Monday, April 18, 2016

MENGENAL JEMIS IKAN TAMBAKAN (Helostoma temminckii)

April 18, 2016 Posted by Media Penyuluhan Perikanan Pati No comments
Ikan tambakan memiliki tubuh berbentuk pipih vertikal. Sirip punggung dan sirip analnya memiliki bentuk dan ukuran yang hampir serupa. Sirip ekornya sendiri berbentuk nyaris bundar atau mengarah cembung ke luar, sementara sirip dadanya yang berjumlah sepasang juga berbentuk nyaris bundar. Di kedua sisi tubuhnya terdapat gurat sisi, pola berupa garis tipis yang berawal dari pangkal celah insangnya sampai pangkal sirip ekornya. Kurang lebih ada sekitar 43-48 sisik yang menyusun gurat sisi tersebut. Ikan tambakan diketahui bisa tumbuh hingga ukuran 30 sentimeter. Klasifikasi ilmiah
Kerajaan    : Animalia
Filum        : Chordata
Kelas        : Actinopterygii
Ordo        : Perciformes
Upaordo    : Anabantoidei
Famili        : Helostomatidae
Genus        : Helostoma
Spesies    : H. temminckii
Nama binomial : Helostoma temminckii
Salah satu ciri khas dari ikan tambakan adalah mulutnya yang memanjang. Karakteristik mulutnya yang menjulur ke depan membantunya mengambil makanan semisal lumut dari tempatnya melekat. Bibirnya diselimuti oleh semacam gigi bertanduk, namun gigi-gigi tersebut tidak ditemukan di bagian mulut lain seperti faring, premaksila, dentary, dan langit-langit mulut. Ikan tambakan juga memiliki tapis insang (gill raker) yang membantunya menyaring partikel-partikel makanan yang masuk bersama dengan air.[3]
Ada dua jenis ikan tambakan berdasarkan warnanya, namun mereka masih termasuk dalam spesies yang sama: ikan tambakan berwarna hijau dan ikan tambakan berwarna pucat atau merah muda. Belakangan, ada juga jenis ikan tambakan yang ukurannya lebih kecil dari ikan tambakan kebanyakan dan bentuknya bundar nyaris menyerupai balon. Variasi genetis ikan tersebut biasa dikenal dengan nama "gurami pencium kerdil" atau "balon merah muda".[4]
Habitat
Ikan tambakan merupakan ikan air tawar yang bersifat bentopelagik (hidup di antara permukaan dan wilayah dalam perairan). Wilayah asli tempatnya tinggal umumnya adalah wilayah perairan tropis yang dangkal, berarus tenang, dan banyak terdapat tanaman air.[1] Pada awalnya ikan tambakan hanya ditemukan di perairan air tawar Asia Tenggara, namun belakangan mereka menyebar ke seluruh wilayah beriklim hangat sebagai binatang introduksi.[4]
Perilaku
Makanan Ikan tambakan adalah ikan omnivora yang mau memakan hampir segala jenis makanan. Makanannya bervariasi, mulai dari lumut, tanaman air, zooplankton, hingga serangga air. Bibirnya yang dilengkapi gigi-gigi kecil membantunya mengambil makanan dari permukaan benda padat semisal batu.[1] Ikan tambakan juga memiliki tapis insang (gill raker) yang membantunya menyaring partikel plankton dari air. Saat sedang mencabut makanan yang menempel di permukaan benda padat memakai mulutnya itulah, ikan ini bagi manusia terlihat seolah-olah sedang "mencium" benda tersebut.[4]
Reproduksi
Ikan tambakan termasuk ikan yang mudah berkembang biak. Di alam liar, dalam waktu kurang dari 15 bulan, populasi minimum mereka sudah bisa bertambah hingga dua kali lipat populasi awalnya. Reproduksi ikan tambakan sendiri terjadi ketika periode musim kawinnya sudah tiba.[4] Di Thailand misalnya, musim kawin ikan tambakan terjadi antara bulan Mei hingga Oktober.
Perkawinan antara kedua ikan tambakan yang berbeda jenis kelamin terjadi di bawah tanaman air yang mengapung. Ikan tambakan betina selanjutnya akan melepaskan telur-telurnya yang kemudian akan mengapung di antara tanaman air. Tidak seperti anggota subordo Anabantoidei lainnya, ikan tambakan tidak membuat sarang maupun menjaga anak-anaknya sehingga anak ikan tambakan yang baru menetas sudah harus mandiri. Sehari setelah pertama kali dilepaskan ke air, telur-telur tersebut akan menetas dan setelah sekitar dua hari, anak-anak ikan tambakan sudah bisa berenang bebas.[4]
Kebiasaan "Mencium"
Ikan tambakan juga dijuluki sebagai "ikan gurami pencium" karena kebiasaannya dalam memakai bibirnya untuk "mencium" benda-benda lain maupun ikan tambakan lainnya. Sebenarnya ikan tambakan tidak bena-benar mencium. Saat sedang mencium benda-benda padat semisal batu, ikan ini sebenarnya sedang menggerogoti makanan yang menempel pada permukaan benda padat tersebut. Ikan tambakan jantan juga saling beradu mulut satu sama lain untuk menegaskan supremasinya atas pejantan lain saat menjaga wilayah kekuasaannya. Perilaku adu bibir ini tidak pernah berakibat fatal, namun di dalam tangkapan, ikan tambakan jantan yang terus menerus kalah usai duel adu bibir bisa mati akibat stress.[5]
Manfaat bagi manusia
Ikan tambakan sudah sejak lama membawa manfaat bagi manusia. Di wilayah aslinya di Asia Tenggara, ikan ini dibudidayakan untuk diambil dagingnya. Ikan tambakan juga biasa dipancing di alam liar. Belakangan, ikan tambakan menjadi salah satu komoditas ikan hias air tawar karena wujud dan perilakunya yang unik.[1] Sebagai dampak dari popularitasnya sebagai ikan hias, sejumlah besar ikan tambakan yang masih berukuran kecil diekspor ke negara-negara lain seperti Jepang, Eropa, Amerika Utara, dan Australia.[1]Hama Pengganggu dan Pemberantasannya
Hama dikenal sebagai pemangsa (predator) merupakan organisme hidup yang bisa terdiri dari hewan air ataupun hewan darat.  Hama yang umum ditemukan antara lain ular air, bulus (kura-kura), biawak, sero (lingsang), kodok dan burung.
Pemberantasan yang paling efektif yaitu dengan cara mekanik atau dengan membunuhnya secara langsung bila kebetulan ditemukan dilokasi.  Cara lain yaitu dengan memasang perangkap (ranjau) bagi jenis hama tertentu serta memasang umpan yang telah dicampur dengan racun.
Selain hama, terdapat pula sekelompok hewan yang dapat digolongkan kedalam insekta air.  Kelompok hewan ini banyak ditemukan pada areal pembenihan dan pendederan ikan, terutama menyerang serta memangsa telur dan benih ikan yang masih kecil.  Berikut diantara insekta air yang sering ditemukan pada kolam pembenihan atau pendederan ikan tambakan.
a.      Kini-kini
Kini-kini hidup dibawah permukaan air, berasal dari capung (ordonata).  Kemampuan menangkap dan memakan mangsanya sangat tinggi dalam waktu yang sangat singkat.  Cara memangsannya mula-mula ikan ditangkap kemudian menghisap darah dan memakan mangsanya dengan cara bertahap.
Pemberantasan
•      Menghalangi capung agar tidak  bertelur  dipermukaan air
•      Mengurangi padat penebaran
b.      Ucrit
Ucrit (peupeundeuyan) merupakan larva dari Cybister atau kumbang air.  Bentuknya memanjang seperti ulat, berwarna kehijauan, panjangnya 3-5 cm.  Mula-mula ikan ditangkap dan dilumpuhkan dengan ujung ekor yang bercabang dua dan tajam.  Ikan digenggam erat, mangsanya dimakan bagian demi bagian dengan cara digigit.
Pencegahan
•    Gunakan sistem filter pada kolam pembenihan maupun kolam pendederean
•    Hindari penebaran ikan pada kolam yang digenangi lebih dari satu minggu
•    Padat penebaran jangan terlalu tinggi
•    Gunakan sumber air yang kira-kira tidak mengandung bibit parasit dan hama
c.       Notonekta
Bentuk maupun ukuran badan notonekta (bebeasan) persis seperti butiran beras dan seluruh dari bawah badannya (perut) berwarna putih.  Hewan ini membunuh mangsanya dengan alat penusuk sekaligus berfungsi sebagai alat penghisap cairan tubuh ikan yang diserang.
Pencegahan
Pemasangan saringan pada pintu pemasukan air.
Pemberantasan
•    Percikan minyak tanah keseluruh permukaan air kolan sebanyak 0,5 l/50 m2 luas permukaan air
•    Penyemprotan kolam menggunakan insektisida dengan dosis 0,5-1,0 ml/m2 air dan biarkan selama 24 jam.
Parasit Penyebab dan Pemberantasannya  
Penyakit ikan mudah sekali ditularkan dari satu ikan terhadap ikan lainya melalui kulit, insang, dan terutama melalui air sebagai media hidup ikan.  Penurunan produksi dapat diakibatkan oleh adanya wabah penyakit, hama dan pengganggu.  Penyebab penurunan produksi harus
dikendalikan dan diberantas hingga tuntas tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.
Adapun jenis penyakit yang menyerang ikan tambakan dapat dilihat pada tabel dibawah ini berikut  pengendalian dan pemberantasannya.
abel 1. Penyakit dan gejala
NO    PENYAKIT    SIKLUS HIDUP    GEJALA-GEJALA
1.    Lerneae Sp
    Secara sepintas menyerupai cacing yang menempel pada ikan dan termasuk udang kelas rendah dengan tiga stadium, yaitu : Nauplius, Cepepodid, Cyplopodid. Pada stadium dewasa bagian kepala berbentuk jangkar yang biasanya menghajam kedalam daging ikan, sedang pada bagian posteriornya terdapat dua kantung telur.    •         Adanya binatang renik mirip cacing pada sekujur badannya termasuk sisik dan matanya.
•         Luka-luka dan  pendarahan pada sekujur badan yang ditempeli parasit ini.
•         Ikan yang terserang Lerneae  kurus karena parasit ini menghisap cairan dalam tubuh ikan.
NO    PENYAKIT    SIKLUS HIDUP    GEJALA-GEJALA
2.    Argulus    
Bentuk Argulus bulat pipih dan hidup dengan menghisap darah ikan dan dapat berpindah-pindah dari satu ikan ke ikan yang lain. Organ yang diserang parasit ini adalah permukaan perut, sisik, dan biasanya menimbulkan pendarahan pada permukaan kulit ikan.  Argulus juga dapat menularkan penyakit-penyakit ikan yang disebabkan oleh bakteri dan virus.    •        
19 Terlihat  iritasi berat, berenang tidak normal dengan kecepatan tinggi.
•         Ikan biasanya menggosok-gosokan badannya pada benda-benda keras,
•         mengkonsumsi pakan berkurang sehingga pertumbuhannya menurun karena sel-sel darah dimakan oleh kutu. 
3.    Saprolegnia Sp & Achlya    Keduanya memiliki bentuk hampir sama menyerupai benang-benang yang halus. Perbedaannya Sparogia dari Spralorogenia terbentuk dalam hypae sedangkan Sparogia dari Achlya terjadi diujung-ujung hypae.    Bila telah terkena inveksi dan tidak segera diobati maka ikan akan menjadi kurus dan akhirnya mati. Karena celium cendawan ini dapat menerobos bagian dalam dan lalu masuk ke otot daging bahkan sampai ketulang-tulang ikan.
4.    Ichtyopthirius multifilis
Seluruh tubuhnya diselimuti oleh bulu-bulu halus (cilia) yang dapat digunakan untuk berenang mencari inangnya dengan sebuah nucleus yang bentuknya seperti kacang tanah.    •         Banyak mengeluarkan lendir
•         Terlihat bintik putih pada sirip/ kulit/ insang
•         Sering terdapat pada permukaan air
•         Pertumbuhannya terlambat dan warnanya pucat
Tabel 2. Penyakit, pencegahan dan penanggulangannya
NO    PENYAKIT    PENCEGAHAN    PENGOBATAN    TREATMEN ALAMI
1.    Lerneae S
    Pembuatan filter pada pemasukan air
    Pencelupan dalam larutan Formalin 25 ml/100 lt air selama 10-15 menit, dan pengobatan ini harus dilakukan 2-3 kali dengan selang waktu 2-3 hari sampai ikan benar-benar terbebas dari Lernaea.    Perendaman dengan menggunakan ekstrak daun sirih atau mahkota dewa. Karena kedua jenis itu mempunyai khasiat anti bakteri dan anti septic.
2.    Argulus inducus    Pengeringan kolam selama 2-3 hari, pengeringan kolam dapat menggunakan CaCo3 dengan dosis 25 kg / ha dan biarkan selama 3 minggu.
    -Secara Mekanis
Ikan yang terkena infeksi  Argulusnya dapat diambil dengan pinset.
-Secara kimia
Dengan metoda perendaman, menggunakan :
•         Lysol 1:500 ml selama 15 detik
•         DDT 1:1000 ml selama15 detik
Kemudian ikan dimasukan kedalam bak yang berisi air bersih dan mengalir.
Dengan metoda dimandikan, menggunakan :
•              Diberikan ekstrak daun sirih ke dalam kolam untuk membunuh protozoa tersebut.
3.    Saprolegnia Sp & Achlya    Malacithe Green 0,5 ppm untuk pengangkutan telur-telur dan benih-benih ikan, sedangkan di dalam kolam dapat melakukan penyemprotan kedalam kolam yang terserang cendawan 3 kali ulangan interval 3 hari sekali.
    •         Perendaman dalam larutan Malacithe Green 1:200.000 selama 1½ jam
•         Potassium Permanganate 1:100.000 selama 1½ jam
•         Potassium Bichormate 1 : 25.000 selama 1 minggu    Diberikan ekstrak daun sirih yang berfungsi mengobati luka serta membunuh jamur-jamur yang menyerang.
4.    Ichtyopthirius multifilis
    Ikan-ikan yang baru datang dari luar dikarantinakan terlebih dahulu didalam air mengalir selama 3 minggu.
Kolam yang akan ditebari ikan harus dikeringkan terlabih dahulu selama3 hari.
Pemberian kapur CaCO3nyak 12 ½ kg/ are. Peremdaman dalam NaCl 25 % 10-15 menit    Dilakukan perendaman menggunakan ekstrak sambiloto. Hal ini untuk membunuh parasit tsb karena bersifat anti bakteri.
DAFTAR PUSTAKA
Daelami, D.  2002.  Agar Ikan Sehat.  Penebar Swadaya.  Jakarta
Hardjamulia, A. 1978. Budidaya. Departemen Pertanian Badan Pendidikan dan oenyuluhan Pertanian. SUPM Bogor
Kusumah, H. 1985. Penyakit dan Hama Ikan. Departemen Pertanian Badan pendidikan, Latihan dan penyuluh Pertanian. SUPM Bogor
Susanto, H.  1990.  Budidaya Ikan di Pekarangan. Peenebar Swadaya. Jakarta
Yusmaningsih J. dan Syafei L.S, 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan “Ikan Tambakan Sehat Produksi Meningkat”. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor.

0 comments:

Post a Comment