Sunday, August 30, 2015

MEMANFAATKAN LAHAN NON PRODUKTIF DENGAN BUDIDAYA UDANG GALAH

August 30, 2015 Posted by Media Penyuluhan Perikanan Pati No comments
Di Ds. Talun Kecamatan Kayen Kabupaten kawasan yang memiliki potensi tanah bekas rawa yang sangat luas. Untuk menanggulangi masalah tersebut sekarang telah berkembang budidaya ikan Bandeng polikultur dengan areal seluas sekitar 300 Ha, Sekarang sedang dicoba budidaya udang galah di kawasan tersebut. Udang galah (Macrobrachium rosenbergii) adalah salah satu jenis udang air tawar yang merupakan komoditas perikanan asli perairan Indonesia, bernilai ekonomi tinggi dan sangat potensial untuk dikembangkan. Badan udang terdiri atas 3 bagian :kepala dan dada (Cephalothorax), badan (Abdomen) serta ekor (Uropoda).
Cephalothorax dibungkus oleh kulitkeras, di bagian depan kepala terdapat tonjolan karapas yang bergerigi disebut rostrum pada bagian atas sebanyak 11-13 buah dan bagian bawah 8-14 buah.
Udang galah hidup pada dua habitat, pada stadia larva hidup di air payau dan kembali ke air tawar pada stadia juvenil hingga dewasa. Pada stadia larva perubahan metamorfose terjadi sebanyak 11 kali dan berlangsung selama 30-35 hari.
Jenis Udang ini bersifat omnivora, cenderung aktif pada malam hari. Komoditas ini diklaim oleh berbagai negara sebagai fauna asli, antara lain oleh India dan Indonesia.
Di Indonesia, udang galah dapat ditemukan di berbagai wilayah dan masing-masing memiliki varietas dengan ciri tersendiri. Misalnya, dari Sumatera dan Kalimantan memiliki ukuran kepala besar, capit panjang, dan berwarna hijau kuning, dari Jambi memiliki ukuran kepala lebih kecil, capit kecil dan berwarna keemasan.
Peluang pasar udang galah masih terbuka luas baik di dalam maupun di luar negeri. Untuk pasar lokal, permintaan datang terutama dari wilayah yang banyak dikunjungi turis seperti Bali, Jakarta, Batam, dan Surabaya.
Sementara pasar udang ini di luar negeri telah terbentuk di Jepang, Korea, Singapura, Amerika Serikat, Kanada, Skotlandia, Inggris, Belanda, Selandia Baru, dan Australia dengan pasokan utama datang dari Thailand, Cina dan India. Ukurannya mulai 100 gr s.d. 200 gr per ekor. Bahkan udang yang tertangkap di perairan umum dapat mencapai 300 gr per ekor
Udang galah dapat dipelihara di kolam-kolam oleh para pembudidaya udang, baik secara polikultur maupun monokultur dengan biaya yang cukup rendah sehingga dapat meningkatkan penghasilan pembudidaya. (Ahira Anne 2009)
Akhir-akhir ini makin dikeluhkan oleh pebisnis udang galah bahwa pasokan udang galah makin menurun dratis dari waktu ke waktu. Di samping jumlah tangkapan yang menurun dari daerah-daerah yang biasa memasok udang galah ke pasar, ukuran udang galah tangkapanpun makin kecil dari biasanya. Keadaan seperti ini tidak hanya terjadi pada udang galah hasil tangkapan di tanah air, tapi di dunia internasionalpun demikian.
Namun demikian, keinginan untuk meningkatkan produksi di sektor budidaya masih menghadapi beberapa masalah seperti rendahnya produksi karena produksi masih dilakukan secara tradisional, teknologi budidaya yang masih rendah dan kepadatan tebar masih rendah, ditambah lagi ketersediaan lahan yang cocok untuk melaksanakan usaha budidayanya semakin berkurang sehingga teknik budidaya ke arah intensif perlu disiapkan. Produk teknologi Apartemen Udang Galah yang memiliki beberapa manfaat terhadap kehidupan udang galah di kolam diharapkan mampu mengatasi persoalan di atas.
Udang galah merupakan komoditas perikanan yang berpotensi sebagai sumber devisa negara, telah dikembangkan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indoensia (LIPI). Melalui Sarana pembenihan udang berkapasitas 3.000.000 ekor/bulan, dapat mensuplai benih kepada para petani udang di beberapa daerah di Indonesia. Dalam meningkatkan budi daya udang galah, peneliti LIPI berhasil menemukan cara agar udang galah terhindar dari sifat kanibalismenya. Yaitu dengan membangun apartemen untuk udang galah berupa bangunan dari bambu yang dibentuk secara bertingkat. Ini bisa meningkatkan produksi udang sampai 350%.
Perilaku udang yang kanibal (udang makan udang) mengakibatkan hasil pembibitan udang hanya berhasil 10%. Untuk itu para peneliti di Puslit. Limnologi LIPI membuat solusi teknologi untuk produksi udang, diantaranya dengan membentuk suatu 'apartemen udang galah'.
Menurut Dr. Ir. A. Fauzan, M.Sc, Puslit. Limnologi LIPI Cibinong, proses pembenihan udang galah dari mulai kawin hingga menetas butuh waktu sekitar 21 hari (lebih cepat dari cara konvensional yaitu 30 hari). Melalui teknologi yang dikembangkan LIPI, pembibitan udang ini berhasil hingga 50%. Cara yang dilakukan LIPI menurut Fauzan diantaranya dengan memperbaiki kwalitas induk, air, pakan, dan lingkungan. Hasilnya adalah Udang unggul yang mempunyai ukuran sama besar, lebih cepat diproduksi (21 hari), lebih cepat laku dijual, dan harganya lebih mahal.
Fauzan menjelaskan Apartemen udang galah ini merupakan suatu alat/cara untuk mengatasi masalah dan bisa meningkatkan kemampuan pembenihan/pembibitan dan perkembangbiakan serta produktivitas udang, karena tempatnya lebih nyaman dan luas. Dengan demikian mampu menyuplai benih siap tebar, benih ukuran tokolan (benih yang telah diseleksi, tumbuh cepat, penampilan bagus, masa pemeliharaan lebih pendek/cepat), dan udang ukuran konsumsi.
Keunggulan apartemen ini jelas Fauzan a.l. Sederhana, bahannya mudah didapat, harganya murah, dan usefull. Karena ruang tinggalnya makin luas, maka frekwensi pertemuan antar udang berkurang sehingga meminimalkan kanibalisme dan meningkatkan populasinya.
Pengaturan luas kamar pada Apartemen udang yang berukuran 20 x 20 x 20 Cm³ kata Fauzan, dihuni sekitar 30 ekor udang akan memberikan keamanan bagi udang dan menghindari kanibalisme. Selain itu, pemanfaatan air yang optimal, pemberian pakan dan pemeriksaan udang yang lebih efisien dan efektif, mendorong peningkatan populasinya sampai siap dipanen. Biasanya bobot udang ini akan lebih besar (tiga ekor udang per kg) dalam waktu enam bulan. Dan udang ini akan lebih cepat laku di pasaran.
Fauzan mengungkapkan dari satu hektar tebaran udang galah dengan menggunakan teknologi apartemen tersebut dapat menghasilkan 7 ton udang, yang sebelumnya hanya menghasilkan 2 ton. Ini berarti panenan meningkat 3,5 kali lipat. Dan yang penting juga, udang-udang yang hidup di apartemen terhindar dari lumpur yang ada di dasar kolam, sehingga penampilannya lebih bersih dan mudah dipasarkan.
Panti pembenihanyang dikelola LIPI juga memberikan pelatihan dan konsultasi kepada masyarakat petani ikan, perusahaan, dan instansi pendidikan (sekolah kejuruan/perguruan tinggi) dalam bentuk paket teknis pembenihan dan pengelolaan usahanya.
Proses produksi udang galah di kolam berapartemen merupakan pengembangan dari teknik budidaya udang galah pada kolam yang sudah lumrah dilakukan di petani. Bedanya terletak pada tingkat intensitas budidayanya yaitu prinsip pola penebaran benih/tokolan dari pola yang berpatokan pada jumlah ekor udang per luas kolam menjadi jumlah ekor udang per jumlah volume air kolam. Artinya dengan luas kolam yang sama, produksi udang diharapkan bisa menjadi berlipat.
Semua makhluk hidup butuh ruang yang cukup dan tempat tinggal yang aman dengan meniru habitat asli tempat tinggalnya. Kita bisa mendapatkan hasil yang berlipat ganda.
Sifat alami dari udang adalah membutuhkan tempat untuk singgah dan pada umumnya menempati bagian dasar kolam serta butuh ruang yang cukup untuk hidup atau terjadi kanibalisme di antaranya. Hal ini membatasi jumlah optimal udang yang dapat dipelihara di kolam budidaya udang galah intensif dan hasil panennya (1-2 ton / ha kolam).
Penggunaan ranting bambu, pelepah kelapa atau pisang untuk melindungi bibit udang pada proses pengembang biakan menunjukkan bahwa bibit udang ternyata merambat naik. Ini memberikan ide pembuatan apartemen dari bambu bagi udang galah dewasa dengan ukuran 20x20x20 cm dengan tinggi (jumlah tingkat) dan luas disesuaikan dengan keadaan kolam meningkatkan hasil panen beberapa kali lipat, juga keuntungan.
PEMBUDIDAYAAN UDANG
Sarana dan Fasilitas
Jenis tanah yang cocok untuk pemeliharaan Udang Galah adalah tanah yang sedikit berlumpur dan tidak poreous. Luas kolam yang digunakan dapat bervariasi antara 0,2 s/d 0,1 Ha. Sebaiknya berbentuk empat persegi panjang dengan kedalaman kolam antara 0,5 s/d 1,0 m. Dasar kolam harus rata dan dibuat kemalir (caren) secara diagonal dari saluran pemasukan sampai kesaluran pembuangan, hal ini memudahkan pemanenan. Kualitas air yang masuk ke kolam harus baik dan bebas dari polusi.
Pengelolaan Kolam
Sebelum kolam ditebar udang galah, kolam sebaiknya dipersiapkan terlebih dahulu secara baik dengan cara :
1.Kolam dikeringkan terlebih dahulu kemudian dicangkul untuk menggemburkan tanahnya dan biarkan selama 3 s/d 5 hari.
2.Untuk memberantas hama dan penyakit dasar kolam diberi kapur dengan dosis 50 s/d 100 gr/m2 , kapur dicampur dengan air kemudian disebarkan secara merata keseluruh permukaan dasar kolam dan dibiarkan selama 2 s/d 3 hari.
3.Kemudian kolam diisi dengan air mencapai kedalaman yang sudah ditentukan lalu diberi pupuk organik berupa kotoran ayam sebanyak 500-1.000 gr/m2 dengan maksud untuk menumbuhkan pakan alami.
Teknik Pemeliharaan
Benih Udang yang siap dipelihara dikolam adalah benih udang stadia juwana (juvenil / udang muda) atau tokolan.  Pemeliharaannya dapat dilakukan dengan dua cara :
1. Monokultur
Pemeliharaan secara monokultur adalah pemeliharaan udang di kolam tanpa dicampur ikan lain. Padat penebaran sebanyak 5 s/d 10 ekor/m2 bila pemberian pakan  tidak intensif dan 20 s/d 30 ekor/m2 bila pemberian pakan secara intensif.
2. Polikultur
Pemeliharaan secar polikultur adalah pemeliharaan udang dikolam disatukan dengan ikan lain. Adapun ikan yang dapat dibudidayakan bersam udang adalah Ikan mola, ikan tawes, ikan nilem, dan ikan ”big head”. Padat penebaran udang galah sebanyak 1 s/d 5 ekor/m2 ukuran tokolan, sedangkan padat penebaran ikan 5 s/d 10 ekor/m2 ukuran 5 s/d 8 cm. Selama pemeliharaan dapat dilakukan pemupukan susulan setiap 2 s/d 3 minggu dengan pupuk urea 3 s/d 5 kg dan TSP 5 s/d 10 kg/Ha kolam.
Pemberian Pakan
Selain makanan alami, selama pemeliharaan udang galah perlu diberikan pakan tambahan berupa pellet udang dengan kadar protein 25 s/d 30 % karena makanan alami yang tersedia tergantung pada tingkat kesuburan perairan kolam. Pada pemeliharaan secara monokultur jumlah pakan tambahan yang diberikan mulai 20% menurun sampai 5% dari berat badan total populasi, dengan frekuensi pemberian 4 s/d 5 kali sehari. Sedangkan pada pemeliharaan polikultur jumlah pakan tambahan yang diberikan mulai 6% menurun sampai 3% dari berat badan total populasi, dengan frekuensi pemberian 4 s/d 5 kali sehari.

0 comments:

Post a Comment