Wednesday, May 28, 2014

CARA MENGELOLA USAHA BIDANG PERIKANAN

May 28, 2014 Posted by Media Penyuluhan Perikanan Pati No comments
Teori Produksi

Produksi  diartikan  sebagai  penggunaan  atau  pemanfaatan  sumber  daya yang mengubah suatu komoditi menjadi komoditi lainnya yang sama sekali berbeda, baik dalam pengertian apa, dan dimana atau kapan komoditi-komoditi tersebut dialokasikan, maupun dalam pengertian apa yang dikerjakan oleh konsumen terhadap komoditi itu (Miller dan Mainers, 2000).
Dengan demikian produksi itu tidak terbatas pada pembuatannya saja tetapi juga penyimpanannya, distribusi, pengangkutan, pengeceran, pemasaran kembali, upaya-upaya mensiasati lembaga regulator atau mencari celah hukum demi memperoleh keringanan pajak atau lainnya.
Iswardono, (2004) menuliskan bahwa teori produksi sebagai mana teori perilaku konsumen merupakan teori pemilihan atas berbagai alternatif yang tersedia. Dalam hal ini adalah keputusan yang diambil seorang produsen dalam menentukan pilihan atas alternatif tersebut. Produsen mencoba memaksimalkan produksi yang bisa dicapai dengan suatu kendala ongkos tertentu agar bisa dihasilkan keuntungan yang maksimum.

Fungsi Produksi

Pengertian fungsi produksi adalah suatu hubungan diantara faktor produksi dan tingkat produksi yang diciptakannya. Faktor-faktor produksi ini terdiri dari tenaga kerja, tanah, modal, dan keahlian keusahaan. Dalam teori ekonomi untuk menganalisis mengenai produksi, selalu dimasalahkan bahwa tiga faktor produksi (tanah, modal, dan keahlian keusahaan) adalah tetap jumlahnya.  Hanya tenaga kerja yang dipandang seabagai faktor produksi yang berubah-ubah jumlahnya. Yang dimaksud faktor produksi adalah semua korbanan yang diberikan pada budidaya ikan agar ikan lele tersebut mampu tumbuh dan mengahsilkan dengan dengan baik (Soekartawi,1997).
Untuk menggambarkan hubungan diantara faktor-faktor produksi yang digunakan dan tingakat produksi yang dicapai, maka yang di gambarkan adalah hubungan antara jumlah tenaga kerja yang digunakan dan jumlah produksi yang dicapai (Sukirno,2005). Sementara itu faktor produksi menurut Mankiw (2006) adalah hubungan antara jumlah input  yang digunakan dalam membuat barang dengan jumlah output dari barang terebut.
Fungsi produksi dapat dinyatakan sebagai berikut:

Q = F (K,L,R,T)..................................................................................................(2.1) Dimana:
K= adalah jumlah stock modal atau persediaan modal

L= jumlah tenaga kerja (yang meliputi jenis tenaga kerja dan keahlian keusahaan) R = Biaya sewa lahan



T= adalah tingakat teknologi yang digunakan

Q= adalah jumlah produksi yang digunakan (Sukirno,2005).

Soekartawi (1990) menyatakan bahwa fungsi produksi adalah hubungan fisik anatara variabel yang dijelaskan (Y) dan variabel yang menjelaskan (X). variabel yang dijelaskan biasanya berupa output dan variabel yang menjelaskan biasanya dalam bentuk input.
Secara sistematis, hubunga ini dapat ditulis sebagai berikut:

Y = f (X1, X2, X3, …..,Xi,..Xn……………………………………………(2.2)

Dari fungsi produksi di atas, yaitu dalam persamaan 2.2, maka dapat djelaskan bahwa hubungan X dan Y dapat diketahui dan sekaligus hubungan Xi, Xn  dan X lainya juga dapat diketahui. Pengguanaan dari berbagai macam faktor- faktor tersebut diusahakan untuk menghasilkan atau memberikan hasil maksimal dalam jumlah tertentu.
menyatakan bahwa fungsi produksi adalah suatu fungsi atau persamaan yang menunjukkan hubungan antara tingkat output dan tingkat penggunaan input- input. Setiap produsen dalam teori dianggap mempunyai satu fungsi produksi sebagai berikut (Boediono, 1989)  :
Q = f (X1,X2,………,Xn)               ...............................................................................(2.3) Dimana :
Q                                 = tingkat produksi (output) X1,X2,………Xn   = berbagai input yang digunakan



Kombinasi penggunaan faktor-faktor produksi diusahakan sedemikian rupa agar dalam jumlah tertentu menghasilkan keuntungan tinggi.
Proses produksi memiliki sifat khusus berkaitan hubungan antara input dan output  yang  dikenal  dengan   the  law  of  diminishing  return   yaitu  proses produksi apabila ada tambahan satu macam input ditambah penggunaanya sedang input-input  yang lain  tetap maka tambahan  satu input yang ditambahkan  tadi mula-mula menaik, tetapi kemudian seterusnya menurun bila input tersebut terus ditambah.
Secara  grafik  penambahan  faktor  produksi  yang  digunakan  dapat  dijelaskan dengan gambar sebagai berikut:




Gambar 2.1
Grafik produksi dengan satu variabel input








Output Per periode








Output Per periode









0





C B

A



(a
E II
I                    III


(b)

TP








Labor Per periode








Labor Per periode
AP MP



Sumber: Pindyck, Robert dan Rubinfeld, 1995



Sesuai gambar , dapat membagi fungsi produksi menjadi tiga daerah atau tiga tahap yaitu:
-     Tahap I ; terjadi pada saat kurva MPP diatas kurva APP yang meningkat. MPP yang meningkat menunjukkan MC yang menurun sehingga input terus ditambah, MPP  akan  menghasilkan  MC  atau  tambahan  ongkos  per  unit  yang  semakin



menurun,            tidak rasional jika produsen berproduksi di daerah ini. Tahap I ini berakhir pada titik di mana MPP memotong kurva APP di titik maksimum.
-     Tahap II ; terjadi pada saat kurva MPP menurun dan berada dibawah kurva APP, tapi masih lebih besar dari nol. Pada awal tahap ini, efisiensi input variabel mencapai titik puncak, sedangkan pada akhir tahap ini, efisiensi input tetap mencapai puncaknya, yaitu pada saat kurva TPP mencapai titik maksimum.
-     Tahap III ; terjadi pada saat kurva MPP negatif. Hal ini dikarenakan rasio input variabel terhadap input terlalu besar sehingga TPP menurun.
2.1.3  Fungsi Produksi Linier

Merupakan suatu fungsi yang menunjukkan hubungan antara input-input yang digunakan dengan output yang dihasilkan dalam bentuk fungsi linier. Secara matematis fungsi produksi linier dapat ditulis sebagai berikut:
Y = f (X1,X2,X3,…………Xn )                                     atau……………………………(2.7) Y = a + b1 X1 + b2 X2 + b3 X3 +…………….+ bn Xn.............................(2.8) Dimana :
Y= variabel yang dependent/variabel yang dijelaskan a= konstanta
X= variabel independent/variabel yang menjelaskan b= koefisiensi regresi
2.1.4               Fungsi Produksi Cobb-Douglas (CD)

Merupakan suatu fungsi atau persamaan yang melibatkan dua atau lebih variabel.  Dimana  variabel  yang  satu  disebut  variabel  dipenden  (Y)  yang  lain



variabel independen (X). Sehingga kaidah-kaidah pada garis regresi juga berlaku dalam penyelesaian fungsi Cobb Douglas :
Y = f (X1, X2, X3, ……,Xn …………………………………………(2.9) Atau  dapat dituliskan fungsi Cobb Douglas sebagai berikut:
Y = aX1b1X2b2……X3b3…………Xnbnen………………………… ….(2.10)

Kemudian untuk memudahkan pendugaan fungsi tersebut diubah menjadi bentuk linier berganda dengan cara melogaritmakan persamaan tersebut menjadi sebagai berikut :
Ln Y = ln  a + b1 ln X1 + b2 ln X2 + b3 ln X3 +e……………………(2.11) Dimana  :
Y = variabel dependen (output) X = variabel indipenden (input)
B1, b2,…. ,bn = nilai parameter yang diduga

e = bilangan natural (2,718)

u = disturbance term

funsi produksi Cobb Douglas digunakan dalam hal :

a.   Tidak ada nilai pengamatan yang bernilai nol, sebab logaritma dari bilangan nol adalah suatu bilangan yang besarnya tidak diketahui (infinite)



b.   Tidak ada perbedaan teknologi dari setiap kegiatan atau usaha (misal :

pertanian, perikanan,dsb)



c.   Tiap variable X adalah perfect competition atau tersedia bebas.

d.   Perbedaan  lokasi  pada  fungsi  produksi  seperti  iklim  adalah  sudah tercakup dalam faktor kesalahan.
e.   Hanya terdapat satu variabel yang dijelaskan yaitu (Y)

2.1.5            Efisiensi

Efisiensi  merupakan  rasio  antara  output  dan  input,  dan  perbandingan antara masukkan dan keluaran. Apa saja yang dimaksudkan dengan masukan serta bagaimana angka perbandingan tersebut diperoleh, akan tergantung dari tujuan penggunaan tolak ukur tersebut. Secara sederhana menurut Nopirin (1997), efisiensi dapat berarti tidak adanya pemborosan.
Efisiensi merupakan banyaknya hasil produksi fisik yang dapat diperoleh dari kesatuan faktor produksi atau input. Situasi seperti ini akan terjadi apabila petani mampu membuat suatu upaya agar nilai produk marginal (NPM) untuk suatu  input atau masukan  sama  dengan harga  input  (P)  atau  dapat  dituliskan sebagai berikut (Soekartawi, 1990):
NPMx = Px ; atau

NPMx / Px = 1

Pada kenyataannya NPMx  tidak selalu sama dengan Px, dan yang sering terjadi adalah keadaan sebagai berikut:



1.   (NPMx  / Px) > 1 ; artinya bahwa penggunaan input x belum efisien. Untuk mencapai tingkat efisiensi maka input harus ditambah.



2.   (NPMx / Px) < 1 ; artinya penggunaan input x tidak efisien . Untuk mencapai atau menjadi efisien maka input harus dikurangi.
Penggunaan  sumber  daya  produksi  dikatakan  belum  efisien  apabila sumber daya tersebut masih mungkin digunakan untuk memperbaiki setidak- tidaknya keadaan kegiatan yang satu tanpa menyebabkan kegiatan yang lain menjadi lebih buruk. Sumber daya dikatakan efisien pengunaannya jika sumber daya tersebut tidak mungkin lagi digunakan untuk memperbaiki keadaan kegiatan yang satu tanpa menyebabkan kegiatan yang lain menjadi lebih buruk (Lipsey,
1992). Menurut Mubyarto (1986), Efisiensi adalah suatu keadaan di mana sumberdaya telah dimanfaatkan secara optimal. Untuk memperoleh sejumlah produk diperlukan bantuan atau kerjasama antara beberapa faktor produksi.
2.1.6            Return To Scale

RTS (Return To Scale) atau keadaan skala usaha perlu diketahui untuk mengetahui kombinasi pengguanaan factor produkasi. Terdapat 3 kemungkinan return to scale, yaitu (Soekartawi,1990):
a.) Decreasing Return To Scale (DRS), bila (b1+b2+…..+bn)   1, dapat diartikan bahwa proporsi penambahan factor produksi akan menghasilkan proporsi penambah produksi yang lebih kecil.
b.) Constant Return To Scale (CRS), bila (b1+b2+…..+bn) = 1, dapat diartikan             bahwa           proporsi                                                  penambah               factor           produksi                 akan proporsional dengan produksi yang diperoleh.




c.) Incrosing Return To scale (IRS), bila (b1+b2+…..+bn)  1, dapat diartikan          bahwa           proporsi                                                  penambah               factor           produksi                 akan mengahasilkan tambahan produksi yang proporsinya lebih besar.
2.1.7             Faktor Produksi

Faktor produksi adalah semua biaya yang diberikan pada ikan lele agar ikan lele tersebut mampu tumbuh dan menghasilkan dengan baik. Faktor produksi dikenal  dengan  istilah  input,  production  factor  dan  biaya  produksi.  Dalam berbagai pengalaman menunjukkan bahwa fackor produksi lahan, modal, untuk membeli bibit, pupuk, pakan, tenaga kerja dan aspek manajemen adalah faktor produksi yang terpenting diantara faktor produksi yang lain (Soekartawi,2003).
2.1.7.1 Manajemen Perikanan

Ikan lele merupakan salah satu jenis ikan ekonomis penting di Indonesia juga di Thailand. Lele hidup di air tawar dengan daerah penyebaran yang luas baik secara horizontal dan vertical dan digemari banyak konsumen.
Minat masyarakat yang tinggi akan ikan lele, memungkinkan budidaya ikan lele dumbo yang didatangkan dari Afrika, yang dapat mencapai berat 200 gram dalam waktu 5 bulan sejak menetas.
Pengembangan usah budidaya ikan lele semakin meningkat setelah masuknya ikan lele dumbo ke Indonesia pada tahun 1985. Keunggulan lele dumbo dibandingkan lele lokal antara lain tumbuh lebih cepat, jumlah telur lebih banyak dan  lebih  tahan  terhadap  penyakit,  (Departemen  Kelautan  dan  Perikanan  RI,
2003).



Perkembangan budidaya yang sangat pesat tanpa didukung pengelolaan induk yang baik menyebabkan lele dumbo mengalami penuruanan kualitas. Hal ini karena adanya perkawinan sekerabat (increading), seleksi induk yang salah atas penggunaan  induk  yang berkualitas rendah.  Penurunan  kualitas ini  dapat diamati dari karakter umum pertama kematangan pada telur, derajat penetasan telur, pertumbuhan harian, daya tahan terhadap penyakit.
Dalam usaha budidaya ikan lele dumbo yang merupakan proses produksi didasarkan pemberian input-input produksi untuk mendapatkan hasil yang menguntungkan.  Langkah-langkah           sistematis                                      dalam                      manajemen  budidaya perikanan, antara lain:
a.   Pemilihan  lokasi  dan  mempersiapkan  lahan  usaha  untuk  usaha budidaya ikan lele dumbo.
b.   Pemilihan benih ikan yang baik. c.   Penebaran benih ikan
d.   Pengelolaan kualitas air

e.   Penentuan jumlah pemberian pakan ikan yang dibutuhkan f.    Pencegah hama dan penyakit ; serta
g.   Panen dan pemasaran hasil

0 comments:

Post a Comment