Thursday, January 3, 2013

MENGAPA TERBENTUK TERUMBU KARANG

January 03, 2013 Posted by Media Penyuluhan Perikanan Pati No comments

Pada dasarnya terumbu karang terbentuk dari endapan-endapan masif kalsium karbonat  (CaCO3)  yang  dihasilkan  oleh  organisme  karang  pembentuk  terumbu (karang hermartipik) dari filum Cnidaria, ordo Scleractinia yang hidup bersimbiosis dengan zooxantellae, dan sedikit tambahan dari algae berkapur serta organisme lain yang menyekresi kalsium karbonat (Bengen, 2002). Menurut Dahuri (2003), bahwa hewan karang termasuk kelas Anthozoa, yang berarti hewan berbentuk bunga (Antho artinya bunga; zoa artinya hewan). Lebih lanjut dikatakan bahwa Aristoteles mengklasifikasikan  hewan  karang  sebagai  hewan-tumbuhan  (animal  plant).  Baru pada tahun 1723, hewan karang diklasifikasikan sebagai binatang. Menurut Dahuri (2003), kemampuan menghasilkan terumbu ini disebabkan oleh adanya sel-sel tumbuhan yang bersimbiosis di dalam jaringan karang hermatifik yang dinamakan zooxanthellae. Sel-sel yang merupakan sejenis algae tersebut hidup di jaringan-jaringan polyp karang, serta melaksanakan fotosintesa. Hasil samping dari aktivitas  fotosintesa  tersebut  adalah  endapan  kalsium  karbonat  (CaCO3),  yang struktur   dan   bentuk   bangunannya   khas.   Ciri   ini   akhirnya   digunakan   untuk menentukan jenis atau spesies binatang karang.


Parameter   Lingkungan yang  Mempengaruhi Keberadaan Terumbu Karang

Sebagai sebuah ekosistem, meskipun hewan karang (corals) ditemukan diseluruh perairan dunia, tetapi hanya di daerah tropis terumbu karang dapat berkembang dengan baik. Menurut Burke et.al., (2002) bahwa karang ditemukan mulai dari perairan es di Artik dan Antartika, hingga ke perairan tropis yang jernih. Namun,  terumbu  karang dengan  dinding  megahnya  dan  rangka  baru  kapur  yang sangat besar, hanya ditemukan disebagian kecil perairan sekitar khatulistiwa. Dalamjalur tropis, faktor biologi, kimiawi, dan iklim dapat mendukung tercapainya keseimbangan yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup karang pembentuk terumbu.
Pertumbuhan karang  dan penyebarannya tergantung pada kondisi lingkungannya, yang pada kenyataannya tidak selalu tetap karena adanya gangguan yang  berasal  dari  alam  atau  aktivitas  menusia.  Menurut  Dahuri  (1996)  bahwa terumbu karang terdapat pada lingkungan perairan yang agak dangkal. Untuk mencapai pertumbuhan yang maksimum, terumbu karang memerlukan perairan yang jernih, dengan suhu perairan yang hangat, gerakkan gelombang besar dan sirkulasi air yang lancar serta terhindar proses sedimentasi.
Menurut Bengen 2002) bahwa faktor-faktor fisik lingkungan yang berperan dalam perkembangan terumbu karang adalah sebagai berikut ;
1.      Suhu air >18 oC, tapi bagi perkembangan yang optimal diperlukan suhu rata-rata tahunan berkisar 23 35 oC, dengan suhu maksimal yang masih dapat ditolerir berkisar antara 36 – 40 oC.
2.      Kedalaman perairan < 50 m, dengan kedalaman bagi perkembangan optimal pada 25 m atau kurang.
3.      Salinitas air yang konstan berkisar antara 30 – 36 ‰.
4.      Perairan yang cerah, bergelombang besar dan bebas dari sedimen.


1.      Suhu

Suhu perairan berperan penting bagi pertumbuhan dan perkembang karang. Menurut Wells (1957) dalam Ramli (2003), terumbu karang tidak berkembang pada suhu minimum tahunan di bawah 18 oC, dan paling optimal terjadi di perairan rata- rata suhu tahunannya 25 oC - 29 oC. Sedangkan menurut Kinsman (1964) dalam Supriharyono (2007) bahwa batas minimum dan maksimum suhu berkisar antara 16 17oC dan sekitar 36 oC.
Menurut Begen (2002), terumbu karang ditemukan di perairan dangkal daerah tropis, dengan suhu perairan rata-rata tahunan > 18 oC. Umumnya menyebar pada garis tropis antara Cancer dan Capricorn. Hal ini berkaitan  dengan  kebanyakan karang yang kehilangan kemampuan menangkap makanan pada suhu di atas 33,5 oC dan di bawah 16 oC (Mayor, 1915; dalam Supriharyono, 2007).
Hal inilah yang menyebabkan terumbu karang banyak terdapat dalam wilayah yang luas di perairan tropis. Walapun demikian, toleransi penyusun karang terhadap perubahan suhu berbeda antara satu spesies dengan spesies yang lainnya. Beberapa spesies tidak dapat mentoleransi perubahan suhu lebih dari 5oC dalam waktu yang lama, karena dapat menimbulkan pemutihan karang yang sangat merusak karang (Lamp. Kepmen Kelautan dan Perikanan No. KEP.38/MEN/2004).
2.      Salinitas

Salinitas berpengaruh besar terhadap produktivitas terumbu karang. Debit air tawar dari sungai yang besar sangat berpengaruh pada salinitas perairan pantai, yang pada gilirannya mempengaruhi pertumbuhan terumbu karang, terutama karang tepi. Salinitas air laut rata-rata di daerah tropis adalah sekitar 35‰, dan binatang karang hidup subur pada kisaran salinitas sekitar 34-36‰ (kinsman,1964 dalam Supriharyono, 2007).
Menurut Dahuri (2003) bahwa umumnya terumbu karang tumbuh dengan baik di wilayah dekat pesisir pada salinitas 30 - 35 ‰. Meskipun terumbu karang mampu bertahan pada salinitas di luar kisaran tersebut, pertumbuhannya menjadi kurang baik bila dibandingkan pad salinitas normal.
Pengaruh salinitas terhadap kehidupan binatang karang sangat bervariasi bergantung pada kondisi perairan setempat dan atau pengaruh alam, seperti ron-off, badai dan hujan. Sehingga kisaran salinitas bisa sampai dari 17,5 52,5 (Vaughan, 1999; Wells, 1932 dalam Supriharyono, 2007).


3.      Cahaya matahari

Keberadaan cahaya matahari sangat penting bagi terumbu karang untuk melakukan proses fotosintesa. Mengingat binatang karang (hermatypic atau Reef-build            corlas) hidupnya bersimbiose dengan ganggang (zooxanthellae yang melakukan fotosintesa. Keadaam awan di suatu tempat akan mempengaruhi pencahayaan pada waktu siang hari. Kondisi ini dapat mempengaruhi pertumbuhan karang (Goreau dan Goreau, 1959 dalam Supriharyono, 2007).
Kebanyakan terumbu karang dapat berkembang pada kedalaman 25 meter atau kurang. Pertumbuhan karang sangat berkurang saat tingkat laju produksi primer sama dengan respirasinya (zona kompensasi) yaitu kedalaman dimana kondisi intensitas cahaya berkurang sekitar 15 – 20 persen dari intensitas cahaya di lapisan permukaan air (Dahuri, 2003).
Sebaran terumbu karang berdasarkan kedalaman yang sangat berbeda dikarenakan bentuk atau tipe-tipe terumbu karang itu sendiri. Menurut Loya (1985) dalam  Ramli  (2003),  terumbu  karang  tipe  bercabang  (Branching)  akan  bertahan hidup pada kedalaman di bawah   10 meter karena mampu memecahkan hantaman ombak, sehingga karang bercabang lebih mendominasi pada kedalaman 11 meter keatas.

Menurut Suharsono (1996) bahwa pertumbuhan, penutupan dan kecepatan tumbuh karang berkurang secara eksponensial dengan kedalaman. Faktor utama yang mempengaruhi   sebaran   vertikal   adalah   intensitas   cahaya,   oksigen,   suhu   dan kecerahan. Titik kompensasi binatang karang terhadap cahaya adalah pada intensitas cahaya antara 200 – 700 f.c. (atau umumnya terletak antara 300-500 f.c.). sedangkan intensitas cahaya secara umum permukaan                                                    laut 2500 5000 f.c. (Kanwisher dan Waiwright, 1967 dalam Supriharyono, 2007).


4.      Sedimen dan sirkulasi arus.

Sedimen juga merupakan unsur penting bagi kehidupan karang. Namun sedimentasi/siltasi yang terlampau besar dari daratan merupakan ancaman besar bagi kehidupan karang. Lumpur halus dalam bentuk sedimen terlarut yang mengendap akan  menutupi  pori-pori  binatang  karang  dan  menyebabkan  kematian  (Lamp. Kepmen Kelautan dan Perikanan, 2004).
Menurut Pastorok dan Bilyard (1985) dalam Supriharyono (2007) bahwa pengaruh sedimen terhadap petumbuhan binatang karang secara langsung maupun tidak langsung. Pengaruh tidak langsung adalah melalui penetrasi cahaya dan banyaknya energi yang dikeluarkan oleh binatang karang untuk menghalau sediment tersebut, yang berakibat turunnya laju pertumbuhan karang. Sedimen dapat langsung mematikan binatang karang, yaitu apabila sedimen tersebut berukuran cukup besar dan  banyak  jumlahnya  sehingga  menutupi  polyp  (mulut)  karang  (Hubbard  dan Pocock, 1972; dalam Supriharyono 2007).
Menurut Supriharyono (2007), bahwa ada sedimen yang dikenal dengan carbonat sediment, yaitu sedimen yang berasal dari erosi karang-karang. Secara fisik ataupun biologis (bioerosion). Bioeorsi ini biasanya dilakukan oleh hewan-hewan laut, seperti bulu babi, ikan, bintang laut dan sebagainya. Keberadaan sedimen ini, baik terrigeneous sediments maupun carbonat sediment, menyebabkan perairan disekitar terumbu karang menjadi keruh, terutama setelah terjadi hujan besar atau badai, dan ini dapat mempengaruhi kehidupan karang.
Menurut Burke et. al., (2002), bahwa sedimen dalam kolom air laut dapat sangat mempengaruhi pertumbuhan karang, atau bahkan menyebabkan kematian karang. Kandungan unsur hara yang tinggi dari aliran sungai dapat merangsang pertumbuhan alga yang beracun. Keadaan ini mendorong pertumbuhan alga lain yang tidak saja memanfaatkan energi matahari tetapi juga menghambat kolonisasi larva karang dengan cara menumbuhi substrat yang merupakan tempat penempelan larva karang..
Di sisi lain, arus diperlukan dalam proses pertumbuhan karang dalam hal menyuplai makanan berupa mikroplankton. Arus juga berperan dalam proses pembersihan dari endapan-endapan material dan menyuplai oksigen yang berasal dari laut lepas. Oleh sebab itu arus sangat berperan penting dalam proses transfer energi (Dahuri, 2003). Lebih lanjut dikatakan bahwa Arus dan sirkulasi air berperan dalam proses sedimentasi. sedimen dari partikel lumpur padat yang dibawa oleh aliran permukaan  (surface  run  off)  akibat  erosi  menutupi  permukaan  terumbu  karang. Sehingga tidak hanya berdampak negatif terhadap hewan karang, tetapi juga terhadap biota yang hidup berasosiasi dengan habitat tersebut.


5.      Klasifikasi Terumbu Karang

Dilihat  dari  bentuk  pertumbuhannya,  karang  dibedakan  menjadi  enam kategori utama, yaitu : (1) karang bercabang (branching); (2) karang padat (massive); (3) karang mengerak (encrusting); (4) karang meja (tabulate); (5) karang berbentuk daun (foliose); dan (6) karang jamur (mushroom) (Coremap II, 2007). Sedangkan berdasarkan struktur geomorphologi dan proses pembentukannya, terumbu karang terdiri atas 4 (empat) tipe terumbu, yaitu : (1) terumbu karang tepi (fringing reef); (2) terumbu karang penghalang (berrier reef); (3) terumbu karang cincin (attol); dan (4) terumbu karang takat/ gosong (Patch reef) (Sudarsono, 1996).

0 comments:

Post a Comment