Saturday, December 3, 2016

PENGEMBANGAN USAHA BUDIDAYA PERIKANAN

December 03, 2016 Posted by Media Penyuluhan Perikanan Pati 1 comment
Pengembangan Usaha Perikanan
Pada usaha budidaya ikan gurami yang ada di Mina Sejahtera belum ada pengembangan usaha secara spesifik, namun masing–masing anggota/pemilik usaha sudah mulai mengembangkan usaha perikanannya dengan komoditi lain yaitu budidaya ikan bawal air tawar yang sekarang ini ikan tersebut meru-pakan komoditi baru yang diharapkan dapat membantu dalam peningkatan pendapatan.
Budidaya ikan nila yang ada di kelompok tani Mina Sejahtera merupakan salah satu usaha pengembangan, yang sebelumnya komoditi utamanya adalah ikan lele. Dan sekarang ini komoditi lain yang sedang dibudidayakan baik pembenihan maupun pembesaran adalah ikan gurami, ikan mas, ikan bawal air tawar, dan ikan patin.
Koperasi perikanan merupakan strategi yang efektif dalam rangka manajemen produksi dan pemasaran, terutama meningkat-kan kesejahteraan petani ikan dengan terdis-tribusinya hasil produksi oleh setiap pelaku agribisnis, sehingga kemitraan yang adil, saling menunjang dan saling menguntungkan antara petani ikan kecil dengan pengusaha ikan yang sudah besar benar–benar terwujud. Namun pengembangan usaha koperasi perikanan sangat tergantung oleh peran serta anggota koperasi perikanan serta pemerintah dengan sistem agribisnis terpadu. Agribisnis terpadu yang dimaksud adalah usaha gabungan yang terdiri dari penyediaan sarana produksi, proses budidaya, pemberian kredit, simpan-pinjam, pengelolaan dana sosial, serta usaha pemasaran dari hasil produksi yang berupa benih dan ikan ukuran konsumsi serta ikan yang dalam bentuk olahan (fillet, bakso, nugget, tepung ikan dan sebagainya).
Peran koperasi perikanan (KUD Mina) adalah untuk menggabungkan, mendukung dan memperlancar sistem produksi, pengo-lahan dan pemasaran hasil produksi. Selan-jutnya untuk pengembangan produk dan manajemen yang lebih efektif, koperasi per-ikanan dengan peran serta pemerintah dalam hal ini adalah dinas perikanan melakukan pelatihan dan penyuluhan kepada pelaku agri-bisnis terutama petani ikan sebagai produsen, baik mengenai teknologi budidaya, kewira-usahan maupun manajemen pengelolaan usaha yang lebih baik.
Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Usaha Budidaya Perikanan
Setiap usaha pasti mempunyai faktor–faktor yang mempengaruhi jalannya usaha, baik itu yang menghambat maupun yang memperlancar usaha tersebut. Faktor pen-dukung merupakan faktor–faktor yang dapat memperlancar kegiatan budidaya ikan gurami dan ikan nila, diantaranya adalah :
    Pemeliharaan ikan gurami dan ikan nila relatif lebih mudah.
    Kondisi perairan dan lingkungan usaha yang sesuai dengan habitat ikan.
    Sumber air dekat dengan lokasi usaha.
    Tersedianya sumber daya alam dan sumber daya manusia.
    Harga jual ikan gurami dan ikan nila yang relatif tinggi.
    Adanya lahan yang belum termanfaatkan dan sangat baik bila digunakan untuk usa-ha budidaya, sehingga bila lahan tersebut diolah dengan baik akan membantu meningkatkan pendapatan keluarga.
    Adanya teknologi budidaya ikan yang lebih efektif dan lebih efisien.
    Dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk, maka permintaan ikan juga semakin meningkat.
    Adanya dukungan dari pemerintah Kabupaten Nganjuk.
    Usaha budidaya ikan gurami dan ikan nila dalam pemasarannya mempunyai jaringan distribusi yang mantap di daerah tertentu.
    Mempunyai organisasi dan kelompok kerja yang aktif dan produktif.
    Mempunyai kemampuan untuk mempro-duksi ikan dengan ukuran yang sesuai dengan permintaan konsumen.
    Mempunyai kemampuan dalam membe-rikan kesejahteraan yang relatif memadai bagi karyawan dan keluarga.
    Mempunyai tenaga kerja yang cukup berpengalaman dari segi teknis budidaya.
Beberapa faktor yang menjadi hambatan dalam usaha budidaya ikan gurami dan ikan nila, diantaranya adalah :
Peralatan pengontrolan kualitas air yang masih kurang.
Belum adanya tenaga ahli khususnya di bidang perikanan yang membantu dalam pelaksanaan usaha.
Pertumbuhan ikan gurami dan ikan nila yang relatif lambat, sehingga membutuhkan waktu berbulan – bulan untuk sampai pada tahap pemasaran.
Tingginya biaya produksi dalam kegiatan usaha budidaya ikan.
Pemasaran ikan yang jauh keluar kota, sehingga mempengaruhi kualitas ikan dan bahkan ikan mudah stress diperjalanan dan akhirnya banyak yang mati sehingga kesegaran ikan tidak tahan lama.
Rendahnya minat penduduk lokal dalam mengkonsumsi ikan gurami, sehingga pema-saran untuk daerah lokal masih rendah.
Manajemen pengelolaan masih sederhana.
Adanya persaingan dengan komoditi per-ikanan dan pengusaha perikanan lainnya.
Kemungkinan berdirinya usaha baru dengan teknologi yang lebih baik.
Dalam jangka waktu panjang belum dapat memenuhi kenaikan permintaan.
Kurang adanya kepercayaan dari penyedia dana baik investor maupun bank terhadap usaha budidaya perikanan karena adanya resiko ketidakpastian yang tinggi, sehingga petani ikan kesulitan dalam memperoleh dana dalam upaya pengembangan usahanya.
Belum mantapnya pola perencanaan dan pembinaan tenaga kerja yang dapat memenuhi perkembangan usaha.
Rencana Usaha (Business Plan)
Setiap usaha (bisnis) membutuhkan ren-cana bisnis (Business Plans) terutama bisnis baru dan bisnis yang mengharapkan perubahan atau pertumbuhan yang signifikan dalam waktu dekat. Dalam teori, rencana bisnis akan memberikan arahan strategis bagi keberlang-sungan aktivitas usaha (bisnis) yakni dengan menuliskan/ mendeskripsikan tujuan dan cara mencapainya, yang kemudian mengikuti renca-na yang telah ditulis untuk mencapai target.
Berikut ini rencana usaha pengembangan budidaya ikan gurami dan ikan nila yang diharapkan dapat terlaksana di Kabupaten Nganjuk, dalam rangka memanfaatkan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang ada di wilayah tersebut agar lebih optimal. Namun masih banyak kendala yang dihadapi oleh pengusaha, kususnya para calon pengusaha kecil dan menengah dalam mewujudkan dan melaksanakan usahanya tersebut. Salah satu kendala tersebut tampak dalam merencanakan serta mempresentasikan rencana usaha.
Operasional/realisasi dari rencana usaha budidaya ikan gurami dan ikan nila adalah untuk memenuhi peluang pasar dalam jangka waktu 10 tahun mendatang, untuk ikan gurami sebesar 280,71 ton dan ikan nila sebesar 1.477,43 ton. Sehingga untuk usaha budidaya ikan gurami diperlukan lahan seluas 29.979,85 m2, tenaga kerja 328 orang dan laba yang akan diperoleh sekitar Rp. 1.643.594.183, zakat sebesar Rp. 86.504.957. Apabila besarnya zakat untuk masing – masing orang (yang berhak menerima) sama dengan UMR yang berlaku di Kabupaten Nganjuk sebesar Rp. 354.000, maka penerima zakat tersebut sekitar 20 orang. Demikian juga dengan budidaya ikan nila untuk memenuhi peluang pasar sebesar 1.477,43 ton, diperlukan lahan 6.191,6 m2, tenaga kerja 4.317 orang, laba yang diperoleh Rp. 5.161.212.852, zakat sebesar Rp. 271.642.782, dengan pene-rima zakat sekitar 64 orang.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Dari penelitian ini dapat disimpulkan beberapa hal, diantaranya adalah :
Kelayakan usaha baik usaha budidaya ikan gurami dan ikan nila dilihat dari ;
Aspek pasar masih cukup luas dilihat dari peluang pasarnya. Untuk ikan gurami sebesar 280,71 ton dan untuk ikan nila sebesar 1477,43 ton. Permintaan masih lebih besar dibandingkan penawaran, karena tiap tahun permintaan selalu meningkat. Hingga akhir tahun 2014 permintaan ikan sebesar 23.094.132,80 ton, sedangkan penawaran ikan nasional 13.244.600 ton.
Aspek teknis usaha budidaya ikan gurami dan usaha budidaya ikan nila meng-gunakan sistem semi-intensif (madya).
Aspek finansial sudah layak dalam pelaksa-naannya, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Karena memberikan keun-tungan setiap tahunnya yaitu keuntungan bersih (EAZ) sebesar Rp. 50.109.178,75 dan ikan nila sekitar Rp. 84.888.943,85. Nilai REC masing – masing sebesar 64,03 % dan 102,87 % yang lebih besar dari suku bunga deposito bank sebesar 8,71 %. Sedangkan pada analisis jangka panjang dengan menggunakan discount rate sebesar 16% per tahun selama 10 tahun masing – masing untuk ikan gurami dan ikan nila diperoleh NPV sebesar 287.501.653 dan Rp. 510,422,496, Net B/C ratio sebesar 5,91 dan 3,5, IRR sebesar 125,71 % dan 75,73 %, Payback Periode 2,17 tahun dan 4,25 tahun yang lebih kecil dari Payback Periode maksi-mum yakni 6,25 tahun, sehingga berda-sarkan nilai tersebut usaha ini layak.
Penerapan aspek manajemen dari fungsi perencanaan, pengorganisasi, pergerakan dan pengendalian cukup baik meskipun masih sederhana.
Dari aspek hukum, usaha tersebut belum mempunyai Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), Nomor Pengguna Wajib Pajak (NPWP), Izin Mendirikan Bangunan (IMB) tetapi hanya mempunyai surat pengakuan terdaftar dari kantor Sub-Dinas Perikanan Kabupaten Nganjuk.
Aspek kelembagaan usaha tersebut cukup bagus karena adanya peran lembaga penyedia sarana produksi, lembaga penyu-luhan meskipun dari lembaga penyedia dana masih belum ada perhatian lebih.
Aspek sosial ekonomi cukup baik, karena dapat memberikan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat sekitar, sehingga dapat membantu dalam peningkatan pen-dapatan penduduk dan membantu peme-rintah dalam upaya mengurangi jumlah pengangguran.
Aspek lingkungan pada usaha budidaya ikan ini memberikan dampak positif karena usaha budidaya ikan tidak meng-hasilkan limbah yang terlalu berbahaya bagi lingkungan baik perairan maupun kesehatan dari masyarakat sekitar lokasi usaha. Bahkan kotoran ikan dapat digu-nakan untuk pupuk bagi tanaman padi yang ada disekitar kolam.
Pengembangan Usaha Perikanan
Untuk peningkatan hasil produksi dan peningkatan pendapatan keluarga, masyarakat dan pemerintah daerah, maka pengembangan usaha budidaya lebih diperluas dengan perluasan jaringan pemasaran, peningkatan metode budidaya yang lebih efektif dan efisien dengan sistem budidaya intensif, perbaikan manajemen usaha dan sumberdaya manusia, pengembangan kelembagaan dengan menjalin mitra kerja melalui koperasi, pelegalan usaha dan pengelolaan dana sosial baik zakat atau sedekah kepada masyarakat sekitar lokasi usaha.
Rencana Usaha (Business Plan)
Dalam upaya pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang lebih optimal dibuatlah rencana usaha budidaya perikanan melalui perluasan daerah budidaya dengan memanfaatkan usaha skala rumah tangga di wilayah Kabupaten Nganjuk baik jangka pendek maupun jangka panjang. Usaha budidaya ikan gurami dengan luas lahan keluarga rata-rata 912,5 m2 pada 10 tahun mendatang akan menghasilkan pro-duksi 15.115.325,89 ton. Sedangkan budidaya ikan nila dengan rata–rata luas lahan keluarga 990 m2, akan dibuat rencana usaha 10 tahun mendatang 39.625,172 ton. Untuk memenuhi permintaan pasar ikan gurami 280,71 ton dan 1.477,43 ton ikan nila dalam 10 tahun mendatang, masing–masing dibutuhkan tena-ga kerja 328 orang dan 4.317 orang dengan lahan seluas 29.979,85 m2 dan 6.191,6 m2. Laba yang akan diperoleh Rp. 1.643.594.183 dan Rp. 5.161.212.852.
Saran
Agar usaha perikanan khususnya yang ada di wilayah Kabupaten Nganjuk dapat berkesinambungan dan terwujudnya usaha pengoptimalan dalam pemanfaatan potensi wilayah yang ada, maka ada beberapa saran dari peneliti diantaranya adalah :
    Perlu dilakukan penelitian yang sama terhadap budidaya ikan lele, ikan bawal air tawar, dan ikan unggulan lainnya yang ada di Kabupaten Nganjuk.
    Para pengelola usaha perlu membuat pembukuan keuangan yang lebih baik, agar dapat digunakan sebagai acuan dalam perbaikan usahanya.
    Perlu adanya penelitian lebih lanjut tentang kualitas air, teknik budidaya yang lebih efektif dan efisien, serta teknologi pengolahan ikan air tawar, sehingga menunjang kemajuan usaha dan dapat meningkatkan jumlah pendapatan.
    Perlu adanya penambahan dan penguatan dana/modal bagi kelompok tani dan me-ngefektifkan dana tersebut untuk pe-ngembangan dan perbaikan usaha. Budi-daya yang disertai dengan pemantauan oleh pihak penyedia dana itu sendiri.
    Dalam pelaksanaan rencana usaha baik pengembangan, perbaikan maupun usaha baru perlu didampingi oleh tenaga ahli budidaya perikanan.
    Perlu adanya perhatian/respon yang lebih lebih serius lagi dari pemerintah khusus-nya sektor perikanan, dengan membe-rikan pembinaan tidak hanya kepada kelompok tani yang telah mendaftar saja mengingat masih banyaknya kelompok pemula yang belum tertangani.
    Perlu adanya evaluasi setiap akhir tahun terhadap program pemerintah, baik hasil penyuluhan, pembinaan, penguatan mo-dal, apa sudah efektif dan efisien.
    Dinas perikanan perlu berdiri sendiri, sehingga diharapkan dapat lebih intensif dalam menangani usaha perikanan secara merata di seluruh wilayah Kabupaten Nganjuk.
DAFTAR PUSTAKA
Anonymous. 2004. Penyusunan Profil Investasi Komoditi Unggulan Tepung Ikan Di Jawa Timur. Badan Penanaman Modal Propinsi Jawa Timur dan Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat. Universitas Brawijaya. Malang.
Cahyono Bambang. 2000. Budidaya Ikan Air Tawar (Ikan Gurame, Ikan Nila dan Ikan Mas). Kanisius. Yogyakarta.
Cahyono Bambang. 2001. Budidaya Ikan Di Perairan Umum. Kanisius. Yogyakarta.
Hasan M. Iqbal. 2002. Pokok – Pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasi-nya. Ghalia Indonesia (Anggota IKAPI). Yogyakarta.
Hasibuan Malayu. 2003. Manajemen (Dasar, Pengertian dan Masalah). Bumi Aksara. Jakarta.
Kasmir dan Jakfar. 2003. Studi Kelayakan Bisnis. Prenada Media – Kencana. Bogor.
Kumalasanti Inneke, Surjatin dan Primyastanto M. 1999. Analisis Evaluasi proyek Usaha Ikan Gurami (Osphronemus gourami) di CV. Semi Desa Kecubung Kecamatan Pace Kabupaten Nganjuk Jawa Timur. Skripsi. Universitas Brawijaya Malang. Tidak diterbitkan.
Kusbandi Liyanti, Surjatin dan Qoid A. 2003. Usaha Pembesaran Ikan Nila (Oreochromis niloticus) dan Kontribu-sinya Terhadap Pendapatan Keluarga Di Desa Banjarejo, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Laporan Skripsi Sosial Ekonomi Perikanan. Universitas Brawijaya. Malang.
Murtidjo Bambang A. 2001. Beberapa Metode Pembenihan Ikan Air Tawar. Kanisius. Yogyakarta.
Prihartono R. Eko. 2004. Permasalahan Gurami dan Solusinya. Penebar Swadaya. Jakarta.
Primyastanto M. 2003. Evaluasi Proyek Dari Teori Ke Praktek (Studi Pembesaran Ikan Gurame). PT. Danar Wijaya – Brawijaya University Press. Malang.
Pudjosumarto M. 1992. Evaluasi Proyek Uraian Singkat dan Soal Jawab. Liberty. Yogyakarta.
Rahardi F, Kristiawati R dan Nazaruddin. 2000. Agribisnis Perikanan. Penebar Swadaya. Jakarta.
Rahmawati Farida, Ismadi dan Primyastanto M. 2003. Aplikasi Evaluasi Proyek Pada Usaha pembesaran Gurami (Osphrone-mus gouramy) Di CV. Sumber Makmur Desa Karang Dagangan Kecamatan Bandar Kedung Mulya kabupaten Jombang Jawa Timur. Laporan Skripsi Sosial Ekonomi Perikanan. Universitas Brawijaya. Malang. Tidak diterbitkan.
Riyanto Bambang. 1995. Dasar – Dasar Pembe-lanjaan Perusahaan. Yayasan Badan Penerbit Gajah Mada Press. Yogyakarta.
Singarimbun M dan Efendi S. 1995. Metodologi Penelitian Survey. LP3E. Jakarta.
Surakhmad W. 1978. Dasar dan Tehnik Research. Pengantar Metodologi Ilmiah. Pener-bit Tarsito. Bandung.
Surakhmad W. 1985. Pengantar Penelitian Ilmiah. Penerbit Tarsito. Bandung
Suratman. 2001. Studi Kelayakan Proyek, Teknik dan Prosedur Penyusunan Laporan Edisi I. J & J Learning. Yogyakarta.
Suyanto S.R. 2004. Nila. PT Penebar Swadaya. Jakarta
Swasta B. dan Sukotjo. 1997. Pengantar Bisnis Modern. Liberti. Yogyakarta.
Widodo Slamet, Prayogo R. I dan Jauhari Alfan. 2002. Perencanaan Strategi Pengem-bangan Tempat Pelelangan Ikan Bron-dong Sebagai Upaya Optimalisasi fungsi Di PPN Brondong Lamongan Jawa Timur. Laporan Skripsi Pemanfa-atan Sumberdaya Perairan. Universitas Brawijaya. Malang. Tidak diterbitkan.
Winarta. 2003. Studi Agribisnis Ikan Gurami (Osphronemus gouramy lac) di Kabupaten Blitar. Skripsi Sosial Ekonomi Perikanan Universitas Brawijaya. Malang. Tidak diterbitkan.
(http://www.markplusnco.com/discussionview.php?tid=299
http://www.nganjukwarintek.go.id/ina/maintengah.php?id=1

1 comment:

  1. Kunjung balik pak ke situs www.penyuluhpi.blogspot.com n www.perikanan38.blogspot.com

    ReplyDelete