Pages

TEKNIS PEMELIHARAAN LARVA IKAN ARWANA

PEMELIHARAAN IKAN ARWANA
1. Perawatan larva
Larva yang baru dipanen ditempatkan di akuarium bervolume air 100 liter. Kepadatan 10-15 ekor larva per akuarium. Pakan belum diberikan karena di kantung perut masih menempel kuning telur (yolksak) sebagai sumber nutrisi. Perhatikan kesehatan larva dan kualitas air. Itu untuk menjamin daya hidup (survival rate) hingga 75-90%. Gunakan air tanah untuk pemeliharaan larva. Saring dan endapkan lebih dahulu sebelum di gunakan. Kadar besi maksimal 0,4 ppm, suhu air 28oC, dan pH 6,5-7. Perubahan suhu dan pH secara mendadak menyebabkan kematian larva.
Pemasangan heater selama1x24 jam dan lampu akuarium menjaga suhu tetap stabil. Untuk menjaga pH stabil sebaiknya ganti air secara teratur dan kontinu 3 x sehari. Caranya, sedot air akuarium dan kotoran yang mengendap. Saat tinggi air sekitar2-3 cm air baru dimasukkan ke akuarium, tetapi penyedot tetap dilakukan hingga semua kotoran terbuang. Kebutuhan oksigen dipenuhi dengan memasang aerator.
Pakan baru diberikan setelah kuning telur habis dikonsumsi larva. Saat itu larva 1,5 bulan dengan panjang 7-8 cm. jenis pakan untuk larva berupa udang atau ikan kecil berukuran 1-2 cm. pakan diberikan sedikit demi sedikit hingga larva menolak makan.
Arwana siap jual jika ukuran mencapai ukuran 12 cm, atau 2 bulan setelah panen. Sesuai peraturan CITES arwana harus dipasangi mikrocip sebelum diperdangangkan. Ini sebagai tanda arwana hasil tangkaran.
2. Memilih Arwana yang baik
Secara umum, ciri-ciri arwana yang baik dapat dilihat dari gerakan, bentuk badan,kepala ekor dan sisik.
a. Gerakan. Arwana yang sehat gerakannya lincah,selalu berenang menjelajahi seluruh ruang akuarium, dan gesit menyambar makanan yang diberikan.
b. Ciri fisik.
Beberapa ciri fisik sebagai berikut
- Bentuk badan yang baik adalah punggung memanjang dan lurus, tidak bengkok, tidak bungkuk atau berpunuk, dan berkesan kekar. Tidak ada bagian tubuh yang cacat atau luka, dan berwarna cerah.
- Arowana yang bagus bermulut  lebar, letaknya di atas moncong. Rahang bawah lebih panjang dan tidak putus. Pada dagunya terdapat dua buah sungut yang panjang dan tidak putus. Pasalnya sungut yang sudah putus tidak dapat tumbuh lagi sehingga menjadi cacat permanen.
- Mata arwana yang baik adalah bulat dan besar. Tidak melotot atau menonjol keatas dan kebawah (juling), tidak buta. Insang normal, tutupnya keras dan rapat, dan tidak melengkung keluar.
- Ekor dan sisik. Arwana yang bagus memiliki bentuk ekor lebar dan bulat seperti kipas. Hindari memilih arwana yang ekornya memiliki bintik-bintik putih. Pilih yang permukaanya mengilap dan tidak memproduksi lendir yang terlalu banyak.
- Bentuk kepala arwana. Pilih yang tutup insangnya keras dan rapat, matanya tidak juling, rahang kokoh, mulut lebar dan sungutnya masih utuh.
- Sisik yang prima. Tersusun rapi, tidak kasar, mengilap, dan tidak luka atau mengelupas.
- Arwana berkualitas tinggi memiliki bentuk ekor yang lebar dan bulat mirip kipas. Pilih yang ekornya masih mulus, tidak ada bekas gigitan, dan tidak berbintik – bintik putih.
3. Mempersiapkan Akuarium dan kolam
Perlengkapan akuarium atau kolam yang memadai menjadi syarat penting dalam mendukung cara pemeliharaan yang baik.
Akuarium dan perlengkapannya
-  Untuk arwana kecil yang berukuran sekitar 10 cm perlu disiapkan akuarium berukuran 70 x 35 x 35 cm dengan tebal kaca 5 mm. Pasang lampu penerang dengan daya 20 watt dan filter air Dymen 600.
-  Untuk arwana yang berukuran besar dapat digunakan akuarium berukuran 220 x 85 x85 cm dengan tebal dinding kaca 12-15 mm. Pasang lampu penerang dengan daya 120 watt. Lengkapi dengan filter Eheim 2034.
-  Peralatan pokok dalam  akuarium :
a. Aerator
Aerator atau vibrator gunanya untuk memasok oksigen dalam akuarium dan mengusir karbondioksida.
b. Filter
Filter yang sering dipasang untuk akuarium arwana yaitu filter temple yang portable atau filter gantung yang dipasang pada bagian atas akuarium.
c. Lampu
Lampu akuarium biasanya dipasang pada penutup akuarium, sehingga tersembunyi dan hanya pantulannya saja yang kelihatan menerangi arwana.
d. Thermometer
Thermometer dipakai untuk mengetahui suhu air akuarium.
e. Heater dan thermostat
Alat pemanas yang sering dipakai untuk menaikan suhu air adalah heater dan thermostat.Alat ini sangat penting, bukan saja untuk menaikan suhu hingga berada pada kisaran yang optimum, namun juga untuk mencegah agar suhu senantiasa stabil.
f. Kertas pH dan alat pengukur pH lainnya
Kertas pH dibutuhkan untuk mengetahui keasaman dari air akuarium, karena arwana membutuhkan air yang sedikit asam sampai netral.Untukmenetahui cocok tidaknya keasaman air itu bisa dipakai kertas lakmus dan alat pengukur pH lainya, seperti pH tester.
g. Alat –alat lainnya
Alat lainnya yang dibutuhkan dalam perawatan arwana misalnya selang plastic penyifon, ember plastic untuk menampung dan membuang kotoran, batu apung pembersih kaca, kain lap, dan lainya.
Kolam dan Perlengkapanya
Kolam arowana harus memenuhi persyaratan fisik dan higienis sebagai berikut :
- Dasar dan dinding kolam harus kedap air dan kuat menahan air.
- Kolam harus mudah diisi air dan mudah dikeringkan dalam waktu singkat.
- Luas kolam antara 50-1.000 m2
- Bentuk kolam sebaiknya empat persegi panjang.
- Dasar kolam dibuat miring, sekitar 20-30 derajat kearah saluran keluar.
- Buat kedalaman kolam antara 1-2 meter.
- Buat tempat pemasukan dan pengeluaran air, misalkan berupa pipa paralon yang dapat diputar.
Persyaratan fisik kolam sangat menentukan keberhasilan budidaya :
- Buat kontruksi kolam yang memungkinkan untuk membersihkan kolam.
- Kolam pemijahan sekaligus sebagai kolam penetasan dapat berupa kolam tanah atau kolam tembok.
- Proses pendederan dapat dilakukan di akuarium.
4. Jenis Pakan
Aspek pakan yang perlu diperhatikan tidak hanya menyangkut jenis dan jumlah pakan, tetapi juga tehnik pemberiannya.Makanan yang masih hidup lebih disukai arwana. Berikut ini disajikan berbagai jenis makanan arwana :
1. Kelelabang (Scolopedra subspinipes)
Kelelabang alias lipan adalah makanan yang paling digemari oleh ikan arwana. Kelelebang tidak menularkan penyakit sehingga lebih aman jika diberikan.
2. Katak (Rana cancrivora)
Katak yang sering diberikan kepada arwana adalah jenis katak sawah (Ranacancrivora) yang ukuran tubuhnya masih kecil alias anakan.
3. Kadal (Mabouya multifasciata)
Yang dipakai sebagai umpan arwana adalah kadal anakan atau yang ukuran tubuhnya masih kecil, kira-kira seukuran jari kelingking sampai jari.Jika diukur dari kepala hingga ujung ekor, panjang antara 5-40 cm.
4. Jangrik (Teleogryllus testaceus)
Ada tiga jenis jangrik yang bisa dimanfaatkan untuk makanan arwana, yakni jangrik besar atau gangsir (Brachytrypesportentosus), jangrik hitam (Gryllus bimaculatus),dan jangrik coklat (Teleogryllus testaceus).
5. Ikan Hidup
Benih atau ikan berukuran kecil yang sering diberikan antara lain ikan mas (Cyprinus carpio), guppy (Poecilia reticulate), molly (Poecilia mollinesia), atau ikan sepat (Tricbogaster pectoralis)
5. Perawatan rutin
-  Pemeriksaan suhu air
Pemeriksaan suhu air dalam akuarium arwana harus dilakukan setiap hari.Apabila ternyata suhu air terlalu dingin maka perlu dipasang heater.
-  Pemeriksaan pH air
Arwana biasanya menghendaki air dengan pH netral atau sedikit asam.untuk mengecek pH air cukup dilakukan 1 minggu sekali.Untuk mengetahui pH air akuarium secara tepat bisa dipakai alat pH tester atau soil tester.
Table 2. Pengaruh pH Air terhadap ikan
pH Pengaruh pada Ikan
4-5
4-6,5
6,5-9
>10
Tingkat keasaman yang mematikan dan tidak ada reproduksi
Pertumbuhan ikan menjadi lambat
Baik untuk pertumbuhan ikan
Tingkat basa yang mematikan

- Mengganti air
Kotoran atau hasil ekskresi arwana lumayan banyak. Sisa buangan arwana ini perlu segera dikeluarkan karena akan membusuk yang lebih lanjut bisa berakibat menurunkan kualitas air.
Parameter kualitas air yang disyaratkan untuk budidaya arwana adalah :
• Suhu 25 – 30 derajat C,
• pH 6,0 – 7,0,
• Kandungan Oksigen lebih dari 5 ppm, dan
• Kandungan Karbondioksida kurang dari 2,5 ppm.
- Pemeliharaan alat – alat
Peralatan pertama yang mesti kita perhatikan adalah filter. Filter yang tertempel dalam akuarium harus secara periodic dibersihkan bagian dalamnyaagar bisa berfungsi seperti semula.
Selanjutnya aerator  terkadang aerator tidak tahan lama, terutama karet klepnya. Alat lain yang tidak boleh luput adalah heater atau thermostat, jika alat ini rusak akibatnya sama dengan filter.
6. Penanggulangan Penyakit
-  Identifikasi  Penyakit
Ada dua penyebab yang menjadikan arwana menderita penyakit.Penyebab pertama dikenal dengan parasite dan kedua non parasite.Penyakit arwana yang non parasite misalnya karena guncangan suhu, penurunan pH, keracunan, tidak mau makan, kekurangan oksigen, dan lainnya.
-  Jenis Obat
Obat - obat arwana bisa dibedakan menjadi dua.Pertama adalah obat - obatan standar, artinya belum dicampur dengan aquades atau aquabides, sedang kelompok dua adalah obat – obatan siap pakai.
Berbagai penyakit arwana
1. Penyakit gigit ekor
Penyakit yang sering menghampiri arwana adalah penyakit gigit ekor, gejalanya menunjukan perilaku yang lain dari biasanya. Ditandai dengan arwana kelihatan gelisah dengan berenang hilir mudik, beberapa hari kemudian sirip ekor akan robek-robek selaputnya sehingga mirip sisir.
2. Tutup insang melengkung
Penyebab pertama tutup insang melengkung bisa dikarenakan kualitas air dalam akuarium kurang baik, terutama suhunya. Penyebab lain karena pemberian obat yang kelewat dosis, serangan sejenis bakteri, atau karena air dalam akuarium rendah kandungan oksigennya.
3. Mogok makan
Arwana yang mogok makan biasanya sudah sering diberi kelabang hidup. Mereka akan enggan menerima makanan lain, bila setelah seminggu arwana belum juga mau makan sebaiknya sediakan ikan hidup karena tahan hidup. Untuk menjaga agar arwana tidak juling sebaiknya dipilih ikan penghuni permukaan, yang paling tepat yaitu guppy.
4. Penyakit Mata Juling
Penyakit ini bisa timbul karena banyak hal.Terlalu seringnya mereka memburu ikan kecil didasar atau pojok akuarium dianggap sebagai salah satu penyebab yang utama.
Mata yang melorot juga dikarenakan arwana kurang mendapatkan sinar matahariyang cukup.
5. Dubur ikan merah dan membengkakdubur arwana yang merah dan membengkak disebabkan karena makanan yang diberikan tidak bersih. Akibatnya pencernaan terganggu sehingga arwana kesulitan mengeluarkan ekskresinya.
6. Sisik Berdiri
Sisik berdiri dan kadang ada sebagian yang membusuk, biasanya di sebabkan oleh lingkungan yang terlalu kotor.Perggantian air secara rutin dapat menghindarkan arwana dari penyakit ini.
7. Tulang punggung bengkok
Penyebab pertama karena adanya serangan bakteri yang merasuk kedalam tubuh arwana sehingga mengakibatkan pertumbuhan punggung tidak normal.
8. Ekor patah
Ekor patah disebabkan karena akuarium yang terlalu sempit.Selain itu penyebabnya bisa karena penanganan yang kurang baik.
9. Sungut Tumbuh Pendek
Arwana yang bersungut tidak imbang ini boleh jadi karena ditempatkan dalam akuarium yang terlalu kecil.
10. Ekor dan Sirip mengerut
Ekor dan sirip yang mengerut bisa terjadi bila air dalam akuarium terlampau kotor atau karena suhunya terlalu rendah.
11. Sungut menjorok kebawah
Arwana yang sehat adalah yang sungutnya menjorok kedepan.Namun sering arwana sungutnya lunglai, menjorok kebawah.Ini merupakan pertanda arwana berada pada lingkungan yang tidak semestinya.
Sumber:
Suharyadi, 2011. Budidaya Ikan Arwana: Modul Penyuluhan Perikanan. Jakarta, Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan BPSDMKP.
Diposkan oleh Fahrur Razi, SST di 08.24
Reaksi:     
Tidak ada komentar: Link ke posting ini Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Selasa, 02 Agustus 2016
PEMIJAHAN IKAN ARWANA
1. Persiapan induk
Calon induk berumur 5-6 tahun. Panjang tubuh 60 cm dan bobot sekitar 4 kg. Agar menghasilkan anakan yang murni dan berkualitas, strain kedua calon induk harus sama. Hindari meyatukan ikan berbeda strain dalam satu kolam Syarat lain, calon induk sehat dan bebas penyakit.
Ikan cacat bungkuk tidak layak dijadikan induk. Sebab, perut mengerut sehingga kualitas sel telur kurang baik dan mudah mati. Yang juga dihindari sebagai induk ikan bertutup insang tidak menututup sempurna, terutama pada induk jantan. Sebab, ia kesulitan mengerami telur didalam mulut. Cacat lain seperti sungut terputus, ekor patah, atau sisik berdiri masih layak. Sebab, tidak mempengaruhi kualitas telur dan anakan.
Hingga saat ini belum ada satu pun penakar yang bisa menentukan jenis kelamin arwana secara akurat. Dari pengamatan bertahun-tahun, beberapa penangkar berpengalaman memberikan beberapa criteria penentuan jenis kelamin.
Arwana jantan:
-  bertubuh lebih panjang dan ramping
-  Kepala besar, mulut agak lebar,
-  dada dan sirip dada lebih panjang, serta
-  sirip punggung menyempit.
Arwana Betina:
-  tubuh lebih pendek, lebar, dan agak gemuk.
-  Kepala meruncing dengan mulut lebih kecil.
-  Dada dan sirip dada lebih pendek, dan
-  sirip punggung melebar.
Hampir tidak ada pedagang yang menjual induk siap pijah berumur di atas 5 tahun. Kebanyakan calon penakar mendapatkan induk dari hobiis yang bosen dengan arwana dewasa. Karena langka, calon penangkar harus menyiapkan calon induk dari ukuran kecil. Mereka mesti menunggu waktu 4-5 tahun. Keuntungannya, harga lebih murah dan kualitas terjamin. Pembesaran calon induk sebaiknya bertahap. Selain disesuaikan dengan ruang gerak dan aktivitas ikan, cara ini juga mempermudah pemeliharaan dan perawatan.
Calon induk berumur dibawah dua tahun, atau panjang dibawah 30-35 cm dipelihara diakuarium 60 cmx 60 cm x 120 cm, atau 80 cm x 70 cm x 150 cm. Setiap akuarium diisi 5- 10 ekor. Yang berukuran lebih besar di pelihara dibak fiber 2 m x 1 m x 1 m hingga berumur 5 tahun. Kepadatan sebuah bak 4 – 5 ekor.
Pakan induk arwana berupa kodok, ikan kecil,kelabang, kecoak,dan udang. Ikan segar seperti teri juga bisa diberikan. Sebelum diberikan kepada arwana, kodok yang baru dibeli ditampung dalam bak fiber untuk dicuci bersih. Dosis pakan 1-2 kg/hari/20 induk. Satwa amfibi itu diberikan dengan cara dilempar satu per satu hingga habis tersantap. Pemberian pakan sebaiknya pada sore hari pukul 16.30 agar ikan mau naik ke permukaan untuk menyantap pakan.
2. Pemijahan dan Penetasan
Setiap tahun arwana 2 kali memijah. Namun, jumlah telur dan masa birahi induk mencari pasangan dengan cara saling berkejaran satu dengan yang lain. Pasangan berjodoh akan berenang berduaan dipinggir kolam dan memisahkan diri dari kelompok sampai saat berpijah. Untuk menjaga pasangannya, induk berjodoh akan melawan jika ada induk lain yang mendekat.
Jika masa pendekatan selesai, pasangan siap kawin. Namun, proses pemijahan tidak berlangsung begitu saja. Daya rangsang luar seperti curah hujan, suhu, pH, dan kondisi air mengalir akan mempengaruhi induk betina melepas sel telur. Arwana memijah setelah 2-3 hari hujan sehingga suhu air turun menjadi sekitar 27oC. Setelah itu tidak ada hujan selama 2-3 minggu sampai suhu air meningkat menjadi 29oC.
Begitu betina mengeluarkan telur, jantan segera menyemprotkan sperma. Proses itu berlangsung di dasar kolam selama 20-30 menit. Telur di buahi akan diambil dan disimpan di dalam mulut si jantan. Induk betina akan menjaga dan melindungi jantan dari gangguan di sekitarnya.
Proses pemijahan hingga pembuahan berlangsung 3 bulan. Sedangkan masa pengeraman di dalam mulut 40-41 hari. Selama itulah induk jantan berpuasa. Ukuran mulut jantan menjadi lebih besar dan rahang bawah menggelembung. Hingga menetas larva tetap tersimpan dalam mulut induk jantan. Setelah mampu berenang pada umur sekitar 2 minggu, larva dimuntahkan keluar dari mulut si jantan. Jika ini dibiarkan larva yang baru menetas dapat dimakan kembali oleh si induk atau di mangsa arwana lain. Karena itu larva perlu di panen paksa sebelum masa pengeraman berakhir.
3. Produktivitas
Induk yang produktif setelah berumur 4 tahun. Perbandingan jantan dan betina 1 : 1. Induk yang dipakai biasanya berasal dari alam (parent stock) atau dari anakan F I. Tanda – tanda induk yang berjodoh akan berenang berduaan dan memisahkan diri dari kelompok sampai saatnya berpijah.
Arwana bukanlah ikan yang prolific (banyak telur).Itulah sebabnya ikan ini termasuk yang dikhawatirkan punah, setiap tahun seekor induk rata – rata hanya menghasilkan anak 30 ekor.Pernah mencapai 60 ekor/induk/tahun tetapi kasus tersebut umumnya sangat jarang.
Untuk menghitung produktivitas induk arwana sebenarnya tidaklah sulit. Jika seekor induk betina hanya mampu menghasilkan 40 – 60 butir telur setahun, maka sejalan dengan survival rate pada setiap stadium, maka setelah 3 bulan hanya tersisa 6 – 27 ekor anakan arwana yang siap dilepas kepasaran.
Sumber:
Suharyadi, 2011. Budidaya Ikan Arwana: Modul Penyuluhan Perikanan. Jakarta, Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan BPSDMKP.
Baca SelengkapnyaTEKNIS PEMELIHARAAN LARVA IKAN ARWANA

SISTEM PENGANGKUTAN IKAN HIDUP

Pengangkutan ikan dalam keadaan hidup merupakan salah satu mata rantai  dalam usaha perikanan. Harga jual ikan, selain ditentukan oleh ukuran, juga ditentukan oleh kesegarannya. Oleh karena itu, kegagalan dalam pengangkutan ikan merupakan suatu kerugian. Pada prinsipnya, pengangkutan ikan hidup bertujuan untuk mempertahankan kehidupan ikan selama dalam pengangkutan sampai ke tempat tujuan. Pengangkutan dalam jarak dekat tidak membutuhkan perlakuan yang khusus. Akan tetapi pengangkutan dalam jarak jauh dan dalam waktu lama diperlukan perlakuan-perlakuan khusus untuk mempertahankan kelangsungan hidup ikan.
Pada dasarnya, ada dua metode transportasi ikan hidup, yaitu dengan menggunakan air sebagai media atau sistem basah, dan media tanpa air atau sistem kering.
A. PENGANGKUTAN SISTEM BASAH
Transportasi sistem basah (menggunakan air sebagai media pengangkutan) terbagi menjadi dua, yaitu :
(1). Sistem Terbuka
     Pada sistem ini ikan diangkut dalam wadah terbuka atau tertutup tetapi secara terus menerus diberikan aerasi untuk mencukupi kebutuhan oksigen selama pengangkutan. Biasanya sistem ini hanya dilakukan dalam waktu pengangkutan yang tidak lama. Berat ikan yang aman diangkut dalam sistem ini tergantung dari efisiensi sistem aerasi, lama pengangkutan, suhu air, ukuran, serta jenis spesies ikan.
(2). Sistem Tertutup
     Dengan cara ini ikan diangkut dalam wadah tertutup dengan suplai oksigen secara terbatas yang telah diperhitungkan sesuai kebutuhan selama pengangkutan. Wadah dapat berupa kantong plastik atau kemasan lain yang tertutup.
Faktor-faktor penting yang mempengaruhi keberhasilan pengangkutan adalah kualitas ikan, oksigen, suhu, pH, CO2, amoniak, kepadatan dan aktivitas ikan (Berka, 1986).
(1). Kualitas Ikan
     Kualitas ikan yang ditransportasikan harus dalam keadaan sehat dan baik. Ikan yang kualitasnya rendah memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi dalam waktu pengangkutan yang lebih lama dibandingkan dengan ikan yang kondisinya sehat.
(2). Oksigen
Kemampuan ikan untuk menggunakan oksigen tergantung dari tingkat toleransi ikan terhadap perubahan lingkungan, suhu air, pH, konsentrasi CO2 dan hasil metabolisme seperti amoniak. Biasanya dasar yang digunakan untuk mengukur konsumsi O2 oleh ikan selama transportasi adalah berat ikan dan suhu air. Jumlah O2 yang dikonsumsi ikan selalu tergantung pada jumlah oksigen yang tersedia. Jika kandungan O2 meningkatikan akan mengkonsumsi O2 pada kondisi stabil dan ketika kadar O2 menurun konsumsi O2 oleh ikan lebih rendah dibandingkan konsumsi pada kondisi kadar O2 yang tinggi.
(3). Suhu
Suhu merupakan faktor yang penting dalam transportasi ikan. Suhu optimum untuk transportasi ikan adalah 6 – 8 0C untuk ikan yang hidup di daerah dingin dan suhu 15 – 20 0 untuk ikan di daerah tropis.
(4). Nilai pH, CO2, dan amonia
Nilai pH air merupakan faktor kontrol yang bersifat teknik akibat kandungan CO2 dan amoniak. CO2 sebagai hasil respirasi ikan akan mengubah pH air menjadi asam selama transportasi. Nilai pH optimum selama transportasi ikan hidup adalah 7 sampai 8. Perubahan pH menyebabkan ikan menjadi stres, untuk menanggulanginya dapat digunakan larutan bufer untuk menstabilkan pH air selama transportasi ikan. Amoniak merupakan anorganik nitrogen yang berasal dari eksresi organisme perairan, permukaan, penguraian senyawa nitrogen oleh bakteri pengurai, serta limbah industri atau rumah tangga.
(5). Kepadatan dan aktivitas ikan selama transportasi
Perbandingan antara volume ikan dan volume air selama transportasi tidak boleh lebih dari 1 : 3 . Ikan-ikan lebih besar, seperti induk ikan dapat ditrasportasi dengan perbandingan ikan dan air sebesar 1 : 2 sampai 1 : 3 , tetapi untuk ikan-ikan kecil perbandingan ini menurun sampai 1 : 100 atau 1 : 200. Kesegaran ikan juga dipengaruhi oleh kondisi apakah ikan dalam keadaan meronta-ronta dan letih selama transportasi. Ketika ikan berada dalam wadah selama transportasi, ikan-ikan selalu berusaha melakukan aktivitas. Selama aktivitas otot berjalan, suplai darah dan oksigen tidak memenuhi, sehingga perlu disediakan oksigen yang cukup sbagai alternatif pengganti energi yang digunakan.
Beberapa permasalahan dalam pengangkutan sistem basah adalah selalu terbentuk buih  yang disebabkan banyaknya lendir  dan kotoran ikan yang dikeluarkan. Kematian diduga karena pada saat diangkut, walaupun sudah diberok selama satu hari, isi perut masih ada. Sehingga pada saat diangkut masih ada kotoran yang mencemari media air yang digunakan untuk transportasi. Disamping itu, bobot air cukup tinggi, yaitu 1 : 3 atau 1 : 4 bagian ikan dengan air menjadi kendala tersendiri untuk dapat meningkatkan volume ikan yang diangkut.
B. Transportasi Sistem Kering (Semi Basah)
Pada transportasi sistem kering, media angkut yang digunkan adalah bukan air, Oleh karena itu ikan harus dikondisikan dalam keadaan aktivitas biologis rendah sehingga konsumsi energi dan oksigen juga rendah. Makin rendah metabolisme ikan, terutama jika mencapai basal, makin rendah pula aktivitas dan konsumsi oksigennya sehingga ketahanan hidup ikan untuk diangkut diluar habitatnya makin besar .
Penggunaan transportasi sistem kering dirasakan merupakan cara yang efektif meskipun resiko mortalitasnya cukup besar. Untuk menurunkan aktivitas biologis ikan (pemingsanan ikan) dapat dilakukan dengan menggunkan suhu rendah, menggunakan bahan metabolik atau anestetik, dan arus listrik.
Pada kemasan tanpa air, suhu diatur sedemikian rupa sehingga kecepatan metabolisme ikan berada dalam taraf metabolisme basal, karena pada taraf tersebut, oksigen yang dikonsumsi ikan sangat sedikit sekedar untuk mempertahankan hidup saja. Secara anatomi, pada saat ikan dalam keadaan tanpa air, tutup insangnya masih mangandung air sehingga melalui lapisan inilah oksigen masih diserap .
PEMINGSANAN IKAN
Kondisi pingsan merupakan kondisi tidak sadar yang dihasilkan dari sistem saraf pusat yang mengakibatkan turunnya kepekaan terhadap rangsangan dari luar dan rendahnya respon gerak dari rangsangan tersebut. Pingsan atau mati rasa pada ikan berarti sistem saraf kurang berfungsi ..
Pemingsanan ikan dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu melalui penggunaan suhu rendah, pembiusan menggunakan zat-zat kimia dan penyetruman menggunakan arus listrik.
1. Pemingsanan dengan penggunaan  suhu rendah .
Metode pemingsanan dengan penggunaan suhu rendah dapat dilakukan dengan dua cara yaitu
q  penurunan suhu secara langsung, dimana ikan langsung dimasukan dalam air yang bersuhu 100 – 150C. Sehingga ikan akan pingsan.
q  Penurunan suhu secara bertahap, dimana suhu air sebagai media ikan diturunkan secara bertahap sampai ikan pingsan.
2. Pemingsanan ikan dengan bahan anestasi (bahan pembius)
Bahan anestasi yang dapat digunakan untuk pembiusan ikan adalah :
No    BAHAN    DOSIS
1    MS-222    0.05 mg / l
2    Novacaine    50 mg / kg berat ikan
3    Barbitas sodium    50 mg / kg berat ikan
4    Ammobarbital sodium    85 mg / kg berat ikan
5    Methyl paraphynol (dormisol)    30 mg / l
6    Tertiary amyl alcohol    30 mg / l
7    Choral hydrate    3-3.5 g lt
8    Urethane    100 mg / l
9    Hydroksi quinaldine    1 mg / l
10    Thiouracil    10 mg / l
11    Quinaldine    0.025 mg / l
12    2-Thenoxy ethanol    30 – 40 ml / 100 lt
13    Sodium ammital    52 – 172 mg / l

Selain bahan-bahan anestasi sintetik diatas pembiusan juga dapat dilakukan dengan menggunakan zat  caulerpin  dan caulerpicin yang berasal dari ekstrak rumput laut Caulerpa sp.
Pembiusan  ikan dikatakan berhasil bila memenuhi tiga kriteria, yaitu :
1  Induksi bahan pembius dalam tubuh ikan terjadi dalam waktu tiga menit atau kurang, sehingga ikan lebih mudah ditangani.
2. Kepulihan ikan sampai gerakan renangnya kembali normal membutuhkan waktu kurang dari 10 menit.
3. Tidak ditemukan adanya kematian ikan selama 15 menit setelah pembongkaran
Proses pembiusan ikan meliputi 3 tahap yaitu :
1.  Berpindahnya bahan pembius dari lingkungan ke dalam muara pernapasan organisme
2.  Difusi membran dalam tubuh yang menyebabkan terjadinya penyerapan bahan pembius ke dalam darah.
3.  Sirkulasi darah dan difusi jaringan menyebarkan subtansi ke seluruh tubuh. Kecepatan distribusi dan penyerapan oleh sel bergantung pada persediaan darah dan kandungan lemak pada setiap jaringan sehingga bahan anestasi juga harus mudah larut dalam air dan lemak.

3. Pemingsanan Ikan dengan Arus Listrik
Arus listrik yang aman digunakan untuk pemingsanan ikan adalah yang mempunyai daya 12 volt, karena pada 12 Volt ikan mengalami keadaan pingsan lebih cepat dan tingkat kesadaran setelah pingsan juga cepat.
PENGEMASAN
Pada pengangkutan kering diperlukan media pengisi sebagai pengganti air. Menurut Wibowo (1993), yang dimaksud dengan bahan pengisi dalam pengangkutan ikan hidup adalah bahan yang dapat ditempatkan diantara ikan hidup dalam kemasan untuk menahan ikan dalam posisinya. Selanjutnya disebutkan bahwa bahan pengisi memiliki fungsi antara lain mampu manahan ikan agar tidak bergeser dalam kemasan, menjaga lingkungan suhu rendah agar ikan tetap hidup serta memberi lingkungan udara dan kelembaban memadai untuk kelangsungan hidupnya.
Media pengisi yang sering digunakan dalam pengemasan adalah serbuk gergaji, serutan kayu, serta kertas koran atau bahan karung goni. Namun penggunaan karung goni sudah tidak digunakan karena hasilnya kurang baik. Jenis serbuk gergaji atau serutan kayu yang digunakan tidak spesifik, tergantung bahan yang tersedia.Dari bahan pengisi yaitu sekam padi, serbuk gergaji, dan rumput laut , menururt Wibowo (1993) ternyata sekam padi dan serbuk gergaji merupakan bahan pengisi terbaik karena memiliki karakteristik, yaitu :
q  Berongga
q  Mempunyai kapasitas dingin yang memada
q  Tidak beracun, dan
q  Memberikan RH tinggi.
Media serbuk gergaji memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan jenis media lainnya. Keunggulan tersebut terutama pada suhu. Serbuk gergaji mampu mempertahankan suhu rendah lebih lama yaitu 9 jam tanpa bantuan es dan tanpa beban di dalamnya. Sedangkan rumput laut kurang efektif karena menimbulkan lendir dan bau basi selama digunakan
Baca SelengkapnyaSISTEM PENGANGKUTAN IKAN HIDUP

MENGEMBANGKAN PEMBENIHAN IKAN OSCAR

PEMBENIHAN IKAN OSCAR
Ikan oscar adalah salah satu jenis ikan hias yang banyak digemari oleh kalangan hobiis, karena ikan ini memiliki komposisi warna yang menarik sehingga dalam pemeliharaannya, ikan ini memerlukan makanan dan perawatan khusus. Bercak warna indah yang menempel pada tubuhnya tidak akan muncul apabila ikan ini mengalami stres. Terjadinya stres dapat merupakan satu langkah awal terserangnya ikan ini oleh organisme penyabab penyakit, sehingga selain pengetahuan tentang cara perawatan yang baik, pengetahuan tentang penyakit yang sering menyerang ikan oscar dan cara-cara menanggulanginya, perlu dimiliki oleh para hobiis ataupun para pembudidaya ikan hias ini.
Sistematika
*   Ordo    : Percomorpjoidei
*   Famili    : Cichlidae
*   Genus    : Astronotus
*   Spesies    : Astronotus acellatus, Cuvier
Oscar termasuk pada golongan Cichlidae yang mempunyai ciri:
*   Susunan duri-duri keras pada farink
*   Mempunyai satu lubang hidung pada setiap sisi moncongnya
*   Badannya selalu memanjang dan pipih ke samping
*   Kepalanya relatif besar dengan moncong lebar dan tumpul
*   Linea lateralis terpotong menjadi 2 bagian.
Morfologi
Ikan Oscar memiliki bentuk tubuh yang mirip dengan ikan nila, ia memiliki kepala yang besar dengan mulutnya lebar, bergerigi, agak meruncing, dan terletak di tengah (terminal). Sirip punggung (dorsal fin) berbentuk lebar yang ujungnya bersebrangan dengan sirip dada (pectoral fin), serta ujung sirip punggung dan sirip anus meruncing agak tumpul. Sirip ekornya berbentuk bulat (rounded).
Tubuhnya dilapisi warna dasar bervariasi, akan tetapi lebih sering ditemukan Oscar yang memiliki warna dasar hijau zaitun gelap atau coklat tua dengan coretan dan bintik-bintik tidak beraturan di bagian sisi yang berasal dari sisik yang berwarna kuning keemasan atau kemerah-merahan. Ikan jantan mempunyai beberapa tanda merah menyala pada tutup insang dan dekat daerah perut di samping. Kecerahan warna ikan ini sering berganti-ganti tergantung pada kondisi ikan. Ikan ini memiliki pergerakan yang gesit karena ditunjang dengan bentuk badan yang langsing, pipih ke samping (compressed).

Tingkah Laku
Ikan oscar  termasuk ikan yang cerdas, karena ikan ini mudah mengenali pemiliknya. Selain itu, dapat kita ketrahui bahwa ikan ini juga sensitif terhadap gerakan, intesnsitas cahaya, dan irama akan tetapi ikan ini juga mempunyai kebiasaan merusak atau mengganggu ornamen-ornamen yang ada di dalam akuarium.
Ikan oscar dewasa termasuk ikan buas, karena ia mempunyai kebiasaan memakan ikan-ikan yang berukuran kecil terlebih jika ikan itu bukan dari famili yang sama dengannya. Ikan oscar dapat hidup rukun apabila dipelihara dengan ikan dari Famili Chiclidae lainnya yang memiliki ukuran tubuh sama dengannya.

Makanan
Makanan yang biasa diberikan pada ikan oscar sangat variatif seperti ikan-ikan kecil, jentik nyamuk, ataupun potongan-potongan ikan lainnya. Akan tetapi, untuk menghasilkan ikan oscar yang memiliki kualitas warna yang baik, maka sebaiknya makanan yang diberikan pada ikan ini adalah makanan yang mengandung zat chitine. Jenis makanan yang mengandung zat chitine kebanyakan adalah makanan alami berupa hewan-hewan yang memiliki cangkang seperti kutu air, udang  kali, rayap, dan lain-lain.

Reproduksi
Ikan oscar dapat dipijahkan setelah mencapai ukuran panjang 15 cm dengan lebar 10 cm. Telur hasil pemijahan akan ditempatkan oleh induk oscar pada substrat yang memiliki permukaan licin seperti kaca, porselin, ataupun pecahan genting, dan selanjutnya akan dijaga oleh induk sampai telur tersebut menetas.
Ikan oscar dapat bertelur setiap 10 hari sekali dengan jumlah telur sekitar 1000-3000 butir per induk. Sepasang induk oscar dapat dipijahkan sampai 5 musim pemijahan atau sampai berumur 7 tahun. Semakin tua umur ikan oscar, maka kuantitas telur yang dihasilkannyapun akan semakin menurun.

Persiapan Sarana Pemijahan
*        Bak Pemijahan
Sarana pemijahan yang sering dipakai untuk memijahkan ikan oscar adalah berupa bak semen dengan ukuran 2 x 2 x 0,5 m. Sebelum digunakan, bak pemijahan dipersiapkan terlebih dahulu dengan melakukan kegiatan pembersihan bak dari kotoran dan sampah-sanpah. Apabila bak yang akan dipakai adalah bak yang baru dibuat, maka sebaiknya bak tersebut direndam dengan air sumur selama 4 minggu dengan perlakuan setiap 2 minggu sekali bak dikuras. Setelah itu lakukan penjemuran terhadap bak pemijahan, hal ini dilakukan selain untuk memberikan rangsangan terhadap oscar, juga untuk membunuh bibit penyakit yang diperkirakan bersarang dalam bak.
Setelah bak pemijahan disiapkan, selanjutnya air dimasukan ke dalam bak dengan ketinggian 25-30 cm. Sumber air yang dapat digunakan adalah air sumur ataupun air PAM, akan tetapi air tersebut perlu diendapkan selama 12-24 jam.

Substrat (Penempel Telur)
Telur ikan oscar bersifat adhesiv, artinya telur memerlukan tempat untuk menempel (substrat). Jenis substrat yang biasa digunakan dalam pemijahan ikan oscar adalah berupa batu yang memiliki permukaan datar ataupun bahan lain yang memiliki permukaan licin, seperti pecahan genting, porselin, kaca ataupun pipa paralon.
Sebelum dimasukan ke dalam bak pemijahan, substrat yang akan dipakai sebaiknya dicuci dahulu untuk menghilangkan kotoran-kotoran yang menempel agar tidak mengganggu telur. Jumlah substrat yang dimasukan disesuaikan dengan jumlah induk oscar yang akan dipijahkan. Untuk setiap pasangan induk oscar yang akan dipijahkan, cukup diberikan substrat 1 saja, dan substrat tersebut kita simpan di bagian sudut bak. Ukuran substrat yang ideal biasanya adalah 15 x 20 cm atau 20 x 20 cm.

Pemasukan Induk
Ikan oscar dapat dipijahkan dengan perbandingan induk jantan dan betina 1 : 1. Jumlah induk oscar yang akan dipijahkan, sebaiknya disesuaikan  dengan ukuran bak pemijahan 2 x 2 m dapat dimasukan induk sebanyak 4 pasang.

Proses Pemijahan
Proses pemijahan pada ikan oscar dimulai dengan gerakan-gerakan lincah dari induk jantan untuk memikat induk betina, kemudian kedua induk akan mencari tempat yang dianggap cocok dan membersihkannya. Setelah itu, induk betina akan mulai mengeluarkan telurnya di permukaan substrat, dan induk jantan akan langsung mengeluarkan spermanya untuk membuahi telur-telur tersebut.
Telur-telur hasil pemijahan tadi, akan dijaga oleh kedua induk, akan tetapi sering pula terjadi induk oscar memakan telur-telurnya kembali karena ia kekurangan makanan. Oleh karena itu untuk mencegah hal itu terjadi, maka sebaiknya telur-telur tadi kita pindahkan ke tempat lain untuk ditetaskan.
Penetasan Telur
Telur-telur hasil pemijahan sebaiknya di tetaskan di dalam wadah terpisah dengan bak pemijahan. Wadah yang biasa digunakan adalah akuarium yang diisi air setinggi 6-8 cm. Akuarium tersebut kita tempatkan pada tempat yang terlindung dari hujan dan panas yang berlebihan. Akuarium penetasan sebaiknya di aerasi untuk memenuhi kebutuhan oksigen terlarut bagi telur.
Gelembung udara yang dihasilkan oleh aerator jangan terlalu besar, hal ini bertujuan agar telur tidak terganggu.
Dalam waktu 3 hari, telur-telur yang kita tetaskan biasanya sudah mulai menetas. Larva ikan oscar tidak langsung kita beri makan, karena ia masih memiliki kantung kuning telur sebagai sumber makanannya. Pada umur 4 hari benih sudah mulai diberi makanan alami berupa kutu air. Benih yang dapat dihasilkan dari sepasang induk adalah 1000-3000 ekor.
Perawatan
Larva yang telah menetas selanjutnya kita pelihara di dalam akuarium penetasan sampai berumur 1 bulan. Selama pemeliharaan, ketinggian air dalam akuarium ditingkatkan secara bertahap setiap 7 hari sekali yaitu dari 6 cm menjadi 10 cm, 15 cm dan 20 cm.
Setelah berumur 1 bulan, benih-benih tersebut kita pelihara dalam bak berukuran 4 m2 dengan kepadatan 250 ekor per m2. Selama pemeliharaan, benih di beri makanan berupa kutu air ataupun cacing sutera. Makanan diberikan sebanyak 2-3 kali sehari secara adlibitum.
DAFTAR PUSTAKA
Afriantio, Eddy dan Evi Liviawati. Pengendalian Hama dan Penyakit Ikan. Kanisius. Yogyakarta : 1993
Daelami, Deden. Agar Ikan Sehat. Penebar Swadaya.
Jakarta :2001
Hakim A.R. dan Syafei L.S, 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan “Oscar Sehat Produksi Meningkat”. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor.
http://www.google.com/imgres?imgurl=http://3.bp.blogspot.com/_u96_MMNGtog/R0aDjJ7avVI/AAAAAAAAAGk/s773tHO38oE/s400/Ocellatus.jpg&imgrefurl=http://uplixs-fish.blogspot.com/2007/11/oscar.html&h=257&w=388&sz=38&tbnid=QE2gTkHEfv_eOM:&tbnh=90&tbnw=136&zoom=1&usg=__jOMO3teBbgMwkC7t4WPH3NSfqy8=&docid=uLqxf6Moe9_QMM&hl=id&sa=X&ei=d36IUZuDKsX_rQfvlIGoAQ&sqi=2&ved=0CDMQ9QEwAg&dur=2980

Susanto, Heru. Oscar. Penebar Swadaya. Jakarta : 1993
Baca SelengkapnyaMENGEMBANGKAN PEMBENIHAN IKAN OSCAR

CARA PENGOLAHAN IKAN TUNA MENJADI TAHU TUNA YANG NIKMAT

Ikan tuna yang digunakan sebagai bahan baku pengolahan tuna kaleng harusmemenuhi persyaratan dalam SNI 01-2712.1-1992, yaitu (Eko, H.R dan TeukuMuamar, 2007):1.
Ikan yang digunakan segar atau beku, utuh atau tanpa isi perut. 2.
Bahan baku berasal dari perairan yang tidak tercemar 3.
Bahan baku harus bersih, bebas dari setiap bau yang menandakanpembusukan, bebas dari tanda dekomposisi dan pemalsuan, bebas dari sifatalami lain yang dapat menurunkan mutu serta tidak membahayakankesehatan.
Berdasarkan medium jenis medium yang digunakan, produk tuna kaleng dibedakanatas produk tuna in oil dan tunain water/brine (Eko, H.R dan Teuku Muamar, 2007).
Berikut ini adalah proses pengalengan ikan tuna (Eko, H.R dan Teuku Muamar,2007):
1.. Penerimaan bahan baku
Pada tahap pemeriksaan bahan baku diambil 5% untuk dilakukan pengujianterhadap suhu, kadar histamin, kadar garam dan organoleptik. Selain itu,dilakukan pengujian honeycomb, brosis dan parasit dengan menggunakantest pack pada 2 ekor ikan tuna.Bahan baku yang dipindahkan dari mobil pengangkut ke cold storage tidakboleh lebih dari 3 jam. Penyimapanan bahan baku dalam cold storage padasuhu -18 C dan lama penyimpanan maksimal 3 bulan. Sebelum diolah ikantunah harus melalui proses pelelehan terlebih dahulu.
2. Penyiangan Proses ini diawali dengan pemotongan tuna menjadi 7-8 bagian yang terbagimenjadi 4 atau 5 bagian tengah, 1 bagian leher, 1 bagian kepala, dan 1bagian ekor. Kemudian proses dilanjutkan dengan pengambilan isi perut daninsang. Limbah dari proses penyiangan ini biasanya dimanfaatkan menjaditepung ikan. 
3. Penyusunan dalam rak Penyusunan bagian-bagian tuna dalam rak dipisahkan berdasarkan bagianbadan, ekor, dan kepala. Pemisahan ini dilakukan karena setiap bagian ikanmemiliki waktu pemasakan pendahuluan ( precooking) yang berbeda.
4. Pemasakan pendahuluan (precooking)
Tujuan dari pemasakan pendahuluan ini adalah untuk memudahkan prosespembersihan daging ikan, mengurangi kandungan air, lemak dan membuatdaging ikan menjadi lebih kompak. Proses pemasakan dilakukan di dalam cooker dengan mengalirkan uap panas. Pengaliran uap panas dihentikanapabila telah mencapai suhu 100 C. Setelah diberi uap panas dilakukanpenyemprotan dengan air agar tekstur menjadi kompak
Bahan-bahan Tahu Tuna
• 1000 potong tahu                           
• 7 kg ikan tuna segar
• 4 kg tepung kanji
Bumbu-bumbu
•  0,5 kg bawang putih
•  2 ons Merica
•  2 Bungkus garam
•  3 plastik es
Cara pengolahan :
1. Penyiangan
Penyiangan dilakukan segera mungkin yaitu dengan cara membuang kepala dan isi perut sebelum daging dipisahkan. Penyiangan dilakukan secara cepat, cermat dan saniter sehingga tidak menyebabkan pencemaran pada tahap berikutnya. Ikan harus disiangi segera mungkin setelah ikan mati karena apabila darahnya mulai beku, maka daging akan mengalami diskolorisasi (perubahan warna) sehingga akan mempengaruhi warna produk akhir. Perubahan warna banyak disebabkan karena perubahan zat warna darah dan zat warna lain. Hemoglobin dan myoglobin yang mula-mula berwarna cerah akan berubah menjadi merah kecoklatan atau coklat karena terbentuknya methemoglobin.
2. Pencucian
Ikan dicuci dengan secara hati-hati, cepat, cermat dan saniter dengan menggunakan air dingin bersih yang mengalir.
3. Pemfilletan dan Pengambilan daging
Ikan yang telah disiangi dan dicuci kemudian di fillet yaitu mengambil dan memisahkan  daging dari kulit dan tulang ikan. Pemfilletan ini dilakukan dengan cara ikan diletakkan di atas talenam, kemudian disayat memanjang dengan pisau pada ekor hingga ke arah kepala.
Selama proses, bahan baku ditangani secara hati-hati, cepat, cermat dan saniter dan tetap mempertahankan suhu ikan maksimal 5˚C. Daging ikan yang masih menempel di tulang  diambil (dikerok) menggunakan sendok. Proses ini dapat dilakukan menggunakan mesin  maupun secara manual. Daging fillet harus tetap dipertahankan suhunya dengan selalu  menambahkan es. Cara yang paling mudah untuk mendinginkan  ikan adalah dengan menggunakan es. Es mendinginkan dengan cepat tanpa banyak  mempengaruhi keadaan ikan, serta biayanya murah. Pada prinsipnya, es harus dicampurkan   dengan ikan sedemikian rupa sehingga permukaan ikan bersinggungan dengan es, maka pendinginan ikan akan berlangsung lebih cepat sehingga pembusukan dapat segera dihambat.
4. Penghancuran daging/Penggilingan
Daging ikan dihancurkan dengan menggunakan alat penghancur. Proses dilakukan secara cepat, cermat dan saniter serta tetap mempertahankan suhu 00C- 50C. Penggilingan daging ikan dilakukan dengan menggunakan mesin penggiling yang umummya disebut alat penghancur (grinder) selama kurang lebih 5 menit hingga daging ikan hancur dan halus. Penggilingan yang terlalu lama akan menyebabkan tekstur daging ikan lembek sehingga produk yang dihasilkan tidak dapat dibentuk atau dicetak.
5. Pencucian daging
Proses pencucian meliputi pencucian daging ikan yang dilumatkan dengan air es (air dingin). Dan diberi garam ( ± 0,3 %). Perbandingan ikan dengan air dingin 1: 3 dan perendaman dilakukan selama 15 menit sambil diaduk-aduk. Tujuan dari pencucian ini adalah untuk memperbaiki warna daging. Hasil pencucian daging menjadi membentuk gel (kenyal), proses pencucian ini akan dapat memperbaiki gel dan juga memperbaiki warna daging. Pencucian akan menghilangkan kandungan protein sakroplasma yang dapat larut dalam air yang tidak bisa membentuk gel, enzim protease, darah atau warna yang dapat merusak penangkapan lemak komponen utama yang menyebabkan oksidasi lemak dan denaturasi protein.
Selama pencucian daging ikan dibersihkan dari darah, lemak, lendir dan protein yang larut dalam air, dengan cara ini warna dan bau daging menjadi lebih baik disamping kandungannya aktomiosinnya meningkat yang dibuat dengan proses pencucian sehingga secara nyata dapat memperbaiki sifat elastisitas produk. Pencucian dengan air es merupakan tahap yang paling penting dalam pembuatan surimi, karena dalam proses pencucian ini komponen nitrogen terlarut, darah dan juga lemak yang ada pada daging lumat akan terbuang, sedangkan protein myofibliar menjadi pekat, sehingga kemampuan membentuk gel meningkat.
Air yang digunakan untuk pencucian haruslah air dingin. Pencucian dengan air kran dapat merusak tekstur dan mempercepat degradasi lemak, sedangkan pencucian dengan air laut dapat meningkatkan kehilangan protein. Pencucian berulang dilakukan dengan penambahan hancuran es pada saat pencucian agar suhu tetap stabil sekitar 10 oC
Gel berbentuk rekat hasil pencucian mengubah daging bewarna putih, tidak berbau, tidak berlemak dan kenyal, adanya asam amino actin dan myosin yang banyak terkandung dalam protein daging ikan. Apabila protein daging ikan yang sedang dilumatkan ditambah dengan garam (NaCl), maka actin dan myosin ini akan terekstrak dalam bentuk actomyosin yang teksturnya seperti jala. Masa ini disebutsol, yang sifatnya lengket dan adesing, apabila masa sol ini dipanaskan maka akan terbentuk gel, yang memberikan elastisitas.
6. Pencampuran/Pengadonan
Hancuran daging dimasukkan kedalam alat pencampur, ditambahkan garam .dan dicampur hingga didapatkan adonan yang lengket. Selanjutnya dilakukan penambahan bumbu lainnya, dicampur sampai homogen. Adapun bumbu yang dicampurkan ke dalam daging ikan sebagai berikut : garam, tepung tapioka, air es, minyak sayur, gula, bawang putih. Proses ini harus dilakukan dengan cepat dan bersih dan suhu adonan dipertahankan sampai 50C. Cara pencampuran adonan.
7. Pengisian adonan
Tahu yang sudah digoreng dilubangi tengahnya kemudian diisi dengan adonan daging tuna.
8. Perebusan atau pemasakan
Tahu tuna direbus menggunakan panci stainless steel pada suhu 100˚C selama 10 menit.
9. Penirisan
Setelah perebusan, tahu tuna diletakkan di meja untuk penirisan. Penirisan juga sekaligus untuk menurunkan suhu yang biasanya dilakukan dengan alat bantu kipas angin. Proses ini dilakukan hingga  menjadi agak kering dan tidak menyebabkan penguapan setelah   dikemas. Penirisan dilakukan selama 10 – 15 menit.
10. Pengemasan
Tahu tuna dikemas dengan menggunakan plastik HDPE (High Density Poly Etilen) dengan kapasitas sesuai keinginan, kemudian direkatkan dengan electric heatseller. Dipilihnya plastik HDPE karena mempunyai ketebalan yang dapat melindungi produk yang telah dikemas agar tidak rusak selama masih di dalam kemasan.
11. Penyimpanan
Tahu tuna disimpan di dalam freezer dengan suhu -25oC. Penyimpanan produk sebaiknya dilakukan terpisah dari bahan baku (ikan beku).
Baca SelengkapnyaCARA PENGOLAHAN IKAN TUNA MENJADI TAHU TUNA YANG NIKMAT

MENGENAL SISTEM PEMBESARAN BELUT YANG CEPAT PANEN

Ikan belut sudah sangat dikenal di seluruh Indonesia, dengan habitat hidup di sawah berlumpur, tepi sungai. Licin bagaikan belut merupakan pepatah lama yang ditujukan kepada orang yang sangat licik, tetapi selalu terbebas dari segala tuntutan. Ungkapan itu merupakan sebuah pengakuan bahwa belut itu sangat licin dan sulit ditangkap. Belut (Monopterus albus) merupakan ikan darat dari keluarga Synbranchidae dan tergolong ordo Synbranchiodae, yaitu ikan yang tidak mempunyai sirip atau anggota lain untuk bergerak.
Saat ini belut untuk keperluan industri kecil di Indonesia masih sangat kekurangan bahan baku belut. Bahkan untuk keperluan eksporpun masih jauh kekurangan. Bayangkan salah satu pemasok belut di Jakarta Selatan hanya mampu memenuhi 3,5 ton dari permintaan Hongkong yang mencapai 60 ton/hari. Peluang pasar ekspor masih sangat terbuka dan terus meningkat terutama untuk tujuan negara Jepang.
Jenis ikan darat ini merupakan komoditas perikanan darat yang bergerak dengan jalan melenggak-lenggokkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Habitatnya di tempat berlumpur, genangan air tawar, atau aliran air yang kurang deras.Bentuknya yang seperti ular membuat sebagian orang enggan untuk melihatnya. Padahal, dagingnya sangat lezat dan dapat diolah menjadi berbagai makanan yang bergizi tinggi. Selain itu, belut juga memiliki berbagai khasiat untuk kesehatan.
Membesarkan belut hingga siap panen dari bibit umur 1-3 bulan butuh waktu 7 bulan. Namun, menurut para peternak yang sudah mengembangkan bisa dipercepat menjadi 4 bulan dengan  kunci suksesnya antara lain terletak pada media dan pengaturan pakan. Selain menekan biaya produksi, panen dalam waktu singkat itu mampu mendongkrak ketersediaan pasokan.
Selain pakan alami, ada resep suplemen rahasia yang mampu mempercepat pertumbuhan belut hingga 10 kali lebih berat dari suplemen belut biasa. Resep ini telah dibuktikan oleh peternak belut yang sukses. Selain mempercepat pertumbuhan, suplemen ini  berfungsi meningkatkan ketahanan terhadap serangan penyakit dan menambah nafsu makan. Jika biasanya belut dipanen dalam waktu 6 bulan, dengan memberikan suplemen ini, belut dapat dipanen lebih cepat 3 bulan dengan bobot yang sama memuaskan.
Dengan mengeluarkan biaya Rp8.000 untuk setiap kolam berisi 200 ekor sudah bisa menghasilkan panenan belut. pada umumnya rata-rata peternak paling tidak mengeluarkan biaya Rp14.000 untuk pembesaran jumlah yang sama. Semua itu karena metode pengaturan dengan menggunakan media campuran untuk pembesarannya.
Media campuran
belut akan cepat besar jika medianya cocok. Media yang digunakan terdiri dari lumpur kering, kompos, jerami padi, pupuk TSP, dan mikroorganisme stater. Peletakkannya diatur: bagian dasar kolam dilapisi jerami setebal 50 cm. Di atas jerami disiramkan 1 liter mikroorganisma stater. Berikutnya kompos setinggi 5 cm. Media teratas adalah lumpur kering setinggi 25 cm yang sudah dicampur pupuk TSP sebanyak 5 kg.
Karena belut tetap memerlukan air sebagai habitat hidupnya, kolam diberi air sampai ketinggian 15 cm dari media teratas. Jangan lupa tanami eceng gondok sebagai tempat bersembunyi belut. Eceng gondok harus menutupi  besar kolam.
Bibit belut tidak serta-merta dimasukkan. Media dalam kolam perlu didiamkan selama 2 minggu agar terjadi fermentasi. Media yang sudah terfermentasi akan menyediakan sumber pakan alami seperti jentik nyamuk, zooplankton, cacing, dan jasad-jasad renik. Setelah itu baru bibit dimasukkan.
Pakan hidup
Berdasarkan pengalaman, sifat kanibalisme yang dimiliki belut (Monopterus albus) itu tidak terjadi selama pembesaran. Asal, pakan tersedia dalam jumlah cukup. Saat masih anakan belut tidak akan saling mengganggu. Sifat kanibal muncul saat belut berumur 10 bulan, ujarnya. Sebab itu tidak perlu khawatir memasukkan bibit dalam jumlah besar hingga ribuan ekor. Dalam 1 kolam berukuran 5 m x 5 m x 1 m, saya dapat memasukkan hingga 9.400 bibit, katanya.
Pakan yang diberikan harus segar dan hidup, seperti ikan cetol, ikan impun, bibit ikan mas, cacing tanah, belatung, dan bekicot. Pakan diberikan minimal sehari sekali di atas pukul 17.00. Untuk menambah nafsu makan dapat diberi temulawak (Curcuma xanthorhiza.) Sekitar 200 g temulawak ditumbuk lalu direbus dengan 1 liter air. Setelah dingin, air rebusan dituang ke kolam pembesaran. Pilih tempat yang biasanya belut bersembunyi, ujar Ruslan.
Di dalam media budi daya juga bisa diletakkan beberapa pakan hidup seperti kecebong, cacing, larva ikan, dan belatung. Selain itu, untuk kegiatan pembesaran, belut juga dapat diberi pakan mati berupa cincangan bangkai ayam atau cincangan bekicot. Namun, pakan bangkai tersebut sebaiknya telah direbus dahulu sebelum diberikan ke belut agar belut terhindar dari penularan penyakit atau mikroorganisme yang menjangkiti hewan tersebut.
Budi daya pakan alami sebaiknya sudah dimulai 1—2 bulan sebelum budi daya belut dilakukan, kecuali kecebong. Tujuannya, agar terhindar dari kekurangan pakan. Banyaknya pakan yang dibudidayakan harus disetarakan dengan besarnya skala budi daya belut agar stok pakan alami dapat terus terjaga selama pemeliharaan belut.
Pelet ikan dapat diberikan sebagai pakan selingan untuk memacu pertumbuhan. Pemberiannya ditaburkan ke seluruh area kolam. Tak sampai beberapa menit biasanya anakan belut segera menyantapnya. Pelet diberikan maksimal 3 kali seminggu. Dosisnya 5% dari bobot bibit yang ditebar. Jika bibit yang ditebar 40 kg, pelet yang diberikan sekitar 2 kg.
Hujan buatan
Selain pakan, yang perlu diperhatikan kualitas air. Bibit belut menyukai pH 5-7. Selama pembesaran, perubahan air menjadi basa sering terjadi di kolam. Air basa akan tampak merah kecokelatan. Penyebabnya antara lain tingginya kadar amonia seiring bertumpuknya sisa-sisa pakan dan dekomposisi hasil metabolisme. Belut yang hidup dalam kondisi itu akan cepat matii. Untuk mengatasinya, pH air perlu rutin diukur. Jika terjadi perubahan, segera beri penetralisir.
Kehadiran hama seperti, bebek, dan garangan perlu diwaspadai. Mereka biasanya spontan masuk jika kondisi kolam dibiarkan tak terawat. Kehadiran mereka sedikit-banyak turut mendongkrak naiknya pH karena kotoran yang dibuangnya. Hama bisa dihilangkan dengan membuat kondisi kolam rapi dan pengontrolSuhu air pun perlu dijaga agar tetap pada kisaran 26-28 derajaat C. Peternak di daerah panas bersuhu 29-32 derajad C perlu hujan buatan untuk mendapatkan suhu yang ideal.  bisa menggunakan shading net dan hujan buatan untuk bisa mendapat suhu 26 C. Bila terpenuhi pertumbuhan belut dapat maksimal.
Shading net dipasang di atas kolam agar intensitas cahaya matahari yang masuk berkurang. Selanjutnya 3 saluran selang dipasang di tepi kolam untuk menciptakan hujan buatan. Perlakuan itu dapat menyeimbangkan suhu kolam sekaligus menambah ketersediaan oksigen terlarut. Ketidakseimbangan suhu menyebabkan bibit cepat mati.,
Jika tidak bisa membuat hujan buatan, dapat diganti dengan menanam eceng gondok di seluruh permukaan kolam. Dengan cara itu bibit belut tumbuh cepat, hanya dalam tempo 4 bulan sudah siap panen.
Selamat Mencoba !
sumber: dkpm.m/u
Baca SelengkapnyaMENGENAL SISTEM PEMBESARAN BELUT YANG CEPAT PANEN

BUDIDAYA UDANG VANNAMEIYANG Aman (Back to Basic Aquaculture)

Mencermati keadaan bisnis tambak udang yang semakin menuntut pemikiran secara  sungguh-sungguh, sehubungan dengan semakin ketatnya persaingan mau pun profit margin yang  semakin menipis, keberadaan produsen pakan udang sebagai salah satu stake holder pendukung keberhasilan budidaya udang di tambak pun harus berbenah agar dapat seiring sejalan dengan dinamika bisnis tambak udang.
Pilihan sulit yang harus diambil pabrik pakan udang adalah mempertahankan pangsa pasar dengan tetap profitable, sementara pihak pelaku bisnis tambak udang selalu mengharapkan kualitas pakan yang mampu menekan FCR dan memberikan ADG yang tinggi.
Namun, membandingkan kualitas pakan udang tidak semudah menilai produk industri yang lain, banyak factor yang mempengaruhi produktifitas tambak udang selain factor kualitas pakan udang sehingga meski pun dalam suatu kawasan (area) tambak yang sama antara satu petak tambak dengan yang lain performanya berbeda.
Faktor tehnis dan system yang digunakan sangatlah menentukan hasil akhir proses budidaya udang di tambak, di samping factor manajemen sumberdaya manusia dan kualitas benur yang digunakan.
Di sinilah pentingnya peranan seorang tehnisi tambak dan pihak manajemen yang mendukungnya, sedangkan dari sisi produsen pakan udang peran technical support dapat menjembatani antara kepentingan divisi marketing pabrik pakan udang dengan pihak manajemen tambak udang sebagai pengambil keputusan penentuan brand pakan udang yang akan digunakan.
Technical support harus mampu mendeskripsikan kondisi proses budidaya udang di tambak secara obyektif, tentu saja lengkap dengan kekurangan dan kelebihan yang ada, tanpa adanya tendensi tertentu, sehingga pihak manajemen tambak akan dapat mengevaluasi keadaan tersebut dan merasa sangat terbantu.
Di sisi yang lain, technical support dapat memberi masukan kepada pabrik pakan udang kondisi tehnis tambak udang yang menjadi target pangsa pasar., di samping kualitas pakan udang yang digunakan.
Demikian sekilas peranan Technical Support pakan udang yang sering kali dianggap remeh dan tidak penting, bahkan di beberapa pabrik pakan udang hanya sebagai pelengkap penderita atau bahkan dianggap memboroskan anggaran perusahaan.
Budidaya udang vannamei yang aman
(back to basic aquaculture)
Oleh Bambang Setyo Raharjo, Technical Support PT Gold Coin Indonesia (Specialities)
Tingkat kesulitan budidaya udang Vannamei yang semakin tinggi, sementara komponen sarana produksi budidaya semakin mahal mengharuskan pelaku budidaya udang Vannamei mengernyitkan dahi, memutar otak dan berpikir keras.
Bagaimana agar keberadaan (eksistensi) bisnis budidaya udang Vannamei mampu bertahan..?  Sementara keuntungan bisnis ini pun menurun sampai maksimal hanya 30%, dari yang dulunya dapat mencapai 70%.
Salah satu  solusi untuk mengatasi masalah tersebut adalah ‘budidaya udang vannamei yang aman’, yang maksudnya adalah  :    Merencanakan lebih cermat, teliti dan terperinci proses budidaya sebelum penebaran udang dimulai.
Mereduksi dan mengeliminir seminimal mungkin faktor-faktor penyebab kegagalan dalam proses budidaya.
Mencanangkan target budidaya yang paling realistis.
A. Merencanakan lebih cermat, teliti dan terperinci proses budidaya sebelum   
   penebaran udang dimulai.
Dalam hal perencanaan budidaya, sebaiknya menganalisis diagram alir sebagai berikut  :
Persiapan Lahan
Penebaran Benur
Proses Budidaya
Panen
1.Persiapan Lahan
Metoda persiapan lahan untuk budidaya harus mempertimbangkan hasil panen perioda sebelumnya.  Apakah panen dalam kondisi udang normal atau terserang penyakit.
Apabila kondisi udang hasil panen perioda sebelumnya terserang penyakit, persiapan  lahan harus lebih berhati-hati, termasuk perlunya sterilisasi dengan desinfektan yang efektif.
Selanjutnya mempersiapkan air masuk ke petakan tambak, sebaiknya benar-benar mempertimbangkan kondisi air laut, yaitu antara lain : apakah pada saat  air laut diambil dalam kondisi pasang besar, sehingga kemungkinan terkontaminasi polutan lebih kecil.
2.Penebaran Benur
Tahap penebaran benur dimulai dari perencanaan jumlah kolam yang akan ditebar serta kepadatan per m2 yang akan dibudidayakan.
Kemudian mencari benur dari hatchery  yang mempunyai ‘track record’ bagus, serta mengikuti tahapan benur yang akan diambil, sejak naupli hingga PL siap panen.
Sebaiknya melakukan stress test, meliputi  : suhu, salinitas dan formalin, untuk mengetahui stamina dan daya tahan benur.
Pemilhan benur yang selektif setidaknya telah memperkecil risiko kegagalan karena faktor benur atau genetik, sehingga dalam proses budidaya tinggal mengoptimalkan manajemen air (lingkungan) dan manajemen sumberdaya manusia.
Sementara ini faktor benur menjadi kendala utama dalam budidaya udang Vannamei karena tidak konsisten dalam hal kualitas.
Benur F1 yang dihasilkan oleh hatchery jumlahnya terbatas dengan kualitas yang fluktuatif.  Padahal faktor benur minimal memberikan kontribusi 30% dari keberhasilan, selain lingkungan dan sumberdaya manusia.
3. Proses Pemeliharaan
Setelah tahap penebaran benur dilakukan, maka konsentrasi berikutnya adalah : bagimana mengantarkan benur hingga mencapai umur panen, dengan target size, FCR dan SR sesuai yang direncanakan.
Dalam proses pemeliharaan setiap kemungkinan dapat terjadi, baik yang telah diprediksi, mau pun yang di luar prediksi.
Prioritas proses pemeliharaan meliputi  :
 Menjaga kesehatan dan pertumbuhan udang yang baik,
 Manajemen kualitas air, yaitu : kualitas air budidaya yang terjaga dengan stabil,
 Mempertahankan tingkat kehidupan (survival rate) yang tinggi dari penebaran sampai dengan saat panen,
 Manajemen pakan yang tepat sasaran, yaitu tercapainya stamina dan pertumbuhan udang dengan tetap memperhitungkan efisiensi pemberian pakan, sehingga dicapai FCR bagus.
 Manajemen sumberdaya manusia di tambak.
 Menjaga kesehatan dan pertumbuhan udang yang baik
 Monitoring kesehatan dan pertumbuhan udang dilakukan dengan pengamatan secara langsung di tambak dari saat ke saat, memasukkan juga pengamatan  cuaca dan fenomena yang lain, seperti pergiliran rotasi bulan terhadap bumi yang mempengaruhi siklus pasang surut laut.
 Fokus pengamatan udang diperoleh dari hasil cek anco setiap jam pemberian pakan dan sampling jala secara periodik. Hasil cek anco merepresentasikan kondisi kesehatan udang setiap saat, sedangkan sampling jala menggambarkan pertumbuhan bobot udang secara berkala.
 Pada dasarnya pertumbuhan udang sebanding dengan konsumsi nutrisi, lingkungan dan kesehatan udang, di samping peran genetik dari benur. Komposisi nutrisi yang berimbang dan jumlahnya mencukupi, didukung lingkungan yang kondusif dan kondisi udang sehat, serta benur yang ‘fast grow’ akan diperoleh pertumbuhan udang optimal.
b. Manajemen kualitas air, yaitu : kualitas air budidaya yang  terjaga dengan stabil
Keseimbangan siklus-siklus kimia, biologi dan fisika di lingkungan air budidaya merupakan kunci utama untuk mendapatkan kualitas air budidaya yang terjaga dengan stabil. Tentu saja kualitas air yang diharapkan sesuai dengan parameter ideal yang dibutuhkan oleh udang Vannamei yang dibudidayakan.
Setiap penggunaan perlakuan (treatment) harus selalu diperhitungkan terhadap pengaruh (dampak) berantai setelah perlakuan diberikan, terutama pengaruh secara langsung terhadap udang.
Karena kompleksitas faktor yang mempengaruhi mau pun variabel yang ikut berperan dalam membentuk kualitas air, suatu bahan yang dimasukkan ke perairan tambak akan mengubah keseimbangan kualitas air yang ada, sehingga kemampuan memprediksi mau pun mengantisipasi setiap perubahan harus tepat guna dan tepat waktu. Di sinilah dibutuhkan ketelitian yang tinggi dan pengalaman yang cukup memadai seorang tehnisi tambak.
Berbagai produk dan cara banyak ditawarkan untuk mendapatkan kualitas air tambak yang bagus, namun yang perlu dijadikan pertimbangan utama adalah kesesuaian dengan kondisi di mana tambak berada, karena setiap tempat dan lokasi tambak spesifik.
c.  Mempertahankan tingkat kehidupan (survival rate) yang tinggi dari
penebaran benur  sampai dengan saat panen.
Beberapa indikator keberhasilan budidaya udang Vannamei secara tehnis adalah, tercapainya hasil panen dengan  :
Tingkat kehidupan (survival rate) dari penebaran benur di atas 80%
Ukuran udang (size) seperti yang diharapkan
Rasio konversi pakan (feed convertion ratio) yang bagus
Kondisi udang yang sehat.
Terjaganya tingkat kehidupan (survival rate) selama budidaya tidak terlepas dari stamina udang, sehingga pada saat kondisi kualitas air berubah secara tiba-tiba masih mampu bertahan dengan tingkat stress minimal. Demikian pula ketika proses pemulihan kondisi kualitas air melalui perlakuan (treatment), udang tidak terpengaruh kondisi kesehatannya.
Namun stamina udang, sebaliknya juga sangat bergantung pada kualitas air yang stabil dan keberadaan penyakit udang di lingkungan, yang secara sederhana dapat diillustrasikan sebagai berikut  :
Stamina
udang
Penyakit udang di tambak
Kualitas air tambak
Udang terinfeksi penyakit karena stamina yang dimiliki buruk, kondisi kualitas air buruk dan adanya penyakit udang di tambak.
Pencapaian tingkat kehidupan (survival rate) udang Vannamei sebaiknya di atas 80% dari jumlah penebaran.  Apabila diperoleh tingkat kehidupan yang rendah, perlu segera dianalisis penyebab utama hilangnya populasi selama proses budidaya.  Semakin cepat mendeteksi berkurangnya populasi selama budidaya, segera dapat mengantisipasi program pakan yang diberikan tanpa mengganggu pertumbuhan dan stamina udang.
d. Manajemen pakan yang tepat sasaran, yaitu tercapainya stamina dan       pertumbuhan udang dengan tetap memperhitungkan efisiensi pemberian pakan, sehingga dicapai FCR bagus.
Manajemen pakan budidaya udang Vannamei telah bergeser mendekati manajemen pakan budidaya udang Windu (Penaeus Monodon).
Berbeda pada saat awal kemunculan budidaya udang Vannamei, yang mana manajemen pakan begitu sederhana, tapi hasilnya FCR yang diperoleh sekitar 1,3 sampai dengan 1,5.  Kondisi rasio konversi pakan budidaya udang Vannamei terkini cenderung tinggi, bahkan di atas 2,0.  Padahal beragam upaya telah dilakukan untuk menekan FCR.
Beberapa faktor penyebab tingginya FCR antara lain adalah  :
    Hilangnya populasi selama proses budidaya udang yang tidak terdeteksi, sementara asumsi tingkat kehidupan tinggi,
    Pertumbuhan udang lambat, sehingga tidak berimbang dengan jumlah pakan yang sudah diberikan,
    Kematian udang selama proses budidaya, padahal udang yang mati telah ikut mengkonsumsi pakan,
Dengan mempertimbangkan faktor-faktor di atas, sebaiknya program pakan dibuat atas dasar kondisi riil di lapangan.
Di sinilah ketepatan memprediksi kondisi udang dan tingkat kehidupan udang di tambak akan sangat mempengaruhi ketepatan pemberian pakan dari hari ke hari yang pada akhirnya merupakan jumlah kumulatif pemberian pakan selama proses budidaya berlangsung.
Apabila program pakan sesuai yang diharapkan, akan diperoleh konversi pakan di bawah 1,5 dengan size minimal 50 pada umur pemeliharaan 120 hari.
e. Manajemen sumberdaya manusia di tambak
Ada sementara pendapat, bahwa keberhasilan budidaya udang Vannamei secara intensif di tambak lebih dari 60% ditentukan oleh faktor manajemen sumberdaya manusia, sedangkan sisanya menyangkut faktor tehnis.
Hal tersebut dapat dimengerti, mengingat ritme kerja di tambak yang memerlukan sikap kerja (attitude) dari para karyawan yang baik, disamping keterampilan (skill) dan pengetahuan (knowledge).
Beberapa karakter sikap kerja (attitude) berikut ini sebaiknya dimiliki oleh karyawan tambak  :
    Jujur
    Disiplin
    Rajin
    Teliti
    Ulet (kerja keras)
    Sabar & Rasa memiliki (sense of belonging) yang tinggi.
Sebagus apa pun program kerja yang dibuat, apabila dalam pelaksanaan di lapangan tidak sesuai dengan ‘standard operation procedure’ akan menimbulkan sumir (bias) terhadap hasilnya, atau bahkan akan muncul masalah yang baru.
Pelaksanaan program kerja akan optimal apabila didukung oleh sumberdaya manusia yang memiliki karakter sikap kerja (attitude) yang baik pula.
Program kerja di tambak dapat dibedakan atas program kerja rutin dan program kerja insidentil (mendadak atau darurat).
Program kerja rutin seperti  :
    Pemberian pakan
    Cek anco
    Sampling pertumbuhan udang
    Pengukuran parameter kualitas air
    Perawatan peralatan tambak
    Perawatan kualitas air
Program kerja insidentil antara lain  :
    Perlakuan (treatment) air tambak
    Penggantian kincir yang ‘trouble’
    Perbaikan peralatan tambak yang rusak
    Pergantian air tambak
Menjadi dirigen orkestra (pengatur harmoni) kerja di tambak memerlukan tehnis manajemen khusus, yaitu antara irama lambat (slow) dan cepat (fast) sehingga mampu membuat suasana kerja yang kondusif selama 24 jam, selama masa pemeliharaan udang.
4.  Panen
Mengakhiri sebuah perioda budidaya udang Vannamei adalah aktifitas panen, yang hasilnya merupakan tumpuan harapan dari seluruh proses budidaya yang sudah dilalui.
Membuat prediksi hasil panen memerlukan tingkat ketelitian dalam menganalisis data pakan harian dan kondisi udang selama pemeliharaan, supaya diperoleh hasil yang akurat.
Produk akhir dari budidaya udang Vannamei diharapkan  :
    Kondisi udang sehat, terlihat dari ciri organoleptik secara visual.
    Ukuran udang seragam.
    Penanganan (handling) udang sejak dipanen dari tambak hingga selesai ditimbang dilakukan secara cepat, teliti dan dalam kondisi suhu dingin, sehingga kemunduran kualitas udang dapat dihambat.
Selain pertimbangan secara tehnis, panen sebaiknya juga berdasarkan kecenderungan harga di pasaran.  Kemudian menggabungkan kedua perhitungan tersebut untuk menentukan waktu yang tepat dilakukan panen.  Dengan demikian akan diperoleh margin keuntungan yang optimal.
B.       Mereduksi dan mengeliminir seminimal mungkin faktor-faktor penyebab
           kegagalan dalam proses budidaya
Dari seluruh uraian yang sudah dipaparkan pada tahap perencanaan sebelum budidaya, dapat disimpulkan dalam sebuah tabel untuk mereduksi dan mengeliminir seminimal mungkin faktor-faktor penyebab kegagalan dalam proses budidaya udang Vannamei, yaitu  :
Topik
    Masalah dan Antisipasi
1. Persiapan lahan
    Pengukuran Redoks Potensial (untuk tambak tanah), lalu pengapuran.
    Pengisian air.
    Sterilisasi
    Pengukuran parameter kualitas air, perlakuan.
    Siap tebar benur.
    Biosecurity
    Air lebih dulu siap, baru dicarikan benur, meski pun dengan waktu tebar yag sudah direncanakan

2. Penebaran benur
Pemesanan benur di hatchery yang kredibel dan telah mempunyai ‘standard operation procedure’.
Monitor benur sejak Nauplii hingga PL siap panen benur.
Scoring penilaian benur
Test PCR, SPF  : WSSV, IHHNV, TSV
Stress test  :  salinitas, suhu, formalin.
3. Proses pemeliharaan
    Penentuan sistem budidaya udang Vannamei
    Monitoring kondisi kesehatan udang dan pertumbuhan
    Monitoring kualitas air tambak
    Program pakan
    Manajemen sumberdaya manusia
4. Panen
    Prediksi hasil panen.
    Penentuan waktu panen berdasarkan perhitungan tehnis dan kecenderungan harga di pasaran
    Penanganan (handling saat panen  :  cepat, teliti dan dalam kondisi suhu dingin.).
C. Mencanangkan target budidaya udang Vannamei yang paling realistis.
Maksud mencanangkan target budidaya udang Vannamei yang paling realistis adalah membuat perhitungan secara teliti dan terperinci seluruh komponen yang dimiliki tambak dalam budidaya udang Vannamei, kemudian menetapkan kapasitas kemampuan produksi tambak sesuai dengan potensi yang ada.
Beberapa komponen penting tambak yang menjadi pembatas kapasitas kemampuan produksi tambak antara lain  :
Sumberdaya perairan
Sumberdya perairan merupakan modal utama dalam budidaya udang Vannamei, seperti pendapat beberapa pelaku budidaya udang  :  “Pada dasarnya budidaya udang adalah budidaya air”.
Menilai potensi sumberdaya perairan untuk tambak mencakup kualitas sumberdaya air dan kuantitas (ketercukupan) sumberdaya air.
Selanjutnya penilaian atas potensi sumberdaya perairan ini akan menentukan tingkat kesulitan manajemen kualitas air tambak, yang ikut menentukan besarnya biaya operasional demi mendapatkan kualitas air yang sesuai untuk budidaya udang Vannamei.
Konstruksi tambak
Konstruksi tambak didesain menyesuaikan kondisi lahan tempat tambak dibangun, ide dasarnya adalah menonjolkan  (mengakomodir) unsur-unsur positif yang berkaitan dengan kepentingan budidaya udang Vannamei.
Setiap lokasi tambak selalu ada nilai lebih dibandingkan lokasi tambak yang lain, meski pun kekurangannya juga selalu ada.  Dalam operasionalnya kelebihan konstruksi tambak dapat dioptimalkan, sedangkan kekurangannya dapat direduksi.
Sumberdaya listrik dan mekanik
Faktor pembatas kapasitas produksi tambak udang Vannamei pola intensif salah satunya adalah sumberdaya listrik dan mekanik, yaitu sumberdaya penggerak kincir dan pompa air di tambak. Target budidaya udang Vannamei harus disesuaikan dengan sumberdaya listrik dan mekanik yang ada.
    Kelengkapan peralatan tambak
Selama proses budidaya udang Vannamei berlangsung harus diperhitungkan adanya peralatan cadangan bila sewaktu-waktu peralatan utama mengalami gangguan atau trouble. Hal tersebut untuk menjaga kestabilan kualitas air tambak, sehingga udang tidak mengalami stress yang berkepanjangan.
    Kemampuan pembiayaan operasional tambak
Dalam satu perioda pemeliharaan udang, seluruh biaya operasional sebaiknya telah dianggarkan sesuai dengan target budidaya yang ingin dicapai.  Kemudian ditambah 20% sebagai persediaan  jika terjadi masalah di tambak yang perlu penanganan dengan segera.
Baca SelengkapnyaBUDIDAYA UDANG VANNAMEIYANG Aman (Back to Basic Aquaculture)

HARMONISASI KELEMBAGAAN DAN KETENAGAAN PENYULUHAN PERIKANAN DALAM MENDUKUNG PROGRAM PEMBANGUNAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

Keberhasilan program prioritas Kementerian Kelautan dan Perikanan yang terdiri dari PNPM Mandiri Kelautan dan Perikanan, Industrialisasi Perikanan, Minapolitan, Blue Economy, PKN, dan MP3E, tidak bisa terlepas dari peranan penyuluhan perikanan. Peranan Penyuluh Perikanan dirasakan akan semakin penting dan cukup memegang peranan yang strategis. Mengingat kegiatan penyuluhan perikanan  selama ini selalu menjadi garda terdepan dan ujung tombak dalam mendukung keberhasilan pembangunan kelautan dan perikanan, mensosialisasi program-program pemerintah, termasuk teknologi terbaru kepada masyarakat pelaku utama perikanan. Selain sebagai agent of change for farmer behavior, posisi Penyuluh Perikanan yang berhadapan langsung dengan pelaku utama/usaha perikanan akan sangat menentukan untuk membawa perubahan yang kondusif pada masa yang akan datang.
Ironisnya tenaga Penyuluh Perikanan saat ini jumlahnya masih sangat sedikit apabila dibandingkan dengan jumlah dan keragaan wilayah serta jumlah pelaku utama dan/atau pelaku usaha yang disuluhnya. Saat ini keberadaan Penyuluh Perikanan PNS di Indonesia yaitu 3.242 orang atau baru 21,12 persen dari kebutuhan ideal (15.350 orang), sehingga masih perlu menggalang dan berkolaborasi dengan Penyuluh Perikanan Swadaya, dan Penyuluh Perikanan Swasta. Untuk itu, perlu dilakukan terobosan salah satunya yaitu dengan memaksimalkan jumlah Penyuluh Perikanan yang ada, mendekatkan fungsi pelayanan dan koordinasi dari para Penyuluh Perikanan Pusat dengan Penyuluh Perikanan daerah dan para pemangku kepentingan di Pusat dan daerah, serta melibatkan secara aktif para pelaku utama perikanan.
Hal inilah yang melatarbelakangi diselenggarakannya kegiatan Temu Koordinasi dan Sinergi Tugas Penyuluhan Perikanan di Kabupaten Bantul, pada hari Kamis, 28 Agustus 2014 yang bertempat di Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BKPPP) Bantul. Tujuan kegiatan ini yaitu sebagai langkah percepatan pengembangan penyuluhan perikanan dan dalam rangka lebih meningkatkan sinkronisasi pelaksanaan tugas pembinaan dan penyelenggaraan penyuluhan perikanan di tingkat pusat dan daerah untuk mendukung terlaksana dan tercapainya program Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Kegiatan Temu Koordinasi dan Sinergi Tugas Penyuluhan Perikanan di Kabupaten Bantul ini di hadiri oleh 30 (tiga puluh) orang Penyuluh Perikanan, yang terdiri dari Penyuluh Perikanan PNS, Penyuluh Perikanan Tenaga Kontrak (PPTK), Penyuluh Perikanan Swadaya Kabupaten Bantul. Hadir sebagai narasumber dalam acara ini yaitu Kepala BKPPP Kabupaten Bantul Ir.Pulung Haryadi, M.Sc. dan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Bantul Ir. Edy Machmud Hidayat, serta Koordinator Penyuluh Perikanan Wilayah Regional II Dr. Sumarno, MM.
Ucapan selamat datang sekaligus penyampaian materi yang pertama dalam Temu Koordinasi dan Sinergi Tugas Penyuluhan Perikanan di Kabupaten Bantul ini disampaikan oleh Ir.Pulung Haryadi, M.Sc. Materi yang disampaikan oleh Kepala BKPPP Bantul ini yaitu mengenai “Kebijakan BKPPP dalam Mendukung Penyuluhan Perikanan di Kabupaten Bantul”. Dalam pemaparannya Kepala BKPPP menyampaikan bahwa, misi utama BKPPP adalah meningkatkan kapasitas Penyuluh Perikanan dan masyarakat perikanan melalui sebuah proses pembelajaran. Dinas Kelautan dan Perikanan dengan BKPPP di Kabupaten Bantul tidak bisa dipisahkan, karena program kelautan dan perikanan terdapat di Dinas Kelautan dan Perikanan sedangkan Penyuluh Perikanan sebagai pendamping programnya atau ujung tombak dilapangan berada di bawah binaan BKPPP, sehingga kelembagaan ini perlu melakukan sinkronisasi dalam pelaksanaan kegiatannya. Penyuluh Perikanan di Kabupaten Bantul itu memiliki dua kantor yaitu selain di BKPPP tapi juga di Dinas KP, sehingga para Penyuluh Perikanan harus melakukan koordinasi kegiatan dengan kedua kelembagaan tersebut.
Dukungan Dinas Kelautan dan Perikanan dalam Penyuluhan Perikanan juga disampaikan oleh Bapak Ir. Edy Machmud Hidayat. Keseriusan, kerja keras, dan kepatuhan dari para Penyuluh Perikanan dalam mendukung dan menjalankan program-program Dinas Kelautan dan Perikanan sangat diperlukan. Sarana dan Prasarana penyuluhan perikanan seperti alat pencacah data, kendaraan roda dua dan roda empat sudah disediakan oleh Dinas KP melalui penganggaran Dana Alokasi Khusus (DAK), tinggal bagaimana para Penyuluh Perikanannya bisa bekerjasama dengan Dinas KP dalam mensukseskan program pembangunan kelautan dan perikanan di Kabupaten Bantul, ungkap Bapak Kepala Dinas KP Kabupaten Bantul.
Dengan kelugasannya Bapak Kepala Dinas KP telah membuka pintu kepada semua Penyuluh Perikanan untuk melakukan sinergitas dan koordinasi kegiatan dengan Dinas KP, sehingga program-program pembangunan kelutan dan perikanan dapat berjalan dengan baik, karena di tingkat lapangan Penyuluhlah yang langsung berhadapan dengan masyarakat pelaku utama atau pelaku usaha perikanan.
Drs. Sumarno, MM, sebagi Koordinator Penyuluh Perikanan Wilayah Regional II yang meliputi Provinsi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagai narasumber terakhir dalam kegiatan ini menyampaikan tentang “Kebijakan Penyuluhan Perikanan”. Kebijakan Penyuluhan Perikanan dalam mendukung program prioritas Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat KP, dilakukan melalui: 1) Pendekatan kawasan  dan industrialisasi; 2) Pemberdayaan dan  kewirausahaan; 3) Partisipasipatif dan Mandiri; 4) Sinergitas penyuluhan dan perluasan  jejaring kerja; dan 5) Teknologi KP dan Informasi Komunikasi, tutur Bapak Sumarno.
Dalam pemaparannya, Bapak Sumarno juga menyampaikan bahwa Penyuluh Perikanan dilapangan harus mampu meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap pelaku utama agar usaha lebih maju dan kondusif; memberikan motivasi dan mengembangkan potensi pelaku utama dalam pengembangan usahanya; memberikan bimbingan dan pendampingan manajemen, teknis, dan pemasaran  usaha perikanan serta pola usaha kepada kelompok secara berkelanjutan; memberikan bimbingan dan pendampingan kepada pelaku utama dalam mengembangkan bisnis perikanan untuk meningkatkan produksi, produktivitas serta meningkatkan nilai tambah dan daya saing; membantu memfasilitasi kemudahan akses kelompok terhadap permodalan usaha, sarana produksi, teknologi, dan pasar; serta membantu memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh Pelaku Utama.
Dengan keterbatasan atau kekurangan jumlah Penyuluh Perikanan, Korwil Regional II ini berpesan supaya semua lembaga pemerintah yang membidangi perikanan harus mampu mengoptimalkan tenaga-tenaga Penyuluh Perikanan yang ada untuk mencapai suatu visi dan misi pembangunan kelautan dan perikanan sehingga yang paling diperlukan yaitu adanya sinergitas dalam suatu pelaksanaan kegiatan, bukan hanya koordinasi sehingga program akan berjalan dengan baik.
Peran aktif Penyuluh Perikanan Kabupaten Bantul dalam kegiatan Temu Koordinasi dan Sinergi Tugas Penyuluh Perikanan disampaikan oleh Saudara Petrus Suhartono, SP, yang merupakan Penyuluh Teladan Tingkat Nasional Tahun 2014  dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Penyuluh Perikanan PNS Kabupaten Bantul siap dan bersedia untuk mengawal semua program Dinas Kelautan dan Perikanan dan akan selalu mencari, mempelajari, dan menyebar luaskan informasi tekhnologi terbaru kepada masyarakat untuk pembangunan perikanan di Kabupaten Bantul. Penyuluh Perikanan PNS walaupun satminkalnya berada di bawah binaan BKPPP akan tetapi Penyuluh Perikanan berkomitmen dalam memenuhi keinginan dan tujuan program Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bantul, ungkap Petrus Suhartono.
Hal senada juga disampaikan oleh Penyuluh Perikanan Swadaya sekaligus sebagai ketua Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) Kabupaten Bantul Fahrudin Al Rozi, S.Pi. Penyuluh Swadaya di Kabupaten Bantul siap berkoordinasi untuk mendukung setiap program-program Dinas Kelautan dan Perikanan dan program-program BKPPP Kabupaten Bantul. Penyuluh Swadaya sudah berperan aktif dalam penyebarluasan informasi dan penyediaan lapangan kerja dalam dunia perikanan, pendapat Rozi sebagai sapaan akrabnya.
Kesenjangan Tunjangan Fungsional dan Nilai Angka Kredit antara Penyuluh Perikanan dengan Penyuluh Pertanian, disampaikan oleh Bapak Sugiyatmo, SP. Selain itu Penyuluh Perikanan yang telah memperoleh jenjang Madya ini juga menanyakan perkembangan Tunjangan Profesi bagi para Penyuluh Perikanan. Tunjangan Profesi ini sangat di harapakan dan dinanti-nantikan oleh para Penyuluh khususnya di Kabupaten Bantul. Para Penyuluh berharap dengan adanya Tunjangan Profesi ini, akan berdampak positif pada kinerja dan kesejahteraan para Penyuluh Perikanan, begitu ungkap Penyuluh yang mengawal kegiatan perikanan di Kawasan Minapolitan ini.
Pendapat dan masukan dari kegiatan Temu Koordinasi dan Sinergi Tugas di Kabupaten Bantul ini merupakan bahan kajian untuk perbaikan dalam penyusunan kebijakan Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan. Ternyata memang, Temu Koordinasi dan Sinergi Tugas Penyuluhan Perikanan ini merupakan sebuah kegiatan yang positif dan sangat bermanfaat, selain dapat mensinergikan program pemerintah pusat dengan pemerintah daerah, juga bisa menambah serta mampu membuka pemahaman para Penyuluh Perikanan yang hadir bahwasannya peran dan eksistensi Penyuluh Perikanan memang sangat dibutuhkan dalam mendukung program pemerintah dalam membangun kelautan dan perikanan yang lebih baik dan lebih maju.
Menjadi sukses merupakan jalan panjang yang harus ditempuh dengan kerja keras. Akan tetapi bekerja keras tanpa ilmu sama saja kosong, punya ilmu tapi tidak bisa menggunakannya itu juga sama saja bohong, tidak punya ilmu dan tidak mau bekerja, maka jangan pernah bermimpi untuk sukses menjadi Penyuluh Perikanan. Maka para Penyuluh Perikanan marilah kita cintai profesi sebagai Penyuluh Perikanan, bekerja dengan sepenuh hati dan jujur. Utamakan kerja cerdas dalam mencapai tujuan daripada kerja keras.Sukses selalu Penyuluh Perikanan.
Penyusun : Akbar Zaelani, S.St.Pi
Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan

Baca SelengkapnyaHARMONISASI KELEMBAGAAN DAN KETENAGAAN PENYULUHAN PERIKANAN DALAM MENDUKUNG PROGRAM PEMBANGUNAN KELAUTAN DAN PERIKANAN