Pages

IKAN SILI ( Macrognathus aculeatus ) TERANCAM PUNAH

Ikan Sili termasuk ikan sungai yang banyak dijumpai di Sumatera, Kalimantan, dan Jawa. Karena bentuknya panjang seperti belut dan berduri, anggota dari famili Mastacembelidae itu populer disebut spiny eel alias belut berduri. Hasil penelitian Fishbase – lembaga pusat informasi ikan dalam naungan organisasi pangan dunia (FAO) – menunjukkan terdapat  83 spesies sili di dunia. Dari jumlah itu 15 jenis di antaranya hidup di sungai tawar di Asia, termasuk 10 jenis di tanahair, seperti Macrognathus aculeatus, M. maculatus, dan Mastacembelus unicolor – ketiganya ada di Jawa.
Ikan sili sudah lama terkenal di Jawa dan beberapa daerah luar jawa sejak dulu kala. Hanya keberadaan ikan sili yang semakin sedikit semakin lama akan semakin sedikit dan bisa-bisa terancam punah. Sili termasuk ikan sungai yang banyak dijumpai di Sumatera, Kalimantan, dan Jawa. Karena bentuknya panjang seperti belut dan berduri, anggota dari famili Mastacembelidae itu populer disebut spiny eel alias belut berduri. Hasil penelitian Fishbase – lembaga pusat informasi ikan dalam naungan organisasi pangan dunia (FAO) – menunjukkan terdapat  83 spesies sili di dunia. Dari jumlah itu 15 jenis di antaranya hidup di sungai tawar di Asia, termasuk 10 jenis di tanahair, seperti Macrognathus aculeatus, M. maculatus, dan Mastacembelus unicolor – ketiganya ada di Jawa.
Namanya pendek dan singkat : sili. Namun, Macrognathus armatus itu cukup tenar di jagad maya ikan hias negeri Barrack Obama. Ikan pipih panjang bermotif batik zigzag itu laku keras sebagai pengisi akuarium air tawar. Sebagai ikian konsumsi ikan sili sangat enak, bila di pecel dengansambal terasi sangat nikimat.
Ikan sili masih sering di jumpai di sungai di daerah Talun, Kayen Kab.Pati, dan kadang kala ada di pasar’
Sili termasuk ikan sungai yang banyak dijumpai di Sumatera, Kalimantan, dan Jawa. Karena bentuknya panjang seperti belut dan berduri, anggota dari famili Mastacembelidae itu populer disebut spiny eel alias belut berduri. Hasil penelitian Fishbase – lembaga pusat informasi ikan dalam naungan organisasi pangan dunia (FAO) – menunjukkan terdapat  83 spesies sili di dunia. Dari jumlah itu 15 jenis di antaranya hidup di sungai tawar di Asia, termasuk 10 jenis di tanahair, seperti Macrognathus aculeatus, M. maculatus, dan Mastacembelus unicolor – ketiganya ada di Jawa.
Ikan hias
Dua dari tiga suku famili Mastacembelidae, yaitu Macrognathus dan Mastacembelus terdapat di Indonesia. Hanya suku Sinobdella yang tidak ditemukan di Indonesia. Macrognathus dan Mastacembelus sepintas sama, perbedaannya terletak pada jumlah spina – duri – di punggung. Macrognathus memiliki 31 duri, Mastacembelus 33 duri. Keduanya mempunyai sosok tubuh menarik. Bentuknya ramping seperti sabuk dengan balutan warna di sekujur tubuh. Di Amerika Serikat dan negara Uni Eropa mereka mengisi akuarium-akuarium di ruang tamu.
Yang tak kalah menarik Mastacembelus erythrotaenia. Sebagai ikan hias, tubuhnya yang pipih dengan motif batik hitam, merah, serta strip kuning terlihat sempurna. Keindahan tubuhnya kian kentara saat ditaruh pada akuarium minim cahaya. Semburat merah dan kuning terpancar dari tubuhnya yang mencapai panjang 55 cm itu bak kilatan api. Oleh karena itu, julukan belut berduri api melekat pada Mastacembelus.
Sili lainnya Macrognathus zebrinus, memiliki sisik bermotif batik bak zebra. Sedangkan Mastacembelus unicolor, bermotif  lurik  bagai selembar tenunan kain batik, dan Macrognathus siamensis bermotif menyerupai merak jantan yang tengah mengembangkan ekor. Itulah sebabnya siamensis dijuluki peacock eel alis belut merak.
Terancam punah
Sejatinya dari ketiga spesies sili yang ada di Jawa belum masuk daftar Red List (spesies yang terancam keberadaannya, red) yang dikeluarkan oleh lembaga konservasi alam dunia International Union for Conservation of Nature (IUCN) pada 2010. Namun, hasil penelitian yang dilakukan sejak 2000 di sungai-sungai di Jawa Tengah, populasi tilan – sebutan sili di Sumatera – berada di ujung tanduk.
Penelitian yang dilakukan di Sungai Serayu, Klawing, Banjaran, Mengaji, dan Logawa – semuanya di Kabupaten Banyumas dan Purbalingga Jawa Tengah – tak satu pun dari lokasi itu bisa ditemukan lebih dari 10 ikan. Rata-rata 3 – 4 ekor di setiap tempat dengan jantan lebih dominan. Lebih tragis lagi Macrognathus maculatus, hanya ditemukan 1 ekor di hilir Sungai Serayu.
Cemaran pestisida, herbisida, dan pemakaian pupuk berlebih ke sungai menjadi penyebab terancamnya habitat alami sili. Belum lagi, limbah rumahtangga yang dibuang ke sungai, menjadi sumber pencemaran. Dan yang tak kalah penting: rusaknya tepian dan dasar sungai akibat aktivitas penambangan pasir dan batu. Di sepanjang Sungai Serayu, Logawa, dan Klawing truk pengangkut pasir dan batu lazim ditemui hilir-mudik. Pasir yang diambil dari sungai dapat merusak habitat sili yang menyukai kondisi dasar sungai berlumpur, pasir, serta kaya serasah daun. Lewat penelitian ekologi diharapkan populasi sili meningkat dan memperkaya pilihan hobiis ikan hias. (Dr rer. nat W. Lestari, MSc dan Drs Sugiharto MSi, staf pengajar Laboratorium Ekologi, Fakultas Biologi, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto)
Perlu banyak dikembangkan usaha budidaya ikan sili dengan membuat pembenihan dan pendederan ikan tersebut. Ikan sili durinya di bagian tengan sehingga bagi yang menikmati ikan tersebut sebagai konsumsi terasa enak tanpa resiko terkena duri ikan.
KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan
Berdasarkan  hasil  penelitian  ini,  maka  dapat  disimpulkan  beberapa  hal agai berikut :
Sampel ikan rawa yang diteliti diperoleh dari perairan rawa di Selatan Kalimantan, tepatnya di Kota Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut, Propinsi Kalimantan Selatan, terdiri dari 5 spesies, yaitu M. erythrotaenia (ikan sili), H. fortis (ikan baung), C. micropeltes (ikan toman), C. striatus (ikan haruan), dan C. lucius (ikan kehung). Sampel ikan memiliki panjang 25,50-42,00 cm, bobot tubuh utuh 152,00-343,00 g dan bobot fillet daging 42,00-150,00 g. Dari perbandingan antara bobot daging fillet dengan bobot ikan utuh didapat persentase rendemen produksi fillet sebesar 27,63-43,73%.
Ikan rawa yang diteliti memiliki kandungan proksimat yang bervariasi, yaitu kadar air sebesar 74,23-78,84%, kadar abu 0,99-4,13%, kadar lemak sebesar 0,45-3,24%, dan kadar protein 15,85-21,74%.
Analisis asam lemak menunjukkan bahwa beberapa spesies ikan rawa yang diteliti  mengandung  11  jenis  asam  lemak,  meliputi  asam  lemak  jenuh (SAFA) yang terdiri dari asam laurat, asam miristat, asam palmitat, dan asam stearat; asam lemak tak jenuh tunggal (MUFA) yang terdiri dari asam palmitoleat dan asam oleat, serta asam lemak tak jenuh jamak (PUFA) yang meliputi asam linoleat, linolenat, asam arakhidonat, asam eikosapentaenoat (EPA), dan asam dokosaheksaenoat (DHA). Asam lemak yang mendominasi adalah asam palmitat sebesar 8,86-19,99% (b/b) dan asam oleat yang temasuk kedalam golongan omega-9 sebesar 5,19-19,66% (b/b).
Timbal (Pb) dan kadmium (Cd) tidak terdeteksi oleh alat yang digunakan pada sampel yang dianalisis. Kandungan logam berat kadmium (Cd) dan timbal (Pb) berada di ambang batas aman konsumsi.
2. Saran
Saran yang dapat diberikan dari penelitian ini adalah :
Perlu dilakukan penelitian terhadap spesies lain yang tersebar di perairan rawa lokasi lain di Indonesia.
Perlu penelitian lebih lanjut tentang kandungan vitamin dan mineral lain yang diperlukan untuk kesehatan tubuh.
Perlu diteliti aspek biologi, daerah penyebaran, besarnya stok, teknologi pemanfaatan   yang   efisien, informasi pasar, dan kemungkinan produksi pertahun.
Untuk  mendapatkan hasil penelitian yang optimal, disarankan untuk menggunakan bahan baku sampel dalam kondisi yang segar dan kesegaran ikan harus terjaga dengan baik selama pasca penangkapan.Dua dari tiga suku famili Mastacembelidae, yaitu Macrognathus dan Mastacembelus terdapat di Indonesia. Hanya suku Sinobdella yang tidak ditemukan di Indonesia. Macrognathus dan Mastacembelus sepintas sama, perbedaannya terletak pada jumlah spina – duri – di punggung. Macrognathus memiliki 31 duri, Mastacembelus 33 duri. Keduanya mempunyai sosok tubuh menarik. Bentuknya ramping seperti sabuk dengan balutan warna di sekujur tubuh. Di Amerika Serikat dan negara Uni Eropa mereka mengisi akuarium-akuarium di ruang tamu.
Yang tak kalah menarik Mastacembelus erythrotaenia. Sebagai ikan hias, tubuhnya yang pipih dengan motif batik hitam, merah, serta strip kuning terlihat sempurna. Keindahan tubuhnya kian kentara saat ditaruh pada akuarium minim cahaya. Semburat merah dan kuning terpancar dari tubuhnya yang mencapai panjang 55 cm itu bak kilatan api. Oleh karena itu, julukan belut berduri api melekat pada Mastacembelus.
Sili lainnya Macrognathus zebrinus, memiliki sisik bermotif batik bak zebra. Sedangkan Mastacembelus unicolor, bermotif  lurik  bagai selembar tenunan kain batik, dan Macrognathus siamensis bermotif menyerupai merak jantan yang tengah mengembangkan ekor. Itulah sebabnya siamensis dijuluki peacock eel alis belut merak.
Terancam punah
Sejatinya dari ketiga spesies sili yang ada di Jawa belum masuk daftar Red List (spesies yang terancam keberadaannya, red) yang dikeluarkan oleh lembaga konservasi alam dunia International Union for Conservation of Nature (IUCN) pada 2010. Namun, hasil penelitian yang dilakukan sejak 2000 di sungai-sungai di Jawa Tengah, populasi tilan – sebutan sili di Sumatera – berada di ujung tanduk.
Penelitian yang dilakukan di Sungai Serayu, Klawing, Banjaran, Mengaji, dan Logawa – semuanya di Kabupaten Banyumas dan Purbalingga Jawa Tengah – tak satu pun dari lokasi itu bisa ditemukan lebih dari 10 ikan. Rata-rata 3 – 4 ekor di setiap tempat dengan jantan lebih dominan. Lebih tragis lagi Macrognathus maculatus, hanya ditemukan 1 ekor di hilir Sungai Serayu.
Cemaran pestisida, herbisida, dan pemakaian pupuk berlebih ke sungai menjadi penyebab terancamnya habitat alami sili. Belum lagi, limbah rumahtangga yang dibuang ke sungai, menjadi sumber pencemaran. Dan yang tak kalah penting: rusaknya tepian dan dasar sungai akibat aktivitas penambangan pasir dan batu. Di sepanjang Sungai Serayu, Logawa, dan Klawing truk pengangkut pasir dan batu lazim ditemui hilir-mudik. Pasir yang diambil dari sungai dapat merusak habitat sili yang menyukai kondisi dasar sungai berlumpur, pasir, serta kaya serasah daun. Lewat penelitian ekologi diharapkan populasi sili meningkat dan memperkaya pilihan hobiis ikan hias. (Dr rer. nat W. Lestari, MSc dan Drs Sugiharto MSi, staf pengajar Laboratorium Ekologi, Fakultas Biologi, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto)
Baca SelengkapnyaIKAN SILI ( Macrognathus aculeatus ) TERANCAM PUNAH

PEMANFAATAN TANAMAN OBAT TRADISIONAL dalam pengendalian Penyakit Ikan

Salah satu alternatif penanggulangan penyakit ikan air tawar yang aman adalah dengan menggunakan tanaman obat. Bahan obat lain yang relatif lebih aman untuk lingkungan dan efektif dalam mengobati penyakit ikan dapat menggunakan bermacam-macam tanaman obat tradisional. Indonesia sebagai negara tropis memiliki kekayaan tanaman yang berpotensi menjadi obat. Banyak jenis tanaman yang mengandung senyawa yang bersifat antimikroba. Sejumlah tanaman mengandung senyawa bersifat bakterisidal (pembunuh bakteri), dan bakteristatik (penghambat pertumbuhan bakteri).
Dari beberapa percobaan, fitofarmaka terbukti efektif mengatasi penyakit ikan air tawar dan memiliki beberapa keuntungan, seperti : Pertama, dapat menjadi bahan alami pengganti antibiotik untuk pengendali penyakit yang disebabkan bakteri. Kedua, ramah terhadap lingkungan, mudah hancur/terurai, dan tidak menyebabkan residu pada ikan dan manusia.Ketiga, mudah diperoleh dan tersedia cukup banyak, keempat harganya ekonomis dan cukup murah.
Fitofarmaka yang dapat dijadikan pengganti antibiotik untuk mengatasi penyakit ikan air tawar adalah bawang putih (Allium sativum), dan daun ketapang (Termmalia cattapa). Hasil penelitian lainnya menginformasikan bahan lain yang dijadikan bahan antibiotik adalah daun sirih (Piper betle L), daun jambu biji (Psidium guajava L), jombang (Taraxacum officinale) dan daun sambiloto (Androgaphis paniculata). Daun sirih diketahui berdaya antioksidasi, antiseptik, bakterisida, dan fungisida. Tanaman sambiloto bersifat anti bakteri, sedangkan daun jambu biji selain bersifat anti bakteri juga bersifat anti viral.
Beberapa tanaman obat yang sudah ditelitI oleh peneliti dari BRKP DKP .
 Tanaman obat dan manfaatnya

No Jenis Tanaman Dosis Perlakuan Peruntukan/Khasiat

1).  Meniran
5000 mg/l
Rendam (5 jam)
Anti. Aeromonas hydrophila

2).  Kipahit
10.000 mg/l
Rendam (3 jam)
Anti. Mycobacteriosis

3). Daun Semboja
600-700mg/l
Rendam
Anti Aeromonas hydrophila

4). Sambiloto 200-300 mg/l
Rendam (lama)
Anti Aeromonas hydrophila
400 mg/l Rendam (lama) Meringankan KHV

Penelitian dengan tujuan untuk mendapatkan informasi tentang potensi ekstrak daun kipahit (Picrasma javanica) dalam penanggulangan penyakit “mycobacteriosis” pada ikan Gurame telah dilakukan di Laboratorium penyakit ikan Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar, Bogor. Ekstrak daun kipahit secara invitro pada berbagai dosis diuji efektifitasnya terhadap bakteri Mycobacterium fortuitum. LC50 bakteri Mycobacterium fortuitum dan toksisitas ektrak daun juga diuji terhadap ikan uji. Kegunaan ekstrak daun juga diuji bagi pengobatan ikan Gurame yang telah diinfeksi oleh bakteri Mycobacterium fortuitum pada level 108 cfu/ml. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun kipahit pada level konsentrasi 10.000 mg/l dapat menghambat pertumbuhan bakteri uji, sedangkan perendaman ikan uji yang terinfeksi bakteri dengan dosis yang sama dengan lama perendaman 3 jam dapat digunakan untuk pengobatan penyakit Mycobacteriosis.

Penggunaan bahan-bahan alami digunakan untuk pengendalian jamur antara lain dapat menggunakan kunyit, bawang putih, daun sirih, daun pepaya dan brotowali. Bahan-bahan ini dapat berguna untuk membasmi penyakit jamur yang menempel pada tubuh ikan, walaupun dalam membasmi suatu penyakit dengan menggunakan bahan-bahan alami memiliki waktu yang lama. Kemudian dari ke-5 bahan-bahan alami yang dapat menyembuhkan penyakit jamur pada ikan yaitu bawang putih. Sumber lain menyampaikan informasi adanya manfaat dari tanaman alami untuk obat seperti pada Tabel 2.
 Tanaman obat dan manfaatnya
No. Jenis Tanaman Dosis Peruntukan/Khasiat

1. Bawang putih 25mg/l Obati serangan Aeromonas hydrophila pada ikan patin
2. Daun sirih 2gr/60ml Obati serangan Aeromonas hydrophila pada ikan lele
3. Daun jambu biji 0,2gr/60ml Obati serangan Aeromonas hydrophila pada ikan lele
4. Daun sambiloto 2gr/60ml Obati serangan Aeromonas hydrophila pada ikan lele
5. Daun jombang dan ketapang 60gr/l Obati serangan Aeromonas hydrophila pada ikan patin
(Zainal Abidin, 2005)
Ketapang.jpg

Pengobatan penyakit pada ikan dengan cara herbal banyak mulai dilakukan, dengan tujuan mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan. Penggunaan tumbuhan obat tradisional dalam pencegahan dan pengobatan penyakit ikan memiliki kelebihan antara lain mudah diperoleh, murah, efektif untuk mencegah dan mengobati penyakit ikan, dan relatif aman bagi ikan, lingkungan, dan manusia yang mengonsumsinya (konsumer). Selain itu, kelebihan lainnya adalah tidak menimbulkan resistensi pada pathogen.
Bawang putih
fungsi : pencegahan atau pengobatan penyakit bakteri
dosis : 10-20 gr/ kg pakan
aplikasi : tumbuk bawang putih, campurkan ke dalam telur ayam yg sdh di kocok terlebih dahulu lalu dicampur dengan pakan atau pelet. setelah dicampur rata, keringkan dgn pelet.

Kunyit
fungsi : pencegahan a/ pengobatan penyakit bakteri
dosis : 2,5 gr perasan kunyit/liter air
aplikasi : - tumbuk/blender kunyit, peras, lalu tambah air
- campurkan dalam pelet atau pakan.

Ragi/Yeast
fungsi : pencegahan atau pengobatan penyakit bakteri
dosis : 0.1 - 1 % ragi roti dalam pakan
aplikasi : campurkan ke dalam telur ayam (sudah kocok) dan campur dgn pakan atau pele

Daun Sirih
fungsi : pencegahan atau pengobatan penyakit bakteri, parasit (8,3ppt) dan anti jamur
dosis : 2 gr/60 ml air
aplikasi : direbus dgn air,setelah dingin rendam ikan yg terkena penyakit

Daun pepaya
fungsi : pencegahan atau pengobatan penyakit bakteri
dosis : 2 gr/60 ml air
aplikasi : diremas lalu campur dgn air, rendam ikan yg terkena penyakit selama 24 jam

Buah Mengkudu
Fungsi : pencegahan atau pengobatan penyakit bakteri
Dosis : 5 buah / 10mtr2 luas kolam
Aplikasi : Buah Mengkudu diiris kecil-kecil, direndam dalam air probiotik 1 x 24 jam
               Ditebarkan ke kolam secara merata beserta air rendamannya.

Buah Mahkota Dewa
Fungsi : pencegahan atau pengobatan penyakit bakteri
Dosis   : 5 buah/ 10mtr2 luas kolam
Aplikasi : Kupas kulit buah mahkota dewa, jemur sampai kering. Rendam daun mahkota dewa yg kering dalam probiotik 1 x 24 jam dan tebarkan secara merata ke kolam beserta air rendamannya.
note:
aplikasi herbal dilakukan secara terus menerus dengan selang waktu 1 minggu
(1 minggu penggunaan dan 1 minggu tidak)
sebaiknya penggunaan obat herbal tidak hanya 1 jenis tetapi kombinasi dari bbrp jenis herbal.
Saat ini kian banyak yang sadar akan kegunaan obat-obatan alami atau herbal untuk mengatasi penyakit pada ikan lele. Hal ini seiring dengan semakin banyaknya temuan penelitian yang mengungkap khasiat sejumlah tanaman dan bumbu dapur untuk memperbaiki kondisi kesehatan lele. Bahan-bahan yang sudah teruji diantaranya adalah bawang putih, mengkudu, temulawak, kunyit, meniran, ragi, daun sirih, dun sambiloto, daun pepaya, daun jambu biji, daun paci-paci, segala pahit-pahitan, dan masih banyak lainnya.
Menambah Nafsu Makan Pada Lele
jangan remeh kan temulawak yang bisanya kita tidak sadar/tidak tahu itu namanya. tanpa kita sadari bahwa temulawak  bisa lho buat menambah nafsu makan ikan lele. ni buat yang punya lele tidak semangat makanya ini obatnya.
untuk menambah nafsu makan ikan lele metode herbal.  di campur dengan pakan. 0.2 : 0,25 : 1 kg gram:
0.2 kg temulawak, (curcuma) "bahasa latinya"
0,25 kg air (di usahakan air hangat) karna dengan keadaan hangat sari temulawak akan terangkat secara maksimal)
1 kg pakan / pelet.
pembuatan :
1. parut temulawak
2. campur dengan air hangat 0.25
3. peras dan saring parutan temulawak tadi
4. campurkan air perasan temulawak tadi dengan pelet sebanyak 1 kg.
5. diamkan selama 10 menit.
nb. setelah di camput jangang lebih dari 8 jam.

(diambil dari berbagai sumber)
Baca SelengkapnyaPEMANFAATAN TANAMAN OBAT TRADISIONAL dalam pengendalian Penyakit Ikan

BAHAYANYA MENGKONSUMSI IKAN SAPU-SAPU (Hypostomus plecostomus)

Ikan sapu-sapu atau ikan bandaraya adalah sekelompok ikan air tawar yang berasal dari Amerika tropis yang termasuk dalam famili Loricariidae, namun tidak semua anggota Loricariidae adalah sapu-sapu. Ikan ini dikenal sebagai pemakan alga/"lumut" dan sangat populer sebagai ikan pembersih akuarium. Dalam perdagangan ikan internasional ia dikenal sebagai plecostomus atau singkatannya, plecos dan plecs. Di Malaysia orang menyebutnya "ikan bandaraya" karena fungsinya seperti petugas pembersih kota ("bandar"). Di Indonesia, analogi yang sama juga dipakai tetapi alatnya yang dipakai sebagai nama (sapu). Ikan ini nyaris dapat hidup bersama dengan ikan akuarium apa saja dan diperdagangkan dalam ukuran kecil atau sedang. Meskipun demikian, ia bisa tumbuh sepanjang 60 cm dan menjadi kurang aktif dan kurang bersahabat. Ikan ini omnivora (pemakan segala) tapi biasanya mencari sisa-sisa tumbuhan air di malam hari.
Sebenarnya sapu-sapu mencakup banyak jenis anggota Loricariidae, meskipun yang paling umum dikenal adalah Hypostomus plecostomus. Karena banyaknya impor berbagai macam sapu-sapu, dan banyak sekali yang belum diidentifikasi secara benar, disusunlah suatu daftar sapu-sapu yang disebut nomor-L (L-number) untuk mencirikannya secara sementara.
Siapa yang tidak mengenal ikan dengan nama lucu ini, sapu-sapu. Nama ini melekat bukan tanpa alasan. Ikan dengan nama ilmiah Hypostomus Plecostomus ini memang dikenal pemakan alga atau lumut. Hal ini tentu menguntungkan jika ia dipelihara bersama ikan lainnya di dalam akuarium, sebab ia akan berfungsi sebagai pembersih. Sapu dalam akuarium! Ikan sapu-sapu dikenal juga dengan nama ikan bandaraya. Habitat aslinya di air tawar dan dikelompokkan ke dalam kerabat Loricariidae. Karakteristiknya memang kurang bersahabat namun ikan ini tetap digemari sebab ia memang fungsional bukan hanya sebagai penghias belaka.
Ikan sapu-sapu dikenal sebagai ikan yang memakan semua jenis makanan atau omnivora, meski kebanyakan memang mengkonsumsi tumbuhan air seperti kelompok alga. Ada banyak jenis dari sapu-sapu ini. Saking banyaknya, masih ada banyak varian yang belum diidentifikasi dan diberi nama. Ikan mini ini memiliki dua alat pernafasan yakni insang dan juga labirin. Insang sendiri digunakan pada saat ikan sapu-sapu berada di dalam air yang jernih. Sementara itu, alat pernafasan labirin baru digunakan jika ia berada di dalam air dengan lumpur atau air dengan tingkat kekeruhan yang tinggi. Oleh sebab itu, harapan hidup ikan yang satu ini cukup tinggi sebab ia bisa hidup di lumpur sekalipun.
Berniat Memelihara Ikan Sapu-sapu?
Jika Anda berniat memelihara ikan sapu-sapu, cermatilah jenisnya. Berikut beberapa varian ikan sapu-sapu yang paling populer dipelihara:
Jenis ikan sapu Common Pleco. Ikan ini disebut common karena memang yang paling banyak dipelihara. Sepintas ia mirip dengan ikan lele tetapi siripnya menyamping dan lebih lebar. Warnanya abu-abu ke hitam dengan gradasi warna putih tapi tidak dominan.
Jenis lainnya adalah zebra pleco. Sama seperti namanya, jenis ikan sapu-sapu yang satu ini memiliki tampilan seperti zebra. Permainan warna hitam dan putih membuat ia sangat digemari sebagai ikan hias.
Jenis lainnya adalah Gold Nugger Pleco. Ia Warna dasarnya adalah hitam pekat tetapi dipemanis dengan bintik-bintik kuning di sepanjang tubuhnya. Karena itu ia dinamai “gold”.
Jenis lainnya adalah scarlet pleco. Ia memiliki tampilan mirip dengan common. Hanya saja gradasi warna yang ada bukan putih tapi merah muda.
Sunshine Pleco. Jenis ini sepintas mirip dengan Gold pleco. Hanya saja warna dasarnya bukan hitam yang bold dan totolnya bukan kuning yang bold. Warnanya hangat seperti matahari.
Jenis selanjutnya adalah Medusa pleco. Warna dasarnya adalah hitam dan dipermanis dengan bintik hitam kecil.
Jenis ikan sapu-sapu yang paling populer selanjutnya adalah flash pleco. Mirip dengan zebra tetapi jika pada zebra, perpaduan warna hitam dan putih seimbang, pada flash pleco, warna yang dominan justru hitam. Warna putih hanya serupa garis saja. Siomay. Panganan ringan yang berbahan baku tepung dan ikan tenggiri ini adalah makanan cemilan yang sangat difavoritkan oleh masyarakat. Kudapan yang pas jika dikunyah pada sore hari ini digemari banyak kalangan dari anak – anak sampai dewasa. Bahkan akhir – akhir ini ada saja produsen siomay yang menjual siomaynya dengan nama “Siomay Pink”.
Namun kamu penggemar siomay, harus berhati – hati karena ada banyak pedangang siomay yang bertindak nakal dengan mengganti bahan baku siomay asli berbahan ikan tenggiri dengan ikan lain dengan kualitas rendah yang dapat mengancam kesehatan kamu. Demi mendapatkan keuntungan yang lebih. Mereka mengganti ikan tenggiri dengan ikan sapu – sapu yang didapatkan dari sungai.
Ikan sapu – sapu yang didapatkan dari Kali Ciliwung ini diketahui ikan yang mengkonsumsi endapan lumpur dan sampah. Dan jika dikonsumsi oleh masyarakat akan membahayakan kesehatan karena menurut penelitian, endapan lumpur di Kali Ciliwung tercemar logam dengan konsentrasi tinggi.
Sebenarnya ikan sapu – sapu adalah ikan yang layak dikonsumsi. Tetapi, ikan sapu – sapu yang dapat dikonsumsi adalah ikan yang di ternak yang diberi pakan ikan dan bukan ikan liar yang memakan sampah dan endapan lumpur.
Maka kamu sekarang jika ingin memakan siomay harus lebih berhati – hati dan jeli. Berikut ada tips untuk kamu yang gemar makan siomay untuk membedakan siomay berbahan ikan tenggiri dengan ikan sapu – sapu. Siomay yang terbuat dari ikan tenggiri, kenyal dan wangi gurih saat dibuka tutup panci. Sedangkan siomay yang berbahan dasar ikan sapu – sapu, lembek dan berbau amis saat dibuka tutup pancinya.
Pemilihan makanan yang baik akan memberikan dampak yang baik pula bagi kesehatan kita. Maka berhati – hatilah saat mengkonsumsi apapun. Perhatikan bentuk, rasa dan warna sebelum mengkonsumsinya.
Ikan sapu-sapu di daerah perairan yang bersih dan tidak ada pencemaran linmbah industri memang masih bisa di konsumsi dengan berbagai cita rasa masak antara lain : bakso, kerupuk, siomay, kaki naga dan lain-lainya.

Baca SelengkapnyaBAHAYANYA MENGKONSUMSI IKAN SAPU-SAPU (Hypostomus plecostomus)

IMUNOSTIMULAN IKAN MAS (CYPRINUS CARPIO) DENGAN JINTAN HITAM

Tubuh ikan mas memiliki ciri-ciri antara lain: bentuk badan memanjang dan sedikit pipih ke samping, mulut terletak di ujung tengah (terminal) dan dapat disembulkan (protektil) serta dihiasi dua pasang sungut. Selain itu di dalam mulut terdapat gigi kerongkongan, dua pasang sungut ikan mas terletak di bibir bagian atas.
Gigi kerongkongan (pharyngeal teeth) terdiri atas tiga baris yang berbentuk geraham, memiliki sirip punggung (dorsal) berbentuk memanjang dan terletak di bagian permukaan tubuh, berseberangan dengan permukaan sirip perut (ventral) bagian belakang sirip punggung memiliki jari-jari keras sedangkan bagian akhir berbentuk gerigi, sirip dubur (anal) bagian belakang juga memiliki jari-jari keras dengan bagian akhir berbentuk gerigi seperti halnya sirip punggung, sirip ekor berbentuk cagak dan berukuran cukup besar dengan tipe sisik berbentuk lingkaran (cycloid) yang terletak beraturan, gurat sisik atau garis rusuk (linea lateralis) ikan mas berada di pertengahan badan dengan posisi melintang dari tutup insang sampai ke ujung belakang pangkal ekor.
Habitat
Huet, (1971) menyatakan habitat ikan mas hidup pada kolam-kolam air tawar dan danau-danau serta perairan umum lainnya. Dalam perkembangannya ikan ini sangat peka terhadap perubahan kualitas lingkungan. Ikan mas merupakan salah satu ikan yang hidup di perairan tawar yang tidak terlalu dalam dan aliran air tidak terlalu deras. Ikan mas dapat hidup baik di daerah dengan ketinggian 150600 meter di atas permukaan air laut dan pada suhu 25-30°C. Meskipun tergolong ikan air tawar, ikan mas kadang-kadang ditemukan di perairan payau atau muara sungai yang bersalinitas 25-30 ppt.
Untuk memenuhi permintaan produk perikanan yang terus meningkat, penerapan intensifikasi budidaya tidak dapat dihindarkan. Namun, intensifikasi budidaya dapat menimbulkan berbagai dampak penyakit. Salah satu kendala yang menghambat budidaya ikan mas adalah kehadiran patogen bakteri yaitu Aeromonas hydrophila. Bakteri ini menyebabkan penyakit (Motile Aeromonas Septicemia) atau penyakit bercak merah. Bakteri ini menyerang berbagai jenis ikan air tawar seperti lele dumbo, (Clarias gariepinus), ikan mas (Cyprinus carpio), gurami (Osphronemus gouramy) dan udang galah (Macrobrachium rosenbergii) dan dapat menimbulkan wabah penyakit dengan tingkat kematian tinggi (80-100%) dalam waktu 1-2 minggu.
Pengendalian bakteri ini sulit karena memiliki banyak strain dan selalu ada di air serta dapat menjadi resisten terhadap obat-obatan (Kamiso dan Triyanto 1993). Ghufron dan Kordi (2004) menyebutkan bahwa terjadi serangan bakteri Aeromonas yang menyebabkan kematian puluhan ton ikan pada tahun 1980 di Jawa Barat dan sekitarnya.
Hingga kini, metode yang banyak digunakan untuk menanggulangi penyakit pada ikan budi daya adalah pengobatan dengan zat kimia atau antibiotik. Penggunaan antibiotik dan terapi kimiawi untuk penanganan penyakit ikan pada akuakultur telah mendapatkan kritikan tajam (FAO, 2005). Penanganan yang dilakukan di tingkat petani bergantung pada antibiotik seperti Oxytetracycline, inroflaxic dan malachite green (Jangkaru, 2007) namun penggunaan antibiotik yang berlebihan dapat menyebabkan resistensi dari bakteri terhadap pengobatan.
Berkaitan dengan permasalahan tersebut, perlu ada alternatif bahan obat yang lebih aman yang dapat digunakan dalam pengendalian penyakit ikan. Salah satu alternatifnya adalah dengan menggunakan tumbuhan obat tradisional yang bersifat anti parasit, anti jamur, anti bakteri, dan anti viral. Beberapa keuntungan menggunakan tumbuhan obat tradisional antara lain relatif lebih aman, mudah diperoleh, murah, tidak menimbulkan resistensi, dan relatif tidak berbahaya terhadap lingkungan sekitarnya.
Beberapa tumbuhan obat tradisional yang diketahui dapat dimanfaatkan dalam pengendalian berbagai agen penyebab penyakit ikan adalah sirih (Piper betle L.), daun jambu biji (Psidium guajava L.), sambiloto (Andrographis paniculata). Daun sirih diketahui berdaya antioksidasi, antiseptik, bakterisida, dan fungisida. Tanaman sambiloto bersifat anti bakteri, sedangkan daun jambu biji selain bersifat anti bakteri juga bersifat anti viral.
Salah satu upaya pengobatan terhadap penyakit M.A.S. pada ikan mas adalah dengan memanfaatkan Jintan hitam (Nigella sativa) yang dapat berperan sebagai zat anti bakteri. Nigella sativa L. (Ranunculaceae) yang dikenal sebagai “black cumin” atau Habbatusauda merupakan tanaman obat namun bukan asli Indonesia karena tanaman ini tumbuh di daerah Mediterranean dan juga dibudidayakan di Turki. Biji jintan hitam telah digunakan ribuan tahun sebagai bumbu dan pengawet makanan. Kandungan minyak dan bahan yang terdapat dalam biji jintan hitam memiliki potensi sebagai obat di dunia medis tradisional (Salem, 2005). Akhir-akhir ini aktivitas biologis dari biji of Nigella sativa L. dilaporkan memiliki kemampuan antioksidan, antiinflamasi, anti-kanker dan anti mikroba. Biji Nigella sativa L. mengandung sejumlah besar minyak (Kokdil and Yilmaz 2005) dan konstituen utama dari ekstrak biji jintan hitam adalah adalah thymoquinone (Aboul-Ela 2002). Beberapa pengaruh farmakologis telah dikaitkan dengan unsur yang terkandung alam d Nigella sativa L. termasuk thymoquinone, thymohydroquinone, dithymoquinone, thymol, carvacrol, nigellicine, nigellimine-x-oxide, nigellidine dan alpha-hedrin (Aljabre et al. 2005). Kemampuan anti bakteri ekstrak jintan hitam jug dilaporkan oleh Ali et al. (2007) yang meneliti pengaruh ekstrak terhadap bakteri gram positif dan negatif.
Berdasarkan penelitian Ali et al. (2007) ekstrak ether biji jintan hitam dapat menghambat bakteri S. aureus dan M. luteus yang menghasilkan zona daya hambat masing 15 dan 12 mm. Hannan et al. (2008) melaporkan bahwa ekstrak ethanol dari jintan hitam dapat menghambat pertumbuhan bakteri Methicillin Resistant Staphylococcus aureus (MRSA).
Penelitian mengenai uji in-vitro Nigella sativa terhadap Aeromonas hydrophila baru dilakukan oleh Tumar dan Boimin (2006) yang menyimpulkan bahwa konsentrasi terendah dari Nigella sativa  yang diekstrak, menghasilkan zona daya hambat terhadap Aeromonas hydrophila  pada nilai 2 %  (20.000 ppm) dan memberikan rerata diameter zona daya hambat sebesar 6,83 mm. Tumar dan Boimin (2006) belum melakukan penelitian lebih lanjut mengenai uji LC 50 terhadap ikan air tawar sehingga toksisitas lebih lanjut dari jintan hitam terhadap ikan tidak diketahui.
Pembuatan ekstraksi jinten hitam untuk mendapatkan produk minyak jintan hitam memerlukan biaya yang cukup tinggi sehingga perlu diteliti pemanfaatan jintan hitam untuk pengobatan dengan cara yang lebih praktis. Salah satu metoda yang dapat dilakukan adalah menyiapkan rebusan jintan hitam dan memanfaatkan filtratnya untuk pengobatan ikan.  Prosedur demikian setara dengan proses penyiapan aqueous extract dan water boiled extract namun efektifitasnya perlu dikaji lebih jauh. Pengaruh jintan hitam secara langsung terhadap ikan juga perlu dikaji untuk menyarankan konsentrasi jintan hitam yang aman bagi ikan.
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah mengkaji efektivitas penggunaan larutan filtrat jintan hitam (nigella sativa) dengan konsentrasi berbeda terhadap pertumbuhan  bakteri aeromonas hydrophila secara in-vitro dan uji toksisitasnya terhadap ikan mas (cyprinus carpio).
METODA PENELITIAN
Rancangan, Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi dan Laboratorium Akuakultur Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjajaran. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei 2010 sampai dengan Juni 2010.
Penyediaan Ikan
Ikan uji yang digunakan dalam penelitian toksisitas atau LC50 adalah ikan mas (Cyprinus carpio) yang berasal dari BBI Ciparay, Kabupaten Bandung. Ikan mas yang digunakan merupakan ikan dengan bobot 7 – 10 gram sebanyak  200 ekor dengan padat penebarannya 10 ekor per akuarium.
Penyediaan Jintan Hitam
Biji jintan hitam yang digunakan berasal dari Toko Babah Kuya, Jln Pasar Barat (belakang Pasar Baru Bandung) dalam bentuk tepung halus  sebanyak  1 kg.
Bakteri Patogen
Bakteri patogen yang digunakan adalah Aeromonas hydrophila yang berasal dari Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar, Bogor dengan kode isolat AH-26. Kepadatan bakteri sejumlah 108 CFU/ml ditentukan dengan spektrofotometer. Asumsi bakteri sejumlah 109 CFU/ml ditentukan dengan panjang gelombang 595 nm dan nilai O.D. harus sama dengan 0,424 (Wichaksana et al. 2003).
Media Tumbuh
Media tumbuh yang digunakan untuk kultur dan uji in-vitro adalah Triptic Soy Agar
(TSA) merk dagang DIFCO dengan dosis pembuatan 40 gram/L aquades dan Triptic Soy Broth (TSB) merk dagang DIFCO dengan dosis pembuatan 30 gram/L.
Alat Bantu Penelitian
Alat-alat bantu yang digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut:
•    Autoclave untuk mensterilkan media bakteri dan peralatan lainnya
•    Hot plates dan stir plates untuk memanaskan media bakteri
•    Magnetic stirrer untuk mengaduk larutan media bakteri
•    Petri dish sebanyak 10 buah sebagai wadah uji
•    Jarum ose sebanyak 1 buah untuk mengambil dan menginokulasikan bakteri
•    L glass untuk meratakan bakteri
•    Kertas saring Whatman no. 42 dengan diameter 5 mm yang berfungsi sebagai kertas cakram untuk menentukan zona bening
•    Parafilm sebagai segel cawan petri untuk mencegah kontaminasi
•    Pembakar bunsen untuk mensterilkan udara pada saat inokulasi bakteri
•    Inkubator untuk inkubasi bakteri
•    Jangka sorong digital dengan ketelitian 0,1 mm sebanyak 1 buah untuk mengukur zona bening yang terbentuk
•    Laminar flow sebagai ruang untuk menginokulasi bakteri
•    Timbangan digital untuk menimbang berat simplisia biji jintan hitam, media agar TSA dan media TSB
•    Vortex mixer untuk homogenisasi larutan simplisia biji jintan hitam
•    Mikro pipet merk Eppndorf dengan ketelitian 100 µL-1000µL
•    Disposable mikro pipet tips
•    Rak tabung reaksi
•    Kapas
•    Alumunium foil
•    Plastik tahan panas
•    Plastik wrap
•    Botol Schoot merk Duran vol. 50 ml 1 buah dan vol 25 ml 2 buah sebagai wadah pencampuran larutan dengan media
•    Tabung reaksi merk Pyrex sebanyak 20 buah sebagai wadah larutan simplisia biji jintan hitam sesuai konsentrasi uji
•    Petri dish merk Pyrex sebanyak 20 buah sebagai wadah uji
•    Tabung Corning 15 ml sebanyak 20 buah sebagai peralatan homogenisasi larutan simplisia dan larutan bakteri
•    Mikro pipet dengan EppEndorf dengan ketelitian 100 µL-1000 µL sebanyak 1 buah untuk mengambil bakteri
•    Cuvette plastik ukuran 2 ml sebanyak 10 buah untuk kelengkapan analisis spektofotometer

Peralatan yang digunakan untuk uji in vivo LC50:
•    Akuarium sebagai wadah penelitian sejumlah 20 buah, masing-masing berukuran 38cm x 23cm x 20 cm.
•    Bak fiber volume 500L sebanyak 2 buah digunakan untuk penampung ikan
•    Bak fiber volume 1000L sebanyak 1 buah digunakan untuk wadah penampung air
•    Aerator, selang aerasi dan batu aerasi untuk memasok O2 pada setiap akuarium dan bak fiber
•    Serokan sebanyak 1 buah untuk mengambil ikan mas
•    Timbangan digital untuk menimbang berat ikan dan simplisia biji jintan hitam
•    Tabung elemeyer sebanyak 15 buah sebagai wadah simplisia biji jintan hitam
 Pelaksanaan Penelitian
Uji In-vitro
Uji in-vitro yang dilakukan terdiri dari uji zona daya hambat dan uji Minimum Inhibition Concentration (MIC).
Uji zona daya hambat dilakukan untuk mengetahui kemampuan dari filtrat simplisia biji jintan hitam sebagai antibakteri dalam menghambat metabolisme Aeromonas hydropilla. Uji sensitivitas obat dilakukan dengan menggunakan kertas cakram diameter 5 mm dibuat dari kertas saring whatman no.4 2 dan direndam dalam larutan jintan hitam pada konsentrasi 500 ppm, 1000 ppm, 5000 ppm, 10.000 ppm dan 20.000 ppm selama 24 jam.
Peralatan dan bahan yang digunakan untuk uji zona daya hambat disterilisasi terlebih dahulu dengan autoclave. Metode pengerjaan dilakukan secara steril di ruang laminar flow untuk mencegah kontaminasi. Kertas saring Whatman dengan diameter 0,5 cm yang telah direndam pada larutan filtrat simplisia jintan hitam (Nigella sativa) selama 24 jam dipersiapkan lalu diletakan diatas media petri dish agar TSA yang telah diinokulasi dengan bakteri Aeromonas hydrophila sebanyak 0,5 ml dengan kepadatan 108 CFU/ml. Masing-masing  perlakuan konsentrasi diulang 2 kali. Petri dish kemudian diinkubasikan selama 24 jam pada suhu 350C dalam inkubator. Diameter zona hambatan yang dihasilkan pada uji ini kemudian diamati.
 Uji     MIC     (Minimum     Inhibitory     Concentration)dan     Uji     MBC     (Minimum     Bactericidal Concentration)
Uji MIC dilakukan untuk mengetahui dosis minimum yang dapat digunakan untuk menghambat pertumbuhan bakteri Aeromonas hydrophila dengan menggunakan filtrat simplisia biji jintan hitam. Sebanyak 1 ml tryptic soy broth ditambahkan pada setiap tabung uji. Sejumlah 1ml filtrat yang disiapkan untuk dimasukan ke dalam tabung reaksi berbeda dari segi konsentrasi dan disesuaikan dengan  perlakuan yaitu konsentrasi filtrat simplisia biji jintan hitam 250 ppm, 500 ppm, 750 ppm, 1000 ppm, 1500 ppm, kontrol positif (dengan bakteri dan tanpa jintan hitam) dan kontrol negatif (tanpa bakteri dan tanpa jintan hitam). Perlakuan tersebut diulang sebanyak dua kali.
Pengamatan MIC dilakukan dengan pengamatan kualitatif yaitu dengan melihat adanya kekeruhan pada media sebagai indikasi adanya pertumbuhan bakteri setelah 24 jam inkubasi pada suhu 370C dan bila medianya bening diindikasikan tidak ada pertumbuhan bakteri.
Pengamatan lanjutan dari MIC adalah pengamatan Minimum Bactericidal Concentration (MBC). Pada uji MBC, sebanyak 0,7 ml dari setiap tabung perlakuan MIC diinokulasikan pada agar untuk membuktikan adanya pertumbuhan bakteri.
Persiapan untuk melakukan penelitian ini termasuk persiapan alat dan media agar yang dibutuhkan kemudian di autoclave agar alat dan bahan seperti agar dan NaCl dapat menjadi steril. Media agar Triptic Soy Agar yang telah di autoclave didiamkan hingga hangat kuku, lalu dituang ke dalam petri dish steril hingga rata keseluruh permukaan petri dish kemudian disimpan  selama 24  jam pada suhu rendah. Larutan filtrat simplisia biji jintan hitam dipersiapkan dengan menimbang bubuk jintan hitam sesuai konsentrasi yang diinginkan dan kemudian dimasukkan pada media aquadest steril dalam erlenmeyer dengan volume 250 ml. Hasil campuran bubuk dengan aquadest kemudian dipanaskan selama 15 menit pada suhu 600C kemudian disaring dengan kertas saring kasar.
Bakteri Aeromonas hydrophila yang akan digunakan diencerkan dengan larutan NaCl fisiologis 0,85%. Larutan bakteri hasil pengenceran dicampur dengan larutan jintan hitam sesuai konsentrasi perlakuan
Media agar kemudian diinkubasi selama 24 jam lalu dihitung koloni bakterinya. Koloni yang dapat dihitung antara 30-300 koloni (Lukistyowati 2000, dalam Hudanullah 2010)
 Uji in vivo LC50 (Lethal Concentration 50%) Perendaman Larutan Simplisia Biji Jintan Hitam Terhadap Ikan Mas (Cyprinus carpio)
 Uji LC50 perendaman larutan filtrat simplisia biji jintan hitam dilakukan untuk mendapatkan konsentrasi larutan herbal dengan mortalitas ikan mas sebanyak 50% selama 24 jam.  Perlakuan pada uji LC50 dilakukan dengan dua ulangan yaitu 250 ppm, 500 ppm, 750 ppm, 1000 ppm, 1500 ppm dan 2500 ppm.
Sebelum dilakukan uji LC50 ikan mas terlebih dahulu diaklimatisasi selama 2 hari dalam bak fiber dengan volume 100 liter diberi pakan pelet secara sekenyangnya. Ikan uji disortir untuk mendapatkan ukuran dan berat yang seragam. Kemudian dimasukan ke dalam wadah perlakuan berupa akuarium dengan padat penebaran 10 ekor/akuarium yang berisi 10 L air. Akuarium diisi larutan filtrat simplisia biji jintan hitam sesuai perlakuan.  Ikan diamati selama 48 jam dan data kematian ikan selama 24 jam dan 48 jam dicatat sebagai data awal untuk mengolah nilai LC50  Analisis Data
Data tentang zona daya hambat diambil dari pengukuran zona bening yang diakibatkan oleh larutan jintan hitam (Nigella sativa) akibat yang diukur dengan jangka sorong digital. Kelangsungan hidup ikan dalam uji LC50 dianalisis melalui program Probit Analysis menggunakan software dari US Environmental Protection Agency (US EPA).
 HASIL DAN PEMBAHASAN
Uji zona daya hambat
 Hasil penelitian uji antimikroba (Tabel 1) dari larutan biji filtrat jintan hitam menunjukkan potensi larutan tersebut sebagai anti mikroba walaupun bukan dalam bentuk ekstraksi minyak jintan hitam.  Diameter hambat yang diperoleh menunjukkan bahwa terdapat sifat anti mikroba pada larutan jinten hitam dengan konsentrasi 0 ppm, 500 ppm, 1000 ppm, 5000 ppm, 10.000 ppm dan 20.000 ppm. Pertumbuhan Aeromonas hydrophila di seputar kertas cakram mengalami hambatan dikarenakan adanya zat anti mikroba dalam larutan filtrat tersebut. Zat anti mikroba yang bekerja dapat berupa thymoquinone namun senyawa tersebut lebih banyak ditemui pada hasil ekstraksi berupa minyak (Al Mofleh et al. 2010). Pada filtrat biji jintan hitam, diduga senyawa ini tetap hadir walaupun dalam jumlah sedikit, akan tetapi pengaruh dari ssenyawa lain seperti tanin juga patut dipertimbangkan.
 Tabel 1. Data Hasi Uji Zona Daya Hambat
Kepadatan bakteri 109
CFU/ml     Rerata Zona Daya Hambat (mm) pada Konsentrasi
(ppm)
    0
ppm     500 ppm     1000 ppm     5000 ppm     10.000 ppm     20.000 ppm
Ulangan 1     0     9,08     9,6     11     10,94     9,7
Ulangan 2     0     9,5     9,58     11,28     11,04     9,8
Rata-rata     0     9,29     9,59     11,14     10,99     9,75
Senyawa yang diduga bersifat antimikroba yang terkandung dalam filtrat jintan hitam, diduga tetap bertahan melewati salah satu proses pembuatan filtrat yaitu dengan merebus jintan hitam. Senyawa yang definitif belum diketahui mengingat tidak dilakukan uji lanjut namun Hosseinzadeh et al. (2007) menyatakan bahwa kandungan biji jintan hitam antara lain 36-38% minyak, protein, alkaloid, saponin dan 0.4-2.5% minyak essensial. Ardiansyah (2007) mengatakan bahwa secara umum mekanisme penghambatan mikroorganisme oleh senyawa antimikroba dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu gangguan pada senyawa penyusun dinding bakteri, peningkatan permeabilitas membran sel yang dapat meenyebabkan kehilangan komponen penyusun sel, menginaktivasi enzim, dan destruski atau kerusakan fungsi material genetik.
Dari beberapa senyawa  yang terkandung dalam Jintan hitam tersebut tanin diduga sebagai senyawa antimikroba dikarenakan mempunyai sifat sebagai pengelat berefek spasmolitik. Efek spasmolitik dapat mengkerutkan dinding sel bakteri Aeromonas hydrophila sehingga sel bakteri terganggu permeabilitasnya (Ajizah, 2004). Masduki (1996) menyatakan bahwa tanin juga mempunyai daya anti bakteri dengan cara mempresipitasikan protein, karena diduga tanin mempunyai efek yang sama dengan senyawa fenolat. Secara umum efek anti bakteri tanin antara lain reaksi dengan membran sel, inaktivasi enzim dan destruksi atau inaktivasi fungsi materi genetik bakteri.
Senyawa alkaloid yang terkandung dalam biji jintan hitam diperkirakan mempengaruhi hambatan terhadap pertumbuhan Aeromonas hydrophila. Alkaloid dapat menganggu bakteri dengan cara menganggu terbentuknya jembatan silang komponen penyusun peptidoglikan pada sel bakteri, sehingga lapisan dinding sel tidak terbentuk secara utuh dan menyebabkan kematian sel tersebut (Robinson, 2005).
Uji Minimum Inhibition Concentration
Uji MIC pada tabung reaksi menunjukkan bahwa konsentrasi 1000 ppm dan 1500 ppm dapat menghambat pertumbuhan bakteri, sementara pada konsentrasi filtrat simplisia biji jintan hitam 250 ppm, 500 ppm, 750 ppm dan kontrol positif (dengan bakteri dan tanpa jintan hitam) menunjukkan gejala kekeruhan. Dari hasil pengamatan ini, konsentrasi 1000 ppm menjadi konsentrasi minimal untuk menghambat pertumbuhan bakteri Aeromonas hydrophila. Minimum inhibitory concentration (MIC) didefinisikan sebagai nilai terendah dari konsentrasi antimikroba yang akan menghambat pertumbuhan mikro-organisme setelah inkubasi 24 jam (Andrews, 2001). Pada uji zona daya hambat, konsentrasi filtrat jintan hitam sebanyak 500 ppm menghasilkan zona bening sehingga diduga konsentrasi filtrat bersifat antibiotik. namun ternyata pada metoda MIC, daya anti mikroba dari jintan hitam tidak tercapai dikarenakan terdapat pertumbuhan bakteri (ditandai dengan kekeruhan) pada tabung reaksi.
Uji Minimum Bactericidal Concentration
Uji MBC didefinisikan sebagai konsentrasi antimikroba terendah yang dapat membunuh organisme sehingga tidak dapat dikultur kembali pada media agar yang bebas antibiotik (Andrews, 2001).
Dari setiap tabung perlakuan uji MIC, diambil air media perlakuan untuk dikultur pada agar media TSA. Ternyata dari pengamatan konsentrasi 1000 ppm hingga 1500 ppm belum dapat menjadi bacterisidal ampuh atau pembunuh bakteri. Hal ini dilihat dari proses pertumbuhan bakteri dari setiap petridish yang menunjukkan pertumbuhan hingga lebih dari 300 koloni. Dapat diasumsikan bahwa walaupun bahan filtrat jintan hitam bersifat sebagai anti mikroba dengan cara menghambat pertumbuhan mikroba namun belum sepenuhnya bersifat sebagai bakterisidal.
Uji LC 50 Berbagai Konsentrasi Larutan Filtrat Jintan Hitam terhadap Ikan Mas
Ikan mas (Cyprinus carpio L.) dapat digunakan sebagai hewan uji hayati karena sangat peka terhadap perubahan lingkungan (Sudarmadi, 1993). Di Indonesia ikan yang termasuk famili Cyprinidae ini termasuk ikan yang populer dan paling banyak dipelihara akyat, r serta mempunyai nilai ekonomis. Ikan mas sangat peka terhadap faktor lingkungan pada umur lebih kurang tiga bulan dengan ukuran 8-12 cm. (Sudarmadi, 1993).
Berdasarkan hasil pengamatan LC50 selama 24 jam (Lampiran 1), diketahui bahwa larutan filtrat jintan hitam dapat mematikan seluruh ikan pada konsentrasi 9019 ppm dan nilai LC50 adalah 2603 ppm. Adapun dosis yang aman untuk perendaman ikan dengan larutan filtrat selama 24 jam adalah pada konsentrasi 751,407 ppm.
Pemakaian konsentrasi larutan filtrat yang berlebihan dapat berdampak negatif bagi ikan. Dari hasil pengamatan larutan filtrat jintan hitam terasa pahit dan hal ini mungkin disebabkan oleh kandungan Nigellin (Saeed, 1969) yang merupakan komponen alkaloid.
Ikan dapat menunjukkan reaksi terhadap perubahan fisik air maupun terhadap adanya senyawa yang terlarut dalam batas konsentrasi tertentu. Reaksi ini dapat ditunjukkan dalam percobaan di laboratorium, di mana terjadi perubahan aktivitas pernafasan yang besarnya perubahan diukur atas dasar irama membuka dan menutupnya rongga “Buccal” dan ofer kulum (Mark, 1981). Dari hasil pengamatan larutan filtrat dengan dosis yang tertinggi (2500 ppm) dapat mempengaruhi perubahan aktivitas ikan yaitu meningkatnya aktivitas pernafasan. Melalui uji selama 24 jam, dosis 2500 ppm ternyata menyebabkan kematian ikan. Hal ini diduga karena senyawa nigellin yang berlebihan dan terasa pahit menganggu laju pernafasan dan proses fisiologis dari ikan.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kemampuan filtrat simplisia biji jintan hitam (Nigella sativa) untuk mengobati ikan yang terserang patogen bakteri Aeromonas hydrophila perlu diuji coba lebih lanjut mengingat terdapatnya hasil positif pada zona daya hambat dan MIC namun aplikasi pengobatan ikan perlu memperhatikan aspek toksisitas biji jintan hitam terhadap ikan mas (Cyprinus carpio).
Terkait dengan penelitian yang telah dilakukan maka konsentrasi filtrat simplisia biji jintan hitam yang aman untuk diaplikasikan pada ikan adalah pada konsentrasi 751 ppm. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk mengetahui konsentrasi dan lama perendaman yang optimal untuk pengobatan ikan.
ACUAN PUSTAKA
Aboul-Ela E.I. (2002). Cytogenetic studies on Nigella sativa seeds extract and thymoquinone on mouse cells infected with schistosomiasis using karyotyping. Mutation Research, 516: 1117.
Ajizah, A. (2004). Sensitivitas Salmonella Typhimurium Terhadap Ekstrak Daun Psidium guajava L. BIOSCIENTIAE. Volume 1, Nomor 1, Januari 2004. Halaman 31-38. Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Lambung Mangkurat: Banjarmasin.
Al Mofleh IA, Alhaider AA, Mossa JS, Al-Sohaibani MO, Al-Yahya MA, Rafatullah S, Shaik SA. (2008). Gastroprotective effect of an aqueous suspension of black cumin  Nigella sativa on necrotizing agents-induced gastric injury in experimental animals. Saudi J Gastroenterol 2008;14:128-34
Ali, O., Basbulbul, G. dan Aydin T. (2007). Antimitotic and antibacterial effects of the Nigella sativa L. Seed.  CARYOLOGIA Vol. 60, no. 3: 270-272.
Aljabre S.H.M., Randhawa M.A., Akhtar N., Alakloby O.M., Alqurashi A.M. and Aldossary A.,  (2005). Antidermatophyte activity of ether extract of Nigella sativa and its active principle, thymoquinone. Journal of Ethnopharmacology, 101: 116-119.
Andrews, J. M. (2001). Determination of minimum inhibitory concentrations. Journal of Antimicrobial Chemotherapy (2001) 48, 5-16.
Ardiansyah. (2007). Antimikroba dari Tumbuhan (Online) (www.beritaiptek.com, diakses tanggal 12 Desember 2009)
Bi.go.id. (2010). Usaha Budidaya Pembesaran Ikan Nila. Diakses dari
http://www.bi.go.id/sipuk/id/?id=4&no=42201&idrb=48401
FAO, (2005). Responsible use of antibiotics in aquaculture. FAO Fisheries Technical Paper, Rome, FAO. 2005. 97 p.
Ghufron, M dan Kordi, K. (2004).   Penanggulangan Hama dan Penyakit Ikan. Rineka Cipta. 204 hal.
Hannan A, Saleem S, Chaudhary S, Barkaat M, Arshad MU. (2008). Anti bacterial activity of Nigella sativa against clinical isolates of methicillin resistant Staphylococcus aureus. J Ayub Med Coll Abbottabad. Jul-Sep; 20 (3):72-4.
Hosseinzadeh, H., S. Parvardeh, M.N. Asl, H.R. Sadeghnia and T. Ziaee, (2007). Effect of thymoquinone and Nigella sativa seeds oil on lipid peroxidation level during global cerebral ischemia-reperfusion injury in rat hippocampus. Phytomedicine, 14: 621-627. DOI: 10.1016/j.phymed.2006.12.005
Jangkaru, Z. (2004). Pembesaran Ikan Air Tawar di Berbagai Lingkungan Pemeliharaan. Penebar Swadaya. Jakarta.
Kokdil G. dan Yilmaz H. 2005( ). Analysis of the fixed oils of the genus Nigella L.(Ranunculaceae) in Turkey. Biochemical Systematics and Ecology, 33:1203-1209.
Mark, Jr. H.B. 1981. Water Quality Measurement The Modern Analytical Techniques. Departments of Chemistry of Cincinate. Ohio.
Masduki, I. (1996). Efek Antibakteri Ekstrak Biji Pinang (Areca catechu) terhadap S. aureus dan E. coli. Cermin Dunia Kedokteran 109:21-24.
Robinson, T. 1991. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. ITB Bandung
Saeed, M., 1969. Hamdard Pharmacopoeia of Eastern Medicine. Hamdard Foundation, Karachi,
Pakistan
Salem M.L. (2005) Immunomodulatory and therapeutic properties of the Nigella sativa L. seed.
Int. Immunopharmacol. 5(13-14):1749-70
Sudarmadi, S. 1993. Toksiologi limbah pabrik kulit terhadap Cyprinus carpio L. dan  kerusakan insang. Jurnal Lingkungan dan Pembangunan 13;4 : hal. 247 – 260. Jakarta.
Sugianti, B. (2005). Pemanfaatan Tumbuhan Obat Tradisional dalam Pengendalian Penyakit Ikan. Makalah Falsafah Sains. Bogor.
Tumar dan Boimin. (2006). Efektifitas penggunaan jinten hitam (nigella sativa) dengan konsentrasi yang berbeda terhadap pertumbuhan bakteri aeromonas hydrophila secara in vitro. Prosiding SEMNASKAN UGM 2006.
Wichaksana, S., Winarno, K. dan Susilowati, A. (2003). Pengaruh Ekstrak Daun Mimba (Azadirachta indica A. Juss) erhadapt Penurunan Mortalitas Lele Dumbo (Clarias gariepinus) akibat Infeksi Aeromonas hydrophila. ENVIRO 3 (1): 28-35, Maret 2003
Baca SelengkapnyaIMUNOSTIMULAN IKAN MAS (CYPRINUS CARPIO) DENGAN JINTAN HITAM

MENGENAL PENYAKIT KHV PADA IKAN MAS

PENDAHULUAN
Ikan mas merupakan komoditas utama budidaya ikan air tawar yang memberikan sumbangan besar bagi pemenuhan kebutuhan protein hewani bagi masyarakat. Sedangkan koi merupakan komoditas ikan hias yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Sejak awal tahun 2002 kedua jenis ikan tersebut terserang penyakit Koi Herpes Virus (KHV), akibat masuknya ikan Koi import pembawa virus KHV, sehingga terjadi wabah KHV pada ikan Koi dan ikan mas yang menyebar ke seluruh sentra budidaya ikan mas dan ikan koi, dengan kerugian ekonomi yang sangat besar. Akibatnya aktifitas perdagangan ikan hidup dari satu daerah ke daerah lain terganggu.
Puluhan atau bahkan ratusan kasus kematian ikan mas dan koi akibat infeksi KHV tersebut hingga saat ini, sangat meresahkan pembudidaya kedua jenis ikan tersebut, termasuk pelaku usaha lainnya. Berbagai upaya telah dilakukan seperti pembentukan posko penanggulangan wabah, sarasehan, pelatihan daerah terinfeksi dengan Surat Keputusan Menteri Departemen Kelautan dan Perikanan   nomor 28 dan 40 tahun 2002.

Dengan demikian Petunjuk Pengendalian tentang KHV sangat dibutuhkan sebagai acuan dan upaya antisipasi serta pengendalian dini terhadap kasus KHV.

DIAGNOSIS
Diagnosis Penyakit KHV dapat dilakukan melalui pendekatan :
1.    Gejala klinis
2.    Diagnosis Laboratoris

a/d. 1. Gejala Klinis
            Tanda-tanda ikan yang terserang KHV :
1 Gerakannya tidak terkontrol
2 Megap-megap
3 Nafsu makan menurun
4 Kulit melepuh
5 Insang geripis pada ujung Lamella kemudian membusuk
6 Terjadi kematian massal dalam 1-5 hari.

a/d. 2. Diagnosis Laboratoris
1.    Isolasi virus
2. Identifikasi melalui Bioassay, histopatologi Mikroakop electron, PCR (Polymerase Chain Reaction).

Bioassay
Teknik Diagnosis ini, selain dapat mengetahui patogen utama juga dapat diperoleh informasi beberapa sifat biologis diperoleh informasi beberapa sifat biologis patogen anatara lain :
a. Mekanisme transmisi secara horizontal,
b. Virulensi dan masa inkubasi,
c. Inang spesifik dan non spesifik.

PENGAMBILAN DAN PENGIRIMAN SAMPEL
A.    Teknik Pengambilan Sampel
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengambilan sampel ikan untuk diagnosis
1. Bahan fiksasi (pengawet)
2.  Peralatan sampling
3.  Cara sampling
4.  Organ sampel

Ad.   1. Fiksasi (Pengawetan Sampel)
         Adalah proses pengawetan sampel menggunakan bahan pengawet agar material yang kita ambil dapat di diagnosis dengan teknik PCR.
        
         Prinsip pemilihan jenis pengawet :
1.  Mudah dalam hal penanganan penyimpanan dan transportasi.
2.  Tidak mengurangi sensitifikasi diagnosis.
3.   Mudah di dapat dan relatif murah

Ada 2 cara pengawetan :
1. Pengawetan dalam larutan alkohol 70 % dengan perbandingan  volume sampel dibanding pengawet  1 : 10
2.   Pembukuan dalam suhu dibawah -20o C.

Ad.   2. Peralatan Sampling
               Peralatan yang digunakan adalah botol sampel dan alat bedah yang didesinfeksi terlebih dahulu.
               Proses desifikasi alat bedah  dimulai :
1.   Membersihkan peralatan dengan kertas tissue.
2.   Dibelas dengan Aquades.
3.   Desinfeksi dengan alkohol 70%
4.   Pemanasan dengan api bunsen.

Ad.   3. Cara sampling.
1.   Memperhatikan jenis dan jumlah sampel
2.   Dapat diambil dari benih, induk, ikan dewasa
3.   Sampel benih berupa tubuh secara utuh sedang ikan dewasa dan induk berupa insang/ daging.
4.   Minimal sampel yang diambil tergantung tingkat prevalensi ikan yang terinfeksi KHV.
5.   Sampel benih 150 ekor yang diambil dari 100.000 ekor
6.   Sampel induk diambil irisan insang tanpa mematikan induk.

B.    Teknik Pengiriman sampel
1.  Sampel ikan yang telah dikumpulkan dan diawetkan dengan alkohol 70% perlu segera dikirim ke laboratorium terdekat yang mampu melakukan diagnosis penyakit KHV dengan teknik PCR.
2.  Sampel harus dikemas sebaik mungkin sehingga tidak cocok selama pengiriman.

TEKNIK PENGENDALIAN
 Munculnya penyakit pada ikan umumnya merupakan hasil interaksi yang kompleks anatara 3 ( tiga ) komponen dalam ekosistem perairan yaitu :
1.     Ikan yang lemah
2.     Kualitas lingkungan yang buruk
3.     Patogen yang ganas

Maka strategi mangemen kesehatan ikan harus difokuskan pada upaya pembenahan ke komponen tersebut antara lain :
1. Penyediaan benih bermutu
2. Eradikasi patogen
3. Pengelolaan Lingkungan Budidaya

Ad/1.      Penyediaan Benih
1.      Penyediaan benih untuk daerah yang masih bebas KHV harus diambilkan dari daerah yang masih bebas KHV.
2.        Penyediaan Benih untuk daerah yang telah terinfeksi KHV diambilkan benih yang dihasilkan dari induk yang selamat pada waktu terjadi wabah, karena benih yang dihasilkan dari induk tersebut dianggap telah mempunyai kekebalan terhadap KHV.

Ad/3.      Pengelolaan Lingkungan Budidaya
1.        Lokasi Kolam
Harus bebas pencemaran limbah (industri rumah tangga, pertanian) dengan cara memfilter air yang akan masuk kolam.
2.        kawasan Bebas Kebersihan
Produksi dalam satu hamparan kolam dan ditentukan oleh kesadaran, kesamaan dan kedisiplinan pembudidaya dalam menerapkan teknik budidaya yang benar.
3.        Sistim Budidaya
1. Sistem Budidaya polikultur merupakan alternatif yang dapat diterapkan untuk mengurangi resiko infeksi KHV misal ikan mas, nila gurami.
2.  Mengurangi kepadatan akan memperkecil peluang terjadinya penularan dan penyebaran penyakit  KHV.
3.  Mengatur suhu air atau memindahkan ikan  ke lokasi yang bersuhu lebih tinggi dari 27oC atau lebih rendah dari 22oC.
4. Pengendalian KHV di Perairan Umum (KJA) dapat dilakukan melalui penggunaan benih bebas KHV, peningkatan mutu pangan,  penggunaan imunostimulan termasuk vitamin C serta mengurangi kepadatan. Apabila ini tidak berhasil ikan segera dipanen dan dimusnahkan.

Ad/4.      Monitoring Kesehatan Ikan
Kegiatan Monitoring dimaksudkan untuk mengetahui serangan KHV secara   dini secara dini serta faktor-faktor yang memicu terjadinya serangan tersebut, sehingga monitoring harus dilakukan secara berkala.
              
Langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam Penanggulangan KHV.
1.   Pilih  benih yang berasal dari daerah yang masih bebas KHV.
2.  Melaporkan sesegera mungkin  kepada petugas Dinas Perikanan atau instansi terkait setempat bila terjadi kasus KHV.
3. Periksakan benih ikan sebelum ditebarkan ke laboratorium Uji yang dilengkapi alat PCR (BPBIAT Muntilan, BKKI Semarang)
4.   Eradikasi Patogen / Kegiatan pemusnahan virus dari media pembawa (air dan ikan)
5.   Pengelolaan Lingkungan Budidaya
*    Memperbaiki sistim Budidaya
*    Monitoring Kesehatan Ikan dan Lingkungan
6.   Mencegah penyebaran virus melalui media pembawa, terutama ikan sakit dan sarana transportasinya.
Baca SelengkapnyaMENGENAL PENYAKIT KHV PADA IKAN MAS

BUDIDAYA CACING SUTRA DALAM KOLAM TERPAL

Kebutuhan dalam kegiatan pembenihan ikan lele memiliki karakteristik dengan memberikan pakan caing sutra, selama ini cacing sutra merupakan produk alami dan tidak di budidayakan. Sedangkan untuk mencukupi kebutuhan cacing sutra para pembudidaya yang semakin meningkat harus diimbangi produk cacing sutra yang banyak. Untuk mengatasi kebutuhan cacing sutra maka dimulai dengan berbudidaya cacing sutra dengan berbagai media dan wadah.
Cacing sutra merupakan pakan alami terbaik saat ini untuk pertumbuhan larva lele dan posisinya belum bisa tergantikan. Namun, terkadang di daerah tertentu pakan ini sulit didapat. Nah, bagi peternak yang susah mendapatkan, kini cacing sutra bisa di budidayakan. Sudah ada buku yang membahas tuntas tentang budidaya cacing sutra di berbagai wadah. Dan berikut cara beternak cacing sutra secara umum :
 Cacing sutera atau lebih sering di sebut dangan nama cacing darah atau cacing rambut merupakan binatang kecil dengan ukuran 1-3 cm. Cacing jenis ini biasanya hidup berkelompok mirip beberapa binatang seperti semut atau lebah. Cacing sutera memiliki tempat tinggal dengan perairan yang jernih dan kaya akan bahan organik. Dikarenakan mengandung protein yang tinggi dan sedikit lemak , cacing ini lebih sering di gunakan sebagai pakan beberapa jenis ikan hias seperti ikan cupang atau louhan.
Sebetulnya cacing sutera di jaman dahulu lebih mudah di temukan di sisi parit ataupun perairan yang jernih. Semakin majunya jaman sekarang parit ataupun beberapa tempat dengan perairan jenih sudah jarang di temukan cacing sutera ini  mungkin karena limbah rumah tangga dan juga limbah industri yang membuat ekosistem dari cacing ini punah. Oleh karena itu mensiasatinya beberapa orang mencoba untuk membudidayakannya. Selain mendapatkan untung pribadi , pembudidayaan cacing sutera ini juga merupakan langkah kompleks untuk membantu ekosistem tetap stabil.
Cara Hidup Cacing Sutera
Cacing sutera adalah binatang yang hanya bisa hidupdi dalam air yang mengandung lumpur denan tingkat kedalaman antara 0-4 cm . karena hidup di dalam air , setidaknya ada beberapa kriteria air yang bisa menunjang hidupnya maupun perkembang biakan cacing sutera , yaitu :
    Memiliki PH seimbang antara 5.5 – 8.0
    Suhu udara yang stabil antara  25-28 derajat celcius
    Supply oksigen dalam air 2.5 – 7.0 ppm
    Debit air yang sedikit karena melihat ukuran cacing yang tergolong kecil.
Reproduksi
Cacing sutera itu sendiri merupakan salah satu hewan yang  bersifat hermaprodit  atau dalam bahasa awamnya yaitu memiliki dua alat kelamin. jadi tidak terlalu report untuk mengembangkannya.
Dalam pembudidayaanya cacing sutera bisa langsung di berikan kepada larva ikan ataupun dengan beberapa cara packaging yaitu dalam bentuk kering dengan cara di oven atau dengan cara di bekukan
Disini kita akan bahas langkah langkah bagaimana membudidayakan cacing sutera mulai dari langkah persiapan sampai cacing sutera siap untuk di panen .
1. Persiapan Awal
Hasil tergantung dari persiapan adalah kata kata yang memang terbukti , persiapan yang matang dan maksimal akan mempengaruhi hasil yang baik juga. Disini kita akan mempersiapkan mulai dari bahan , alat , dan segala penunjang untuk membudidayakan cacing sutera ini.
Kali ini kita mulai dari mempersiapkan tempat dan alat penunjang untuk membudidayakan cacing ini. ada beberapa media dan alat  yang bisa di pakai untuk membudidayakan cacing sutera seperti :
    Nampan /Terpal : Tempat kecil seperti namban bisa untuk kalian yang sedang mencoba atau bisa di bilang orang awal dalam pengembang biakan hewan ini. Akan tetapi pengembang biakan menggunakan media nampan mempengaruhi dalam sedikit atau banyaknya cacing bisa di budidayakan.
    Nampan Besar / Kolam kecil : Jika kalian sudah menguasai dengan baik bagai mana cara mengembangbiakan cacing ini , nampan besar / kolam kecil bisa jadi solusi untuk memperbanyak jumlah cacing yang bisa di hasilkan.
    Kolam lele / Kolam Besar : Untuk media yang satu ini boleh di coba buat kalian yang memang sudah siap menjadi juragan cacing sutera , karena jumlah yang banyak dalam pengembang biakan cacing, effisiensi dalam bekerjapun akan lebih ringan karena kita bisa mengembang biakan cacing dalam skala banyak di 1 atau 2 kolam sekaligus.
    Pipa Paralon : Pipa paralon ini merupakan alat penting penunjang bagi para pembudidaya cacing sutera.  karena pipa paralon ini berfungsi untuk mengaliri air ke dalam kolam / nampan cacing sutera yang membaut seolah olah menjadi pensuplai air bersih dan juga oksigen kedalam kolam.  (Baca juga : Budidaya lobster air tawar di aquarium)
    Ember plastik, seser, saringan plastik : 3 alat ini akan sangat membantu kita disaat memindahkan ataupun ketika akan panen cacing sutera nati.
    Pompa air : Ini adalah alat investasi terbesar jika kita berbisnis dalam cacing sutera , karena alat ini akan membantu kita memindahkan air ataupun pengaliri air kedalam bak penampung ataupun kolam penampung tempat kolam sutera berada. Sebetulnya bisa saja kita mengguanakan cara tradisional dengan membuat tempat penampungan lebih rendah dari sumber air , akan tetapi cara ini sudah jarang di pakai selain tenaga yang di gunakan lebih besar , keterbatasan tempat pengembangbiakan menjadi faktor kenapa para pengusaha cacing ini menggunakan pompa air untuk menyedot dan mengalirkan air.
    Baskom / tempat penampungan kecil : Nah untuk alat ini sih bisa di bilang optional karena bisa menggunakan ini atau tidak .
2. Persiapan Bibit
Pada tahap persiapan pengembang biakan ini yang pertama kali di lakukan adalah mencari bibit atau indukan dari cacing sutera. Bibit / indukan bisa di cari di pengembang lain atau di tempat yang menjual pakan ikan hias atau bahkan bisa kita dapatkan secara gratis di parit atau tempat yang biasa cacing sutera tumbuh.
Jika kita sudah mendapatkan bibit atau indukan , lebih baik kita melakukan karantina terhadap bibit yang kita akan jadikan induknya. Guna karantina bibit adalah untuk menghasilkan bibit unggul agar pengembang biakannya cukup baik. Langkah-langkah nya yaitu cacing di simpan di tempat nampan lalu dialiri air bersih selama kurang lebih 2-3 hari dengan debit dan tekanan air yang kecil  asalkan kandungan oksigen cukup. Cara ini juga bisa di katakan ampuh untuk membasmi bakteri patogen yang nanti akan menghambat pertumbuhan cacing.
3. Pengembang biakan
Setelah melewati 2 langkah awal , kita masuk kedalam langkah pengembang biakan . Disini akan di jelaskan 2 cara pengembang biakan , yaitu dengan menggunakan nampan dan juga kolam. Pada basicnya semua sama hanya , cara mana yang cukup dan bisa kita jalani.
a. Menggunakan Nampan/Terpal
Budidaya menggunakan nampan atau lebih di kenal dengan nama sistem SCRS (Semi Closed Resirculating System). Sebuah cara atau sistem dimana akan irit air karena dengan cara SCRS membuat air yang telah di gunakan di putar kembali untuk pengairan cacing. Penambahan volume air akan di lakukan ketika volume air berkurang karena penguapan atau lainnya. tak hanya Nampan saja , via terpal pun bisa di gunakan sistem ini asalkan tempat yang memadai
Perlu di ketahui menggunakan cara ini mempunyai beberapa keuntungan di antaranya :
     Lebih irit dalam penggunaan air : Seperti yang sudah di jelaskan di atas cara SCRS ini akan irit air karena air akan di putar kembali  sehingga debit air yang di butuhkan akan tetap.
    Menghemat pengeluaran obat obatan atau probiotik: penghematan ini ada karena obat yang kita berikan menggunakan media air akan di putar kembali  sehingga tidak perlu penggunaan obat yang banyak.
    Irit lahan : Ini adalah keuntungan yang membuat pera pengembang biak cacing sutera suka karena tidak membutuhkan lahan yang besar , cukup di pekarangan rumah dengan menggunakan meja susun bisa membuat rumah peternakan cacing sutera.
Cara pengembang biakannya bisa dilakukan dengan cara membuat kubangan lumpur dengan ukuran kurang lebih 1 x 2 meter yang dilengkapi saluran air dari pipa yang sudah kita siapkan tadi. Setiap kubangan dibuat petakan petakan kecil ukuran kurang lebih 20 x 20 cm dengan tinggi tanggul 10 cm, antar tanggul  diberi lubang dengan diameter lubang 1 cm.
b. Menggunakan media kolam
Untuk yang tertarik menggunakan media kolam  , ada beberapa cara untuk memulainya , akan tetapi lebih di anjurkan menggunakan kolam bekas hasil budidaya ikan lele atau air bekas budidaya lele karena dalam penelitian air kolam ikan lele yang akan dipanen  kurang lebih 7 hari sebelum panen mengandung  mikro algae, Coelosphacrium sP , Lyngbyadan Sprirulina sP yang bisa membantu dalam pengembang biakan cacing sutera.
Cara awalnya kolam dikeringkan terlebih dahulu sebelum diolah. setelah di keringkan air limbah ikan lele yang tadi kita sudah bahas diaduk-aduk selama beberapa menit daan kemudian di masukan ke kolam yang akan kita gunakan untuk membudidayakan cacing sutera.
4. Pemupukan
Sama seperti kebanyakan pembudidayaan , semua membutuhkan pupuk atau vitamin untuk mempercepat ataupun menghasilkan hasil yang baik tak terkecuali cacing sutera ini.  lahan di pupuk menggnakan dedak halus atau ampas tahu dengan banyak yang menyesuaikan atau dengan pupuk kandang kurang lebih 300 gr/ m2 . Cacing sutra sangat menyukai bahan organik seperti yang di sebutkan tadi sebagai bahan makanannya.
5. Fermentasi
Langkah fermentasi ini adalah langkah untuk meningkatkan kandungan unsur N-organik dan C-organik agar cacing sutera mendapatkan makan yang terbaik . Caranya adalah lahan yang sudah di sediakan dan sudah di masukan pupuk direndam dengan air setinggi kurang lebih 5 cm selama 2-4 hari.
6. Penebaran benih /bibit
Penebaran bibit cacing indukan dilakukan sebanyak kurang lebih 10 gelas (2-3 liter) jika di dalam kolam, selanjutnya di rendam dan di aliri air dengan ketinggian 5-7 cm.  Penebaran harus secara merata dan diusahakan selama proses budidaya selalu di aliri air  dari pipa dengan debit 2-5 Liter/detik.
7. Pemeliharaan
Dalam tahap ini merupakan tahap yang lebih ringan dari tahap persiapan di atas karena selama dalam masa pemeliharaan cacing sutera kita hanya menjaga  airnya tetap mengalir kecil dengan ketinggian air pada 5-10 cm. biasanya pada umur 10 hari bibit cacing sutra mulai tumbuh merata pada seluruh permukaan lumpur kolam. Jaga debit mengalir air dan jumlah air di setiap kolam / nampan.
Budidaya ini bisa dilakukan oleh siapa saja namun dengan menggunakan sistim budidaya yang baik dan pemantauan yang baik juga sehungga menghasilkan produk yang bermutu dan bagus  jauh dari hama maupun penyakit, dan bebas bakteri patogen. Dalam pemeliharanya  jangan lupa pemberian pakan cacing yang berasal dari bahan organik yang bercampur dengan lumpur atau sedimen di dasaran perairan.
8. Panen
Setelah melewati masa masa di atas dan menunggu kurang lebih 2-3 bulan cacing sutera sudah bisa dipanen,. dan panen selanjutnya  bisa dilakukan setiap dua minggu sekali.
Cara pemanenanya bisa dengan memakai serok yang terbuat dari bahan halus serta lembut seperti bahan plastik / melamin. Biasanya cacing sutera yang bar di panen akan bercampur dengan media budidayanya. Cara memisahkannya cukup  dimasukan ke dalam ember yang sudah di isii air agar cacing nantinya terpisah sendiri . kemudian ember ditutup hingga bagian dalam berubah menjadi gelap dan dibiarkan selama 6 jam.
Setelah melewati waktu di atas, cacing bisa  diangkat menggunakan tangan. Biasanya dengan cara ini didapat cacing sutera kurang lebih 30-50 gram/m2 per dua minggu.
Baca SelengkapnyaBUDIDAYA CACING SUTRA DALAM KOLAM TERPAL

MANFAAT PENGAPURAN DALAM BUDIDAYA IKAN

Pengapuran dan Prinsip dalam Aquaculture
    Pengapuran pada kolam atau tambak merupakan hal yang sangat penting di dalam kegiatan buidaya ikan. Dalam pengapuran pada budidaya ikan biasanya dilakukan pada awal kegiatan budidaya. Pengaruh menguntungkan dari pengapuran pada ikan / udang / produksi udang di pertambakan maupun kolam perairan basa dan asam telah dikaitkan dengan beberapa efek pada kualitas air. Dengan demikian Pengapuran meningkatkan pH lumpur bawah dan meningkatkan ketersediaan fosfor ditambahkan dengan pupuk. Pengapuran meningkatkan produksi bentik pada pemupukan kolam, tampaknya melalui ketersediaan hara yang  meningkat dan juga pengapuran menguntungkan dalam meningkat aktivitas mikroba dalam lumpur melalui peningkatan pH.Keuntungan dari pengapuran adalah:
    Untuk membunuh mikroorganisme kebanyakan, terutama parasit, karena reaksi kaustiknya.
    Untuk menaikkan pH air yang  asam ke nilai netral atau sedikit basa.
    Untuk meningkatkan cadangan alkali dalam air dan lumpur yang mencegah perubahan pH yang ekstrim.
    Untuk meningkatkan produktivitas biologi, karena meningkatkan pemecahan zat organik oleh bakteri,  menciptakan peningkatan oksigen dan cadangan karbon.
    Untuk mempercepat pemecahan atau pelarutan bahan organik.
    Untuk mengurangi kebutuhan oksigen biologis (BOD).
    Untuk meningkatkan penetrasi cahaya.
    Untuk meningkatkan nitrifikasi karena kebutuhan kalsium dengan nitrifikasiorganisme.
    Untuk menetralisir aksi berbahaya dari zat tertentu seperti sulfida dan asam.
    Untuk secara tidak langsung meningkatkan tekstur tanah dasar di atas materi organik.
    Pengapuran meningkatkan alkalinitas air sehingga meningkatkan ketersediaan karbondioksida untuk fotosintesis. Alkalinitas tinggi setelah pengapuran juga buffer air terhadap perubahan drastic pH umum dalam kolam eutrofik dengan air lunak. PH pagi akan lebih tinggi setelah pengapuran, namun, karena penyangga oleh bikarbonat,Sore nilai pH tidak akan setinggi sebelum aplikasi kapur. Pengapuran meningkatkanTotal hardness dengan menambahkan alkali (kalsium dan magnesium - PearlSpar-Aqua). Dengan perlakuan kapur, air dapat dibersihkan dari noda humat yang bersal dari vegetatif, yang membatasi penetrasi cahaya. Efek bersih dari perubahan pengapuran kualitas air berikut ini untuk meningkatkan produktivitas fitoplankton, yang pada gilirannya, menyebabkan peningkatanikan / udang / produksi udang.
    Sebenarnya, alkalinitas total adalah indikator yang lebih handal dari kebutuhan untuk pengapuran dari total hardness karena beberapa kolam mungkin memiliki total kesadahan rendah dan kebasaan tinggi atau sebaliknya. Total Kesadahan lebih mudah untuk mengukur, khususnya di lapangan, dari pada alkalinitas.
    Banyak sekali, kebutuhan kapur yang pertama kali diusulkan pada saat pemupukan anorganik gagal menghasilkan pertumbuhan plankton yang memadai. Namun demikian, total hardness atau analisis alkalinitas harus dibuat dan kemungkinan alasan lain untuk kegagalan pupuk untuk menghasilkan berkembang plankton  ditentukan sebelum menggunakan kapur.
Jenis Bahan Pengapuran
    Sejumlah zat yang berbeda digunakan sebagai bahan pengapuran, bahan kimia yang digunakan untuk pengapuran tanah dan air adalah oksida, hidroksida dan kalsium silikat atau magnesium, karena ini yang mampu mengurangi keasaman. Unsur dari jenis kapur meliputi:
Kalsium (CaCO3) dan Dolomit (Kalsium-Magnesium Karbonat) [CaMg (CO3) 2]
    Karbonat terjadi secara luas di alam. Di antara bentuk-bentuk umum yang dapat dimanfaatkan sebagai zat pengapuran yang kapur calcitic yang merupakan kalsium karbonat murni dan kapur dolomit yang merupakan kalsium karbonat-magnesium dengan proporsi yang berbeda-beda kalsium dan magnesiumnya. Kalsium karbonat komersial dikenal sebagai kapur pertanian. Karbonat adalah reaktif setidaknya dari tiga zat pengapuran. Sekarang, terutama dianjurkan untuk menggunakan dolomit [CaMg (CO3) 2] selama periode kultur.
Kalsium Oksida (CaO)
    Ini adalah satu-satunya senyawa yang kapur istilah dapat diterapkan dengan benar. Kalsiumoksida adalah dikenal sebagai kapur unsulated, kapur terbakar dan kapur cepat. Sekarang diproduksi oleh kapur calcitic dipanggang di tungku. Oksida kalsium dan kaustik higroskopis dan sering dianjurkan untuk menerapkan kapur ini untuk tanah asam saja.
Kalsium Hidroksida (Ca (OH)2)
    Kalsium hidroksida dikenal sebagai kapur dipipihkan, kapur terhidrasi atau kapur pembangun. Sekarang disiapkan oleh hydrating kalsium oksida. Semuanya adalah serbuk putih keabu-abuan. Bahan pengapuran yang berbeda dalam kemampuan untuk menetralkan asam.CaCO3 Murni adalah ukuran standar bahan pengapuran terhadap yang lainnya. Nilai penetralan CaCO3 adalah 100 persen dan untuk sampel murni dari bahan lain adalah sebagai berikut: CaMg (CO3)2, 109 persen;Ca (OH)2, 136 persen, dan CaO, 179 persen.
    Tapi dolomit ('Neosparks PearlSpar-Aqua) adalah contoh yang baik untuk didiskusikan. Karbondioksida dalam air bereaksi dengan dolomit sebagai berikut:
CaMg (CO3)2 + H2O + CO2 «Ca2+ + Mg2+ + 2HCO3- + CO32-
    Reaksi ini menunjukkan dolomit yang akan bersaing dengan fitoplankton untuk CO2 dan mungkin mengurangi tingkat fotosintesis. Selain menghapus semua CO2 bebas awalnya di air, CaCO3 bereaksi dengan CO2 dilepaskan dari dekomposisi bahan organik dan dengan CO2 yang berdifusi ke dalam air. Hasil akhirnya adalah bahwa beberapa hari setelah pengapuran, kesetimbangan konsentrasi CO2 lebih tinggi dari sebelumnya. Ini terjadi karena dolomit mengikat CO2 yang akan dinyatakan telah hilang ke atmosfer. Dolomit akan memberikan jumlah kontribusi setara kation dan anion sehingga peningkatan kesadahan total dan alkalinitas pengapuran berikut total akan sama.
    Mungkin menyimpulkan bahwa jumlah dolomit yang diperlukan untuk meningkatkan kesadahan total kolam ke tingkat tertentu bisa langsung dihitung. Menggunakan logika tersebut, jumlahd olomit diperlukan untuk meningkatkan kesadahan total dari kolam 1 hektar x 1 meter yang mendalam dari 5 sampai 20 mg / liter akan menjadi 15 mg untuk setiap liter air atau 15 gram untuk setiap meter kubik. Karena kolam berisi 10.000 m3, total 150 kg dolomit akan diperlukan.
Kapur memberikan dua tujuan - Koreksi pH air dan pH tanah dasar. Ketika koreksi pH air adalah tujuannya, kapur dapat dibuat menjadi bubur dan baik ditambahkan ke air masuk atau diterapkan di depan aerator. Jika pH koreksi dasar tambak adalah kapur objektif perlu bertebaran seperti pakan. Perhatian perlu dilaksanakan saat memilih kapur. Kapur pertanian yang paling tersedia di negara kita adalah granular tidak bubuk dan memiliki jumlah yang berlebihan dari kelembaban. Hal ini sangat merekomendasikan bahwa kapur harus mampu melewati 100 persen melalui mesh 60.
    Karena kalsium merupakan bagian utama dari tulang dan exuvia ikan dan udang / udang masing membutuhkan tingkat asupan kalsium tinggi, terutama setelah molting pada udang / udang. Persyaratan ini dipenuhi terutama oleh menyerap Ca tersedia dalam air laut.Kandungan kalsium dari kutikula selama tahap inter-moult adalah antara 12% dan19% pada udang dan kehilangan sekitar 23% dari total kalsium tubuh dengan molting. Namun,jumlah mineral yang hilang dalam proses molting lebih tinggi dari ini karena exuvia termasuk mineral lainnya dalam bentuk kalsium dan garam magnesium.
Teknik Pengapuran:

    Untuk memperbaiki kondisi dasar tambak selama persiapan kolam pembesaran. Setelah melakukan budidaya, tanah dasar dapat menjadi sangat tercemar dan asam karena akumulasi humus zat organik. Pengapuran bahan yang dapat digunakan untuk menetralkan asam organik dibebaskan dari humus substansi dan meningkatkan nilai pH tanah dasar dan untuk meningkatkan degradasizat organik, sehingga zat organik humus dapat kembali digunakan sebagai pupuk selama budidaya berikutnya.
    Bahan pengapuran juga memiliki properti desinfektan dan karena itu berfungsi sebagai disinfektan bila diterapkan dalam persiapan kolam pembesaran.
    Selama periode budidaya, saat pH air tambak turun di bawah kisaran normal untuk udang budidaya (di bawah pH 7,2), bahan pengapuran dapat digunakan untuk meningkatkan nilai pH ke tingkat optimal. Dosis didasarkan pada pH tanah dasar dan jenis bahan kapur yang digunakan.
Dolomit Khusus Neosparks'untuk Budidaya-PearlSpar-Aqua
    Pearl Spar-Aqua mengurangi keasaman tanah dan air di kolam Budidaya, menstabilkan fitoplankton, meminimalkan fluktuasi pH dengan menstabilkan alkalinitas, sehingga meningkatkan pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup udang, udang dan ikan.PearlSpar-Aqua mengandung Kalsium Oksida, Oksida Magnesium, Silikon Dioksida,Aluminium Oksida dalam rasio yang tepat bersama dengan Cobalt dan Kalium.
Untuk rincian lengkap silahkan kunjungi - PearlSpar-Aqua dan GeoMix.
(Water Quality Enhancing Formulations – Powders).
Pentingnya Pengapuran Untuk Pengendalian Kualitas Air Di Tambak Udang
    Kegunaan kapur termasuk untuk mengurangi keasaman tanah dan membunuh sebagian besar organisme,terutama parasit, selama persiapan kolam dan mengurangi pH air selamaperiode budaya. Umumnya, pengapuran tidak hanya mengurangi keasaman tanah dan air, yang sangatmempengaruhi pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup udang, tetapi juga menstabilkan pH air danmempromosikan produktivitas biologi. Seperti pH air adalah salah satu bahan kimia yang paling pentingparameter untuk budidaya udang. Kisaran pH optimum air di tambak udang adalah 7.4-8,5. Hal ini penting untuk menstabilkan pH dalam kisaran ini. Nilai pH dalam airbiasanya terendah di pagi hari dan tertinggi di sore hari. Untuk kualitasair terbaik, fluktuasi pH maksimum tidak boleh melebihi 0,5. Faktor utamayang mempengaruhi variasi pH dalam air adalah alkalinitas.
    Totalalkalinitas didefinisikan sebagai konsentrasi total basis titrable dalam air.Basis utama dalam air adalahIon HCO3- Dan CO3-. Alkalinitas total telahtradisional mengungkapkan sebagai miligram per liter (ppm) dari kalsium karbonat setara(CaCO3). Umumnya, alkalinitas bervariasi dari situs ke situs. Dalam air laut, alkalinitas biasanya lebih tinggi dari 100 ppm, tetapi di daerah air tawar, alkalinitas sering rendah,terutama selama musim hujan. Rendah alkalinitas dalam air tawar atau daerahsalinitas rendahakan mempengaruhi tingkat kelangsungan hidup dan molting udang.
    Kapur dapat digunakan untuk mengurangi keasaman dalam air. Dalam hal pH air naik turun secara drastispada siang hari, kapur juga dapat digunakan untuk meningkatkan alkalinitas dalam air untuk menstabilkanpH air. Di daerah, di mana pengaruh air tawar yang lebih, terutama selama hujanmusim, penurunan salinitasair serta alkalinitas. Ketika salinitas menjadi rendah danalkalinitas lebih rendah dari 50 ppm. Nilai pH juga tetes, sehingga moulting dariudang menjadi tertekan dan mortalitas berat terjadi. CaMg (CO3)2 diterapkan setiaphari sampai nilai alkalinitas mencapai 70-90 ppm. PH tidak akan berfluktuasisangat, warna air akan meningkatkan dan udang akan menjadi normal.
    Di sisi lain, di beberapa daerah alkalinitas adalah 90-100 ppm tapi warna air dan pHsangat berfluktuasi sepanjang hari. pengapuran harus diterapkan setiap hari sampainilai pHmenjadi lebih stabil dan tidak bervariasi lebih dari 0,5.
    Karena kalsium merupakan bagian utama dari exuvia, udang membutuhkan tingkatasupan kalsiumtinggi, terutama setelah molting. Persyaratan ini dipenuhi terutama oleh menyerapanCatersedia dalam air laut. Kandungan kalsium dari kutikula selama tahap inter-moult adalahantara 12% dan 19% pada udang dan kehilangan sekitar 23% dari kalsium tubuh totalmolting. Namun, jumlah mineral yang hilang dalam proses molting lebih tinggi dariini karena exuvia meliputi mineral lainnya dalam bentuk kalsium dan garam magnesium.
    Selain itu, air laut memiliki magnesium lebih tinggi dari kandungan kalsium, sementara dipayau konten kalsium lebih tinggi dari magnesium. Magnesium adalah salah satuelemen yang paling penting untuk organisme laut. Peran meliputi pengendaliansistem saraf atau fungsi otot dan merupakan komponen utama dari klorofil.Hal ini dapat diamati setelah 2-3 bulan dari budaya bahwa fitoplankton di air kolammenjadi sangat padat dan nilai Magnesium dalam air berkurang sampai batas tertentudan bisa jatuh ke nol. Hal ini akan mempengaruhi pertumbuhan, molting dan akhirnya tingkat kelangsungan hidupudang. Namun, masalah alkalinitas rendah dan kandungan Mg dapat diselesaikanmelalui penerapan kapur, terutama dolomit. Pengapuranberlebihan, bagaimanapun, akan dapatmerusak karena menurunkan ketersediaan fosfor melalui pengendapanlarut kalsium atau magnesium fosfat.
    Dalam prakteknya, bahan pengapuran tidak senyawa murni dan nilai menetralkan mereka harusditentukan dengan analisis kimia.Kapur Pertanian adalah bahan pengapuran daripilihan untuk kolam ikan. Jika digunakan dalam jumlah yang cukup, Ca (OH)2 atauCaO dapat meninggikanpH air sehingga ikan bisa mati. Jika ikan tidak ada dalam kolam, Ca (OH)2 danCaO dapat digunakan sebagai bahan pengapuran disediakan cukup waktuuntuk pHmenurun ke tingkat yang ditoleransi sebelum ikan ditebar.Pengobatan dengan kapur memiliki beberapa efek yang tidak diinginkan langsungpada kualitas air. Palingbahan pengapuran tidak larut sekaligus dan, karena mengendap melalui airkolom, fosfat bereaksi dengan itu dan hilang dari larutan. The pH naik dan cukupCO2 bebas tidak dapat terjadi di dalam air untuk proses fotosintesis. Namun, dalambeberapa minggu,bahan pengapuran bereaksi dengan lumpur untuk meningkatkan pH lumpur dan meningkatkan ketersediaanpupuk fosfat dan dengan karbon dioksida untuk meningkatkan alkalinitas dan karbondioksida cadangan dan karenanya produksi primer.Metode Aplikasi. Kolam baru terbaik dapat dikapur sebelum awal mengisi. Itukebutuhan kapur tanah dari dasar kolam baru harus ditentukan padasampel, yangmerupakan perwakilan dari dasar tambak. Jumlah yang diperlukan kapuryangkemudian menyebar secara merata di atas dasar tambak kering. Dalam kolam tua,yang mengandung air,Hasil terbaik diperoleh dengan menyebarkan bahan pengapuran di atas permukaankolam seluruh.
Pedoman Untuk Pengapuran SelamaPeriode Budidaya
Status    Kegiatan
    Selama bulan pertama budaya ketika tidak ada pertukaran air dan jika pH nilai normal 7,5-7,8 di pagi hari.Dolomit harus dilakukan setiap 2-3 hari dilaju 150-200 kg / ha
    .Nilai pH normal 7,5-8,0 dalam pagi dan tidak meningkat lebih dari 0,5 di sore hari, tapi ada perkembangan fitoplankton. Menggunakan dolomit sebesar 200-250 kg / hasetiap 2-3 hari selama siang hari.
    Nilai pH di pagi hari lebih rendah dari 7,5. Menggunakan penebaran dolomit sebesar 150kg / ha / hari pengukuran pH pada pagi berikutnya, ulangi pengapuran sekali sehari sampai nilai pH meningkat hingga 7,5.
    PH air di pagi hari adalah sekitar 8,tetapi meningkat lebih dari 0,5 di sore (seperti 8,8 atau 9) danwarna air adalah normal.Menggunakan dolomit 200 kg / ha / hari di pagi hari,ulangi aplikasi setiap hari sampai pH tidak bervariasi dan pH air tidak begitu tinggidi pagi hari.
    Udang berukuran 1 atau 2 bulan sebelum panen. Air berwarna gelap atauselama tidak ada pertukaran air, air mungkin memiliki gelembung. Nilai pH air pada pagi dan sore hari bervariasi.Menggunakan dolomit sebesar 200 kg / ha / waktu dimalam atau dini hari. Frekuensi pengapuran tergantung pada warna air dan pertukaran air.Disarankan bahwa pengapuran harus dilakukan setiap hari. Namun,tergantung pada warna air kolam dan pH
    .Sebelum pertukaran air jika tidak yakin dengan kualitas airnya.Penenbaran dolomit 200 kg / ha untuk mencegahperubahan kualitas air secara tiba-tiba.
Baca SelengkapnyaMANFAAT PENGAPURAN DALAM BUDIDAYA IKAN