Wednesday, July 10, 2013

PERBANYAKAN INDUK NILA NIRWANA

July 10, 2013 Posted by Media Penyuluhan Perikanan Pati 2 comments





Budidaya nila NIRWANA (Nila Ras Wanayasa) dimulai tahun 2007 pasca direlease oleh Menteri Kelautan dan Perikanan.  Ikan ini merupakan hasil perbaikan genetik, kerja sama antara Balai Pengembangan Benih Ikan Air Tawar (BPBIAT) Wanayasa. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Institut Pertanian Bogor (IPB). Secara umum, teknik budidaya nila Nirwana tidak jauh berbeda dengan jenis nila lainnya.
Nila Nirwana salah satu strain ikan yang termasuk baru, jenis ikan nila (Orecrhomis niloticus) ini memiliki beberapa keunggulan. Di Desa Talun, kecamatan Kayen, Kabupaten Pati ikan nila sangat banyak dan mudah di budidayakan serta dengan biaya produksi yang murah. Tanpa mengeluarkan biaya pakan buatan untuk membudidayakan ikan nila, tetapi untuk pembenihan ikan nila maupun pendederan ikan nila membutuhkan pakan ikan yang cukup. Dengan lahan yang begitu luasnya maka ikan nila bisa dibudidayakan hanya menggunakan pakan alami yaitu, plankton.Tujuan perbanyakan calon induk ikan Nila Nirmala, adalah dapat induk jenis unggul dari induk hasil dari induk pemuliaan.
Nila nirmala mengacu pada ()nila ras wanayasa, nila Nirmala merupakan hasil seleksi famili dari Nila gift ( genetic improvement farm tilapia) dan nila get (genetically enchanceh tilapia) dari Filipina. Untuk menghasilkan nila nirwana dilakukan seleksi dengan menggunakan metode “seleksi famili” nila gift dan 24 famili nila get. Untuk memproduksi induk yang dilaksanakan mengacu pada protokol P.07. Perbanyakan calon induk ikan nila yang dikeluarkan oleh Pusat Pengembangan Induk Ikan Nila Nasional (PPIIN) tahun 2010.
a.       Sejarah dan asal-usul
Ikan nila pertama kali di datangkan dari Taiwan ke Bogor (Balai Perikanan Air tawar) pada tahun 1969. Setahun kemudian ikan ini baru disebarkan ke beberapa daerah. Pemberian nama nila berdasarkan ketetapan Direkturjendral Perikanan pada tahun 1972, nama species ini diambil dari nilotica kemudian di ubah mnjadi nila. Nama nilotica menunjukan daerah asal dari ikan ini, yaitu sungai Nil di benua Afrika. Secara alami ikan nila mengadakan migrasi dari habitata aslinya di sungai Nil di Uganda (bagian hulu syngai Nil). Karena campur tangan manusia ikan nila sekarang ada dimana-mana, antara lain di ; benua Afrika, Amerika, Eropa, Asia dan Australia.
b.      Klasifikasi
Pada awalnya ikan nila di golongkan dalam jenis Tilapia nilotica atau ikan dari golongantilapia yang tidak mengerami telur danlarva di dalam mulut induknya. Dalam perkembangan selanjutnya para pakar perikanan menggolongkan dalam jenis Sarotherodon niloticus atau kelompok ikan tilapia yang mengeram telur dan larvanya di mulut induk jantan maupun betina. Berikut ini klasifikasinya.
Fillum                   : Chordata
Subfillum             : Vertebrata
Kelas                    : Pisces
Subkelas               : Acanthopterigii
Ordo                     : Perciformes
Familia                 : Cichlidae
Genus                   : Oreochromis
Species                 : Orechromis niloticus
Nama asing          : nila tilapia
Nama lokal           : nila
Untuk mendapatkan induk nila jenis unggul diperlukan beberapa prosedur dalam pengelolaannya.
1.      Persyaratan kualitas air.
a.       Oksigen terlarut          : 4 -5 0/00 atau 4 – 5 gr/lt
b.      pH                               : 6,5 – 8,5
c.       Suhu                            : 24 – 300C
d.      Alkilinitas                    : > 50 mg/liter Ca Co3
e.       NO2-N                         : < 0,001 mg/liter
2.      Kolam
a.       Luas kolam minimal   : 300 – 500 m2
b.      Kedaaman air             : 75 – 100 cm
c.       Debit                          : 0,5 – 1 liter/detik
3.      Alat dan Bahan
a.       Alat
Hapa berukuran 1 x 1 x 1 m2, mata jaring 1 mm2
Hapa penampungan larva 2 x 2 x 1 m2, mata jaring 1mm2
Kantong jaring penampingan induk sementara
Alat grading diameter lubang 2mm atau waring bermata jaring 4 mm.
Hapa hitam penampungan sementara hasil panen untuk  benih 4 x 2 x 1 m2, dengan mata jaring 2 mm
Ember plastik volume 40 lt dan 10 lt
Lambit diameter 30 cm
Serok / scoop net
b.      Bahan
Induk ikan nila hasil pemuliaan / induk unggul populasi awal minimal 400 ekor betina dan 250 ekor jantan.
Pakan pellet berprotein 28 – 30 %.
Kapur pertanian ( 25 – 50 gr/m2 dan pupuk organik 250 – 500 gr/m2)
Garam dapur 5 gr/lt
Prosedur kerja :
1. Pematangan Gonad
Pematangan  Gonad di kolam tanah
Pematangan gonad  nila Nirwana bisa dilakukan di kolam tanah. Caranya, siapkan kolam ukuran 500 m2; keringkan selama 2 – 4 hari dan perbaiki seluruh bagian kolam; isi air setinggi 60 – 80 cm dan alirkan secara kontinyu; masukan 400 ekor induk; beri pakan tambahan (pelet) sebanyak 3 persen/hari (3 kg) setiap hari. Catatan : induk jantan dan betina dipelihara terpisah.
Pematangan gonad  juga bisa dilakukan di bak. Caranya, siapkan bak tembok ukuran panjang 6 m, lebar 4 m dan tinggi 1 m; keringkan selama 2 – 4 hari; isi air setinggi 80 – 100 cm dan alirkan secara kontinyu; masukan 100 ekor induk; beri pakan tambahan (pelet) sebanyak 3 persen/hari.
2. Seleksi induk
Seleksi induk dilakukan dengan melihat tanda-tanda pada tubuh. Tanda induk betina : tubuh memanjang; warna agak kusam; perut agak gendut, gerakan lamban, lubang kelamin ada dua dan mebulat, satu lubang telur, satu lubang kencing dan berukuran 300 – 500 gram. Tanda induk jantan : tubuh membulat; warna cerah; bersirip kemerahan; gerakan lincah, satu buah lubang kelamin yang memanjang, terkadang keluar cairan putih bening bila dipijit lubang kelaminnya, dan berukuran antara 400 – 500 gram.
3.    Pemijahan
Cara I
Pemijahan dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan kolam ukuran 500 m2; perbaiki seluruh bagiannya; keringkan selama 3 – 5 hari; isi air setinggi 40 – 60 cm dan alirkan secara kontinyu; masukan 300 ekor induk betina; masukan pula 100 ekor induk jantan; biarkan memijah; panen larva dilakukan pada hari ke 14 – 20 dengan sekup net di permukaan kolam.
Cara  II
Pemijahan dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan kolam ukuran 500 m2; buat kobakan di dasar kolam (di salah sudut dekat pintu pembuangan), dengan ukuran panjang panjang 4 m, lebar 2 m dan tinggi 1 m; perbaiki seluruh bagiannya; keringkan selama 3 – 5 hari; isi air setinggi 40 – 60 cm dan alirkan secara kontinyu; masukan 300 ekor induk betina; masukan pula 100 ekor induk jantan; biarkan memijah.
Panen larva dilakukan pada hari ke 14 pagi hari, dengan cara mengeringkan kolam. Induk akan tertampung dalam kobakan dan agar tidak mabuk, beri aliran dari kolam sebelah. Sementara larva akan naik menuju aliran air dari pintu pemasukan dan akhirnya akan tertampung dalam kemalir. Penangkapan larva dilakukan pada kubangan depan pintu pengeluaran.
Setelah larva tertangkap semua, seluruh bagian kolam diperbaiki, permukaan pematang yang bocor ditutup, kemalir tengah digali lagi (lebar 40 dan tinggi 10 cm), permukaan tanah dasar (bekas sarang pemijahan) diratakan. Kolam yang sudah diperbaiki dijemur hingga sore hari. Pada sore itu juga kolam diisi air lagi hingga ketinggian semula. Panen dilakukan 14 hari kemudian, dan terus dilakukan setiap 14 hari sekali.
Cara III
Pemijahan dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan kolam ukuran 500 m2; perbaiki seluruh bagiannya; keringkan selama 3 – 5 hari; isi air setinggi 40 – 60 cm dan alirkan secara kontinyu; masukan 300 ekor induk betina; masukan pula 100 ekor induk jantan; biarkan memijah; tebar pupuk (kotoran ayam atau puyuh) pada hari ke 12; biarkan pupuk itu bereaksi hingga tumbuh pakan alami; setelah itu, seluruh induk betina yang sedang mengerami akan mengeluarkan larvanya hingga larva tersebar pada seluruh permukaan air kolam; biasanya terjadi pada hari ke 16; tangkap larva dengan scoop net di permukaan kolam hingga habis.
4.      Pendederan
Pendederan I
Pendederan pertama dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan kolam ukuran 500 m2; keringkan 4 – 5 hari; perbaiki seluruh bagiannya; buatkan kemalirnya; ratakan tanah dasarnya; tebarkan 5 – 7 karung kotoran ayam; isi air setinggi 40 cm dan rendam selama 5 hari (air tidak dialirkan); tebar 50.000 ekor larva pada pagi hari; setelah 2 hari, beri 1 – 2 kg tepung pelet atau pelet yang telah direndam setiap hari; setelah 2 minggu, sebar ke kolam lain bila penuh; panen dilakukan setelah berumur 3 minggu.
Pendederan II
Pendederan kedua dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan kolam ukuran 1.000 m2; keringkan 4 – 5 hari; perbaiki seluruh bagiannya; buatkan kemalirnya; ratakan tanah dasarnya; tebarkan 10 – 15 karung kotoran ayam ; isi air setinggi 40 cm dan rendam selama 5 hari (air tidak dialirkan); tebar 40.000 ekor (telah diseleksi); beri 3 – 5 kg tepung pelet atau pelet yang telah direndam setiap hari; panen setelah berumur sebulan.
Pendederan III
Pendederan ketiga dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan kolam ukuran 1.000 m2; keringkan 4 – 5 hari; perbaiki seluruh bagiannya; buatkan kemalirnya; ratakan tanah dasarnya; tebarkan 10 – 15 karung kotoran ayam ; isi air setinggi 40 cm dan rendam selama 5 hari (air tidak dialirkan); tebar 20.000 ekor ukuran 5 – 8 cm (telah diseleksi); beri 3 – 5 kg tepung pelet atau pelet yang telah direndam; panen setelah berumur sebulan.
5.      Pembesaran
Pembesaran di kolam tanah
Pembesaran nila Nirwana bisa dilakukan di kolam tanah. Caranya : siapkan sebuah kolam ukuran 1.000 m2; perbaiki seluruh bagiannya; tebarkan 10 – 15 karung kotoran ayam atau puyuh; isi air setinggi 60 cm dan rendam selama 5 hari; masukan 50 kg benih (10.00 ekor ukuran 10 – 12 cm atau 20 gram/ekor atau disebut juga sangkal) hasil seleksi; beri pakan 3 persen setiap hari, 3 kg di awal pemeliharaan dan bertambah terus sesuai dengan berat ikan; alirkan air secara kontinyu; lakukan panen setelah 3 bulan. Sebuah kolam dapat menghasilkan ikan konsumsi sebanyak 200 – 300 kg.

2 comments: