Sunday, November 15, 2015

Mengenal Ikan Layang Deles (Decapterus macrosoma)

November 15, 2015 Posted by Media Penyuluhan Perikanan Pati 1 comment
Ikan Layang Deles  (Decapterus macrosoma)  badan   memanjang seperti cerutu. Bentuk badan sepintas seperti tongkol ,Sirip punggung pertama berjari keras 8 ,sirip punggung kedua berjari-jari keras 1 dan 32 – 35 lemah. Sirip dubur teridiri 2 jari-jari keras (lepas), 1 jari-jari keras bergandeng dengan 26 – 30 jari lemah.Dibelakang sirip punggung kedua dan dubur terdapat 1 jari-jari sirip tambahan.Terdapat 25 – 30 sisik duri pada garis sisinya. Dapat mencapai panjang 40 cm, umumnya 25 cm. Warna : biru kehijauan bagian atas, putih perak bagian bawah.Sirip siripnya  kuning pucat atau kuning kotor.Suatu totol hitam terdapat pada bagian  atas penutup insang dan pangkal sirip dada (Ditjen
Perikanan,1998)
Menurut klasifikasi Bleker dalam Saanin  (1968) sistematika ikan layang adalah sebagai berikut :
Phyllum           :  Chordata
Kelas         :  Pisces
Sub kelas     :  Teleostei
Ordo         :  Percomorphi
Divisi         :   Perciformes
Sub divisi     :   Carangi
Familia     :   Carangidae
Genus         :   Decapterus
Spesies     :  1. Decaptersus russelli (Rupell,1982)
               2. Decapterus macrosoma (Bleker,1851)
b.    Habitat dan Distribusi
Di perairan Indonesia terdapat lima jenis  layang yang umum yakni
Decapterus kurroides, Decapterus russelli,  Decapterus macrosoma  Decapterus layang, dan Decapterus maruadsi (FAO,1974). Dari kelima jenis ini hanya Decapterus russelli yang mempunyai daerah sebaran yang luas di Indonesia , sedangkan di Perairan Laut Jawa terdapat dua spesies yaitu   Decapterus macrosoma dan Decapterus ruselli  (Widodo ,1988).
Di Laut Jawa sangat dominan dalam hasil tangkapan nelayan mulai dari Pulau Seribu, hingga P.Bawean dan P. Masalembo,Selat Makassar Selat Karimata, Selat Malaka, Laut Flores, Arafuru, Selat Bali. Decapterus ruselli dan Decapterus macrosoma tersebar di perairan tertentu.
Tampaknya Decapterus   ruselli senang hidup di perairan dangkal seperti
Laut Jawa, sedangkan Decapterus macrosoma tersebar di perairan laut seperti di Selat Bali, Perairan Indonesia Timur Laut Banda, Selat Makassar dan Sangihe, Laut Cina Selatan. Decapterus kurroides tergolong  ikan yang agak langka antara lain terdapat di Selat  Bali, Labuhan dan Pelabuhan Ratu  (Jawa Barat). Decapterus maruadsi termasuk ikan layang yang berukuran besar, hidup di laut dalam seperti di Laut Banda  tertangkap pada kedalaman 100 meter lebih  (Nontji, 2002) .
 Ikan layang termasuk jenis ikan perenang cepat, bersifat pelagis, tidak menetap dan suka bergerombol. Jenis ikan ini tergolong “stenohaline”, hidup di perairan  yang berkadar garam tinggi (32 – 34 promil) dan menyenangi  perairan jernih. Ikan layang banyak tertangkap di perairan yang berjarak 20 – 30 mil  dari pantai. Sedikit informasi yang diketahui tentang migrasi ikan , tetapi ada kecenderungan bahwa pada siang hari gerombolan ikan bergerak ke lapisan air yang lebih dalam dan malam hari kelapisan atas perairan yang lebih. Dilaporkan bahwa  ikan  ini  banyak  dijumpai  pada  kedalaman    45 – 100 meter (Hardenberg dalam Sunarjo ,1990).
Ikan layang meskipun aktif berenang, namun terkadang tidak aktif pada saat membentuk gerombolan di suatu daerah yang sempit atau disekitar benda-benda terapung. Oleh karena itu nelayan payang dan purse seine di Jawa memasang rumpon dalam aktivitas penangkapan mereka. Menurut Sumarto  dalam Sunarjo (1990) sifat menggerombol ikan ini pada umumnya membelakangi rumpon, dan selalu menghadap/menentang arus. Sifat menggerombol ikan layang tidak terbatas dengan ikan sejenisnya, bahkan kerap kali bergabung dengan jenis lainnya, seperti bawal (Stromateus sp) , Selar (Caranx sp) , ikan Tembang (Sardinella sp) dan lain-lainnya.
Menurut Shaw dalam Gunarso (1985) pengelompokan atau schoal merupakan gejala biososial yang elemen–elemen penyebabnya merupakan suatu pendekatan yang bersifat timbal balik. Bagi ikan hidup bergerombol dapat memberikan kesempatan yang lebih besar untuk menyelamatkan diri dari predator  dan bagi beberapa jenis ikan bergerombol dapat memberikan stress yang lebih kecil daripada yang hidup sendiri (Royce,1972).
 Secara biologi ikan layang merupakan plankton feeder atau  pemakan plankton kasar yang terdiri dari organisme pelagis meskipun komposisinya berbeda masing-masing spesies copepoda, diatomae,larva ikan. Sumber daya tersebut bersifat ‘multispecies’ yang saling berinteraksi satu sama lain baik secara biologis ataupun secara teknologis melalui persaingan (competition) dan  atau antar hubungan pemangsaan (predatorprey relationship).Secara ekologis sebagian besar populasi ikan pelagis kecil termasuk ikan layang   menghuni habitat yang relatif sama, yaitu di permukaan  dan membuat gerombolan di  perairan lepas pantai , daerahdaerah pantai laut dalam , kadar garam tinggi dan sering tertangkap secara bersama.
c.   Pola Ruaya.
Karena di Laut Jawa sering terjadi perubahan pola arus dan pola    sebaran salinitas yang bergantung pada musim, maka ikan layang berruaya sesuai pola arus. Hardenberg dalam Nontji (2002) telah menyusun hipotesis mengenai ruaya ikan layang di laut Jawa dan sekitarnya dengan  arah gerakan ruayanya yang sejalan dengan gerakan arus utama yang berkembang di laut Jawa  pada musim tersebut sebagai berikut :
1.    Pada musim timur : bulan Juni – September banyak ikan layang di Laut Jawa. Ikan   layang  ini adalah ikan layang timur yang terdiri dari 2 (dua) populasi, yakni yang datang dari Selat Makassar dan yang datang dari laut Flores.  Pada saat itu, dengan salinitas tinggi menyebar dari laut Flores masuk ke laut Jawa dan keluar melalui Selat Karimata dan Selat   Sunda.
2.    Pada musim Barat : bulan Januari sampai dengan Maret. Pada musim ini terdapat 2 ( dua) populasi yang masuk ke Laut Jawa yaitu ikan layang barat dan ikan layang utara. Populasi layang barat memijah di Samodera Hindia sampai ke Selatan Selat Sunda dan sekitarnya selanjutnya bermigrasi /terbawa arus masuk ke Laut Jawa .  Sementara itu populasi layang utara memijah di Laut Cina Selatan, pada musim barat sebagian bermigrasi ke Selatan  melalui  Selat Sunda masuk ke laut Jawa dan sebagian lagi ke timur sampai ke P. Bawean, P. Masalembo dan sebagian lagi membelok kearah selatan Selat Bali. Pola ruaya ini sejalan dengan pola arus yang berkembang saat itu.
d.  Musim Penangkapan.
Puncak produksi ikan layang di Laut Jawa terjadi dua kali dalam setahun masing-masing jatuh pada bulan Januari – Maret (akhir musim barat) dan pada bulan Juli – September (musim Timur) . Puncak-puncak musim ini dapat maju atau mundur waktunya sesuai dengan perubahan musim. Diluar waktu itu ikan layang tidak tertangkap ( Widodo,1988).
Musim penangkapan ikan,terutama ikan-ikan pelagis kecil  dapat ditelusuri dari  berlangsungnya musim ikan yaitu berdasarkan  produksi ikan yang didaratkan  Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan melimpah  antara bulan Juli sampai Desember dengan puncaknya sekitar bulan Nopember , karena bulan-bulan tersebut terjadi kenaikan produksi bila dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. (Pelabuhan Perikanan
Nusantara Pekalongan,2005). e.  Musim Pemijahan Ikan Layang.
Musim pemijahan ikan pelagis kecil di Perairan Laut Jawa relatip  panjang tetapi masing-masing individu lama memijah dalam periode singkat.Keberadaan juvenil ikan layang (ukuran kurang dari 12 Cm) hanya terjadi pada bulan Maret sampai Juli. (Atmaja dkk.,2003). Tingkat kematangan gonad ikan layang biasa (D.ruselli) pada tingkat matang (ripe) dijumpai pada bulan April  sampai Juni , sedangkan pada tingkat lepas telur (masa istirahat dan menyerupai kantong kosong) terjadi pada bulan sampai Desember . Juvenil kecil telah dijumpai antara bulan Maret sampai Mei antara ukuran 6 Cm.  (Widodo,1988).
  Menurut Delsman dalam Atmaja dkk. (2003) telur dan larva D. russelli telah ditemukan di Perairan Bawean pada bulan April – Mei dan di sekitar perairan Madura pada bulan Oktober-Nopember. Ikan siap memijah dan tumbuh menjadi ikan kecil  (kurang dari 12 cm) terjadi dari bulan
Maret sampai Juni. Musim pemijahan terjadi pada  bulan  Mei  sampai
Desember dengan aktifitas maksimum mulai bulan September – Desember.
    Sedang ikan layang (D. macrosoma) tingkat kematangan gonad (telur transparan) dijumpai antara bulan Mei – Juni , sebagian telah melepas telur antara bulan Juli - Oktober dan  ikan-ikan kecil dengan panjang total  sekitar 8 Cm dijumpai pada bulan Mei, Juli, Agustus dan Nopember (Widodo,1988). Telur-telur dan larva ikan layang deles (D. macrosoma) dijumpai di sekitar perairan Madura di bulan Oktober dan Nopember.
Dari uraian diatas, dapat dijelaskan bahwa musim pemijahan ikan layang di perairan Laut Jawa terjadi pada bulan Mei – Oktober atau Nopember dan waktu musim pemijahannya relatip panjang, tetapi masingmasing individu memijah dalam periode singkat. Keberadaan juvenil ikan layang (ukuran kurang dari 12 Cm) hanya terjadi pada bulan Maret sampai
Juli. (Atmaja ,dkk ,2003)  

1 comment: