Thursday, April 10, 2014

PENGGELONDONGAN IKAN BANDENG

April 10, 2014 Posted by Media Penyuluhan Perikanan Pati No comments


Kegiatan penggelondongan nener merupakan mata rantai yang bertujuan salah satunya adalah menekan mortalitas benih karenan pengelondongan nener adalah masa awal pemeliharaan yang dianggap sebagai masa paling kritis. Usaha penggelondongan nener bukan lagi sekedar usaha sambilan di samping usaha pembesarannya tambak, melainkan sebagai usaha komersial yang harus ditangani lebih serius dan hati-hati.

Oleh karena usaha penangkapan nener dari alam sulit dilakukan sedangkan kebutuhan  atau permintaan  akan  nener meningkat  maka  diharapkan  teknik pengelolaan penggelondongan dapat lebih dikembangkan.  Salah satu metoda dalam penggelondongan nener adalah penggelondongan di petakan tambak. Usaha ini dilakukan dalam petakan tambak yang ukurannya relatif kecil (500 -
1.000 m2) atau dengan cara menyekat tambak dengan masa 3 minggu - 1 bulan.

Usaha penggelondongan telah banyak berkembang dibeberapa daerah di Indonesia,  antara  lain  di  Jawa  Timur,  Jawa  Tenah,  Jawa  Barat,  Sulawesi Selatan dan DI Aceh.          Untuk itu diupayakan membahas teknik pengelolaan penggelondongan pada tulisan ini.  Tujuan tulisan ini adalah menginformasikan kepada petani   maupun                pengusaha          mengenai            teknik   mengelola penggelondongan nener yang baik.
2.            PEMILIHAN LOKASI
Pemilihan lokasi hendaknya memperhatikan beberapa hal sebagai berikut :
1) Mempertimbangkan aspek-aspek yang berkaitan dengan lokasi seperti tata ruang, sumber air dan pengairan.  Diusahakan tidak begitu jauh dari pantai agar suhu udara yang ada dapat mendukung keberhasilan usaha pemeliharaan benih bandeng. Suhu air pada tambak berkisar antara 30 - 330C.
2) Jarak lokasi ideal dari sumber benih/nener maksimal 12 jam.  Perjalanan selama dalam pengangkutan konsumen tidak melebihi 12 jam.
3) Salah satu       faktor    yang      dapat    mengakibatkan kegagalan            usaha penggelondongan bandeng adalah persaingan penggunaan lahan antar sesama pengusaha tambak.
4) Sarana transportasi.
Kelancaran sarana angkutan terutama jalan, sangat memegang peranan penting dalam usaha penggelondongan nener ini.          Oleh sebab itu dipilih lokasi yang sarana lalu lintasnya dapat menjamin mutu nener tetap baik.
5) Jaringan listrik.
Sarana yang diperhatikan dalam memilih lokasi adalah yang dekat dengan jaringan  listrik  negara  (PLN).                Namun  untuk  usaha  penggelondongan bandeng kebutuhan listrik bisa diganti dengan alat-alat lain seperti genset.

3.            SISTEM PETAK PENENERAN
1) Petakan untuk nener.
Petakan untuk nener pada umumnya dangkal, luasnya berkisar antara 500 -
1.000 m2.  Letak petakan nener dekat dengan sumber air tawar maupun air asin.
2) Petakan untuk gelondongan.
Petakan gelondongan mempunyai areal lebih besar (luas) dan lebih dalam (1.000 - 2.000) m2.  Hal ini digunakan untuk menampung gelondongan dari petakan peneneran tempat untuk menumbuhkan gelondonan kecil (pre fingerling) atau untuk penyimpanan dan menahan gelondongan besar (post fingerling).
3) Petakan Aklimatisasi.
Petakan untuk aklimatisasi atau yang biasa disebut ipukan/baby box merupakan petakan kecil yang terbuat dalam penggelondongan dan bersifat hanya  sementara.           Ipukan  ini  dibatasi  oleh  pematang  yang  relatif  kecil (sempit dan rendah) dibangun berdekatan dengan saluran air, agar mutu lebih baik dan memudahkan pengelolannya.                Ukuran  luasnya  tergantung kepada  banyaknya  nener  yang  akan  ditebarkan  (stock).                Pada  musim kemarau temperatur udara dapat naik mencapai 330C, ipukan dapat menampung 5.000 - 10.000 ekor per m2  selama 3 hari, meskipun dibawah periode yang relatif tenang.
4) Tempat pengumpulan (tempat untuk panen)
Berupa  petakan  kecil  untuk  penangkapan  atau  kanal  yang  sempit  atau tempat untuk mengumpulkan gelondongan dalam waktu singkat.   Ikan-ikan dikumpulkan ke tempat pengumpulan dengan cara pengaturan aliran air, dari air pada saat pasang atau air dari petakan lain yang telah disiapkan sebelumnya.
Aerasi dapat diatur dengan aliran air dari tambak yang berdekatan atau dari tambak yang lain, sehingga tidak terjadi efek yang merugikan karena kekurangan oksigen,  walaupun  di  dalam  petakan  tersebut  padat  dengan ikan.  Dalam petakan ini ikan-ikan tersebut mudah dijaring dan dipindahkan ke petakan yang lain dengan cara mengunakan jaring untuk pemindahan gelondongan.  Hal ini dipermudah dengan sifat ikan bandeng yang senang menentang arus.
Petakan               untuk    nener,  gelondongan     dan        penangkapan    (pengumpulan) dilengkapi dengan pintu-pintu atau gorong-gorong, yang dipasang rapi dan diberi saringan.            Yang terutama perlu diperhatikan ialah : petakan untuk nener jangan sampai kemasukan telur-telur maupun larva predator misalnya kakap,  kerapu,  belut  dan  lain  sebagainya.                     Pada  pintu  perlu  dipasang saringan nylon yang halus atau bahan yang serupa.  Bisa juga dipergunakan saringan-saringan yang berbentuk kantong dari nylon yang halus, yang dipasang pada ujung dari gorong-gorong selama persiapan petakan untuk nener dan juga selama sepuluh hari pertama setelah penebaran nener.
PENGELOLAAN PETAKAN PENGELONDONGAN
1) Persiapan petakan untuk aklimatisasi
Beberapa hari sebelum penebaran nener bandeng, petakan aklimatisasi dipersiapkan dengan baik, pematang dilapisi dengan tanah yang lunak, dilengkapi dengan atap yang dibuat dari kisi-kisi bambu.  Pada kaki bagian dalam pematang peneneran sebaiknya diberi berm, guna memudahkan petugas tambak berada atau bertugas lebih dekat dengan perbatasan air. Berm mempunyai 2 (dua) macam kegunaan yaitu merupakan tempat untuk pembetulan bocoran-bocoran pada pematang dan menahan longsoran- longsoran tanah dari pematang.

Selanjutnya petakan dikeringkan dan perataan dasar petakan dikerjakan denan kemiringan yang dibuat menuju arah pintu air selama tanah belum keras (masih basah).  Untuk perataan tanah dapat digunakan garu dari kayu, dan dapat juga menggunakan papan yang agak panjang yang didorong oleh dua atau tiga orang.  Lubang bekas kaki ditutup, sebab kemungkinan dapat dipakai tempat untuk sembunyi ikan-ikan liar atau telurnya yang dapat tahan hidup selama pengeringan pada masa persiapan.
B. Tangkai dari kayu atau bambu
2) Kultur makanan alami
Makanan yang paling ideal bibit bandeng dan gelondongan adalah klekap, yakni kumpulan diatome dasar, alga biru, inverterbrata tingkat rendah, 200 plankton, juga diperlukan untuk melengkapi nilai gizi makanan.
Gelondongan yang lebih besar dan berukuran panjang 80 mm, sudah dapat memakan alga hijau benang atau lumut (chaetomorpha sp., Entormorpha sp., dan Cladophora sp.).
3) Kultur klekap pada musim kemarau
Musim kemarau merupakan saat yang paling baik dan cocok untuk menumbuhkan klekap sebagai makanan alami.                Setelah petakan  selesai perataannya  lalu  dibiarkan  kering  sampai  tanahnya  retak-retak.         Waktu pengeringannya diperkirakan selama 2 - 3 minggu tergantung pada tenah aslinya.
Keberhasilan atau kegagalan dalam menumbuhkan klekap yang baik dan menahannya agar tetap menempel pada dasar tembak tergantung pada derajat kekeringannya.  Pengeringan yang tidak seimbang atau pengeringan
ang kurang sempurna akan menghasilkan klekap yang mudah lepas dari tanah dan akhirnya mengambang.
Bilamana terjadi sebaliknya, terlalu lama pengeringannya sehinga lapisan permukaan tanah kekeringan, maka terjadi suatu kondisi yang sangat tidak memungkinkan untuk pertumbuhan klekap.       Pengeringan dianggap cukup bilamana kandungan air dari lapisan tanah yang tebalnya sekitar 10 cm itu kira-kira 18 - 20%.  Suatu hal yang praktis untuk mengetahinya ialah dengan jalan diatas tanah yang dikeringkan tersebut.  Bilamana tanah tersebut cukup kuat menahan orang sehingga hanya turun (tenggelam) sekitar 2 cm, berat badan orang tersebut maka pengeringan tanah dianggap telah cukup.

Pupuk   organik kemudian            ditebarkan          setelah tanah    cukup    mengeras. Kwantitasnya tergantung kepada jumlah dari kemerosotan bahan  organik dalam tanah tambak yang akan dipupuk.            Pada umumnya rata-rata tanah memerlukan 500 - 1.000 kg bekatul atau bungkil jagung per hektar; 500 -
3.000 kg kotoran ternak untuk tiap hektar tambak.  Pupuk anorganik segera ditebarkan di tanah tambak, setelah tanah tambak tersebut digenangi air pasang yang baru, sedalam kira-kira 10 cm dan pintu-pintu ditutup serta diblok dengan tanah untuk menahan air tersebut.  Beberapa petani tambak menggunakan pupuk Urea atau Ammonium sulfate (ZA) sebanyak 50 kg atau 100 kg per hektar untuk segera ditebarkan pada petak-petak agar lebih mempercepat proses pembusukkan pupuk organik tersebut.

Air di dalam petakan dibiarkan menguap seluruhnya atau dialirkan keluar bila sudah jernih sekali.             Pada dasar petakan dikeringkan lagi seperti keadaan pengeringan pertama sebelum ditebari pupuk organik.  Pada akhirnya praktis semua pupuk organik akan membusuk (mengurai).

Kegiatan berikutnya memasukkan air ke dalam petakan dengan cara hati- hati, disaring melalui saringan halus yang berbentuk kantong dan diikatkan pada pintu air kira-kira 10 cm dan sekali lagi petakan dipupuk dengan urea sebanyak 45 kg ditambah 45 - 55 kg pupuk TSP untuk tiap hektar.  Jikalau klekap belum mulai tumbuh pada saat pengenangan air yang pertama, pada saat ini akan mulai tumbuh dan menutupi semua permukaan dasar tambak. Selanjutnya sedalaman di tambak secara bertahap sampai sekitar 20 cm dan petakan siap untuk ditebari ikan (nener atau gelondongan bandeng).

4) Kultur klekap pada musim hujan.

Untuk menanggulangi pertumbuhan klekap pada musim hujan agak sulit. Penurunan kadar garam menghalangi pertumbuhan dan kemungkinan penyebab         kerusakan             total     dari        makanan                             bilamana                terjadi   perubahan mendadak.                  Oleh      karena                  itu             waktu (saat)                    yang                penting dalam mempersiapkan peneneran pada musim hujan.  Paling sedikit diperlukan waktu 1 minggu yang cuacanya  baik  secara terus menerus  jikalau  ingin mencapai keberhasilan.
Petakan dikeringkan, diratakan dan dibiarkan paling sedikit 3 hari, kemudian air dimasukkan dan dipupuk dengan pupuk organik yang kuantitasnya sama dengan yang biasa digunakan pada pemupukan anorganis yang kedua di musim kemarau.             Pada saat itu juga ditambahkan bekatul sebanyak 200 kg/Ha.
Perlu diketahui klekap yang tumbuh pada musim hujan ini tidak sebanyak yang tumbuh di musim kemarau dan cenderung mudah lepas dari tanah dasar petakan yang kemudian mengapung, yang akhirnya mengelompok di sisi-sisi petakan akibat dihembus oleh angin.     Dalam hal demikian, klekap tidak dapat dimanfaatkan oleh ikan yang dipelihara.
5) Kultur plankton
Disini harus kita perhatikan upaya untuk menumbuhkan plankton agar mencapai hasil yang memuaskan (sukses) diperlukan air yang dalam serta rendah kadar garamnya, terutama selama musim hujan.

Mula-mula petakan dikerjakan  dan  dibiarkan  untuk  2  -  3  hari,  kemudian segera diisi (digenangi) dengan air pasang yang baru.  Pupuk organik yang diberikan harus cukup yang biasanya terdiri dari kombinasi antara Urea atau Amonium sulfate (ZA) sebagai N (nitrogen) dan Superfosfate (TSP) sebagai sumber P2O5 (fosfate) ditambah bekatul yang digunakan untuk membuat air menjadi hijau warnanya, yang sebagian besarnya adalah phytoplankton.

Pada umumnya petani tambak memulai dengan dosis 6 gram N, 6 - 9 gram P2O5 dan 50 - 100 gram bekatul untuk setiap m3 air yang kemudian dinaikkan dosisnya sampai didapatkan hasil yang diinginkan.  Blooming phytoplankton akan terjadi dalam 48 jam pada cuaca yang memungkinkan.  Petakan siap ditebari ikan jikalau suatu obyek yang putih berada dalam air hilang (lenyap) dari pandangan pada kedalaman kurang lebih 30 cm.
5.            PENEBARAN (PENANAMAN, STOCKING)
1) Persiapan petakan untuk aklimatisasi (ipukan).
Petakan untuk aklimatisasi (ipukan) perlu dibuat, atau bila telah ada perlu disiapkan dengan baik.  Pematangnya diplester (dilapisi) dengan tanah yang lunak  dan  sekalian  menutupi  bocoran-bocoran.                Atap  diperlukan  yang biasanya dibuat dari kisi-kisi bambu (kere) untuk memberikan kesejukan kita dapat memanfaatkan cabang-cabang dari pohon api-api yang baru dipotong, seperti daun kelapa, daun nipah diletakkan di aasnya sebagai atap (dapat digunakan daun nipah atau daun kelapa yang dibuat khusus untuk atap). Ada juga yang ditancapkan pada keliling ipukan dapat, agar memberikan
suasana kesejukan.        Dengan cara demikian ipukan tidak menerima sinar matahari lansung dan suhu menjadi rendah di dalamnya.
Untuk mengantisipasi adanya hujan turun, atap perlu dilapisi atau ditutup dengan  plastik  (polyethelene  sheet).                Bila  ipukan  dibuat  dengan  1  atau dengan  2  pematang  dari  petakan  sebagai  sisinya,  perlu  adanya  kanal (saluran kecil) sepanjang berm untuk mengalirkan air hujan terutama dari pematang petakan agar masuk ke petakan besar dan tidak masuk ke ipukan. Semua  pematang  ipukan  ditutupi  dengan  lembaran  plastik.              Air  hujan terutama yang mengalir  dari pematang petakan dan masuk ke dalam ipukan dapat  menyebabkan  kematian  nener  yang  disimpan  di  ipukan  dalam keadaan padat.
Pada saat yang singkat sebelum nener datang semua air di dalam ipukan dikuras keluar.  Air tawar secukupnya dapat juga air sumur atau dari mata air yang lain diisikan pada ipukan pelan-pelan, selanjutnya air dipasang yang baru dilewatkan melalui saringan yang halus ditambahkan sampai kadar garam  mencapai  15  -  20  ppt.            Air  dibiarkan  jernih,  sedimen  dibiarkan mengendap dahulu dan semua kotoran-kotoran yang mengambang dibuang (bisa juga diambili).
2) Penebaran Nener
Nener  dibawa  ke  tambak  dengan  kantong  plastik  dan  diberi  oksigen. Biasanya pada pengangkutan nener digunakan air yang kadar garamnya antara 15 - 20 ppt.  Hal inilah yang mengharuskan ipukan diisi air tawar agar
kadar  garam  sesuai  dengan  air  untuk  pengangkutan  nener.  Pelepasan nener biasanya dilaksanakan pada pagi atau sore hari, pada saat suhu udara relatif lebih dingin (sejuk). Untuk mempermudah dalam aklimatisasi nener terhadap suhu air maka kantong plastik dibiarkan mengambang di dalam ipukan untuk satu atau dua jam lamanya sebelum dilepaskan.  Dan di dalam petakan penggelondongan diusahakan untuk kepadatan penebaran antara 40 - 50 ekor per m2.
Pelepasan nener secara langsung ke ipukan dapat juga dilakukan, akan tetapi  lebih  aman  kalau  hal  tersebut  tidak  dilakukan.           Mula-mula  nener bersama  airnya  dituangkan  ke  dalam  baskom  plastik  kemudian  air  dari ipukan ditambahkan ke baskom sedikit demi sedikit sampai kira-kira sama denan kondisinya dengan air ipukan itu sendiri.  Setelah itu baskom secara pelan-pelan dimiringkan  dan  dibiarkan  nener  itu  berenang  keluar.                Pada permukaan  kolam  nener  akan  berenang-renang  di  dekat  permukaan  air tetapi setelah beradaptasi dan merasa segar lagi, mereka mulai makan Benthic algae yang tipis di dasar.  Untuk adaptasi nener sepenuhnya dalam ipukan diperlukan waktu sekitar 12 jam.

Nener yang lemah kondisinya  akan memerlukan waktu  lebih  lama untuk adaptasi dan berenang-berenang di dekat permukaan air dalam ipukan.

Jika nener telah tampak aktif bergerak dan makan, maka pematang ipukan dapat dipotong sedikit dan disisipkan saringan dengan bahan yang halus ditempat  tersebut.  Pematang  yang  dipotong  ini  dipergunakan  untuk memudahkan pertukaran air di dalam maupun di luar ipukan  ( biasanya kadar garam air di luar ipukan lebih dari 40 ppt) dan dalam sekitar 12 jam sesudahnya, kadar garam akan sama atau yang di dalam ipukan akan lebih rendah sedikit dari pada garam di petakan luar ( di luar ipukan).

Bilamana nener tampak mulai berkumpul disekitar saringan atau berenang- renang menentang arus yang melewati saringan, hal ini menunjukkan bahwa nener ini telah cukup aklimatisasi terhadap kondisi garam dari petakan untuk nener.  Saringan telah dapat diambil dan nener dibiarkan berenang keluar. Hal ini dikerjakan pada pagi hari atau sore hari ketika air di petakan rendah suhunya.
Ipukan tidak diperlukan di saat musim hujan bila kadar garam di petakan telah  menjadi  rendah.               Nener  dapat  dilepaskan  langsung  ke  dalam  air setelah cukup aklimatisasi di dalam baskom. Jikalau Nener Payus (Elops sp.) belum terambil (belum diseleksi), nener hendaknya dilepaskan dalam happa nylon (dengan ukuran mata jaring : 5 - 6 tiap cm) yang dipasang dalam petakan.  Nener Bandeng dapat lolos ke luar sedang di dalam happa tertinggal Payus serta nener Bandeng yang agak besar sedikit ukurannya dari mata happa nylon.

3) Pengaturan Air

Pada umumnya selama 7 - 10 hari sesudah pelepasan nener, tidak dilakukan penggantian air.     Selama itu nener tambah menjadi lebih besar dan perlu adanya saringan di pintu yang dapat menahan nener keluar, akan tetapi dapat memasukkan air ke  dalam  petakan.      Penyegaran  dapat  dilakukan dengan mengalirkan air ke luar kemudian diganti dengan air pasang yang baru.  Saringan perlu di cek setiap saat membuka pintu.  Penutupan harus dilakukan dengan hati-hati, terutama dalam pemasangan papan-papan pintu.

Petakan untuk Nener mempunyai dasar yang lebih tinggi dan rata bila dibandingakn dengan petakan-petakan  yang  lain.        Oleh  karena  itu  perlu adanya   tindakan              bila         masih    terjadi   bocoran-bocoran             pada                waktu pemasukkan air di saat pasang terakhir.  Pilihan lain ialah perlu menyediakan pompa air untuk pasang yang rendah bila tidak dapat mencapai petak peneneran.

Nener tumbuh lebih cepat pada air yang berkadar garam agak rendah.  Oleh karena  itu  perlu  pada  musim  kemarau  dilakukan  penyegaran  dengan
penggantian air.               Penyegaran yang dilakukan pada musim hujan terutama untuk menjaga (memelihara) klekap atau untuk memperbaiki kondisi air. Jikalau plankton merupakan makanan utama diperlukan kadar garam yang rendah dan sering ada hujan akan lebih bermanfaat.
4) Pakan
Pemberian makanan tambahan mengakibatkan bertambahnya input.  Hal ini hanya diberikan (dilaksanakan) jika makanan alami habis dan tidak ada tempat  yang  layak  atau  yang  siap  untuk  dipergunakan.      Pengusaha gelondongan       bandeng            melaksanakan   penimbunan      (penahanan) gelondongan          dengan memberikan                makanan             tambahan,            karena                itu pengusaha tersebut berani menggunakan padat penebaran yang tinggi pada tambaknya.

Beberapa macam mkanan tambahan yang sering digunakan ialah :
a. Katul yang halus hasil sisa penggilingan padi yang baru berbentuk tepung atau dijadikan pellet.
b. Tepung gandum (terigu), berbentuk tepung atau dijadikan pellet.
c. Bungkil  jagung  (bungkil  dari  lembaga  jagung),  berbentuk  tepung  atau dijadikan pellet.
d. Bungkil kacang tanah, berbentuk tepung atau dijadikan pellet. e. Bungkil kelapa berbentuk tepung atau dijadikan pellet.
f.  Roti yang basi atau telah lama.
g. Kotoran kandang ternak atau lebih baik kotoran ayam.

Penambahan makanan sebaiknya habis dimakan dalam jangka waktu dua sampai tiga jam.          Bilamana tidak maka air akan mengalami pencemaran. Setidak-tidaknya makanan diberikan tiga kali setiap hari atau cukup dua kali (pagi dan sore hari).  Makanan dapat diberikan dengan cara ditaburkan atau ditempelkan pada suatu tempat tertentu yang berada di dalam kolam (di petakan).

Kondisi gelondongan yang kurang baik (kurus) perlu diperbaiki sebagai persiapan untuk pemindahannya ke tambak lain.  Gelondongan yang kurus mudah    sekali     mengalami          tekanan.              Sisiknya                mudah  lepas                walupun diperlakukan biasa saja dan tempat yang tidak bersisik akan mudah mengalami infeksi dari bakteri dan jamur.
6.            HAMBATAN PENGELOLAAN

Dalam usaha pengelolaan tambak sering dijumpai hal-hal yang menghambat kelancaran usaha, di antaranya adalah sebagai berikut :

1) Kondisi nener yang jelek pada saat penebaran.
Pedagang nener biasanya menampung dalam kondisi yang sangat padat sambil  menunggu         pembeli.                Selama musim  nener,                  pedagang            nener mengumpulkan hasil penangkapan tiap hari kemudian ditampung dan dikumpulkan sampai cukup banyak jumlahnya untuk memenuhi pesanan dari pembeli yang datang pertama.  Sering pula terjadi bahwa nener tidak diberi makan    untuk    beberapa            hari,                       yang                mengakibatkan lapar      dan        lemah menyebabkan kondisi nener menjadi lamban geraknya dan mudah mendapat tekanan (stress) waktu dalam penghitungan.

Bila diangkut dalam kondisi yang berjejal dalam kantong plastik, suhu tinggi, terjadi pertukaran zat-zat dalam tubuhnya, eksresi, tekanan oksigen dan jalanan      yang      kasar     dapat    menambah         kelelahan            nener.  Banyaknya perlakuan di tambak dapat menambah makin lelah dan memberatkan situasi dan tidak tahan terhadap kondisi dalam petakan yang sedikit kurang baik.

2) Aklimatisasi yang kurang cukup.

Dalam melepaskan nener ke petak peneneran diperlukan waktu yang cukup untuk aklimatisasi, sehingga nener dapat menyesuaikan diri terhadap keadaan atau kondisi lingkungan.

Penggantian air  secara  mendadak  dengan  perbedaan  kadar  garam  atau suhu yang besar dapat mengakibatkan yang kurang baik.  Nener tidak cukup waktu untuk menyesuaikan diri (adaptasi) terhadap kondisi lingkungan dan akhirnya menjadi lemah, bahkan dapat menyebabkan kematian.

3) Bocoran-bocoran.

Sifat naluri yang senang menentang arus air menyebabkan nener mudah lolos melalui bocoran yang ada di pematang.  Dasar pintu saringan-saringan dan            papan-papan     penutup              pintu     yang      tidak      betul                pemasangannya memungkinkan  nener  dan  gelondongan  kecil  dapat  lolos  ke  luar.   Hal tersebut memungkinkan pula masuknya  ikan-ikan buas  yang  masih  kecil yang akhirnya dapat memangsa nener dalam petakan.

4) Terjerat

Alga benang, klekap yang lebar-lebar dan lepa dari dasar tambak, kantong- kantong telur dari cacing-cacing Polychaeta merupakan benda-benda yang dapat menyebabkan nener di tambak terjerat.  Nener terjerat (terbelit) oleh alga benang atau terjebak dalam gelembung telur-telur Polychaeta. Pada petakan yang dangkal, selapis klekap yang lebar tiba-tiba mengambang ke permukaan akibat terkumpulnya gelembung-gelembung oksigen dari hasil asimilasi komponen tumbuh-tumbuhan dapat menyebabkan nener yang sedang makan atau berenang di atasnya ikut terangkat ke permukaan dan akhirnya akan mati karenan terdampar tidak dapat kembali ke air.

Hal. 12/ 16






5) Keracunan

Oleh karena petakan untuk nener umumnya berukuran kecil, maka mudah mengalami kontaminasi unsur-unsur yang beracun yang bersama air atau dari sumber lain.  Kematian secara besar-besaran kadang-kadang terjadi di tambak yang mengalami air dari sungai yang mengalirkan sisaa-sisa dari pabrik (sampah  industri)  dibuang.          Hal tersebut  juga  sering  terjadi  pada daerah-daerah yang dekat dengan daerah pertanian, terutama daerah sawah yang sering menebari pestisida (untuk pemberantasan hama).

Kadang-kadang pematang tambak sendiri dapat menjadi asal (sumber) material yang mempunyai daya racun yang tinggi.  Banyak contoh kematian total  yang terjadi di  peneneran  begitu  selesai  hujan  pertama  yang  lebat setelah musim kemarau yang panjang.  Kasus demikian juga sering terjadi di tambak-tambak yang beru dibangun dari daerah rawa-rawa yang banyak pohon bakaunya (mangrove).

Pematang dibuat dari tanah-tanah yang terdiri dari banyak akar-akaran yang membusuk dan terkumpul bahan organik yang mengandung unsur racun asam humus dan asam Sulfida (H2S) di lereng di atas pematang tersebut digambarkan                sebagai hasil       penguapan         dari        pematang           yang      banyak mengandung air (kadar air yang tinggi).

Senyawaan belerang dapat pula terbentuk dari pembusukkan akar yang tampak  di  pematang-pematang.                Tetesan  air  hujan  mencucinya  dan membawanya masuk ke tambak  karena terbatasnya  areal  di peneneran, unsur yang dikehendaki tersebut segera menyebar sehingga menyebabkan nener maupun gelondongan banyak yang mati karena keracunan.

6) Penanganan yang salah.

Pengeringan yang mendadak disebabkan penutupan pintu kurang sempurna adalah yang sering menyebabkan banyak nener dan gelondongan yang hilang atau mati.  Saringan-saringan yang rusak, yang robek atau kesalahan dalam pemasangannya adalah faktor penyebab hilangnya nener pula.  Sifat masa bodoh dari manusia (penjaga) tidak dapat dianggap sepi begitu saja. Penjaga yang sangat lelah kadang-kadang mudah (cepat) jatuh tertidur, sedang periode pengeringan atau pengisian peneneran berlangsung pada malam hari di saat terjadi surut yang rendah atau pasang yang tinggi, karena tertidur maka penjaga tidak dapat mengontrol keadaan deangan baik, yang mengakibatkan lingkungan pematang yang rusak.
7.            ANALISA USAHA PENGGELONDONGAN BANDENG

Dalam pemeliharaan nener bandeng untuk gelondongan diperlukan waktu pemeliharaan selama lebih dari 21 hari, pada usia tersebut ukuran telah mencapai gelondongan yaitu panjang 2 - 3 cm dan berat rata-rata 2 - 3 gram. Dengan kepadatan tebar 40 - 50 ekor/m2  @ Rp.50,- per ekor maka kelangsungan hidup nener untuk mencapai gelondongan adalah 75% - 90%. Harga  jual  perekor  untuk  ukuran  gelondongan  tersebut  adalah  Rp.  100,-. Usaha penggelondongan tersebut dapat dilaksanakan di tambak luas 0,5 HA (4 petakan). Dalam  satu  tahun  diperhitungkan  dapat  memelihara  bandeng tersebut sebanyak 6 periode selanjutnya pada tebar 200.000 ekor dengan SR 80%.

Hal inilah yang dapat memberikan harapan untuk dikembang usahakan sebagai salah satu komoditas dalam agribisnis.                Sebagai gambaran tentang analisis keuntungan dapat dilihat pada tabel-tabel di bawah ini.

0 comments:

Post a Comment