Sunday, August 14, 2016

MENGENAL BUDIDAYA IKAN MAS (Cyprinus carpio)

August 14, 2016 Posted by Media Penyuluhan Perikanan Pati No comments
Perkembangan budidaya ikan mas di daerah Kabupaten Pati sangat pesat, usaha budidaya ikan Mas yang dipolikulturkan dengan ikan bandeng air tawar berhasil dan berkembang dari segi budidaya dan pembenihanya.
1.    SEJARAH SINGKAT
Ikan mas merupakan jenis     ikan konsumsi air tawar,   berbadan memanjang pipih kesamping dan lunak. Ikan  mas sudah  dipelihara sejak  tahun  475 sebelum masehi di Cina. Di Indonesia ikan mas mulai dipelihara sekitar tahun 1920. Ikan mas yang terdapat di Indonesia merupakan merupakan ikan mas yang dibawa dari Cina, Eropa,  Taiwan dan  Jepang.  Ikan mas Punten dan Majalaya merupakan hasil seleksi di Indonesia. Sampai saat ini sudah terdapat 10 ikan mas yang dapat diidentifikasi berdasarkan karakteristik morfologisnya.
2. SENTRA PERIKANAN
Budidaya ikan mas telah berkembang pesat di kolam biasa, di sawah, waduk, sungai air deras, bahkan ada yang dipelihara dalam keramba  di perairan umum. Adapun sentra produksi ikan mas adalah:  Ciamis, Sukabumi, Tasikmalaya, Bogor, Garut, Bandung, Cianjur, Purwakarta
3.   JENIS
Dalam ilmu taksonomi hewan, klasifikasi ikan mas adalah sebagai berikut: Kelas : Osteichthyes
Anak kelas : Actinopterygii Bangsa : Cypriniformes
Suku : Cyprinidae
Marga : Cyprinus
Jenis :Cyprinus carpio .
Saat ini ikan mas mempunyai banyak ras atau stain. Perbedaan sifat dan ciri dari  ras  disebabkan  oleh adanya interaksi  antara genotipe dan lingkungan kolam, musim dan cara pemeliharaan yang terlihat dari penampilan bentuk fisik, bentuk tubuh dan warnanya. Adapun ciri-ciri dari beberapa strain ikan mas adalah sebagai berikut:
1.  Ikan mas punten: sisik berwarna hijau gelap; potongan badan paling pendek; bagian punggung tinggi melebar; mata agak  menonjol;  gerakannya  gesit; perbandingan antara panjang badan dan tinggi badan antara 2,3:1.
2.  Ikan mas majalaya: sisik berwarna hijau keabu-abuan dengan tepi sisik lebih gelap;          punggung tinggi; badannya relatif pendek; gerakannya lamban, bila diberi  makanan  suka      berenang di  permukaan air; perbandingan panjang badan dengan tinggi badan antara 3,2:1.
3.  Ikan mas si nyonya: sisik berwarna kuning muda; badan relatif panjang; mata pada ikan  muda tidak menonjol,  sedangkan  ikan  dewasa bermata  sipit; gerakannya  lamban,  lebih suka berada di permukaan air;  perbandingan panjang badan dengan tinggi badan antara 3,6:1.
4. Ikan  mas  taiwan: sisik berwarna hijau kekuning-kuningan; badan relatif panjang; penampang punggung  membulat; mata  agak menonjol;  gerakan lebih  gesit dan  aktif;  perbandingan panjang badan  dengan tinggi badan antara 3,5:1.
5.  Ikan mas koi: bentuk badan bulat panjang dan bersisisk penuh; warna sisik bermacam-macam seperti putih, kuning, merah menyala, atau kombinasi dari warna-warna tersebut. Beberapa ras koi adalah : long tail Indonesian carp, long tail platinm nishikigoi,  platinum nishikigoi, long tail
shusui  nishikigoi, shusi nishikigoi, kohaku hishikigoi, lonh tail hishikigoi, taishusanshoku nshikigoi dan long tail taishusanshoku nishikigoi.
Dari sekian banyak strain ikan mas, di Jawa Barat ikan mas punten kurang berkembang karena diduga orang Jawa Barat lebih menyukai ikan mas yang berbadan  relatif  panjang. Ikan  mas  majalaya termasuk jenis unggul yang banyak dibudidayakan.
4.   MANFAAT
1. Sebagai sumber penyediaan protein hewani.
2. Sebagai ikan hias.
5. PERSYARATAN LOKASI
1.  Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung, tidak berporos.     Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar dan tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam.
2.  Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-5% untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.
3.   Ikan mas dapat tumbuh  normal,  jika  lokasi pemeliharaan  berada  pada ketinggian antara 150-1000 m dpl.
4.  Kualitas air untuk pemeliharaan ikan mas harus bersih, tidak terlalu keruh dan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik.
5.  Ikan mas dapat berkembang pesat di kolam, sawah, kakaban, dan sungai air deras. Kolam dengan sistem pengairannya yang mengalir sangat baik bagi pertumbuhan dan perkembangan fisik ikan mas. Debit air untuk kolam air tenang 8-15 liter/detik/ha, sedangkan untuk pembesaran di kolam air deras debitnya 100 liter/menit/m3 .
6.   Keasaman air (pH) yang baik adalah antara 7-8.
7.   Suhu air yang baik berkisar antara 20-25 derajat C.

6.   PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
6.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
1.  Kolam
Lokasi kolam dicari yang dekat dengan sumber air dan bebas banjir. Kolam dibangun di lahan yang  landai dengan  kemiringan  2–5%  sehingga memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.
a. Kolam pemeliharaan induk
Luas kolam tergantung  jumlah induk dan intensitas pengelolaannya. Sebagai contoh untuk 100 kg induk memerlukan kolam seluas 500 meter persegi bila hanya mengandalkan pakan alami dan dedak. Sedangkan bila diberi pakan pelet, maka untuk 100 kg induk memerlukan luas 150-200 meter persegi saja. Bentuk kolam  sebaiknya  persegi  panjang  dengan dinding bisa ditembok atau kolam tanah dengan dilapisi anyaman bambu bagian dalamnya. Pintu pemasukan air bisa dengan paralon dan dipasang sarinya, sedangkan untuk pengeluaran air sebaiknya berbentuk monik.
b. Kolam pemijahan
Tempat  pemijahan  dapat berupa kolam tanah atau bak tembok. Ukuran/luas kolam pemijahan tergantung jumlah induk yang dipijahkan dengan bentuk kolam empat persegi panjang. Sebagai patokan bahwa untuk 1 ekor induk dengan berat 3 kg memerlukan luas kolam sekitar 18 m2 dengan  18  buah ijuk/kakaban. Dasar  kolam dibuat miring  kearah pembuangan, untuk menjamin agar dasar kolam dapat dikeringkan. Pintu pemasukan bisa dengan pralon dan pengeluarannya bisa juga memakai pralon (kalau ukuran kolam kecil) atau  pintu  monik. Bentuk  kolam penetasan pada dasarnya sama dengan kolam pemijahan dan seringkali juga untuk penetasan menggunakan kolam pemijahan. Pada kolam penetasan diusahakan agar air yang masuk dapat menyebar ke daerah yang ada telurnya.
c.   Kolam pendederan
Bentuk kolam pendederan yang baik adalah segi empat. Untuk kegiatan pendederan ini biasanya ada beberapa kolam yaitu pendederan pertama dengan luas 25-500 m2  dan pendederan lanjutan 500-1000 m2  per petak. Pemasukan air  bisa dengan  pralon dan pengeluaran/ pembuangan dengan pintu berbentuk monik. Dasar kolam dibuatkan kemalir (saluran dasar) dan di dekat pintu pengeluaran dibuat kubangan. Fungsi kemalir adalah tempat  berkumpulnya benih saat  panen  dan kubangan  untuk memudahkan  penangkapan  benih. dasar kolam dibuat  miring ke  arah pembuangan. Petak tambahan air yang mempunyai kekeruhan tinggi (air sungai) maka perlu dibuat bak pengendapan dan bak penyaringan.
2.   Peralatan
Alat-alat yang biasa digunakan  dalam  usaha  pembenihan  ikan  mas diantaranya adalah: jala, waring (anco), hapa  (kotak  dari  jaring/kelambu untuk menampung sementara induk maupun benih), seser, ember-ember, baskom berbagai ukuran, timbangan skala kecil (gram)  dan  besar  (kg), cangkul, arit, pisau serta piring secchi (secchi disc) untuk mengukur kadar kekeruhan.
Sedangkan peralatan lain yang digunakan untuk memanen/menangkap ikan mas  antara lain  adalah warring/scoopnet yang  halus, ayakan panglembangan diameter 100 cm, ayakan penandean diameter 5 cm, tempat menyimpan ikan, keramba kemplung, keramba kupyak,  fish  bus (untuk mengangkut ikan jarak dekat), kekaban (untuk tempat  penempelan telur yang bersifat melekat), hapa dari kain tricote (untuk penetasan telur secara terkontrol)  atau  kadang-kadang untuk penangkapan benih, ayakan penyabetan dari alumunium/bambu, oblok/delok (untuk pengangkut benih), sirib (untuk  menangkap benih  ukuran 10 cm keatas),  anco/hanco  (untuk menangkap ikan), lambit dari jaring nilon (untuk menangkap ikan konsumsi), scoopnet (untuk menangkap benih ikan yang berumur satu minggu keatas), seser (gunanya= scoopnet, tetapi ukurannya lebih besar), jaring berbentuk segiempat (untuk menangkap induk ikan atau ikan konsumsi).
3.  Persiapan Media
Yang dimaksud dengan persiapan adalah melakukan penyiapan media untuk pemeliharaan ikan, terutama mengenai pengeringan,  pemupukan  dlsb. Dalam menyiapkan media pemeliharaan ini, yang perlu dilakukan  adalah pengeringan kolam selama beberapa hari, lalu dilakukan pengapuran untuk memberantas hama dan ikan-ikan liar sebanyak 25-200 gram/meter persegi, diberi pemupukan berupa pupuk buatan, yaitu urea dan TSP masing-masing dengan dosis 50-700  gram/meter  persegi,  bisa juga ditambahkan  pupuk buatan yang berupa urea dan TSP masing-masing dengan dosis 15 gram dan 10 gram/meter persegi.
6.2. Pembibitan
1.  Pemilihan Bibit dan Induk
Usaha pembenihan ikan mas dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu secara tradisional, semi intensif dan  secara  intensif.  Dengan  semakin meningkatnya teknologi budidaya ikan,  khususnya  teknologi  pembenihan maka telah dilaksanakan  penggunaan induk-induk  yang  berkualitas baik. Keberhasilan usaha pembenihan tidak lagi banyak bergantung pada kondisi alam  namun  manusia telah  banyak menemukan kemajuan diantaranya pemijahan dengan hipofisisasi, peningkatan derajat pembuahan telur dengan teknik pembunuhan buatan, penetasan telur secara terkontrol, pengendalian kuantitas dan kualitas air, teknik kultur  makanan  alami  dan  pemurnian kualitas induk ikan. Untuk  peningkatan produksi  benih perlu  dilakukan penyeleksian terhadap induk ikan mas.
Adapun ciri-ciri induk jantan dan induk betina unggul yang sudah matang untuk dipijah adalah sebagai berikut:
a.  Betina: umur antara 1,5-2 tahun dengan berat berkisar 2 kg/ekor; Jantan: umur minimum 8 bulan dengan berat berkisar 0,5 kg/ekor.
b.  Bentuk tubuh secar akeseluruhan mulai dari mulut sampai ujung sirip ekor mulus, sehat, sirip tidak cacat.
c. Tutup insan normal tidak tebal dan bila dibuka tidak terdapat bercak putih; panjang  kepala  minimal  1/3 dari  panjang badan; lensa   mata tampak jernih.
d.  Sisik tersusun rapih, cerah tidak kusam.
e.   Pangkal ekor kuat dan normal dengan panjang panmgkal ekor harus lebih panjang dibandingkan lebar/tebal ekor.
Sedangkan ciri-ciri untuk membedakan induk jantan dan induk betina adalah sebagai berikut:
a.  Betina
-Badan bagian perut besar, buncit dan lembek.
-Gerakan lambat, pada malam hari biasanya loncat-loncat. -Jika perut distriping mengeluarkan cairan berwarna kuning.
b. Jantan
-Badan tampak langsing.
-Gerakan lincah dan gesit.
-Jika perut distriping mengeluarkan cairan sperma berwarna putih.
2.   Sistim Pembenihan/Pemijahan
Saat ini dikenal dua macam sistim pemijahan pada budidaya ikan mas, yaitu:
a.  Sistem pemijahan tradisional
Dikenal beberapa cara melakukan pemijahan secara tradisional, yaitu: -Cara sunda: (1) luas kolam pemijahan  25-30 meter  persegi, dasar kolam sedikit berlumpur, kolam dikeringkan lalu diisi air pada pagi hari, induk dimasukan pada sore hari; (2) disediakan injuk untuk menepelkan telur; (3) setelah proses pemijahan selesai, ijuk dipindah ke kolam penetasan.
-Cara  cimindi:  (1)  luas kolam pemijahan 25-30 meter persegi, dasar kolam sedikit berlumpur, kolam dikeringkan lalu diisi air pada pagi hari, induk dimasukan pada sore hari; kolam pemijahan merupakan kolam penetasan; (2)  disediakan injuk untuk  menepelkan telur,  ijuk  dijepit bambu dan diletakkan dipojok kolam dan dibatasi pematang antara dari tanah;  (3)  setelah proses pemijahan selesai induk dipindahkan ke kolam lain; (4) tujuh hari setelah pemijahan ijuk ini dibuka kemudian sekitar 2-3 minggu setelah itu dapat dipanen benih-benih ikan.
-Cara rancapaku: (1) luas kolam pemijahan 25-30 meter persegi, dasar kolam sedikit berlumpur, kolam dikeringkan lalu diisi air pada pagi hari, induk dimasukan pada sore hari; kolam pemijahan merupakan kolam penetasan, batas pematang antara terbuat dari batu; (2) disediakan rumput kering untuk menepelkan  telur,  rumput disebar  merata  di seluruh permukaan air kolam dan dibatasi pematang antara dari tanah; (3) setelah proses pemijahan selesai induk tetap di kolam   pemijahan.; (4) setelah benih ikan kuat maka akan berpindah tempat melalui sela bebatuan, setelah 3 minggu maka benih dapat dipanen.
-Cara sumatera: (1) luas kolam pemijahan 5 meter persegi, dasar kolam sedikit berlumpur, kolam dikeringkan lalu diisi air pada pagi hari, induk dimasukan  pada  sore  hari; kolam pemijahan merupakan kolam penetasan; (2) disediakan injuk untuk menepelkan telur, ijuk ditebar di permukaan air; (3) setelah proses pemijahan selesai induk dipindahkan ke kolam lain; (4) setelah benih berumur 5 hari lalu pindahkan ke kolam pendederan.
-Cara dubish: (1) luas kolam pemijahan 25-50 meter persegi, dibuat parit keliling dengan lebar 60 cm dalam 35 cm, kolam dikeringkan lalu diisi air pada pagi hari, induk dimasukan pada sore hari; kolam pemijahan merupakan kolam  penetasan; (2) sebagai  media penempel telur digunakan tanaman hidup seperti Cynodon dactylon setinggi 40 cm; (3) setelah proses pemijahan selesai induk dipindahkan ke kolam lain; (4) setelah benih berumur 5 hari lalu pindahkan ke kolam pendederan. -Cara hofer: (1) sama seperti cara dubish hanya tidak ada parit dan tanaman Cynodon dactylon dipasang di depan pintu pemasukan air.
b.  Sistim kawin suntik
Pada sisitim ini induk baik jantan maupun betina yang matang bertelur dirangsang untuk memijah setelah penyuntikan ekstrak kelenjar hyphofise ke dalam tubuh ikan. Kelenjar hyphofise diperoleh dari kepala ikan donor (berada dilekukan tulang tengkorak di  bawah otak  besar).Setelah suntikan dilakukan  dua kali, dalam tempo 6 jam induk akan terangsang melakukan pemijahan. Sistim ini memerlukan biaya yang tinggi, sarana yang lengkap dan perawatan yang intensif.
3.  Pembenihan/Pemijahan
Hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan pemijahan ikan mas:
a.    Dasar kolam tidak berlumpur, tidak bercadas.
b.    Air tidak terlalu keruh; kadar oksigen dalam air cukup; debit air cukup; dan suhu berkisar 25 derajat C.
c.   Diperlukan bahan penempel telur seperti ijuk atau tanaman air.
d.  Jumlah induk yang disebar tergantung dari luas kolam, sebagai patokan seekor induk berat 1 kg memerlukan kolam seluas 5 meter persegi.
e.    Pemberian  makanan  dengan kandungan  protein 25%. Untuk pellet diberikan secara teratur 2 kali sehari (pagi dan sore hari) dengan takaran 2-4% dari jumlah berat induk ikan.
4.   Pemeliharaan Bibit/Pendederan
Pendederan atau pemeliharaan anak ikan mas dilakukan setelah telur-telur hasil pemijahan menetas. Kegiatan ini dilakukan pada kolam pendederan (luas 200-500 meter persegi) yang sudah siap menerima anak ikan dimana kolam tersebut dikeringkan terlebih dahulu serta dibersihkan dari ikan-ikan liar. Kolam diberi kapur dan dipupuk sesuai ketentuan. Begitu pula dengan pemberian pakan untuk bibit diseuaikan dengan ketentuan.
Pendederan ikan mas dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu:
a. Tahap I: umur benih yang disebar sekitar 5-7 hari(ukuran1-1,5 cm); jumlah benih  yang  disebar=100-200  ekor/meter persegi; lama pemeliharaan 1 bulan; ukuran benih menjadi 2-3 cm.
b.  Tahap II: umur benih setelah tahap  I  selesai;  jumlah benih  yang disebar=50-75 ekor/meter persegi;  lama pemeliharaan 1  bulan;  ukuran benih menjadi 3-5 cm.
c. Tahap  III: umur benih setelah  tahap II selesai; jumlah benih yang disebar=25-50 ekor/meter persegi;  lama pemeliharaan 1  bulan;  ukuran benih menjadi 5-8 cm; perlu penambahan makanan berupa dedak halus 3-5% dari jumlah bobot benih.
d. Tahap IV: umur benih setelah tahap III selesai; jumlah benih yang disebar=3-5 ekor/meter persegi; lama pemeliharaan 1 bulan; ukuran benih menjadi 8-12 cm; perlu penambahan makanan berupa dedak halus 3-5% dari jumlah bobot benih.
5.  Perlakuan dan Perawatan Bibit
Apabila benih belum mencapai ukuran 100 gram, maka benih diberi pakan pelet 2 mm sebanyak 3 kali bobot total benih yang diberikan 4 kali sehari selama 3 minggu.
6.3. Pemeliharaan Pembesaran
Pemeliharaan pembesaran dapat dilakukan  secara  polikultur  maupun monokultur.
a.   Polikultur
1.  ikan mas 50%, ikan tawes 20%, dan mujair 30%, atau
2. ikan mas 50%, ikan gurame 20% dan ikan mujair 30%.
b.  Monokultur
Pemeliharaan  sistem ini merupakan  pemeliharaan terbaik dibandingkan dengan polikultur dan pada sistem ini dilakukan pemisahan  antara  induk jantan dan betina.
1.  Pemupukan
Pemupukan dengan kotoran kandang (ayam) sebanyak 250-500 gram/m2 , TSP 10 gram/m2 , Urea 10 gram/m2 , kapur 25-100 gram/m2 . Setelah itu kolam diisi air 39\0-40 cm. Biarkan 5-7 hari. Dua hari setelah pengisian air, kolam disemprot dengan insektisida organophosphat  seperti  Sumithion 60 EC, Basudin 60 EC dengan dosis  2-4 ppm.  Tujuannya untuk memberantas serangga dan udang-udangan yang memangsa rotifera. Setelah  7  hari kemudian, air ditinggikan sekitar 60 cm. Padat penebaran ikan tergantung pemeliharaannya. Jika hanya mengandalkan pakan alami dan dedak, maka padat penebaran adalah 100-200 ekor/m2 , sedangkan bila  diberi  pakan pellet,  maka penebaran adalah 300-400 ekor/m2  (benih lepas hapa). Penebaran dilakukan pada pagi/sore hari saat suhu rendah.
2.  Pemberian Pakan
Dalam pembenihan secara intensif biasanya diutamakan pemberian pakan buatan. Pakan yang berkualitas baik mengandung zat-zat makanan yang cukup, yaitu protein yang mengandung asam amino esensial, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral. Perawatan larva dalam hapa sekitar 4-5 hari. Setelah larva tidak menempel pada kakaban (3-4 hari kemudian) kakaban diangkat dan dibersihkan. Pemberian pakan untuk larva, 1 butir kuning telur rebus untuk 100.000 ekor/hari. Caranya kuning telur dibuat suspensi (1/4 liter air untuk 1 butir), kuning telur diremas dalam kain kemudian diberikan pada benih, perawatan 5-7 hari.
3.  Pemeliharaan Kolam/Tambak
Dalam  hal pemeliharaan ikan  mas yang tidak boleh terabaikan adalah menjaga kondisi perairan agar kualitas air cukup stabil dan bersih serta tidak tercemari/teracuni oleh zat beracun.
7.   HAMA DAN PENYAKIT
7.1. Hama
1. Bebeasan (Notonecta)
Berbahaya bagi benih  karena  sengatannya.  
Pengendalian: menuangkan minyak tanah ke permukaan air 500 cc/100 meter persegi.
2. Ucrit (Larva cybister)
Menjepit badan ikan dengan taringnya hingga robek.    
Pengendalian: sulit diberantas; hindari bahan organik menumpuk di sekitar kolam.
3.  Kodok
Makan telur telur ikan.        
Pengendalian: sering membuang telur  yang mengapung; menagkap dan membuang hidup-hidup.
4. Ular
Menyerang benih dan  ikan  kecil.   
Pengendalian: lakukan penangkapan; pemagaran kolam.
5. Lingsang
Memakan ikan pada malam hari.
Pengendalian:pasang jebakan berumpun.
6.  Burung
Memakan  benih yang berwarna menyala seperti merah, kuning.
Pengendalian: diberi penghalang bambu agar supaya sulit menerkam; diberi rumbai-rumbai atau tali penghalang.
7. Ikan gabus
Memangsa ikan kecil.
Pengendalian:pintu masukan air diberi saringan atau dibuat bak filter.
8.  Belut dan kepiting
Pengendalian: lakukan penangkapan.
7.2. Penyakit
1.   Bintik merah (White spot)
Gejala: pada bagian tubuh (kepala, insang, sirip) tampak bintik-bintik putih,
pada infeksi  berat terlihat jelas  lapisan  putih,  menggosok-gosokkan badannya pada benda yang ada disekitarnya dan berenang sangat lemah serta sering muncul di  permukaan  air.      
Pengendalian: direndam  dalam larutan Methylene blue 1% (1 gram dalam 100 cc air) larutan ini diambil 2-4 cc dicampur 4 liter air selama 24 jam dan Direndam dalam garam dapur NaCl selama 10 menit, dosis 1-3 gram/100 cc air.
2.   Bengkak insang dan badan ( Myxosporesis)
Gejala: tutup insang selalu terbuka oleh bintik kemerahan, bagian punggung
terjadi pendarahan. Pengendalian ; pengeringan kolam secara total, ditabur kapur tohon 200 gram/m2 , biarkan selama 1-2 minggu.
3.  Cacing insang, sirip, kulit (Dactypogyrus dan girodactylogyrus)
Gejala: ikan tampak kurus, sisik kusam, sirip ekor kadang-kadang rontok,
ikan menggosok-gosokkan badannya pada benda keras disekitarnya, terjadi
pendarahan dan menebal pada insang. 
Pengendalian: (1) direndan dalam larutan  formalin 250 gram/m3 selama 15  menit dan  direndam  dalam Methylene blue 3 gram/m3 selama 24 jam; (2) hindari penebaran ikan yang berlebihan.
4.  Kutu ikan (  argulosis)
Gejala: benih dan induk menjadi kurus, karena dihisap darahnya. Bagian
kulit, sirip dan insang terlihat jelas  adanya  bercak merah  (hemorrtage).
Pengendalian: (1) ikan yang terinfeksi  direndan  dalam garam dapur  20
gram/liter air selama 15 menit dan direndam larutan PK 10 ppm (10 ml/m3) selama 30 menit; (2) dengan pengeringan kolam hingga retak-retak.
5. Jamur (Saprolegniasis)
Menyerang  bagian  kepala, tutup insang, sirip dan  bagian yang lainnya.
Gejala: tubuh yang diserang tampak seperti kapas. Telur yang terserang
jamur, terlihat benang halus seperti kapas.  
Pengendalian: direndam dalam
larutan Malactile green oxalat (MGO) dosis 3 gram/m3 selama 30 menit; telur yang terserang direndam dengan MGO 2-3 gram/m3 selama 1 jam.
6.    Gatal (   Trichodiniasis)
Menyerang benih ikan.
Gejala: gerakan lamban; suka menggosok-gosokan badan
pada sisi kolam/aquarium.         
Pengendalian: rendam selam 15 menit
dalam larutan formalin 150-200 ppm.
7.  Bakteri psedomonas flurescens
Penyakit yang sangat ganas.
Gejala: pendarahan dan bobok pada kulit; sirip ekor terkikis.         
Pengendalian:  pemberian  pakan yang dicampur oxytetracycline 25-30 mg/
kg ikan atau sulafamerazine 200mg/kg ikan selama 7 hari berturut-turut.
8.  Bakteri aeromonas punctata
Penyakit yang sangat ganas. 
Gejala: warna badan suram, tidak cerah; kulit
kesat  dan melepuh; cara bernafas  mengap-mengap; kantong empedu
gembung; pendarahan dalam organ hati dan ginjal.                
Pengendalian:
penyuntikan  chloramphenicol  10-15 mg/kg ikan atau streptomycin 80-100 mg/kg ikan; pakan dicampur terramicine 50  mg/kg  ikan  selama  7  hari berturut-turut.
Secara  umum hal-hal yang  dilakukan  untuk dapat mencegah timbulnya penyakit dan hama pada budidaya ikan mas:
1. Pengeringan dasar kolam secara teratur setiap selesai panen.
2. Pemeliharaan ikan yang benar-benar bebas penyakit.
3. Hindari penebaran ikan secara berlebihan melebihi kapasitas.
4. Sistem pemasukan air yang ideal adalah paralel, tiap kolam diberi satu pintu pemasukan air.
5. Pemberian pakan cukup, baik kualitas maupun kuantitasnya.
6. Penanganan saat  panen  atau pemindahan benih hendaknya  dilakukan secara hati-hati dan benar.
7. Binatang  seperti burung, siput, ikan seribu (lebistus reticulatus  peters) sebagai pembawa penyakit jangan dibiarkan masuk ke areal perkolaman.
8.   PANEN
8.1. Pemanenan Benih
Sebelum dilakukan pemanenan benih ikan, terlebih dahulu dipersiapkan alat- alat tangkap dan sarana perlengkapannya. Beberapa alat tangkap dan sarana yang disiapkan diantaranya keramba, ember biasa, ember lebar, seser halus sebagai  alat tangkap  benih, jaring atau hapa sebagai penyimpanan  benih sementara, saringan yang digunakan untuk mengeluarkan air dari kolam agar benih ikan tidak terbawa arus, dan bak-bak penampungan yang berisi air bersih untuk penyimpanan benih hasil panen.
Panen benih ikan dimulai pagi-pagi, yaitu antara jam 04.00–05.00 pagi dan sebaiknya berakhir tidak lebih dari jam 09.00 pagi. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari  terik  matahari  yang  dapat mengganggu benih ikan kesehatan tersebut. Pemanenan dilakukan mula-mula dengan menyurutkan  air  kolam pendederan sekitar pkul 04.00 atau 05.00 pagi secara perlahan-lahan agar ikan tidak stres akibat tekanan air yang berubah secara mendadak. Setelah air surut benih mulai ditangkap dengan seser halus atau jaring dan ditampung dalam ember atau keramba.
Benih dapat dipanen setelah dipelihara selama 21 hari. Panenan yang dapat diperoleh dapat mencapai 70-80% dengan ukuran benih antara 8-12 cm.
8.2. Cara Perhitungan Benih
Untuk  mengetahui benih ikan hasil panenan yang  disimpan  dalam bak penyimpanan maka sebelum dijual, terlebih dahulu dihitung jumlahnya. Cara menghitung  benih umumnya dengan memakai takaran, yaitu dengan menggunakan sendok untuk larva dan kebul, cawan untuk menghitung putihan, dan dihitung  per  ekor  untuk benih ukuran glondongan. Penghitungan benih biasanya dengan cara:
a.   Penghitungan dengan sendok.
b.  Penghitungan dengan mangkok.
8.3. Pembersihan
Pada umumnya, dasar kolam pendederan sudah dirancang miring dan ada saluran di tengah kolam, selain itu pada dasar kolam tersebut ada bagian yang lebih dalam dengan ukuran 1-2 meter persegi sehingga ketika air menyurut, maka benih ikan akan mengumpul di bagian kolam yang dalam tersebut. Benih ikan lalu ditangkap sampai habis dan tidak ada yang ketinggalan dalam kolam. Benih ikan tersebut semuanya disimpan dalam bak-bak penampungan yang telah disiapkan.
8.4. Pemanenan Hasil Pembesaran
Untuk menangkap/memanen ikan hasil pembesaran umumnya dilakukan panen total. Umur ikan mas yang dipanen berkisar antara 3-4 bulan dengan berat berkisar antara  400-600 gram/ekor. Panen total dilakukan dengan cara mengeringkan  kolam,  hingga ketinggian air tinggal 10-20 cm.  Petak pemanenan/petak penangkapan dibuat seluas 2 meter persegi di depan pintu pengeluaran (monnik), sehingga  memudahkan dalam  penangkapan  ikan. Pemanenan  dilakukan  pagi  hari saat keadaan tidak panas dengan menggunakan waring atau scoopnet yang  halus.  Lakukan  pemanenan secepatnya dan hati-hati untuk menghindari lukanya ikan.
9.  PASCAPANEN
Penanganan pascapanen ikan mas dapat dilakukan dengan cara penanganan ikan hidup maupun ikan segar.
1. Penanganan ikan hidup
Adakalanya ikan konsumsi ini akan lebih mahal harganya bila dijual dalam keadaan hidup. Hal yang perlu diperhatikan agar ikan tersebut sampai ke konsumen dalam keadaan hidup, segar dan sehat antara lain:
a. Dalam pengangkutan gunakan air yang bersuhu rendah sekitar 20 derajat C.
b.  Waktu pengangkutan hendaknya pada pagi hari atau sore hari.
c.  Jumlah kepadatan ikan dalam alat pengangkutan tidak terlalu padat.
2.  Penanganan ikan segar
Ikan segar mas merupakan produk yang cepat turun kualitasnya. Hal yang perlu diperhatikan untuk mempertahankan kesegaran antara lain:
a. Penangkapan harus dilakukan hati-hati agar ikan-ikan tidak luka.
b. Sebelum dikemas, ikan harus dicuci agar bersih dan lendir.
c. Wadah pengangkut harus bersih dan tertutup. Untuk pengangkutan jarak dekat (2 jam perjalanan), dapat digunakan keranjang yang dilapisi dengan daun pisang/plastik. Untuk pengangkutan jarak jauh digunakan kotak dan seng  atau  fiberglass.  Kapasitas kotak maksimum  50 kg dengan  tinggi kotak maksimum 50 cm.
d. Ikan diletakkan di dalam wadah yang diberi es dengan suhu 6-7 derajat C. Gunakan es berupa potongan kecil-kecil (es curai) dengan perbandingan jumlah es dan ikan=1:1. Dasar kotak dilapisi es setebal 4-5 cm. Kemudian ikan disusun di atas lapisan es ini setebal 5-10 cm, lalu disusul lapisan es lagi dan seterusnya. Antara ikan dengan dinding kotak diberi es, demikian juga antara ikan dengan penutup kotak.
3. Sedangkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pananganan benih adalah sebagai berikut:
a. Benih ikan harus dipilih yang sehat yaitu bebas dari penyakit, parasit dan tidak cacat. Setelah itu, benih ikan baru dimasukkan ke dalam kantong plastik (sistem tertutup) atau keramba (sistem terbuka).
b. Air yang dipakai media pengangkutan harus bersih, sehat, bebas hama dan penyakit serta bahan organik lainya. Sebagai contoh dapat digunakan air sumur yang telah diaerasi semalam.
c. Sebelum diangkut benih ikan harus diberok dahulu selama beberapa hari. Gunakan  tempat pemberokan berupa bak yang  berisi  air  bersih dan dengan aerasi yang baik. Bak pemberokan dapat dibuat dengan ukuran 1 m x 1 m atau 2 m x 0,5 m. Dengan ukuran tersebut, bak pemberokan dapat  menampung benih ikan  mas sejumlah 5000–6000  ekor dengan ukuran  3-5 cm. Jumlah benih dalam pemberokan  harus  disesuaikan dengan ukuran benihnya.
d. Berdasarkan lama/jarak pengiriman, sistem pengangkutan benih terbagi menjadi dua bagian, yaitu:
-Sistem terbuka
Dilakukan untuk mengangkut  benih dalam jarak dekat  atau tidak memerlukan waktu yang lama. Alat  pengangkut berupa  keramba. Setiap  keramba  dapat  diisi air bersih 15 liter dan dapat untuk mengangkut sekitar 5000 ekor benih ukuran 3-5 cm.
-Sistem tertutup
Dilakukan  untuk pengangkutan benih jarak jauh yang memerlukan waktu lebih dari 4-5 jam, menggunakan kantong plastik. Volume media pengangkutan terdiri dari air bersih 5 liter  yang  diberi  buffer Na2(hpo)4.H 2O sebanyak 9 gram. Cara pengemasan benih ikan yang diangkut dengan kantong plastik: (1) masukkan air  bersih  ke  dalam kantong plastik kemudian benih; (3) hilangkan udara dengan menekan kantong  plastik  ke  permukaan  air; (3) alirkan oksigen dari tabung dialirkan ke kantong plastik sebanyak 2/3 volume keseluruhan rongga (air:oksigen=1:2); (4) kantong plastik lalu  diikat. (5)  kantong  plastik dimasukkan ke dalam dos dengan posisi membujur  atau ditidurkan. Dos yang berukuran panjang 0,50 m, lebar 0,35 m, dan tinggi 0,50 m dapat diisi 2 buah kantong plastik.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan setelah benih sampai di tempat tujuan adalah sebagai berikut:
-Siapkan larutan tetrasiklin 25 ppm  dalam  waskom  (1  kapsul tertasiklin dalam 10 liter air bersih).
-Buka  kantong  plastik, tambahkan air bersih yang berasal  dari kolam setempat sedikit demi sedikit agar perubahan suhu air  dalam  kantong plastik terjadi perlahan-lahan.
-Pindahkan benih ikan ke waskom yang berisi larutan  tetrasiklin selama 1- 2 menit.
-Masukan benih ikan ke dalam bak pemberokan. Dalam bak pemberokan benih  ikan  diberi pakan secukupnya. Selain itu,  dilakukan pengobatan dengan tetrasiklin 25 ppm  selama  3 hari  berturut-turut. 
-Setelah 1 minggu dikarantina, tebar benih ikan di kolam budidaya.
10.    Gambaran Peluang Agribisnis
Dengan adanya luas perairan umum di Indonesia yang terdiri dari sungai, rawa, danau alam dan buatan seluas hampir mendekati 13 juta ha merupakan potensi alam  yang  sangat baik bagi pengembangan usaha  perikanan  di Indonesia. Disamping itu  banyak potensi pendukung lainnya yang dilaksanakan oleh pemerintah dan swasta dalam hal permodalan, program penelitian dalam hal
pembenihan, penanganan penyakit dan hama dan penanganan pasca panen,
penanganan budidaya serta adanya kemudahan dalam hal periizinan import.
Walaupun permintaan di tingkal pasaran lokal akan ikan mas dan ikan air tawar lainnya selalu  mengalami  pasang surut,  namun dilihat dari jumlah hasil penjualan  secara  rata-rata  selalu  mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Apabila  pasaran lokal ikan mas  mengalami kelesuan,  maka akan sangat berpengaruh terhadap harga jual baik di tingkat petani maupun di tingkat grosir di pasar ikan. Selain itu penjualan benih ikan mas boleh dikatakan hampir tak ada masalah, prospeknya cukup baik. Selain adanya potensi pendukung dan faktor permintaan komoditi perikanan untuk  pasaran lokal, maka  sektor perikanan merupakan salah satu peluang usaha bisnis yang cerah.
11.        DAFTAR PUSTAKA
1. DAMANA, Rahman. 1990. Pembenihan Ikan Mas Secara  Intensif dalam
               Sinar Tani. 2 ,Juni 1990 hal. 2
2.  GUNAWAN.   Mengenal Cara Pemijahan Ikan Mas dalam Sinar  Tani. 27
               Agustus 1988 hal. 5
3.   RUKMANA, Rahmat. 1991.        Budidaya Ikan Mas, Untungnya Bagai Menabung
                Emas dalam Sinar Tani. 13 Februari 1991 hal.  5
4.   RUKMANA, Rahmat. 1992.        Prospek  Usaha  Ikan Mas Menggiurkan Dan
              Menguntungkan dalam Suara Karya. 18 Februari 1992 hal. 7
5.   SANTOSO, Budi. 1993.   Petunjuk praktis : Budidaya ikan mas. Yogyakarta :
              Kanisius.
6.   SUMANTADINATA, Komar. 1981.         Pengembangbiakan ikan-ikan peliharaan
             di Indonesia. Jakarta : Sastra Hudaya.
7.   SUSENO, Djoko. 1999.   Pengelolaan usaha pembenihan ikan mas, cet. :7.
             Jakarta : Penebar Swadaya.

0 comments:

Post a Comment