Sunday, May 8, 2011

ANALISA KELAYAKAN USAHA BANDENG

May 08, 2011 Posted by Media Penyuluhan Perikanan Pati No comments


A. Bandeng
Bandeng (Chanos chanos Forkskal ) dikenal juga dengan nama MilkFish karena dagingnya yang berwarna putih, bandeng bersifat Euryhalien yaitu jenis ikan yang mempunyai daya tahan terhadap goncangan kadar garam (salinitas) dalam waktu yang relatif singkat dari 00/00 sampai 400/00 dan mempunyai sifat tahan terhadap temperatur yang tinggi + 400C, tetapi bandeng tidak tahan dengan temperatur yang rendah dan dapat menyebabkan kematian (Mujiman,2001).
            Dengan sifatnya yang Euryhalien ini maka kehidupan Bandeng dapat berpindah-pindah pada waktu kecil di tepi pantai dan dewasa ditengah laut serta bertelur di tepi pantai, maka dapat ditemukan Nener ditepi pantai. Dengan sifat tersebut yang dapat beradaptasi pada kadar garam yang berbeda-beda maka Bandeng dapat di budidayakan ditambak (Mujiman,1991).
Ada beberapa sistem budidaya bandeng yang dikenal pembudidaya antara lain budidaya Bandeng sistem sederhana, madya dan maju. Budidaya Bandeng sistem sederhana padat tebar rendah antara 2.500 ekor sampai dengan 5.000 ekor Nener per Hektar, pakan hanya mengandalkan pakan alami Klekap yang ditumbuhkan dengan pemupukan yang mepergunakan pupuk organik dan anorganik.Pada sistem madya padat tebar 6.500 sampai dengan 7.500 ekor Gelondong , pemberian pakan secara alami dengan penumbuhan Klekap dan  pemberian pakan tambahan. Pada usahatani Bandeng sistem maju padat tebar tinggi + 1.000 ekor Gelondong  per Hektar, pakan dari penumbuhan Klekap  dan memberikan suplai makanan tambahan jadi cukup tinggi (Kordi,2000). Sistem maju mempunyai kelemahan dalam penggunaan pakan yang berlebihan yang dapat memacu timbulnya gas beracun karena proses Dekomposisi pakan yang tidak sempurna.
             Pemilihan penelitian sistem madya ini dengan melihat kondisi dilapangan, banyak petani yang usahatani Bandengnya menerpkan sistem madya, dengan menerapkan sistem madya maka disamping produksi cukup tinggi kurang lebihnya 1,5 ton per hektar dicapai juga untuk mempertahankan daya dukung tambak  dan menjaga kesuburan tambak.
B. Usahatani.
             Usahatani mempunyai 4 unsur pokok yang disebut faktor produksi yaitu : alam, tenaga kerja, modal dan manajemen. Pengertian usahatani adalah organisasi dari alam, kerja dan modal yang ditujukan kepada produksi di lapangan pertanian yang dikelola petani dan keluarganya (Nuraeni dan Hidayat, 2001).
Tanah sebagai unsur pokok usahatani merupakan faktor produksi yang relatif langka dibanding faktor lainnya, dan distribusi dan penguasaannya di masyarakat tidak merata. Perbedaan golongan petani berdasar pada luas tanah dan berpengaruh terhadap sumber dan distribusi pendapatan (Nuraeni dan Hidayat,  2001).
Tanah sebagai faktor produksi dipengaruhi faktor pembatas antara lain kesuburan, ketersediaan air, kemiringan atau topografi, curah hujan dan iklim. Agar tercapai peningkatan produksi dengan keterbatasan pada penggunaan sumber daya alam maka perlu ditambahkan input lainnya yaitu penggunaan bibit,  pupuk, pakan, obat-obatan, tenaga kerja yang dapat berupa alat dan mesin pertanian (Mosher, 1991).
Faktor – faktor yang lainnya di dalam usahatani :
Tanah dan alam adalah faktor yang tidak dapat diubah-ubah petani hanya memanfaatkan dan dikelola untuk kepentengan manusia.
Modal adalah berupa uang untuk pembelian sarana produksi misal bibit, pupuk, pakan dan pembelian peralatan.
Tenaga kerja diperoleh dari tenaga kerja petani dan keluarga tani, biasanya tidak diperhitungkan.
C.  Teknik Pemeliharaan Bandeng
1.   Persiapan
Sebelum tambak ditebari benih bandeng harus dipersiapkan dengan baik, antara lain : pengeringan plataran, perbaikan pematang dan pengerukan caren.
Pengeringan bertujuan untuk memperbaiki kondisi tanah yang merupakan tempat tumbuhnya makanan alami,  mineralisasi bahan organik dan menetralisir gas-gas beracun seperti asam sulfada (H2S), amoniak (NH3) dan Metana (NH4) dapat membahayakan kehidupan ikan. Pengeringan dilakukan selama 1-2 minggu sampai tanah retak-retak (kadar air 18 – 20%) bila diinjak akan turun 1-2 cm. Pengeringan yang kurang sempurna berdampak klekap mudah lepas dan mengapung ke permukaan ( Arsyad dan Samsi,1991).

b. Penebaran Nener
Padat tebar sekitar 10.000 ekor tiap hektar dengan lama pemeliharaan dipetak ini 1 – 2 bulan sehingga mencapai ukuran glondong masih sekitar 7.000 ekor. Padat tebar nener menurut sebanyak 2.500 – 5.000 ekor glondong per hektar. Sedangkan untuk mendapatkan produksi bandeng 1 – 2 ton/ha/musim ditebar nener 5.000 – 10.000 ekor tiap hektar (Anonim,1998).
Setelah dipelihara di petak pendederan kurang lebih 1 – 2 bulan nener mencapai glondong, kemudian ditebar ke dalam petak pembesaran yaitu lahan tambak sampai ikan dapat dipanen dan mencapai berat 200 – 300 gram tiap ekor. Agar pertumbuhan bandeng dapat lebih sempurna, ketersediaan makanan alami berupa klekap perlu dijaga yaitu dengan memberikan pemupukan susulan berupa Urea dan SP-36 disesuaikan warna air dan kondisi ketersediaan pakan alami.
c.   Penggunaan pupuk
Pemupukan dimaksud untuk merangsang pertumbuhan makanan alami di tambak yaitu klekap dan untuk meningkatkan kesuburan dasar tambak. Pemupukan dengan pupuk anorganik dan organik. Menurut Mujiman (1991) pada waktu tanah dasar tambak sudah dikeringkan kemudian diberi pupuk organik 1.000 kg tiap hektar, kemudian ditebari dedak 200 kg/ha dan ditambah pupuk organik berupa urea dan SP-36 sebanyak 30 – 40 Kg/Ha. Kemudian ditambah air sekitar 40 cm dan dibiarkan bila air berubah menjadi hijau berarti klekap sudah tumbuh dan nener siap ditebar.
d.      Penggunaan pakan
Bandeng membutuhkan pakan alami berupa klekap, untuk memenuhi kebutuhan pakan alami diperlukan kondisi lahan yang baik agar ketersediaan pakan alami cukup. Untuk mendapatkan kondisi pakan yang cukup maka dapat ditambahkan pemberian pakan tambahan.
e.    Penggunaan obat-obatan
Hama ikan bandeng, sebagai pemangsa dan penyaing seperti belanak, bronang, mujahir, sedang pemberantasannya dengan menggunakan biji teh (saponin) dan Diazinon. Dosis penggunaan saponin adalah 10 – 20 ppm dengan cara biji teh (saponin) direndam dalam air selama 12 jam. Selanjutnya dipercikkan kedalam tambak yang masih ada airnya macak-macak secara merata. Untuk penggunaan Diazinon tidak dianjurkan Dinas Kelautan dan Perikanan, karena residu bahan aktif pestida tersebut sulit terurai tetapi banyak petani yang menggunakan dengan alasan praktis dan ekonomis.
D.  Analisis Usahatani.
Usahatani adalah kegiatan cara-cara memperoleh dan memadukan sumber daya (lahan, kerja, modal, waktu, pengelolaan) yang terbatas untuk mencapai tujuan (Sukartawi,et al, 1986).
1.       Biaya Produksi
Biaya produksi adalah korbanan yang tidak tak terbatas yang dipergunakan untuk mendapatkan hasil, berdasarkan sifatnya digolongkan menjadi dua yaitu biaya tetap (fixed Cost), biaya tidak tetap (variable Cost).
a.    Biaya Tetap
Biaya tetap (fixed Cost) adalah biaya rpoduksi yang relatif tetap menjadi beban dalam proses produksi maupun sedang tidak berproduksi, yang tidak ada kaitannya secara langsung dengan jumlah barang yang diproduksi, serta harus dibayar berapapun jumlah produksi yang dihasilkan, misalnya; biaya penyusutan, sewa lahan, peralatan, iuran air, gubuk, pajak sawah.
b.   Biaya Tidak Tetap
Biaya tidak tetap (variable Cost) adalah biaya yang harus dibayar sebanding dengan produksi yang dihasilkan atau bersifat proporsional dengan produksi, misalnya ; bibit, pupuk, pakan, obat-obatan, dan tenaga kerja.
2.       Penerimaan dan pendapatan usahatani.
a.    Penerimaan
Penerimaan usahatani adalah merupakan hasil penjualan produksi bandeng dalam satu musim, atau perkalian harga per satuan unit ikan bandeng dengan total produksi ikan bandeng dalam satu musim tanam.
b.   Pendapatan 
Pendapatan rata-rata usahatani per musim tanam adalah selisih antara penerimaan (revenue) dengan pengeluaran keseluruhan (totally cost) hasil bersih usahatani dalam satu musim. Penerimaan (revenue) adalah hasil perkalian antara jumlah produksi dengan harga jual (price). Pengeluaran keseluruhan (totally cost) adalah biaya tetap (fixed cost) ditambah dengan biaya tidak tetap (variable cost). Pendapatan usahatani merupakan hasil selisih total penerimaan dengan total biaya produksi (Soekartawi,1995).
3.   Kelayakan Usahatani
Kelayakan usahatani adalah kegiatan pemeriksaan keuangan untuk mengetahui tingkat keberhasilan yang dicapai dan dapat dipertimbangkan untuk menentukan tindakan serta memperbaiki kegiatan usahatani selanjutnya.
Beberapa kriteria kelayakan usahatani  dan teknik analisis kelayakan usahatani antara lain :
a.    Analisis Break Event Point (BEP)
Break Event Point atau titik impas adalah nilai hasil penjualan produksi sama dengan biaya produksi atau total penerimaan pada kondisi yang sama seimbang dengan total biaya. (Nuraeni,dan Herman,2001)
Perhitungan BEP dalam rupiah.
                   BEP harga (Rp) =
                   Keterangan :
                   P       =    Price (harga jual produk Rp/Kg )
                   Q      =    Quantity (jumlah produk yang dihasilkan)
                   TR    =    Totally Revenue (jumlah penerimaan)
                   TC    =    Totally cost (Jumlah biaya)      
b.   Analisis R/C
Analisis R/C mempunyai fungsi untuk mengetahui seberapa besar hasil penjualan bila dibandingkan dengan total biaya produksi, serta dapat dipergunakan sebagai tolok ukur usahatani mengalami keuntungan, impas atau mengalami rugi (Sukartawi,et all,1986).
                Pendapatan Kotor        
R/C =     
                                      Total Biaya
            Kriteria ekonomi:
            R/C > 1 Artinya usahatani untung
            R/C = 1 Artinya usahatani impas
            R/C < 1 Artinya usahatani rugi

0 comments:

Post a Comment