Pages

PERTUMBUHAN JUVENIL IKAN BANDENG

Kebutuhan benih ikan bandeng di daerah kabupaten Pati semakin meningkat dari waktu ke waktu karena sistem budidayanya tidak hanya pada tambak air payau tetapi juga pada kolam air tawar, yaitu berkembang usaha budidaya ikan andeng air tawar sistem polikultur. Hasil uji coba benih ikan bandeng yang berumur 20, 30 dan 40 hari setelah menetas sebanyak 300 ekor di pelihara dalam akuarium dengan menggunakan air yang bersalinitas 39 ppt. Pakan yang digunakan pada penelitian ini ialah pakan coomfeed nomor LA 7K dengan kandungan prorein 16,94%, lemak 0,88% dan air 7,66%.
Prosedur Penelitian
Benih ikan bandeng umur 20, 30 dan 40 hari dipelihara sebanyak 100 ekor untuk setiap kelompok umur. Selanjutnya benih ikan bandeng mulai dibantut hingga berumur 25, 35 dan 45 hari. Pengukuran konsumsi oksigen dilakukan setiap hari sebanyak 3 kali ulangan dan pengukuran bobot badan basah dilakukan sekali sehari. Kemudian pada saat benih bandeng berumur 26, 36 dan 46 hari perlakuan pembantutan dihentikan dan benih bandeng mulai diberi pakan berumur 20, 30 dan 40 hari. Pengukuran konsumsi oksigen dilakukan setiap hari sebanyak 3 kali ulangan dan pengukuran bobot badan basah dilakukan sekali sehari. Untuk pengukuran kualitas air dilakukan satu kali sehari. Parameter yang di ukur adalah salinitas dengan menggunakan hard refraktometer, dengan menggunakan DO meter.
Konsumsi Oksigen dan bobot basah
Konsumsi oksigen di ukur setiap hari dengan metode tertutup (Kurokuraet al., 1995) sebagai berikut: mengisi bobot respirasi hingga penuh dan diusahan agar tidak timbul gelembung udara, kemudian secara perlahan-lahan dimasukan 5 ekor benih bandeng lalu botol ditutup rapat. Bagian pinggir botol respirasi diisolasi untuk mencega terjadinya difusi oksigen dari luar. Benih ikan bandeng kemudian diadaptasikan selama 10 menit. Air yang berasal dari botol respirasi ditampung dalam botol sampel untuk mengukur konsumsi oksigen akhir ikan. Konsumsi oksigen awal diperoleh dari pengukuran oksigen air yang menuju botol respirasi. Konsumsi oksigen tanpa benih (test blank) juga diukur sebagai kontrol penelitian setiap hari benih ikan bandeng di timbang dengan menggunakan timbangan elektrik untuk memperoleh data bobot badan basah ikan bandeng rata-rata. Data disajikan dalam µI O2 . mg bobot basah-1 jam -1 dan µI O2 . ikan-1  jam -1 . selain iti diadakan pengamatan tingkah laku selama penelitian.
 Pengukuran Peubah
Laju konsumsi oksigen ditentukan berdasarkan jumlah konsumsi oksigen yang diukur pada awal dan akhir pengukuran, dihitung dengan menggunakan formula yang dikemukakan oleh Djawad et al,. (1996). Laju pertumbuhan bobot benih ikan bandeng dihitung dengan menggunakan rumus pertumbuhan harian spesifik yng dikemukakan oleh Zonneveld et al,. (1991). Sintasas benih ikan bandeng selama penelitian, dihitung dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Effendie (1979).
Konsumsi Oksigen
Berdasarkan pengamatan selama penelitian, konsumsi oksigen benih ikan bandeng yang dibantut pada semua kelompok umur sisajikan dalam bentuk grafik (Gambar 1,2 dan 3). Berdasarkan ketiga gambar tersebut di atas terlihat bahwa pada awal pelaparan hari 0 sampai hari ke-1 terjadi peningkatan konsumsi oksigen pada semua kelompok umur ikan yang diteliti. Hal ini kemungkinan di proses adaptasi lingkungan dari aquarium ke botol respirator sehingga menyebabkan aktivitas atau kecepatan renangnya juga meningkat. Kondisi ini sejalan dengan hasil penelitiaan Schaeperculus (1933) dalam Hoar dan Randall (1969) yang melaporkan bahwa konsumsi oksigen ikan tench (Tinca tinca) mengalami peningkatan sebanyak 3 kali setelah dilakukan pemindahan dari tambak ke tangki.
Pada Tabel 1 memperlihatkan rata-rata tingkat konsumsi oksigen benih ikan bandeng yang dilaparkan sedangkan Tabel 2 merupakan rata-rata tingkat konsumsi oksigen pada awal pemberian pakan sampai akhir penelitian.
Tabel 1. Rata-rata Tingkat  Konsumsi Oksigen Benih Ikan Bandeng yang dilaparkan.

Umur (hari)    Konsumsi Oksigen (µL O2 /mg bobot basah /jam)
    0    1    2    3    4    5
20    0,702    1, 179    1,556    1,786    1, 785    1,777
30    -    0,673    0,724    0,738    0,836    0,834
40    -    0,214    0,253    0,388    0,367    0,334


Tabel 2 rata-rata tingkat konsumsi oksigen benih ikan bandeng pada awal pemberian pakan sampai akhir penelitian.
Umur (hari)    Konsumsi Oksigen (µL O2 /mg bobot basah /jam)
    0    1    2    3    4    5
20    0,702    1, 179    1,556    1,786    1, 785    1,777
30    -    0,673    0,724    0,738    0,836    0,834
40    -    0,214    0,253    0,388    0,367    0,334
        Dari tabel 1 terlihat bahwa pada hari ke-1 sampai ke-3 terjadi penurunan konsumsi oksigen pada benih ikan bandeng umur 30 dan 40 hari. Sedangkan pada benih umur 20 hari terjadi penurunan konsumsi oksigen sampai hari ke-4. Penurunan konsumsi oksigen ini disebabkan karena kondisi tubuh benih ikan bandeng yang semakin lemah akibatnya kurangnya energi sehingga aktivitasnya menjadi lambat. Hal yang sama terjadi pada borok trout yang mengalami penurunan konsumsi oksigen akibat berkurangnya energi pada tiga hari pertama dari pelaparan (Arthur dalam Hoar dan Randall 1969).
        Pada benih yang berumur 20 hari terlihat adanya penurunan tingkat konsumsi oksigen secara terus menerus mulai dari hari ke-1 sampai ke-4. Hal ini disebabkan karena rendahnya energi yang ada di dalam tubuhnya akibat proses pelaparan. Jika dihubungkan dengan tingkat metabolisme dimana ikan kecil memiliki tingkat metabolisme yang lebih tinggi dari pada ikan yang besar. Sehingga kebutuhan enrgi pada ikan kecil lebih besar karena energi tersebut digunakan untuk pertumbuhan, ativitas dan pembentukan jaringan baru. Hal ini sejalan dengan pernyataan Fujaya (1999) bahwa pada keadaan cukup makan ikan akan mengkonsumsi makan hingga memenuhi kebutuhan energinya. Pengamatan diatas sesuai pula dengan penelitian pada ikan mas dengan bobot 12 gr, tingkat metaboliknya sebesar 24,48 kkal dalam 24 jam/kg dari berat badan, sedangkan pada ikan dengan bobot 600 gr. Hanya 7,79 kkal. (Schaeperculus 1933 dalam Hoar dan Randall, 1969).
        Masih dari tabel 1 terlihat bahwa pada benih berumur 30 hari dan 40 hari yang terjadi peningkatan konsumsi pada benih berumur 30 hari dan 40 hari yang disebabkan karena tingkah laku benih ikan yng mengalami stress. Kondisi ini dapat dimungkinkan karena tekanan fisiologi benih berat atau serius atau di bandingkan dengan kondisi ketika konsumsi oksigen mengangalami penurunan (Djawd et al., 1982). Hal ini dapat juga terjadi terjadi karena pada saat ikan dipuasakan akan terjadi penurunan karbohidrat dan lemak semakin rendah tetapi penggunaan oksigen menjadi lebih meningkat (Anonim 1999).
        Pada hari ke-5 terjadi penurunan konsumsi oksigen pada benih umur 30 dan 40 hari. Hal ini di mungkinkan karena tubuh ikan semakin lemah dan cadangan makanan sudah berkurang atau habis akibatnya menjadi kematian bagi ikan tersebut pada benih bandeng lebih dari 50%. Pada saat pelaparan ada masa dimana dalam tubuh terjadi proses glikogenogenesis yang merupakan proses pembentukan glikogen dan sebaliknya glikenolisis yang merupakan proses pemecahan glikogen menjadi bentuk glukosa dalam sel, sehingga glukosa ini dapat digunakan sebagai cadangan makanan yang menyebabkan konsumsi oksigen berflukturasi.
Dari tabel 2 terlihat bahwa setelah dilakukan pemberian pakan pada ketiga kelompok umur benih, terjadi peningkatan konsumsi oksigen yang sangat cepat diiringi dengan meningkatnya aktivitas (kecepatan renang) dari ikan. Hal ini sesuai dengn penyataan Davis (1953) dalam Hoar dan Randall (1969) yang telah melakukan penelitian terhadap kebutuhan oksigen ikan air tawar setelah diberi pakan. Hasil penelitiannya menunjukan bahwa peningkatan kebutuhan oksigen dapat terjadi akibat faktor pemberian pakan, terkejut dan stree akibat perubahan lingkungan.
Peningkatan konsumsi oksigen serta kecepatan renang secara terus menerus menyebabkan kelelahan dan menimbulkan oxygen debt (utang oksigen).
Menurut Lockwood (1967) metabolisme makanan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi laju pemanfaatan oksigen terlarut. Organisme yang aktif makan atau dalam keadaan kenyang akan menggunakan oksigen terlarut yang lebih banyak dibandingkan dengan organisme yang lapar pada sepesies danu ukuran yang sama.
Pada benih berumur 20 dan 40 hari pada hari ke-8 dan ke-9 terjadi penurunan konsumsi oksigen. Hal ini disebabkan karena terjadinya proses oksigen debt akibat adanya peningkatan konsumsi oksigen pada awal pemberian pakan. Oksigenbedt menggunakan basal metabolisme (resting) dan adanya faktor adaptasi ikan terhadap pakan sehingga konsumsi oksigennya menjadi stabil kembali.
Sementara itu pada benih yang berumur30 hari terjadi penurunana konsumsi oksigen pada hari ke-10. Hal initerjadi karena pada saat benih diberi pakan, peningkatan konsimsi oksigen tidak terlalu tinggi. Gambar prafik menurun pada setiap kelompok umur juga dimungkinkankarena bertambahnya bobot benih bandeng yang dibantut. Hal ini sesuai dengan pernyataan Fujaya (1999) bahwa parubahan dari berat badan menyebabkan perubahan tingkat konsumsi oksigennya sangat kecil. Jika total konsumsi oksigen meningkat akibat meningkatnya ukur, maka konsumsi  oksigen per unit berat badan akan menurun.
Pada fase muda, jumlah O2 bb-1 jam-1 lebih besar pemakaiannya dibandingkat dengan organisme yang lebih tua. Tingginya rata-rata penggunaan oksigen pada organisme lebih muda ini sejalan  dengan temuan imai (1974) yang menyatakan bahwa laju konsumsi oksigen per unit berat spesimen adalah lebih tinggi pada organisme yang lebih kecil dan spesimen yang lebih aktif.
Laju Pertumbuhan Bobot Benih Bandeng
Hasil perhitungan laju pertumbuhan Spesifik Harian (SGR) benih ikan bandeng dapat dilihat pada Tabel 3. Dari tabel tersebut terlihat bahwa SGRnya tidak memperlihatkan peningkatan yang berarti. Hal ini disebabkan selain karena kualitas pakan yang rendah juga diduga sebagai akibat dari hormon pertumbuhan dalam tubuh benih bandeng yang terbatas serta singkatannya waktu pembantutan.
Hewan-hewan yang diberi pakan kembali setelah sebelumnya dilaparkan atau diberi pakan yang tidak cukup, secara perlahan-lahan akan mengalami peningkatan konsentrasi RNA didalam jaringan. Kapasitas sintesia protein akan pulih kembali sejalan dengan pemberian pakan yang cukup menghasilkan peningkatan aktivitas, sintesa protein, pertumbuhan dan efisiensi konversi pakan (Jobling, 1994).
Tabel 3. Laju Pertumbuhan Spesifikasi Harian Benih Ikan Bandeng yang Dibantut
Umur    Pertumbuhan Spesifikasi Harian
20 hari    0,03% hari
30 hari    0,04% hari
40 hari    0,05% hari
Hal ini sesuai dengan Hoar dan Randall (1979) bahwa jika ikan dibatasi pakannya maka berat badannya menjadi berkurang dan setelah masa pelaparan selesai , pertambahan beratnya akan berlangsung dengan cepat. Sebai contoh dapat dilihat pada penelitian yang telah dilakuakan oleh Bombeo-Tuburan (1988) tentang The Effect of Stunting of Milk Fish yang mengalami kesimpulan bahwa ikan bandeng yang dibantut mengalami pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan dengan ikan bandeng yang tidak mengalami pembantutan. Penelitian yang mengemukakan lambatnya pertumbuhan bobot sebagai akibat dari hormon pertumbuhan yang terbatas juga terjadi pada penelitian pembantutan udang windu (Penaus monondon Fab) (Mengampa et al., 1990).
KESIMPULAN
Ikan bandeng merupakan suatu komoditas perikanan yang sudah lama dibudidayakan oleh petani tambak indonesia (Pirzan et al., 1989). Ikan ini juga merupakan jenis ikan ekonomis penting di sulawesi selatan karena terdapat digunakan sebagai sumber protein hewani yang relatif murah (Aslianti, 1995).
Berdasarkan ketiga gambar tersebut di atas terlihat bahwa pada awal pelaparan hari 0 sampai hari ke-1 terjadi peningkatan konsumsi oksigen pada semua kelompok umur ikan yang diteliti. Hal ini kemungkinan di proses adaptasi lingkungan dari aquarium ke botol respirator sehingga menyebabkan aktivitas atau kecepatan renangnya juga meningkat.
Pada benih umur 20 hari terjadi penurunan konsumsi oksigen sampai hari ke-4 Penurunan konsumsi oksigen ini disebabkan karena kondisi tubuh benih ikan bandeng yang semakin lemah akibatnya kurangnya energi sehingga aktivitasnya menjadi lambat. Sedangkan Pada benih yang berumur 20 hari terlihat adanya penurunan tingkat konsumsi oksigen secara terus menerus mulai dari hari ke-1 sampai ke-4. Hal ini disebabkan karena rendahnya energi yang ada di dalam tubuhnya akibat proses pelaparan. Jika dihubungkan dengan tingkat metabolisme dimana ikan kecil memiliki tingkat metabolisme yang lebih tinggi dari pada ikan yang besar.
Baca SelengkapnyaPERTUMBUHAN JUVENIL IKAN BANDENG

BUDIDAYA BELUT UNTUK MENINGKATKAN KONSUMSI IKAN

Pemanfaatan lahan pekarangan untuk budidaya belut cukup menarik dengan tehnik pemeliharaan budidaya belut sebenarnya tidak sulit dan juga tidak mahal. Masyarakat yang memiliki lahan sempitpun dapat memelihara belut. Secara Teknis Budidaya dan pemeliharaan belut (monopterus albus) hanya memerlukan perhatian dalam memilih tempat/lokasi budidaya, pembuatan kolam, media pemeliharaan, memilih benih, perkembangbiakan belut, penetasan, makanan dan kebiasaan makan serta hama.
Disisi lain kita juga memerlukan tata cara panen, pasca panen, pemasaran dan pencatatan analisa usaha dalam melakukan Budidaya belut. Pemilihan Bibit Bibit belut yang paling bagus untuk di budidayakan adalah bibit yang di hasilkan dari hasil budidaya (pembenihan sendiri), walau bibit hasil tangkapan masih tetap bisa hidup dan bisa di besarkan di air besih. Tetapi jika dalam cara penangkapannya tidak benar, belut bisa lama jika dibesarkan karena mengalami stres sehingga kita harus mengadaptasinya terlebih dahulu dengan waktu yang cukup lama (tergantung tehnik perawatannya), kalau tehnik perawatannya salah, belut hasil tangkapan tersebut bisa mengalami kematian. sumber http://belut.yolasite.com/budidaya-belut/teknik-pemeliharaan-budidaya-belut Seperti contoh bibit belut yang di hasilkan dengan menggunakan setrum : cara penangkapannya dengan Voltase terlalu tinggi, untuk pengadaptasianya bisa mencapai 1 bulan bahkan bisa lebih dan jika dalam Proses pengaptasian salah, bisa mengakibatkan kematian pada waktu pemeliharaan. Jika dalam waktu menangkapnya (belut) dengan menggunakan alat setrum, apabila stik strum mengenai badan belut, belut tidak akan bisa tahan hidup lebih lama. Belut hasil setruman akan tetap bisa hidup dan bisa dibesar di air bersih jika cara penangkapannya dengan tehnik yang benar misal: Voltase strum tidak terlalu besar, stik strum tidak mengenai badan belut, waktu penyetruman, tidak terlalu lama (belut tidak sampai kaku) dan Belut yang kita ambil dari tanah/lumpur yang subur itu juga sangat berpengaruh. Ciri-ciri bibit belut hasil Setruman antara lain: Pada bagian dubur berwarna kemerahan, pada bagian insang juga berwarna kemerahan. jika stik setrum mengenai badan belut, pada badan belut tersebut dalam waktu 2 hari atau lebih akan timbul luka seperti koreng dan lama-lama belut akan mati. Ciri-ciri Bibit Belut Tidak semua bibit belut bila kita pelihara akan bisa besar, adapun ciri-ciri balut yang bisa besar dan tidak bisa besar bila kita budidayakan antara lain: Bibit belut yang warna hitam dari kepala sampai ekor , bibit ini tidak bisa besar.
Bibit belut yang berwarna kemerah-merahan terang disekujur tubuhnya,bibit ini tidak bisa besar. Bibit belut yang berwarna hitam dan panjang, lambat pertumbuhannya atau kemungkinan tidak bisa besar walau lama dipelihara. Bibit belut warna hitam kepala lebih besar (tidak proporsional) tidak baik untuk dibudidayakan karena tidak bisa besar. Bibit ini kalau dipegang terasa agak keras. Bibit belut yang berwarna abu-abu paling besar seukuran jempol tangan namun perkembangannya sangat lambat. Bibit yang berwarna dominan coklat dan kehijau-hijauan seluruh tubuhnya,bibit ini bisa besar bila di budidaya dan Bibit ini kebanyakan di dapat dari sawah Bibit belut yang dominan warna "coklat bening" dan totol-totol hitam sangat bagus untuk dibudidayakan karena cepat besar dalam waktu singkat. Bibit yang paling bagus, warna rata-rata punggung kuning kecoklatan dan ada batikannya di bagian ekor, Di bagian Kepala ada "coretan-coretan" warna kuning, dada berwarna kuning / oranye. bibit ini bisa mencapai ukuran sebesar pergelangan tangan orang dewasa. Namun bibit belut yang sudah kita yakini termasuk jenis belut yang bisa besar dan sudah memiliki ciri-cirinya, khusus untuk bibit belut yang di hasilkan dari tangkapan alam, bahwa sanya belut tersebut ada yang tetap tidak mau besar bila kita budidayakan baik di media lumpur ataupun di media air bersih. Akan tetapi mereka(belut) diperoleh ada dari sawah yang subur dan tidak subur atau kurang subur , bisa jadi yang berwarna kuning pun,ada yang Kuntet, karena bibit belut tersebut hidup di areal persawahan yang tidak banyak cacing Lor sawahnya.Sehingga pertumbuhannya terganggu. Dan ini ditunjukkan dengan banyak ditemukannya bibit seukuran Finggerling atau jari kelingking sudah matang gonad (perutnya sudah banyak mengandung butiran telur yang berwarna kuning), Kalau mereka sudah mengeluarkan telurnya, lalu kita tangkap untuk dipelihara, bisa jadi Tidak Bisa Membesar walupun sudah dipelihara selama lebih dari 4 bulan, akan tetapi masih bisa bertelur, karena fa’al tubuhnya sudah mendukung (dewasa) matang gonad walaupun badannya kecil.Karena lingkungannya kurang Gizi(kurang asupan makanan cacing lor dll). Proses Karantina Karantina sepertinya merupakan sebuah kosa kata yang cukup popular di kalangan para pemelihara atau pembudidaya belut maupun jenis ikan lainnya, sebelum berbicara lebih jauh tentang ini, mungkin lebih baik kita memahami apa maksud dan tujuan dari karantina itu sendiri. Karantina boleh disebut juga sebagai suatu kegiantan untuk mengisolasi atau memisahkan sesuatu dari lingkungan tertentu dengan maksud dan tujuan tertentu. Dalam hal pemeliharaan atau pembudidaya, kita melakukan karantina dengan tujuan untuk menjaga agar belut yang akan kita budidayakan sudah benar-benar sehat atau tidak terjangkit penyakit tertentu yang dibawa oleh bibit belut yang akan kita tebar. Latar Belakang Yang banyak terjadi di kalangan pembudidaya belut terutama pembudidaya pemula adalah kurang paham benar apa yang menjadi maksud dan tujuan karantina untuk memaksimalkan hasil karantina tersebut. Sebelum berbicara lebih jauh akan maksud dan tujuan karantina alangkah baiknya kita untuk terlebih dahulu memahami latar belakang dari kegiatan ini. Setiap mahluk hidup, hidup di komunitas / lingkungan mereka masing – masing, dan setiap komunitas hidup antara yang satu dengan yang lain tidaklah sama. Antara lingkungan yang satu dengan yang lain mempunyai banyak perbedaan, walaupun juga memiliki kesamaan. Sedangkan mahluk hidup sendiri mempunyai kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkunngan hidupnya. Untuk lebih memahami kita ambil contoh manusia. Seorang petani yang menanam padi disawah tidak merasa gatal walaupun seharian berendam di lumpur yang basah dan kotor, akan tetapi seorang pekerja kantoran yang mencoba membantu petani menanam padi di sawah, merasa gatal – gatal pada kulitnya bahkan sampai menderita iritasi. Begitu juga anggota keluarga petani keesokan harinya perut mereka merasa kurang nyaman karena pada malam sebelumnya makan makanan yang dibawa oleh “ si pekerja kantoran “. “ Si Petani “ sendiri karena tidak punya makanan tetap makan makanan.
Begitu juga petani yang bermalam di rumah pekerja kantoran, keesokan harinya sakit demam karena semalaman tidur di kamar yang menggunakan AC ( Air Conditioning ). Begitu juga anggota keluarga “ si pekerja kantoran “ tertular penyakit kulit karena menggunakan handuk mandi yang pernah digunakan petani tersebut. Kalau kita menyimak ilustasi diatas mungkin kita dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut : • Setiap mahluk hidup dapat menyesuaikan atau beradaptasi terhadap lingkungannya. • Dalam proses adaptasi terhadap lingkungan setiap mahluk hidup bisa mengalami “ganguan” • Setiap mahluk hidup dapat menjadi sarana ( carrier ) “penyakit” terhadap lingkungan barunya. • Mahluk hidup yang sehat belum tentu tidak mengandung “ bibit penyakit “. • Apabila mahluk hidup dapat menyesuaikan dengan lingkungannya berarti mahluk tersebut sudah memiliki kekebalan ( imum ) terhadap “ penyakit di lingkungannya “. Jadi meskipun bibit Belut yang baru didatangkan sudah kelihatan sehat belum tentu bebas dari bibit penyakit. Demikian juga belut yang sudah ada di kolam kita belum tentu bebas dari bibit penyakit walaupun belut tersebut sehat. Mungkin dari gambaran diatas kita sedikit bisa memahami langkah – langkah untuk melakukan kegiatan karantina. Tujuan Yang seharusnya menjadi tujuan dari karantina adalah untuk menjaga agar belut yang telah kita miliki tidak tertular bibit penyakit yang mungkin dibawa oleh belut yang baru. Selain itu maksud dan tujuan karantina adalah untuk menyesuaikan lingkungan hidup belut yang baru dengan lingkungan asal sehingga bila belut yang baru kurang dapat beradaptasi dan mengalami gangguan tidak menjangkiti belut yang lainnya atau yang sudah kita miliki. Kegiatan Karantina. Apakah setiap bibit belut baru wajib karantina ??? Karantina/Pengadaptasian - tidak semua belut mudah meyesuaikan dengan lingkungan baru (media air bersih) terutama belut yang dihasilkan dari hasil tangkapan alam. - Biasanya belut tertentu akan mengalami “gangguan” sebelum dapat beradaptasi dengan lingkungan barunya. - Belut mudah stress bila berubah lingkungan hidupnya sehingga mudah terserang penyakit karena sistim imum tubuhnya menurun. Janglah karantina yang ideal sebenarnya membutuhkan proses yang cukup detail yang seolah – olah sangat rumit padahal tidaklah demikian, asal kita dapat memahami “ tehniknya”. Langkah karantina yang ideal, dimulai pada saat kedatangan belut Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah meyiapkan tempat karantina yang memadai baik luas maupun volume tempat karantina tersebut, yang sebelumnya sudah kita isi dengan air kolam yang rencananya akan kita gunakan untuk pemeliharaan belut tersebut. Apakah harus ? tidak , dengan mengisi tempat karantina dengan sumber air yang sama dengan kolam yang rencananya akan kita gunakan untuk memelihara belut tersebut sudah cukup memadai bila sumber air yang digunakan bukan air PDAM/PAM, bila memakai air PDAM/PAM hendaknya ditreatment terlebih dahulu. Salah satu Tehnik Proses karantina sekaligus adaptasi yang sudah saya terapkan, bibit belut yang dihasilkan dari tangkapan alam (setrum atau sedek) Untuk kolam/tempat karantina , sebaiknya "jangan" ada yang berbentuk sudut/menyiku, kolam yang kita siapkan harus berbentuk bundar ataupun lonjong, kolam karantina bibit belut air bersih "tidak" usah terlalu besar dan untuk bibit yang kita masukan kedalam kolam karantina Volumenya harus diperpadat, kepadatan dalam proses karantina adalah sangat berpengaruh penting. Ketinggian air pada kolam karantina 10 sampai dengan 15 dari permukaan belut yang kita masukan. Bila tempat karantina sudah siap, belut yang masih berada di wadah pengangkutan airnya harus di ganti terlebih dahulu untuk menghilangkan lendir yang berada di dalam wadah pengangkutan, lalu masukkan belut tanpa lendir/busa.Untuk pemindahan bibit belut dari wadah pengangkutan, sebaiknya dilakukan dengan sehati-hati mungkin, gunakanlah alat seperti jaring (serok) usahakan bibit jangan sering dipegang dengan tangan secara langsung biar belut tidak stress. Setelah belut tenang, Langkah berikut adalah pada tempat karantina diberi kocokan telur ditambah dengan madu supaya bibit cukup Vitamin dan energi, kemudian tambahkan perasan daun pepaya dengan harapan untuk mengembalikan lendir yang sudah banyak dikeluarkan belut selama dalam pengangkutan. Setelah satu jam kemudian kuraslah air dan di ganti dengan air yang baru. 1 sampai 2 hari, bibit belut jangan di beri pakan terlebih dahulu, setelah 2 hari kemudian, pemberian pakan baru dilakukan sampai bibit belut benar-benar sudah sehat. Ciri-ciri bibit belut yang sudah siap ditebar di kolam pembesaran (media air bersih), belut sudah tidak ada yang mendongakan kepalanya keatas (permukaan air). Apabila masih ada bibit belut yang mendongakan kepalanya keats dan sudah membalikan badannya segeralah diambil, pisahkan dengan bibit yang sudah sehat. CATATAN : pada waktu proses karantina dilakukan, air harus dalam keadaan jernih (bening), tidak boleh keruh. biofish fishtamin (vitamin complex) Namun Bila bibit belut yang kita dapatkan dari hasil budidaya, untuk proses karantina/adaptasinya tidak membutuhkan waktu yang lama, cukup 1 hari atau 2 hari, bibit sudah siap kita tebarkan di kolam pembesaran media air bersih (air bening) tanpa lumpur. Tata Cara Perawatan Setelah proses karantina/adaptasi dilakukan dengan benar, masukan bibit kekolam pembesaran dan kemudian lakukan perawatan. Pakan dan Pengaturan Air Meskipun sudah banyak ilmuwan-ilmuwan dan peneliti berpendapat "Waktu pemberian pakan pada belut adalah sore menjelang malam, karena belut aktif pada malam hari" namun dalam budidaya belut di air bersih yang sudah kami terapkan pemberian pakan bisa dilakukan dalam sehari semalam 3 kali (pagi,siang dan sore hari) dengan dosis 5% dari jumlah benih yang ditebar. Pemberian pakan bisa dilakukan 3 kali dalam sehari semalam kalau kita sudah memenuhi unsurKENYAMANAN bagi belut itu sendiri. Sedangkan faktor kenyamanan terdiri faktor internal dan eksternal 1. Faktor internal. Media harus tersedia yaitu. Substrat ( paralon, atau genteng, roster, eceng gondok maupun kiambang, dsb) Faktor Oksigen. (sangat berpengaruh besar terhadap reaksi dan nafsu makan, sekaligus kelangsungan hidup) Khusus Untuk budidaya air bersih, faktor oksigen sangat berpengaruh besar terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup dan daya nafsu makan belut). Air menjadi syarat utama kolam pemeliharaan belut, karena itu lubang sirkulasi air dan lubang pembuangan kelebihan air menjadi syarat utama. Air harus terus mengalir walau dalam jumlah debit yang sangat kecil dari sumber air agar oksigen terlarut tetap terjaga persediaannya 2. Faktor Eksternal. Faktor eksternal adalah suasana Gelap dan tenang. ( Gelap berarti tempat harus ditutup dengan terpal hitam atau coklat, tidak boleh warna terang atau tembus cahaya, Tenang berarti tidak boleh ada aktifitas lain di lingkungan budidaya) Pakan, pemberian pakan bisa di lakukan dalam sehari semalam 3 kali bisa berjalan apabila Faktor eksternal dan internal terpenuhi. Untuk menambah nafsu makan belut dapat diberikan jamu empon-empon, bahan-bahan bakunya seperti "temulawak (curcuma xanthorhiza), kunyit, kencur dan temu ireng. untuk perbandingan 1,5 : 0,5 : 0,5 : 0,5 dengan cara: kesemua bahan tersebut di rebus dan kemudian di saring, setelah dingin air dari bahan-bahan tersebut di masukan ke kolam secara merata. Pemberian jamu nafsu makan sebaiknya di berikan pada sore hari kemudian pada pagi hari, air dikuras dan di ganti dengan air yang baru. Dalam waktu pemberian jamu nafsu makan tersebut, belut jangan diberi pakan terlebih dahulu sebelum pengurasan dilakukan. Air Pemeliharaan Lendir yang dikeluarkan belut memang menjadi salah satu mekanisme untuk menjaga agar tubuhnya tetap licin sehingga dapat membantu gerak belut dan menjadi sarana melepaskan diri dari musuh-musuhnya. Namun, dalam pemeliharaannya, lendir belut yang terus menerus dikeluarkan dalam jumlah yang banyak akan membahayakan belut itu sendiri, dari hasil penelitian mengemukakan, jika dalam air yang di gunakan untuk budidaya belut sudah terlalu banyak lendir yang dikeluarkan oleh belut itu sendiri maka air harus segera diganti maka air tersebut akan meracuni belut itu sendiri dan juga bisa mengakibatkan kematian pada belut. lendir yang sudah banyak di keluarkan juga akan sangat mempengaruhi kualitas air, terutama akan meningkatkan derajat keasaman/pH air. untuk itu, kualitas air menjadi sangat penting untuk diperhatikan. Walau tidak ada persyaratan khusus, tetapi idealnya air yang digunakan sebagai media pembesaran belut harus jernih, memiliki suhu antara 25-28 derajat C, Tidak mengandung bahan kimia yang berbahaya, serta kendungan pH-nya tidak lebih dari 7. Budidaya Belut Di Air Bersih Tekhnik Terbaru, Budidaya Belut Di Air Bersih. Belut bisa hidup dan bisa dibesarkan di air Bersih (air bening) tanpa lumpur ini adalah hal yang sangat luar biasa, ini bener-bener ilmu yang sangat bermanfaat bagi kita khususnya para pembudidaya belut, sehingga kita bisa lebih effisien dalam melakukan usaha ini. Dengan adanya tehnik terbaru ini sehingga para pembudidaya belut sudah tidak pusing-pusing mencari "debog pisang, jerami, lumpur dan lain-lain, kita sudah tidak repot lagi untuk melakukan bokasi dan menfermentasikan-nya. Ini bukan penampungan dan bukan hasil rekayasa tetapi bener-bener hasil budidaya. Tempat hidup alami belut (Monopterus albus) yang tinggal di dalam lumpur. Banyak orang, baik penelitian atau usaha, yang sudah mencoba membikin lumpur untuk usaha budidaya. Mungkin beberapa yang berhasil meskipun kebanyakan yang lainnya masih bergelut dengan ‘teknologi doa’ untuk panen. karena hidup di dalam lumpur, tidak banyak yang bisa dilakukan untuk memastikan jumlah serta perkembangan belut selama masa pemeliharaan. sehingga, sangat layak bila kemudian mencoba berinovasi: "Budidaya Belut Di Air Bersih (air bening) tanpa lumpur" Dalam hipotesis: mungkin belut bisa hidup dan dibesarkan pada air bersih tapi tetap harus menggunakan lumpur untuk reproduksi alami. Secara teknis: sejauh kebiasaan makan bisa diadaptasikan dan kebutuhan pakan bisa disuplay secara terkontrol, seharusnya pembesaran belut di air bersih dapat dilakukan. hanya saja, kontrol terhadap kemungkinan serangan penyakit akibat proses adaptasi harus benar-benar diamati dan dijaga. Keuntungan: dengan pembesaran belut pada air bersih, jumlah (yang berkaitan dengan kelangsungan hidup) dan pertumbuhan (yang berhubungan dengan penambahan bobot) dapat selalu terkontrol sehingga target produksi bisa lebih ter-realistis dan untuk jumlah penebaran bibit belut di air bersih bisa lebih besar (bisa 10 bahkan sampai 30 kali lipat dibanding dengan penebaran benih di media lumpur). Walau masih banyak orang yang tidak/belum percaya dengan adanya Ilmu terbaru ini (belut bisa hidup dan bisa dibesarkan di 100% air bersih (air bening) tanpa lumpur, mungkin karena mereka belum pernah melihat dan belum pernah mencobanya karena belum tahu tehnik-tehnik dalam melakukan Budidaya Belut Di Air Bersih. Sekilas Tentang Belut Belut adalah sekelompok ikan berbentuk mirip ular memiliki bentuk tubuh memanjang, tidak bersirip dan tidak bersisik, serta memiliki lapisan lendir di sekujur tubuhnya yang termasuk dalam suku Synbranchidae. Suku ini terdiri dari empat genera dengan total 20 jenis. Jenis-jenisnya banyak yang belum diberikan dengan lengkap sehingga angka-angka itu dapat berubah. Anggotanya bersifat pantropis (ditemukan di semua daerah tropika). Belut berbeda dengan sidat, yang sering dipertukarkan. Ikan ini boleh dikatakan tidak memiliki sirip, kecuali sirip ekor yang juga tereduksi, sementara sidat masih memiliki sirip yang jelas. Ciri khas belut yang lain adalah tubuh licin berlendir, tidak bersisik, dapat bernafas dari udara, bukaan insang sempit, tidak memiliki kantung renang dan tulang rusuk. Belut praktis merupakan hewan air darat, sementara kebanyakan sidat hidup di laut meski ada pula yang di air tawar. Mata belut kebanyakan tidak berfungsi baik, bermata kecil. Ukuran tubuh belut bervariasi. Monopterus indicus hanya berukuran 8,5 cm, sementara belut marmer Synbranchus marmoratus diketahui dapat mencapai 1,5m. Belut sawah Monopterus albus sendiri, yang biasa dijumpai di sawah dan dijual untuk dimakan, dapat mencapai panjang sekitar 1m (dalam bahasa Betawi disebut moa). Kebanyakan belut tidak suka berenang dan lebih suka bersembunyi di dalam lumpur (tempat persembunyian). Semua belut adalah pemangsa. Daftar mangsanya biasanya hewan-hewan kecil di rawa atau sungai, seperti ikan, katak, serangga, serta krustasea kecil dan juga ada yang bersifat kanibalisme. Spesies belut mempunyai nilai pemakan yang tinggi. Khasiatnya dikatakan setanding dengan ikan tengiri dan selar, mengandungi 18.6 % protein dan 15 % lemak. Belut juga kaya dengan lemak, kalsium, vitamin B, Vitamin D dan zat besi. Tidak heranlah banyak yang percaya belut boleh membantu mengubati penyakit seperti sakit pinggang, lelah, darah tinggi, lemah tenaga batin dan penyembuhan luka pembedahan. Spesies ikan ini jika dikonsumsi secara rutin miniman 100 gram/hari dikatakan boleh menguatkan daya tahan tubuh, menormalkan tekanan darah, menghaluskan kulit, mencegah penyakit mata, menguatkan daya ingatan dan membantu mencegah hepatitis. Keunggulan dan Kelebihan Bidudaya Belut Di Air Bersih Belut Mudah Dikontrol Budidaya belut di Media Air Bersih tanpa lumpur terbilang lebih effektif dibandingkan dengan budidaya belut di media lumpur. Khususnya kemudahan dalam melakukan pengontrolan terhadap belut yang dibesarkan, selain itu jika ada belut yang terlihat sakit atau mati, akan mudah terlihat sehingga bisa segera diambil dari kolam budidaya. Penebaran Benih Belut Lebih Banyak Budidaya Belut dengan media air bersih memungkinkan pembudidaya untuk meningkatkan jumlah belut yang di besarkan dikolam hingga bisa mencapai 30 kali lipat per m2 di banding budidaya belut di media lumpur. Hal ini dapat di lakukan karena di media air bersih, fungsi lumpur sebagai alat perlindungan/persembunyian bagi belut, sedangkan budidaya belut di air bersih peranan tubuh belut itu sendiri bisa di jadikan tempat perlindungan/persembunyian bagi belut itu sendiri (pengganti lumpur). Dalam Budidaya belut di air bersih berdasarkan uji coba, untuk ukuran 1m2 bisa ditebar benih belut 30kg, sedangkan di media lumpur penebaran benih untuk ukuran 1 m2 hanya bisa kita tebar 1kg maksimal 1,5kg, jika penebaran melebihi angka tersebut pertumbuhan belut akan terganggu, bahkan bisa terjadi saling nyerang menyerang antar belut untuk berebut wilayah hidupnya. Sehingga tingkat kematian belut di media lumpur akan semakin tinggi. Meminimalkan Angka Kanibalisme Seperti binatang-binatang lainnya, belut yang dibesarkan di dalam air yang berlumpur terutama belut jantan atau belut yang sudah mencapai umur 6-8 bulan, akan memperlakukan habitat tempatnya bernaung sebagai daerah kekuasaannya. bila merasa terusik oleh belut yang lain dan daerah kekuasaannya terancam, belut tersebut akan saling serang menyerang. Hal itulah yang menyebabkan tingginya angka kematian pada belut-belut yang kita pelihara di media air berlumpur. namun, dalam hal ini tidak akan terjadi pada belut yang dipelihara di media air bersih tanpa lumpur, karena antara belut satu dengan yang lainya justru saling membutuhkan, dalam metode budidaya belut di air bersih, badan belut adalah sebagai tempat untuk saling melindungi dan sebagai tempat persembunyian. Lebih Effisien Dan Effektif Belut yang sudah kita kenal dengan gaya hidupnya yang selalu bersembunyi didalam lumpur yang berair. Namun hal yang sebenarnya dimana ada lobang belut yang masih ada belutnya disitu pasti akan terdapat air yang jernih. Dengan adanya hal tersebut berarti syarat hidup belut adalah di air jernih (air bersih), dan tanpa lumpurpun masih bisa hidup dan bisa dibesarkan. Budidaya belut di air bersih (air jernih) tanpa lumpur memungkinkan para pembudidaya tidak akan kerepotan karena harus mencari jerami, debog pisang ataupun lumpur sebagai medianya namun dengan budidaya belut di air bersih cukup dengan air yang jernih saja dan dalam budidaya belut di air bersih juga akan menghemat lahan karena dalam pembikinan kolam dengan media air bersih, bisa disusun menjadi 3 tingkat atau lebih. dalam pemberian pakan di media air bersih juga tidak cuma-cuma(mubadzir) karena setiap kita tebar pakannya, belut akan melihat sehingga belut akan langsung memangsanya. Faktor-fator Utama Dalam Budidaya Belut Di Air Bersih Beberapa Fator-faktor Utama Yang Harus Kita perhatikan Dalam Budidaya Belut Di Air Bersih antara lain : Air Dalam Budidaya belut di air bersih, air adalah faktor utama yang sangat berpengaruh pada perkembangan belut. Jika air yang kita gunakan dalam budidaya belut tidak rutin di kontrol maka akan sangat mempengaruhi pada perkembangan belut kita. Air yang bagaimana yang layak digunakan Budidaya belut air bersih? air yang layak digunakan dalam budidaya belut di air bersih adalah air yang jernih, memiliki suhu antara 25-28 derajat C, air yang tidak mengandung zat-zat kimia berbahaya. Air yang kurang layak/tidak bagus untuk budidaya belut di air bersih air PDAM karena banyak mengandung zat-zat kimia (kaporit), air yang langsung diambil dari sumur bur karena sangat minim kandungan oksigennya dan air limbah Usahakan dalam melakukan budidaya belut di air bersih, kolam harus ada sirkulasi air walau dengan debit yang sangat kecil (ada yang masuk dan ada yang keluar). Dengan adanya aliran air kedalam kolam budidaya maka akan menambah kandungan oksigen didalamnya sehingga sangat berpengaruh dalam untuk perkembangan serta pertumbuhan belut dan kita juga tidak terlalu repot untuk penggatian air. Jika kolam budidaya belut tidak ada sirkulasi air dan pembuangan, air akan cepat kotor/keruh, maka kita harus sering mengganti air paling tidak selama 2 atau 3 hari sekali, tentunya kita akan sangat kerepotan bukan? Jika air sudah kotor/keruh (warna kuning kecoklatan) air harus segera kita ganti. tapi beda dengan kotoran yang mengendap didasar kolam, walau didasar kolam sudah terdapat endapan tapi airnya masih jernih, air masih layak kita gunakan, asal endapannya tidak terlalu tebal. Pakan Pakan, pakan juga termasuk salah satu faktor yang sangat penting untuk perkembangan serta pertumbuhan belut. Berilah pakan secukup mungkin, usahakan jangan sampai kekurangan atau jangan berlebihan dan berilah pakan yang paling disukai belut, jika dalam pemberian pakan pada belut terlalu banyak bisa mengakibatkan air cepat kotor(karena sisa makanan) dan bisa mengakibatkan effek negatif pada belut, sehingga belut mudah sakit dan lama kelamaan bisa mengakibatkan kematian. Jika pemberian pakan pada belut kurang, maka bisa menimbulkan sifat kanibalisme pada belut kita dan kita juga akan rugi karena pertumbuhannya akan lama. Selama belut masih mau makan dengan pakan tersebut jangan beralih ke pakan yang lain secara total, kecuali belut mau makan dengan pakan yang kita berikan, jika belut tidak mau makan dengan pakan yang kita berikan, kembalilah kepakan yang sebelumnya. Jenis-jenis pakan belut antara lain: cacing lor, cacing merah, cacing lumbricus, ikan cere, ikan cithol, ikan guppy, anakan ikan mas, berudu (kecebong), lambung katak, keong mas/sawah, ulat hongkong dan masih banyak yang lainnya. Bibit Pemilihan bibit belut berkualitas adalah salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan budi daya belut. Umumnya bibit belut yang ada saat ini sebagian besar masih merupakan hasil tangkapan alam. Karena itu, teknik penangkapan bibit dari alam menentukan kualitas bibit. Bibit yang ditangkap dengan cara alami menggunakan perangkap, seperti bubu, merupakan bibit yang cukup baik karena tidak mengalami perlakuan yang menurunkan kualitasnya. Sebaliknya, bibit yang diperoleh dengan cara tidak baik seperti disetrum bukan termasuk bibit berkualitas. Pasalnya, bibit seperti ini pertumbuhannya tidak akan maksimal (kuntet). Lebih baik lagi jika bibit yang digunakan berasal dari hasil budidaya. Ukurannya akan lebih seragam dan jarang terserang penyakit seperti yang mungkin terjadi pada belut hasil tangkapan alam. Sayangnya, bibit belut hasil budidaya untuk saat ini masih sangat sedikit. Berikut ini beberapa hal yang harus diperhatikan terkait bibit belut yang berkualitas. 1. Bibit yang digunakan sehat dan tidak terdapat bekas luka Luka pada bibit belut dapat terjadi akibat disetrum, pukulan benda keras, atau perlakuan saat pengangkutan. Umumnya, bibit yang diperoleh dengan cara disetrum cirinya tidak dapat langsung terlihat, tetapi baru diketahui 10 hari kemudian. Salah satu ciri-cirinya terdapat bintik putih seperti garis di permukaan tubuh yang lama-kelamaan akan memerah dan pada bagian dubur berwarna kemerahan. Bibit yang disetrum akan mengalami kerusakan syaraf sehingga pertumbuhannya tidak maksimal. 2. Bibit terlihat lincah dan agresif Bibit yang yang selalu mendongakan kepalanya keatas dan tubuhnya sudah membalik sebaiknya diambil saja karena belut yang sudah seperti ini sudah tidak sehat dan lama kelamaan bisa mati. belut yang sehat mempunyai ciri-ciri: tenang tapi lincah, belut akan mengambil oksigen keatas dengan cepat kamudian kembali kebawah lagi. 3. Penampilan sehat yang dicirikan, tubuh yang keras dan tidak lemas pada waktu dipegang pada waktu kita memegang belut tentunya kita akan bisa merasakan keadaannya, bila belut tersebut bila kita pegang tetap diam/lemas atau tidak meronta/tidak ada perlawanan ingin lepas, sebaiknya belut dipisahkan, karena belut belut yang seperti ini kurang sehat. Dan sekaliknya jika kita pegang badannya terasa keras dan selalu meronta ingin lepas dari genggaman tangan kita, belut yang mempunyai ciri seperti ini layak kita budidayakan. 4. Ukuran bibit seragam dan dikarantina terlebih dahulu Bibit yang dimasukkan ke dalam wadah pembesaran ukurannya harus seragam. Hal ini dilakukan untuk menghindari sifat kanibalisme pada belut. Bibit yang berasal dari tangkapan alam harus disortir dan dikarantina. Tujuannya untuk menghindari serangan bibit penyakit yang mungkin terbawa dari tempat hidup atau kolam pemeliharaan belut sebelumnya dan untuk pemilihan belut yang sehat dan tidak sehat. Caranya adalah dengan memasukkan bibit belut ke dalam kolam atau bak yang diberi air bersih biarkan belut tenang dulu (kurang lebih 1 jam) kemudian berilah kocokan telur dicampur dengan madu 1 jam kemudian penggantian air dilakukan dan biarkan belut sampai bener-bener tenang diamkan kurang lebih 1 hari 1 malam kemudaian masuk bibit kekolam pembesaraan. Kepadatan (Volume) Kepadatan penebaran bibit dalam pembesaran jenis-jenis ikan sangatlah mempengaruhi pada perkembangan pertumbuhan dan tingkat kematian, misal, dalam pembesaran jenis-jenis ikan seperti lele,gurame, nila dll, kalau penebarannya terlalu padat, waktu pembesaran bisa terhambat walau pemberian pakan sudah sesuai dengan ukurannya dan juga bisa mengakibatkan tingkat kematian yang tinggi. Namun metode pembesaran Belut di media air bersih ini sangatlah berbeda dengan penebaran bibit jenis-jenis ikan yang lainnya, Kepadatan penebaran bibit belut sangat berperan penting pada pertumbuhan dan tingkat kematian. Kepadatan penebaran bibit belut untuk pertumbuhan, tergantung dalam proses pemberian pakan dan untuk tingkat kematian justru bisa meminimalkannya. Mempersiapkan Pembesaran Langkah Awal Langkah awal untuk melakukan usaha budidaya belut di air bersih adalah memelihara pakan, dalam melakukan usaha budidaya belut,jika kita tidak ingin mengalami kendala terutama masalah pakan dan kita juga akan bisa mengurangi biaya operasional usaha ini, lakukanlah langkah awal ini yaitu 3 atau 4 bulan memelihara pakannya terlebih dahulu sebelum kita menebar bibit belut. Karena selama ini kendala dari para pembudidaya belut baik yang menggunakan media lumpur maupun media air bersih adalah pada pemberian pakan yang tidak menentu karena mereka sebelumnya tidak mempersiapkan pakannya terlebih dahuludan hingga kini pakan yang paling disukai belut adalah pakan dari alam, walaupun sudah ada pembudidaya belut dalam pemberian pakannya menggunakan jenis pelet, namun setelah dihitung-hitung hasil analisa usahanya masih sangat minim,padahal dalam setiap usaha tentunya untuk mendapatkan keuntungan yang lebih, bukan malah membuang-buang duit atau tenaga kita kan??? Banyak pembudidaya belut yang masih meremehkan hal ini dan akhirnya mereka yang akan kerepotan sendiri karena setiap hari harus mencari pakan buat belut kalau tidak, mereka harus membeli pakannya, sehingga untuk biaya operasionalnya akan semakin membengkak untuk pembelian pakan. Dengan kita memelihara pakan terlebih dahulu insyaALLOH akan mudah menghitung jumlah panen dan analisa usahanya. Persyaratan Lokasi Secara klimatologis belut tidak membutuhkan kondisi iklim dan geografis yang spesifik. Ketinggian tempat budidaya ikan belut dapat berada di dataran rendah sampai dataran tinggi. Begitu pula dengan kelembaban dan curah hujan tidak ada batasan yang spesifik. Kualitas air untuk pemeliharaan belut harus bersih, tidak terlalu keruh dan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik. Kondisi kolam tidak beracun. Suhu udara/temperatur optimal untuk pertumbuhan belut yaitu berkisar antara 25-28 derajat C. Pada prinsipnya kondisi perairan adalah air yang harus bersih dan kaya akan osigen terutama untuk bibit/benih yang masih kecil. Belut adalah binatang air yang selalu mengeluarkan lendir dari tubuhnya sebagai mekanisme perlindungan tubuhnya yang sensitif. Lendir yang keluar dari tubuh belut cukup banyak sehingga lama kelamaan bisa mempengaruhi derajad keasaman (pH) air tempat hidupnya. pH air yang dapat diterima oleh belut rata-rata maksimal 7. Jika pH dalam air tempat pembesaran telah melebihi ambang batas toleransi, air harus dinetralkan, dengan cara menggati ataupun mensirkulasikan airnya. Dengan demikian, kolam/tempat pembesaran harus dilengkapi dengan peralatan yang memungkinkan untuk penggantian atau sirkulasi air. Ada beberapa macam tempat yang dapat digunakan untuk untuk budidaya belut di air bersih (air bening) tanpa lumpur di antaranya: kolam permanen (bak semen), bak plastik, tong (drum). Dalam Budidaya Belut dengan menggunakan media lumpur dalam wadah/tempat dan ruangan 5X5 meter, hanya bisa dibuat untuk 1 kolam saja berbeda dengan Budidaya belut diair bersih dengan wadah dan Ruangan 5X5 meter, bisa dikembangkanya 3 Kali lipat dari wadah budidaya itu sendiri, karena dalam budidaya air bersih kita hanya memerlukan ketinggian air 30 Cm, maka tempat budiaya kita bisa tingkat menjadi 3 susun atau 3 apartemen. BUDIDAYA IKAN BELUT Seputar BUDIDAYA IKAN BELUT ( Synbranchus )
1.SEJARAH SINGKAT Belut merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan bentuk tubuh bulat memanjang yang hanya memiliki sirip punggung dan tubuhnya licin. Belut suka memakan anak-anak ikan yang masih kecil. Biasanya hidup di sawah-sawah, di rawa-rawa/lumpur dan di kali-kali kecil. Di Indonesia sejak tahun 1979, belut mulai dikenal dan digemari, hingga saat ini belut banyak dibudidayakan dan menjadi salah satu komoditas ekspor. 2.SENTRA PERIKANAN Sentra perikanan belut Internasional terpusat di Taiwan, Jepang, Hongkong, Perancis dan Malaysia. Sedangkan sentra perikanan belut di Indonesia berada di daerah yogyakarta dan di daerah Jawa Barat. Di daerah lainnya baru merupakan tempat penampungan belut-belut tangkapan dari alam atau sebagai pos penampungan. 3.JENIS Klasifikasi belut adalah sebagai beriku Kelas : Pisces Subkelas : Teleostei Ordo : Synbranchoidae Famili : Synbranchidae Genus : Synbranchus Species : Synbranchus bengalensis Mc clell (belut rawa); Monopterus albus Zuieuw (belut sawah); Macrotema caligans Cant (belut kali/laut) Jadi jenis belut ada 3 (tiga) macam yaitu belut rawa, belut sawah dan belut kali/laut. Namun demikian jenis belut yang sering dijumpai adalah jenis belut sawah. 4.MANFAAT Manfaat dari budidaya belut adalah: 1)Sebagai penyediaan sumber protein hewani. 2)Sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari. 3)Sebagai obat penambah darah. 5.PERSYARATAN LOKASI 1) Secara klimatologis ikan belut tidak membutuhkan kondisi iklim dan geografis yang spesifik. Ketinggian tempat budidaya ikan belut dapat berada di dataran rendah sampai dataran tinggi. Begitu pula dengan kelembaban dan curah hujan tidak ada batasan yang spesifik. 2)Kualitas air untuk pemeliharaan belut harus bersih, tidak terlalu keruh dan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik. Kondisi tanah dasar kolam tidak beracun. 3)Suhu udara/temperatur optimal untukpertumbuhan belut yaitu berkisar antara 25-31 derajat C. 4)Pada prinsipnya kondisi perairan adalah air yang harus bersih dan kaya akan osigen terutama untuk bibit/benih yang masih kecil yaitu ukuran 1-2 cm. Sedangkan untuk perkembangan selanjutnya belut dewasa tidak memilih kualitas air dan dapat hidup di air yang keruh. 6.PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA 6.1.Penyiapan Sarana dan Peralatan 1) Perlu diketahui bahwa jenis kolam budidaya ikan belut harus dibedakan antara lain: kolam induk/kolam pemijahan, kolam pendederan (untuk benih belut berukuran 1-2 cm), kolam belut remaja (untuk belut ukuran 3-5 cm) dan kolam pemeliharaan belut konsumsi (terbagi menjadi 2 tahapan yang masing-masing dibutuhkan waktu 2 bulan) yaitu untuk pemeliharaan belut ukuran 5-8 cm sampai menjadi ukuran 15-20 cm dan untuk pemeliharan belut dengan ukuran 15-20 cm sampai menjadi ukuran 30-40 cm. 2)Bangunan jenis-jenis kolam belut secara umum relatif sama hanya dibedakan oleh ukuran, kapasitas dan daya tampung belut itu sendiri. 3)Ukuran kolam induk kapasitasnya 6 ekor/m2. Untuk kolam pendederan (ukuran belut 1-2 cm) daya tampungnya 500 ekor/m2. Untuk kolam belut remaja (ukuran 2-5 cm) daya tampungnya 250 ekor/m2. Dan untuk kolam belut konsumsi tahap pertama (ukuran 5-8 cm) daya tampungnya 100 ekor/m2. Serta kolam belut konsumsi tahap kedua (ukuran 15-20cm) daya tampungnya 50 ekor/m2, hingga panjang belut pemanenan kelak berukuran 3-50 cm. 4)Pembuatan kolam belut dengan bahan bak dinding tembok/disemen dan dasar bak tidak perlu diplester. 5)Peralatan lainnya berupa media dasar kolam, sumber air yang selalu ada, alat penangkapan yang diperlukan, ember plastik dan peralatan-peralatan lainnya. 6)Media dasar kolam terdiri dari bahan-bahan organik seperti pupuk kandang, sekam padi dan jerami padi. Caranya kolam yang masih kosong untuk lapisan pertama diberi sekam padi setebal 10 cm, diatasnya ditimbun dengan pupuk kandang setebal 10 cm, lalu diatasnya lagi ditimbun dengan ikatan-ikatan merang atau jerami kering. Setelah tumpukan-tumpukan bahan organik selesai dibuat (tebal seluruhnya sekitar 30 cm), berulah air dialirkan kedalam kolam secara perlahan-lahan sampai setinggi 50cm (bahan organic + air). Dengan demikian media dasar kolam sudah selesai, tinggal media tersebut dibiarkan beberapa saat agar sampai menjadi lumpur sawah. Setelah itu belut-belut diluncurkan ke dalam kolam. 6.2.penyiapan Bibit 1) Menyiapkan Bibit a.anak belut yang sudah siap dipelihara secara intensif adalah yang berukuran 5-8 cm. Di pelihara selama 4 bulan dalam 2 tahapan dengan masing-masing tahapannya selama 2 bulan. b)Bibit bisa diperoleh dari bak/kolam pembibitan atau bias juga bibit diperoleh dari sarang-sarang bibit yang ada di alam. c.Pemilihan bibit bisa diperoleh dari kolam peternakan atau pemijahan. Biasanya belut yang dipijahkan adalah belut betina berukuran ± 30 cm dan belut jantan berukuran ± 40 cm. d.Pemijahan dilakukan di kolam pemijahan dengan kapasitas satu ekor pejantan dengan dua ekor betina untuk kolam seluas 1 m2. Waktu pemijahan kira-kira berlangsung 10 hari baru telur-telur ikan belut menetas. Dan setelah menetas umur 5-8 hari dengan ukuran anak belut berkisar 1,5¬2,5 cm. Dalam ukuran ini belut segera diambil untuk ditempatkan di kolam pendederan calon benih/calon bibit. Anak belut dengan ukuran sedemikian tersebut diatas segera ditempatkan di kolam pendederan calon bibit selama ± 1 (satu) bulan sampai anak belut tersebut berukuran 5-8 cm. Dengan ukuran ini anak belut sudah bisa diperlihara dalam kolam belut untuk konsumsi selama dua bulan atau empat bulan. 2) Perlakuan dan Perawatan Bibit Dari hasil pemijahan anak belut ditampung di kolam pendederan calon benih selama 1 bulan. Dalam hal ini benih diperlakukan dengan secermat mungkin agar tidak banyak yang hilang. Dengan perairan yang bersih dan lebih baik lagi apabila di air yang mengalir. 6.3. Pemeliharaan Pembesaran 1) Pemupukan Jerami yang sudah lapuk diperlukan untuk membentuk pelumpuran yang subur dan pupuk kandang juga diperlukan sebagai salah satu bahan organic utama. 2)Pemberian Pakan Bila diperlukan bisa diberi makanan tambahan berupa cacing, kecoa, ulat besar(belatung) yang diberikan setiap 10 hari sekali. 3)Pemberian Vaksinasi 4)Pemeliharaan Kolam dan Tambak Yang perlu diperhatikan pada pemeliharaan belut adalah menjaga kolam agar tidak ada gangguan dari luar dan dalam kolam tidak beracun. 7.HAMA DAN PENYAKIT 7.1.Hama 1)Hama pada belut adalah binatang tingkat tinggi yang langsung mengganggu kehidupan belut. 2)Di alam bebas dan di kolam terbuka, hama yang sering menyerang belut antara lain: berang-berang, ular, katak, burung, serangga, nmusang air dan ikan gabus. 3)Di pekarangan, terutama yang ada di perkotaan, hama yang sering menyerang hanya katak dan kucing. Pemeliharaan belut secara intensif tidak banyak diserang hama. 7.2. Penyakit Penyakit yang umum menyerang adalah penyakit yang disebabkan oleh organisme tingkat rendah seperti virus, bakteri, jamur, dan protozoa yang berukuran kecil. 8.PANEN Pemanenan belut berupa 2 jenis yaitu : 1)Berupa benih/bibit yang dijual untuk diternak/dibudidayakan. 2)Berupa hasil akhir pemeliharaan belut yang siap dijual untuk konsumsi (besarnya/panjangnya sesuai dengan permintaan pasar/konsumen). Cara Penangkapan belut sama seperti menangkap ikan lainnya dengan peralatan antara lain: bubu/posong, jaring/jala bermata lembut,dengan pancing atau kail dan pengeringan air kolam sehingga belut tinggal diambil saja. 9.PASCAPANEN Pada pemeliharaan belut secara komersial dan dalam jumlah yang besar,penanganan pasca panen perlu mendapat perhatian yang serius. Hal ini agar belut dapat diterima oleh konsumen dalam kualitas yang baik, sehingga mempunyai jaringan pemasaran yang luas 10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA 10.1.Analisis Usaha Budidaya Perkiraan analisis budidaya belut selama 3 bulan di daerah Jawa Barat pada tahun 1999 adalah sebagai berikut: 1) Biaya Produksi a.pembuatan kolam tanah 2 x 3 x 1, 4 HOK @ Rp.7.000,- Rp. 28.000,- b.Bibit 3.000 ekor x @ Rp. 750,- Rp. 225.000,- c.Makanan tambahan (daging kelinci 3 ekor) @ Rp.15.000,-Rp. 45.000,- d.Lain-lain Rp. 30.000,- Jumlah Biaya Produksi Rp. 328.000,- 2) Pendapatan: 3000 ekor = 300 kg x @ Rp. 2.500,- = Rp. 750.000,- 3) Keuntungan Rp. 422.000,- 4) Parameter Kelayakan Usaha 2,28 10.2.Gambaran Peluang Agribisnis Budidaya ikan belut, baik dalam bentuk pembenihan maupun pembesaran mempunyai prospek yang cukup baik. Permintaan konsumen akan keberadaan ikan belut semakin meningkat. Dengan teknik pemeliharaan yang baik, maka akan diperoleh hasil budidaya yang memuaskan dan diminati konsumen.
DAFTAR PUSTAKA
1) Satwono, B. 1999. Budidaya Belut dan Tidar. Penerbit Penebar Swadaya (Anggota IKAPI). Jakarta.
2) Ronni Hendrik S. 1999. Budidaya Belut. Penerbit Bhratara, Jakarta Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas
Baca SelengkapnyaBUDIDAYA BELUT UNTUK MENINGKATKAN KONSUMSI IKAN

BUDIDAYA IKAN NILA PADA TAMBAK AIR PAYAU DI PATI JATENG

PENDAHULUAN
Beberapa program nasional telah ditetapkan untuk mendukung program industrialisasi perikanan. Pengembangan perikanan budidaya di Indonesia ke depan diharapkan dapat mendorong masyarakat perikanan untuk meningkatkan jiwa kewirausahaan dan daya saing produk perikanan budidaya secara berkelanjutan melalui peningkatan efisiensi dan keunggulan komparatif. Pengembangan sumber daya perikanan yang sesuai dengan pengelolaan dan pemanfaatan yang optimal dapat mengurangi permasalahan khususnya dalam pengembangan wilayah untuk budidaya dan kesempatan kerja serta berusaha bagi masyarakat yang tinggal di areal marjinal dalam kasus ini daerah pesisir.
Dalam upaya percepatan peningkatan produksi selain upaya perbaikan kualitas dari komoditaskomoditas yang dibudidayakan, juga dapat ditempuh melalui perluasan lahan budidaya, pemanfaatan lahan-lahan marjinal yang disesuaikan dengan kemampuan adaptasi dari komoditas yang dipelihara merupakan langkah bijaksana dalam proses ini.
Salah satu lahan marjinal yang berpotensi untuk peningkatan produksi di antaranya adalah lahanlahan tambak. Dalam rangka pengembangan kawasan budidaya ini, selain pembukaan lahan-lahan budidaya baru juga perlu mengoptimalkan lahan yang pada saat ini relatif kurang produktif seperti lahan tambak di sebagian besar pantai Utara Pulau Jawa. Tambak-tambak tersebut merupakan lahan bekas budidaya udang windu yang dalam waktu 10-15  tahun terakhir mengalami kegagalan panen dikarenakan terjadinya wabah penyakit pada usaha budidaya tersebut. Komoditas yang berpeluang dapat dipelihara pada kondisi tersebut antara lain ikan nila. Salah satu contoh adalah uji coba budidaya ikan nila di tambak di wilayah Pati menunjukkan indikasi yang positif dengan penebaran awal benih berukuran 20-30 g dapat dihasilkan ikan nila konsumsi dengan bobot 180-250  g dalam waktu 2  bulan. Demikian pula untuk teknik pembenihan dan pembesaran nila di tambak telah tersedia teknologinya (Anonim, 2010b; Bastiawan & Wahid, 2005).
Salah satu alternatif pilihan komoditas yang cocok dikembangkan di wilayah Kabupaten Pati adalah nila Salin pada tambak air payau, dikarenakan ikan ini dapat tumbuh dengan baik pada media perairan payau dan dari segi harga jual pada saat pemasaran hasil lebih mudah diterima di lokasi tersebut. Selain itu, pihak pemerintah daerah berupaya mencari solusi agar petani padi dapat beralih profesi menjadi pembudidaya ikan. Salah satu jenis ikan yang disukai masyarakat adalah ikan nila. Meskipun telah ada pembudidaya yang mencoba budidaya nila, namun masih bersifat penjajagan. Pembudidaya telah mencoba strain ikan nila GIFT, Nila Larasati , akan tetapi hasilnya belum memuaskan. Polikultur ikan Nila Larasati dengan bandeng telah dicoba di tambak. Dari aplikasi teknologi budidaya ikan nila salin di Pati diharapkan dapat dijadikan alternatif untuk wilayah lain.
Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memasyarakatkan teknologi budidaya ikan nila sebagai komoditas yang mampu tumbuh dengan baik di tambak kepada masyarakat pembudidaya ikan di Pati. Selain itu, juga mengintroduksikan teknik pembenihan nila tahan salinitas kepada UPT BBI Pati yang dibawah Dinas Kelautan Perikanan dan Kelautan Kabupaten Pati. Diharapkan bahwa sistem budidaya nila akan memberikan manfaat dengan meningkatnya produktivitas tambak di kabupaten Pati dan wilayah di sekitarnya. Selain itu, diharapkan BBI Pangkah dapat berfungsi sebagai produsen benih ikan nila yang adaptif di tambak untuk di distribusikan ke wilayah di sekitar Kabupaten Pati.
Benih yang digunakan diaklimatisasi sampai salinitas yang dibutuhkan. Aklimatisasi dilakukan secara bertahap yaitu sebanyak 5 ppt/hari.
Pembesaran ikan nila larasati di tambak
Persiapan tambak mencakup beberapa aspek, yaitu:
• Pengeringan, pengapuran, dan pemupukan tambak.
• Dosis pengapuran adalah 100 g/m2.
• Dosis pupuk organik adalah 500 g/m2 (berupa kotoran ayam) dan pupuk anorganik dengan dosis urea 20 g/m2 dan SP-36 10 g/m2.
Tambak bersalinitas (10-30 ppt)
•           Sebelumnya benih ikan diadaptasikan pada kondisi perairan yang bersalinitas sampai dengan 1030  ppt. Aklimatisasi dilakukan dengan salinitas 5 ppt/hari.
•           Luas kolam yang digunakan berukuran 2.600 m2, 1.500 m2, 1.300 m2, dan 600 m2. Luas total lahan yang digunakan adalah 6.000 m2.
Pakan ikan
•           Pakan berupa pakan alami dan pakan buatan (pelet).
•           Pakan alami disediakan melalui pemupukan dan pakan buatan yang digunakan berupa pakan komersial.
Penebaran Benih Ikan
•           Penebaran ikan dilakukan pada pagi hari.
•           Sebelum ditebar dilakukan aklimatisasi untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru.
•           Padat tebar untuk pemeliharaan di tambak adalah 5 ekor/m2, Ukuran benih awal yang ditebar 5-7 cm/ekor.
Pemberian Pakan
•           Kandungan protein pakan sebesar 28%-30%.
•           Pemberian pakan dilakukan tiga kali sehari, yaitu pada pagi, siang, dan sore hari.
•           Jumlah pakan yang diberikan dihitung berdasarkan bobot total ikan dari setiap wadah pemeliharaan. Secara sederhana perhitungan pemberian pakan sebagai berikut: satu bulan pertama 5% dari bobot ikan, satu bulan kedua 4% dari bobot ikan dan bulan berikutnya 3% dari bobot ikan sampai dengan saat panen ikan.
Pemanenan
•           Untuk pemeliharaan di kolam tanah pemanenan melalui beberapa tahapan yaitu pertama dengan menggunakan jaring tarik dan sisanya kolam disurutkan.
•           Ikan yang dipanen kemudian ditampung dalam tempat yang mempunyai aliran air yang baik.
•           Pemberokan dilakukan sebelum ikan didistribusikan dalam keadaan hidup.
•           Proses pengangkutan ikan dilakukan pada pagi hari.
•           Pertumbuhan ikan nila dipantau setiap 2 minggu dengan cara dilakukan sampling sejumlah 50 ekor untuk setiap petakan tambak.
•           Analisis ekonomi yang digunakan untuk mengetahui keuntungan yang diperoleh dari aplikasi ikan nila toleran salinitas di tambak yaitu analisis anggaran parsial (Swastika, 2004).
HASIL DAN BAHASAN
Pembenihan Ikan Nila Toleran Salinitas di Balai Benih Ikan Pangkah
Hasil kegiatan pembenihan ikan nila yang telah dilaksanakan di BBI Pangkah menghasilkan benih nila sejumlah 36.000 ekor dalam I siklus pemeliharaan yang berlangsung selama 45 hari. Jumlah induk yang dipijahkan sebanyak 45 ekor induk jantan dan 135 ekor induk betina dalam satu siklus produksi tersebut. Produksi benih sebelum dan sesudah pelaksanaan kegiatan dapat dilihat pada Tabel 1.


Sumber: Data statistik Kelautan Perikanan dan Peternakan Kabupaten Pati 2010 dan data hasil penelitian 2011*
Dari Tabel 1 terlihat bahwa produksi benih nila di BBI dalam satu siklus mampu mencapai 36.000 ekor dengan menggunakan induk nila toleran salinitas hasil perakitan BPPI Sukamandi. Jumlah produksi benih nila pada siklus ke-I yang dicapai itu baru memanfaatkan 180 ekor induk. Pada siklus ke-II produksi benih nila mencapai 25.000 ekor. Prediksi peningkatan produksi benih nila di BBI Pangkah dapat dilihat pada Gambar 2.
Predikisi peningkatan produksi benih nila di BBI Pangkah berdasarkan jumlah induk yang ditransfer sejumlah 800 ekor yang merupakan induk yang telah siap untuk dipijahkan. Kualitas induk yang diberikan relatif baik serta teknologi pembenihan yang diberikan telah teruji.
Pembesaran Ikan Nila Larasati di Tambak
Hasil yang telah dicapai selama 10 minggu pemeliharaan benih ikan nila di tambak menunjukkan hasil yang positif dalam mencapai pertumbuhan yang cepat. Peningkatan produktivitas ikan nila toleran salinitas dari Sukamandi telah mencapai 150% lebih tinggi dibandingkan dengan nila GIFT dengan pola budidaya konvensional. Perkembangan bobot ikan nila di tambak selama 10 minggu Aplikasi teknologi budidaya nila di tambak akan meningkatkan pendapatan pembudidaya ikan, karena nilai ekonomi ikan nila cukup tinggi. Harga jual nila adalah Rp 11.000,-/kg dengan ukuran 67  ekor/kg. Dengan menggunakan benih nila yang adaptif di tambak, maka peningkatan pendapatan masyarakat dapat direalisasikan. Jika menggunakan komoditas bandeng, pembudidaya hanya memperoleh hasil sebesar Rp 11.220.000,-/ha/6 bulan. Namun dengan mengadopsi teknologi budidaya nila Larasati, maka nilai produksi yang diperoleh pembudidaya adalah sebesar Rp 45.576.000,-/ha/3 bulan. Hal ini berarti ada peningkatan nilai produksi dari budidaya nila sebesar Rp 34.356.000,-/ha/ 3  bulan. Hasil analisis anggaran secara parsial pada budidaya nila dapat dilihat pada Tabel  3.
Tabel. Analisis anggaran parsial usaha budidaya nila Larasati di tambak selama 3 bulan masa pemeliharaan
Komponen biaya dan pendapatan
Jumlah
A. Komponen biaya (Rp/6.000 m2/3 bulan) Tenaga kerja 3 orang x 90 hari x Rp 6.300,Bahan
-   Pakan (2.026 kg x Rp 6.250,-)
-   Benih nila (26.000 x Rp 50,-)
-   Alat perikanan
-   Pupuk cair (1,5 L x Rp 30.000,-)
-   Probiotik (5 botol x Rp 250.000,-)
-   Saponin (75 kg x Rp 7.500,-)
-   Kapur (2 karung x Rp 25.000,-)
Total biaya
1.701.000
        12.662.500
          1.300.000
384.000
               45.000
          1.250.000
             562.500
50.000
16.254.000
B. Komponen pendapatan
Penerimaan (2.486 kg @ Rp 11.000,-)
   27.346.000
C.    Keuntungan finansial
D.    R/C atas biaya total
   
11.752.500 1 , 75
Komponen biaya dan pendapatan      Jumlah
Menurut Swastika (2004), analisis anggaran parsial merupakan cara sederhana untuk mengetahui keuntungan yang diperoleh oleh pembudidaya tanpa dibebani cara analisis yang rumit. Dari Tabel 3 dapat diketahui bahwa budidaya nila cukup menguntungkan, hal ini terlihat dari nilai R/C yang mencapai 1,75. Standar yang umum digunakan yaitu jika R/C lebih dari 1,0 maka usaha tersebut menguntungkan.
Program revitalisasi tambak di Desa Likupang II, Minahasa Utara dengan memanfaatkan nila merah ternyata juga berdampak positif terhadap pembudidaya di lokasi setempat. Dalam satu siklus produksi dapat dihasilkan break event point (BEP) harga sebesar Rp 11.631,-; dan BEP produksi 1.832 kg, serta benefit/cost mencapai 1,03. Meskipun keuntungan yang didapat belum terlalu besar, namun dari segi pemanfaatan tambak hasil ini cukup memuaskan (Mantau & Tirajah, 2008).
KESIMPULAN
Hasil aplikasi sistem budidaya nila Larasati yang toleran salinitas menunjukkan adanya peningkatan produksi tambak dari 1.020 ton/ha menjadi 4.143 ton/ha dalam waktu tiga bulan. Analisis anggaran parsial dari budidaya nila toleran salinitas di tambak tersebut menunjukkan R/C atas biaya total mencapai 1,75. Indikator ekonomi ini memperlihatkan bahwa inovasi sistem budidaya nila Larasati di tambak mampu meningkatkan produksi, dan dampak dari kondisi tersebut akan sangat mendukung program revitalisasi tambak di wilayah pantura.
Lies Emmawati Hadie*), Raden Roro Sri Pudji Sinarni Dewi**), Sularto**), dan Wartono Hadie*)
*) Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Budidaya
Jl. Ragunan 20, Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12540
E-mai: info@cria.indosat.net.id
**) Balai Penelitian Pemuliaan Ikan
Jl. Raya Sukamandi No. 2, Subang 41256
DAFTAR ACUAN
Anonim. 2008. Petunjuk teknis pembenihan dan pembesaran ikan nila (O. niloticus). http:// www.litbang.kkp.go.id/rica-maros/images/pdf/037/materi., 28 hlm.
Anonim. 2010. Statistik Perikanan Kabupaten Pati. Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati, 10  hlm.
Anonim. 2010. Budidaya nila di tambak Pandu Pati. http://www.radar-karawang.com/2010/05/ budidaya-ikan., 3  hlm.
Anonim.2011a. Industrilalisasi Perikanan butuh Sinergitas Pusat – Daerah. http://www.kkp.go.id/index/php/arsip/c/6476/wira usaha-perikanan-didorong
Anonim. 2011b. Standar operasional prosedur pembenihan dan pembesaran ikan nila. Balai Penelitian Pemuliaan Ikan. Sukamandi, 4 hlm.
Bastiawan, D. & Wahid, A. 2005. Tehnik pembenihan nila GIFT secara massal dan pembesaran ikan nila merah di tambak. Balai Penelitian Perikanan Air Tawar. Bogor, 2 hlm.
Indarjo, A., Samidjan, Driristiyanto, Zaenuri, M., & Rachmawati, D. 2009. Kaji terap teknologi budidaya ikan nila GIFT di tambak sebagai upaya penanggulangan rawan gizi, kemiskinan pasca tsunami. Project report. Fakultas Perikanan dan Kelautan. UNDIP. Semarang. http://eprint.undip.ac.id/27852.
Mantau, Z. & Tirajah, S. 2008. Kajian pembesaran ikan nila merah dalam tambak di Desa Likupang II, Kabupaten Minahasa Utara http://saluargominut.blogspot.com/2008/01/kajian-pembesaran.
Swastika, D.K.S. 2004. Beberapa teknik analisis dalam penelitian dan pengkajian teknologi pertanian. Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, 7(1): 90-103.
Baca SelengkapnyaBUDIDAYA IKAN NILA PADA TAMBAK AIR PAYAU DI PATI JATENG

USAHA PEMBENIHAN IKAN MAS DI PATI JAWA TENGAH

Kawasan budidaya ikan bandeng air tawar di desa Talun, kecamatan Kayen Kabupaten Pati Jawa Tengah merupakan kawasan budidaya ikan air tawar di Pati selatan dengan luasan lahan budidaya sekitar 300 Ha. Disitu terdapat usaha budidaya ikan bandeng air tawar dengan sistem polikultur serta berkembang usaha pembenihan ikan Karper dan Nila. Sejarah ikan Karper/Mas ada yang mengatakan ikan ini berasal dari Sungai Danube dan Laut Hitam dan ada juga yang mengatakan dari China dan Rusia. Perkembangan di Indonesia Ardiwinata (1971) ikan Karper dikenal pertama kali di Galuh (Ciamis) Jawa Barat.
Ikan Karper (Cyprinus carpio, L.) merupakan spesies ikan air tawar yang termasuk dalam famili Cyprinidae, sub ordo Cyprinoidea, Ordo Ostariophysi sub kelas Teleostei. Ikan Karper sudah lama dibudidayakan dan terdomestikasi dengan baik di dunia. Diantara jenis ikan air tawar Ikan Karper merupakan ikan yang paling populer dii masyarakat. Selain dikenal dengan nama Ikan Mas, ikan ini dikenal dengan nama dengan nama Ikan Karper ataupun ikan tombro. Kini telah banyak dikenal ras persilangan antara lain Ikan Karper merah, Si Nyonya, Taiwan, Majalaya, Punten, kaca, Kumpai dan lain-lain.
Di alam aslinya Ikan Karper hidup di perairan sungai, danau maupun genangan air lainnya yang berada pada ketinggian 150-600m dpl, dengan suhu air berkisar 200 C derajat sampai 250 C. Ikan Karper termasuk hewan Omnnivora atau pemakan segala sehingga di alam makanan Ikan Karper berupa daun-daunan, lumut, serangga, cacing dan lain sebagainya. Pada model budidaya Ikan Karper lingkungan pemeliharaan dibuat menyerupai alam aslinya.
Model budi daya Ikan Karper bisa dipelihara dalam Kantong Jaring Apung, Kolam air deras, kolam tanah, kolam beton dan lain-lain tergantung ketersediaan lokasi. Makanan dalam budi daya Ikan Karper juga bermacam-macam mulai dari pemberian pakan alami sampai pemberian pelet buatan pabrik. Yang perlu diperhatikan adalah kualitas air pada media untuk budi daya Ikan Karper seperti PH air yang harus berada pada kisaran 7-8, kandungan oksigen terlarut yang cukup dan bebas dari kandungan zat kimia berbahaya.
Usaha Pembibitan Ikan Karper
Peluang usaha budidaya Ikan Karper dapat dipilih sesuai kondisi dan keinginan. ada beberapa peluang usaha dalam budi daya Ikan Karper ini yaitu pembibitan dan pembesaran Ikan Karper untuk keperluan konsumsi. Dalam hal ini apa yang menjadi pembahasan kali ini adalah Pembibitan Ikan Karper.
Usaha Pembibitan Ikan Karper
Agar usaha budidaya ikan Karper berhasil maka banyak faktor yang sangat menentukan keberhasilan antara lain ;
1.    Persiapan kolam.
2.    Mempergunakan bibit yang berkualitas.
3.    Pengelolaaan air yang baik
4.    Pengelolaan hama dan penyakit
5.    Penganan panen danpaska panen.
Pembahasan pada kali ini fokus pada pembibitan ikan Karper yang di awali dari persiapan induk ikan Karper yang baik.
Persiapan induk Ikan Karper
Syarat-syarat induk yang baik:
- Induk betina 1,5 – 3 tahun (minimum 1,5 kg/ekor) dan induk jantan umur 6 bulan ke atas (minimum 0,5 kg/ekor).
- Badan tidak cacat, termasuk sirip-sirip.
- Sisik besar dan letaknya teratur
- Kepala relatif kecil dibandingkan tinggi badan, umumnya punya tubuh yang besar sehingga akan banyak telurnya.
- Pangkal ekor normal (pangkal ekor lebih panjang dibandingkan tingginya), lebar dan tebal menggambarkan sifat yang kuat serta cepat tumbuh.
- Tanda matang kelamin induk betina : gerakannya lamban, perutnya membesar/buncit ke arah belakang, jika diraba terasa lunak, lubang anus agak membengkak/menonjol, bila perut diurut (striping) perlahan kearah anus akan keluar cairan kuning kemerahan. Untuk induk jantan gerakannya lincah, badannya langsing, jika perut distriping akan keluar cairan sperma berwarna putih seperti susu dari lubang kelamin.
Induk Ikan Karper yang akan dipijahkan dipelihara di kolam khusus secara terpisah antara jantan dan betina. Pemberian pakan yang berkualitas berupa pellet dengan kandungan protein 25%. Dosis pemberian pakan Ikan Karper sebanyak 3% per bobot biomas per hari. Pakan tersebut diberikan 3 kali/hari. Ikan Karper betina yang diseleksi sudah dapat dipijahkan setelah berumur 1,5 – 2 tahun dengan bobot >2 kg. Sedangkan induk jantan berumur 8 bulan dengan bobot > 0,5 kg. Untuk membedakan jantan dan betina dapat dilakukan dengan jalan mengurut perut kearah ekor. Jika keluar cairan putih dari lubang kelamin, maka Ikan Karper tersebut jantan.
Ciri-ciri Ikan Karper betina yang siap pijah atau matang gonad adalah:
- Pergerakan ikan lamban
- Pada malam hari sering meloncat-loncat
- Perut membesar/buncit ke arah belakang dan jika diraba terasa lunak
- Lubang anus agak membengkak/menonjol dan berwarna kemerahan
Sedangkan ciri-ciri untuk Ikan Karper  jantan gerakan lincah dan mengeluarkan cairan berwarna putih (sperma) dari lubang kelamin bila dipijit.
Pemijahan Ikan Karper
Dalam proses pemijahan Ikan Karper, ikan dirangsang dengan cara membuat lingkungan perairan menyerupai keadaan lingkungan perairan umum dimana ikan Karper akan memijah secara alami atau dengan rangsangan hormon sintetis Ovaprim.. Langkah-langkah yang dilakukan dalam pemijahan Ikan Karper adalah :
1. Pemijahan pada kolam bak/ permanen.
- Mencuci dan mengeringkan wadah pemijahan (bak/kolam)
- Mengisi wadah pemijahan dengan air setinggi 75-100 cm
- Memasang hapa untuk mempermudah panen larva di bak atau di kolam dengan ukuran 4 x 3 x 1 meter. Hapa dilengkapi dengan pemberat agar tidak mengambang.
- Memasang kakaban di tempat pemihajan (dalam hapa). Kakaban dapat berupa ijuk yangdijepit bambu/papan dengan ukuran 1,5 x 0,4 m.
2. Persiapan pada kolam alam untuk pemijahan/ pada kolam tanah
- Persiapan pembersihan kolam tanah.
- Penglahan tanah dasar kolam dengan pembajakan dan pemberian pupuk kandang kotoran ayam ± 20 sak sesuai dengan kesuburan tanah.
- Pemasangan Hafa pada kolam pemijahan
- Pemberian Enceng gondok yang telah dipotong daunnya tinggal batang bawah dan bonggol tanpa daun sebagai pengganti Kakaban.
- Memasukan air yang bebas dari pestisida dan logam berat.
Persiapan pemijahan :
- Pada sore hari memasukkan induk Ikan Karper jantan dan betina siap pijah. Jumlah induk Ikan Karper betina yang dipijahkan tergantung pada kebutuhan benih dan luas kolam yang akan digunakan dalam pendederan. Bisa 1 : 10 artinya induk betina 1 ekor berbanding dengan induk jantan 10 ekor. Kebutuhan biasanya 1 Ha induk betina 5 s/d 10 ekor dan jantan 50 s/d 100 ekor jantan.
- Induk betina ± 2 Kg bobotnya, sedangkan induk jantan bisa ± 2,5 ons. Menurut teorinya satu Induk Ikan Karper betina dipasangkan dengan 2 atau tiga Ikan Karper jantan, pada prakteknya bisa sampai banding 10 ekor jantan.
- Air dikocorkan untuk menambah oksigen dari tengah malam sampai fajar dan fajar telah terjadi pemijahan, telurnya nempel pada bonggol Enceng gondok.
Aktivitas ikan jantan yang mengejar-ngejar induk betina.Sesekali akan terdengar suara berkecipak karena induk betina ini menyembul kepermukaan air. Induk betina yang dikejar-kejar biasanya akan lebih sering melewati air di bawah kakaban, terkadang malah menyembul dari bawah kakaban. Setelah puas berkejar-kejaran, induk betina ini akan mengeluarkan telur-telurnya dibawah kakaban. Telur tersebut langsung disemprot dengan sperma induk jantan.Induk tersebut melakukan penijahan tetap dalam posisi berkejar-kejaran.Telur-telur akan dengan mudah terlihat menempel di kakaban karena warna telur ini kuning cerah. Ada telur yang menggerombol dalam kakaban tersebut, ada pula yang merata, tidak bertumpuk. Setelah selesai memijah ikan harus cepat diangkat untuk dikembalikan ke kolam pemeliharaan induk karena sering kali induk akan memakan telur-telurnya sendiri.
- Setelah pemijahan induk betina dan jantan dimabil dan dipisah pada kolam indukan.
Penetasan Telur
Telur-telur kemudian ditetaskan, pada saat penetasan telur kualitas air dijaga tetap stabil telur tersebut membutuhkan air yang kaya oksigen dan stabil suhunya. Setelah 2 hari, telur akan mulai menetas. Penetasan biasanya tidak berlangsung sekaligus tetapi bertahap, sesuai dengan pengeluaran telurnya.Larva ikan yang baru menetas belum membutuhkan pakan tambahan dari luar karena masih menyimpan pakan dalam tubuhnya berupa kuning telur (yolk sack). Selama memakan kuning telurnya, alat-alat pencernaan benih muda ini akanterbentuk sempurna sehingga siap menerima pakan dari luar. Namun, bukan berartibenih ini dapat diberi pakan sembarangan. Pakan yang diberikan harus sesuaidengan yang dibutuhkannya. Oleh karena itu, pakan yang paling cocok bagi benihyang telah habis kuning telurnya adalah plankton yang diperoleh dengan pemupukan dasar kolam. Setelah telur berusia kurang lebih 4 hari maka telur Ikan Karper akan menetas menjadi larva, beberapa saat setelah menetas larva masih mendapatkan suplai makanan cadangan dari telur, setelah itu perlu diberi makanan tambahan berupa pelet Pockphan 88 di giling.
Pendederan Ikan Karper
Setelah larva cukup kuat saatnya untuk melakukan pendederan Ikan Karper, bisasanya dilakukan pada kolam tanah atau sawah meski bisa juga dilakukan pada kolam semen. Persiapan kolam tanah adalah dengan meratakan tanah dasarnya, tebarkan 10 – 20 karung kotoran ayam, isi air setinggi kurang lebih 40 cm dan rendam selama 5 hari tanpa aliran air. Hal ini dimaksudkan agar plankton dan sumber makanan alami Ikan Karper tumbuh di kolam pendederan. Untuk ukuran kolam tanah 100 m2 tebar 100.000 ekor larva pada pagi hari, berikan makanan tambahan berupa tepung pelet atau pelet yang telah digiling halus.
Pada usia telah mencapai 3 minggu bibit Ikan Karper siap dipanen dengan ukuran 1 Kg isi ± 100 ekor bibit. Apabila di pasarkan harga 1 Kg berkisar Rp.25.000,00 s/d Rp.30.000,00 disamping itu juga dibesarkan dan dipelihara pada kolam pembesaran.
Baca SelengkapnyaUSAHA PEMBENIHAN IKAN MAS DI PATI JAWA TENGAH

BUDIDAYA IKAN BANDENG AIR TAWAR SISTEM POLIKULTUR DI PATI JATENG

Pengembangan potensi wilayah di desa Talun, kecamatan Kayen, Kabupaten Pati Jawa Tengah
Bandeng merupakan salah satu komoditas bidang perikanan yang terkenal dan mudah didapat dimana-mana, dalam program Industrialisasi perikanan ikan bandeng menjadi komoditas unggulan pada industrialisasi Mina Politan, disamping itu banyak permintaan untuk konsumsi ataupun untuk sebagai umpan pancing kapal-kapal ikan di Bali.
Ikan bandeng atau dengan nama Latin Bandeng Chanos-chanos forks. Bandeng memiliki sifat Euryhalien artinya bandeng memiliki sifat bisa hidup pada salinitas yang berubah-ubah mulai dari 15 0 / 00  - 20 0 /00 tetapi bisa hidup dan besar pada salinitas 0 0 / 00, atau mulai di tengah laut bila dewasa dan menepi kalau mau memijah di alam dan bertelur,  sehingga bandeng bisa dibudidayakan di payau maupun air tawar. Kebutuhan Nener bandeng diambil dari alam dan hasil dari pembenihan atau backyard. Nener bandeng berasal dari daerah pesisir hasil tangkapan, sedangkan nener dari pemijahan berasal dari industri atau Hachery pembenihan Gondol Bali, atau didapat dari alam.
Bandeng termasuk ikan herbivora memiliki usus panjang, karena memiliki kebiasaan makan berasal dari tumbuh-tumbuhan air klekap atau plankton. Tetapi sekarang telah berkembang teknologi berupa pakan untuk ikan bandeng, sehingga untuk tambak intensif pembesaran bandeng memakai pakan tambahan berupa pellet.
Usaha pembesaran ikan bandeng air tawar bisa dilakukan di kolam tanah dan tambak air payau dengan luasan kolam yang cukup. Tenik budidaya dapat dilakukan secara monokultur maupun polikultur, tetapi pada air tawar sistem yang diterapkan dengan polikultur. Untuk sistem polikultur di tambak air payau dicampur dengan udang windu, sedangkan untuk budidaya bandeng air tawar polikultur dicampur dengan, ikan Nila dan ikan Karper/ Tombro, dan ikan patin.
Pada budidaya ikan bandeng air tawar pakan dari alami berupa plankton yang di tumbuhkan dari penambahan pupuk Urea dan SP-36, dengan dilakukanya pemupukan ini bisa menumbuhkan phytoplanton untuk makanan ikan bandeng dan ikan lainya dalam polikultur seperti nila, tombro/ karper. Pengunaan pupuk pabrikan semakin lama semakin meningkat dosisnya sehingga perlu di lakukan pengendalian dampaknya, untuk itu perlu di berikan pupuk organik agar penumbuhan plankton secara organik dan tidak berdampak pada kekurangan unsur hara yang lainya. Karena dengan pemupukan anorganik berupa pupuk Urea dan SP-36 unsur hara mayoritas segera memang bisa terpenuhi, tetapi unsur hara makro dan mikro lainya tidak terpenuhi disampaing itu pupuk organik mengandung unsur mikroba pengurai yang sangat berdampak positif pada kolam.
A. Cara-cara budidaya di kolam :
1. Cara Budidaya intensif
Cara intensif yaitu dengan mengembangkan teknis budidaya ikan bandeng air tawar sistem polikultur, mempergunakan teknis yang lebih maju, tepat guna dan berdaya hasil tinggi, misal dengan penambahan pakan.
2. Cara budidaya ekstensif
Caraekstensif berbudidaya ikan bandeng air tawar sistem polikultur dengan menambah luasan tambak dengan teknis sederhana.
B. Wadah budidaya
1. Di kolam air tawar
2. Di tambak air payau
C. Pemasaran hasil :
1. Penjualan benih dalam bentuk nener atau bentuk ukuran glondong sudah berupa bandeng air tawar.
2. Penjualan ikan konsumsi, bandeng, nila, karper, patin dan ikan hias Koi, Comet, Koki.
3. Penjualan ikan Bandeng olahan cabut duri.
Indikator Keberhasilan :
Apabila peserta mengerti, memahami, menyelenggarakan tentang cara Budidaya sampai dengan pemasaran ikan bandeng air tawar setelah selesai pelatihan.
D.  Tahapan Budidaya :
1. Persiapan lahan.
2. Pemilihan benih yang berkualitas CPIB/ bersertifikat SNI.
3. Pemeliharaan ikan bandeng sistem polikultur
4. Pemanenan
Cara budidaya ikan bandeng polikultur
1. Persiapan lahan.
Persiapan budidaya dengan pengeringan dasar kolam bila musim kemarau tanah sampai retak retak permukaanya, atau bila penghujan dengan di bakar jerami pada permulaan kolam.  Dengan tujuan untuk menguapkan sisa gas beracun pada kolam dan menetralisir kolam.
3.      Teknik pengisian air.
Apabila kolam telah dikeringkan di bawah terik matahari sampai retak-retak ± 1 minggu s/d 10 hari, maka bau busuk mulai hilang artinya gas beracun menguap dan bahan yang sifatnya organik terurai.
4.      Pengapuran dan pemupukan organik
Tanah kolam yang telah kering di berikan pengapuran untuk meningkatkan pH tanah guna menetralkan kondisi tanah dasar kolam dosis disesuaikan dengan kondisi derajad pH tanah, setelah dikapur kemudian diberikan pupuk organik dari kompos tumbuhan atau pupuk kandang, dengan tujuan untuk menambah unsur hara makro dan mikro agar plankton bisa tumbuh untuk memenuhi kebutuhan ikan.
5.      Pengisian air
Pengisian air kolam bisa berasal dari saluran atau sumber air dengan ketinggian ± 25 cm guna memacu pertumbuhan plankton, setelah plankton tumbuh air bisa ditambah sampai ± 50 cm.
6.      Padat tebar
Padat tebar kolam bandeng air tawar sistem polikultur 10.000 ekor / Ha, nila 5.000 ekor/ ha, tombro/ karper 5.000 ekor / ha patin 1.000 ekor/ ha.
7.      Penebaran dengan teknik aklimatisasi/penyesuaian suhu air tambak.
Waktu tebar benih dianjurkan pagi atau sore hari, ketika benih akan di tebarkan di kolam di aklimatisasi dahulu, caranya benih ikan dalam plastik yang berisi oksigen dimasukan dalam air kolam dan dibiarkan sampai beberapa menit sampai bungkus plastik mengembun. Setelah plastik buram kena embun kemudian di buka tali pengikat satu per satu.
F. Pemanenan ;
1. Panen sebagian cara panen dengan cara memilih ikan yang dikehendaki
2. Panen serempak cara panen keseluruhan ikan dalam kolam tersebut.
, wilayah Pati sebelah Selatan sangat pesat. Wilayah yang dahulu terkenal kawasan banjir bila musim penghujan dan kering bila kemarau serta dulunya banyak rawa-rawa dan lahan kering yang tidak produktif atau lahan tidur. Sekarang kawasan tersebut dimanfaatan daerah bekas rawa-rawa yang tidak produktif dan marginal dapat menjadi berdaya lahan yang guna dan berhasil guna. Dengan memanfaatkan dibudidaya perikanan maka dapat menghasilkan dan bisa berkembang.
Baca SelengkapnyaBUDIDAYA IKAN BANDENG AIR TAWAR SISTEM POLIKULTUR DI PATI JATENG

IKAN NILA YANG MENJANJIKAN DI UAHAKAN PADA AIR TAWAR ATAU PAYAU

Ikan Nila (Oreochromis niloticus) merupakan ikan air tawar yang cukup popular di Indonesia. Selain bisa dibudidayakan di kolam dan jakapung berair tawar, beberapa jenis ikan nila juga bisa dibudidayakan di tambak yang berair payau. Jenis ikan nila unggul yang layak dilirik pembudidaya untuk dibudidayakan di tambak adalah Nila Salin dan Nila Srikandi, Nila Larasati.
Untuk mengoptimalkan budidaya ikan pada tambak payau di Kabupaten Pati khususnya Kecamatan Tayu telah berkembang sangat pesat budidaya ikan Nila Larasati dan ternyata cukup menjanjikan keuntunganya, dari perkembanganya usaha budidaya ikan nila salin ini berkembang secara kuantitatif dan kualitatif pembudidayanya.
Di Pati Nila Larassati merupakan strain dari Klaten Jawa Tengah dan cukup produktif.
Ikan Nila Salin  merupakan jenis ikan unggul yang dihasilkan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Disebut Nila Salin, karena nila jenis ini tahan hidup pada air salinitas tinggi hingga 20 promil sehingga jenis ikan nila ini layak dibudidayakan di tambak.
 Perekayasa Biologi dan Budidaya Ikan BPPT Husni Amarullah  menuturkan, seleksi awal untuk menemukan Nila Salin ini memang melalui uji tantang, yakni mengganti air tawar dengan air laut secara bertahap. Ikan nila yang diuji tersebut merupakan hasil dari proses seleksi persilangan (dialling crossing) dari delapan varietas ikan nila yang dimulai pada tahun 2009.
Budidaya ikan nila tidaklah sulit. Ikan nila masih satu kerabat dengan ikan mujair. Kedua ikan ini mempunyai kemiripan sifat. Mudah berkembang biak dan mempunyai kemampuan adaptasi yang baik.
Di alam bebas, ikan nila banyak ditemukan di perairan air tawar seperti sungai, danau, waduk dan rawa. Suhu optimal bagi pertumbuhan ikan nila berkisar 25-30oC dengan pH air 7-8.
Ikan nila termasuk hewan pemakan segala atau omnivora. Makanan alaminya plankton, plankton, tumbuhan air dan berbagai hewan air lainnya. Pakan buatan untuk budidaya ikan nila sebaiknya berkadar protein sekitar 25%.  Biaya pakan untuk budidaya ikan nila relatif lebih murah. Tidak seperti budidaya ikan mas atau ikan lele yang membutuhkan pakan dengan kadar protein tinggi,  sekitar 30-45%.
Untuk memulai budidaya ikan nila ada beberapa faktor penting yang harus diperhatikan, yakni pemilihan benih, persiapan kolam, pemberian pakan, hingga penanganan penyakit.
Memilih benih ikan nila
Pemilihan benih merupakan faktor penting yang menentukan tingkat keberhasilan budidaya ikan nila. Untuk hasil maksimal sebaiknya gunakan benih ikan berjenis kelamin jantan. Karena pertumbuhan ikan nila jantan 40% lebih cepat dari pada ikan nila betina.
Budidaya ikan nila secara monosex (berkelamin semua) lebih produktif dibanding campuran. Karena ikan nila mempunyai sifat gampang memijah (melakukan perkawinan). Sehingga bila budidaya dilakukan secara campuran, energi ikan akan habis untuk memijah dan pertumbuhan bobot ikan sedikit terhambat.
Saat ini banyak yang menyediakan bibit ikan nila monosex. Bila sulit mendapatkannya, bibit ikan nila monosex bisa dibuat sendiri. Caranya bisa dilihat dalam artikel budidaya pembenihan ikan nila.
Persiapan kolam budidaya
Budidaya ikan nila bisa menggunakan berbagai jenis kolam, mulai dari kolam tanah, kolam semen, kolam terpal, jaring terapung hingga tambak air payau. Dari sekian jenis kolam tersebut, kolam tanah paling banyak digunakan karena cara membuatnya cukup mudah dan biaya konstruksinya murah. Silahkan lihat cara membuat kolam tanah.
Keunggulan lain kolam tanah adalah bisa menjadi tempat tumbuh berbagai tumbuhan dan hewan yang bermanfaat sebagai pakan alami bagi ikan. Sehingga bisa mengurangi biaya pembelian pakan buatan atau pelet.
Untuk memulai budidaya ikan nila di kolam tanah, perlu langkah-langkah persiapan pengolahan tanah. Mulai dari penjemuran, pembajakan tanah, pengapuran, pemupukan hingga pengairan. Berikut langkah-langkahnya:
    Langkah pertama adalah pengeringan dasar kolam. Kolam dikeringkan dengan cara dijemur. Penjemuran biasanya berlangsung selama 3-7 hari, tergantung kondisi cuaca. Sebagai patokan, penjemuran sudah cukup bila permukaan tanah terlihat retak-retak, namun tidak sampai membatu. Bila diinjak masih meninggalkan jejak kaki sedalam 1-2 cm.
    Selanjutnya, permukaan tanah dibajak atau dicangkul sedalam kurang lebih 10 cm. Sampah, kerikil dan kotoran lainnya dibersihkan dari dasar kolam. Bersihkan juga lumpur hitam yang berbau busuk, biasanya berasal dari sisa pakan yang tidak habis.
    Kolam yang telah dipakai biasanya memiliki tingkat keasaman tinggi (pH rendah), kurang dari 6. Padahal kondisi pH optimal untuk budidaya ikan nila ada pada kisaran 7-8. Untuk menetralkannya lakukan pengapuran dengan dolomit atau kapur pertanian. Dosis pengapuran disesuaikan dengan keasaman tanah. Untuk pH tanah 6 sebanyak 500 kg/ha, untuk pH tanah 5-6 sebanyak 500-1500 kg/ha, untuk pH tanah 4-5 sebanyak 1-3 ton/ha. Kapur diaduk secara merata. Usahakan agar kapur bisa masuk ke dalam permukaan tanah sedalam 10 cm. Kemudian diamkan selama 2-3 hari.
    Setelah itu lakukan pemupukan. Gunakan pupuk organik  sebagai pupuk dasar. Jenisnya bisa pupuk kompos atau pupuk kandang. Pemberian pupuk organik berguna untuk mengembalikan kesuburan tanah. Dosisnya sebanyak 1-2 ton per hektar. Pupuk ditebar merata di dasar kolam. Biarkan selama 1-2 minggu. Setelah itu, bila dipandang perlu bisa ditambahkan pupuk kimia berupa urea 50-70 kg/ha dan TSP 25-30 kg/ha, diamkan 1-2 hari. Tujuan pemupukan untuk memberikan nutrisi bagi hewan dan tumbuhan renik yang ada di lingkungan kolam. Sehingga hewan atau tumbuhan tersebut bisa dimanfaatkan sebagai pakan alami ikan.
    Langkah selanjutnya, kolam digenangi dengan air. Pengairan dilakukan secara bertahap. Pertama, alirkan air ke dalam kolam sedalam 10-20 cm. Diamkan selama 3-5 hari. Biarkan sinar matahari menembus dasar kolam dengan sempurna, untuk memberikan kesempatan pada ganggag atau organisme air lainnya tumbuh. Setelah itu isi kolam hingga ketinggian air mencapai 60-75 cm.
Cara pengolahan kolam tanah secara lebih mendetail bisa dilihat di persiapan kolam tanah untuk budidaya ikan.
Penebaran benih ikan nila

Kolam yang telah terisi air sedalam 60-75 cm siap untuk ditebari benih ikan nila. Padat tebar kolam tanah untuk budidaya ikan nila sebanyak 15-30 ekor/m2. Dengan asumsi, ukuran benih sebesar 10-20 gram/ekor dan akan dipanen dengan ukuran 300 gram/ekor.
Sebelum benih ditebar, hendaknya melewati tahap adaptasi terlebih dahulu. Gunanya agar benih ikan terbiasa dengan kondisi kolam, sehingga resiko kematian benih bisa ditekan. Caranya, masukkan wadah yang berisi benih ikan nila ke dalam air kolam. Biarkan selama beberapa jam. Kemudian miringkan atau buka wadah tersebut. Biarkan ikan keluar dan lepas dengan sendirinya.
Pemeliharaan budidaya ikan nila
Setelah semua persiapan selesai dilakukan dan benih sudah ditebarkan ke dalam kolam, langkah selanjutnya adalah merawat ikan hingga usia panen. Tiga hal yang paling penting dalam pemeliharaan budidaya ikan nila adalah pengelolaan air, pemberian pakan dan pengendalian hama penyakit.
a. Pengelolaan air
Agar pertumbuhan budidaya ikan nila maksimal, pantau kualitas air kolam. Parameter penentu kualitas air adalah kandungan oksigen dan pH air. Bisa juga dilakukan pemantauan kadar CO2, NH3 dan H2S bila memungkinkan.
Bila kandungan oksigen dalam kolam menurun, perderas sirkulasi air dengan memperbesar aliran debit air. Bila kolam sudah banyak mengandung NH3 dan H2S yang ditandai dengan bau busuk, segera lakukan penggantian air. Caranya dengan mengeluarkan air kotor sebesar ⅓ nya, kemudian menambahkan air baru. Dalam keadaan normal,pada kolam seluas 100 m2 atur debit air sebesar 1 liter/detik.
b. Pemberian pakan
Pengelolaan pakan sangat penting dalam budidaya ikan nila. Biaya pakan merupakan komponen biaya paling besar dalam budidaya ikan nila. Berikan pakan berupa pelet dengan kadar protein 20-30%.
Ikan nila membutuhkan pakan sebanyak 3% dari bobot tubuhnya setiap hari. Pemberian pakan bisa dilakukan pada pagi dan sore hari. Setiap dua minggu sekali, ambil sampel ikan nila secara acak kemudian timbang bobotnya. Lalu sesuaikan jumlah pakan yang harus diberikan.
    Perhitungan dosis pakan budidaya ikan nila:
    Dalam satu kolam terdapat 1500 ekor ikan nila berukuran 10-20 gram/ekor.
    Rata-rata bobot ikan → (10+20)/2 = 15 gram/ekor.
    Perhitungan pakannya → 15 x 1500 x 3% = 675 gram = 6,75 kg per hari
    Cek bobot ikan setiap dua minggu untuk menyesuaikan jumlah pakan.
c. Pengendalian hama dan penyakit

Seperti telah disebutkan sebelumnya, ikan nila merupakan ikan yang tahan banting. Pada situasi normal, penyakit ikan nila tidak banyak mengkhawatirkan. Namun bila budidaya ikan nila sudah dilakukan secara intensif dan massal, resiko serangan penyakit harus diwaspadai.
Penyebaran penyakit ikan sangat cepat, khususnya untuk jenis penyakit infeksi yang menular. Media penularan biasanya melewati air. Jadi bisa menjangkau satu atau lebih kawasan kolam. Untuk penjelasan lebih jauh silahkan baca hama dan penyakit ikan nila.
Pemanenan ikan nila
Waktu yang diperlukan untuk budidaya ikan nila mulai dari penebaran benih hingga panen mengacu pada kebutuhan pasar. Ukuran ikan nila untuk pasar domestik berkisar 300-500 gram/ekor. Untuk memelihara ikan nila dari ukuran 10-20 gram hingga menjadi 300-500 gram dibutuhkan waktu sekitar 4-6 bulan.Keunggulan nila salin selain kuat menghadapi salinitas tinggi juga panen lebih cepat. Jika menebar benih berukuran 5-10 cm bobot 250 gram dicapai dalam waktu 3-4 bulan atau jika ingin 600 gram bisa ditambah tiga bulan lagi.  Oleh BPPT, nila salin telah “disoft lounching”  pada 29 November 2011. Namun belum dirilis secara resmi oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP).
 Nila Srikandi
Bila Nila Salin hasil dari rekayasa BPPT, Nila Srikandi dihasilkan oleh Balai Penelitian Pemuliaan Ikan (BPPI) Sukamandi. Nama Srikandi merupakan singkatan dari Salinity Resistant Improvement from Sukamandi.  Sesuai namanya, ikan Nila Srikandi juga memiliki ketahanan untuk dibudiayakan di perairan payau bersalinitas tinggi.
 Ikan nila Srikandi yang merupakan persilangan dari nila biru jantan (Oreochromis aureus)  dengan Nila Nirwana (O. niloticus) menjadi solusi tepat untuk memanfaatkan lahan-lahan sub optimal di sepanjang pesisir pantai. Selain toleransi yang tinggi terhadap lingkungan bersalinitas hingga 30 ppt, nila Srikandi mampu tumbuh cepat di perairan payau dan relatif tahan terhadap penyakit.
 Kepala Balitbang Kelautan dan Perikanan  Achmad Poernomo menjelaskan, nila Srikandi dirakit dengan tujuan untuk mendapatkan strain ikan nila yang mampu tumbuh cepat di perairan payau. Dari hasil pengujian nila Srikandi di tambak-tambak pantai utara Jawa seperti Karawang, Pekalongan, Tegal serta pantai selatan Yogyakarta menunjukkan perkembangan sangat baik.
 Ikan nila Srikandi memiliki karakter pertumbuhan dan sintasan yang lebih baik dibandingkan ikan nila sebelumnya yakni Nirwana dan ikan nila biru. Nila Srikandi memiliki nilai heterosis 13,44 pada karakter bobot dan 20,33 pada karakter sintasan
Di Kabupaten Pati Nila Salin
memakai strain ikan Nila Larasasti
Ikan Nila Srikandi ini, berdasarkan Keputusan Menteri KKP Nomor KEP.09/MEN/2012 telah dirilis secara resmi oleh Meneteri KKP Sharif C. Sutarjo pada tahun 2012 lalu. Setelah dirilis secara resmi, ikan nila Srikandi dapat disebarluaskan kepada masyarakat luas untuk keperluan budidaya ikan di tambak yang berair payau. (Agus Rochdianto, Penyuluh Perikanan di BP4K Tabanan, Bali)

Baca SelengkapnyaIKAN NILA YANG MENJANJIKAN DI UAHAKAN PADA AIR TAWAR ATAU PAYAU