Thursday, December 25, 2014

ARTI PENTING AEROMONAS HYDROPHYLA DALAM BUDIDAYA IKAN

December 25, 2014 Posted by Media Penyuluhan Perikanan Pati No comments

Keberhasilan budidaya ikan terkait dengan pemeliharaan lingkungan dan daya tahan organisme budidaya terhadap serangan bakteri patogen. Salah satu bakteri yang umum dijumpai pada ekosistem perairan dan mempunyai peranan sebagai microbial flora bagi organisme air pada kondisi lingkungan yang stabil yaitu bakteri Aeromonas hydrophila.
Bakteri tersebut bersifat patogen pada ikan air tawar seperti ikan nila pada kondisi kualitas air yang buruk. Selain itu bakteri Aeromonas hydrophila memiliki kemampuan osmoregulasi yang tinggi dimana mampu bertahan hidup pada perairan tawar, perairan payau dan laut yang memiliki kadar garam tinggi dengan penyebaran melalui air, kotoran burung, saluran pencernaan hewan darat dan hewan amfibi serta reptil (Mangunwardoyo et al., 2010).
Salah satu kendala yang dihadapi dalam budidaya intensif adalah penyakit ikan. Dimana menimbulkan kerugian ekonomi bagi para pembudidaya ikan. Salah satu jenis penyakit yang sering dijumpai pada organisme budidaya adalah penyakit bakterial yang disebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophilla, dimana merupakan bakteri patogen penyebab penyakit “Motil Aeromonas Septicemia” (MAS), terutama untuk spesies ikan air tawar di perairan tropis (Rahmaningsih, 2012).
Bakteri Aeromonas hydrophila  merupakan salah satu bakteri penyebab penyakit yang berbahaya pada budidaya ikan air tawar. Bakteri tersebut banyak menyerang ikan mas yang merupakan salah satu komoditas unggulan air tawar dan dapat menginfeksi ikan pada semua ukuran yang dapat menyebabkan kematian hingga mencapai 80%, sehingga mengakibatkan kerugian yang sangat besar baik dalam usaha budidaya ikan air tawar (Sanoesi, 2008).
1.      Epidemilogi
Penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri pada ikan khususnya yang disebabkan oleh A. hydrophila mulai dikenal di Indonesia sekitar tahun 1980, dimana bakteri ini menyebabkan wabah penyakit pada ikan karper di wilayah Jawa Barat dan menyebabkan kematian sebanyak 125 ton. Di tahun yang sama kejadian serupa juga terjadi dan menyerang spesies ikan mas, penyakit tersebut dikenal dengan penyakit `Ulcerative disease` atau penyakit borok/penyakit merah yang mengakibatkan kematian sekitar kurang lebih173 ton jenis ikan mas termasuk didalamnya 30 % ikan-ikan kecil/benih mati disebabkan oleh bakteri Aeromonas sp dan Pseudomonas sp, mengakibatkan kerugian sekitar Rp. 126 juta.  Penyakit ini dapat menyebabkan sistemik yang menimbulkan kematian ikan yang tinggi,  menyerang ikan-ikan budidaya dan dalam waktu singkat menyebar kedaerah lain (Lukistyowati dan Kurniasih, 2011).
Bakteri Aeromonas hydrophila termasuk bakteri gram negatif, dimana mempunyai karakteristik berbentuk batang pendek, bersifat aerob dan fakultatif anaerob, tidak berspora, motil,  mempunyai satu flagel, hidup pada kisaran suhu 25-300C.  Jika organisme terkena serangan bakteri maka akan mengakibatkan gejala penyakit hemorhagi septicaemia yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: terdapat luka dipermukaan tubuh, insang, ulser, abses, dan perut gembung. Tidak hanya menyerang organisme budidaya seperti ikan, tetapi penyakit ini juga menyerang manusia dimana menyebabkan infeksi pada gastroenteristis, diare dan extra intestinal pada manusia. Bakteri Aeromonas hydrophyla sangat mempengaruhi usaha budidaya ikan air tawar dan seringkali menimbulkan wabah penyakit dengan tingkat kematian yang  tinggi (80 – 100 %) dalam kurun waktu yang singkat (1 – 2 minggu). Sehingga sangat merugikan petani ikan dalam usaha budidaya ikan. Tingkat virulensi dari bakteri A. hydrophila  dapat  menyebabkan kematian ikan  tergantung dari racun  yang dihasilkan. Didalam tubuh bakteri Aeromonas hidrophyla terdapat Gen Aero dan hlyA yang bertanggung jawab dalam memproduksi racun aerolysin dan hemolysin dimana Aerolisin merupakan protein extraseluler yang diproduksi oleh beberapa strain  A. hydrophila yang bisa larut, bersifat hydrofilik dan mempunyai sifat hemolitik serta sitolitik.  Mekanisme racun Aerolysin pada bakteri Aeromonas hidrophyla  dalam menyerang dan menginfeksi racun pada ikan yaitu dengan mengikat reseptor glikoprotein spesifik pada permukaan sel eukariot sebelum masuk ke dalam lapisan lemak dan membentuk lubang. Racun aerolysin yang membentuk lubang melintas masuk ke dalam membran bakteri sebagai  suatu preprotoksin yang mengandung peptida. Racun tersebut dapat menyerang sel-sel epithelia dan  menyebabkan gastroenteristis (Lukistyowati dan Kurniasih, 2012).
Proses invasi bakteri patogen Aeromonas hydrophila  kedalam tubuh host adalah diawali dengan melekatnya bakteri pada permukaan kulit dengan memanfaatkan pili, flagela dan kait untuk bergerak dan melekat kuat pada lapisan terluar tubuh ikan yaitu sisik yang dilindungi oleh zat kitin. Selama proses berlangsung bakteri Aeromonas hydrophila  memproduksi enzim kitinase  yang berperan dalam mendegradasi lapisan kitin sehingga bakteri dapat dengan mudah masuk kedalam host. Selain memanfaatkan kitinase bakteri Aeromonas hydrophila  juga mengeluarkan enzim lainnya seperti lesitinase dalam upaya  masuk kedalam aliran darah (Mangunwardoyo et al., 2010).
Bakteri Aeromonas hidrophyla termasuk patogen oportunistik yang hampir selalu terdapat di air dan seringkali menimbulkan penyakit apabila ikan dalam kondisi yang kurang baik. Penyakit yang disebabkan oleh Aeromonas hydrophilla ditandai dengan adanya bercak merah pada ikan dan menimbulkan kerusakan pada kulit, insang dan organ dalam. Penyebaran penyakit bakterial pada ikan umumnya sangat cepat serta dapat menyebabkan kematian yang sangat tinggi pada ikan-ikan yang diserangnya. Gejala klinis yang timbul pada ikan yang terserang infeksi bakteri Aeromonas hidrophyla adalah gerakan ikan menjadi lamban, ikan cenderung diam di dasar akuarium; luka/borok pada daerah yang terinfeksi; perdarahan pada bagian pangkal sirip ekor dan sirip punggung, dan pada perut bagian bawah terlihat buncit dan terjadi pembengkakan. Ikan sebelum mati naik ke permukaan air dengan sikap berenang yang labil (Rahmaningsih, 2012).
Menurut (Tanjung et al., 2011), tanda-tanda  sekunder  serangan bakteri Aeromonas hydrophila terlihat dengan tumbuhnya jamur berwarna putih pada bagian ujung sirip ikan dan pada bagian tubuh yang mengalami luka memar. Sekresi lendir tampak berlebihan menyeliputi tubuh ikan, dengan warna tubuh yang memucat. Nafsu makan berkurang mulai pada hari ke dua. Indikasi ikan mendapat serangan bakteri dari mata pucat umumnya tampak setelah hari ke lima, sedangkan kerusakan sisik dan tumbuhnya jamur sudah muncul mulai dari hari pertama. Warna tubuh pucat umumnya tampak setelah hari ke tiga. Adapun beberapa analisis yang digunakan untuk mengetahui serangan dari bakteri Aeromonas hydrophila  antara lain:
A.    Analisis morfologis
Indikasi-indikasi serangan bakteri terhadap berbagai strain ikan Gurami cukup beragam, baik ciri maupun waktunya. Serangan bakteri tersebut dicirikan oleh perubahan warna mata menjadi abu-abu dan terjadi  penonjolan  bola  mata  atau exophthalmia, luka memar yang bisa meliputi sekujur tubuh, warna tubuh menjadi pucat, dan sirip rusak, dengan waktu (hari) serangan yang bervariasi. Tanda-tanda yang paling peka terhadap serangan bakteri, ditandai     waktu      munculnya serangan umumnya sudah tampak pada hari pertama. Jenis yang paling tahan adalah strain Padang dengan indikasi serangan umumnya setelah dua hari. Hal ini sesuai dengan tingkat ketahanan hidupnya yang paling tinggi (8-10 hari). Indikasi kerusakan pada sirip tidak selalu muncul, dalam hal ini ikan yang tidak menunjukkan sisik atau sirip rusak (ta), boleh jadi ikan tersebut sudah terserang bakteri.
B.     Analisis histologis intestin dan hati
Pada ikan yang sehat irisan hati berwarna cerah serta sel-sel hepatosit   mengandung nukleus dan heterokromatin. Ikan yang terkena serangan A. hydrophila menunjukkan kondisi sel hati yang rusak karena mengalami infeksi, tetapi tidak mengeluarkan nanah (non purulent multifocal hepatitis). Kantung empedu dan sel hati mengalami peradangan atau infeksi (cholangiohepatitis), yang pada kondisi parah infeksi ini dapat mencapai jaringan parenkim hati. Ditemukan juga vakuola dan sel-sel darah karena terjadi pendarahan dalam (internal haemoragy). Kematian sel-sel  hati  (focal  nekrosis)  merupakan manifestasi yang umum terjadi pada ikan yang terserang  A. hydrophila. Intestin ikan Gurami yang terpapar A. hydrophila menunjukkan kondisi yang mengalami deplesi pada sel lamina intestin tersebut sehingga terkikis habis. Mukosa intestin juga mengalami kematian sel (nekrosis) yang disebabkan oleh degradasi enzimatik yang dikeluarkan oleh  A. hydrophila .
2.      Habitat
Bakteri aeromonas hydrophila memiliki kemampuan osmoregulasi yang tinggi dimana mampu bertahan hidup pada perairan tawar, perairan payau dan laut yang memiliki kadar garam tingg dengan penyebaran melalui air, kotoran burung, saluran pencernaan hewan darat dan hewan amfibi serta reptil (Mangunwardoyo et al., 2010).
Lingkungan dengan yang mempunyai konsentrasi kadar garam tertentu memiliki kerapatan A. hydrophila yang jauh lebih tinggi dibandingkan lingkungan air tawar, meskipun variasi dalam kepadatan antara habitat dengan kadar garam tertentu jauh lebih besar daripada habitat air tawar,  umumnya, A. hydrophila tidak dianggap sebagai bakteri laut, namun, studi ini menunjukkan bahwa itu ditemukan secara alami bakteri Aeromonas hydrophila hidup dilingkungan yang mempunyai kadar garam air laut, air payau sampai dengan air tawar dan dapat ditemukan di semua salinitas, kecuali (paling ekstrim> 100%o).
Baru-baru ini, bakteri A. hydrophila menyebabkan penyakit borok pada ikan cod (Gadus morhua), dan ikan laut lainnya. A. hydrophila dapat diisolasi dari perairan yang memiliki kekeruhan 0-395 unit turbidity Jackson. Suhu yang optimum untuk pertumbuhan bakteri A. hydrophila adalah 35°C, dan suhu maksimum yaitu mendekati suhu 450C. Dalam studi ini, A. hydrophila diisolasi dari air yang memiliki suhu antara 40 dan 450C. A. Hydrophila  tidak dapat diisolasi pada suhu lebih besar dari 450C, kepadatan tertinggi terjadi pada 350C, sepanjang gradien termal mulai dari 200 sampai 720C. PH air tampaknya tidak memainkan peran penting dalam distribusi A. hydrophila, karena bakteri dapat diisolasi selama rentang pH seluruh sampel (5,2-9,8). Bakteri Aeromonas hydrophila tidak mampu tumbuh pada pH lebih rendah dari 4 atau lebih tinggi dari 10 (Hazen et al., 2011).
Bakteri Aeromonashydrophila, merupakan bakteri negatif, dianggap sebagai salah satu bakteri patogen yang paling penting pada hewan air di daerah beriklim sedang, seperti ikan yang sakit, belut, katak, dan kura-kura. Selain itu bakteri A.hydrophila dilaporkan sebagai salah satu spesies Aeromonas paling umum yang terkait dengan penyakit usus pada manusia (Esteve et al.,  2004).
3.      Ikan atau udang yang diserang
Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan salah satu jenis ikan budidaya air tawar yang mempunyai nilai ekonomis penting dan telah dibudidayakan secara intensif. Salah satu kendala yang dihadapi dalam budidaya intensif ikan nila adalah penyakit ikan. Salah satu jenis penyakit ikan yang sering dijumpai adalah penyakit bakterial yang disebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophilla, yang menyerang spesies ikan air tawar di perairan tropis (Rahmaningsih, 2012).
Bakteri Aeromonas hidrophyla merupakan bakteri patogen yang menyerang ikan lele, dimana menyebabkan penyakit MAS (Motile Aeromonas Septicemia). Bakteri ini dapat menyebabkan kematian pada ikan lele mencapai 80% bahkan dapat mencapai 100% dalam kurun waktu 1 minggu (Mulia, 2012).
Ikan  Gurami  (Osphronemus gouramy) telah umum dibudidayakan dan menjadi andalan sebagai salah satu sumber protein hewani. Kawasan pengembangan budidaya ikan Gurami juga sudah terbentuk di beberapa daerah, seperti di Jawa Barat (Bogor, Tasikmalaya, Ciamis, Garut), Jawa Tengah (Cilacap, Banyumas, Banjarnegara, Purbalingga), Walaupun ikan Gurami sudah lama dibudidayakan secara komersial namun masih menghadapi kendala dalam hal pertumbuhan yang lambat dan ketahanan hidup yang rendah. Salah satu penyebabnya adalah serangan penyakit oleh bakteri Aeromonas hydrophila. Selain  ikan,  berbagai  spesies Aeromonas juga dapat menyerang amfibi dan hewan reptil. Pada amfibi, bakteri ini dapat menyebabkan pendarahan dalam yang bisa berakibat fatal.  Pada manusia, bakteri ini dapat menyebabkan infeksi pada saluran pencernaan, septisemia (keracunan darah), infeksi pada luka dan pembengkakan pada lambung dan usus yang disertai muntah dan diare atau gastroenteritis (Tanjung et al., 2011).
Bakteri Aeromonashydrophila diketahui sebagai patogen pada amfibi, reptil, ikan, siput, sapi dan, baru-baru ini, bakteri Aeromonas hydrophila  menyerang manusia. Beberapa kasus penyakit septicemias yang menyerang manusia yang dapat berakibat fatal yang disebabkan oleh bakteri A.hydrophila, tetapi penyakit tersebut menyerang pada manusia yang mempunyai daya tahan tubuh yang lemah dan terpapar oleh penyakit laiinya, misalnya leukemia. hanya A.hydrophila dilaporkan menyerang dan menjadi patogen pada manusia ketika terdapat luka dan kontak langsung dengan air dimana air tersebut mengandung strain bakteri A.hydrophila. Bakteri Aeromonas hydrophila menyebabakan kerugian yang besar dibidang perikanan, misalnya, pada tahun 1973, 37.500 ekor ikan mati selama dalam kurun waktu 13 hari dalam satu periode di Danau North Carolina (Hazen et al., 1978).
4.      Cara pencegahan dan pengobatan
Usaha yang telah dilakukan untuk mengatasi baik pencegahan maupun pengobatan penyakit yang disebabkan bakteri  A. hydrophila  adalah dengan pemberian bahan-bahan kimia maupun pemberian antibiotik sintetis seperti tetracycline.   Pemberian bahan kimia ini memang dapat mencegah maupun mengobati penyakit pada ikan bila digunakan dengan dosis yang tepat, akan tetapi bila digunakan tidak terkontrol maka dapat menimbulkan  beberapa efek negatif. Residu antibiotik dapat mencemari lingkungan dan juga dapat dijumpai di tubuh ikan, sehingga ikan tidak aman untuk dikonsumsi oleh manusia (Lukistyowati dan Kurniasih, 2011).
Salah satu alternatif dalam mengobati  penyakit bakterial pada ikan adalah menggunakan bahan-bahan alami yang mempunyai kemampuan anti bakteri antara lain ekstrak bawang putih untuk mengobati benih ikan lele yang terinfeksi A.hydrophilla; ekstrak air kunyit untuk mengobati Pseudomonas aeruginosa pada ikan gurame (Rahmaningsih, 2012).
Vaksinasi merupakan suatu metode alternatif yang efektid dan efisien untuk mencegah penyakit yangn disebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophila. Vaksinasi dilakukan dengan merangsang kekebalan spesifik ikan terhadap penyakit tersebut. Metode vaksinasi tidak menimbulkan dampak negatif, baik pada ikan, lingkungan maupun konsumen. Tingkat perlindungan dari metode  vaksinasi terhadap serangan bakteri bakteri Aeromonas hydrophila tergantung pada jenis dan kualitas vaksin, cara vaksinasi, kondisi ikan dan lingkungan hiidupnya. Dari hasil penelitian pemberian vaksin dari debris sel Aeromonas hydrophila  pada ikan lele menunjukkan peningkatan produksi titer antibodi dimana dapat meningkatkan produksi antibodi ikan lele dumbo. Perlakuan vaksinasi, baik yang dibooster maupun yang tidak meningkatkan titer antibodi ikan lele setelah ikan divaksinasi (Mulia, 2012).
Upaya penanganan pencegahan penyakit yang disebabkan oleh A. hydrophila  adalah dengan menggunakan ektraks tumbuhan alami seperti ekstrak daun pepaya. Sebagai tanaman obat, pepaya (C. Papaya L) juga mengandung zat atau senyawa bioaktif yang  yang dapat meningkatkan  ketahanan dan tanggap kebal ikan. Zat aktif yang terdapat pada daun pepaya antara lain alkaloid, flavonoid, dan saponin, selain zat bioaktif daun pepaya juga memiliki kemampuan antagonis dalam melawan bakteri patogen sehingga mempunyai sifat imunostimulan. Semakin banyak kosentrasi ekstrak daun pepaya yang diberikan pada ikan seraca oral jumlah sel macrofagh pada ikan mas meningkat, dimana dosis pemberian ekstrak daun pepaya pada konsentrasi 65% (Sanoesi, 2008).

5.        Kesimpulan
a.       Bakteri Aeromonas hydrophila termasuk bakteri gram negatif, berbentuk batang pendek, bersifat aerob dan fakultatif anaerob, tidak berspora, motil,  mempunyai satu flagel, hidup pada kisaran suhu 25-300C.
b.      Mengakibatkan penyakit hemorhagi septicaemia pada ikan dan menyebabkan infeksi pada gastroenteristis, diare dan extra intestinal pada manusia.
c.       Bakteri Aeromonas hydrophyla sangat mempengaruhi usaha budidaya ikan air tawar dengan tingkat kematian yang  tinggi (80 – 100 %) dalam waktu yang singkat (1 – 2 minggu).
d.      Penyebaran bakteri Aeromonas hydrophila melalui air, kotoran burung, saluran pencernaan hewan darat dan hewan amfibi serta reptil
e.       Bakteri Aeromonas hydrophila  banyak menyerang spesies ikan air tawar seperti, ikan mas, ikan gurami, ikan lele dan juga menyerang ikan air laut seperti ikan cod serta amfibi dan reptil. Selain ikan bakteri  ini juga menyerang manusia
f.       Usaha yang telah dilakukan untuk mengatasi baik pencegahan maupun pengobatan penyakit yang disebabkan bakteriA. hydrophila  adalah dengan pemberian bahan-bahan kimia maupun pemberian antibiotik sintetis seperti tetracycline), menggunakan bahan-bahan alami yang mempunyai kemampuan anti bakteri antara lain ekstrak bawang putih; ekstrak air kunyit, ekstrak daun pepaya dan juga dapat dilakukan dengan vaksinasi
Daftar pustaka

Esteve, C., E. Alcaide., R, Canals., S. Merino., D, Blasco., M.J Figueras., J.M Tomas. 2004. Pathogenic Aeromonas hydrophila iSerogroup ):14 and O:81 Strains with an S Layer.  Appl. Environ. Microbiol. 2004, 70(10): 5898.

Hazen, T.C., C.B.Fliermans., R.P. Hirsch., G.W. Esch. 1978. Prevalence and Distribution of Aeromonas hydrophila  in the United Stated. Apliied aand Environmental Microbiology, Nov. 1978, p. 731-738.

Mulia, D.S. 2012. Penggunaan Vaksin Debris Sel Aeromonas hydrophila dengan Interval Waktu Booster Berbeda terhadap Respons Imun Lele Dumbo (Clarias gariepinus Burchell). Sains Aquatic 10 (2): 86-95.

Lukistyowati, I dan Kurniasih. 2011. Kelangsungan Hidup Ikan Mas (Cyprinus carpio L) yang diberi Pakan Ekstrak Bawang Putih (Allium sativum) dan di Infeksi Aeromonas hydrophila. Jurnal Perikanan dan Kelautan, 16,1 (2011) : 144-160.

Lukistyowati, I dan Kurniasih. 2012. Pelacakan Gen Aerolysisn dari Aeromonas hidrophyla  pada Ikan Mas yang diberi Pakan Ekstrak Bawang Putih. Jurnal Veteriner, Vol. 13 No. 1 : 43-50.

Mangunwardoyo, W., R. Ismayasari., E. Riani. 2010. Uji Patogenisitas dan Virulensi Aeromonas hydrophila Stanier pada Ikan Nila (Oreochromis niloticus Lin.) melalui Postulat Koch. J. Ris. Akuakultur Vol. 5 Tahun 2010: 245-255.

Rahmaningsih, S. 2012. Penagruh Ekstrak Sidawayah dengan Konsentrasi yang Berbeda untuk Mengatasi Infeksi Bakteri Aeromonas hydrophyla  pada Ikan Nila (Oreochromis niloticus). Jurnal Ilmu Perikanan dan Sumberdaya Perairan.

Sanoesi, E. 2008. Penggunaan Ekstrak Daun Pepaya (Carica papaya Linn) terhadap Jumlah Sel Makrofag pada Ikan Mas (Cyprinus carpio L) yang Terinfeksi Bakteri Aeromonas hydrophila. Jurnal Penelitian Perikanan, Vol 11, No. 2, Desember 2008.

Tanjung, L. R., Triyanto., N. H. Sadi., G. D. Haryani., D. S. Said. 2011. Uji Ketahanan Beberapa Strain Ikan terhadap Penyakit Aeromonas. Lomnotek (2011) 18(1) : 58-71

0 comments:

Post a Comment