Tuesday, May 10, 2011

PENGEMBANGAN POKULTUR UDANG DAN BANDENG

May 10, 2011 Posted by Media Penyuluhan Perikanan Pati No comments
Sekarang ini banyak masalah yanh dihadapai pembudidaya udang terutama udang windu, untuk itu agar mendapatkan hasil maka perlu usaha yang berbasis polikultur. Dalam polikultur antara udang dan bandeng sangat sesuai dengan kondisi tambak yang mengalami masa sulit.
Faktor lingkungan terdiri dari pengelolaan, pakan dan tempat budidaya (kolam atau tambak). Yang akan dibahas di sini adalah faktor  lingkungan tempat budidaya dan pakan.
II. PARAMETER KUALITAS AIR.
Parameter kualitas air adalah beberapa ukuran yang digunakan untuk mengetahui kualitas air. Bebagai parameter kualitas air tersebut sangat berpengaruh terhadap keberhasilan budidaya ikan. Kualitas air dapat dinilai secara fisik dan kimiawi.
Parameter Kimia
Secara kimiawi, kualitas air ditentukan oleh :
1. Salinitas.
Adalah jumlah total garam terlarut yang terukur dalam sampel air dalam satuan ppt (part per thausand). Satuan ppt artinya bagian per seribu.  Setiap jenis ikan mempunyai salinitas optimal untuk hidupnya. Salinitas yang terlalu tingi dapat menghambat pertumbuhan ikan atau udang.
2. DO (Dissolved Oxygen)
Oksigen memegang peranan penting bagi mahluk hidup. Jumlah oksigen yang ada dalam air dinyatakan dalam satuan ppm (part per million/bagian per sejuta). Besarnya DO optimal untuk budidaya adalah 4 – 7,5  ppm, karena sesuai dengan kebutuhan udang/ikan.
Ikan memerlukan oksigen untuk menghasilkan energi  untuk beraktivitas, pertumbuhan, reproduksi dan lain-lain. Selain itu, oksigen yang cukup diperlukan karena proses penguraian bahan organik di air dibantu oleh bakteri-bakteri aerob (hanya bisa hidup dengan kadar oksigen yang cukup) yaitu bakteri Nitrosomonas dan Nitrobacter. Jika kadar oksigen sedikit, bakteri tidak dapat hidup sehingga proses dekomposisi tidak dapat berlangsung. Hal ini yang menyebabkan terjadinya peracunan air oleh bahan organik yang tertumpuk di dasar kolam.
Kadar oksigen terlarut yang terlalu rendah juga dapat mematikan ikan atau udang. Gejala kekurangan oksigen di air ditandai dengan naiknya ikan atau udang ke permukaan air. Jika hal itu terjadi, langkah yang segera harus dilakukan adalah penebaran kapur dolomite, karena dolomite dapat mengikat karbon dioksida.
Besar-kecilnya DO ditentukan oleh temperatur air dan udara, tekanan barometrik udara, jumlah tumbuhan air baik yang berupa tumbuhan besar maupun dalam bentuk phytoplankton, kadar mineral dan Biological Oxygen Demand (BOD).
Cara untuk melarutkan oksigen dari udara diantaranya dengan cara :
a. Penggunaan kincir. Salah satu sumber  DO air berasal dari oksigen di udara melalui proses difusi karena adanya kontak antara permukaan air dengan udara. Semakin luas permukaan air maka proses difusi semakin besar karena permukaan air yang kontak langsung dengan udara menjadi besar. Memanfaatkan mekanisme terebut, maka kincir air digunakan, karena air dipecah menjadi butiran-butiran kecil sehingga luas permukaan air menjadi besar.
b. Air mengalir. Air yang selalu bergerak akan mempunyai kandungan DO selalu tinggi, karena selalu kontak dengan udara bebas.
Berhubungan dengan kadar DO ini, ada istilah Biological Oxygen Demand (BOD) yaitu banyaknya oksiden yang dibutuhkan untuk menguraikan bahan organik mudah terurai oleh kegiatan biokimia selama lima hari. Semakin tinggi nilai BOD berarti semakin tinggi timbunan bahan organic di suatu kolam sehingga kurang baik untuk budidaya..
3. Derajat Keasaman (pH).
Tingkat keasaman air dinyatakan dalam pH air. Besarnya pH air yang optimal untuk kehidupan ikan dan udang adalah 6 – 8 (netral), karena pada kisaran tersebut menunjukkan imbangan yang optimal antara oksigen dan karbondioksida serta berbagai mikrooranisme yang merugikan sulit berkembang. Kondisi pH air dapat berubah-ubah selama budidaya, hal ini yang berakibat buruk bagi ikan atau udang. Air yang pH-nya terlalu rendah (asam) dapat menyerap fosfat yang berperan dalam kesuburan air, sehingga kesuburan kolam dapat menurun.  pH yang terlalu rendah  diatasi dengan perlakuan kapur (dolomite) dengan dosis 5 – 15 ppm terutama pada malam hari dan ditambah dengan zeolit (SiO4) 3 – 5 ppm.
4. Alkalinitas.
Adalah kapasitas air untuk menetralkan setiap penambahan asam tanpa menurunkan pH, alkalinitas merupakan buffer (penahan) terhadap pengaruh pengasaman. Alkalinitas disebabkan oleh adanya ion-ion bikarbonat (HCO3-), karbonat (CO32-), hidroksida (OH-) dan ion-ion lain dalam jumlah kecil. Jika kadar ion-ion tersebut kurang, maka pH cenderung tidak stabil yang dapat merugikan ikan atau udang.
Parameter Fisika
Selain berbagai parameter kimia di atas, kualitas air juga ditentukan oleh berbagai parameter fisika air sebagai berikut ;
1. Kecerahan (transparansi) air.
Kecerahan pada hakekatnya menunjukkan populasi plankton dan kandungan material terlarut dalam air, diukur dengan secci disk. Kecerahan yang baik berkisar antara 30 – 40 cm, karena pada kondisi itu populasi plankton cukup ideal untuk pakan alami dan material terlarut cukup rendah. Pada awal budidaya, biasanya kecerahan air tinggi (50 cm hingga dasar kolam) karena populasi plankton masih rendah dan air masih bersih. Semakin lama usia budidaya, kecerahan makin rendah (hingga 10 cm).  Untuk mempertahankan kecerahan yang ideal, selalu dilakukan ganti air baru secara rutin atau setiap ada indikasi penurunan kecerahan dan dilengkapi dengan perlakuan bahan-bahan pembuat stabil kondisi air (stabilizer). Kecerahan yang ideal juga menunjukkan kondisi air yang baik, karena penurunan kualitas air banyak disebabkan oleh tingginya kadar bahan organik dan anorganik terlarut.  Disamping itu, plankton yang terlalu tinggi populasinya menyebabkan tingginya pH pada siang hari dan punurunan  drastis kadar DO pada malam hari terutama jika plankton yang dominan adalah phytoplankton.
2. Suhu
Suhu air juga sangat penting bagi kehidupan ikan atau udang karena suhu air sangat berpengaruh terhadap kehidupan jasad renik (mikroorganisme), sehingga dapat mempengaruhi kehidupan ikan dan udang. Suhu ideal untuk budidaya adalah 25 – 310 C. Jika suhu berfluktuasi secara drastis, dapat berakibat buruk bagi pertumbuhan embrio ikan. Suhu air dipengaruhi oleh radiasi cahaya matahari, suhu udara, cuaca dan lokasi. Air mempunyai kapasitas yang besar untuk menyimpan panas sehingga suhunya relatif konstan dibandingan dengan suhu udara, perbedaan suhu air antara pagi hari dan siang hari hanya 20 C. Suhu air akan mempengaruhi densitas/kepadatannya (dalam gr/cm3. Perbedaan densitas air antara lapisan atas dan lapisan bawah dapat menyebabkan terjadinya stratifikasi air menjadi 3 lapisan, yaitu epilimnion (lapisan atas yang suhunya tinggi), hypolimnion (lapisan bawah yang dingin) dan thermocline (lapisan antara keduanya yang suhunya turun drastis). Stratifikasi air ini dipengaruhi oleh kedalaman kolam/tambak dan radiasi cahaya matahari.
3. Kedalaman air.
Untuk kolam budidaya, kedalaman air yang ideal yaitu 70 – 120 cm. Air yang terlalu dangkal menyebabkan perubahan suhu terlalu besar. Jika air terlalu dalam mengakibatkan perbedaan suhu yang menyolok antara air bagian atas dengan bagian bawah dan sinar matahari tidak dapat mencapai air bagian bawah sehingga pertumbuhan phytoplankton terhambat. Seperti yang telah dikemukaan di muka bahwa kolam/tambak yang terlalu dalam dapat menyebabkan terjadinya stratifikasi suhu air sehingga harus diusahakan agar berada dalam kisaran kedalaman yang ideal. Disamping itu sifat usang Nocturnal (senang makan d itempat gelap)
4. Warna Air.
Warna air ditentukan karena prose salami, baik yang berasal dari proses biologis maupun non-biologis. Produksi dari proses biologis dapat berupa humus, gambut dan lain-lain. Sedangkan dari proses non-biologis dapat berupa semyawa-senyawa kimia yang mengandung unsure-unsur Fe, Co, Mn dan lain-lain. Selain itu warna air juga dapat ditentukan oleh jenis plankton yang dominan. Pada umumnya warna air yang dikehendaki adalah hijau yang menunjukkan jenis plankton Ganggang Hijau (Chlorophytaceae). Tetapi warna air yang bagus tidak selalu harus hijau, karena jika yang dominan pada saat itu jenis plankton hewan, maka warna air biasanya berwarna coklat muda.
III.   LIMBAH ORGANIK
Limbah organik adalah sisa atau buangan dari berbagai aktifitas manusia seperti rumah tangga, industri, pemukiman, peternakan, pertanian dan perikanan yang berupa bahan organik; yang biasanya tersusun oleh karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, fosfor, sulfur dan mineral lainnya (Polprasert, 1989). Limbah organik yang masuk ke dalam perairan dalam bentuk padatan yang terendap, koloid, tersuspensi dan terlarut. Pada umumnya, yang dalam bentuk padatan akan langsung mengendap menuju dasar perairan; sedangkan bentuk lainnya berada di badan air, baik di bagian yang aerob maupun anaerob. Dimanapun limbah organik berada, jika tidak dimanfaatkan oleh fauna perairan lain, seperti ikan, kepiting, bentos dan lainnya; maka akan segera dimanfaatkan oleh mikroba; baik mikroba aerobik (mikroba yang hidupnya memerlukan oksigen); mikroba anaerobik (mikroba yang hudupnya tidak memerlukan oksigen) dan mikroba fakultatif (mikroba yang dapat hidup pada perairan aerobik dan anaerobik).
1. Penguraian di Lapisan Air yang Mengandung Oksigen (Aerob).
Limbah organik yang ada di badan air aerob akan dimanfaatkan dan diurai oleh mikroba aerobik (BAR) Makin banyak limbah organik yang masuk dan tinggal pada lapisan aerob (lapisan air yang mengandung udara) akan makin besar pula kebutuhan oksigen bagi mikroba yang menguraikannya, bahkan jika keperluan oksigen bagi mikroba yang ada melebihi konsentrasi oksigen terlarut (DO) maka oksigen terlarut bisa menjadi nol dan mikroba aerobpun akan musnah digantikan oleh mikroba anaerob dan fakultatif yang untuk aktifitas hidupnya tidak memerlukan oksigen.
2. Penguraian di Lapisan Air Tanpa Oksigen (Anaerob)
Limbah organik yang masuk ke badan air yang anaerob akan dimanfaatkan dan diurai oleh mikroba anaerobik atau fakultatif
Kedua proses tersebut diatas mengungkapkan bahwa aktifitas mikroba yang hidup di bagian badan air yang anaerob selain menghasilkan sel-sel mikroba baru juga menghasilkan senyawa-senyawa CO2, NH3, H2S, dan CH4 serta senyawa lainnya seperti amin, PH3 dan komponen fosfor. Asam sulfide (H2S), amin dan komponen fosfor adalah senyawa yang mengeluarkan bau menyengat yang tidak sedap, misalnya H2S berbau busuk dan amin berbau anyir. Selain itu telah disinyalir bahwa NH3 dan H2S hasil dekomposisi anaerob pada tingkat konsentrasi tertentu adalah beracun dan dapat membahayakan organisme lain, termasuk ikan. Selain menghasilkan senyawa yang tidak bersahabat bagi lingkungan seperti tersebut diatas, hasil penguraian di semua bagian badan air menghasilkan CO2 dan NH3 yang siap dipakai oleh organisme perairan berklorofil (fitoplankton) untuk aktifitas fotosintesa
Dampak Penguraian Limbah Organik
Proses pengurian limbah organik di badan air bagian manapun cenderung selalu merugikan karena sebagian besar produknya (NH3 H2S dan CH4) dapat langsung mengganggu kehidupan fauna, sedang produk yang lain (nutrien) meskipun sampai pada konsentrasi tertentu menguntungkan namun jika limbah/nutrien terus bertambah (eutrofikasi) akan menjadi pencemar yang menurunkan kualitas perairan dan akhirnya mengganggu kehidupan fauna
Pengaruh pertama proses penguraian limbah organik di badan air aerobik adalah terjadinya penurunan oksigen terlarut dalam badan air. Fenomena ini akan mengganggu pernafasan fauna air seperti ikan dan udang-udangan; dengan tingkat gangguan tergantung pada tingkat penurunan konsentrasi oksigen terlarut dan jenis serta fase fauna. Secara umum diketahui bahwa kebutuhan oksigen jenis udang-udangan lebih tinggi daripada ikan dan kebutuhan oksigen fase larva/juvenil suatu jenis fauna lebih tinggi dari fase dewasanya. Dengan demikian maka dalam kondisi konsentrasi oksigen terlarut menurun akibat penguraian; larva udang-udangan akan lebih menderita ataupun mati lebih awal dari larva fauna lainnya.
Kesulitan fauna karena penurunan oksigen terlarut sebenarnya baru dampak permulaaan, sebab jika jumlah pencemar organik dalam badan air bertambah terus maka proses penguraian bahan organik memerlukan oksigen lebih besar dan akibatnya badan air akan mengalami deplesi oksigen bahkan bisa habis sehingga badan air menjadi hampa udara. Jika fenomena ini terjadi pada seluruh bagian badan air maka fauna air akan mati masal karena tidak bisa menghindar; namun jika hanya terjadi di bagian bawah badan air maka fauna air, termasuk ikan masih bisa menghindar ke permukaan hingga terhindar dari kematian. Secara alamiah kejadian anaerob di semua lapisan badan air memang sangat sulit terjadi karena bagian atas air selalu berhubungan dengan udara bebas yang selalu mensupplainya, namun demikian kalau sebagian badan air anaerob sangatlan sering.
Seperti penurunan oksigen terlarut; senyawa-senyawa beracun inipun dalam konsentrasi tertentu akan dapat membunuh fauna air yang ada. Selain menyebabkan penurunan konsentrasi oksigen terlarut dan menghasilkan senyawa beracun yang selalu merugikan dan dapat menyebabkan kematian fauna; penguraian bahan organic juga dapat menghasilkan kondisi perairan yang cocok bagi kehidupan mikroba fatogen yang terdiri dari mikroba, virus dan protozoa yang setelah berkembang-biak, setiap saat dapat menyerang dan menjadi penyakit yang mematikan fauna air
IV. PLANKTON
Pengertian dasar plankton adalah mahluk hidup baik tumbuhan maupun hewan yang berukuran sangat kecil (tidak dapat dilihat dengan mata telanjang) yang hidup melayang di badan air. Jenis plankton ada dua, yaitu plankton tumbuhan (Phytoplankton ) dan plankton hewan (Zooplankton).
Dalam proses budidaya ikan atau udang, yang perlu ditumbuhkan adalah plankton tumbuhan, karena ini merupakan produsen tingkat pertama dalam ekosistem air. Dalam rantai makanan phytoplankton akan dimakan oleh zooplankton, selanjutnya zooplankton akan dimakan oleh hewan yang berderajat lebih tinggi. Sebagai makanan  phytoplankton adalah unsur-unsur mineral dari penguraian bahan organic dan pemupukan dari luar. Jenis plankton tumbuhan didominasi oleh jenis Algae dan Ganggang. Jenis ganggang yang terkenal adalah ganggang hijau (Chlorophyta) yang memberi warna hijau di air.
Baik ikan atau udang, pada saat masih kecil makanan utamanya adalah plankton, sehingga ketersediaannya harus dijaga. Sebagai indikatornya, maka penebaran bibit ikan atau udang dilakukan setelah air mempunyai warna/tidak bening.

V. PERANAN TON DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN
Faktor pengelolaan lahan merupakan hal yang penting, karena kehidupan ikan atau udang tidak dapat dilepaskan dengan kondisi kolam/tambak. Tanpa pengelolaan yang tepat, niscaya tidak akan tercipta suatu media hidup bagi ikan atau udang yang ideal sehingga tidak dapat tumbuh dan berproduksi secara optimal.
 Pupuk TON berfungsi sebagai perehabilitasi lahan budidaya dan sebagai stabilizer kondisi air yang  ideal. Pada masa persiapan budidaya, TON dengan dosis 5 botol ukuran 500 gram per hektar yang dilakukan pada saat tahap pemupukan . TON mengandung berbagai unsur mineral baik makro maupun mikro, nutrisi berupa lemak, protein dan karbohidrat dan dilengkapi dengan asam humat berfungsi sebagai.
1. Pengikat logam-logam berat.
Logam-logam berat terlarut dapat masuk ke parairan budidaya dari pencemaran limbah pabrik dan rumah tangga. Jenis logam berat tersebut diantaranya Timbal (Pb), Seng (Zn), Merkuri (Hg), Nikel (Ni) dan lain-lain. Dalam keadaan terlarut logam-logam tersebut berbahaya bagi kehidupan udang atau ikan. Logam berat dapat masuk melalui absorbsi (penyerapan) langsung maupun melalui phytoplankton. Akibat yang ditimbulkan dapat bersifat lethal (mematikan) pada konsentrasi tinggi dan sublethal (tidak mematikan tetapi mengganggu kehidupan). Asam Humat dan Vulvat pada TON dapat mengikat logam-logam tersebut dan membentuk menjadi senyawa-senyawa yang tidak berbahaya.
2. Pemecah senyawa kekal komplek berbahaya dan beracun.
Setelah ikan atau udang dipanen, pasti meninggalkan sisa budidaya yaitu berbagai lumpur organik yang bersifat racun dan secara teknis, lumpur tersebut harus dibuang ke luar. Akan tetapi karena lumpur berbentuk semi cair, maka tidak mungkin dapat dibuang sampai 100%. Oleh karena itu TON perlu diberikan selama masa interval budidaya untuk menetralkan senyawa-senyawa tersebut, karena TON mempunyai kandungan asam-asam organik.
3. Memberikan semua jenis unsur makro dan mikro dan senyawa lain untuk mempercepat pertumbuhan plankton.
Plankton sebagaimana tumbuhan tingkat tinggi juga membutuhkan unsur-unsur mineral baik makro maupun mikro untuk tumbuh dan berkembang. TON mengandung berbagai unsur-unsur penting seperti N, P, K, Ca, S, Mg, Cl dan lain-lain yang dibutuhkan Phytoplankton sebagai produsen tingkat pertama dalam rantai makanan di perairan. Jika Phytoplankton berkembang dengan baik, maka Zooplankton juga mempunyai sumber makanan sehingga juga dapat tumbuh dan berkembang. Kedua jenis plankton tersebut pada akhirnya akan menjadi pakan bagi ikan atau udang.
4. Asam humatnya mampu menggemburkan tanah dasar kolam/tambak
Asam Humat dan Vulvat merupakan asam-asam organik penting yang mempunyai kemampuan menggemburkan tanah, karena mampu memecah ikatan kuat antara mineral tanah dengan partikel tanah. Jika ikatan tersebut dapat terpecah, maka struktur tanah akan menjadi gembur dan berrongga. Keadaan tanah yang demikian merupakan struktur tanah yang baik, karena berbagai gas dan senyawa beracun yang terbentuk selama budidaya dapat terlepas ke udara melalui penguapan dan tidak terikat dengan pertikel tanah.

Selama budidaya TON berfungsi untuk :
1. Menciptakan dan mempertahankan ekosistem (lingkungan) tambak/kolam yang seimbang.
Dengan berbagai bahan penting yang terkandung di dalamnya, TON mampu menciptakan suatu lingkungan hidup bagi ikan atau udang yang ideal, baik dari segi ketersediaan pakan alami, kadar oksigen terlarut, pH dan mampu mempertahankan hingga budidaya berkahir.
2. Membantu perkembangan mikroorganisme yang bermanfaat bagi lingkungan dan bagi pertumbuhan ikan atau udang.
Sebagaimana hewan tingkat tinggi, maka mikroorganisme juga memerlukan berbagai unsur mineral penting untuk proses kehidupannya. Pemberian TON pada kolam budidaya menyuplai berbagai unsur minerla penting tersebut, sehingga mikroorganisme dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.
3. Menjaga berbagai parameter kualitas air sehingga proses nitrifikasi berjalan  dengan baik.
Dalam budidaya perairan, selama proses budidaya akan terjadi penurunan kualitas lingkungan hidup ikan atau udang dengan semakin bertambah umurnya, hal itu disebabkan karena semakin banyaknya kandungan bahan organik terlarut yang berasal dari kotoran ikan atau udang, sampah yang masuk, bangkai ikan atau udang, sisa pakan yang diberikan, tumbuhan dan hewan air lain yang mati. Bahan-bahan organik yang masuk tersebut akan mengalami dekomposisi oleh mikroorganisme di kolam/tambak menjadi amoniak (NH3) yang beracun. Agar tidak beracun, amoniak tersebut harus diubah manjadi nitrit (NO2_) dan nitrat (NO3_) oleh bakteri Nitrosomonas dan Nitrobakter. Proses tersebut disebut reaksi nitrifikasi yang membutuhkan kondisi air ideal yaitu DO (Dissolved Oxygen/oksigen terlarut) tinggi, suhu ideal (minimal 260 C), pH dalam kisaran netral (7 – 8,5) dan alkalinitas yang cukup tinggi. Pupuk TON mampu menjaga kualitas air tambak/kolam selalu dalam keadaan ideal, sehingga memungkinkan proses nitrifikasi berlangsung dengan baik. Maka tidak mengherankan jika tambak/kolam budidaya yang menggunakan TON akan berhasil, karena ikan atau udang selalu hidup dalam lingkungan air yang ideal dan bebas dari senyawa beracun
4. Menyuburkan Plankton.
Unsure-unsur mineral yang terkandung dalam TON akan memberikan nutrisi bagi pertumbuhan dan perkembangan plankton. Plankton tumbuhan pada prinsipnya sama dengan tumbuhan tingkat tinggi yang memerlukan unsure-unsur mineral. Selain itu, asam humat  dalam TON akan mempercepat tersedianya unsur-unsur mineral dari penguraian bahan organik di kolam/tambak
5. Membantu merutinkan molting (ganti kulit) pada udang.
Proses molting merupakan mekanisme pertambahan ukuran tubuh udang. Kulit udang tersusun oleh senyawa chitin yang keras dan tidak elastis. Oleh karena itu, dengan semakin besarnya ukuran tubuh udang, kulit harus mengalami penggantian dengan ukuran yang lebih sesuai dengan tubuh udang yang baru. Syarat agar udang dapat melakukan molting adalah kondisi udang yang baik dari segi energi dan kesehatannya, syarat lainnya adalah kondisi lingkungan (air) yang ideal, terutama dalam hal kandungan oksigen terlarut (DO
VI.   PAKAN
Berdasarkan jenis pakan yang dimakan, hewan air dibedakan menjadi jenis pemakan tumbuhan (herbivora), contohnya adalah grasscrarp, bandeng, tawes, nilem dan lain-lain. Jenis yang kedua adalah pemakan daging (carnivora), contohnya adalah sidat, kakap, kerapu, lele, gabus dan lain-lain. Jenis ketiga yaitu pemakan segala (omnivora), contohnya adalah ikan mas, nila, udang dan lain-lain
Zat-zat gizi yang diperlukan ikan dan udang untuk kehidupannya adalah :
1. Protein.
Dalam tubuh ikan dan udang, protein merupakan senyawa yang kandungannya paling tinggi setelah air,  terutama terdapat dalam urat daging, alat-alat tubuh dan jaringan luar tubuh. Protein bagi ikan dan udang merupakan sumber asam-asam amino dan nitrogen yang memegang peranan penting dalam struktur dan fungsi tubuh, seperti pertumbuhan dan reproduksi.
2. Lemak
Lemak tersusun dari unsur karbon, hidrogen dan oksigen. lemak fungsi utamanya sebagai sumber energi, sumber asam lamak essensial, sebagai pelarut vitamin yang larut dalam lemak, yaitu A, D, E dan K.
3. Karbohidrat.
Karbohidrat adalah zat organik yang mengandung karbon, hidrogen dan oksigen dalam perbandingan yang berbeda-beda. Karbohidrat merupakan zat organik yang mewakili 50 – 70 % dari jumlah bahan kering dalam pakan ikan, yang secara umum terdapat dalam bahan pakan bijian.
Bagi ikan dan udang, secara umum merupakan sumber energi ketiga setelah protein dan lemak sebagai sumber energi, sehingga pakan ikan dan udang harus mengandung komposisi protein dan lemak yang tinggi.
4. Mineral.
Mineral memegang peranan penting untuk kehidupan ikan dan udang, karena mineral diperlukan dalam jumlah yang besar sementara ikan tidak dapat memproduksi sendiri. Ikan dan udang setidaknya membutuhkan 15 macam zat mineral yang mempunyai fungsi essensial.
Secara keseluruhan, mineral-mineral diperlukan ikan untuk :
1. Vitamin.
Vitamin adalah zat organik yang dibutuhkan ikan dan udang walaupun dalam jumlah yang relatif kecil. Secara spesifik, vitamin bukan bagian dari karbohidrat, protein, lemak, air dan mineral yang memiliki peranan dalam reaksi spesifik metabolisme tubuh dan proses pertumbuhan serta kehidupan yang normal. Vitamin tidak dapat disusun oleh ikan atau udang sendiri sehingga harus disuplai dari luar.
Pakan ikan dan udang berupa pakan alami dan pakan buatan. Pakan alami adalah hewan dan tumbuhan yang dapat dikonsumsi ikan dan udang. Plankton adalah pakan alami utama bagi ikan dan udang terutama pada fase larva (benih) karena pada masa itu masih sangat kritis atau mudah terserang oleh bibit penyakit dan rentan terhadap perubahan kualitas air. Plankton terdiri dari zooplankton (plankton hewan) dan phytoplankton (plankton tumbuhan), hidup bebas di berbagai perairan baik tawar, payau dan laut dan mampu mberkembang biak secara cepat. Plankton dapat diproduksi secara massal pada lingkungan yang terkendali dan memiliki daya penyesuaian yang tinggi terhadap perubahan lingkungan. Plankton memiliki beberapa keistimewaan, yaitu memiliki kadar protein tinggi baik nabati maupun hewani, memiliki bentuk dan ukuran yang sesuai dengan lebar bukaan mulut larva ikan dan udang, isi selnya padat tetapi dinding selnya tipis, tidak beracun dan kualitasnya tidak dapat digantikan oleh pakan buatan jenis apapun. Plankton juga merupakan alat untuk melatih ikan dan udang mengkonsumsi pakan dari luar setelah cadangan telur induk di tubuhnya habis.
Disamping mengkonsumsi pakan alami, ikan dan udang juga perlu diberi pakan buatan terutama pada budidaya intensif. Pemberian pakan buatan diperlukan karena pakan alami di kolam budidaya tidak cukup jika dikonsumsi ikan atau udang untuk menghasilkan produksi maksimal. Saat ini pakan buatan sudah diproduksi oleh pabrik pakan. Namun demikian dapat juga meramu sendiri dengan bahan-bahan yang sesuai.  Penggunaan pakan buatan harus sesuai dengan kebutuhan nutrisi ikan atau udang terutama pada kadar proteinnya. Untuk meningkatkan produksi dan ketahanan tubuh ikan atau udang, penggunaan suplemen pakan sangat dianjurkan asal sesuai dengan kondisi dan kebutuhan ikan atau udang.
VII.  MANAJEMEN HAMA DAN PENYAKIT
Faktor ini juga salah satu hal yang penting karena berpengaruh terhadap kelancaran dan hasil akhir budidaya. Hama dan penyakit disebut faktor pengganggu budidaya, oleh karena itu perlu suatu penanganan yang intensif pula.
a. Hama.
Hama adalah mahluk hidup lain yang dapat membunuh atau memakan ikan atau udang budidaya. Hama dapat berasal dari hewan air lain maupun hewan darat. Berdasarkan jenisnya, hama dapat dibedakan menjadi :
- Pemangsa (predator). Jenis hama ini dapat memakan ikan atau udang secara langsung, sehingga merupakan jenis hewan besar. Contoh golongan ini adalah ikan-ikan buas, kepiting, burung pemangsa hewan air, ular, wlingsang dan lain-lain. Untuk mengatasi gangguan hama jenis ini dilakukan isolasi terhadap kolam budidaya, pengawasan intensif dan  penggunaan alat-alat pengusir karena sulit jika dilakukan pembasmian dengan obat atau racun.
- Penyaing (kompetitor). Jenis hama ini mengganggu ikan atau udang secara tidak langsung dengan menjadi pesaing dalam mendapatkan pakan atau tempat hidup. Contohnya adalah trisipan, ikan liar, ketam-ketaman, jenis udang putih dan lain-lain.
- Pengganggu. Jenis hama ini walaupun tidak memangsa atau menyaingi tetapi juga cukup merepotkan dalam budidaya dengan cara merusak pematang, melobangi tanggul, merusak jaring, merusak dasar tanah, pintu air dan lain-lain. Contohnya adalah bangsa ketam yang suka membuat lobang di pematang sehingga menimbulkan kebocoran tanggul, hewan-hewan penggerek pintu air, tritip, tiram dan lain-lain.
Untuk memberantas hama-hama tersebut dapat menggunakan bahan-bahan pestisida beracun yang mempunyai sifat mudah terurai sehingga tidak menimbulkan residu kimia berbahaya. Penggunaan bahan-bahan pestisida yang berbahan aktif keras dan sukar terurai seperti DDT, Endrin, Chlordan, gamma BHC harus dihindari. Untuk lebih aman dapat menggunakan pestisida organik dari tumbuh-tumbuhan yang bersifat mudah terurai dan tidak keras. Contoh pestisida organik adalah biji teh (Camella sp.) yang mengandung racun saponin, akar tuba (Derris eliptica) yang mengandung racun rotenon dan sisa-sia tembakau (Nicotina tabacum) yang mengandung nikotin. Racun saponin dari biji the dapat membunuh jenis ikan, sehingga pada budidaya ikan harus dilakukan sebelum penebaran jenis ikan yang dipelihara. Racun rotenon dapat membunuh udang dan ikan sehingga pada tambak udang, penggunaannya juga sebelum benur ditebar. Racun nikotin dapat membunuh jenis ikan dan kepiting.
b. Penyakit
Selama masa pemeliharaan ikan atau udang, sering terserang oleh panyakit yang dapat membunuh sebagian atau bahkan seluruh ikan atau udang yang dibudidayakan. Penyakit hewan air disebabkan oleh proptozoa, bakteri, jamur, virus dan lain-lain. Penyebab penyakit tersebut akan lebih keras menyerang jika berintraksi dengan lingkungan tambak/kolam dengan air yang jelek. Apabila kondisi air budidaya baik dan mendapatkan pakan bernutrisi tinggi maka ikan atau udang akan sulit terserang penyakit walaupun tetap ada bibit penyakit di air budidaya karena udang atau ikan mempunyai ketahanan tubuh tinggi. Usaha pencegahan lebih baik daripada mengobati karena jika udang atau ikan sudah terserang penyakit sulit untuk diobati terutama pada budidaya berskala besar. Usaha pencegahan yang paling baik adalah dengan selalu menjaga kualitas air dengan mengganti secara rutin air kolam/tambak untuk menjaga kualitas air dilengkapi dengan perlakuan bahan-bahan yang dapat menjaga kualitas air dan memberikan pakan bernutrisi tinggi.

0 comments:

Post a Comment