampaikan oleh Bapak Ir. Edy Machmud Hidayat. Keseriusan, kerja keras, dan kepatuhan dari para Penyuluh Perikanan dalam mendukung dan menjalankan program-program Dinas Kelautan dan Perikanan sangat diperlukan. Sarana dan Prasarana penyuluhan perikanan seperti alat pencacah data, kendaraan roda dua dan roda empat sudah disediakan oleh Dinas KP melalui penganggaran Dana Alokasi Khusus (DAK), tinggal bagaimana para Penyuluh Perikanannya bisa bekerjasama dengan Dinas KP dalam mensukseskan program pembangunan kelautan dan perikanan di Kabupaten Bantul, ungkap Bapak Kepala Dinas KP Kabupaten Bantul.
Dengan kelugasannya Bapak Kepala Dinas KP telah membuka pintu kepada semua Penyuluh Perikanan untuk melakukan sinergitas dan koordinasi kegiatan dengan Dinas KP, sehingga program-program pembangunan kelutan dan perikanan dapat berjalan dengan baik, karena di tingkat lapangan Penyuluhlah yang langsung berhadapan dengan masyarakat pelaku utama atau pelaku usaha perikanan.
Drs. Sumarno, MM, sebagi Koordinator Penyuluh Perikanan Wilayah Regional II yang meliputi Provinsi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagai narasumber terakhir dalam kegiatan ini menyampaikan tentang “Kebijakan Penyuluhan Perikanan”. Kebijakan Penyuluhan Perikanan dalam mendukung program prioritas Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat KP, dilakukan melalui: 1) Pendekatan kawasan  dan industrialisasi; 2) Pemberdayaan dan  kewirausahaan; 3) Partisipasipatif dan Mandiri; 4) Sinergitas penyuluhan dan perluasan  jejaring kerja; dan 5) Teknologi KP dan Informasi Komunikasi, tutur Bapak Sumarno.
Dalam pemaparannya, Bapak Sumarno juga menyampaikan bahwa Penyuluh Perikanan dilapangan harus mampu meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap pelaku utama agar usaha lebih maju dan kondusif; memberikan motivasi dan mengembangkan potensi pelaku utama dalam pengembangan usahanya; memberikan bimbingan dan pendampingan manajemen, teknis, dan pemasaran  usaha perikanan serta pola usaha kepada kelompok secara berkelanjutan; memberikan bimbingan dan pendampingan kepada pelaku utama dalam mengembangkan bisnis perikanan untuk meningkatkan produksi, produktivitas serta meningkatkan nilai tambah dan daya saing; membantu memfasilitasi kemudahan akses kelompok terhadap permodalan usaha, sarana produksi, teknologi, dan pasar; serta membantu memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh Pelaku Utama.
Dengan keterbatasan atau kekurangan jumlah Penyuluh Perikanan, Korwil Regional II ini berpesan supaya semua lembaga pemerintah yang membidangi perikanan harus mampu mengoptimalkan tenaga-tenaga Penyuluh Perikanan yang ada untuk mencapai suatu visi dan misi pembangunan kelautan dan perikanan sehingga yang paling diperlukan yaitu adanya sinergitas dalam suatu pelaksanaan kegiatan, bukan hanya koordinasi sehingga program akan berjalan dengan baik.
Peran aktif Penyuluh Perikanan Kabupaten Bantul dalam kegiatan Temu Koordinasi dan Sinergi Tugas Penyuluh Perikanan disampaikan oleh Saudara Petrus Suhartono, SP, yang merupakan Penyuluh Teladan Tingkat Nasional Tahun 2014  dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Penyuluh Perikanan PNS Kabupaten Bantul siap dan bersedia untuk mengawal semua program Dinas Kelautan dan Perikanan dan akan selalu mencari, mempelajari, dan menyebar luaskan informasi tekhnologi terbaru kepada masyarakat untuk pembangunan perikanan di Kabupaten Bantul. Penyuluh Perikanan PNS walaupun satminkalnya berada di bawah binaan BKPPP akan tetapi Penyuluh Perikanan berkomitmen dalam memenuhi keinginan dan tujuan program Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bantul, ungkap Petrus Suhartono.
Hal senada juga disampaikan oleh Penyuluh Perikanan Swadaya sekaligus sebagai ketua Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) Kabupaten Bantul Fahrudin Al Rozi, S.Pi. Penyuluh Swadaya di Kabupaten Bantul siap berkoordinasi untuk mendukung setiap program-program Dinas Kelautan dan Perikanan dan program-program BKPPP Kabupaten Bantul. Penyuluh Swadaya sudah berperan aktif dalam penyebarluasan informasi dan penyediaan lapangan kerja dalam dunia perikanan, pendapat Rozi sebagai sapaan akrabnya.
Kesenjangan Tunjangan Fungsional dan Nilai Angka Kredit antara Penyuluh Perikanan dengan Penyuluh Pertanian, disampaikan oleh Bapak Sugiyatmo, SP. Selain itu Penyuluh Perikanan yang telah memperoleh jenjang Madya ini juga menanyakan perkembangan Tunjangan Profesi bagi para Penyuluh Perikanan. Tunjangan Profesi ini sangat di harapakan dan dinanti-nantikan oleh para Penyuluh khususnya di Kabupaten Bantul. Para Penyuluh berharap dengan adanya Tunjangan Profesi ini, akan berdampak positif pada kinerja dan kesejahteraan para Penyuluh Perikanan, begitu ungkap Penyuluh yang mengawal kegiatan perikanan di Kawasan Minapolitan ini.
Pendapat dan masukan dari kegiatan Temu Koordinasi dan Sinergi Tugas di Kabupaten Bantul ini merupakan bahan kajian untuk perbaikan dalam penyusunan kebijakan Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan. Ternyata memang, Temu Koordinasi dan Sinergi Tugas Penyuluhan Perikanan ini merupakan sebuah kegiatan yang positif dan sangat bermanfaat, selain dapat mensinergikan program pemerintah pusat dengan pemerintah daerah, juga bisa menambah serta mampu membuka pemahaman para Penyuluh Perikanan yang hadir bahwasannya peran dan eksistensi Penyuluh Perikanan memang sangat dibutuhkan dalam mendukung program pemerintah dalam membangun kelautan dan perikanan yang lebih baik dan lebih maju.
Menjadi sukses merupakan jalan panjang yang harus ditempuh dengan kerja keras. Akan tetapi bekerja keras tanpa ilmu sama saja kosong, punya ilmu tapi tidak bisa menggunakannya itu juga sama saja bohong, tidak punya ilmu dan tidak mau bekerja, maka jangan pernah bermimpi untuk sukses menjadi Penyuluh Perikanan. Maka para Penyuluh Perikanan marilah kita cintai profesi sebagai Penyuluh Perikanan, bekerja dengan sepenuh hati dan jujur. Utamakan kerja cerdas dalam mencapai tujuan daripada kerja keras.Sukses selalu Penyuluh Perikanan.
Penyusun : Akbar Zaelani, S.St.Pi
Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan

Baca SelengkapnyaHARMONISASI KELEMBAGAAN DAN KETENAGAAN PENYULUHAN PERIKANAN DALAM MENDUKUNG PROGRAM PEMBANGUNAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

TEKNIS BIOFLOK DAN MANAJEMEN KUALITAS AIR

A. Udang Putih (L. vannamei)
1. Klasifikasi dan Morfologi Udang Putih (L. vannamei)
Menurut Haliman dan Dian (2006), klasifikasi udang putih (Litopenaeus vannamei) adalah sebagai berikut:
Kingdom        : Animalia
Sub kingdom    : Metazoa
Filum        : Arthropoda
Subfilum     :Crustacea
Kelas       : Malacostraca
Subkelas         : Eumalacostraca
Superordo    : Eucarida
Ordo        : Decapodas
Subordo      : Dendrobrachiata
Familia     : Penaeidae
Sub genus      : Litopenaeus
Spesies           : Litopenaeus vannamei
Haliman dan Adijaya (2004) menjelaskan bahwa udang putih memiliki tubuh berbuku-buku dan aktivitas berganti kulit luar (eksoskeleton) secara periodik (moulting).  Bagian tubuh udang putih sudah mengalami modifikasi sehingga dapat digunakan untuk keperluan makan, bergerak, dan membenamkan diri kedalam lumpur (burrowing ), dan memiliki organ sensor, seperti pada antenna dan antenula.
Kordi (2007) juga menjelaskan bahwa kepala udang putih terdiri dari antena, antenula,dan 3 pasang maxilliped.  Kepala udang putih juga dilengkapi dengan 3 pasang maxilliped dan 5 pasang kaki berjalan (periopoda).  Maxilliped   sudah mengalami modifikasi dan berfungsi sebagai organ untuk makan.  Pada ujung peripoda beruas-ruas yang berbentuk capit (dactylus).  Dactylus ada pada kaki ke-1, ke-2, dan ke-3.  Abdomen terdiri dari 6 ruas.  Pada bagian abdomen terdapat  5  pasang (pleopoda) kaki renang dan sepasang uropods (ekor) yang membentuk kipas bersama-sama telson (ekor) (Suyanto dan Mujiman, 2003).
Bentuk rostrum udang putih memanjang, langsing, dan pangkalnya hamper berbentuk segitiga.  Uropoda berwarna merah kecoklatan dengan ujungnya kuning kemerah-merahan atau sedikit kebiruan, kulit tipis transparan.  Warna tubuhnya putih kekuningan terdapat bintik-bintik coklat dan hijau pada ekor (Wayban dan Sweeney, 1991).  Udang betina dewasa tekstur punggungnya keras, ekor (telson) dan ekor kipas (uropoda) berwarna kebiru-biruan, sedangkan pada udang jantan dewasa memiliki ptasma yang simetris.  Spesies ini dapat tumbuh mencapai panjang tubuh 23 cm ( Wyban dan Sweeney, 1991). 
Keterangan
1. Chepalothorax (bagian kepala)
2. Rostrum (cucuk kepala)
3. Mata
4. Antennula ( sungut kecil)
5. Prosartema
6. Antenna ( sungut besar)
7. Maxilliped ( lat bantu rahang)
8. Periopod (kaki jalan)
9. Pleopoda ( kaki renang)
10. Telson ( ujung ekor)
11. Uropoda ( ekor kipas)
2. Aspek Biologis Udang Putih (L. vannamei)
Udang putih mempunyai kemampuan beradaptasi terhadap salinitas yang luas dengan kisaran salinitas 0 sampai 50 ppt (Tizol et al., 2004).  Temperatur juga memiliki pengaruh yang besar pada pertumbuhan udang.  Udang putih akan mati jika terpapar pada air dengan suhu dibawah 150 C atau diatas 330C selama 24 jam atau lebih.  Stres subletal dapat terjadi pada 15-22 o C dan 30-330 C.  Temperatur yang cocok bagi pertumbuhan udang putih adalah 23-300C.  Pengaruh temperatur pada pertumbuhan udang putih adalah pada spesifitas tahap dan ukuran.  Udang muda dapat tumbuh dengan baik dalam air dengan temperatur hangat, tapi semakin besar udang tersebut, maka temperatur optimum air akan menurun
(Wyban et al., 1991).
3. Daur Hidup Udang Putih (L.  vannamei)
Siklus hidup udang putih dimulai dari udang dewasa yang melakukan pemijahan hingga terjadi fertilisasi.  Setelah 16-17 jam dari fertilisasi, telur menetas menjadi larva (nauplius).  Tahap naupli tersebut memakan kuning telur yang tersimpan dalam tubuhnya danakan mengalami moulting, kemudian metamorphosis menjadi zoea.  Zoea akan mengalami metamorfosis menjadi mysis.  Mysis mulai terlihat seperti udang kecil  memakan alga dan zooplankton.  Setelah 3 sampai 4 hari, mysis mengalami metamorfosis menjadi postlarva.  Tahap postlarva adalah tahap saat udang sudah mulai memiliki karakteristik udang dewasa.  Keseluruhan proses dari tahap nauplii sampai postlarva membutuhkan waktu sekitar 12 hari.  Kemudian post larva akan dilanjutkan ketahap juvenil (Wyban dan Sweeney, 1991).
B. Gula Pasir atau Gula Tebu
Tebu (Saccharum officinarum L) merupakan salah satu tanaman yang  dapat ditanam di daerah beriklim tropis.  Di Indonesia, perkebunan tebu menempati luas areal ± 321 ribu hektar yang 64,74% diantaranya terdapat di pulau
Jawa.  Perkebunan tersebut tersebar di Medan, Lampung, Semarang, Solo dan Makassar.  Dari seluruh perkebunan tebu yang ada di Indonesia, 50% diantaranya adalah perkebunan rakyat, 30% perkebunan swasta dan hanya 20% perkebunan
Negara (Misran, 2005). 
Tebu adalah tanaman yang ditanam untuk bahan baku gula.  Tebu termasuk jenis rumput-rumputan.  Tanaman tebu dapat tumbuh hingga 3 meter di kawasan yang mendukung.  Umur tanaman sejak ditanam sampai bisa dipanen mencapai kurang lebih 1 tahun.  Tebu dapat dipanen dengan cara manual atau menggunakan mesin-mesin pemotong tebu.  Daun kemudian dipisahkan dari batang-batang tebu, kemudian baru dibawa ke pabrik untuk diproses menjadi gula.  Tahapan-tahapan dalam proses pembuatan gula dimulai dari penanaman tebu, proses ektrasi, pembersihan kotoran, penguapan, kritalisasi, afinasi, karbonasi, penghilangan warna, dan sampai proses pengepakan sehingga sampai ketangan konsumen (http://www.sucrose.com/).
Tabel 1.Komponen-komponen dalam batang tebu: komponen jumlah (%)   
Monosakarida            0,5-1,5
Sukrosa                    11-19
Zat-zat organik            0,5-1,5
Zat-zat anorganik           0,15
                 Sabut                       11-19 
                 Air                        65-75
Bahan-bahan lain             12
sumber: (Misran, 2005)
Menurut Purnomo (2012) ada beberapa sumber karbohidrat yang dapat digunakan untuk pembentukan bioflok seperti tepung tapioka, molase, tepung singkong dan salah satunya gula pasir, gula pasir merupakan golongan karbohidrat dengan C,H dan O sebagai unsur pembentuknya.  Gula pasir juga biasa disebut sukrosa (C12H22O11) dan termasuk golongan disakarida yang berasa manis, memiliki kandungan C sebesar 42.39% .
C.     Bioflok
Aiyushirota ( 2009) menyatakan bahwa Bioflok adalah pemanfaatan bakteri pembentuk flok (flocs forming bacteria) untuk pengolahan limbah.  Tidak semua bakteri dapat membentuk bioflok dalam air, bakteri pembentuk flok dipilih dari genera bakteri yang non pathogen, seperti dari genera Bacillus hanya dua spesies yang mampu membentuk bioflok.  Salah satu ciri khas bakteri pembentuk bioflok adalah kemampuannya untuk mensintesa senyawa Polihidroksi alkanoat (PHA), terutama yang spesifik seperti poli β‐hidroksi butirat.  Senyawa ini diperlukan sebagai bahan polimer untuk pembentukan ikatan polimer antara substansi substansi pembentuk bioflok (Aiyushirota, 2009).
Bioflok terdiri atas mikroorganisme (bakteri, ragi, fungi, protozoa, fitoplankton) dan limbah.  Komposisi organisme dalam flok akan mempengaruhi struktur bioflok dan kandungan nutrisi bioflok (Izquierdoet al., 2006; Ju et al., 2008) dengan ukuran bervariasi  kisaran 100 - 1000 μm (Azim dan Little., 2008; de Schryver et al., 2008). 
Bakteri yang mampu membentuk bioflok diantaranya:
•    Zooglea ramigera
•    Escherichia intermedia
•    Paracolobacterium aerogenoids
•    Bacillus subtilis
•    Bacillus cereus
•    Flavobacterium
•    Pseudomonas alcaligenes
•    Sphaerotillus natans
•    Tetrad dan Tricoda
D.     Bakteri dalam Sistem Bioflok
Penggunaan bakteri dalam budidaya perairan telah banyak dilakukan terutama dalam bentuk probiotik, baik untuk manajemen kualitas air maupun sebagai campuran pakan.  Beberapa penelitian tentang probiotik telah banyak dilakukan.  Probiotik (Bacillus) dapat mengontrol luminous vibrio dan  mampu meningkatkan kelulushidupan udang (Moriarty, 1999).  Far  et al. (2009) membuktikan bahwa  Bacillus subtilis mampu menurunkan Vibrio dalam pencernaan udang serta meningkatkan tingkat kelulusuhidupan dan biomassa.   Menurut Soundarapandian et al. (2010) dan Boonthai et al. (2011), probiotik memegang peranan penting dalam pertumbuhan, tingkat kelulushidupan udang dan resistensi terhadap penyakit dan meningkatkan kualitas air. Bakteri selain mampu menekan pathogen melalui mekanisme kompetisi, ternyata mampu menghasilkan senyawa yang menguntungkan untuk budidaya perairan, yaitu Polyhydroxyalkanoat (PHA).  Polyhydroxyalkanoat merupakan polimer yang diproduksi oleh beberapa jenis bakteri, mudah  terurai dalam air, ramah lingkungan, dapat diproduksi dari sumber karbon organik, dan berfungsi sebagai cadangan karbon dan energi (Santhanam dan Sasidharan, 2010, Shamala et al., 2003),.  Polyhydroxyalkanoat (PHA) tersusun dari 3 hydroxy fatty acid, yaitu : PHB (poly3hydroxybutyrat, CH3), PHV (poly3hydroxyvalerate, C2H5),
PHHx (poly3hydroxyhexanoate, C3H7).  Dari ketiga polimer tersebut, PHB merupakan polimer yang paling bermanfaat dalam budidaya perairan.  Manfaat PHB antara lain sebagai  cadangan energi bagi ikan/udang, dapat terurai dalam pencernaan, meningkatkan  asam lemak, dan mampu meningkatkan pertumbuhan ikan dan udang (Schryver, 2010).  Berdasarkan beberapa penelitian menunjukkan bahwa polyhydroxybutyrate dapat menghambat pathogen di usus dan sebagai antimikroba bagi vibrio, E. coli, dan Salmonella (Boon et al., 2010).  Beberapa jenis bakteri yang mampu menghasilkan PHB antara lain :Bacillus megaterium (Otari dan Ghosh, 2009), Bacillus cereus (Nair  et al., 2008, Margono, 2011), Alcaligenes eutrophus
(Shimizu et al., 1993), Pseudomonas oleovarans (Santhanam dan Sasidharan,
2010).

Dalam sistem bioflok, bakteri berperan sangat dominan sebagai organisme heterotof.  Bakteri memanfaatkan bahan-bahan organik (karbon) sebagai sumber energi untuk melangsungkan proses biologis dalam lingkungan budidaya.  Bakteri dipacu pertumbuhannya sedangkan fitoplankton ditekan.  Agar pertumbuhannya berjalan dengan baik, salah satunya dengan  manipulasi media dan inokulasi jenis bakteri tertentu.  Hal ini berbeda dengan prinsip bioremediasi (probiotik) yang hanya menambahkan bakteri yang menguntungkan tanpa manipulasi media budidaya.  Bakteri akan tumbuh dengan baik jika media budidaya mempunyai rasio C/N sekitar 20.  Penambahan sumber karbon dalam  media budidaya akan membantu  meningkatkan rasio C/N karena limbah yang dihasilkan (sisa pakan, feses, ekskresi) mengandung rasio C/N kurang dari 10.  Selain sebagai penyusun utama bioflok, bakteri juga menghasilkan polimer polyhydroxyalkanoat (PHA) yang berfungsi sebagai pembentuk ikatan. (Avnimelech, 2009). 
E.     Potensi Bioflok Sebagai Pakan Alternatif
Bioflok mengandung nutrisi sangat tinggi (kandungan protein lebih dari 40%), merupakan serat organik  yang kaya akan selulosa.  Masing-masing penyusun bioflok menyatu karena bakteri menghasilkan polimer
polyhydroxyalkanoat (PHA) yang dapat membentuk ikatan kompleks.  Struktur bioflok mirip dengan struktur yang ada pada protein bakteri, yaitu C5H7NO2.

Bakteri mempunyai ukuran yang sangat kecil, yaitu kurang dari 5 mikron.  Ukuran yang sangat kecil ini tidak mampu dimanfaatkan oleh ikan atau udang.  Dalam bentuk bioflok, ukurannya mampu mencapai 500 mikron hingga 2 mm, sehingga ukurannya cukup besar untuk dapat dimakan oleh ikan/udang.  Menurut Manser (2006), ukuran bioflok mencapai diameter 0,1-2 mm.  Pemanfaatan bioflok sebagai pakan udang telah dilakukan oleh Avnimelech (2007).  Keberadaan bioflok sebagai suplemen pakan telah meningkatkan efisiensi pemanfaatan nutrien pakan secara keseluruhan, bioflok dapat dimanfaatkan baik secara langsung maupun sebagai tepung untuk bahan baku pakan (Azim & Little, 2008; Ekasari, 2008; Kuhn et al., 2008; 2009).  Bakteri heterotrofik mengubah nutrient-nutrien tersebut menjadi biomass bakteri yang potensial sebagai bahan pakan ikan/udang.  Apabila hal ini dapat berlangsung dengan baik maka buangan limbah budidaya ikan dapat berkurang secara drastis.  Sistem heterotrof mempunyai potensi untuk diterapkan dalam pemanfaatan limbah amonia pada pemeliharaan ikan/udang (Gunadi &Hafsaridewi, 2007).  Menurut Crab dkk. (2007) komunitas bakteri yang terakumulasi didalam sistem akuakultur heterotrofik akan membentuk flok (gumpalan) yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan.  Salah satu jenis organisme akuatik yang dapat memakan komunitas mikrobial dalam bioflok adalah udang 

F. Kondisi yang Mendukung Pembentukan Bioflok
1.  Aerasi dan pengadukan (pergerakan air oleh aerator)
Oksigen jelas diperlukan untuk pengoksidasian bahan organik (COD/BOD), kondisi optimum sekitar 4‐5 ppm oksigen terlarut.  Pergerakan air harus sedemikian rupa, sehingga daerah mati arus (death zone) tidak terlalu luas, hingga daerah yang memungkinkan bioflok jatuh dan mengendap relatif kecil.  Suplai oksigen harus cukup karena bakteri tersebut bersifat heterotrof sehingga membutuhkan oksigen. Jika oksigen kurang maka tidak hanya menghambat pertumbuhan bakteri tetapi juga berbahaya bagi kehidupan ikan/udang dalam tambak (Maulina, 2009)

Muylder et al. (2010), menyatakan pembentukan bioflok harus memperhatikan pengaturan aerasi secara intensif karena sangat dibutuhkan untuk proses asimilasi dari sisa metabolisme udang oleh bakteri.  Dalam pembentukan bioflok harus ada penambahan starter yang mengandung karbon seperti gula, molase, tepung tapioka, tepung terigu, dan sebagainya.  Bakteri memanfaatkan bahan-bahan organik (karbon) sebagai sumber energi untuk melangsungkan proses biologis dalam lingkungan budidaya.

2.  Rasio C/N
Prinsip dari teknologi bioflok adalah menumbuhkan mikroorganisme terutama bakteri heterotrof di air budidaya yang dimaksudkan untuk menyerap komponen polutan, amoniak yang ada diperairan budidaya.  Agar dapat terbentuk bioflok, maka rasio C/N  di air tambak budidaya udang pola intensif harus > 10:1

Avnimelech (1999) menyatakan bahwa mengontrol nitrogen anorganik dengan cara memanipulasi rasio C/N merupakan metode pengendalian potensi untuk sistem akuakultur.  Kemampuan bakteri untuk dapat mengurangi nitrogen anorganik dalam lingkungan budidaya dan memproduksi protein mikrobial tergantung pada koefisien konversi mikroba, C/N rasio biomassa bakteri, serta kandungan karbon dari bahan yang ditambahkan (Avnimelech, 1999).

Berapa banyak karbon yang dibutuhkan oleh bakteri dapat diketahui berdasar pada nilai C/N rasio bakteri (Willet dan Morrison, 2006).  Jika C/N rasio bernilai tinggi seperti pada perairan alami, maka nitrogen akan semakin cepat hilang (Berard et al., 1995 dalam Beristain et al., 2005a).  Pada lingkungan budidaya pemberian pakan dengan kandungan protein tinggi akan menyebabkan terjadinya penyuburan nitrogen.  C/N rasio yang ditemukan pada kondisi tersebut sangat rendah.  Berikut merupakan nilai C/N rasio dari beberapa sistem menurut
Beristain et al., (2005) (Tabel 2) :
Tabel 2.  C/N rasio berbagai sistem akuatik
No     Sistem     C/N Rasio 
1     Laut     17 – 40 (rata-rata 6.99 – 27.63)
2     Danau     12.5 (rata-rata 6 – 30)
3     Kolam tanah pada tilapia     9.5 (rata-rata 7.1 – 10.55)
4     Sistem resirkulasi pada african catfish     ± 2.3


G.     Kelebihan dan Kekurangan Teknologi Bioflok
Beberapa kelebihan dan kekurangan dalam penerapan teknologi bioflok (BFT).  Suprapto (2007), menjelaskan bahwa teknologi bioflok memiliki kelebihan dan kekurangan.  
Kelebihan dari teknologi bioflok antara lain:
1.    pH relatif stabil dan cenderung rendah sehingga kandungan amoniak (NH3) relatif rendah.
2.    Tidak tergantung dari sinar matahari, namun aktivitasnya menurun apabila suhu rendah.
3.    Tidak perlu ganti air (sedikit ganti air) sehingga “biosecurity” terjaga.
4.    Limbah tambak (kotoran, alga, sisa pakan, ammonia), dapat didaur ulang dan dijadikan makanan alami dengan protein tinggi, serta lebih ramah lingkungan.

Kekurangannya dari teknologi bioflok antara lain: 
1.    Tidak dapat diterapkan pada tambak yang bocor/rembes karena sedikit pergantian air bahkan tidak ada pergantian air,
2.    Memerlukan peralatan (kincir) cukup banyak sehingga kebutuhan listrik lebih tinggi,
3.    Aerasi harus hidup terus karena apabila aerasi kurang maka akan terjadi pengendapan bahan organik sehingga resiko munculnya H2S tinggi.

H.     Sistem Budidaya Tanpa Ganti Air
Sistem budidaya tanpa ganti air merupakan suatu sistem yang efisien digunakan dalam kegiatan budidaya.  Penerapan sistem tersebut dapat menekan biaya produksi, tidak membutuhkan teknologi tinggi, dan dapat diterima masyarakat umum (Vidali, 2001).  Pada penerapan teknologi tersebut tidak dilakukan pembuangan feses dan bakteri ke perairan alami, sehingga dapat menghindari pencemaran perairan.  Tanpa dilakukannya pergantian air, maka berpindahnya organisme pathogen penyebab penyakit dari luar ke suatu wilayah budidaya maupun sebaliknya dapat dicegah (Lopez et al., 2008).  Penerapan sistem budidaya tanpa ganti air tetap perlu diwaspadai mengingat penurunan kualitas air sangat mudah terjadi dan dapat menganggu pertumbuhan serta kesehatan organisme akuatik (Riche dan Garling, 2003).  Penurunan kualitas air dalam budidaya tanpa ganti air disebabkan oleh penumpukan sisa pakan dan hasil ekskresi ikan/udang berupa urin dan feses.  Urin dan feses yang dikeluarkan tersebut mengandung amonia yang merupakan zat berbahaya bagi kesehatan organisme akuatik (Ghufran, 2009).  Amonia akan menjadi racun jika dibiarkan tetap menumpuk dalam kolam pemeliharaan.  Konsentrasi amonia yang tinggi dalam kolam pemeliharaan mengakibatkan pertumbuhan udang menjadi lambat dan mengalami kematian sehingga kelangsungan hidup menjadi rendah
(Hargreaves dan Tucker, 2004).
I. Bioflok dan Manajemen Kualitas Air
Kualitas air merupakan salah satu syarat keberhasilan budidaya.  Salah satu masalah utama dalam manajemen kualitas air adalah adanya akumulasi amonia, Jumlah amonia diekskresikan oleh ikan/udang bervariasi tergantung jumlah pakan dimasukkan ke dalam kolam atau sistem budidaya (Durborow et al.,
1997).  Limbah budidaya yang mengandung nitrogen anorganik sangat besar (75% dari pakan) merupakan penyebab utama dalam penurunan kualitas air budidaya udang.  Nitrogen anorganik dalam air berada dalam bentuk total ammonia nitrogen (TAN), nitrit, dan nitrat.  TAN dalam bentuk NH3 dan nitrit berbahaya bagi udang, sedangkan dalam bentuk nitrat tidak berbahaya.  Penambahan sumber karbon akan mengikat nitrogen anorganik menjadi senyawa organik (masa bakteri) yang mengandung protein tinggi.  Avnimelech (1999) membuktikan bahwa penambakan sumber karbon dengan rasio C/N 20 dapat menurunkan TAN secara drastis dalam waktu dua jam. 
Oksigen terlarut dan pH air pada sistem heterotrof relatif  stabil, baik pada
waktu siang maupun malam.  Pengguna oksigen dalam media budidaya didominasi oleh udang/ikan dan bakteri, sedangkan pada sistem autotrofik pada waktu malam hari selain ikan dan bakteri, fitoplankton merupakan  pengguna oksigen yang sangat besar, apalagi jika kepadatan fitoplankton tinggi.  pH air media relatif stabil karena pengguna karbondioksida terbatas sehingga pH tidak terlalu tinggi baik pada waktu siang maupun malam.  Pada sistem autotrof, pH siang hari  akan  mencapai  puncaknya jika  kepadatan fitoplankton tinggi,  karena karbondioksida digunakan oleh fitoplankton untuk melangsungkan aktivitas fotosintesis (Boyd, 2002)
Sumber nitrogen dalam kolam budidaya udang sebagian besar berasal dari sisa pakan, kotoran udang, dan hasil ekskresi melalui insang (Durborow et al., 1997).  Nitrogen anorganik dalam kolam budidaya udang dalam bentuk amoniak nitrogen total (TAN) dan nitrit.  T AN mempunyai dua bentuk yaitu amoniak yang tidak terionisasi (NH3) dan dalam bentuk ion (NH4+).  NH3 bersifat toksik pada udang sedangkan NH4+ tidak bersifat toksik (Boyd, 2000, Durborow  et al., 1997).   Keberadaan kedua bentuk TAN tersebut dipengaruhi oleh pH perairan.  Semakin tinggi pH perairan semakin tinggi perentase NH3 dalam kolam.  TAN akan dimanfaatkan oleh fitoplankton dan bakteri sebagai penyusun protein tubuh serta mengalami nitrifikasi, sedangkan nitrogen bebas dapat mengalami penguapan. 
Baca SelengkapnyaTEKNIS BIOFLOK DAN MANAJEMEN KUALITAS AIR

PENGARUH PENUMBUHAN BIOFLOK PADA BUDIDAYA UDANG VANAME POLA INTENSIF DI TAMBAK

Budidaya pola intensif dan super intensif udang putih (Litopenaeus vannamei) di Indonesia hingga kini telah berkembang dan menggunakan  berbagai jenis tambak yaitu tambak tanah, tambak semen dan tambak HDPE. Masing-masing jenis tambak tersebut mempunyai keunggulan dan kelemahan secara teknis dan ekonomis. Dalam kaitannya dengan teknologi produksi bioflok, Saenphon et al. (2005) menyatakan bahwa bioflok mudah terbentuk pada tambak yang menggunakan plastik HDPE, selanjutnya pada uji cobanya dengan luasan tambak 0,2 Ha, produksi udang vaname mencapai 30 ton/ha. Hal yang sama juga dikemukakan oleh Avnimelech, (2009) bahwa tambak untuk produksi bioflok sebaiknya dilapis plastik atau semen/beton. Namun demikian apakah dengan produksi bioflok menjadi lebih mudah di tambak HDPE dan tambak beton, maka secara otomatis akan berakibat pada produksi udang menjadi lebih tinggi dari pada tambak yang masih dengan dasar tanah berpasir. Hal ini belum bisa dijawab secara pasti, karena banyak faktor yang berpengaruh pada tingkat produksi dalam satu sistem budidaya. 
Alokasi biaya pakan  pada budidaya udang intensif dapat mencapai  60 – 70 % dari total biaya produksi. Maka upaya untuk efisiensi biaya produksi harus dilakukan, satu diantaranya adalah menggunakan teknologi bioflok (Avnimelech, 1999; 2007; Schryver et al, 2008). Prinsip dari teknologi bioflok adalah menumbuhkan mikroorganisme terutama bakteri heterotrof di air tambak yang dimaksudkan untuk menyerap komponen polutan, amonia yang ada di air tambak.  Agar dapat terbentuk bioflok, maka rasio C/N di air tambak budidaya udang pola intensif harus > 10 : 1, kemudian sedikit dilakukan penggantian air dan diberi aerasi yang kuat dan merata, sehingga oksigen tidak pernah lebih rendah dari 4 ppm. 
Bakteri heterotrof dalam air tambak akan berkembang pesat apabila di air tambak ditambahkan sumber C karbohidrat yang langsung dapat dimanfaatkan, misalnya sukrose, mollase, tepung tapioka, selanjutnya bakteri tersebut akan menggunakan N anorganik terutama amonia dalam air dan disintesa menjadi protein bakteri dan juga sel tunggal protein yang dapat digunakan sebagai sumber pakan bagi udang atau ikan yang dipelihara (Hari, et al., 2004).  Dengan demikian bioflok merupakan komunitas mikroba yang terdiri dari bakteria, protozoa dan zooplankton, sebagai suplemen pakan udang mengandung asam amino methionin, vitamin, mineral dan enzim yang dapat membantu proses pencernaan pakan pada udang. 
Apabila dalam tambak telah terbentuk bioflok     maka     diharapkan     akan     dapat menghemat pakan yang diberikan pada udang vaname karena bioflok dapat digunakan sebagai subsitusi pakan bagi udang vaname yang dibudidayakan. 
Tujuan penelitian adalah untuk monitor produksi flok dan beberapa parameter produksi (sintasan, produksi dan nilai konversi pakan) kaitannya dengan adanya penambahan molase pada budidaya udang vaname pola intensif di tambak beton dengan dasar tambak disemen (tambak A) dan tambak beton dengan dasar tambak tanah berpasir (tambak B). 
Metodologi
Monitoring dilakukan di tambak milik pengusaha di Desa Punaga Kabupaten Takalar pada dua unit tambak dimana satu petak tambak dinding pematang dan pelataran telah disemen ukuran  3250 m2 (tambak A) ditebari tokolan udang vaname PL 10 dengan padat tebar 170 ekor/m2 (561.200 ekor). Satu petak tambak lainnya hanya dinding pematang yang telah disemen, sedangkan pelatarannya masih berupa tanah berpasir ukuran 3915 m2 (tambak B) ditebari benur vaname PL 10 dengan padat tebar 148 ekor/m2 (579.600 ekor). Monitoring dimulai dari tahap persiapan tambak yang meliputi pengeringan, pengapuran, pengisian air, penebar-an, pemeliharaan dan panen. Selanjutnya dari dua petak tersebut, setelah penebaran udang dilakukan upaya sebagai berikut :
a). Satu petak tambak semen (Tambak A) diupayakan tumbuh bioflok dengan cara setelah dua  bulan pemeliharaan setiap dua hari ditambahkan     molase     sebagai     sumber     C- karbohidrat sebanyak 15 kg, tujuannya untuk meningkatkan rasio C : N di air tambak. 
Sebagai perhitungan yaitu rasio C : N  dalam pakan dijadikan dasar berapa penambahan molase ke air tambak dalam setiap hari. Misalnya, apabila jumlah pakan yang diberikan ke udang  pada waktu umur pemeliharaan 60 hari sebanyak 150 kg (protein pakan 35%)  dengan N pakan = 5,4%, maka jumlah N sebanyak  8,1 kg. C dalam pakan 45%, maka total C dalam pakan = 67,5 kg.  Dengan demikian rasio C : N dalam pakan = 8,33 : 1. Maka untuk menjadikan CN rasio 10 : 1,   seharusnya molase yang ditambahkan ke air tambak pada waktu pakan yang diberikan ke udang sebanyak 150 kg, yaitu sebanyak Jumlah N pakan x (10 – 8,33) x (100/45) = 8,1 kg x 1,67 x 2,2 = 29.75 kg. Apabila jumlah pakan yang diberikan ke udang telah berubah, maka jumlah molase juga berubah ditentukan oleh jumlah pakan yang diberikan ke udang dan rasio C : N yang diharapkan di air tambak. Namun karena kalau berdasarkan perhitungan diatas jumlah molase yang harus ditambahkan ke air tambak  cukup banyak yaitu 29,75 kg/hari, padahal ketersediaan molase terbatas, maka jumlah molase yang di tambahkan ke air tambak setiap dua hari sekali hanya 15 kg.
Disamping penambahan molase, juga dilakukan penambahan fermentasi probiotik ke dalam air tambak sebanyak 5mg/L/ hari. Tidak dilakukan pergantian air, tetapi setiap hari selalu ditambahkan air  minimal selama 8 jam air mengalir masuk ke tambak dan kandungan oksigen terlarut dipertahankan diatas 4 ppm selama pemeliharaan. Setelah 70 hari mulai dilakukan pembuangan air lewat sentral drain, terutama air yang berwarna hitam juga dilakukan sampling pertumbuhan udang. 
b). Satu petak tambak semen  (tambak B) tidak dilakukan upaya untuk menumbuhkan bioflok, jadi tidak dilakukan penambahan molase, tetapi hanya dilakukan penambahan fermentasi probiotik ke dalam air tambak sebanyak 5 mg/L/ hari. Fermentasi probiotik dibuat dengan cara 200 L air tambak dalam bak, ditambahkan molase 5 kg, pakan 5 kg, dedak 10 kg, ragi roti 20 g,  dan probiotik 2 liter kemudian diaerasi secara kuat selama dua hari. Selanjutnya siap untuk diaplikasikan ke tambak. 
Pengamatan yang dilakukan meliputi warna dan volume flok yang terbentuk terutama di petak A. Volume flok diperoleh dengan cara mengambil air tambak menggunakan tabung kaca kerucut (Imhoff cone) volume 250 mL, kemudian air dibiarkan dalam tabung selama 15 – 20 menit agar supaya mengendap. Selanjutnya dicatat berapa volume flok yang mengendap. pH air, suhu air, salinitas, oksigen terlarut dimonitor langsung di lapangan. Disamping itu juga diambil sampel air tambak untuk analisa kualitas air, bakteri, TSS dan VSS.    Perhitungan TSS dan VSS adalah sbb:
            A - B
TSS (mg/L) =  -------- x 100
                            V
A :  Bobot wadah petridish kosong + contoh uji flok yang sudah disaring B :  Bobot wadah petridish kosong (mg) V :  volume contoh (mL) = 50 mL.
VSS (mg/L) = TSS – jumlah abu

Data pertumbuhan, sintasan, produksi dan nilai konversi pakan dari dua petak yang dimonitor dibandingkan dan dianalisis secara diskriptif. Demikian juga untuk mengetahui kelayakan hasil budidaya udang vaname secara intensif dilakukan analisis ekonomi dengan menghitung R/C  ratio dan B/C ratio.
 
Hasil dan Pembahasan
Hasil monitoring menunjukkan bahwa pada tahap persiapan tambak sudah terdapat perbedaan antara petak A dan petak B. Di petak A (dasar tambak telah disemen) pada tahap persiapan tambak tidak ditambahkan kapur bakar, kaptan dan abu sekam,  air tambak  hanya dikaporit dengan konsentrasi 6 mg/L. Sedangkan di petak B (dasar tambak masih berupa tanah berpasir), teknik persiapan tambak meliputi pengeringan pelataran tambak tanpa dibalik dasar tanah tambak, ditambah kapur bakar 2000 kg, kaptan 2000 kg dan abu sekam 2500 kg. Setelah diisi air dengan ketinggian 70 cm, kemudian air dikaporit dengan konsentrasi 6 mg/L. Selanjutnya sebanyak 6 unit kincir di setiap petak dioperasikan. Setelah hari ke tiga, pada tanggal 1 Juni 2011, benur vaname PL 10 ditebar dengan padat tebar 170 ekor/m2 (561.200 ekor) di petak A. Di petak  B dengan padat tebar 148 ekor/m2 (579.600 ekor). 
Monitoring pemberian pakan dilakukan dari awal penebaran hingga menjelang panen. juga dilakukan berdasarkan monitoring pakan yang diberikan lewat anco. Terdapat 4 anco yang diletakkan di setiap sisi tambak. Total jumlah pakan yang dimasukkan ke anco sebanyak 0,3% dari total pakan yang diberikan, selanjutnya dimonitor setiap dua jam. Apabila dalam tempo dua jam pertama pakan di anco habis semua, maka jumlah pakan yang diberikan ke udang perlu ditambah. Namun apabila dalam tempo dua jam bahkan sampai tiga jam pakan di anco masih tersisa berarti jumlah pakan yang diberikan berlebih, sehingga harus dikurangi. Pemberian pakan dari awal hingga menjelang panen dilakukan dengan frekuensi 2 – 5 x  selama 24 jam. Waktu pemeliharaan selama 140 hari. 

Pengamatan Pertumbuhan Bioflok

Pada Umur Pemeliharaan 105 Hari (Kanan).      Sumber : Gunarto, et al. (2010)

Tabel 1. Volume Flok Yang Terbentuk Di Tambak Dengan Dasar Semen Yang Selalu Ditambahkan Molase (Tambak A) Dan Tambak Dasar Tanah (Tambak B)
Tanggal sampling
Volume bioflok yang terbentuk (mL)/L air tambak

    Aplikasi sumber C karbohidrat mulai 4 Juli 2011  (A)     Tanpa aplikasi sumber C karbohidrat  (B)
9/8
23/8
07/9
21/9
8/10
20/10
     0
5
10,0
12,0
14,0
15,0     0
0,0
8,0
10,0
12,0
13,0

A : diupayakan tumbuh bioflok dengan menambahkan molase di tambak  B : tidak ada upaya penumbuhan bioflok 
 Dari hasil  pengamatan bioflok di tambak, menunjukkan bahwa pada hari ke 70 di petak A yang telah dilakukan penambahan molase sebanyak 15 kg/dua hari, nampak flok mulai tumbuh meski masih kecil ukuran < 20 mikron dan berwarna hijau. Semakin hari volume dan ukuran flok semakin meningkat. Di petak B, nampak flok mulai tumbuh pada hari ke 90, padahal di petak B tidak dilakukan penambahan molase. Hal ini kemungkinan karena padat tebar udang tinggi (148 ekor/m2), sehingga jumlah pakan yang diberikan cukup banyak (pada hari ke 90 sebanyak 253 kg/hari). Fermentasi probiotik dari jenis yang berbedabeda diberikan setiap hari secara bergantian (Tabel 1), dengan ditambah dari sumber C – karbohidrat lainnya, misalnya dari plankton yang mati, dari dedak, pakan, molase yang digunakan  dalam fermentasi probiotik dan ditambahkan ke air tambak setiap hari, sehingga C N rasio di air tambak petak B kemungkinan juga  mencapai  10 : 1. Sehingga tanpa adanya  penambahan sumber C karbohidrat dari molase        Sumber : Gunarto, et al. (2010)
seperti yang dilakukan di petak A, maka flok dapat terbentuk dengan baik. Hal ini juga dikemukakan oleh Anonimous (2009) bahwa ditambak intensif atau super intensif dalam upaya pembentukan flok tidak perlu lagi ditambahkan sumber karbohidrat, karena C karbohidrat dari pakan sudah cukup tinggi (58 – 60%), kecuali kalau mau mempercepat proses pembentukan flok di tambak, maka diperlukan penambahan sumber C karbohidrat.
 Pada bulan ke tiga hingga menjelang panen parsial pada hari pemeliharaan ke 105 warna air tambak masih hijau pada petak A, sedangkan pada petak B pada hari ke 105 warna air tambak yang tadinya juga hijau telah berubah menjadi coklat dengan butiran flok terapung-apung di permukaan air. Pada kedua petak tersebut masih nampak melimpahnya busa di permukaan air tambak terutama di bagian pinggir petak tambak. Hal ini menandakan pada kedua petak tersebut flok telah berkembang. 
 Pengukuran volume flok pada hari ke 105, baik di petak A maupun B telah mencapai volume 15 mL/L air tambak. Dengan variasinya jenis probiotik yang digunakan, maka kemungkinan terjadi bioflokulasi yang terdiri dari kombinasi antara bakteri dan fitoplankton yang sangat baik untuk pertumbuhan udang terutama di petak B, sehingga udang di petak B pertumbuhannya lebih cepat. Disamping itu juga faktor padat tebar udang mempengaruhi laju tumbuh udang, dimana di petak A padat tebar udang 170 ekor/m2, sedangkan di petak B padat tebar 148 ekor/m2, sehingga udang di petak B lebih cepat tumbuh dari pada udang di petak A. Kecepatan aktifitas bioflokulasi ditentukan oleh jenis kombinasi mikroorganismenya. Kartika (2009) mendapatkan bahwa kombinasi antara diatom, Chaetoceros sp dengan bakteri Achromobacter liquefaciens, kemudian Thalassiosira sp dan Achromobacter liquefaciens merupakan kombinasi terbaik dalam pembentukan flok dan kondisi flok stabil sampai 7 hari. Kemudian dijelaskan juga bahwa rasio CN  yang paling baik untuk menghasilkan flok dan mereduksi amoniak adalah 10 : 1.
Menurut Avnimelech (2009) di air tambak udang umumnya volume flok sebanyak 2 – 40 mL/L dan mencapai 100 mL/L di kolam ikan. Sedangkan Nyam Tow (2010) menyatakan bahwa volume flok yang ideal untuk tambak udang adalah sebanyak 15 mL/L. Oleh karena itu pada penelitian ini flok yang terbentuk di air tambak selalu diatur agar tidak melebihi 15 mL/L air tambak, dengan cara menunda penambahan sumber C karbohidrat/molase tidak setiap dua hari sekali, tetapi menunda hingga setiap tiga hingga empat hari sekali dan kadangkadang juga dibarengi dengan dilakukan penggantian air tambak. Nilai Total Suspended Solid (TSS)  normal pada air tambak udang adalah sekitar 50 – 300 mg/L, sedangkan pada tambak ikan mencapai 1000 mg/L. Pada penelitian ini nilai TSS paling tinggi di tambak yang tidak ditumbuhkan bioflok adalah 211,6 mg/L, sedangkan pada tambak yang ditumbuhkan bioflok, nilai TSS tertinggi adalah 211,5 mg/L. Gunarto (Avnimelech, 2009) mengestimasi bahwa setiap 100 mg TSS/L air tambak adalah sama dengan sekitar 1000 kg pakan/Ha. Namun demikian berapa persen dari bioflok tersebut yang dapat menggantikan posisi pakan buatan karena telah dikonsumsi oleh udang, sehingga ada efisiensi pakan pada budidaya udang vanamei pola intensif. Hal ini masih perlu dilakukan penelitian secara detail tentang berbagai aspek bioflok diantaranya dari segi warna flok yang disukai oleh udang vaname yang dibudidayakan di tambak yang mampu mempercepat laju tumbuh udang.
                           
Kondisi Air Tambak
 Menurut Choo dan Tanaka (2000) parameter kualitas air yang muncul sebagai polutan pada pemeliharaan  udang pola intensif di tambak adalah amoniak dan konsentrasinya bisa mencapai 8,4 ppm di tambak udang windu pola intensif. Konsentrasi amoniak pada tambak yang dimonitor meningkat secara perlahan baik  di petak A maupun B hingga pertengahan Agustus 2011, dimana konsentrasi tertinggi mencapai 4,72 mg/L di petak A dan 3,38 mg/L di petak B. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun sudah dilakukan penambahan molase sejak tgl 4 Juli 2011, yang seharusnya bakteri heterotrof telah berkembang dan aktif memanfaatkan amoniak sebagai sumber N untuk pembentukan protein bakteri. Namun pada kenyataannya amoniak masih tinggi di air tambak hingga pada pertengahan Agustus 2011. Selanjutnya konsentrasi amoniak menurun dimana konsentrasi terendah terjadi pada awal September 2011 terutama di petak A mencapai  0,21 mg/L dan di petak B  sebanyak 0,67 mg/L, dimana flok telah terbentuk secara padat di kedua petak tersebut. Pada waktu menjelang panen parsial 19 September 2011, konsentrasi amoniak telah meningkat kembali terutama di petak A  1,48 mg/L dan di petak B  0,75 mg/L.   Konsentrasi nitrit pada awalnya sangat rendah dari awal tebar 1 Juni hingga awal Agustus 2011, namun selanjutnya meningkat mencapai 4,84 mg/L pada pertengahan Agustus 2011, sedangkan di petak A meningkat terus sampai 5,10 mg/L pada awal September  2011 dan selanjutnya menurun pada waktu menjelang panen parsial menjadi sekitar 3,51 mg/L di petak A  dan 3,54 mg/L di petak B. Nitrit di perairan berasal dari dekomposisi nitrogen yang berasal dari NH4 oleh adanya aktivitas bakteri Nitrosomonas sp. Selanjutnya nitrit diubah menjadi nitrat oleh aktivitas bakteri Nitrobacter sp. Proses ini akan berjalan optimal apabila jumlah oksigen di perairan tambak mencukupi, kapasitas buffer baik, pH netral dan suhu rendah. Namun demikian pada penelitian ini dari hasil analisis kualitas air menunjukkan bahwa pada  15 Agustus 2011 terindikasi dalam waktu yang sama terjadi puncak konsentrasi amoniak, nitrit dan nitrat baik di petak A maupun petak B. Sedangkan konsentrasi nitrat nampak tinggi dari pertengahan Agustus hingga menjelang panen 20 september 2011 yaitu mencapai 4,45  mg/L di petak A dan 5,34 mg/L di petak B. Konsentrasi fosfat meningkat terus sejak awal penebaran dan puncaknya terjadi pada pertengahan Agustus 2011 yaitu mencapai 3,18 mg/L di petak A dan 2,59 mg/L di petak B. Selanjutnya fosfat menurun terutama di petak A hingga mencapai 1,75 mg/L menjelang panen parsial. Sedangkan di petak B konsentrasi fosfat 2,43 mg/L. Hal ini mengindikasikan bahwa nitrat dan fosfat yang tersedia sangat melimpah di air tambak dan kurang dimanfaatkan oleh fitoplankton yang ada baik di petak A maupun petak B, karena kemungkinan yang berkembang di air tambak bukan lagi fitoplankton, tetapi bakteri heterotrof yang selanjutnya membentuk flok.

Pertumbuhan, Produksi Dan Sintasan Udang
Tabel 2.  Sintasan, Produksi Dan Nilai Konversi Pakan Pada Budidaya Udang Vaname Pola Intensif Dengan Penambahan Molase Untuk Menumbuhkan Bioflok (Petak A) Dan Tanpa Penambahan Molase (Petak B).
Perlakuan
     Padat tebar (ekor/m2)     Berat awal
(g)     Berat akhir (ekor/kg)     sintasan  (%)     Produksi kg/petak      Produksi
kg/Ha
     Nilai konversi pakan
A     170      0,005     41,7 – 52      88,55      11.123,5      34.226,15      1,82
B     148      0,005     36,5 – 46,5      99,6     15.030,0     38.390,80     1,66
A). Tambak dengan dinding pematang dan pelataran telah disemen, ditumbuhkan bioflok, bioflok tumbuh pada hari ke 75.   B). Tambak dengan dinding pematang telah disemen, pelataran tambak masih tanah berpasir, tanpa upaya ditumbuhkan bioflok  tetapi bioflok tetap tumbuh mulai hari ke 90.
    Sumber : Gunarto, et al. (2010) Tabel 3. Berat Akhir Udang, Sintasan, Produksi Dan Nilai Konversi Pakan Budidaya Udang Vanamei Intensif Sistem Bioflok
Padat tebar
(ekor/m2)     Berat awal
(g)     Berat akhir
(ekor/kg)     Sintasan
(%)         Produksi
(kg/petak)     Produksi
(kg/ha)     Nilai konversi pakan
148 - 170     0,005     41,7 - 52     88,55
99,6     –     11.123,5     –
15.030     34.226,15 –
38.390,80     1,66 – 1,82
Sumber  :  Laporan Penelitian APBN (Gunarto, 2011)
Monitoring pertumbuhan udang tidak dilakukan secara rutin setiap dua minggu sekali, tetapi hanya dilakukan pada hari ke 70 baru dilakukan penimbangan berat udang, dimana udang telah mencapai ukuran 7 – 9 gram/ekor. Pada hari ke 75 sudah mulai tumbuh flok di petak A, dengan air tambak berwarna hijau. Di petak B pada hari ke 90 nampak flok sudah berkembang, meskipun tidak ditambahkan molase dan air tambak juga berwarna hijau. Mulai berkembangnya flok ditandai dengan melimpahnya busa di permukaan air dan butiran butiran flok melayang-layang di kolom air tambak. Pada hari ke 105 flok di petak B telah berkembang dengan baik, air telah berubah menjadi berwarna coklat. Sedangkan di petak A yang ditambahkan molase, air tambak tetap berwarna hijau, meskipun flok juga telah berkembang dengan baik. 
Pada hari ke 110 mulai dilakukan panen parsial, di petak A dipanen sebanyak 3.216,5 kg dengan ukuran udang sebanyak 52 ekor/kg. Di petak B panen parsial sebanyak 2873 kg dengan ukuran udang 46,5 ekor/kg. 
Setelah panen yang kedua pada hari ke 140, total produksi udang di petak A (flok)  menjadi sebanyak 11.123,5 kg (34.226,15 kg/Ha). Sintasan 88,55%, konversi pakan  1,82. Ukuran udang 41,7 – 52 ekor/kg. Di petak B total produksi menjadi sebanyak 15030 kg (38.390,8 kg/Ha). Sintasan  99,6%, konversi pakan  1,66, ukuran udang 36,5 – 46,5 ekor/kg. Produksi dan ukuran udang di petak B nampak lebih besar dari pada di petak A, kemungkinan ada kaitannya dengan penambahan abu sekam pada waktu tahap persiapan tambak. Putro dan Prasetyoko (2007) melaporkan bahwa kandungan silikat, SiO2 dalam abu sekam padi adalah sebanyak 94 – 96%. Dengan jumlah silikat di air tambak dalam jumlah yang cukup, sehingga diatom berkembang baik. Selanjutnya flok yang terbentuk adalah kombinasi antara diatom dan bakteri pembentuk flok yang bakteri tersebut berasal dari berbagai jenis probiotik yang setiap hari diaplikasikan secara bergantian. Dengan demikian kemungkinan flok yang terbentuk di petak B kualitasnya lebih baik dari pada flok yang terbentuk di petak A. Darminto dalam Bob Rosenberry (2011) melaporkan bahwa pada budidaya udang vanamei di tambak beton di Bali dengan padat tebar 120 ekor/m2 menggunakan teknologi bioflok produksi udang mencapai 15 – 30 ton/Ha. Di tambak yang dimonitor pada penelitian ini dengan padat tebar 148 – 170 ekor/m2 produksi udangnya mencapai 34 – 38 ton/Ha. 
Sintasan udang di petak A lebih rendah dari sintasan udang di petak B. Namun demikian dengan sintasan yang mencapai 88 – 99% selama pemeliharaan 140 hari, merupakan hasil yang sangat menguntungkan.
Analisis Usaha 
Untuk mengetahui kelayakan suatu budidaya     perlu     dilakukan     analisis     usaha berdasarkan hasil akhir dari sistim budidaya itu sendiri, hasil analisis di konversi kedalam  1 Ha. Hasil analisis disajikan pada masing-masing di tabel 3 dan 4dibawah ini.
Tabel 4. Analisis Usaha
No.     Uraian     Jumlah     Harga          satuan
(Rp)     Total (Rp)
A     Investasi              
    Sewa tambak ) (ha/tahun)
Pompa (unit)
Kincir (unit)     1
4
40     18.000.000
 6.000.000
 4.000.000       18.000.000
24.000.000
160.000.000
     Sub Total               202.000.000
B     Biaya Variabel              
    Benur vaname
Pakan
Probiotik
Molase
Tepung ikan
Dedak
Ragi Roti
Kapur bakar
Kaptan
Dolomit
Solar
Pemeliharaan tambak (paket)
Pemeliharaan peralatan
(paket)
Lain –Lain (Paket)
Bunga modal      1.500.000 ekor
63.727 kg
80 jerigen
1000 L
300 kg
200 kg
10.kg
2000 kg
2000 kg
2000 kg
1000 L
1
1
1
2, 5%     32,5
12.500
350.000
5000
10.000
2.500
50.000
1000
1500
1200
4500
15.000.000 15.000.000 15.000.000
23.471.050        48.750.000  796.587.500
   28.000.000
     5.000.000
     3.000.000
         500.000
         500.000
      2.000.000       3.000.000       2.400.000
      4.500.000
  15.000.000
  15.000.000
    15.000.000
    23.471.050
     Sub Total                 962.708.550
C     Biaya Tetap              
    Pompa (6 bulan)
Kincir (6 bulan)
Sewa tambak/musim/6 bulan)     4
40
1ha        600.000
   400.000
9.000.000            2.400.000
     16.000.000
        9.000.000
     Sub Total                     27.400.000
D     Total Biaya permusim/Total     -     -        990.108.550
E     Produksi permusim (nilai jual)     36.308 kg     55.000,-       1.996.940.000
F     Keuntungan               
    1.    Kotor
2.    Bersih (upah penjaga (20
% dari keuntungan kotor )     -   

-        -   

-        1.006.831.450

    805.465.160
G     Kelayakan Usaha              
    -    R/C ratio
-    B/C ratio     -    -        -    -        2,02
1,02
Sumber  :  Laporan Penelitian APBN (Gunarto, 2011)
Budidaya     udang     vaname     dapat dilakukan 2 kali dalam setahun (6 bulan per musim). Bunga bank termasuk biaya tetap yang dihitung berdasarkan ratio bunga bank pertahun sebesar 11% karena digunakan hanya 1 musim tanam. Perhitungan Reveniu cost ratio (R/C ratio) nilai sebesar 2,02 menunjukkan kelayakan usaha (2,02>1) dalam usaha semusim, sedangkan untuk Benefit cost ratio (B/C ratio) sebesar 1,02  (1.02 >1) sangat layak bagi usaha yang berkelanjutan. IRR secara rational dilihat dari prosentase bungan bank yang berlaku lebih kecil 11 % pertahun (modal yang digunakan apabila disimpan dalam bank kovensional nilai bungan yang diperoleh selama 3-4 bulan/musim lebih kecil dibandingkan dengan keuntungan bersih yang diperoleh per musim) maka usaha budidaya udang vanamei sistem bioflok secara intensif (padat karya) layak dikembangkan. 

Kesimpulan
   Pada budidaya udang vanamei pola intensif dengan padat tebar 148 – 170 ekor/m2, flok lebih cepat berkembang pada petak A, tambak yang ditambahkan molase, yaitu mulai terbentuk pada hari ke 75. Sedangkan petak B, tambak yang tidak ditambah molase flok juga terbentuk mulai pada hari ke 90. Padat tebar yang tinggi, jumlah pakan yang banyak diberikan ke udang setiap hari selama masa pemeliharaan, pemberian berbagai jenis probiotik secara bergiliran setiap hari, sirkulasi air minimal selama delapan jam sehari, diduga hal tersebut berpengaruh pada terbentuknya flok di tambak, meskipun tidak ditambahkan molase. Juga berakibat pada kecepatan pertumbuhan udang di tambak. 
Total hasil panen di petak A (flok)  sebanyak 11.123,5 kg (34.226,15 kg/Ha), dengan sintasan 88,55%, konversi pakan 1 : 1,82. Ukuran udang rata-rata 46 ekor/kg. Di petak B produksi 15030 kg (38.390,8 kg/Ha), sintasan  99,6%, konversi pakan  1,66, ukuran udang 41,5 ekor/kg. Berdasarkan hasil ini menunjukkan bahwa meskipun di petak A lebih cepat terbentuk flok dibanding di petak B, namun produksi udang lebih rendah dan nilai konversi pakan lebih tinggi dari yang diperoleh di petak B. Analisis hasil budidaya difokuskan pada tambak dengan produksi tertinggi yaitu petak B yang dikonversi dalam 1 ha sebanyak 36.308 kg (rata-rata dari 34.226,15 kg/Ha - 38.390,8 kg/Ha ) dengan nilai Rp. 805.465.160/musim . Budidaya udang vaname dapat dilakukan 2 kali dalam setahun. Perhitungan Reveniu cost ratio (R/C ratio) nilai sebesar 2,02 menunjukkan kelayakan usaha (2,02>1) dalam usaha semusim, sedangkan untuk Benefit cost ratio (B/C ratio) sebesar 1,02 
(1.02 >1) sangat layak bagi usaha yang berkelanjutan.

Ucapan Terima Kasih
  Terima kasih kami ucapkan pada Bapak Drs. Gunarto, MSc, yang telah mengijinkan penulis menambahkan analisis sosial ekonomi pada tulisan hasil penelitiannya, meskipun tulisan ini kami usahakan mensajikan sebaik mungkin tetapi kami sadari banyak sekali kekurangan dalam menyiapkannya, karena itu isinkan saya meminta maaf sebelumnya.

Daftar Pustaka
Anonimous, 2009. Konsep budidaya udang sistem     bakteri     heterotroph     dengan bioflocs. AIYU Shirotabiota Indonesia. Biotechnology Consulting & Trading Komplek Sapta Taruna PU, Blok B1 No.     13     Bandung,     Jawa     Barat,
Indonesia. 14 hlm.
Avnimelech, Y. 1999. Carbon/Nitrogen ratio as control element in aquaculture systems. Aquaculture 176 : 227 – 235.
Avnimelech, Y. 2007. Feeding with microbial flocs by tilapia in minimal discharge bio-flocs     technology     ponds.
Aquaculture 264 : 140 – 147.
Avnimelech, Y. 2009. Biofloc Technology, A
Practical Guide Book. World Aquaculture Society. Baton Rouge, Louisiana, Amerika Serikat, 181 hlm.
Bob     Rosenberry,     2011.     Shrimp     News
International, free news page. New release in 2011. Darminto take over big Penaeus monodon farm in Bali since 1988. www.shrimpnews.com, 11 Nopember 2011.
Choo, P. S. dan K. Tanaka. 2000. Nutrient levels in ponds during the grow-out and harvest phase of Penaeus monodon under     semi-intensive     or     intensive culture. JIRCAS Journal (8) : 13 – 20.
Ekasari, J. 2008. Bio-flocs technology : The effect of different carbon source, salinity and the addition of probiotics on the primary nutritional value of the bio-flocs. Thesis Master pada Ghent University, Belgia. 91 hlm.
Haryadi, S., Suryodiputro, I. N. N., dan B. Widigdo, 1992. Limnologi. Penuntun Praktikum  dan   metode analisa air. Institut Pertanian Bogor. Fakultas Perikanan, 57 hlm.
Hari, B., Kurup, B. M., Varghese, J. T., Schrama, J. W., dan Verdegem, M. C. J. 2004. Effects of carbohydrate addition on production in extensive shrimp culture systems. Aquaculture 241 : 179 – 194.
Gunarto,  Suryanto, H.,  Wibowo, A.F., dan
Syafaat, N. 2010. Monitoring Produksi   
Bioflok Pada Budidaya Udang Vaname Pola Intensif Di Tambak Semen. Laporan Hasil Penelitian 2010, Balai
Penelitian     dan     Pengembangan
Budidaya Air Payau, Maros
Kartika, A. 2008. Optimum rasio C/N medium dengan     penambahan     sukrose     pada pembentukan     bioflok     untuk peningkatan kualitas air pada sistem akuakultur.     Sekolah     Ilmu     dan Teknologi     Hayati     ITB,     email     : kartikalifl@yahoo.com
Nyan Taw, 2010. Recent progress of biofloc technology for sustainable shrimp (pacific white shrimp) eficiency and profitability. International Conference on Shrimp Aquaculture. Universitas Hang Tuah Surabaya, 28 – 29 Oktober 2010, 36 hlm.
Putro, A. L., dan D. Prasetyoko. 2007. Abu sekam padi sebagai sumber silika pada sintesis     zeolit     ZSM-5     tanpa menggunakan templat organik. Akta Kimindo. 3 (1) : 33 – 36.

Saenphon, C., N. Taw. M. H. Edi dan A. Schryver, P. D., R. Crab, T. Devoirdt, N. Boon, Gunawan. 2005. Culture trials on W. Verstraete. 2008. The basic of production potential of L. vannamei in bioflocs technology : The added value heterotropic (bacteria floc) system. for aquaculture. Aquaculture 227 : 125 Makalah disajikan pada seminar WOC – 137. di Bali. Agustus 2005.
Baca SelengkapnyaPENGARUH PENUMBUHAN BIOFLOK PADA BUDIDAYA UDANG VANAME POLA INTENSIF DI TAMBAK