Pages

MENGENAL ALAT TANGKAP PERIKANAN GILLNET

1. PENDAHULUAN
Gillnet disebut juga jaring insang karena alat tangkap ini dibuat dan dirancang secara khusus agar Ikan yang kita tangkap terkena melalui insang ikan makanya alat tangkap gilnet ini sama dengan alat tangkap yang sifatnya menjerat ikan melalui insang. Alat tangkap Gillnet ini banyak digunakan oleh para nelayan Tradisional maupun nelayan modern dikarenakan alat ini sangat praktis untuk menangkap ikan juga ramah terhadap lingkungan.
Alat tangkap Gillnet ini tersebar di seluruh indonesia bahkan diseluruh dunia menggunakannya. Yang membedakan dalam operasi alat tangkap ini hanyalah besarnya mata jaring yang dapat disesuaikan dengan jenis ikan yang akan kita tangkap.
Istilah “gill net” didasarkan pada pemikiran bahwa ikan-ikan yang tertangkap “gilled-terjerat” pada sekitar operculum nya pada mata jaring. Sedangkan “gill net dasar” atau “bottom gill net” adalah jaring insang, jaring rahang yang cara operasinya ataupun kedudukan jaring pada fishing ground direntangkan pada dasar laut, yang demikian berarti jenis-jenis ikan yang menjadi tujuan penangkapan ialah ikan-ikan dasar (bottom fish) ataupun ikan-ikan damersal, dengan bahan jaring terbuat dari multi fibre.
1. Sejarah Alat Tangkap
Dalam bahasa Jepang gill net disebut dengan istilah “sasi ami”, yang berdasarkan pemikiran bahwa tertangkapnya ikan-ikan pada gill net ialah dengan proses bahwa ikan-ikan tersebut “menusukkan diri-sasu” pada “jaring-ami”. Di Indonesia penamaan gill net ini beraneka ragam, ada yang menyebutkan nya berdasarkan jenis ikan yang tertangkap (jaring kuro, jaring udang dsb nya), ada pula yang disertai dengan nama tempat (jaring udang Bayeman), dan lain sebagainya. Tertangkapnya ikan ikan-ikan dengan gill net ialah dengan cara bahwa ikan-ikan tersebut terjerat (gilled) pada mata jaring atupun terbelit-belit (entangled) pada tubuh jaring.
1. Prospektif Alat Tangkap
Prospektif gill net dasar atau bottom gill net di Indonesia sangat baik, hal ini dikarenakan secara kuantitatif, jumlahnya cukup besar di Indonesia. Hal-hal yang mempengaruhi besarnya bottom gill net secara kuantitatif di Indonesia :
1. Bahan dasar (material) pembuatan bottom gill net mudah diperoleh
2. Proses pembuatan bottom gill net mudah
3. Harganya relatif murah
4. Fishing method dari bottom gill net mudah
5. Biaya relatif murah sehingga dapat dimilliki oleh siapa saja
A. KONSTRUKSI ALAT TANGKAP ( BOTTOM GILL NET )
1. KONSTRUKSI UMUM
Pada umumnya yang disebutkan dengan gill net dasar ialah jaring dengan bentuk empat persegi panjang, mempunyai mata jaring yang sama ukurannya pada seluruh jaring, lebar jaring lebih pendek jika dibandingkan dengan panjangnya, dengan perkataan lain, jumlah mesh depth lebih sedikit jika dibandingkan dengan jumlah mesh size pada arah panjang jaring.
Pada lembaran-lembaran jaring, pada bagian atas dilekatkan pelampung (float) dan pada bagian bawah dilekatkan peemberat (sinker). Dengan menggunakan dua gaya yang berlawanan arah, yaitu bouyancy dari float yang bergerak menuju keatas dan sinking force dari sinker ditambah dengan berat jaring didalam air yang bergerak menuju kebawah, maka jaring akan terentang.
2. DETAIL KONSTRUKSI
Pada kedua ujung jaring diikatkan jangkar, yang dengan demikian letak jaring akan telah tertentu. Karena jaring ini direntang pada dasar laut, maka dinamakan bottom gill net, yang demikian berarti jenis-jenis ikan yang menjadi tujuan penangkapan ialah ikan-ikan dasar (bottom fish) ataupun ikan-ikan damersal. Posisi jaring dapat diperkirakan pada float berbendera atau bertanda yang dilekatkan pada kedua belah pihak ujung jaring, tetapi tidaklah dapat diketahui keadaan baik buruknya rentangan jaring itu sendiri.
3. KARAKTERISTIK
Set bottom gill net direntang pada dasar laut, sehingga yang menjadi tujuan penangkapan adalah ikan-ikan damersal.
Bottom gill net berbentuk empat persegi panjang yang dilengkapi dengan pelampung, pemberat, ris atas dan ris bawah serta dilengkapi dengan jangkar.
Besarnya mata jaring bervariasi tergantung sasaran yang akan ditangkap baik udang maupun ikan.
Jaring gill net direntangkan pada float berbendera yang diletakkan pada kedua belah pihak ujung jaring tetapi tidak dapat diketahui keadaan baik buruknya rentangan itu sendiri.
5. BAHAN DAN SPESIFIKASINYA
Pengenalan bahan jaring sintetis dengan mutu yang tinggi telah merangsang perkembangan pemakaian alat ini. Hal ini disebabkan efisiensi penangkapan yang jauh lebih baik yakni 2-13 kali lebih tinggi pada PA monofillament yang transparant (jernih) dibanding dengan bahan serat alami (kapas, rami, rami halus).
1. Persyaratan
Persyaratan efisiensi penangkapan yang baik memerlukan rendahnya daya rangsang alat untuk organ penglihatan atau organ lateral line sebelum ikan terkait atau terjerat dalam jaring gill net harus disesuaikan dengan kebiasaan hidup ikan melebihi trawl dan purse seine.
Bahan dari gill net harus mempunyai daya tampak sekecil mungkin dalam air, terutama sekali untuk penangkapan di siang hari pada air jernih. Serat jaring juga harus sehalus dan selunak mungkin untuk mengurangi daya penginderaan dengan organ side line. Serat jaring yang lebih tipis juga kurang terlihat. Sebaliknya bahan harus cukup kuat untuk menahan rontaan ikan yaang tertangkap dan dalam upayanya untuk membebaskan diri. Lebih lanjut diperlukan kemuluran dan elastisitas yang tepat untuk menahan ikan yang terjerat atau terpuntal sewaktu alat dalam air atau sewaktu penarikan keatas kapal tetapi tidak menyulitkan sewaktu ikan itu diambil dari jaring. Bahan yang daya mulurnya tinggi untuk beban kecil tidak sesuai untuk gull net karena ukuran ikan yang terjerat pada insang tergantung pada ukuran mata jaring. Jaring perlu memiliki kekuatan simpul yang stabil dan ukuran mata jaring tidak boleh dipengaruhi air.
2. Macam dan Ukuran benang
PA continous filament adalah bahan yang paling lunak dari semua bahan sintetis dalam kondisi basah, warna putih mengkilat yang alami adalah jauh lebih terlihat dalam air jernih. Warna hijau, biru, abu-abu dan kecoklatan merupakan warna-warna yang nampak digunakan paling umum pada perikanan komersial.
Sebab banyaknya macam dari gill net sesuai dengan ukuran, ukuran mata jaring, jenis ikan, pola operasi, kondisi penangkapan, dll tidak mungkin memberi rekomendasi yang menyeluruh untuk seleksi bahan jaring. Semua nilai R tex adalah nominal dan berkenaan dengan netting yarn yang belum diselup dan belum diolah.
3. Warna Jaring
Warna jaring yang dimaksudkan disini adalah terutama dari webbing. Warna float, ropes, sinkers dan lain-lain diabaikan, mengingat bahwa bagian terbesar dari gill net adalah webbing. Pada synthetic fibres, net preservation dalam bentuk pencelupan telah tidak diperlukan, kemudian pula warna dari twine dapat dibuat sekehendak hati, yang dengan demikian kemungkinan mengusahakan warna jaring untuk memperbesar fishing ability ataupun catch akan dapat lebih diusahakan. Dengan perkataan lain, warna jaring yang sesuai untuk tujuan menangkap jenis-jenis ikan yang menjadi tujuan dapat diusahakan. Warna jaring dalam air akan dipengaruhi oleh faktor-faktor depth dari perairan, transparancy, sinar matahari, sinar bulan dan lain-lain faktor, dan pula sesuatu warna akan mempunyai perbedaan derajat “terlihat” oleh ikan –ikan yang berbeda-beda. Karena tertangkapnya ikan-ikan pada gill net ini ialah dengan cara gilled dan entangled, yang kedua-duanya ini barulah akan terjadi jika ikan tersebut menubruk atau menerobos jaring, maka hendaklah diusahakan bahwa efek jaring sebagai penghadang, sekecil mungkin.
A. HASIL TANGKAPAN
Karena jaring ini direntang pada dasar laut, yang demikian berarti jenis-jenis ikan yang menjadi tujuan penangkapan ialah ikan-ikan dasar (bottom fish) ataupun ikan-ikan damersal. Jenis-jenis ikan seperti cucut, tuna, yang mempunyai tubuh sangat besar sehingga tak mungkin terjerat pada mata jaring ataupun ikan-ikan seperti flat fish yang mempunyai tubuh gepeng lebar, yang bentuk tubuhnya sukar terjerat pada mata jaring, ikan-ikan seperti ini akan tertangkap dengan cara terbelit-belit (entangled). Jenis ikan yang tertangkap berbagai jenis, misalnya herring, cod, halibut, mackerel, yellow tail, sea bream, tongkol, cakalang, kwe, layar, selar, dan lain sebagainya. Jenis-jenis udang, lobster juga menjadi tujuan penangkapan jaring ini.
B. DAERAH PENANGKAPAN
Pada umumnya yang menjadi fishing ground atau daerah penangkapan adalah daerah pantai, teluk, dan muara-muara yang mengakibatkan pula jenis ikan yang tertangkap berbagai jenis.
C. ALAT BANTU PENANGKAPAN
Alat bantu penangkapan merupakan faktor penting untuk mengumpulkan ikan pada suatu tempat yang kemudian dilakukan operasi penangkapan. Alat bantu yang digunakan dalam operasi penangkapan ikan dengan menggunakan bottom gill net adalah :
* LAMPU / LIGHT FISHING
Kegunaan lampu untuk alat penangkapan adalah untuk mengumpulkan kawanan ikan kemudian melakukan operasi penangkapan dengan menggunakan gill net. Jenis-jenis lampu yang digunakan bermacam-macam antara lain :
Ancor / obor
Lampu petromak / starmking
Lampu listrk ( penggunaannya masih terbetas )
Faktor yang paling berpengaruh dalam penggunaan lampu adalah kekuatan cahaya lampu yang digunakan, selain itu juga ada beberapa faktor lain :
Kecerahan : Jika kecerahan kecil, berarti banyak partikel-partikel dalam air maka pembiasan cahaya terserap dan akhirnya tidak menarik perhatian dari ikan yang ada disekitarnya. Jadi kecerahan menentukan kekuatan lampu.
Gelombang, angin, arus : Akan mempengaruhi kedudukan lampu. Adanya faktor-fakttor itu menyebabkan kondisi sinar yang semula lurus menjadi bengkok.
Sinar bulan : Pada waktu bulan purnama sukar sekali mengadakan penangkapan menggunakan lampu karena cahaya terbagi rata, sadangkan penangkapan menggunakan lampu diperlukan keadaan gelap agar cahaya lampu terbias sempurna dalam air.
* PAYAOS
Payaos merupakan rumpon laut dalam yang berperan dalam pengumpulan ikan pada tempat tertentu dan dilakukan operasi penangkapan. Payaos pelampungnya terdiri dari 60-100 batang bambu yang disusun dan diikat menjadi satu sehingga membentuk rakit (raft), selain dari bambu pelampung juga terbuat dari alumunium. Tali pemberat (tali yang menghubungkan antara pelampung dan pemberat) mencapai 1000-1500 m, terbuat dari puntalan rotan, bahan syntetik seperti polyethylene, nylon, polyester, polypropylene. Sedangkan pemberat berkisar 1000-3500 kg yang terbuat dari batu dimasukkan dalam keranjang rotan dan cor-coran semen. Dan untuk rumbai-rumbainya digunakan daun nyiur dan bekas tali polyethylene dan ban bekas.
D. TEKNIK OPERASI
Setting
Pada saat melakukan setting, kapal diarahkan ke tengah kemudian dilakukan pemasangan jaring bottom gill net oleh Anak Buah Kapal (ABK). Jaring bottom gill net dipasang tegak lurus terhadap arus sehingga nantinya
akan dapat menghadang gerombolan ikan yang sebelumnya telah dipasangi rumpon, dan gerombolan ikan tertarik lalu mengumpul di sekitar rumpon maupun light fishing dan akhirnya tertangkap karena terjerat pada bagian operculum (penutup insang) atau dengan cara terpuntal.
Holling
Setelah dilakukan setting dan ikan yang telah terkumpul dirasa sudah cukup banyak, maka dilakukan holling dengan menarik jaring bottom gill net dari dasar perairan ke permukaan ( jaring ditarik keatas kapal ). Setelah semua hasil tangkap dan jaring ditarik ke atas kemudian baru dilakukan kegiatan penyortiran.
E. HAL – YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN PENANGKAPAN
FAKTOR LUAR :~
1. Keadaan Musim ( cuaca )
Karena fishing ground atau daerah penangkapan merupakan daerah teluk, sehingga baik buruknya musim atau cuaca akan mempengaruhi keberhasilan suatu penangkapan.
2. Keberadaan Resources (sumberdaya ikan)
Makin banyak jumlah unit dari suatu alat tangkap, maka akan tejadi over fishing sehingga keberadaan resources akan terancam. Hal ini akan mengurangi jumlah penagkapan di suatu daerah penangkapan. Untuk mengatasinya maka dilakukan pembatasan ukuran mesh size gill net itu sendiri.
3. Teknik Penangkapan
Apabila salah dalam pengoperasian alat tangkap maka akan didapatkan hasil tangkapan (catch) yang minimum.
4. Market (Pemasaran)
Pemasaran atau market ke daerah konsumsi atau tujuan juga mempengaruhi keberhasilan suatu penangkapan.
FAKTOR DALAM :
1. Bahan Jaring
Supaya ikan mudah dapat terjerat pada mata jaring, maka bahan jaring harus dibuat sebaik mungkin. Bahan atau twine yang paling banyak digunakan adalah yang terbuat dari syntetis. Twine yang dipergunakan hendaklah “lembut tidak kaku, pliancy, suppleness”. Dengan demikian maka twine yang digunakan adalah cotton, hennep, linen, amylan, nylon, kremona, dan lain-lain sebagainya, dimana twine ini mempunyai fibres
yang lembut. Bahan-bahan dari manila hennep, sisal, jerami dan lain-lain yang fibres-nya keras tidak digunakan. Untuk mendapatkan twine yang lembut, ditempuh cara yang antara lain dengan memperkecil diameter twine ataupun jumlah pilin per-satuan panjang dikurangi, ataupun bahan-bahan celup pemberi warna ditiadakan.
2. Ketegangan rentangan tubuh jaring
Yang dimaksud rentangan disini ialah baik rentangan ke arah lebar demikian pula rentangan ke arah panjang. Ketegangan rentangan ini, akan mengakibatkan terjadinya tension baik pada float line ataupun pada tubuh jaring. Dengan perkataan lain, jika jaring direntang terlalu tegang maka ikan akan sukar terjerat, dan ikan yang telah terjeratpun akan mudah lepas. Ketegangan rentangan tubuh jaring akan ditentukan terutama oleh bouyancy dari float, berat tubuh jaring, tali temali, sinking force dari sinker dan juga shortening yang digunakan.
3. Shortening atau shrinkage
Supaya ikan-ikan mudah terjerat (gilled) pada mata jaring dan juga supaya ikan-ikan tersebut setelah sekali terjerat pada jaring tidak akan mudah terlepas, maka pada jaring perlulah diberikan shortening yang cukup.
4. Tinggi Jaring
Yang dimaksud dengan istilah tinggi jaring disini ialah jarak antara float line ke sinker line pada saat jaring tersebut terpasang di perairan. Jenis jaring yang tertangkapnya ikan secara gilled, lebih lebar jika dibandingkan dengan jaring yang tertangkapnya ikan secara entangled. Hal ini tergantung pada swimming layer dari pada jenis-jenis ikan yang menjadi tujuan penangkapan.
5. Mesh size
Dari percobaan-percobaan terdapat kecenderungan bahwa sesuatu mesh size mempunyai sifat untuk menjerat ikan hanya pada ikan-ikan yang besarnya tertentu batas-batasnya. Dengan perkataan lain, gill net akan bersikap selektif terhadap besar ukuran dari catch yang diperoleh. Oleh sebab itu untuk mendapatkan catch yang besar jumlahnya pada pada suatu fishing ground, hendaklah mesh size disesuaikan besarnya dengan besar badan ikan yang jumlahnya terbanyak pada fishing ground tersebut.
SUMBER BACAAN / DAFTAR PUSTAKA
Ayodhyoa,A.U. Fishing Methods. Bagian Penangkapan Ikan , Fakultas Perikanan IPB. Bogor. 1975.
Ayodhyoa,A.U. Metode Penangkapan Ikan. Fakiltas Perikanan IPB. Bogor. 1974.
FAO Catalogue of Small Scale Fishing Gear. Published by arrangement with the Food and Agriculture Organization of the United Nations by Fishing New .
Fisherman’s Manual. Published by World Fishing. London. 1976.
Klust,Gerhard. Bahan Jaring Untuk Alat Penangkap Ikan. Team Penerjemah BPPI Semarang. Balai Pengembangan Penangkapan Ikan. Semarang. 1987.
Nomura,Masatsune dan Tomeyoshi Yamazaki. Fishing Techniques (1). Japan International Cooperation Agency. Tokyo. 1977
Baca SelengkapnyaMENGENAL ALAT TANGKAP PERIKANAN GILLNET

MENGENAL UBUR-UBUR KOTAK

Nama latin ubur-ubur adalah Rhizotomae. Ubur-ubur adalah sejenis binatang laut yang tergolong ke dalam kelas Scyphozoa. Tubuhnya yang berbentuk payung berumbai, bisa menyebabkan gatal di kulit jika tersentuh. Rongga di tubuh kelompok ubur-ubur dinamakan gastrovaskuler. Celah besar tempat keluarnya air dari tubuhnya disebut osculum, sedangkan larva ubur-ubur dinamai planula. Ubur-ubur adalah invertebrata (hewan tak bertulang belakang). Tercatat ada kurang lebih 1.800 jenis ubur-ubur.  Jenis ubur-ubur yang paling berbahaya adalah dari golongan Cubozoa. Sengatan tentakelnya dapat menyebabkan kematian seseorang. Ubur-ubur yang paling mematikan dari golongan ini ialah ubur-ubur Irukandji, ubur-ubur yang biasa hidup di pantai barat pantai Australia.Ubur-ubur Kotak
Ubur-ubur kotak ( Chironex sp )
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan    : Animalia
Filum        : Cnidaria
Kelas        : Cubozoa
Ordo        : Carybdeida
Ubur-ubur kotak (kelas Cubozoa) adalah invertebrata cnidaria yang dibedakan olehmedusa berbentuk kubus. Ubur-ubur kotak terkenal karena bisa yang sangat kuat dihasilkan oleh beberapa spesies: Chironex fleckeri, Carukia barnesi dan Malo kingiadalah salah satu makhluk yang paling berbisa di dunia. Sengatannya dan beberapa spesies lain di kelas ini sangat menyakitkan dan kadang-kadang fatal bagi manusia. Bahkan sengatan dari beberapa spesies ubur-ubur kotak (yang sering disebut ubur-ubur Irukandji) dapat menimbulkan Sindrom Irukandji.
Sistem tubuh ubur-ubur kotak sedikit lebih kompleks dari ubur-ubur lainnya. Sistem sarafnya lebih berkembang dan matanya sudah dilengkapi retina, kornea dan lensadengan jumlah 24 buah mata (20 buah ocelli dan 4 buah rhopalium). Kecepatan renangnya juga lebih cepat dibandingkan ubur-ubur lainnya.
Tata nama
"Ubur-ubur kotak" atau "tawon laut" juga merupakan nama umum untuk Chironex fleckeri yang terkenal berbahaya.Istilah ambigu tapi umum digunakan adalah "tawon laut" dan "penyengat laut" yang kadang-kadang digunakan untuk merujuk pada spesies yang lebih berbisa dari ubur-ubur kotak.
Anatomi
"Cubomedusae", dariErnst HaeckelKunstformen der Natur, 1904
Ubur-ubur kotak yang paling tampak berbeda dari ubur-ubur Scyphozoan adalah bahwa ubur-ubur kotak berbentuk payung, bukan berkubah atau berbentuk mahkota. Bagian bawah payung berkonsentrasi dan meningkatkan aliran air yang dikeluarkan dari payung. Akibatnya, ubur-ubur kotak bisa bergerak lebih cepat dari ubur-ubur lainnya. Bahkan, kecepatannya hingga enam meter per menit telah dicatat.
Sistem saraf ubur-ubur kotak juga lebih berkembang dibandingkan dengan ubur-ubur lainnya. Khususnya, ubur-ubur ini memiliki cincin saraf di sekitar dasar payung yang berdenyut; ditemukan di spesies lain hanya dalam ubur-ubur mahkota. Sedangkan beberapa ubur-ubur lainnya memang masih sederhana, ubur-ubur kotak yang unik memiliki mata lengkap denganretina, kornea dan lensa. Mata ubur-ubur ini berada pada setiap dari empat sisi bel ubur-ubur dalam kelompok yang bernama rhopalia. Hal ini memungkinkan ubur-ubur kotak untuk melihat titik-titik cahaya tertentu, sebagai lawan dari hanya membedakan antara terang dan gelap. Ubur-ubur kotak juga memiliki 20 ocelli (mata sederhana), yang tidak membentuk gambar tetapi mendeteksi terang dan gelap, sehingga ubur-ubur kotak memiliki total 24 mata. Ubur-ubur kotak juga melihat dengan kompleks, mungkin perilaku dipandu visual seperti menghindari rintangan dan berenang cepat. Penelitian menunjukkan bahwa, karena jumlah sel-sel saraf dan pengaturan rhopalia ubur-ubur kotak secara keseluruhan, pemrosesan visual dan integrasi setidaknya sebagian terjadi dalam rhopalia dari ubur-ubur kotak. Sistem saraf yang kompleks mendukung sistem sensorik relatif maju dibandingkan dengan ubur-ubur lainnya, dan perilaku ubur-ubur kotak telah digambarkan sebagai lebih mirip ikan.
Tentakel beberapa spesies panjangnya dapat mencapai 3 m (9.8 ft). Ubur-ubur kotak beratnya bisa mencapai 2 kg (4.4 lb).
Distribusi
Meskipun spesies dari ubur-ubur kotak sangat sedikit pada daerah tropis Indo-Pasifik, berbagai spesies ubur-ubur kotak dapat ditemukan secara luas di samudera tropis dan subtropis, termasuk Atlantik dan Pasifik timur, dengan spesies di utaraCalifornia, Mediterania (misalnya, Carybdea marsupialis)[8] dan Jepang (misalnya Chironex yamaguchii), dan selatanAfrika Selatan (misalnya, Carybdea branchi) dan Selandia Baru (misalnya, Carybdea sivickisi).
Pertahanan dan mekanisme makan
Ubur-ubur kotak aktif memburu mangsanya (zooplankton dan ikan kecil), bukan melayang seperti halnya ubur-ubur sebenarnya. Ubur-ubur kotak mampu mencapai kecepatan hingga 4 knot (1,8 m/s).
Setiap tentakel memiliki sekitar 500.000 knidosit, mengandung nematosis, mekanisme berbentuk tombak yang menyuntikkan racun mikroskopis ke korban. Ada berbagai jenis nematosis ditemukan di Cubozoa.
Racun dari Cubozoa berbeda dari Scyphozoa, dan digunakan untuk menangkap mangsanya (ikan kecil dan invertebrata, termasuk udang dan ikan umpan) dan untuk pertahanan dari predator, yang meliputi ikan dalam familia Stromateidae danEphippidae, baronang, kepiting (rajungan) dan berbagai spesies penyu (penyu sisik dan penyu pipih). Namun penyu, tampaknya tidak terpengaruh oleh sengatan dan memakan ubur-ubur kotak.
Bahaya bagi manusia
Rambu peringatan ubur-ubur kotak di pantaiTanjung Tribulation diQueensland, Australia
Jaring pembatas ubur-ubur di Pantai Ellis, Queensland
Ubur-ubur kotak disebut "makhluk dunia yang paling berbisa",[14] meskipun hanya beberapa spesies di dalam kelas telah dikonfirmasi untuk bisa terlibat dalam kematian manusia dan beberapa spesies tidak menimbulkan ancaman serius. Misalnya, sengatan hasil Chiropsella barthanya gatal dan nyeri ringan.
Di Australia, racun fatal yang paling sering dilakukan oleh spesies terbesar dari kelas ini yaitu ubur-ubur Chironex fleckeri, karena potensi tinggi dari racun dibawa dalam nematosis ubur-ubur kotak. Pada Desember 2012, Angel Yanagihara dari Departemen Ilmu Kedokteran Tropikal Universitas Hawaii menemukan racun yang menyebabkan sel menjadi berpori yang cukup untuk memungkinkan kebocoran kalium, menyebabkan hiperkalemia yang dapat menyebabkan gagalnya kardiovaskular dan kematian dalam waktu 2 sampai 5 menit. Dia mengatakan suatu senyawa seng dapat dikembangkan sebagai penangkal.
Baru-baru ini ditemukan dan sangat mirip Chironex yamaguchii mungkin sama berbahaya, seperti yang telah terlibat dalam beberapa kematian di Jepang. Hal yang jelas karenanya dari spesies ini adalah yang biasanya terlibat dalam kematian diSemenanjung Malaya. Pada tahun 1990, seorang anak 4 tahun tewas setelah disengat oleh Chiropsalmus quadrumanus di Pulau Galveston di Teluk Meksiko, dan baik spesies ini atau Chiropsoides buitendijki dianggap pelaku kemungkinan dua kematian di Malaysia barat. Setidaknya dua kematian di Australia telah dikaitkan dengan ubur-ubur Irukandji yang berukuran kecil.   Mereka yang menjadi korban ini mungkin menderita gejala fisik dan psikologis yang parah dikenal sebagai sindrom Irukandji. Namun, sebagian besar korban bertahan hidup, dan 62 orang keluar dari rumah sakit karena racun Irukandji di Australia pada tahun 1996, hampir setengah bisa pulang dengan sedikit atau tidak ada gejala setelah 6 jam, dan hanya dua yang masih dirawat di rumah sakit kira-kira sehari setelah mereka disengat.
Fakta Unik Ubur-ubur
Ubur-ubur merupakan fauna eksotis yang cantik dan unik. Mereka seringkali hidup bergerombol, sehingga jika dilihat kelompok ubur-ubur ini seperti tumpukan sampah plastik yang terbawa arus. Mereka juga merupakan salah satu binatang laut yang efisien dalam menggunakan energi dan memiliki fisik yang indah. Namun, kendati demikian, ubur-ubur dalam jumlah besar bisa memusnahkan ekosistem fauna lokal yang mereka datangi. Oleh karena hal inilah, para ilmuwan kian penasaran untuk mengenalnya lebih dekat, sehingga melakukan berbagai penelitian dan menemukan fakta unik ubur-ubur seperti dijelaskan berikut ini:
Mereka telah ada sejak zaman purba. Fosil ubur-ubur tertua ditemukan di Utah pada tahun 2007. Hasil penelitian menunjukan jika fosil itu berusia > 500 juta tahun.
Zat Bioluminescence membuat efek cahaya buatan. Di tahun 2008, suatu  nobel sukses jatuh ke tangan 3 ilmuan yang menemukan asal cahaya pada tubuh ubur-ubur. Cahaya tersebut rupanya berasal dari zat bernama Bioluminescence.  Zat ini kemudian digunakan oleh para ilmuan selanjutnya untuk menerangi gerakan protein pada sel tumor dan kanker saat dilakukannya operasi pembedahan.
Ubur-ubur juga mengalami vertigo. Di awal 90-an, NASA mengirimkan sekelompok ubur-ubur ke luar orbit antariksa untuk mengetahui seberapa sanggup mereka tumbuh dan hidup di dalam lingkungan yang tanpa gravitasi.  hasilnya, setelah pulang ke bumi mereka tak bisa lagi berenang. Tekanan gravitasi di bumi yang menyebabkan pergerakan mereka menjadi lebih berat telah mengacaukan performa mereka untuk berenang di lingkungan Bumi.
Penggunaan energi mereka untuk bergerak sangat efisien. Otot mereka tak lebih dari 1 persen massa tubuhnya. Mereka berenang dengan membuat otot mereka berkontraksi sehingga sanggup mendorong air untuk mengantarnya bergerak maju.
Masalah 'over populasi'. Karena sangat efisiennya penggunaan energi mereka dalam bergerak, menyebabkan ubur-ubur mempunyai cadangan energi yang sangat besar untuk hidup dan berkembang biak. Hal ini membuat populasi mereka mengalami pertumbuhan yang sangat-sangat signifikan. Perairan di kawasan Asia seperti Jepang dan Korea mengalami invasi ubur-ubur dalam jumlah besar. Invasi ini sangatlah merugikan industri perikanan setempat, sebab mereka bukan hanya memakan ikan-ikan tetapi juga menghabiskan populasi zooplankton yang tersebar disana.
Sanggup bertahan di lingkungan terpapar radiasi Nuklir yang kuat. Beberapa ubur-ubur bulan sempat kedapatan menyerbu ke dalam pipa suplai pembangkit listrik tenaga nuklir di Oskarshamn, tenggara Swedia. Serangan yang mengerikan itu memaksa pabrik untuk menghentikan aktifitasnya sementara.
Ubur-ubur merupakan pembunuh yang sangat berbahaya. Sengatannya selain dapat memunculkan ruam dan gatal-gatal. pada beberapa spesies juga bisa menyebabkan kematian pada seseorang yang tersengat hanya dalam waktu  tiga menit. Berdasarkan data National Science Foundation (NSF), ubur-ubur kotak telah berhasil membunuh antara 20 hingga 40 orang per tahun di Filipina.
Tidak hanya untuk menelan mangsanya, mulut ubur-ubur juga memiliki manfaat ganda. Ya, mulut mereka rupanya juga berguna sebagai anus untuk melakukan pembuangan zat sisa.
Sebuah pos cuka di Queensland
Di Australia, C. fleckeri telah menyebabkan setidaknya 64 kematian sejak laporan pertama pada tahun 1883,[20] tapi bahkan dalam pertemuan spesies yang paling sering hanya menghasilkan racun ringan. Kematian terbaru di Australia telah berkecimpung dalam anak-anak, yang terkait dengan massa tubuh yang lebih kecil.[20] Di bagian Semenanjung Malaya, jumlah kasus mematikan jauh lebih tinggi (diFilipina saja, 20-40 orang diperkirakan meninggal setiap tahun dari sengatanChirodropida), mungkin karena keterbatasan akses ke fasilitas medis dan anti racun, dan fakta bahwa pantai Australia banyak tertutup jaring dan memiliki cukayang ditempatkan di posisi menonjol sehingga memungkinkan untuk pertolongan pertama yang cepat.[22] Cuka juga digunakan sebagai pengobatan oleh penduduk setempat di Filipina.
Ubur-ubur kotak dikenal sebagai "suckerpunch" laut tidak hanya karena sengatannya yang jarang terdeteksi sampai racun disuntikkan, tetapi juga karena ubur-ubur kotak hampir transparan.
Di Australia utara, periode resiko tertinggi untuk ubur-ubur kotak adalah antara bulan Oktober dan Mei, namun sengatan dan spesimen telah dilaporkan semua bulan dalam setahun. Demikian pula, kondisi resiko tertinggi adalah pada saat air dan angin yang tenang dan daratan bercahaya, namun sengatan dan spesimen telah dilaporkan dalam semua kondisi.
Di Hawaii, jumlah ubur-ubur kotak puncaknya sekitar 7 sampai 10 hari setelah bulan purnama, ketika ubur-ubur ini mendekati pantai untuk bertelur. Kadang-kadang datangnya begitu parah sehingga penjaga pantai harus menutup pantai, seperti pada Teluk Hanauma, sampai jumlahnya berkurang.
Pengobatan sengatan
Setelah tentakel ubur-ubur kotak melekat pada kulit, memasukan nematosis dengan racun ke dalam kulit, menyebabkan rasa sakit menyengat dan menyiksa. Tekanan imobilisasi dapat digunakan pada anggota badan untuk memperlambat penyebaran racun mematikan. Menyiram sengatan dengan cuka, setelah diyakini berguna untuk menetralkan tentakel penyengat dari ubur-ubur kotak, telah ditunjukkan untuk memperkuat daripada meringankan efek dari sengatan ubur-ubur kotak.
Menghilangkan tentakel tersisa biasanya dilakukan dengan handuk atau tangan bersarung, untuk mencegah sengatan sekunder. Tentakel masih akan menyengat walaupun terpisah dari bel, atau setelah ubur-ubur mati.
Meskipun sering direkomendasikan dalam cerita rakyat dan bahkan beberapa makalah tentang pengobatan sengatan,[27]tidak ada bukti ilmiah bahwa urin, amonia, pelunak daging, natrium bikarbonat, asam borat, jus lemon, air tawar, krim steroid, alkohol, bantalan dingin, pepaya, atau hidrogen peroksida akan menonaktifkan sengatan lanjutan, dan zat ini bahkan dapat mempercepat pelepasan racun.[28] Bantalan panas telah terbukti untuk menghilangkan rasa sakit moderat.[29] Pembalut tekanan imobilisasi, spirtus alkohol, atau vodka tidak boleh digunakan untuk sengatan ubur-ubur.Sengatan parah Chironex fleckeri dapat menyebabkan serangan jantung dengan cepat.
Pada tahun 2011, Asisten Riset Universitas Hawaii Profesor Angel Yanagihara mengumumkan bahwa ia telah mengembangkan pengobatan yang efektif dengan "mendekonstruksi" racun yang terkandung dalam tentakel ubur-ubur kotak.[34] Efektivitasnya ditunjukkan dalam dokumenter PBS NOVA Venom: Nature's Killer, yang ditayangkan di televisi Amerika Utara pada bulan Februari 2012.
Perlindungan selama berenang atau menyelam
Mengenakan pantyhose selama menyelam (baik oleh wanita maupun pria, juga di bawah pakaian selam scuba) adalah perlindungan yang efektif terhadap sengatan ubur-ubur kotak. Pantyhose dulunya dianggap bekerja karena menutupi kulit sehingga terlindungi dari sengatan ubur-ubur kotak (nematosis), tetapi sekarang diketahui terkait dengan cara sel-sel penyengat bekerja. Sel-sel penyengat pada tentakel ubur-ubur kotak ini tidak dipicu oleh sentuhan, tetapi dipicu oleh bahan kimia yang ditemukan pada kulit.
Taksonomi
Seperti tahun 2007, setidaknya 36 spesies ubur-ubur kotak yang diketahui. Ubur-ubur kotak dikelompokkan menjadi duaordo dan tujuh familia.[38] Sebuah spesies baru sedikit yang telah dideskripsikan sejak saat itu, dan kemungkinan spesies lain tidak dideskripsikan.
Baca SelengkapnyaMENGENAL UBUR-UBUR KOTAK

MANFFAT EKSTRAK IKAN GABUS TERHADAP KESEHATAN MANUSIA

Ikan gabus dikenal dengan beberapa nama lain,
misalnya: haruan, kocolan, bogo, licingan, kutuk/ kotes (Jawa), common snakehead (Inggris), dan Ophiocephalus striatus (Latin). Ikan ini termasuk dalam golongan ordo Labyrinthici, dengan ciri khas pada kepalanya terdapat rongga-rongga guna menyimpan persediaan udara untuk pernafasan sehingga dapat hidup di air dengan kadar oksigen yang rendah. Bersifat karnivora, gabus adalah pemakan hewan-hewan lain yang lebih kecil seperti cacing, anak ikan, udang, ketam dll.
Bentuk ikan gabus kepalanya
menyerupai ular, badannya hampir
bulat, panjang, dan makin ke belakang makin menjadi gepeng, punggungnya cembung dan perutnya rata. Panjang tubuhnya dapat mencapai 100 cm, dan hidupnya di muara-muara sungai dan danau-danau.
Ikan gabus tergolong sebagai ikan air tawar yang bernilai ekonomi. Jenis ikan gabus ini selalu diperdagangkan dalam keadaan segar sebagai ikan yang sudah mati maupun yang masih hidup di pasar ikan di kota maupun di pasar desa pada hari pekan. Akan tetapi ada kalanya ada juga yang diperdagangkan sudah menjadi ikan asin. Ikan ini sangat digemari masyarakat karena rasa dagingnya yang lezat maupun gurih.
Walaupun tekanan ekologis terhadap lahan rawa-rawa di daerah Riau sangat tinggi sehingga dapat mengganggu tempat bereproduksi ikan gabus ini, akan tetapi mereka masih dapat melakukan pemijahan di anak-anak sungai yang masih diliputi oleh vegetasi air. Di daerah Riau spesies ikan gabus ini dapat dijumpai di perairan sungai dan anak sungai, danau (oxbow), waduk, suak, tasik, kanal, saluran irigasi, genangan air dan sawah.
Deskripsi dan klasifikasi
Bentuk tubuh ikan memanjang, permukaan tubuh dan kepala ditutupi oleh sisik tebal dan permukaannya kasar. Sirip punggung panjang yang dasarnya mencapai pangkal ekor, permulaan sirip ini di atas atau sedikit di belakang sisip dada. Kepala berbentuk seperti kepala ular. Pada tulang mata bajak dan langit-langit lebih dari 2 baris gigi kecil dan tidak bertaring. Antara dasar sirip punggung dan linea lateralis terdapat 4 - 5 baris sisik, D 38 - 43, A 23 - 27, Linea lateralis (Lt) 52 - 57. TL = 900 mm. Pada sisi badan mempunyai pita warna berbentuk > mengarah ke depan. Sirip dada lebih pendek dari pada bagian kepala di belakang mata. Umumnya bagian punggung tubuh berwarna gelap dan bagian perut (abdominal) berwarna putih. Sirip ekor berbentuk bundar (rounded) (Saanin, 1986; Pulungan et al., 1986; Kottelat et al., 1993 dan Pulungan 2000).
Klasifikasi ikan berdasarkan Saanin (1986) bahwa ikan gabus tergolong ke dalam filum Chordata, sub filum Vertebrata, super kelas Pisces, kelas Teleostei, ordo Labyrinthyci, famili Ophiocephalidae dan genus Ophiocephalus. Akan tetapi Kottelat et al. (1993) mengelompokkan spesies ikan gabus ini ke dalam ordo Perciformes, sub ordo Channoidei, famili Channidae, genus Channa dan spesies Channa striatus.
Beberapa daerah di Riau mengenal jenis ikan gabus ini dengan sebutan sebagai ikan bocek. Sedangkan secara internasional dikenal juga dengan sebutan ikan "snake head" dan "murrel". Penyebaran jenis ikan ini di dunia terdapat di daerah paparan Sunda, pulau Sulawesi, Lesser Sundas, Moluccas, India, Indochina dan China (sebagai hasil introduksi) (Kottelat et al., 1993).
Ikan gabus yang terdapat di rawa-rawa sekitar desa Teratak Buluh dekat aliran sungai Kampar Kanan, Riau pertama kalinya mencapai matang gonad untuk ikan jantan pada ukuran 165 mm dan ikan betina 162 mm (Ahmad et al., 1983). Dengan nilai fekunditas pada ikan yang berukuran 165 - 360 mm berkisar antara 1.190 - 11.307 butir.
Spesies ikan gabus ini terkenal sebagai ikan karnivor yang buas dan juga dikenal sebagai hama pada kolam-kolam ikan penduduk. Hasil pengamatan Januar (1999) bahwa jenis makanan ikan gabus yang terdapat di sekitar sungai Tangun dan rawa-rawa di sekitarnya yang merupakan anak sungai Kampar Kanan adalah berupa anak ikan : betok (Anabas testudineus), selincah/kopar (Belontia hasseltii), sepat rawa (Trichogaster trichopterus), laga (Betta sp.), paweh (Osteochilus hasseltii) dan pantau (Rasbora sp.). Jenis anak ikan yang paling digemari oleh ikan gabus adalah anak ikan dari genus Rasbora.
Ikan Gabus Untuk Program Kemanusiaan
Adalah Florentinus Nurtitus, S.Si.T, seorang ahli gizi (dietician) di Rumah Sakit Elizabeth Semarang, yang berhasil memproduksi dan memasarkan ekstrak ikan gabus sebagai suplemen makanan tambahan bergizi tinggi di Kota Semarang. Meskipun bukan pionir untuk penemuan ini, namun tekadnya yang kuat untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat tentang pentingnya mengkonsumsi ikan patut diacungi jempol.
Produk ekstrak gabus berguna membantu meningkatkan kesehatan serta mempercepat kesembuhan dan pemulihan penderita: kekurangan albumin, protein, haemoglobin, zat besi, penyakit stroke, diabetes mellitus, kanker, lupus, parkinson, jantung, penyakit hati, ginjal, asma, pasca operasi, lanjut usia, dan lain-lain.
Awalnya Florentinus tidak berminat, namun dokter rekan sekerjanya terus mendesaknya
untuk menemukan sejenis makanan tambahan dengan harga murah dan mudah didapat. Rekan kerjanya menegaskan bahwa makanan tambahan ini sangat penting untuk kemanusiaan. Sebagai contoh, ketika kadar albumin seseorang rendah dan memerlukan penanganan medis di rumah sakit, maka akan diperlukan sedikitnya 6 pak infus albumin dengan harga sekitar Rp. 1.500.000,dan ini dinilai memberatkan pasien. Bandingkan dengan produk serupa yaitu Sari Mina yang hanya Rp.55.000 perpak dengan kemasan 50 cc,yang setara dengan 1 pak infus. Jika
diperlukan 6 pak berarti hanya Rp.330.000.
Fenomena ikan gabus bermula dari penelitian khusus oleh Prof Dr. In Eddy Suprayitno MS, Guru Besar Ilmu Biokimia Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya tahun 2003, dengan judul'Albumin Ikan Gabus (Ophiocephalus striatus) sebagai Makanan Fungsional Mengatasi Permasalahan Gizi Masa Depan". Penelitian tersebut membahas tentang gangguan sintesis albumin yang biasanya terjadi pada pengidap penyakit hati kronis, ginjal serta kekurangan gizi. Lebih lanjut, Dr. Eddy Suprayitno bekerjasama dengan dokter bedah digestif melakukan perbandingan antara Human Serum Albumin (HSA) yang harganya sangat mahal dengan Fish Albumin Ikan Gabus yang berharga jauh lebih murah. Terbukti suplemen ikan gabus dapat mempercepat penyembuhan luka hingga 30% (dari rerata 10 hari menjadi 7 hari).
Dalam penelitiannya, Dr. Eddy Suprayitno menjelaskan bahwa kandungan protein ikan gabus cukup tinggi bila dibandingkan ikan yang lain yaitu 25,2 g / 100 g daging ikan gabus segar. Ikan gabus juga mengandung 6,2 % albumin dan 0,001741% Zn dengan asam amino esensial yaitu treonin, valin, metionin, isoleusin, leusin, fenilalanin, lisin, histidin, dan arginin serta asam amino non esensial seperti asam aspartat, serin, asam glutamat, glisin, alanin, sistein, tiroksin, hidroksilisin, amonia, hidroksiprolin, dan prolin.
Penelitian manfaat ikan gabus untuk mempercepat perbaikan status gizi juga dilakukan oleh Dr.dr. Sri Adiningsih,MS,MCN, akademisi dari Universitas Airlangga dan Prof DR. dr Nurpudji A. Taslim, MPH, SpGK, ahli gizi dari Universitas Hasanudin. Untuk meningkatkan asas kepraktisan pengkonsumsian ikan gabus, Dr. Nurpudji bahkan telah mengembangkan supplemen tersebut dalam bentuk kapsul.
Sari Mina, Ekstrak Ikan Gabus Bentuk Cair
Sari Mina adalah produk olahan ikan gabus dalam bentuk ekstrak filtrasi beku yang telah diproduksi dengan sistem tertentu sehingga nilai gizinya sama dalam setiap kemasannya. Sari Mina dipasarkan dalam ukuran 5o cc /bungkus yang dikemas dalam kantung plastik dan disimpan dalam kondisi beku (< -10 derajat celcius) agar tahan lama dan dalam kondisi stabil (maksimal 3 bulan sejak diproduksi). Produk tersebut telah banyak digunakan pasien rawat inap maupun rawat jalan sejak awal tahun 2004 di RS Elisabeth Semarang.
Produk ekstrak gabus berguna membantu meningkatkan kesehatan serta mempercepat kesembuhan dan pemulihan penderita: kekurangan albumin, protein, haemoglobin, zat besi, penyakit stroke, diabetes mellitus, kanker, lupus, parkinson, jantung, penyakit hati, ginjal, asma, pasca operasi, lanjut usia, dan lain-lain.
Dosis yang dianjurkan untuk penyembuhan adalah 100 - 150cc per hari atau 2 - 3 bungkus (@ 5occ) per hari, dapat diminum langsung setelah ditiriskan dengan cara kemasan direndam dalam air hangat (tidak panas) pada waktu pagi dan sore, atau tergantung kebutuhan. Apabila Sari Mina digunakan untuk menjaga kondisi tubuh maka dosis bisa diatur antara 1-2 kali per hari saja atau cukup 1-2 bungkus (@ 5o cc) per harinya. Menurut Florentinus, kandungan albumin 1 pak kemasan Sari Mina setara dengan 20 butir putih telur.
Filtrat Sari Mina bisa langsung
diminum bagi pasien yang sadar atau
bisa dicampurkan ke dalam makanan lewat pipa (sonde) bila kondisi pasien sangat lemah sehingga tidak mampu makan atau kesulitan menelan atau
dalam kondisi tidak sadar. Apabila albumin pasien di dalam darah terlalu rendah dan diinstruksikan oleh dokter untuk ditambahkan albumin melalui pembuluh darah/infus maka pemberian/konsumsi Sari Mina bisa dihentikan dahulu dan apabila pemberian albumin telah selesai maka pemberian/konsumsi Sari Mina bisa dilanjutkan. Pemberian Sari Mina bisa juga tetap dijalankan walaupun ditambahkan albumin melalui infus dengan mempertimbangkan asupan total protein yang masuk disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi serta penyakit.
Gabus Tangkap Kandungan Proteinnya Lebih Tinggi
Ikan gabus yang diolah oleh Florentinus bukan dari sembarang tempat, ia hanya mengambil ikan dari perairan Rawa Pening Semarang. Pertimbangannya karena airnya tenang, luas dan masih alamiah. Menurut Florentinus, ikan gabus yang hidup dengan karakter air seperti ini mempunyai kadar protein yang lebih tinggi dibanding tempat lain. Sementara menurut penelitian Prof Dr. Eddy Suprayitno, kandungan albumin ikan gabus air payau lebih tinggi, 4,76 % dibanding gabus air danau yaitu o,8 %. Selain itu, gabus jantan kadar albuminnya 6,7 %, lebih rendah dibanding betina yang mencapai 8,2 %.
Ikan gabus yang akan diolah sebaiknya berukuran 1 kg atau lebih, karena jika beratnya belum mencapai 1 kg maka dari segi produksi kurang optimal karena kadar protein yang dihasilkan dari ikan yang beratnya di bawah 1 kg lebih rendah. Kadar
protein yang diperoleh dari 1 ekor gabus ukuran 1 kg, masih lebih tinggi daripada yang diperoleh dari 2 ekor ukuran 500 gram. Dalam satu kali produksi (biasanya 2 minggu sekali) dibutuhkan 70-100 kg ikan gabus, dan 1 kg ikan akan menghasilkan 170-200 cc ekstrak ikan gabus. Dalam melakukan proses produksinya, Florentinus dibantu oleh 6 orang pegawai.
Ketika awal-awal produksi, ekstrak gabusnya masih berbau sangat amis dan dikhawatirkan belum dapat diterima oleh setiap orang. Atas saran dari istrinya, maka Florentinus menambahkan esen aroma jeruk wangi pada ekstrak ikan gabusnya agar baunya tidak terlalu menyengat dan lebih dapat diterima oleh banyak orang.
Mengingat karakter ikan gabus yang cenderung cepat busuk dibanding dengan ikan lain karena kadar proteinnya yang sangat tinggi, maka ikan yang datang harus segera diolah. Permasalahan saat ini adalah ukuran pasokan ikan yang didapat seringkali kurang dari 1 kg. Namun Florentinus enggan mengambil gabus dari hasil budidaya atau gabus laut, karena gabus liar di perairan umum dinilai mempunyai kandungan protein paling tinggi.
Proses pembuatan ekstrak gabus Sari Mina :
1. Cuci dan bersihkan.
2. Sayat secara vertikal di sepanjang punggung dan seluruh badannya
3. Kukus ikan hingga minyaknya keluar.
4. Tampung minyak yang keluar dan takar sesuai ukuran
5. Tuang ke dalam kemasan plastik dan masukkan kedalam mesin pembeku.
Baca SelengkapnyaMANFFAT EKSTRAK IKAN GABUS TERHADAP KESEHATAN MANUSIA

MENGENAL KUALITAS AIR UNTUK BUDIDAYA IKAN TAWAR MAUPUN TAMBAK PAYAU

Budidaya perikanan air memiliki arti yang sangat penting. Pada perairan tambak adalah ekosistem perairan payau. Salinitasnya berada di antara salinitas air laut dan salinitas air tawar dan tidak mantap. Dari musim ke musim, dari bulan ke bulan dari hari ke hari,bahkan mungkin dari jam ke jam dapat saja terjadi perubahan. Perubahan ini disebabkan proses biologis yang terjadi di dalam perairan tersebut serta adanya interaksi antara perairan tambak dengan lingkungan sekitarnya. Misalnya ketika hari hujan, air tawar masuk kedalam petakan tambak menyebabkan kadar garam air tambak menurun. Atau ketika populasi fitoplankton berkembang pesat akibat pemupukan, kandungan oksigen dalam air tambak pada malam hari menyusut drastis. Secara umum parameter-parameter yang mengalami perubahan dapat digolongkan ke dalam parameter kimia, fisika, dan biologi air. Perubahan-perubahan yang terjadi sampai batas tertentu dapat ditoleransi oleh ikan bandeng. Tetapi kalau terlalu jauh dapat merusak kenyamanan hidup, malahan dapat mendatangkan kematian. Karena itu, perlu penanganan cepat. Sudah atau belum perlunya penanganan ini bergantung kepada intensitas perubahan, yang informasinya diperoleh lewat pemantauan dan pengukuran.
1. FAKTOR FISIKA AIR
Faktor fisika air meliputi temperatur, kecerahan, dan kekeruhan air. Ketiganya berpengaruh besar terhadap keberhasilan budidaya ikan. Bila salah satu saja tidak memenuhi syarat, ikan tentu tidak akan dapat tumbuh optimal.
a. Temperatur Air
Temperatur atau suhu air adalah ukuran tinggi rendahnya panas air yang berada di tempat budidaya, baik kolam, karamba, maupun karamba jaring apung.
Temperatur air dipengaruhi oleh radiasi cahaya matahari sebagai sumber energi, suhu udara musim, dan lokasi. Air mempunyai kapasitas yang besar untuk menyimpan panas sehingga suhunya relatif  konstan dibanding suhu udara.
Energi cahaya matahari sebagian besar diserap di lapisan permukaan air. Intensitas cahaya matahari semakin kedalam semakin berkurang. Transfer panas dari lapisan atas ke bawah tergantung kekuatan pengadukan air oleh angin. Untuk meningkatkannya maka dipasang kincir angin. semakin tinggi konsentrasi bahan terlarut dalam air maka akan tinggi penyerapan panasnya.
Suhu air mempengaruhi densitasnya. semakin tinggi suhu air, densitasnya semakin rendah (gr/cm3). Perbedaan densitas air dilapisan atas dan di lapisan bawah dapat menyebabkan stratifikasi. Air yang lebih hangat berada dilapisan atas, sementara air yang lebih dingin berada pada lapisan bawah.
Suhu yang mematikan untuk hampir semua semua jenis ikan adalah 10-11 drajat celsius selama beberapa hari. Nafsu makan ikan menurun pada suhu di bawah 16 drajat celsius, sementara reproduksi ikan mengalami penurunan pada suhu di bawah 21 drajat celsius.
Batas optimum suhu berbeda beda, tergantung berbagai faktor lain, seperti pH, DO, altitude (ketinggian tempat), kedalaman air, dan cuaca.
b. Kecerahan
Kecerahan air atau transparansi adalah daya tembus cahaya matahari ke dalam perairan. Kecerahan air dipengaruhi oleh kerapatan plankton dan kekeruhan yang disebabkan oleh partikel tanah terlarut.
Pengukuran kecerahan air sering dilakukan pada budidaya intensif maupun super-intensif. Alat untuk mengukur kecerahan air adalah Piring Seichi (Seichi Disc). Piring seichi dibuat dari papan bundar berdiameter 20 cm berwarna putih hitam selang-seling membentuk 4 bagian, dilengkapi batang kayu dengan penunjuk kedalaman.
Kecerahan air bisa dipakai sebagai indikator untuk melihat kerapatan plankton di perairan. Tingkat kecerahan air yang baik untuk budidaya adalah 100 - 60 cm. Artinya, pada kedalaman 60 - 100 cm, cahaya matahari masih bisa menembus. Pada kecerahan 20 cm, kerapatan plankton sudah pada ambang batas berbahaya karena justru menurunkan kualitas air secara umum.
C. Kekeruhan Air
Kekeruhan air mempengaruhi kemampuan air untuk meneruskan cahaya ke dalam air. Kekeruhan pada air kolam, karamba dan karamba jaring apung disebabkan oleh koloid partikel-partikel lumpur dan bahan organik terlarut.
Air dengan tingkat kekeruhan tertentu malah berdampak baik bagi pertumbuhan ikan karena kekeruhan itu mengurangi intensitas sinar yang masuk ke dalam air.
Kondisi didalam air yang tidak terlalu terang justru mengakibatkan ikan lebih bernafsu untuk makan.
Air yang keruh karena partikel lumpur membuat lumut atau ganggang terhambat pertumbuhannya. Air yang keruh pun membantu ikan menghindar dari predator, mengingat predator umumnya lebih menyukai air yang jernih.
Parameter Kimia
Parameter kimia air tambak mencakup konsentrasi zat-zat terlarut seperti oksigen (O2), ion hidrogen (pH), karbon dioksida (CO2), amonia (NH3), asam sulfida (H2S), nitrogen dalam bentuk nitrit (NO2-N), dan lainlain. Beberapa diantara yang penting dijelaslkan seperti di bawah ini.
Oksigen Terlarut
Ikan bandeng membutuhkan oksigen yang cukup untuk kebutuhan pernafasannya. Oksigen tersebut harus dalam keadaan terlarut dalam air, karena bandeng tidak dapat mengambil oksigen langsung dari udara. Ikan bandeng dan organisme-perairan lainnya mengambil oksigen ini tanpa melibatkan proses kimia.
DO meter
Oksigen masuk dalam air tambak melalui difusi langsung dari udara, aliran air yang masuk tambak, termasuk hujan, proses fotosintesa tanaman berhijau daun. Kandungan oksigen dapat menurun akibat pernafasan organisme dalam air dan perombakan bahan organik. Cuaca mendung dan tanpa angin dapat menurunkan kandungan oksigen di dalam air. Untuk kehidupan ikan bandeng dengan nyaman diperlukan kadar oksigen minimum 3 mg per liter. Oksigen terlarut di dalam air (Dissolved Oxygen = DO). Dapat diukur dengan titrasi di laboratorium serta dengan metode elektrometri menggunakan Dissolved Oxygen Meter (DO meter).
Derajat Keasaman (pH)
Derajat keasaman air tambak dinyatakan dengan nilai negatif logaritma ion hidrogen atau nilai yang dikenal dengan istilah pH.
pH= -log [H+]
Kalau konsentrasi ion hidrogen (H+) tinggi, pH akan rendah, reaksi lebih asam. Sebaliknya kalau konsentrasi ion hidrogen rendah pH akan tinggi dan reaksi lebih alkalis. pH air tambak sangat dipengaruhi pH tanahnya. Sehingga pada tambak baru yang tanahnya asam maka pH airnyapun rendah. Penurunan pH dapat terjadi selama proses produksi disebabkan terbentuknya asam kuat, adanya gas-gas dalam proses perombakan bahan organik, proses metabolisme perairan dan lain-lain. Nilai pH yang baik untuk budidaya ikan berkisar antara 6,5 hingga 9. Kematian di luar kisaran tersebut pertumbuhan kurang baik, bahkan pada pH 4 atau 11 kematian bandeng dapat terjadi. pH air laut cenderung basa. Karena itu pergantian air dapat digunakan untuk meningkatkan pH air tambak. pH air dapat diukur menggunakan kertas lakmus, yakni membandingkan warna kertas yang telah ditetesi air tambak dengan warna standar pH atau cara yanglebih mudah, yakni menggunakan Ph meter
Konsentrasi Karbon Dioksida
Karbon dioksida di dalam air dapat berasal dari :
1. Hasil pernafasan organisme dalam air sendiri
2. Difusi dari udara
3. Terbawa oleh air hujan
4. Terbawa oleh air yang masuk dari lokasi sekitar tambak.
Konsentrasi karbon dioksida yang terlalu tinggi di suatu perairan akan berbahaya bagi hewan yang dipelihara. Bahaya ini meliputi :
1. Gangguan pelepasan CO2 waktu ikan bernafas
2. Gangguan pengambilan O2 waktu ikan bernafas
3. Penurunan pH
Sebaliknya CO2 yang terlalu sedikit akan berpengaruh negatif kepada fotosintesis karena gas ini merupakan bahan baku pembentukan glukosa (siklus Calvin-Benson). Kandungan CO2 yang baik untuk budidaya ikan tidak lebih dari 15 ppm. Pengukuran CO2 umumnya menggunakan metoda titrasi.
Amonia (NH3)
Amonia di perairan berasal dari hasil pemecahan nitrogen organik (protein dan urea) dan nitrogen anorganik yang terdapat dalam tanah dan air; dapat pula berasal dari dekomposisi bahan organik (tumbuhandan biota akuatik yang telah mati) yang dilakukan oleh mikroba danjamur. Kadar amonia ditambak pembesaran bandeng sebaiknya tidak lebih dari 0,1 ppm – 0,3 ppm. Kadar amonia yang tinggi akan mematikan ikan di tambak pembesaran. Oleh karena itu, kadar amonia di tambak pembesaran ini harus selalu dipantau. Selain itu kadar amonia di tambak pembesaran juga dipengaruhi oleh kadar pH dan suhu. Makin tinggi suhu dan pH air maka makin tinggi pula konsentrasi NH3. Kadar amonia di tambak pembesaran dapat diukur secara kolorimetri, yakni membandingkan warna air contoh dengan warna larutan standar setelah diberi pereaksi tertentu. Biasanya menggunakan alat bantu spectrofotometer.
Asam Sulfida (H2S)
Asam sulfida yang merupakan salah satu asam belerang; terdapat di tambak pembesaran bandeng sebagai hasil proses dekomposisi bahan organik dan air laut yang banyak mengandung sulfat. Asam sulfida ini dapat dideteksi dengan jelas pada saat melakukan pengeringan dasar tambak. Dasar tambak yang mengandung banyak sulfida akan bewarna hitam dan tercium bau belerang. Kadar asam sulfida ditambak pembesaran sebaiknya di bawah 0,1 mg/l. Kandungan H2S di air tambak dapat diukur secara kolorimetri, yakni membandingkan warna air contoh dengan warna larutan standar setelah diberi pereaksi tertentu.
Baca SelengkapnyaMENGENAL KUALITAS AIR UNTUK BUDIDAYA IKAN TAWAR MAUPUN TAMBAK PAYAU

BUDIDAYA BANDENG DI AIR TAWAR DAN PAYAU

Beberapa daerah di indonesia khususnya di daerah Jawa dan Sulawesi Selatan, ikan bandeng memiliki tingkat preferensi konsumsi yang tinggi. Selain sebagai ikan konsumsi, ikan bandeng juga banyak dicari untuk digunakan sebagai bahan umpan bagi para pengusaha penangkapan ikan tuna dan cakalang. Sehingga ikan bandeng sekarang merupakan ikan yang mempunyai nilai pasaran yang sangat besar. Dalam laporan saya ini akan membahas mengenai ikan pelagis khusnya ikan jenis bandeng.A.                Klasifikasi ikan bandeng
Ikan Bandeng merupakan salah satu jenis ikan budidaya air payau sehingga dapat ditemukan hidup di laut maupun perairan tawar. Memiliki nama ilmiah Chanos chanos dan terdapat dalam famili chanidae dan dikenal juga dengan nama milikfish.Klasifikasi dari ikan bandeng seperti dibawah ini:Kingdom         : Animalia
Phylum         : Chordata
Subphylum      : Vertebrata
Class          : Pisces
Subclass       : Teleostei
Ordo           : Malacopterygii
Family         : Chanidae
Genus          : Chanos
Spesies        : Chanoschanos
B. Morfologi Ikan Bandeng
Ikan bandeng memiliki ciri-ciri sebagai berikut, tubuh berbentuk torpedo, seluruh permukaan tubuhnya tertutup oleh sisik yang bertipe lingkaran yang berwarna keperakan, pada bagian tengah tubuh terdapat garis memanjang dari bagian penutup insang hingga ke ekor. Ikan bandeng jantan sisipnya itu kelihatan lebih cerah dari betinanya. Sirip dada dan sirip perut dilengkapi dengan sisik tambahan yang besar, sirip anus menghadap kebelakang. Selaput bening menutupi mata, mulutnya kecil dan tidak bergigi, terletak pada bagian depan kepala dan simetris.
Ikan bandeng memiliki dua jenis kelamin yaitu jantan dan betina, bandeng jantan dapat diiketahui dari lubang anusnya yang hanya dua buah dan ukuran badan agak kecil sedangkan
bandeng betina memiliki lubang anus tiga buah dan ukuran badan lebih besar dari ikan bandeng jantan.
C. Reproduksi Ikan Bandeng
Induk ikan bandeng telah matang gonad. Tahap selanjutnya yaitu pemijahan induk ikan bandeng. Pemijahan ikan bandeng secara alami terjadi didaerah pantai yang jernih dengan kedalaman 40-50 meter, dan ombak yang sedikit beriak karena sifat telurnya yang melayang. Pemijahan bandeng berlangsung parsial, yaitu telur matang dikeluarkan sedangkan yang belum matang terus berkembang didalam tubuh untuk pemijahan berikutnya. Dalam setahun, 1 ekor induk bandeng dapat memijah lebih dari satu kali. Jumlah telur yang dihasilkan dalam satu kali pemijahan berkisar antara 300.000-1.000.000 butir telur.
Indikator bandeng memijah adalah bandeng jantan dan bandeng betina berenang beriringan dengan posisi jantan dibelakang betina. Pemijahan lebih sering terjadi pada pasang rendah dan fase bulan seperempat. Dalam siklus hidupnya, bandeng berpindah dari satu ekosistem ke ekosistem lainnya mulai dari laut sampai ke sungai dan bahkan danau. Hal ini disebabkan karena bandeng memiliki kisaran adaptasi yang tinggi terhadap salinitas.
D. Habitat dan Persebaran Ikan Bandeng
Bandeng merupakan jenis ikan yang dapat hidup diair laut dan iar tawar. Mereka hidup di Samudra Hindia dan menyeberanginya sampai Samudra Pasifik, mereka cenderung bergerombol di sekitar pesisir dan pulau-pulau dengan koral. Ikan bandeng merupakan penjelajh yang tanguh yang mampu berenng sampai ratusan kilometer. Ikan yang muda dan baru menetas hidup di laut untuk 2 – 3 minggu, lalu berpindah ke rawa-rawa bakau, daerah payau, dan kadangkala danau-danau. Bandeng baru kembali ke laut kalau sudah dewasa dan bisa berkembang biak.
Penyebaran ikan bandeng begitu luas, bahkan hampir setiap pantai di Indonesia terdapat benih bandeng (nener). Penyebaran bandeng di Indonesia meliputi daerah-daerah pantai di Jawa, Sumatera, Sulawesi, Nusa Tenggara, Bali serta Pulau Buru. Di pulau Jawa, nener sering ditangkap di pantai Banten, Jakarta, Cirebon, Semarang, Gresik dan Surabaya. Sebagai ikan laut, bandeng juga tersebar mulai dari pantai Afrika timur sampai ke Kepulauan Tuamotu sebelah timur Tahita, dan dari Jepang selatan sampai Australia utara. Sifat yang menyolok dari ikan bandeng ialah sifat euryhallien, yaitu tahan terhadap perubahan yang besar dalam hal salinitas air, hal ini membuat bandeng dapat dipelihara dalam tambak air payau. Meskipun kadar garam dalam tambak air payau sering turun-naik, kehidupan sehari-hari ikan bandeng tidak terpengaruh dengan kondisi tersebut.
E. Cara Makan Ikan Bandeng
Bandeng termasuk herbivora (pemakan tumbuh-tumbuhan). Ikan ini memakan klekap, yang tumbuh di pelataran kolam. Bila sudah terlepas dari permukaan tanah, klekap ini sering disebut sebagai tahi air. Pakan bandeng terutama terdiri dari plankton (Chlorophyceae dan Diatomae), lumut dasar (Cyanophyceae), dan pucuk tanaman ganggang (Nanas dan Ruppia). Tumbuh-tumbuhan yang berbentuk benang dan yang lebih kasar lagi akan lebih mudah dimakan oleh ikan bandeng bila mulai membusuk.
Ikan bandeng mempunyai kebiasaan makan pada siang hari. Di habitat aslinya ikan bandeng mempunyai kebiasaan mengambil makanan dari lapisan atas dasar laut, berupa tumbuhan mikroskopis seperti: plankton, udangrenik, jasadrenik, dan tanaman multiseluler lainnya. Makanan ikan bandeng disesuaikan dengan ukuran mulutnya. Pada waktu larva, ikanbandengtergolongkarnivora, kemudianpadaukuran fry menjadi omnivore. Pada ukuran juvenil termasuk ke dalam golongan herbivore,  dimana pada fase ini juga ikan bandeng sudah bisa makan pakan buatan berupa pellet. Setelah dewasa,  ikan bandeng kembali berubah menjadi omnivora lagi karena mengkonsumsi, algae, zooplankton, bentoslunak, dan pakan buatan berbentuk pellet.
F. Cara Menangkap Ikan Bandeng
Untuk mendapatkan ikan bandeng dengan hasil yang memuaskan, anda perlu mengetahui umpan mancing bandeng. Ikan bandeng adalah ikan yang hidup di campuran air tawar dan air laut (air payau). Ikan bandeng sering berenang di permukaan air secara berkelompok dan hanya sesekali menyelam ke dasar.
Memancing ikan bandeng memberikan sensasi tersendiri karena tarikan (strike) yang menantang. Sering terjadi joran terseret ikan ke tengah kolam atau empang tanpa diketahui oleh pemancingnya sehingga senar antar pemancing bisa saling tersangkut dan kusut.
Ikan bandeng sering memberikan perlawanan dengan meloncat-loncat atau berenang kesana kemari dengan kecepatan tinggi. Bahkan ketika sudah ditangkap, Ikan bandeng masih tetap meronta keras saat tergantung di tali pancing dan kadang terlepas dari mata kail lalu tercebur lagi ke kolam atau terjatuh ke tanah.
Tips memilih umpan bandeng tergantung dari pakan ikan bandeng yang diberikan oleh pemilik tambak bandeng.
Jenis umpan ikan bandeng diantaranya :
a. Pelet olahan: essen tenggiri, sarden, pelet coklat.
b. Pelet merah ikan koi.
c. Pelet udang/udang kupas.
d. Cacing laut
e. Lumut coklat.
f. Remah roti.
Peralatan pancing untuk memancing Bandeng :
a. Stoper secukupnya.
b. Timah pemberat/timah melinjo/timah bulat nomor 4.
c. Kail nomor 3 4, atau 5.
d. Line monofilament PE 1 – PE 2 atau 2 lbs – 20 lbs.
f. Reel seri 1000 – 4000.
g. Joran berukuran panjang 150 cm – hingga 180 cm dengan rating kenur/action medium 3 – 18 lbs.
Cara memancing ikan bandeng yang harus anda perhatikan:
 upayakan tali atau senar pancing sekecil mungkin, jarak antara pemberat dengan pancing kurang lebih 20 cm, posisi pelampung didekatkan dengan pemberat, lempar pancing dengan jarak yang cukup jauh dengan si pemancing, taburkan pelet terapung untuk memancing ikan memakan umpan, sering berpindah posisi bila umpan tidak juga dimakan.
Tips dan trik memancing bandeng yang dapat di terapkan:
a. Bawalah minimal 2 joran agar anda tidak kehilangan momen strike atau tetap bisa memancing ketika joran putus.
b. Waktu memancing terbaik adalah cuaca cerah sekitar jam 9 pagi sampai jam 12 siang atau jam 3 sore.
c. Jangan memancing saat musim penghujan karena jumlah air tawar yang banyak mengurangi nafsu makan bandeng.
G. Manfaaat Ikan Bandeng
1. manfaat bagi manusia
Ikan bandeng memiliki kandungan protein yang tinggi mencapai 20,38% sehingga baik sebagai sumber pemenuhan kebutuhan protein tubuh. Berikut manfaat yang didapat dengan mengkonsumsi ikan bandeng:
a) Mencegah penyakit jantung coroner
b) Menurunkan kadar kolesterol darah
c) Meningkatkan daya tahan tubuh
d) Membantu pertumbuhan sistem sarat serta perkembangan otak
e) Mencegah penyakit karena kekurangan gizi mikro
f) Mengurangi resiko hipertensi
Baca SelengkapnyaBUDIDAYA BANDENG DI AIR TAWAR DAN PAYAU

EFEK PEMANASAN GLOBAL TERHADAP BUMI DAN MANUSIA

Perubahan iklim global pada prinsipnya disebabkan naiknya gas-gas karbon dioksida, gas metan, dan gas-gas lain pada beberapa dekade ini. Gas-gas ini dikenal dengan sebutan gas rumah kaca (GRK) karena berfungsi seperti kaca yang meneruskan cahaya matahari, tetapi menangkap energi panas dari dalamnya. Sekarang semakin tebal konsentrasi gasnya, sehingga dampaknya semakin banyak panas bumi yang tertahan sehingga meningkatkan suhu udara yang dekat dengan permukaan bumi.Perubahan iklim global sebenarnya bukanlah sesuatu hal yang baru, karena secara alami iklim di bumi selalu berubah dari jutaan tahun lalu. Sebagai buktinya adalah sebagian besar wilayah bumi yang saat ini lebih hangat, sebenarnya merupakan tutupan es pada jutaan tahun lalu, dan beberapa abad belakangan ini suhu bumi rata-rata telah naik turun secara musiman, sebagai akibat fluktuasi radiasi matahari atau akibat letusan gunung berapi secara berkala. Namun, di luar kejadian alami tersebut, saat ini perubahan iklim global lebih cepat terjadi akibat peningkatan gas-gas rumah kaca yang dihasilkan dari berbagai aktivitas manusia, seperti pembakaran hutan dan penggunaan secara besar-besaran bahan bakar fosil.
Efek rumah kaca disebabkan karena naiknya konsentrasi gas karbon dioksida (CO2) dan gas-gas lainnya di atmosfer. Kenaikan konsentrasi gas CO2 ini disebabkan oleh kenaikan pembakaran bahan bakar minyak, batu bara dan bahan bakar organik lainnya yang melampaui kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk menyerapnya.
Energi yang masuk ke Bumi:
25% dipantulkan oleh awan atau partikel lain di atmosfer
25% diserap awan
45% diserap permukaan bumi
10% dipantulkan kembali oleh permukaan bumi
Energi yang diserap dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi inframerah oleh awan dan permukaan bumi. Namun sebagian besar inframerah yang dipancarkan bumi tertahan oleh awan dan gas CO2 dan gas lainnya, untuk dikembalikan ke permukaan bumi. Dalam keadaan normal, efek rumah kaca diperlukan, dengan adanya efek rumah kaca perbedaan suhu antara siang dan malam di bumi tidak terlalu jauh berbeda.
Selain gas CO2, yang dapat menimbulkan efek rumah kaca adalah belerang dioksida, nitrogen monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2) serta beberapa senyawa organik seperti gas metana dan klorofluorokarbon (CFC). Gas-gas tersebut memegang peranan penting dalam meningkatkan efek rumah kaca.
Walaupun telah dilakukan usaha besar-besaran untuk menurunkan produksi karbon dioksida, konsenterasi di atmosfer hanya akan berkurang sedikit sekali, karena molekul karbon dioksida bertahan selama 100 tahun di udara sebelum akhirnya diambil oleh proses geokimia. Dengan demikian, kadar karbon dioksida di udara semakin meningkat sejalan dengan adanya kebakaran yang sangat besar dan pertambahan kendaraan bermotor di seluruh dunia.
Dampak Pemanasan Global
Sebagai negara kepulauan, Indonesia sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Meskipun belum dapat dipastikan seberapa besar dampak bahaya yang akan ditimbulkan, beberapa dampak yang diperkirakan akan sangat signifikan adalah kenaikan suhu udara, perubahan cuaca terutama peningkatan curah hujan, kenaikan permukaan laut, krisis pangan, dan pengaruh pada keanekaragaman bahari.
Berdasarkan kajian yang telah dilakukan UNDP Indonesia (United Nation Development Program), perubahan iklim di Indonesia juga memiliki dampak besar terhadap rakyat miskin yang berprofesi sebagai petani dan nelayan, masyarakat yang tinggal di daerah pesisir dan pemukim perkotaan. Perubahan pola curah hujan, kelembapan dan kesuburan tanah akibat perubahan iklim menyebabkan produktivitas menurun, bahkan banyak petani ikan di daerah pesisir mengalami kegagalan panen akibat banjir dan kenaikan permukaan air laut.
Gelombang tinggi dan badai yang sering terjadi saat ini menyebabkan para nelayan tidak dapat berlayar untuk mencari ikan. Perubahan iklim itu sendiri telah menyebabkan penurunan jumlah populasi ikan di laut, yang disebabkan kerusakan terumbu karang akibat peningkatan suhu permukaan laut, sehingga produktivitas hasil perikanan selalu menurun. Kenaikan muka air laut juga dapat menggenangi tambak-tambak ikan dan udang di Jawa, Aceh, dan Sulawesi.
Perubahan iklim juga berpotensi memberi dampak negatif bagi masyarakat yang hidup di wilayah pesisir. Kenaikan satu meter saja dapat menenggelamkan 405.000 hektare wilayah pesisir dan menenggelamkan 2.000 pulau yang terletak dekat permukaan laut beserta kawasan terumbu karang. Kenaikan permukaan air laut antara 8-30 cm juga akan berdampak parah pada kota-kota pesisir, seperti Jakarta dan Surabaya. Gelombang tinggi, badai dan banjir rob laut menjadi ancaman bagi kota-kota tersebut.
Meningkatnya suhu permukaan bumi akan mengakibatkan adanya perubahan iklim yang sangat ekstrem di bumi. Hal ini dapat mengakibatkan terganggunya hutan dan ekosistem lainnya, sehingga mengurangi kemampuannya untuk menyerap karbon dioksida di atmosfer. Pemanasan global mengakibatkan mencairnya gunung-gunung es di daerah kutub yang dapat menimbulkan naiknya permukaan air laut. Efek rumah kaca juga akan mengakibatkan meningkatnya suhu air laut sehingga berakibat kepada beberapa pulau kecil tenggelam di negara kepulauan , yang membawa dampak perubahan yang sangat besar.
Menurut perhitungan simulasi, efek rumah kaca telah meningkatkan suhu rata-rata bumi 1-5 °C. Bila kecenderungan peningkatan gas rumah kaca tetap seperti sekarang akan menyebabkan peningkatan pemanasan global antara 1,5-4,5 °C sekitar tahun 2030. Dengan meningkatnya konsentrasi gas CO2 di atmosfer, maka akan semakin banyak gelombang panas yang dipantulkan dari permukaan bumi diserap atmosfer. Hal ini akan mengakibatkan suhu permukaan bumi menjadi meningkat.
Mitigasi dan Adaptasi
Mitigasi dan adaptasi perubahan iklim menjadi suatu hal yang mutlak perlu kita lakukan untuk menghadapi perubahan iklim global. Mitigasi merupakan upaya yang dilakukan untuk mencegah, menahan, atau memperlambat gas-gas rumah kaca yang menjadi penyebab utama pemanasan global. Sementara itu, adaptasi adalah usaha-usaha yang dilakukan untuk menyesuaikan diri terhadap dampak perubahan iklim yang memang telah terjadi dan kita rasakan saat ini. Meskipun demikian, mitigasi saja tidaklah cukup tanpa adanya upaya adaptasi, karena dampak perubahan iklim tetap dan akan terus kita rasakan. Oleh karena itu, adaptasi menjadi hal yang terpenting dilakukan untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan iklim global. Dari sektor perikanan, kelautan, dan pesisir, kegiatan adaptasi dapat dilakukan dengan cara:
Adaptasi pada lahan tambak untuk mengurangi dampak dan kerugian akibat banjir rob dilakukan dengan cara membuat tanggul, memasang jaring atau waring disekeliling tambak, peninggian tanggul, pembuatan saluran air penghubung antar kolam tambak.
Penanaman serta perawatan tananaman bakau untuk  mencegah abrasi lebih lanjut.
Budidaya ikan beralih  menggunakan keramba jaring apung
Pembuatan Batu Pelindung (tanggul) untuk mencegah serta mengurangi Erosi pantai yang sedang terjadi.
Menggunakan sistem tertutup pada budidaya ikan untuk mengatur  suhu agar tetap stabil.
Menggunakan system resirkulasi untuk meningkatkan produksi.
Melakukan kegiatan seleksi ikan unggul (Selective breeding) merupakan satu usaha/kegiatan untuk memperbaiki genetika ikan hasil budidaya dengan harapan ikan yang dilakukan seleksi dapat menghasilkan produktivitas ikan unggul.
Melakukan Transplantasi Spermatogonia untuk mendapatkan jenis ikan unggul (strain baru).
Kesimpulan
Global warming merusak tatanan alam secara umum dan perikanan khususnya.
Perlu kreatifitas dan evolusi bagi usaha di bidang perikanan dalam menangani cuaca dan lingkungan yang tidak lagi bersahabat.
Perlu adanya kesadaran masyarakat dalam menangani permasalahan global tersebut.
Daftar Pustaka
Darumaya, 2011, Pemodelan Genangan Banjir Rob Untuk Menaksir Kerugian Petani Tambak Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Skripsi. Fakultas Geografi,Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Freddy, N., 2007. Perubahan Iklim. Implikasinya Terhadap Kehidupan Di Laut, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Jereon, A., David, CM., Malcolm JB., Piet D., Marfai MA., 2009. Connecting Delta Cities. Coastal Cities, Flood Risk Management and Adaptation To Climate Change. VU University Press. Amsterdam.
Murtidjo, B.A., 1989. Tambak Air Payau Budidaya Udang dan Bandeng.Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Baca SelengkapnyaEFEK PEMANASAN GLOBAL TERHADAP BUMI DAN MANUSIA

CARA PENGOLAHAN LIMBAH AIR

Bahan padat yang mudah mengenda adalah bahan yang kurang begitu penting pada pengolahan ini pengurangan kebutuhan akan oksigen dapat dilaksanakan dangan baik memulai pengendapan. Pengendapan pada tangki pertama menyebabkan pertama menyebabkan perubahan loktasa menjadi laktat secara cepat dan menyulitkan pengolahan terhadap keduanya.
Pengolahan dengan penggunaan oksidasi mempunyai dua fase yaitu:
1. Fase asimilasi
Pada fase ini air buangan susu segar masih berada dalam tangki aerasi.
2. Fase endogen
Bakteri tidak mempunyai makanan baru tetapi mencerna makanan selama proses asimilasi dan memerluukan oksigen dalam waktu yang lama
Langkah-langkah Pengolahan Air Limbah
Langkah awal proses pengolahan limbah adalah merubahnya menjadi air yang sudah dikurangi pencemarannya. Proses ini akan menyebabkan terbentuknya lumpur, bau, serta sedikit panas(energy).
Air Limbah → Air berkurang tercemarnya +lumpur + bau + panas
Cara pengolahannya :
Aerobik
Anaerobik
Fakultatif
Kimiawi lannya
Cara Aerobik
Air limbah + udara (O2)  → Air lebih aman + lumpur + bau + energy (sedikit)
Bakteri aerob yang menguraikan air limbah.
Bakteri aerob dapat hidup karena ada udara.
Sehingga diperlukan unit tambahan “aerator”, atau kolam aerob.
Prosesnya lebih cepat.
Biaya lebih mahal karena harus mengoperasikan aerator.
Contohnya pada terjunan/bending air sungai yang tercemar.
Fungsi aerator = mensuplai oksigen dari luar, sehingga member hidup bagi bakteri untuk penguraian.
2. Cara anaerobic
Air limbah → Air limbah lebih aman + lumpur + bau + panas
Bakteri anaerob yang menguraikan air limbah, dalam kedaan tanpa udara atau sedikit udara.
Kelemahannya bau yang kuat.
Proses pengolahannya lebih lama.
Kelebihannya , tanpa aerator sehingga lebih murah.
Biasanya di limbah yang berbentuk genangan atau kali yang relative tidak bergerak.
Contohnya pada septic tank.
Cara fakultatif
Air limbah → air limbah lebih aman + lumpur + bau + panas
Fakultatif artinya sebagian waktu menggunakan cara aerob dan sebagian waktu lain menggunakan cara anaerob. Misalnya pada pengolahan cara aerob  diperlukan waktu 10 jam untuk mengperasikan aerator, pada fakultatif mungkin aerator cukup dioperasikan 4jam/hari(aerator tidak hidup terus-menerus) dan sisa waktu yang lain menggunakan cara anaerob. Sehingga dicapai hasil yang optimum. Contohnya adalah IPAL (Instalasi pengolahan air limbah)
Aerasi Didalam Pengolahan Limbah Cair
Secara umum, aerasi merupakan proses yang bertujuan untuk meningkatkan kontak antara udara dengan air. Pada prakteknya, proses aerasi terutama bertujuan untuk meningkatkan konsentrasi oksigen di dalam air limbah. Peningkatan konsentrasi oksigen di dalam air ini akan memberikan berbagai manfaat dalam pengolahan limbah.
Proses aerasi sangat penting terutama pada pengolahan limbah yang proses pengolahan biologinya memanfaatkan bakteri aerob. Bakteri aerob adalah kelompok bakteri yang mutlak memerlukan oksigen bebas untuk proses metabolismenya. Dengan tersedianya oksigen yang mencukupi selama proses biologi, maka bakteri-bakteri tersebut dapat bekerja dengan optimal. Hal ini akan bermanfaat dalam penurunan konsentrasi zat organik di dalam air limbah. Selain diperlukan untuk proses metabolisme bakteri aerob, kehadiran oksigen juga bermanfaat untuk proses oksidasi senyawa-senyawa kimia di dalam air limbah serta untuk menghilangkan bau. Aerasi dapat dilakukan secara alami, difusi, maupun mekanik.
Aerasi alami merupakan kontak antara air dan udara yang terjadi karena pergerakan air secara alami.  Beberapa metode yang cukup populer digunakan untuk meningkatkan aerasi alami antara lain menggunakan cascade aerator, waterfalls, maupun cone tray aerator.
Pada aerasi secara difusi, sejumlah udara dialirkan ke dalam air limbah melalui diffuser.  Udara yang masuk ke dalam air limbah nantinya akan berbentuk gelembung-gelembung (bubbles). Gelembung yang terbentuk dapat berupa gelembung halus (fine bubbles) atau kasar (coarse bubbles). Hal ini tergantung dari jenis diffuser yang digunakan.
Aerasi secara mekanik atau dikenal juga dengan istilah mechanical agitation menggunakan proses pengadukan dengan suatu alat sehingga memungkinkan terjadinya kontak antara air dengan udara.
Metode Lumpur Aktif Dalam Pengolahan Air Limbah
Merupakan proses pengolahan secara biologis aerobic dengan mempertahankan jumlah massa mikroba dalam suatu reaktor dan dalam keadaan tercampur sempurna. Suplai oksigen adalah mutlak dari peralatan mekanis, yaitu aerator dan blower, karena selain berfungsi untuk suplai oksigen juga dibutuhkan pengadukan yang sempurna. Perlakuan untuk memperoleh massa mikroba yang tetap adalah dengan melakukan  resirkulasi lumpur dan pembuangan lumpur dalam jumlah tertentu.
Pengaturan jumlah massa mikroba dalam sistem lumpur aktif dapat dilakukan dengan baik dan relatif mudah karena pertumbuhan mikroba dalam kondisi tersuspensi sehingga dapat terukur dengan baik melalui analisa laboratorium. Tetapi jika dibandingkan dengan sistem sebelumnya operasi sistem ini jauh lebih rumit. Khususnya untuk limbah industri  dengan karakteristik khusus.
Permasalahan dalam lumpur aktif antara lain :
Membutuhkan energi yang besar
Membutuhkan operator yang terampil dan disiplin dalam mengatur jumlah massa mikroba dalam reaktor
Membutuhkan penanganan lumpur lebih lanjut.
Proses lumpur aktif dalam pengolahan air limbah tergantung pada pembentukan flok lumpur aktif yang terbentuk oleh mikroorganisme (terutama bakteri), partikel inorganik, dan polimer exoselular. Selama pengendapan flok, material yang terdispersi, seperti sel bakteri dan flok kecil, menempel pada permukaan flok. Pembentukan flok lumpur aktif dan penjernihan dengan pengendapan flok akibat agregasi bakteri dan mekanisme adesi. Selanjutnya dinyatakan pula bahwa flokulasi dan sedimentasi flok tergantung pada hypobisitas internal dan eksternal dari flok dan material exopolimer dalam flok, dan tegangan permukaan larutan mempengaruhi hydropobisitas lumpur granular dari reaktor lumpur anaerobik.  limbah padat yang berasal dari suatu instalasi pengolah air limbah industri tekstil dapat digolongkan ke dalam limbah berbahaya karena mengandung logam berat.
Bakteri merupakan unsur utama dalam flok lumpur aktif. Lebih dari 300 jenis bakteri yang dapat ditemukan dalam lumpur aktif. Bakteri tersebut bertanggung jawab terhadap oksidasi material organik dan tranformasi nutrien, dan bakteri menghasilkan polisakarida dan material polimer yang membantu flokulasi biomassa mikrobiologi. Genus yang umum dijumpai adalah : Zooglea, Pseudomonas, Flavobacterium, Alcaligenes, Bacillus, Achromobacter, Corynebacterium, Comomonas, Brevibacterium, dan Acinetobacter, disamping itu ada pula mikroorganisme berfilamen, yaitu Sphaerotilus dan Beggiatoa, Vitreoscilla yang dapat menyebabkan sludge bulking.
Jumlah total bakteri dalam lumpur aktif standard adalah 108 CFU/mg lumpur. Sebagian besar bakteri yang diisolasi diidentifikasi sebagai spesies-spesies Comamonas-Psudomonas. Caulobacter, bakteri bertangkai umumnya ditemukan dalam air yang miskin bahan organik, dapat diisolasi dari kebanyakan pengolahan limbah, khususnya lumpur aktif .
Zoogloea adalah bakteri yang menghasilkan exopolysaccharide yang membentuk proyeksi khas seperti jari tangan dan ditemukan dalam air limbah dan lingkungan yang kaya bahan organik . Zoogloea diisolasi dengan menggunakan media yang mengandung m-butanol, pati, atau m-toluate sebagai sumber karbon. Bakteri ini ditemukan dalam berbagai tahap pengolahan limbah tetapi jumlahnya hanya 0,1-1% dari total bakteri dalam mixed liqour (Williams dan Unz, 1983).
Flok lumpur aktif juga merupakan tempat berkumpulnya bakteri autotrofik seperti bakteri nitrit (Nitrosomonas, Nitrobacter), yang dapat merubah amonia menjadi nitrat dan bakteri fototrofik seperti bakteri ungu non sulfur (Rhodospilrillaceae), yang dapat dideteksi pada konsentrasi sekitar 105 sel/ml. Bakteri ungu dan hijau ditemukan dalam jumlah yang sangat kecil. Barangkali, bakteri fototrofik hanya sedikit berperan dalam penurunan nilai BOD dalam lumpur aktif .
TEKNIK PENGOLAHAN AIR LIMBAH DENGAN BIOREMEDIASI
Bioremediasi merupakan penggunaan mikroorganisme untuk mengurangi polutan di lingkungan. Saat bioremediasi terjadi, enzim-enzim yang diproduksi oleh mikroorganisme memodifikasi polutan beracun dengan mengubah struktur kimia polutan tersebut, sebuah peristiwa yang disebut biotransformasi. Pada banyak kasus, biotransformasi berujung pada biodegradasi, dimana polutan beracun terdegradasi, strukturnya menjadi tidak kompleks, dan akhirnya menjadi metabolit yang tidak berbahaya dan tidak beracun.
Saat ini, bioremediasi telah berkembang pada perawatan limbah buangan yang berbahaya (senyawa-senyawa kimia yang sulit untuk didegradasi), yang biasanya dihubungkan dengan kegiatan industri. Yang termasuk dalam polutan-polutan ini antara lain logam-logam berat, petroleum hidrokarbon, dan senyawa-senyawa organik terhalogenasi seperti pestisida, herbisida, dan lain-lain. Banyak aplikasi-aplikasi baru menggunakan mikroorganisme untuk mengurangi polutan yang sedang diujicobakan. Bidang bioremediasi saat ini telah didukung oleh pengetahuan yang lebih baik mengenai bagaimana polutan dapat didegradasi oleh mikroorganisme, identifikasi jenis-jenis mikroba yang baru dan bermanfaat, dan kemampuan untuk meningkatkan bioremediasi melalui teknologi genetik. Teknologi genetik molekular sangat penting untuk mengidentifikasi gen-gen yang mengkode enzim yang terkait pada bioremediasi. Karakterisasi dari gen-gen yang bersangkutan dapat meningkatkan pemahaman kita tentang bagaimana mikroba-mikroba memodifikasi polutan beracun menjadi tidak berbahaya.
Strain atau jenis mikroba rekombinan yang diciptakan di laboratorium dapat lebih efisien dalam mengurangi polutan. Mikroorganisme rekombinan yang diciptakan dan pertama kali dipatenkan adalah bakteri “pemakan minyak”. Bakteri ini dapat mengoksidasi senyawa hidrokarbon yang umumnya ditemukan pada minyak bumi. Bakteri tersebut tumbuh lebih cepat jika dibandingkan bakteri-bakteri jenis lain yang alami atau bukan yang diciptakan di laboratorium yang telah diujicobakan. Akan tetapi, penemuan tersebut belum berhasil dikomersialkan karena strain rekombinan ini hanya dapat mengurai komponen berbahaya dengan jumlah yang terbatas. Strain inipun belum mampu untuk mendegradasi komponen-komponen molekular yang lebih berat yang cenderung bertahan di lingkungan.
Cara bioremediasi air
Wastewater treatment (Pengolahan limbah cair)
1. Air dari rumah tangga yang masuk ke dalam saluran air dipompa menuju fasilitas pengolahan di mana feses dan produk kertas dibuang ke tanah dan disaring menjadi partikel yang lebih kecil sehingga dihasilkan material berlumpur yang disebut sludge. Sedangkan air yang mengalir keluar disebut effluent yang digunakan untuk aerasi tangki karena bakteri aerobik dan mikroba lain akan mengkoksidasi bahan organik yang terdapat effluent.
2. Di dalam tangki ini, air disemprotkan di atas batu atau plastik yang ditutupi dengan biofilm mikroba pendegradasi sampah yang secara aktif mendegradasi bahan organik dalam air.
3. Effluent dialirkan melalui system sludge dengan menggunakan tangki yang mengandung sejumlah besar mikroba pendegradasi sampah yang tumbuh pada lingkungan yang dikontrol
4. Effluent didesinfeksi dengan klorin sebelum air dialirkan ke sungai atau laut.
5. Sludge dialirkan ke dalam tangki pengolah anaerob yang mengandung bakteri anaerob yang akan mendegradasi sludge. Bakteri ini menghasilkan gas karbon dioksida dan metana. Gas metana yang dihasilkan ini sering dikumpulkan dan digunakan sebagai bahan bakar untuk menjalankan peralatan pada pengolahan sampah dengan menggunakan tanaman. Cacing-cacing kecil yang sering muncul pada sludge, juga membantu menghancurkan sludge menjadi partikel-partikel kecil.
6. Sludge ini kemudian dikeringkan dan dapat digunakan sebagai lahan pertanian atau pupuk.
Groundwater clean-up
Kasus yang biasanya terjadi adalah tumpahan gasolin, dimana tumpahan tersebut mencemari air dalam tanah. Hal ini dapat ditangani dengan mengkombinasikan antara bioremidiasi ex situ (bagian atas permukaan tanah) dan bioremidiasi in-situ (di dalam tanah).
Bioremidiasi ex situ. Minyak dan gas dipompa keluar ke permukaan tanah menggunakan bioreaktor à dalam bioreaktor terdapat bakteri yang tumbuh pada biofilm à bakteri ini mendegradasi polutan à pupuk/ nutrien dan oksigen ditambahkan pada bioreaktor
2. Bioremidiasi in-situ. Air bersih hasil dari bioreaktor yang terdiri atas pupuk, bakteri dan oksigen à dikembalikan lagi di dalam tanah (sebagai air tanah).
Turning wastes into energy
Pada waktu proses bioremidiasi, bakteri anaerobik menghasilkan soil nutrients dan metana. Gas metana yang dihasilkan ini sering dikumpulkan dan digunakan sebagai bahan bakar, sedangkan soil nutrients digunakan sebagai pupuk.
Contoh. Bakteri anaerobik Desulfuromonas acetoxidans merupakan bakteri anerobik laut yang menggunakan sulfur dan besi sebagai penerima elektron untuk mengoksidasi molekul organik dalam endapan dimana bisa menghasilkan energi. Karena bakteri ini menggunakan reaksi redoks untuk mendegradasi molekul pada lapisan sedimen à elektron ditangkap oleh elektroda à elektroda ini berfungsi mentransfer elektron ke generatorà arus listrik.
Teknik bioremediasi menciptakan lingkungan yang terkontrol untuk memproduksi enzim yang sesuai bagi reaksi terkatalisis yang diinginkan. Kebutuhan dasar dari proses biologis yaitu :
1. Kehadiran mikroorganisme dengan kemampuan untuk mendegradasi senyawa target.
2. Keberadaan substrat yang dikenali dan dapat digunakan sebagai sumber energi dan karbon.
3. Adanya pengumpanan yang menyebabkan terjadinya sintesa spesifik untuk senyawa target.
4. Keberadaan sistem penerima-donor elektron yang sesuai.
5. Kondisi lingkungan yang sesuai untuk reaksi terkatalisis enzim dengan kelembaban dan pH yang mendukung.
6. Ketersediaan nutrien untuk mendukung pertumbuhan sel mikroba dan produksi enzim.
7. Suhu yang mendukung aktivitas mikrobial dan reaksi terkatalisis.
8. Ketersediaan bahan atau substansi beracun terhadap mikroorganisme tersebut.
9. Kehadiran organisme untuk mendegradasi produk metabolit.
10. Kehadiran organisme untuk mencegah timbulnya racun antara.
11. Kondisi lingkungan yang meminimumkan organisme kompetitif bagi mikroorganisme pendegradasi.
Tanpa adanya enzim yang mengkatalis reaksi degradasi, waktu yang dibutuhkan untuk mencapai keseimbangan lama. Enzim mempercepat proses tersebut dengan cara menurunkan energi aktivasi, yaitu energi yang dibutuhkan untuk memulai suatu reaksi.  Tanpa adanya mikroba, proses penguraian di lingkungan tidak akan berlangsung. Kotoran, sampah, hewan, dan tumbuhan yang mati akan menutupi permukaan bumi, suatu kondisi yang tidak akan pernah kita harapkan. Sebagai akibatnya, siklus nutrisi atau rantai makanan akan terputus.
Lintasan biodegradasi berbagai senyawa kimia yang berbahaya dapat dimengerti berdasarkan lintasan mekanisme dari beberapa senyawa kimia alami seperti hidrokarbon, lignin, selulosa, dan hemiselulosa. Sebagian besar dari prosesnya, terutama tahap akhir metabolisme, umumnya berlangsung melalui proses yang sama.
B. OPTIMALISASI KONDISI DALAM BIOREMEDIASI
Keberhasilan proses biodegradasi banyak ditentukan oleh aktivitas enzim. Dengan demikian mikroorganisme yang berpotensi menghasilkan enzim pendegradasi hidrokarbon, perlu dioptimalkan aktivitasnya dengan pengaturan kondisi dan penambahan suplemen yang sesuai. Dalam hal ini perlu diperhatikan faktor-faktor lingkungan yang meliputi kondisi lingkungan, temperature, oksigen, dan nutrient yang tersedia.
1. Lingkungan
Proses biodegradasi memerlukan tipe tanah yang dapat mendukung kelancaran aliran nutrient, enzm-enzim mikrobial dan air. Terhentinya aliran tersebut akan mengakibatkan terbentuknya kondisi anaerob sehingga proses biodegradasi aerobik menjadi tidak efektif. Karakteristik tanah yang cocok untuk bioremediasi in situ adalah mengandung butiran pasir ataupun kerikil kasar sehingga dispersi oksigen dan nutrient dapat berlangsung dengan baik. Kelembaban tanah juga penting untuk menjamin kelancaran sirkulasi nutrien dan substrat di dalam tanah.
2. Temperatur
Temperatur yang optimal untuk degradasi hidrokaron adalah 30-40oC. Ladislao, et. al. (2007) mengatakan bahwa temperatur yang digunakan pada suhu 38oC bukan pilihan yang valid karena tidak sesuai dengan kondisi di Inggris untuk mengontrol mikroorganisme pathogen. Pada temperatur yang rendah, viskositas minyak akan meningkat mengakibatkan volatilitas alkana rantai pendek yang bersifat toksik menurun dan kelarutannya di air akan meningkat sehingga proses biodegradasi akan terhambat. Suhu sangat berpengaruh terhadap lokasi tempat dilaksanakannya bioremediasi.
3. Oksigen
Langkah awal katabolisme senyawa hidrokaron oleh bakteri maupun kapang adalah oksidasi substrat dengan katalis enzim oksidase, dengan demikian tersedianya oksigen merupakan syarat keberhasilan degradasi hidrokarbon minyak. Ketersediaan oksigen di tanah tergantung pada (a) kecepatan konsumsi oleh mikroorganisme tanah, (b) tipe tanah dan (c) kehadiran substrat lain yang juga bereaksi dengan oksigen. Terbatasnya oksigen, merupakan salah satu faktor pembatas dalam biodegradasi hidrokarbon minyak.
4. Nutrien
Mikroorganisme memerlukan nutrisi sebagai sumber karbon, energy dan keseimbangan metabolism sel. Dalam penanganan limbah minyak bumi biasanya dilakukan penambahan nutrisi antara lain sumber nitrogen dan fosfor sehingga proses degradasi oleh mikroorganisme berlangsung lebih cepat dan pertumbuhannya meningkat.
5. Interaksi antar Polusi
Fenomena lain yang juga perlu mendapatkan perhatian dalam mengoptimalkan aktivitas mikroorganisme untuk bioremediasi adalah interaksi antara beberapa galur mikroorganisme di lingkungannya. Salah satu bentuknya adalah kometabolisme. Kometabolisme merupakan proses transformasi senyawa secara tidak langsung sehingga tidak ada energy yang dihasilkan.
C. BIOAUGMENTASI
Bioaugmentasi adalah penambahan organisme atau enzim pada suatu bahan untuk menyingkirkan bahan kimia yang tidak diinginkan. Bioaugmentasi digunakan untuk menyingkirkan produk sampingan dari bahan mentah dan polutan potensial dari limbah. Organisme yang biasa digunakan dalam proses ini adalah bakteri. Namun banyak aplikasi yang berhasil menggunakan tumbuhan untuk menyingkirkan kelebihan nutrien, logam dan bakteri pathogen. Penggunaan tumbuhan ini biasa dikenal dengan istilah phytoremediasi. Pemilihan metode bioremediasi yang cocok dengan kondisi lingkungan diharapkan akan dapat meningkatkan kecepatan biodegradasi. Dua metode yang biasa dilakukan untuk bioremediasi adalah : (1) dengan menstimulasi populasi mikroorganisme eksogen (biostimulasi) dan (2) dengan menambahkan mikroorganisme eksogen (bioaugmentasi). Bioaugmentasi dipilih apabila kontaminan membutuhkan waktu degradasi yang lama, bila lingkungan yang tercemar sulit dimodifikasi dalam rangka mencapai kondisi optimal bagi pertumbuhan mikroorganisme, atau bila tingginya konsentrasi kontaminan menghambat pertumbuhan mikroorganisme indogenus. Bioaugmentasi juga dilakukan untuk menurunkan keragaman jalur degradasi hidrokarbon terutama untuk mempercepat proses degradasi hidrokarbon poliaromatik. Keberhasilan aplikasi bioaugmentasi diukur dari peningkatan jumlah mikroorganisme yang berperan dalam proses degradasi serta daya tahan mikroorganisme eksogen pada lingkungan yang tercemar. Walter (1997) menyatakan bahwa untuk memperoleh strain mikroorganisme ataupun konsorsium mikroorganisme yang tepat bagi aplikasi bioaugmentasi ada tiga pilihan metode yang bisa dilakukan, yaitu : pengkayaan selektif, penggunaan produk mikroorganisme komersial atau rekayasa genetika.
BIO TRENT LIMBAH
Adalah kultur campuran berbagai mikroorganisme yang mampu mengurai berbagai senyawa organik di dalam air limbah. Kandungan BIO-TRENT adalah : Mikroorganisme seperti Lactobacillus, Actinomycetes, Bakteri Nitrifikasi, Bakteri Pelarut Fosfat, Bakteri Fotosintetik, Zat Penghilang Bau dan Jamur Fermentasi. Di samping itu, BIO-TRENT juga dilengkapi dengan nutrisi seperti Glukosa, Fruktosa dan lainnya.
Keunggulan
1. Lebih cepat mengurai bahan-bahan organik
Bakteri BIO-TRENT adalah bakteri pengurai yang dapat bekerja sendiri-sendiri atau bersama-sama. Sifat bakteri yang mampu hidup dalam keadaan ekstrim, membuat bakteri BIO-TRENT lebih cepat mengurai dibanding bakteri alami yang ada di air limbah. Setiap bakteri mengurai dengan bantuan zat (enzim) yang dihasilkan. Bakteri BIO-TRENT yang beragam (kompleks) akan menghasilkan enzim pengurai yang beragam pula, sehingga kemampuan penguraiannya lebih tinggi dibanding bakteri lain.
2. Mencegah bau
Actinomycetes adalah bakteri yang mampu menghasilkan zat penghilang bau tak sedap. Dengan tumbuhnya bakteri ini di dalam sistem sudah dipastikan bau tak sedap dapat dicegah. Instalasi air limbah banyak menggunakan bahan terbuat dari logam. Seperti pompa dan blower. Logam bersifat mudah terkorosi, apalagi terkena H2S dan CO2 agresif. H2S dalam bentuk tak terionisasi bersifat sangat toksik dan korosif. H2S dan CO2 dapat berasal dari dekomposisi bahan organik oleh bakteri tertentu. Kerugian yang diderita perusahaan/instansi dengan kerusakan tersebut sangatlah besar. Untuk mencegah korosi atau karat pada instalasi pengolahan air limbah, dibutuhkan bakteri yang mampu mencegah terjadinya proses penguraian yang menghasilkan H2S dan CO2 agresif. Bakteri tersebut ada di dalam produk BIO- TRENT.
3. Menghambat pertumbuhan bakteri patogen
Bakteri patogen (penyebab penyakit) diantaranya E. coil (penyebab penyakit diare), Legionella pneumophilla (penyebab penyakit pernapasan akut), Leptospira (penyebab penyakit leptospirosis), Shigella (penyebab penyakit disentri) Vibrio cholerae (penyebab penyakit kolera). Dan bakteri penyebab penyakit lainnya. Untuk menghambat tumbuhnya bakteri-bakteri tersebut di dalam air limbah, maka perlu kita hidupkan bakteri BIO-TRENT di dalam system. Bakteri Lactobacillus di dalam BIO-TRENT mampu menghasilkan antibiotik alami (zat) pembunuh bakteri patogen.
PERKEMBANGAN TECHNOLOGI BIOREMEDIASI
Bioremediasi didefinisikan sebagai proses penguraian limbah organik/anorganik polutan secara biologi dalam kondisi terkendali dengan tujuan mengontrol, mereduksi atau bahkan mereduksi bahan pencemar dari lingkungan. Kelebihan teknologi ini ditinjau dari aspek komersil adalah relatif lebih ramah lingkungan, biaya penanganan yang relatif lebih murah dan bersifat fleksibel. Teknik pengolahan limbah jenis B3 dengan bioremediasi umumnya menggunakan mikroorganisme (khamir, fungi, dan bakteri) sebagai agen bioremediator. Pendekatan umum yang dilakukan untuk meningkatkan kecepatan biotransformasi ataupun biodegradasi adalah dengan cara:
a. Seeding, atau mengoptimalkan populasi dan aktivitas mikroba indigenous (bioremediasi instrinsik) dan/atau penambahan mikroorganisme exogenous (bioaugmentasi) dan
b. Feeding, atau dengan memodifikasi lingkungan dengan penambahan nutrisi (biostimulasi) dan aerasi (bioventing).
Langkah-langkahnya Air dari rumah tangga yang masuk ke dalam saluran air dipompa menuju fasilitas pengolahan di mana feses dan produk kertas dibuang ke tanah dan disaring menjadi partikel yang lebih kecil sehingga dihasilkan material berlumpur yang disebut sludge.Sludge dialirkan ke dalam tangki pengolah anaerob yang mengandung bakteri anaerob yang akan mendegradasi sludge. Bakteri ini menghasilkan gas karbon dioksida dan metana. Gas metana yang dihasilkan ini sering dikumpulkan dan digunakan sebagai bahan bakar untuk menjalankan peralatan pada pengolahan sampah dengan menggunakan tanaman. Cacing-cacing kecil yang sering muncul pada sludge, juga membantu menghancurkan sludge menjadi partikel-partikel kecil. Sludge ini kemudian dikeringkan dan dapat digunakan sebagai lahan pertanian atau pupuk. Ilmuwan telah menemukan bakteri yang disebut Candidatus Brocadia Anammoxidans yang memiliki kemampuan untuk mendegradasi ammonium pada suasana anaerob (sebagian besar produk yang terdapat dalam urin). Penting sekali untuk menghilangkan amonium dalam limbah cair sebelum air dialirkan ke sungai atau laut karena kadar ammonium yang terlalu tinggi memberikan dampak negatif bagi lingkungan.
Tanah dan air yang terkontaminasi minyak tersebut dapat merusak lingkungan serta menurunkan estetika. Lebih dari itu tanah dan air yang terkontaminasi limbah minyak dikategorikan sebagai limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) sesuai dengan Kep. MenLH 128 Tahun 2003. Oleh karena itu perlu dilakukan pengelolaan dan pengolahan terhadap tanah yang terkontaminasi minyak. Hal ini dilakukan untuk mencegah penyebaran dan penyerapan minyak kedalam tanah.
Upaya pengolahan limbah B3 baik di darat (tanah dan air tanah) ataupun di laut telah banyak dilakukan dengan menggunakan tehnik ataupun metoda konvensional dalam mengatasi pencemaran seperti dengan cara membakar (incinerasi), menimbun (landfill), menginjeksikan kembali sludge keformas minyak (slurry fracture injection) dan memadatkan limbah (solidification). Teknologi-teknologi ini dianggap tidak efektif dari segi biaya (cost effective technology), waktu (time consuming) dan juga keamanan (risk).
KAJIAN RELIGI
Q.S AL BAQARAH 164.
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنزَلَ اللّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِن مَّاء فَأَحْيَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخِّرِ بَيْنَ السَّمَاء وَالأَرْضِ لآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
Artinya : Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.
DAFTAR PUSTAKA
Black, Jacquelyn G. 2002. Microbiology. John Wiley & Sons, Inc.
Brock. TD. Madiqan. MT. 1991. Biology of Microorganisms. Sixth ed. Prentice-
HallInternational, Inc.
Cappuccino, JG. & Sherman, N. 1987. Microbiology: A Laboratory Manual. The
Benjamin/Cummings Publishing Company, Inc. California.
Case, C.L. & Johnson, T.R. 1984. Laboratory Experiments in Microbiology.
Benjamin/Cummings Publishing Company, Inc. California.
Fardiaz, S. 1987. Fisiologi Fermentasi, PAU IPB.
Kusnadi, dkk. 2003. Mikrobiologi (Common Teksbook). Biologi FPMIPA UPI, IMSTEP.
Moat, A.G. & Foster, J.W. 1979. Microbial Physiology. John Wiley & Sons
Nicklin. J.K. Graeme-Cook. T. Paget & R. Killington. 1999. Instans Notes in
Microbiology. Springer Verlag. Singapore Pte, Ltd.
Tortora Gerard J. et al. 1992. Microbiology an Introduction. Fourth Ed. The Benjamin
Cummings Publishing Company, Inc.
Baca SelengkapnyaCARA PENGOLAHAN LIMBAH AIR