Saturday, November 21, 2015

SERTIFIKASI BENIH DENGAN CARA PEMBENIHAN IKAN YANG BAIK ( CPIB )

November 21, 2015 Posted by Media Penyuluhan Perikanan Pati No comments
Untuk memperoleh benih ikan patin yang memenuhi persyaratan mutu produk maka produk perikanan budidaya diharapkan aman untuk dikonsumsi serta ramah lingkungan Terkait dengan hal  tersebut, Di  bidang  industri  perbenihan  berupaya  untuk  meningkatkan produk benih ikan bermutu dalam memenuhi  persyaratan yang diinginkan oleh pembudidaya  dengan  melakukan penerapan  standar  produksi  perbenihan yang baik dan benar sesuai  kaidah  Cara Pembenihan Ikan Yang Baik (CPIB).
CPIB merupakan program sertifikasi benih untuk mendapatkan benih ikan berkualitas. Pengertian CPIB (Cara Pembenihan yang Baik) adalah cara melaksanakan pembenihan yang sesuai dengan Standart Nasional Indonesia yang telah di tetapkan oleh Badan Standardisari Nasional Indonesia agar mendapatkan benih ikan yang bermutu baik.
Benih yang bermutu dicirikan antara lain: pertumbuhan cepat, seragam, sintasan tinggi (SR), adaptif terhadap lingkungan pembesaran, bebas parasit dan tahan terhadap penyakit, efisien dalam menggunakan pakan serta tidak mengandung residu bahan kimia dan obat-obatan   yang mengandung bahan antibitotik,  yang dapat   merugikan   manusia   dan   lingkungan. 
Mampu telusur (traceability) dalam pembenihan ikan adalah kemampuan dalam menelusuri asal usul lokasi, sarana produksi, proses produksi dan distribusi benih/induk berdasarkan rekaman yang dibuat selama proses pembenihan, sebagai jaminan untuk  pelanggan  bahwa  semua  tahapan dalam proses produksi dilakukan sesuai dengan standar lingkungan, sosial dan keamanan pangan.
Air yang di pergunakan untuk proses pembenihan tidak boleh mengandung logam berat seperti Hg, Cu, Pb dan tidak boleh mengandung entamuba bakteri Colli. Bukan air limbah perusahaan.
Ikan patin adalah salah satu jenis ikan sungai atau air tawar. Ikan jenis ini memiliki bentuk yang unik. Badannya panjang sedikit memipih, berwana putih perak dengan punggung berwarna kebiru-biruan, tidak bersisik, mulutnya kecil, memiliki sungut berjumlah 2-4 pasang yang berfungsi sebagai alat peraba. Ikan patin termasuk ikan yang hidup di dasar sungai dan lebih banyak mencari makan pada malam hari hal ini karena ikan Patin memiliki sifat Nocturnal (senang makan di tempat gelap).
Dalam menjalankan bisnis budidaya ikan patin, terdapat tiga tahapan yang harus dilewati selama proses budidaya ikan. Proses tersebut antara lain tahap pembenihan, tahap pendederan dan tahap pembesaran ikan. Yang dimaksud dengan tahap pembenihan meliputi pemeliharaan induk agar menghasilkan telur dan menjadi bibit ikan. Sedangkan tahap pendederan yaitu tahap pemeliharaan ikan patin pada ukuran tertentu, atau bisa juga dikatakan sebagai masa  transisi dari tahap pembibitan ikan ke pembesaran ikan. Dan yang ketiga yaitu masa pembesaran ikan patin, dimana pada tahapan ini merupakan  tahapan dari ikan hasil pendederan sampai menjadi ikan patin yang cukup besar dan siap untuk  dikonsumsi.
Untuk mencapai keberhasilan panen dalam budidaya ikan patin, tentu saja kita harus memilih benih patin dengan kualitas yang baik yang merupakan salah satu faktor penting dalam keberhasilan pembesaran ikan patin. Kualitas benih ikan patin yang akan dibudidayakan sangat menentukan kesuksesan budidaya patin. Jika terjadi kesalahan dalam memilih benih patin, maka bisa saja usaha budidaya patin akan mengalami kegagalan.
Ada beberapa kriteria yang setidaknya harus kita ketahui sebelum membeli benih patin.memilih benih patin berkualitas :
1. Kesehatan (Amati Fisik dan Gerakannya)
Benih patin yang berkualitas memiliki ukuran tubuh yang proporsional (ukuran kepala dan tubuh seimbang), tidak cacat, tidak luka, sungut tidak pucat dan warna tubuh cerah dan mengkilap. Selain itu ciri benih patin yang sehat adalah gerakan aktif, lincah, tidak menggantung serta tidak bergerombol di pojok kolam.
2. Ukurannya Seragam
Ukuran benih patin yang tidak seragam akan mengakibatkan pertumbuhan patin menjadi tidak serempak. Ikan patin bersifat kanibal, jika lapar maka ikan patin yang berukuran besar akan memangsa patin lain yang ukurannya lebih kecil. Jika kita menghendaki ukuran benih 5 cm maka sebaiknya toleransi benih ukuran 4 cm dan 6 cm masing-masing tidak lebih dari 10 % populasi.
3. Riwayat Induk/Keturunan.
Berasal dari induk yang unggul. Bukan hasil pemijahan (perkawinan) dengan tingkat kekerabatan yang dekat (inbreeding).
4. Riwayat Penyakit
Ikan pernah sakit atau tidak? Jika benih patin pernah sakit tanyakan bagaimana kronologis dan cara penanganannya. Apakah menggunakan antibiotik, vitamin, atau probiotik, atau bahkan perlakuan teknis saja. Tidak disarankan menggunakan antibiotik dengan dosis berlebihan karena penyakit/bakteri akan bersifat kebal sehingga memerlukan dosis yang lebih tinggi.
Persiapan pemijahan ikan patin.
Induk patin yang baik untuk dipijahkan adalah induk yang telah berumur antara 2,5 - 5 tahun dengan berat antara 3 - 6 Kg. Induk ukuran ini mudah ditangani, tingkat ovulasinya lebih , tinggi dengan induk yang lebih tua dan berukuran lebih besar.
Pemeliharaan induk jika memungkinkan dilakukan dalam beberapa kelompok dan diperlihara secara terpisah hal ini dimaksudkan agar dapat digunakan secara bergantian. Pemeliharaan induk dilakukan pada kolam tanah dan dapat juga menggunakan kolam tembok dengan kepadatan 3 - 5 ekor/ m2, kualitas air ideal untuk induk suhu antara 250 – 300 C, pH 6,0 - 8,5 dan kandungan oksigen terlarut minimal 4 mg/L.
Selama pemberian pakan dilakukan pengamatan terhadap tingkah laku makan ikan, warna dan kondisi air, kondisi kincir, aerasi dan memastikan kalau tidak ada ikan liar yang masuk kedalam kolam pemeliharaan induk. Pakan yang diberikan jangan terlalu banyak atau sampai tersisa karena akan menyebabkan turunnya kualitas air.
Pola makan ikan terkadang tidak sama setiap harinya maka pakan yang diberikan harus dikontrol dan tercatat dengan baik baik waktu dan jumlah pemberian pakan serta jenis pakan yang diberikan. Pakan yang umum diberikan pada induk patin adalah pellet komersial dengan kadar protein 30 - 35 %. Jumlah pemberian pakan maksimum adalah 2 - 3 % dari, berat biomass dan diberikan 2 - 3 kali perhari pada pagi, sore dan atau malam hari.
Indukan ikan patin dalam kolam indukan per m2 pada tebar 5 ekor yang di pelohara dalam kolam tanah. Dan bisa dipergunakan sebagai indukan umur 2,5 – 3 tahun berat sekitar 3 kg.
Untuk persiapan pemijahan di perlukan peralatan :
1. Induk jantan dan bertina yang telah memenuhii syarat, umur 2,5 – 3 tahun dengan berat badan ± 3 kg.
2. Akuarium untuk larva hasil pemijahan
3. Tabung reaksi
4. Aquades atau aqua bides
5. Na Cl, bulu ayam
Untuk proses pemijahan dilakukan dengan suhu ruangan sekitar  ± 29 0 C, pada daerah yang suhunya rendah atau dataran tinggi membuat ruangan khusus dengan pemanas.
Proses pemijahan di lakukan secara oleh tenaga manusia :
1. Plih induk matang telur
2. Induk jantan dan betina di suntik dengan hormon Ovaprim, dengan dosis untuk induk betina 0,5 mg/ kg dan jantan 0,2 mg/ kg  di tunggu ± 1 jam kemudidan suntik lagi dengan dosis yang sama dan tunggu lagi selama 1 jam.
3. Dilakukan proses striping atau pengurutan pada kedua induk ikan
4. Di lakukan pencampuran dalam tabung reaksi dan di aduk- aduk memakai bulu ayam agar merata, kemudian di masukan dalam akuarium.
5. Setelah menetas sampai umur ± 2 minggu di pelihara dalam akuarium, kemudian di pindah pada kolam pendederan sampai ukuran 5 -8 cm.
6. Pada saat naupli pakan yang di berikan adalah Artemia yang telah di kultur pada tempat lain umur antara 2 – 10 hari.
7. Selanjutnya umur 11 hari ke atas memakai pakan buatan/ pellet.

0 comments:

Post a Comment