Sunday, March 20, 2016

MENGURANGI KANIBALISME IKAN LELE

March 20, 2016 Posted by Media Penyuluhan Perikanan Pati No comments
Lele adalah ikan omnivora yang kadang bersifat kanibal apabila kurang mendapat makanan. Mereka tidak segan untuk memangsa lele lain di sekitarnya yang memiliki ukuran tubuh lebih kecil dan lebih lemah. Bagi peternak, masalah kanibalisme lele ini bisa mengurangi jumlah lele dan akhirnya menimbulkan kerugian.
Apabila tidak segera ditanggulangi, kolam yang awalnya berisi ribuan lele, lama-kelamaan akan tersisa ratusan saja karena telah saling memakan. Beberapa solusi untuk meminimalisir kanibalisme lele adalah sebagai berikut.
Melakukan sortir setiap 2 minggu sekali
Ikan lele yang telah berumur 2 minggu perlu dilakukan penyortiran untuk memisahkan berdasarkan ukuran yang sama. Lele-lele ini dipisahkan berdasarkan ukuran agar tidak terjadi kanibalisme dimana yang besar memakan yang lebih kecil. Kegiatan penyortiran ini dapat dilakukan 2 minggu sekali untuk menghasilkan populasi lele yang seragam dalam 1 kolam. Penyortiran dapat dilakukan dengan menggunakan ember khusus sortir yang memiliki lubang dengan ukuran tertentu.
Membuat kondisi kolam keruh
Kolam yang keruh akan mengurangi jarak pandang lele dan mengurangi tingkat kanibalismenya. Keruh yang paling baik adalah keruh air yang berwarna hijau karena ditumbuhi alga yang bermanfaat. Selain itu, kekeruhan karena sistem bioflok sehingga air berwarna merah juga sangat baik bagi ikan. Apabila kedua kondisi di atas tidak memungkinkan, dapat dilakukan dengan menambahkan sedikit lumpur pada kolam agar kolam menjadi agak keruh. Namun keruh disini berbeda dengan kotor, air yang kotor karena materi organik seperti kotoran justru dapat mematikan lele.
Memberikan pakan yang cukup
Alasan utama lele menjadi kanibal adalah karena kurangnya jumlah pakan yang diberikan peternak. Dengan memberikan pakan dalam jumlah cukup, ikan tidak akan kelaparan dan mengurangi sifat kanibalnya. Pengaturan jumlah pakan yang baik sangat penting diperhatikan oleh peternak agar lele mencapai pertumbuhan optimal dan terhindar dari kanibalisme. Baca juga Standar Pemberian Pakan Lele. Ikbal Hadi, mahasiswa  Departemen Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB bersama empat rekannya Asep El Qusairi, Ruly Ratannanda, M. Hasyim Al Abror, dan Rezi Hidayat melakukan penelitian bertajuk Efektivitas Pemberian Ekstrak Buah Mengkudu Morinda cirtifolia L. Melalui Pakan Alami Terhadap Sifat Kanibalisme Benih Ikan Lele Clarias sp. Pada Sistem Budidaya Intensif. Penelitian itu berfokus bagaimana mengurangi kanibalisme ikan lele. Salah satu cara yang ditemuinya adalah dengan mengkudu.
“Riset yang dilakukan oleh Hseu J.R., pada juvenil ikan kerapu membuktikan bahwa kanibalisme dipengaruhi oleh tingkat konsentrasi hormon serotonin pada otak,” kata Ikbal Hadi baru-baru ini.Melalui riset intensif yang dilakukan oleh para ilmuwan di laboratorium, mengkudu menunjukkan keunggulan luar biasa. Mengkudu mengandung zat scopoletin yang berguna dalam peningkatan kegiatan kelenjar peneal di dalam otak, yang merupakan tempat dimana serotonin diproduksi dan kemudian digunakan untuk menghasilkan hormon melatonin.Serotonin adalah salah satu zat terpenting di dalam butiran darah (trombosit) yang melapisi saluran pencernaan dan otak. Di dalam otak, serotonin berperan sebagai neurotransmiter penghantar sinyal saran dan prekursor hormon melatonin.Zat serotonin dan melatonin membantu mengatur beberapa kegiatan tubuh seperti tidur, regulasi suhu badan, suasana hati (mood), masa pubertas dan siklus produksi sel telur, rasa lapar dan perilaku seksual. Kekurangan serotonin dalam tubuh dapat mengakibatkan penyakit migrain, pusing, depresi, bahkan juga penyakit Alzheimer.  Ikbal Hadi menjelaskan, peningkatan hormon serotonin ini juga diduga mampu mengurangi kecenderungan sifat agresif  benih ikan lele untuk meng-kanibal. Konsentrasi hormon serotonin ini dapat dipicu oleh penambahan zat scopoletin yang salah satunya terkandung dalam buah mengkudu. Metode yang dilakukan untuk menekan tingkat kanibalisme larva ini adalah dengan bioenkapsulasi melalui pakan alami yang merupakan pakan yang diberikan pada larva.
Bioenkapsulasi adalah proses dimana suatu komponen aktif dalam makanan dikemas secara kompak dalam partikel-partikel cair atau padat, atau dibungkus di dalam materi penyelubung.Bioenkapsulasi dilakukan dengan merendam pakan alami yang diberikan pada larva dalam larutan mengkudu selama beberapa jam setiap harinya kemudian langsung diberikan kepada larva. Pakan alami yang digunakan sendiri adalah Daphnia sp., Artemia sp., dan Cacing Sutera yang diberikan  sesuai umur larva.(api)
Lele yang kanibal bisa menimbulkan produksi usaha langsung anjlok. Salah dalam penanganan dan penanggulangan bisa menjadi kesalahan fatal. Bagaimana menanganinya?
1.   Lakukan Sortir
Dasar alamiah dari ikan lele adalah carnivora atau pemakan daging. Tak salah jika sejak umur benih ikan lele sudah belajar menjadi pemangsa. Hal ini menimbulakn angka mortalitas benih ikan lele meningkat.
Ikan lele ukuran benih cenderung memiliki pertumbuhan yang tidak seragam. Hal ini depengaruhi oleh berbagai faktor seperti kualitas indukan, faktor gen, pemberian pakan yang tidak merata, penyakit, dan lain sebagainya.
Semakin tidak seragam ukuran benih ikan lele akan mendorong semakin meningkatnya peluang proses terjadinya saling memangsa (kanibal). Siapa yang lebih kuat dia akan menjadi predator. Ukuran benih yang lebih besar cenderung akan memangsa benih ukuran yang lebih kecil. Benih ikan yang telah memangsa benih yang kecil dia akan memiliki asupan pakan yang lebih cukup, sehingga pertumbuhannya akan lebih cepat. Benih ikan yang memiliki ukuran lebih kecil tidak akan mampu memangsa yang lebih besar namun akan lebih memiliki ketakutan akan dimangsa. Akibatnya benih ikan yang berukuran lebih kecil akan kesulitan untuk berebut makanan dan ruang gerak, sehingga lama kelamaan akan mengalami pertumbuhan yang lebih lambat. Hal itu yang menyebabkan benih ikan lele menjadi semakin tidak seragam. Benih ukuran lebih besar semakin tumbuh dengan pesat sedangkan benih yang berukuran lebih kecil akan semakin ketinggalan (kuntet).
Dengan melihat kebiasaan alamiah dari ikan lele diaatas, upaya yang mudah dan juga murah untuk menangani agar benih ikan lele agar tidak saling memangsa adalah dilakukan sortir. Upayakan semaksimal mungkin benih ikan dalam satu wadah budidaya memiliki ukuran yang seragam.  Dengan ukuran yang seragam, benih ikan akan memiliki peluang dalam memangsa, berebut makanan, dan juga ruang gerak yang sama. Sehingga cenderung akan memiliki pertumbuhan yang sama.
2.  Penuhi Kebutuhan Pakan
Sebagaimana telah kita ketahui bahwa benih ikan lele yang telah berhasil memangsa temannya ia akan memiliki asupan makanan yang lebih cukup, sehingga ia tumbuh lebih pesat. Untuk itu proses kanibalisme pada benih ikan lele harus segera ditangani.
Benih ikan lele akan keluar sifat kanibalnya lagi jika benih ikan sedang lapar. Karena lapar benih ikan akan memangsa temannya yang berukuran lebih kecil. Sehingga upaya untuk menangani agar benih ikan lele tidak saling memangsa adalah dengan memenuhi kebutuhan pakannya.
Upayakan setiap waktu benih ikan tidak mengalami kelaparan. Pemberian pakan lakukan secara merata, agar semua benih memiliki kesempatan makan yang sama. Lakukan pengaturan jadwal makan dengan frekuensi sesuai kebutuhan.
Pastikan dalam wadah budidaya pakan selalu tersedia. Disaat ikan lapar, pakan telah tersedia. Dengan demikian benih ikan cenderung tidak akan mencari mangsa benih ikan yang ukuran kecil.
Prinsip dalam menangani benih ikan lele agar tidak terjadi kanibal adalah menjaga agar ukuran benih dalam wadah budidaya tetap seragam dan mencukupi kebutuhan makan setiap saat. Maka dari itu tak heran jika banyak pengusaha sukses memiliki jadwal sortir dan frekuensi pemberian pakan terhadap benih ikan lele lebih banyak.

0 comments:

Post a Comment