Monday, July 8, 2013

BUDIDAYA BELUT SAWAH UNTUK KONSUMSI

July 08, 2013 Posted by Media Penyuluhan Perikanan Pati No comments


Budidaya belut belum banyak dilakukan di kolam-kolam, tetapi hanya ada di beberapa daerah yang telah biasa di budidayakan. Pada sentra belut bisa berproduksi rutin dan sangat diminati konsumen. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kini makin  dilirik oleh pelaku agribisnis. Budidaya belut sawah untuk konsumsi, bisa dibudidayakan dengan masa budidaya selama 2-3 bulan. Pada saat ini perkembangan pengolahan belut telah banyak di mana-mana, kripik belut, goreng belut, semur belut, serta berbagai makanan bergizi jenis olahan lainnya.
 Manfaat dari budidaya belut yaitu:
1.      Sebagai penyediaan sumber protein hewani.
2.      Sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
3.      Sebagai obat penambah darah
Deskripsi Belut Sawah
Di Indonesia dikenal ada tiga jenis ikan yang disebut dengan belut. Ketiga jenis ikan tersebut adalah Monopterus albus Zuiew, Synbranchus bengalensis Mc. Clellland, dan Macrotema caligans Cantor. Monopterus albus Zuiew di Indonesia dikenal dengan sebutan welut, lindung. Sementara itu, Synbranchus bengalensis Mc. Clellland, di Indonesia dikenal dengan sebutan kirai. Sedangkan Macrotema caligans Cantor di Indonesia dikenal dengan istilah belut. Ketiga jenis belut di atas termasuk dalam Family Synbranchidae dan Ordo Synbranchoidea. Dari ketiga jenis belut tersebut, Monopterus albus termasuk dalam jenis belut sawah yang sering dijumpai di lahan-lahan persawahan.
Tubuh belut sawah berbentuk bulat panjang seperti ular, tetapi tidak memiliki sisik. Belut sawah memiliki sirip punggung serta sirip dubur. Sirip-sirip tersebut berbentuk lipatan-lipatan kulit tanpa jari sirip. Belut sawah tergolong binatang hermaprodit protogyni. Daur hidupnya dimulai dari masa juvenil (hermaprodit), berkembang menjadi belut betina, selanjutnya masuk dalam masa inter-sex, kemudiian berkembang lagi menjadi belut jantan.
Sistematika belut sawah :
Kingdom                     : Animalia
Sub-kingdom              : Metazoa
Phyllum                       : Chordata
Sub-phyllum Vertebrata          :Craniata)
Class                            : Pisces
Sub-class                     : Teleostei
Ordo                            : Synbranchoidea
Familia                        : Synbranchidae
Genus                          : Monopterus
Species                        : Monopterus albus
Ciri-ciri induk jantan yang baik dan siap memijah
1)    Ukuran panjang lebih dari 40 cm
2)    Permukaan kulit bewarna gelap atau abu-abu
3)     Bentuk kepala tumpul
4)     Usianya di atas sepuluh bulan
5)     Ukuran kepala lebih besar
6)     Sisi perut kasar dan tidak bening
Ciri-ciri induk betina yang baik dan siap memijah
1)    Berukuran panjang antara 20-30 cm
2)    Permukaan kulit bewarna lebih cerah atau lebih muda
3)    Bentuk kepala runcing dan lebih kecil
4)    Warna punggung hijau muda dan warna perut putih kekuningan
5)    Usianya di bawah sembilan bulan
Cara berkembang biak
Secara alami, belut berkembang biak satu tahun sekali dengan masa perkawinan yang sangat panjang, yaitu permulaan musim hujan sampai permulaan musim kemarau (lima bulan).  Perkawinan belut biasanya terjadi pada malam hari di bawah suhu 280C.
Pada musim kawin, belut jantan tampak berbondong-bondong ke perairan dangkal membuat lubang untuk kawin.  Lubang ini berbentuk huruf U.  Belut jantan akan membuat gelembung-gelembung di permukaan air lubang ini.  Gelembung ini digunakan untuk menarik perhatian lawan jenis untuk datang ke lubang.
Setelah betina yang dinanti tiba, sepasang induk belut tersebut akan bercumbu untuk melakukan perkawinan.  Ketika kawin, telur dari betina dikeluarkan disekitar lubang di bawah busa yang mengapung pada permukaan air dan induk jantan akan mengeluarkan spermanya untuk membuahi telur tersebut.  Seekor induk betina dapat bertelur 50-400 butir. Telur yang sudah dibuahi dicakup belut jantan untuk disemburkan dan diamankan di dalam lubang persembunyian. Kemudian belut betina akan segera meninggalkan lubang karena belut jantan menjadi sangat pemberang ketika menjaga telur-telurnya.
Jika dalam wadah budidaya, untuk mengetahui apakah induk sudah bertelur maka diadakan pemeriksaan terhadap induk. Jika dipermukaan kolam sudah terdapat gelembung-gelembung busa, berarti pemijahan akan segera dimulai. Agar memudahkan dalam penangkpan benih nantinya, bagian yang berbusa diberi tanda dengan menancapkan bambu atau kayu kecil. Busa ini akan hilang dalam waktu 10 hari. Itu berarti belut telah selesai kawin. Telur-telur yang dihasilkan akan menetas dalam waktu 10 hari kemudian.
Penetasan
            Telur-telur belut di alam bebas dan wadah budidaya akan menetas 9-10 hari setelah dibuahi pada air dengan suhu antara 28-320C.  Anak belut yang menetas untuk sementara diasuh oleh induk jantan. Biasanya, dari 50-400 butir telur yang dibuahi hanya 100-200 diantaranya yang berhasil menetas. Jika di dalam kolam budidaya, telur yang telah berumur 5 hari harus segera dipindahkan dari induknya ke kolam pemeliharaan larva.
Pemeliharaan larva
Selain plankton dan jasad renik hasil pemupukan di kolam, larva belut dapat diberi makanan tambahan berupa kutu air,  jentik nyamuk, udang renik, pelet, atau kuning telur rebus. Udang renik bisa diperoleh dari kolam, genangan air, atau bak pengkulturan. Pelet harus ditumbuk terlebih dahulu sebelum diberikan. Kuning telur harus diremas-remas terlebih dahulu, tujuannya agar larva belut dapat dengan mudah memakannya.Lingkungan hidup belut sawah
Belut sawah hidup di daerah persawahan dan parit-parit sawah. Belut sawah hidup di daerah lumpur atau tanah becek sampai kedalaman berkisar 10 cm dengan cara menggali lubang seperti terowongan berliku dengan pola sarang menyerupai huruf U. Belut sawah menyukai media dingin sebagai tempat tinggalnya. Suhu optimal saat budidaya belut sawah berkisar antara 21 – 27 derajat celsius. Apabila mengalami kenaikan temperatur air, maka belut sawah akan meninggalkan tempat tersebut. Belut sawah mampu hidup di perairan dengan kandungan oksigen terlarut rendah, karena belut sawah selain bernapas menggunakan insang juga memiliki alat pernapasan tambahan berupa lipatan-lipatan kulit tipis dalam rongga mulutnya.
Kandungan gizi belut sawah per 100 gram
Belut selain rasanya enak dan banyak mengandung vitamin, juga mengandung kalori tinggi. Dalam 100 gram belut, mengandung kalori 303 gram, protein 14 gram, lemak 27 gram, kalsium 0,02 gram, besi 0,001 gram, vitamin A 1,6 gram, vitamin B1 0,0001 gram, vitamin C 0,002 gram serta mengandung air 58 gram.
Bak Budidaya Belut Sawah
Bak yang digunakan untuk budidaya belut sawah berukuran panjang 3m, lebar 1 m, kedalaman 1,2 m dimana sedalam 0,7 m berada dalam tanah, tujuannya agar media bak selalu dalam keadaan dingin.
Persiapan Media Budidaya Belut Sawah
Perlu persiapan media budidaya belut sawah disusun dari bawah ke atas meliputi lumpur dari sawah, jerami, pupuk kandang fermentasi, pelepah pisang, dedak halus, dilapisi lumpur sawah. Susunan media tersebut tersusun hingga ketebalan 40 cm. Setelah tersusun media digenangi dengan air dengan ketinggian 60 cm dari dasar kolam, selama kurang lebih 1 bulan. Tujuannya agar proses pelapukan berjalan sempurna. Perlu sesekali dilakukan penggantian air agar media memperoleh oksigen terlarut cukup. Disamping itu penggantian air juga bertujuan untuk menghilangkan buih-buih hasil pelapukan. Untuk mengontrol apakah proses pelapukan sudah sempurna atau belum dapat dilakukan dengan memasukkan jentik-jentik nyamuk dalam media. Apabila jentik-jetik nyamuk tersebut mati, berarti proses pelapukan belum sempurna.
Setelah bak beserta medianya budidaya belut sawah selesai dipersiapkan dan dinyatakan proses pelapukan sudah sempurna, maka penebaran belut dapat dilakukan.
Budidaya Belut Tahap I
Pada budidaya belut tahap I, benih yang ditebar berukuran 5 – 8 cm dengan padat penebaran 150 ekor/m2. Setelah dua bulan dipelihara benih belut sudah berukuran 15 cm. Belut siap dikonsumsi sebagai belut kering (goreng tepung) atau dipelihara pada pemeliharaan tahap II. Belut ukuran ini sangat sulit ditangkap karena sudah bisa membenamkan diri dalam lumput. Cara penangkapannya dengan memasang perangkap (bubu) yang dipasang berderet sebelum pengeringan.
Budidaya Belut Tahap II
Pada budidaya belut tahap II, benih yang ditebar adalah hasil dari budidaya belut tahap I, yaitu belut ukuran 15 cm dengan padat penebaran 25 ekor/m2. Untuk membantu pertumbuhan, perlu diberikan pakan tambahan berupa cacing tanah, bekicot, atau sisa-sisa dapur. Setelah dua bulan, belut sudah berukuran 25 – 20 cm. Belut ukuran ini siap untuk dikonsumsi, selain itu juga paling banyak dicari konsumen.
Pemberian Pakan pada Budidaya Belut Sawah
Budidaya belut sawah dalam jangka waktu kurang dari 4 bulan tidak memerlukan pakan tambahan karena belut sudah cukup memperoleh makanan dari media yang dibuat. Untuk menjunjang pertumbuhannya, pemberian pakan tambahan seperti di atas bisa dilakukan. Pemberiannya jangan berlebihan. Sampai saat ini belum ada penelitian mengenai jenis, kuantitas, serta kualitas pakan belut sawah.
Panen Belut
Panen belut sawah dilakukan dengan mengambil lumpur media budidaya belut. Dengan pengambilan lumpur, maka belut akan merasa terancam, dan menyingkir ketempa lain yang lebih aman. Setelah lumpur habis maka belut sawah tinggal diambil untuk dipindahkan ke wadah penampungan.




0 comments:

Post a Comment