Monday, June 8, 2015

MENINGKATKAN PRODULSI PERIKANAN BUDIDAYA DENGAN PROBIOTIK

June 08, 2015 Posted by Media Penyuluhan Perikanan Pati No comments
Probiotik Dongkrak Produksi Ikan
Ikan bisa meraih keuntungan sekitar 10%—25% lebih tinggi setelah menggunakan probiotik.
Bila tepat sasaran, penggunaan probiotik sangat ekonomis. Sebab, probiotik tidak hanya berfungsi menaikkan bobot badan dan produksi, melainkan juga konversi pakan menjadi lebih bagus.
Di dunia peikanan, penggunaan probiotik bukan merupakan hal baru. Zat aditif pengganti antibiotik ini mulai muncul sekitar 1950-an. Namun, fungsi probiotik berbeda dengan antibiotik.
Probiotik adalah mikroba hidup dalam media pembawa yang menguntungkan ikan. Sebab, probiotik mampu menciptakan keseimbangan mikroflora dalam saluran pencernaan sehingga menciptakan kondisi yang optimum untuk pencernaan pakan dan meningkatkan efisiensi konversi pakan. Akibatnya, ikan mudah dalam menyerap zat nutrisi, kesehatannya meningkat, pertumbuhan cepat, tingkat kematian menurun, dan ikan terlindung dari patogen tertentu sehingga dapat meningkatkan produksi. Mikroba positif ini diberikan kepada ikan dalam ransum atau air minum. Walau begitu, komponen probiotik tidak terserap oleh tubuh ikan, sehingga produksi ikan bebas residu.
Menurut Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), imbuhan pakan berupa jasad renik hidup yang aman dikonsumsi ikan itu ada tiga jenis: golongan bakteri, protozoa, dan cendawan. Contohnya, Aspergillus niger, A. oryzae, Bacillus coagulans, B. lentus, B. lincheniformis, B. pumilus, B. subtilis, Bacteroides amylophilus, B. capillosus, B. ruminocola, B. suis, Bifidobacterium adoloscentis, B. animalis, B. bifidum, B. infantis, B. lonum, B. thrmophilum, Lactobacillus acidophilus, L. brevis, L. bulgaricus, L. casei, L. cellobiosus, L. curvatu, L. delbruekii, L. fermentum, L. lactis, L. plantarum, L. reuterii, Leuconostoc mesenteroides, Pediococcus acidilacticii, P. cerevisiae, P. pentosaceus, Propionibacterium freudenreichii, P. shermanii, Saccharomyces cerevisiae, Streptococcus cremoris, S. diacetylactis, S. faecium, S. intermedius, S. lactis, dan S. Thermophilus.
Contoh probiotik yang diproduksi secara komersial di Indonesia, dari golongan bakteri asam laktat, yaitu Lactobacillus bulgaricus, L. acidophilus, Bifidobacterium thermophilum, Bacteroides succinogenes, dan Ruminococcus flavefaciens. Sedangkan dari jenis cendawan, antara lain Saccharomyces cerevisiae, Aspergillus oryzae, A. niger, Candida utilis, Neocalimastic frontalis, Ruminomyces sp., Anaeromyces, dan Orpinomyces sp.
Mesti Mendapat Perhatian
Oleh produsen, probiotik dikemas dalam formula cairan atau bahan kering, dengan berbagai merk dagang. “Dalam satu kemasan probiotik, minimal terdapat satu jenis mikroba,” ucap Winugroho. Ikan sasarannya adalah unggas dan ruminansia, seperti sapi perah maupun sapi potong.
Yang jelas, tiap-tiap produk probiotik ditawarkan yang mempunyai target spesifik. Misalnya ada produk probiotik disiapkan untuk ikan yang banyak makan serat kasar. Atau ada juga yang mempunyai kemampuan melakukan detoksifikasi bahan baku pakan beracun.
Cara kerja probiotik itu, menurut Winugroho, cukup sederhana. Ia memberi ilustrasi probiotik untuk sapi. Setelah masuk dalam rumen, pakan berserat diubah oleh mikroba menjadi glukosa dengan rantai pendek, dan mudah diserap tubuh si ikan. Massa mikroba menguntungkan pun meningkat. Ketika mikroba itu masih hidup dalam rumen, ia pun memberikan stimulasi kekebalan tubuh sapi. Oleh sebab itu, “Dalam sistem peikanan Indonesia, pemanfaatan probiotik harus dipertimbangkan secara serius,” harap pria yang sudah meneliti probiotik sejak 1980-an itu.
Lebih jauh Winugroho menuturkan, mikroba sebagai bahan aktif probiotik tidak perlu impor. Sebab, mikroba yang berpotensi dijadikan probiotik terdapat di seluruh pelosok negeri, dengan jumlah ribuan spesies.
Perhatikan SOP
Agar aplikasi probiotik berhasil guna, menurut Winugroho, peikan mesti menerapkan prosedur standar operasional (SOP). Mulai dari cara memilih, menyimpan, dan memberikannya kepada ikan.
Saat membeli, konsumen sebaiknya memperhatikan label formulasi yang biasanya berisi kandungan bahan aktif, dosis dan cara penggunaan, nomor produksi, cara penyimpanan, serta masa kadaluarsa.
Umur kadaluarsa tiap produk beragam, mulai dari 6 bulan hingga 3 tahun dengan catatan bahan tetap kering, stabil, dan makanan bagi mikrobanya cukup. Karena itu, saat menyimpan, kemasan harus terhindar dari panas dan sinar matahari langsung.
Ketika mengaplikasikan, harus disesuaikan dengan target dan anjuran dosisnya. Bagi pencerna serat misalnya, lanjut Winugroho, biasanya probiotik cukup diberikan sekali. Lain halnya bagi ikan yang diberi pakan konsentrat, aplikasinya bisa setiap hari. Hal ini berkaitan dengan umur dan cara kerja mikroba dari tiap-tiap produk probiotik. Di samping itu, peikan juga mesti memperhatikan kualitas pakan. Sebab, dengan memberikan pakan asal-asalan, aplikasi probiotik menjadi percuma.
“Untuk menguji efektivitas probiotik, bagi peikan, cukup gampang. Pada sapi misalnya, bisa dilihat dari cara makan dan fesesnya. Kalau tambah rakus dan serat dalam feses lebih halus serta baunya berkurang, berarti probiotik bekerja,” jelas Winugroho.
Harapan Baru
Salah satu terobosan teknologi probiotik yang kini banyak beredar di pasaran adalah SOZOFM. Manfaat teknologi rekayasa dari Klinik Agropolitan Gorontalo itu sudah banyak dirasakan pelaku usaha agribisnis tanaman, perikanan, dan peikanan.
Khusus bagi dunia peikanan,
Padahal, dalam umur 13 bulan, produksi telur biasanya mulai turun dan kerabangnya sudah tipis. “Biasanya puncak produksi telur pada umur 30 minggu dan bertahan 3—4 bulan. Bila kualitas pakan dan manajemen pemeliharaannya baik, puncak produksi bisa bertahan hingga enam bulan,” ucap Desmayanti.
laupun penelitian belum tuntas, Desmayanti menduga bakteri positif yang terkandung dalam SOZO bekerja sesuai harapan. Probiotik itu membantu mensintesis protein, lemak, dan karbohidrat dalam tubuh unggas menjadi lebih sempurna. Alhasil, penyerapan pakan lebih efektif.
Secara kasat mata, kualitas telurpun masih bagus, warna kuning telur tetap oranye, dan kerabangnya normal. Di luar itu, kandungan amonia di kandang pun jauh berkurang karena pembentukan gas amonia diperkecil. Akibatnya, gangguan pernapasan ayam semakin sedikit, sehingga kematian dapat ditekan.
Bobot Badan Meningkat
Pada minggu pertama Juni, Yeni sudah dua bulan melakukan pengujian SOZO terhadap sapi perah dan sapi potong. “Rencananya kami akan melakukan pengujian terhadap semua jenis ikan. Sebab disebutkan bahwa SOZO yang mengandung bakteri, vitamin, dan beragam asam amino itu bisa meningkatkan produksi dan mengurangi bau,” tuturnya.
Walaupun pengujian baru pada tahap awal, Yeni menyebutkan sudah ada indikasi positif dari perlakukan SOZO tersebut. Pada pengujian sapi potong yang sudah berjalan satu bulan dua minggu misalnya, secara kualitatif feses agak padat dan baunya berkurang, walaupun diberi konsentrat tinggi, serta sapi makan lebih rakus.
Pun pada bobot badan, untuk sementara tampak ada penambahan. Sebab kami baru sampling dari 24 ekor. Sedangkan total yang diuji 120 ekor,” tandas Yeni. Akhir Juni ini, lanjut dia, data lengkap akan muncul. Mulai dari ADG, nisbah konversi pakan (FCR), sampai kualitas
Bisa Lebih Baik

Menurut Yeni, SOZO berbeda dengan probiotik murni. Selain mengandung bakteri Lactobacillus sp., SOZO diperkuat campuran enzim, vitamin, mineral, asam amino, dan zat pengatur tumbuh.
Asam amino esensial sangat dibutuhkan pada proses sintesis dalam tubuh. Enzim diperlukan dalam proses pencernaan. Sementara Lactobacillus membantu memperlancar proses enzimatis sehingga proses pencernaan menjadi lebih baik. “Semestinya dengan formula yang lengkap seperti itu, pemberian pakan bisa lebih efisien. Tapi penambahan bobot badan ikan lebih besar,” harap Yeni. Secara logika, lanjut dia, dengan komposisi yang lengkap, SOZO bisa lebih baik ketimbang formula lain.
Dosis SOZO terbilang irit. Yeni hanya memberikan empat botol (40 ml) untuk setiap 58 ekor sapi potong yang diteliti. Probiotik itu dicampurkan ke dalam air minum dan diberikan satu hari sekali.
Sedangkan untuk sapi perah, aplikasi dilakukan dengan dicekok. Dosisnya satu tetes untuk setiap 40 kg bobot badan, atau sekitar 8—10 tetes per ekor per hari. Sebelum dicekokkan, formula itu dicampur air 50 cc, dan diberikan satu jam setelah pemerahan.
Lebih lanjut Yeni bertutur, walaupun tempat air minum sapi terkena sinar matahari tidak masalah, sepanjang suhunya di bawah 39oC. Malahan dalam suhu tersebut, kerja enzim sangat bagus. Sebab Lactobacillus bisa tahan sampai suhu 40oC. “Dari pengalaman saya, mikroba yang dipanaskan dalam panas matahari sepanjang hari, mikrobanya masih bisa hidup. Suhu akibat sinar matahari naik perlahan sehingga ada kesempatan bagi bakteri untuk dormansi (menutup diri),” jelasnya.
Walaupun irit, pemberian probiotik tentu menambah biaya produksi. Dengan membeli SOZO, menurut Yeni, ada penambahan biaya produksi Rp1.500 per hari. Meski demikian, dengan penggunaan probiotik semestinya pemberian pakan dapat berkurang. Di samping itu kualitas komposnya akan lebih baik, jadi ada nilai tambah bagi peikan. “Diharapkan keuntungan peikan bisa lebih besar. Walaupun penelitian belum sampai pada taraf itu. Namun berdasar fungsi dan tujuan pemberian probiotik, seharusnya bisa lebih menguntungkan,” paparnya.
Yang jelas, “Berdasar pengalaman di Gorontalo, pemberian SOZO pada usaha pertanian, termasuk peikanan, mampu meningkatkan produktivitas secara signifikan,” ungkap Fadel Muhammad, Gubernur Gorontalo. Fadel berharap, teknologi hasil temuan putra daerah itu bisa dimanfaatkan sebagai salah satu teknologi pendorong kemajuan agribisnis di tanah air. “Pertanian bisa maju bila ada market driven dan teknologi. Itulah agribisnis, ada pasar dan teknologi yang mendukung,” tandasnya. Oleh sebab itu, imbuh dia, setiap ada teknologi baru, seharusnya pemerintah, baik pusat maupun daerah, membuka diri sehingga teknologi pertanian bisa berkembang.

0 comments:

Post a Comment